TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
I’m Faliing ( Email ) in Love


__ADS_3

Aku mulai aktif lagi untuk membuka email yang masuk dan sekaligus menghapus beberapa pesan yang hanya sebagai notifikasi dari akun-akun jejasos, hampir 3000 pesan yang tidak penting masuk, mulai dari iklan pesan elektronik, sampai tawaran kerja dari portal media, semua aku delete dan ada beberapa pesan yang memang aku hapus. Ketika tangan ini menelusuri dan menari di atas mouse ada satu email dan membuat aku penasaran untuk membukanya.


Dengan subject “Sebelum Aku Pergi.” Pesan yang aku terima beberapa minggu lalu, seingat-ku ini jawaban ketika Vega tidak ada kabar beritanya. Aku kilk link-nya dan ia buatkan sebuah blog cantik, lengkap dengan back sound dari Josh Groban, ‘You Rise Me Up.”


Saat kuterjatuh dan jiwaku begitu rapuh


Saat datang masalah dan hatikupun terbebani


Maka kuterdiam dan menanti di sini dalam sepi


Hingga kau datang menemani


Kau semangati aku hingga mampu kudaki gunung


Kau semangati aku 'tuk seberangi lautan badai


Aku kuat saat bersandar padamu


Kau semangati aku 'tuk lakukan lebih dari yang bisa kubayangkan


Aku mulai menelusuri setiap cerita kisah, “ Merpati Tanpa Sayap.” Dari masalah pribadi dan ada satu link yang memang ia khususkan untuk-ku. Seakan wajah-nya menemaniku dalam keheningan malam, suara emas Josh Groban membuatku hanyut dalam suasana.


Tentang seorang gadis yang kau anggap ‘merpati-mu’ dan ini-lah jawabanku ketika ‘diam’ menjadi pilihan dari pertanya-pertanyaan yang terus kau hujani, tentang cinta, komitmen dan kematian. Haidar, untuk pertama kali nya, izinkan aku memanggil ( sayang ), bukankah ini yang kamu inginkan, ketika kamu rindu suara-suara lembut menyapa-mu dengan kata     ( sayang).


Dan sebelumnya maaf, aku hanya bisa mencurahkan semua ini dalam pesan elektronik yang memang


sengaja aku tidak sampaikan secara langsung kepadamu.  Karena ada waktu Tuhan yang aku anggap lebih


tepat untuk menjawab semua ini. Satu persatu dari pertanyaan-mu aku akan jawab, tarik nafasmu dalam-dalam yaah? Sebelum melanjutkan penjelasanku, dan kamu harus janji? ( Angakat tangan kanan-mu dan jari telunjuk serta tengah-mu) sebagai isyarat kalau kamu tidak boleh nangis, karena aku tahu kamu itu tipecal


cowok cengeng, dan aku tidak mau melihat kamu menangis. Janji?!


Baguslaaah kalau kamu bisa tersenyum itu lebih baik.


Sayang,...


Aku benar-benar tersanjung ketika kamu berani untuk menikahi-ku, tanpa kamu ketahui dan biarlah aku pendam semua sakit yang kini aku rasakan, sesaknya sungguh terasa di dalam dada. Dan ini penyakit serius yang belum ditemukan obatnya, ( Bukan HIV/AIDS loh!!) Tetapi lebiiiih dari itu, aku mengidap penyakit Hepatitis C, dan mau tau


dampaknya? Ketika kamu bersentuhan langsung denganku, melalui keringatku saja kamu akan tertular penyakit-ku? Hebaatkan?!


Aku bisa bertahan dan menjaga orang-orang yang aku sayangi tanpa ada yang tahu, kalau aku ini menyimpan penyakit yang cukup mematikan. Nah, itulaaah makanya aku sering menolak-mu untuk memegang jemari-ku, asal kamu tahuuu Haidar, aku keringatan dan merasa nervouse bila berhadapan langsung dengan kamu.


Aku percaya kamu akan menerimaku seutuhnya, tetapi hati-ku tidak bisa menerima hal itu, bukan


karena tidak cinta, justru seperti inilah cara-ku mencintai-mu, menjaga –mu untuk tidak bisa tersentuh atau menyentuhku.

