Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 13


__ADS_3

Langkah kaki terdengar di sepanjang jalan menuju pasar. Seorang perempuan berambut merah megayun-ayunkan kedua lengannya dengan ceria.



Surcot merah dengan cotte putih tanpa lengan menjadi pakaian perempuan tersebut. Cotte putih yang menutupi tubuhnya hingga bagian dada dan semakin menyempit ke bagian leher. Surcot merah krimson bermotifkan bara api di bagian kerah yang berbentuk V. Surcot tersebut hanya surcot pendek dan terlihat seperti rok dengan ujung hanya tiga jengkal dari lingkar pinggang.



Agak memekar dan meruncing di bagian bawahnya dengan motif bara api yang nampak di bagian ujungnya. Bagian bawah surcot tersebut bagai bunga yang memiliki kelopak berbentuk segitiga meruncing.



Hose putih panjang menutupi bagian kaki hingga sejengkal di atas lutut. Sepatu boot merah menjadi alas untuk kakinya yang kecil itu.



Sarung tangan putih panjang menjadi penutup bagian lengannya. Sarung tangan yang menutupi bagian siku dengan ujung agak berjumbai.



Dengan tambahan sebuah tongkat sihir di punggungnya, pakaian Lithia sangat menggambarkan pekerjaannya sebagai petualang dengan kelas mage elemen api atau penyihir elemen api.



“Lusy sangat baik memberikan kami pinjaman beberapa keping emas untuk membeli peralatan. Meski aku petualang kelas mage dan baju ini sesuai, tapi kemampuan sihirku terbilang rendah. Huft~, pakaian ini pada akhirnya hanya menjadi pajangan saja,” ujar Lithia mengembuskan napasnya agak panjang.



Lithia berjalan di keramaian kota dengan penampilannya yang mencolok. Meski pakaiannya agak menarik perhatian, tetapi itu bisa menjadi pemandangan umum untuk seorang petualang yang memiliki kebutuhan berbeda bergantung misi yang diberikan.



“Lura lebih baik karena sudah memiliki kemampuan warrior tingkat menengah. Pakaiannya tidak akan menjadi hiasan semata,” keluh Lithia sambil terus berjalan.



Langkah Lithia terhenti ketika mendapati seorang pedagang yang mencoba menjual sesuatu pada petualang perempuan ini.



Tunik kuning dengan celana nilon cokelat panjang menjadi pakaian si pedagang. Mata bulat dengan rambut pendek bergelombang nampak selaras dengan warna yang sama, yaitu warna cokelat.



“Hei ... nona yang ada di sana. Anda pasti mage elemen api, mungkin anda akan tertarik melihat ini,” bujuk si pedagang menawarkan beberapa jimat.



Lithia mengantongkan gulungan berisi perintah untuk misi pertamanya, menaruh perhatian pada barang yang ditawarkan untuknya.



“Apa itu?” tunjuk Lithia pada salah satu liontin merah bersinar.



“Ah~ nona memiliki mata yang bagus, ini adalah liontin dengan batu sihir yang kuat. Bisa meningkatkan kemampuan sihir penggunanya, terutama elemen api,” jawab si pedagang.



“Apa?!” Lithia membulatkan matanya dan tiba-tiba menatap liontin tadi dengan seksama.


“Batu sihir adalah jenis kristal yang cukup langka karena kandungan sihirnya dan dia bilang bisa meninkatkan kemampuan elemen api?” batin Lithia dengan optimis.


“Batu sihir? Berapa harganya?”


“Dengan ini aku bisa bertarung setara dengan Lura melawan para monster. Bersama Lura. Setara ....”



“Berapa?!” tegas Lithia dengan mata berbinar.

__ADS_1



“Khusus untuk anda ... bagaimana kalau 100 keping emas saja?”



“Kubeli!”



Lithia mengeluarkan kantung emas terakhirnya yang berjumlah 95 keping emas.



“A ... a ...,” Lithia tertegun melihat jumlah keping emas yang ia miliki dan memasang wajah cemberut.



“Hooh–sayang sekali jika tidak cukup. Maaf nona, tapi kesepakatan gagal.”



“Tolong, berikan aku dengan harga 95 keping emas. Tolonglah!”



“Hmn ... gimana ya ....”



