
Sejenak aku tangguhkan batu yang kini ada di genggamanku, aku takut jika terlalu lama
aku pegang maka batu itu akan terjatuh hingga akhirnya tak satu pun yang
tersisa dalam genggamanku.
Seperti itulah yang kini aku rasakan, bukan merasa beban ini terlalu berat tetapi ada kalanya aku taruh sementara waktu beban itu,
sampai aku sendiri mampu untuk mengangkatnya kembali.
Jika kerbau yang dipegang talinya, maka manusia yang dipegang adalah ucapannya
petuah itu yang kini sudah melekat di pikiran dan setiap gerak-gerikku melangkah. Ibarat apa yang di tuangkan dalam kitab ‘Shuwarun min Hayatil Fatihin’ legenda sang panglima perang,Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara dalam menaklukan Spanyol di tahun 711 M. Ia mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.
Dalam perang menaklukan Spanyol yang dahulu disebut Andalusia bagaimana seorang putra yang dilahirkan dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara ini melakukan tindakan yang akhirnya menjadi begitu fenomenalnya dan membuat tercengang para ilmuan dan ahli sejarah, tiba-tiba Ia membakar perahu- perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu.
Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan lantang berwibawa, dan tegas.
Ditengah-tengah ia membakar perahu-perahu tersebut, ia berpidato dengan lantangnya.
“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian.
Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian.
Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan
sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh
karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat.
Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun
berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit
menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama.
Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian
__ADS_1
tidak lebih buruk daripada nasibku…”
Diakhir pidatonya ia berteriak lebih lantang, “Perang atau Mati?” Dan inilah apa yang
aku rasakan, jika mundur dari pertarungan ini maka aku kalah karena di sana ada
Ijab Qabul yang mampu menggetarkan langit tatkala dilahfadzkan. Walau untuk menuju kesana tidak-lah mudah, karena syaitan akan terus menggoda sampai akhirnya batal ikatan suci itu. Aku lelaki bukan pecundang, aku mampu memenuhi kebutuhan pernikahan.
Dan mudah-mudahan hari ini membawa rezeki untukku, walau hanya di saku celanaku
hanya ada uang secukup ongkos pergi saja, tetapi aku yakin masa iya Bunda tidak memberikanku sekedar ongkos pulang tak lebih, toh acara itu ada beberapa sponsor yang masuk dari penerbit, travel dan provider. Kalau pun dikasih lebih syukurlah sebagai tambahan untuk membeli mas kawin atau cetak undangan.
Karena sebelumnya Bunda sempat menyinggung persiapan pernikahanku, sempat juga ia berucap, ”ada uang dari sponsor 1,6 Juta bisa kamu pakai untuk nutupin kekurangannya.” Walau sedikit berharap, tetapi aku tidak terlena dengan hal
semacam itu, sudah cukup banyak refrensi seperti ini yang aku alami.
Bagiku sebaik-baiknya harapan itu yang aku sandarkan kepada Allah, aku tak akan pernah
menyesal jika tak tercapai, karena aku pun yakin Allah punya alasan untuk itu semua. Dan sudah terlalu sering aku terbuai dengan janji-janji manusia, yang berakhir dengan kecewa.
Tugasku hari ini, membawakan acara Empat Puluh Tahun Bunda Berkarya dan mengkemas moment tersebut semenarik mungkin. Dan dalam rangka irit ongkos, setelah aku turun dari shulter bus way Kwitang dari situ aku jalan kaki, melewati salah satu toko buku terbesar dan Kali
Aku yakin siapa pun yang duduk di samping kemudi itu pasti orang sibuk dan tidak. ada waktu untuk bermacet-macetan di jalan, maka dari itu ia mencari alternatif menggunkan helikopter.
Dalam hati terbesit ucapan dari mantan-ku yang seorang aktifitis gereja, Alphany Septhan Thea dan masih aku ingat ucapannya, “yank, kalau kamu ingin sesuatu itu dijawab Tuhan, cukup kamu imani di hati. Pasti deh tercapai...” Masih jelas terekam di pikiranku, lengkap dengan suaranya yang
manja.