__ADS_1


Mohon maaf, bukan aku munafik tidak memiliki hasrat untuk bersentuhan langsung dengan-mu, tetapi


sama hal-nya aku membunuh-mu secara berlahan, aku tidak memiliki nyali untuk itu.


Aku tidak mau kisah cinta kita seperti Romeo dan Juliet, bagiku itu konyol. Dan aku tidak menyesali


sakit yang aku derita. Walau tak satu pun orang yang perduli, termasuk ayah dan mamah-ku yang mereka tahu tentang sakit-ku ini, sebagai konsekwensi dari masa lalu-ku yang begitu hedon, tak bisa lepas dari dunia malam, drug dan amvetamin serta apa pun yang membuat-ku nyaman sudah seperti aku mengkonsumsinya obat


warung. Alkohol sudah seperti replacement drink, hingga aku menjadi pecandu.


Tapi Alhamdulillah, berlahan aku bisa terlepas dari itu semua. Dan aku mulai berlajar berhijab, dan


tentang amalan-amalan yang kamu kasih untuk-ku pun sudah aku jalankaan booos!


Surat Al-Mulk yang sering aku amalkan sehabis Subuh, dan surat Ar-Rahman aku amalkan setiap kali


aku merasakan kangen sama kamu, selalu mendo’akan semoga mimpi-mu akan tercapai. Aku bangga sempat memiliki mu walau beberapa hari saja, sampai akhirnya aku memilih untuk mengakhiri semua, agar kamu tidak menuntut dan berharap banyak dariku.


Aku memutuskan jaga jarak aman dengan- mu ( Mirip angkot aja yaah?)


ketika kamu ingin berkomitmen dan menjadikan aku tamu istimewa di gala primer-mu, dan duduk di bangku nomor satu itu, sepertinya itu berlebihan. Andai saja kamu siapkan kursi di nomor tiga, empat atau lima, ada kemungkinan aku bisa datang. Sebab, nomor satu itu simbol bahwa Allah yang pantas untuk kamu posisikan di nomor itu, biarlah dia menjadi teristimewa di dalam ruangan VVIP, yang tak lain itu hidup dan hatimu.


Bukan aku, dan itu berlebihan Haidar, karena aku sadar diri dengan masa laluku yang kelam dan aku ini wanita kotor di mataku sendiri.


( Semoga Allah memafkan segala dosa-dosaku ).


Tulisan ini yang aku temukan dalam Blog-mu, entah siapa gadis itu aku tidak pernah tahu dan


tidak mau tahu. Aku juga sama seperti gadis di dalam tulisan-mu itu yang juga mempunyai rasa cemburu.


Di penghujung Desember, ‘Tak Ada Salju di Malam Natal’ ketika gadis dengan rambut kriting ozonnya yang ia biarkan terurai, untuk terakhir kalinya memanggil,’sayang’ dan dari bibir tipisnya mencoba mengingatkan kembali masa-masa indah yang hampir dua tahun kita lewati walau digitnya terbilang tidak ada apa-apanya, tetapi


dari dia aku belajar menjadi seorang Humanis, memandang orang tidak dari perbedaan warna kulit, keyakinan dan rasisme yang kental.


Aku melewati batas-batas ketabuan yang dianggap haram, dan dipandang kemurtadan. Aku lalui itu, tanpa adanya dinding pemisah, antara si kaya dan si miskin, warga keturunan dan pribumi, kita pernah berkelakar dalam satu meja makan, tanpa memandang aku seorang MUSLIM dan pembeda si kaya dan si miskin.


Tak pernah aku mendengar mereka memaksakan keyakinanku, justru mereka memandang ini semua dalam kaca kemanusiaan.


Mereka tidak memandang warna kulit, kelopak mata, dan kendaraan apa yang aku bawa. Kita tetap berbagi senyum dan tawa dalam satu meja makan.


Subhanallah, tak pernah aku menemukan hal ini dari mereka yang katanya sudah terlahir dengan


fitrah persaudaraanya. Yang menjujung keyakinan dan dogmah agama, semua melebur dalam kelakar, senyum dan tawa di meja makan. Apa kah ajaran Rasulullah-ku mereka colong?! “Sesama Muslim itu Bersaudara.”