“Akan kutambahkan dengan tongkat sihirku, bagaimana?” tanya Lithia menekankan keinginannya.



“Sepertinya anda sangat menyukainya. Baiklah, terjual.”




Sebuah kobaran api muncul di atas telapak tangan Lithia tepat setelah merapalkan mantra. Berukuran sedang dan bersuhu agak panas, membuat Lithia membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar karena kegirangan.



“Terima kasih tuan pedagang, dengan ini ....”


“Akhirnya aku tidak akan menjadi beban.”



Di saat Lithia kegirangan dengan barang yang dibelinya, sebuah langkah kaki terdengar dari arah belakang.



“Lily!” teriak Luragorn.



Lithia berbalik menatap Luragorn yang hanya memakai pakaiannya yang biasa yaitu tunik putih dengan pedang sebagai senjatanya. Untuk saat ini hingga seterusnya, nama Lithia berubah menjadi Lily demi menyembunyikan keberadaan Lithia. Di kerajaan Reymin, keberadaan Lithia meliputi nama dan ciri-cirinya, hanya beberapa anggota bangsawan dan beberapa prajurit tingkat tinggi saja yang mengetahuinya.



“Lily! Jangan beli apapun dari orang itu!” teriak Luragorn dari kejauhan sambil berlari mendekati Lithia.



Lithia berbalik dan tiba-tiba saja si pedagang langsung berkemas lalu bersiap untuk melarikan diri.



“Tidak boleh!” Lura melempar pedangnya dan menancap tepat di depan si pedagang yang baru mencoba melangkah.

__ADS_1



Pedagang ini berbalik perlahan kemudian memasang senyuman lebar pada Luragorn.



“A ... a ... ada yang bisa kubantu tuan?” tanya si pedagang mencoba berdiri tegap.



Luragorn yang baru sampai langsung saja mengangkat pedagang tersebut di kerah bajunya. Meski pedagang itu setinggi 170 cm, tapi dengan ukuran tubuh yang rata-rata, bukan perkara sulit bagi Luragorn.



“Orang ini ... hampir membuatku terbunuh dengan informasi yang palsu, tentu saja dengan tidak gratis,” kata Luragorn dengan nada marah sambil menguatkan genggamannya.



“Sepertinya tuan salah paham. Aku hanya menjual sesuatu yang anda inginkan. Informasi itu tentu saja benar. Tuan pasti tidak menggunakan informasi itu dengan semestinya,” balas si pedagang.



“Percuma saja berbicara,” kata Luragorn mengepalkan tangannya dan bersiap memukul si pedagang.



“Jangan!” teriak Lithia.



“Kenapa? Kenapa Anda membiarkan orang ini?” tanya Luragorn.



“Lagi pula benda ini ampuh, jadi lepaskan saja orang itu,” jawab Lithia.



“Tapi put–, Lily ... dia pasti tidak menjual dengan harga yang semestinya.”



Si pedagang hanya tersenyum pucat mengingat keadaannya yang akan dihajar habis-habisan.



“Mohon maaf tuan dan nona,” ucap suara asing yang datang dari belakang.



Seorang gadis kecil dengan tinggi 155 cm berdiri di belakang ketiga orang yang sedang berdebat ini. Memakai kain lusuh sederhana sebagai pakaiannya, gadis kecil ini melihat Luragorn dengan tatapan matanya yang terlihat telah mati. Borgol berkarat tanpa rantai di pergelangan tangan, menjadi penanda yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang budak. Mata bulat yang terlihat lesu sangat tidak cocok dengan warna rambut dan matanya yang berwarna pirang keemasan.



Walaupun status si gadis kecil adalah seorang budak, wajahnya nampak bersih dan terawat. Begitu pula dengan permukaan kulitnya yang nampak putih dan mulus.



“Maafkan tindakan tuan Duke. Namaku Sima, budak tuan Duke dan juga–Akulah yang mengirim surat permintaan tentang misi pengawalan kemarin pagi. Mohon bantuannya,” ujar Sima sambil membungkukkan badannya.



“Jadi kau?!” tanya Lithia secara spontan sambil melihat ke arah Duke.



“Hehe ... sepertinya bukan kesan pertama yang bagus. Untuk pertama ... bisa turunkan aku? Tolong,” kata Duke memohon pada Luragorn.



__ADS_1


__ADS_2