Mau percaya atau pun tidak dengan ucapannya, sampai akhirnya terdengar kabar bahwa dirinya kini pulang-pergi Itali, selama kami berhubungan waktu itu. Thea,
begitu antusias dengan negara super model tersebut, ia selalu memegang foto Katredral Milano sambil memejamkan mata dan berucap, “
Bapak, aku yakin dengan kasih-Mu akan mengantarkanku ke negara ini.” Sepintas terlihat lucu saat itu, tetapi ketika aku masih melihat fhoto-nya wara-wiri di beranda facebook ku, dalam hati hanya berucap,” Selamat yah Theeey...Akhirnya apa yang kamu imani teracapai juga.”
Lupakan Thea dan cita-citanya yang kini sudah ia peroleh, tentang mimpinya yang sudah ia capai. Aku masih ada PR untuk obsesi hidup yang aku tak mau kalah dengan
Thea, simple, aku mau karya-karyaku best seller dan bermanfaat untuk orang banyak itu saja. Bagiku materi akan ikut serta jika kita sudah dibutuhkan orang.
__ADS_1
Cukup jauh jalan yang aku harus lalui dari Kwitang sampai ke Taman Ismail Marjuki
kurang lebih 500 meter, udara masih terasa sejuk karena memang dari Tugu Tani sampai TIM masih terlihat asri, mengingat para petugas kebersihannya rutin membersihkan sampah yang berserakan.
Ditambah lagi Menteng tempat yang
begitu terkenal dengan sisi Urban dari Ibu Kota, karena di sinilah kawasan dan objek vital berada, mulai dari kedutaan besar, pusat budaya, apartement yang menjulang tinggi terlihat menga-nga saling berlomba memasuki mulut langit.
Selangkah demi selangkah aku menitih tangga untuk masuk ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang masih terlihat sepi. Baru membuka pintu masuk, dinginya Air
Conditioner begitu menusuk pori- pori kulit.
Di ujung ruangan tempat akan dilangsungkannya acara, seorang wanita memakai gamis hitam, wajah yang oval, kulitnya terlihat begitu bersih dengan bentuk hidung Greek Nose, bulu mata- nya tebal sepintas terlihat bahwa dia berdarah Arab, duduk begitu tenang di sudut ruangan.
Mata gadis itu menduga-duga dan pasti bertanya, “apa dia itu yang di maksud Bunda?”
Karena sesampainya di sana aku mengenakan t-shirt hitam tanpa baju batik yang semula aku janjikan.
Aku sudah yakin bahwa gadis yang tengah mengapit buku itu adalah Astrid, tidak
mungkin tamu undangan itu datang sepagi ini. Namun aku tak berani untuk menyapanya lebih dahulu, lalu kuputuskan untuk menunggu di ruangan lain yang tak jauh dari hall center PDS. HB Jassin.
Mengingat di ruangan tersebut tidak diperbolehkan merokok, itulah yang menjadi alasanku untuk menunggu di ruangan lain yang dibolehkan untuk merokok.
Pucuk api baru saja membakar ujung batang rokok, belum sempat aku nikmati isapannya.
Astrid muncul di depanku, dan memastikan,
“Bang Haidar?” Suara sedikit parau-nya membuyarkan ide yang hampir saja aku temui dari hisapan pertamaku, ingin berpura-pura tidak mengakui kalau aku Haidar, tetapi hati ini tidak punya nyali untuk itu.
“Astrid?” Aku berbalik bertanya dan memastikan kembali bahwa wanita yang berdiri di hadapanku untuk memandu acara tersebut.
“Iya. Bagus! Janji jam tujuh, tetapi datanganya jam sembilan!” Aku yakin dia dongkol, baru pertama bertemu tetapi sudah memberikan kesan tidak enak.
“Maklum rumah abang jauh, dua kali naek angkot. Lagi pula, nggak ada pembahasan
penting, Bunda sendiri belum memastikan acaranya dimulai jam berapa? Yang hadir siapa saja? Untuk masalah backdroop saja belum di pasang. Hanya bangku dan sound system, plus bangku tamu undangan.
__ADS_1
Bersambung >>>>>