Lalu mengapa lantaran perbedaan Mazhab saja harus bertikai? Mengapa lantaran warisan berselisih paham? Mengapa hanya materi kita dibutakan itu semua?!!! Memandang derajat sesama saudara dari berapa mewah kendaraan yang kita bawa? Seberapa besar rumah yang kita huni dan jabatan serta titel akademik saja kita memiliki batasan-batasan tersebut dan cendrung ‘mengkotak-kotakan’ hingga tak ada lagi ‘Innamal mu’minunan Ikhwatun…”

__ADS_1


Yah, dari meraka aku belajar bagai mana rasa memiliki itu ada diantara manusia lainnya, termasuk aku yang notabenenya bukan siapa-siapa, hanya pendamping sementara dari gadis berwajah oriental yang pembatisannya saja aku tahu. Hingga kita pernah sama-sama berdoa di bawah tiang salib, dan aku berdoa dengan keyakinan ku yang tidak akan pernah goyah.


“Bapak, mudah-kan jalan bagi pacar-ku Haidar, tuntun ia dalam kasih-Mu.”


Allah karim, begitu syahdu doa yang ia lantunkan dan aku pun asyik dalam do’aku.” Rabbana Atina Fii Dunnia Hasanah, Waa Fil Akherati Hasanah Wakina Ajabannar.” Pancarkan hidayah dan rahmat- Mu ya Illahi….


Demi minyak urapan yg selalu basah dan telingaku yang mulai terbiasa mendengar kidung-kidung agung


membelai dan menyisir wajah orientalnya. Kita beda tetapi atas nama cinta dan fitrahnya ia begitu paham dengan kata toleransi. Hingga akhirnya ‘kata perpisahan’ menjadi penutup dari gadis yang ingin menikah nanti ingin sekali


kamarnya dipenuhi warna putih.


“ Yank, aku mau ada bunga tulip dan lili serta merpati putih di sisi kamar pengantinku. Sayang, keyakinan yang akan memisahkan kita, bukan lagi seberapa sayang dan cintanya aku sama kamu, dan kamu tahu itu. Ini memang berat tetapi jangan kita nodai hati ini hanya lantaran cinta yang memang tak akan pernah satu, cinta dan sayangku begitu tulus tak perlu aku cerita kamu pun tahu.


Terimakasih kamu sudah mau masuk ke dalam kehidupanku, masuk ke dalam keyakinan yang beda, dan kamu sudah menghargai keyakinan yang aku miliki, begitu juga dengan mamah dan papah yang sudah nyaman dengan kamu. Lagi-lagi, keyakinan- lah yang harus memilih, dan aku pilih dia yang memang se-iman denganku. Karena aku tidak mau terus menerus larut dalam cerita cinta yang nantinya kita sendiri akan semakin tersiksa melewatinya.” Matanya sembab dan berkaca-kaca.


Aku terima apa yang menjadi keputusan-mu, dan jika itu mampu membuatmu nyaman. Kini aku harus mulai


membiasakan diri untuk melepas semua kenangan itu, tak ada lagi lagu Jingle Bells yang sering aku dengar di malam natal, tak ada lagi minya urapan yang biasa mamah-mu oleskan demi keselamatan-ku,katanya dan suara-suara anak-anak sekolah minggu yang memanggilku ‘KOKO SAMUEL.” Aku anggap mereka itu memanggilku dengan nama ISMAIL, putra Hajar. Tak ada lagi, kesetiaanmu menunggu aku sholat Jum’at dan berjama’ah di masjid. Tak ada lagi kelakar kita di meja makan denga hidangan mewah-nya, yang aku pun sendiri rindu suapan-suapan yang kamu berikan. Terimakasih, untuk ‘Salju yang tidak pernah turun di malam natal.’


Tanpa kamu ketahui, aku meng-amieni, semoga saja kamu bisa memiliki gadis itu dengan keimanan yang seutuh-nya mempercayai Allah.


Sayangku Haidar...


