
Seperti orang kantor pada umum-nya, kini Haidar punya istilah baru yakni weekend yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, bukan hanya itu saat ini pun ia mulai memiliki hoby baru, apa lagi kalau bukan menghitung hari dan tanggal, keinginannya cepat-cepat akhir bulan. Ada plus dan minus menjadi karyawan.
Bila dipikir-pikir, bahwa gaji itu bukanlah akhir dari sebuah pekerjaan. Jika orientasinya pada uang semata, mungkin betapa sesaknya Haidar hadapi rutinitas yang menjenuhkan ini, pergi pagi dan pulang sore hari, bahkan jika kerjaan numpuk bisa-bisa pulang lepas malam.
Siapa yang tidak stress setiap hari harus berjibaku dalam tekanan dan tuntutan, dan Ia akan menganggap hari senin itu sebagai the monster day pekerjaan tidak memiliki passion tersendiri, hari libur seakan menjadi hari kemerdekaan yang harus dirayakan, Independence Day.
Beruntung bagi Haidar waktu kerjanya Senin-Jumat, dan dihari Sabtu dan Minggu ia libur, bisa mempersiapkan diri untuk acara Bunda karena ada satu novel yang mau di-launching esok.
Tepat Jum’at sore musibah itu terjadi, setelah Pak Amir menawarkan bantuan untuk membiayai pernikahan untuk Haidar, dan ia diminta bertemu dengan Ibu Caroline untuk mengambil uang tersebut, ia ambil sesuai kebutuhan dulu. Yakni transfer ke orang tua Nanda untuk sekdar ongkos ke Jakarta selebihnya digunakan untuk membuat undangan.
Untuk berangkat kerja, Haidar biasa menggunakan Bus Kota jurusan Grogol-Kampung Melayu. Serasa hari itu adalah lucky day untuknya dan Allah terbukti memang Maha Kaya, Ia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang yang kita mau.
Sengaja Haidar hanya mengambil separuh dari uang yang diberikan Pak Amir, bukan tanpa alasan melainkan karena takut terpakai.
langkahkan kaki dengan penuh keyakinan dan besar harapan untuk segera menyempurnakan sebagaian dari agama.
“Ya Allah, tunai sudah semua janji-Mu, danbbenar jika aku berniat menyegerahkan pernikahan maka Allah akan membukakan pintu rezeki dari segala penjuru mata angin dari jalan yang tidak disangka-sangka.” Ucap Haidar seraya mengucap syukur
Seiring kaki ini melangkah, senyum di bibirnya pun merekah kembali, rasanya ingin sekali memajukan waktu tak sabar menanti bibir ini melafadzkan ijab dan kabul.”
Haidar harus jalan 500 meter untuk sampai halte, jarak tersebut terasa ringan di tempuh, siulan kecil dari lagu ‘kupinang kau dengan bismillah,’ ia nyanyikan sebagai pengiring langkah dan bahasa hati.
Kalau boleh lebay, seakan-akan sepanjang perjalanan nya seperti dihujani Bunga Sakura. Tak ada lagi bahasa yang indah terucap, tak ada lagi aksara yang bisa ia tuliskan, selain rasa syukur dan bibir yang basah dengan Hamdallah.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya bus kota kini berhenti di hadapan Haidar, secepat mungkin aku menitih tangganya.
__ADS_1
Ia harus berjibaku dengan aroma keringat yang beraneka rasa, manis asam, asin mirip permen Nano-Nano, sudah menjadi hal yang biasa sepulang kerja. Cat bus yang lusuh dan interiornya yang sudah tak lagi di-maintance, beberapa kursinya pun sudah tidak lagi memberikan rasa nyaman.
Raut wajah beberapa penumpang nampak lelah, ada juga yang jemarinya tengah asyik
menari di keypad gadget. Suara pengamen yang kalah dengan deru suara mesin mobil dan kendaraan bermotor seakan berlomba mencari celah jalan yang nampak lenggang, entah lagu apa yang ia lantunkan.
Bukan PPD namanya kalau tidak menurunkan penumpang sembarang, bukan PPD namanyabjika tidak se-enaknya memindahkan penumpang jika terlihat di depannya ada mobil sejenis yang terlihat lowong.
“Pindah...pindah...ke bis di depan yah?!” Pinta kondektur tanpa rasa bersalah. Jelaslah, penumpang pun kesal dan ada juga yang berani protes, “se-enaknya aja mindahin penumpang! Dasar nggak punya otak!” Gerutu wanita yang kalau dilihat bentuk wajah, ambut dan warna kulit seperti orang batak.