Semoga si gadis Tulip itu kembali kepada-mu, miliki dia dan jaga-lah dia jika memang suatu hari nanti ia kembali ke pelukan-mu. Maaf sayang, semoga surat ini bisa mewakili perasaan dan cinta-ku yang aku sadari ini-kah yang namanya cinta, jika tidak mampu untukku miliki. Biarkan aku menjadi perawan syurga di akhirat nanti, belakangan ini aku sudah tak sanggup lagi menahan sesak, asam lambung dan nyerih di uluh hati. Andai ini pesanku yang terakhir, mohon bukakan pintu maaf yang selebar- lebarnya, seperti pintu clubing yang selalu menantiku untuk datang...hehehe...bercanda jangan dimasukin di hati, cukup masuk-an nama-ku dalam hati-mu, jiaaaaaaaah...ngegombal aku.


Salam sayang-ku untuk kasih yang tak pernah bertepi, untuk cinta yang tak pernah memiliki.


Merpati Tanpa Sayap-mu.


Biarlah aku tutup lembaran takdir-ku seperti ini, bahwa kekuatan do’a yang dimilikinya itu lebih kuat dari do’a yang aku sering panjat-kan untuk-nya, sampai terjawab semua do’a-do’anya tersebut. Selamat jalan Vega, hanya kerinduan yang membuatku semakin sesak menahannya, aku sisipkan nama-mu dalam surat Ar-Rahman ketika aku merasakan rindu sama kamu.


Sepuluh tahun lalu, masih jelas terdengar di telingaku disaat Thea menginginkan di kamar pengantinya nanti ada Bunga Tulip dan Lili serta merpati putih, yang akhirnya aku tunaikan juga mimpi itu, mimpi untuk gadis yang kini bersyahadat dan memeluk agama Islam, tanpa ada paksaan.


“Yank, aku mau ada Bunga Tulip dan Llili serta merpati putih di sisi kamar pengantinku. Sayang, keyakinan yang akan memisahkan kita, bukan lagi seberapa sayang dan cintanya aku sama kamu, dan kamu tahu itu. Ini memang berat tetapi jangan kita nodai hati ini hanya lantaran cinta yang memang tak akan pernah satu, cinta dan sayangku begitu tulus tak perlu aku cerita kamu pun tahu.”


Kini cinta-nya menjadi milikku, dan aku pun harus penuhi permintaanya. Syukur Alhamdulillah, resepsi pernikahan ini menjadi wedding event yang tak pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku undang semua rekan-rekan kerja, teman-teman di dunia pena, birokrasi, entertaiment dan termasuk Amelia, yang aku dengar kabar ia ditinggal wafat suami-nya, dengan menyisahkan janin di dalam kandungannya.


Tak banyak aku bisa perbuat, hanya memberikan beberapa perlengkapan menjelang kelahiran dan biaya bersalin. Itu pun atas persetujuan istriku, Alphany Septhan Thea. Begitu pengertiannya, ia pun tahu latar belakangku, tak ada satu keburukanku yang aku sembunyikan, dan gadis yang kini memilih menetap di Jerman bersama-ku sampai kontrak kerja-nya habis, baru kami akan kembali ke Jakarta.


Sebelum meninggalkan tanah air, aku dan Thea, melepas Merpati putih di pembaringan terakhir seorang gadis yang dahulu pernah singgah di hatiku, dan serangkai Bunga Sedap Malam, kami sisipkan di celah papan nisan yang tertulis indah nama-nya, Vega Putri Nafisah. Selamat jalan duhai Merpati tanpa sayapku.


Sepulang dari pemakaman, kami mengurus keberangkatan Umroh Mamah dan adik-adikku, setelah mereka kembali ke tanah air nanti, sebuah rumah mewah sudah aku beli dari hasil royalty film, pasti Mamah akan tersenyum bahagia.


 

__ADS_1


Dan tak perlu lagi, adik-adikku menggigil menahan dinginnya lantai karena memang terbiasa tidur hanya beralaskan matras. Kamar dan tempat bermain keponkanku pun sudah aku siapkan, agar mereka merasa nyaman dengan rumah yang aku sengaja beli untuk orang- orang tersayang karena do’anya lah hingga aku menjadi seperti ini.


“Diantara Qadha dan Qadr, Aku Memilih Berdamai Dengan Takdir-ku Sendiri.”


__ADS_2