Di tepian fly over puluhan penumpang itu pindah, terlihat mimik wajah mereka menyimpan kesal dan terburu-buru mengingat memang tidak boleh menurunkan penumpang disembarang tempat. Haidar begitu tergesa-gesanya, padahal tak berapa jauh lagi sampai ke tempat tujuannya untuk transit sejenak dan melanjutkan perjalanan dengan naik angkutan lain.
“Kenapa tiba-tiba perasaan tidak enak begini yah?!” Haidar mulai merasakan ada sesuatu yang kurang.
Satu persatu ia cek kembali barang bawaannya yang menempel di tubuh, mulai dari saku celana, tas selempang kecil yang ia kenakan.
Perasaan semakin gelisah, aku mencoba memeriksa ke dalam tas,“ yaaaa ampuuun!!!” Lutut terasa lemas dan bibir tak mampu bicara.
“Innalillahiiiiiii.....! Handphone?!”
Ia memeriksa semua saku celana dan baju
“Yaaa Allaaaah! Uang saya?!” Ucapnya cemas
Akhirnya ia harus pasrah ketika melihat tas yang koyak bekas sayatan benda tajam, keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuh, padahal suasana malam itu terlihat mendung, langitnya merah entah mengapa ia berkeringatan dan tak mampu lagi bicara. Uang yang baru ia terima dari Ibu Caroline raib tanpa tersisa.
__ADS_1
Sejurus pikiranny mengingat kembali, mulai dari proses ia tanda-tangan tanda terima, sampai ia masukin uang ke dalam tas dan memastikan barang itu masih ada.
Lalu pikiran ini tertuju dengan keadaan bus PPD yang sebegitu riweuh-nya. Seingatnya, ada dua orang mengenakan pakaian rapih seperti karyawan kantoran, mengingat bus yang ia tumpangi ini melintas diantara pusat perkantoran Sudirman, Slipi dan Grogol dan ia tak menaruh curiga dengan mereka.
Tetapi gelagat mereka begitu profesional, mengenakan tas yang sengaja mereka taruh di depan. Satu dari mereka bertugas mengelabuhi agar ia tidak memikirkan barang bawaan, ada saja ulah mereka untuk mengalihkan pandangannya.
“Innalillahiiiii.....Amsyong amat hari ini!” Tubuh ini terasa tak memilki tulang punggung, dan ia sanggahkan di tiang halte, hanya sesal yang tersisa.
“Modal nikah raiiib!”
Haidar mengingat kembali nomor yang tersimpan di phone book, hampir lima ratus contact yang ia mulai kumpulkan dari awal pasca instal ulang kemarin.
“Ya Allah, malah banyak banget nomor telepon yang penting lagi!”
Mau tidak mau ia harus ikhlas dan lebih hati-hati lagi, di saku hanya beberapa lembar uang ribuan yang tersisa. Dan terlintas di pikirannya, besok itu ia harus memenuhi undangan Bunda sebagai MC di acara 40 Tahun beliau berkarya dan launching novel-nya yang terbaru.
Bagaimana caranya untuk hubungin dia coba?! Semua nomor handphone hilang.
"Oh iya, aku ingat kalau aku pernah chating sama beliau dan meminta nomor handphone-nya. That’s raight! Sesampainya pulang ke rumah, aku mampir ke warnet sebentar dan mencatatnya."
Usai mencatat dan ia coba meminjam handphone si bungsu, Zahra. Dan memastikan besok itu acara dimulai jam berapa. Setelah Bunda memastikan bahwa besok acara dimulai jam sembilan pagi dan rencanyanya ada MC lain yang akan berduet dengannya, bernama Astrid.
Wah, perlu penjajakan sebelum acara dimulai.
“Haidar, nanti Bunda kasih nomor kamu yang ini ke Nabila nanti dia akan menghubungi kamu.” Ucapnya di telepon, setelah Bunda tahu, kalau handphone miliknya hilang.
__ADS_1
“Ok. Pastikan Astrid-nya datang lebih awal Bun!”
Di benak Haidar menggambarkan sosok ibu yang membesarkan anak-anaknya seorang diri, tanpa suami. Hingga kedua putrinya menyematkan sarjana penuh di sebuah perguruan tinggi negeri yang dikenal dengan sebutan, ‘Yellow Jacket’-nya.