TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Duhai Kesulitan Hidup


__ADS_3

"Aku Punya Tuhan Yang Maha Memudahkan"


Ini-lah masa-masa terberat dalam hidup Haidar, keadaan ekonomi yang semrawut dan nyaris tidak ada warnanya.


Haidar pun memberanikan diri untuk menikah, sekali lagi ini-lah disaat keyakinan dan keimanan sesorang hamba diuji, tentang Kemaha Kayaan-Nya.


Baginya pernikahan itu sendiri adalah amanah dari orang yang memang sengaja Allah pilih dan dinilai memang layak dan sudah pantas untuk menikah.


Buktinya, berapa banyak orang yang menjerit dan meminta semoga agar Allah berikan ia


jodoh, coba lihat di wall facebook pasti ada satu dua orang yang galau mencari jodoh-nya.


Setelah perdebatan panjang, loby-loby singkat antara Nanda, Mamah dan Papa-nya ditarik


kesimpulan bahwa dua bulan ke depan tepat di bulan Juli, resepsi sederhana itu akan dilaksakan.


Seperti melihat angkat digital dalam bom waktu, aku pun diburuh rasa kekhawatiran akan tidak terpenuhi-nya janji yang sudah terucap dan rencana yang akan dilaksanakan. Ini event dan moment yang paling sakral untukku hadapi, sekali seumur hidup.


“Nak, kalau bisa dalam waktu dekat ini, undangan harus dicetak yah?”


“Iya Mah, insyallah dalam waktu satu minggu ke depan aku akan kirim sample undangannya.”


“Eeeh, kalau tidak begini saja biar kami ke Jakarta untuk membeli barang kebutuhan


seserahannya di Tanah Abang, sekalian Mamah mau memberitahukan sanak famili


yang ada di Jakarta, uak-uak-nya Amel banyak


di sana.”


“Kapan Mamah mau ke Jakarta?” Tanyak Haidar yang sedikit penasaran.


"Secapatnya kamu mengirim uang untuk membeli seserahan itu.”


Telinga rasanya seperti tersengat lebah besar, yang di ujungnya ada ekor tajam ditambah


bisah. Jleb! Nusuk di tulang telinga. Tetapi ini ia anggap sebagai tantangan, dan pasti Haidar yang bisa lalui entah bagaimana caranya.

__ADS_1


“Bener-bener nekat! Udah nganggur berani menikah pula. Aduuuh! Duit sebanyak itu dari mana yah?!” Tanya Haidar dalam hati, berdasarkan apa yang dipinta orang tua Nanda dan apa yang aku inginkan adalah pernikahan yang sederhana saja, tidak perlu ada tenda dan cukup tasyakuran biasa, yang penting khidmat.


“Aku harus serahkan uang berapa Bu?” Tanyaku VIA telepon.


“Semampu kamu-lah Nak.”


Aku sebutkan nominalnya, “mungkin aku mampunya lima juta Bu.”


“Begini saja, kalau Mama hitung-hitung semua habis untuk beli seserahan saja itu lima jutaan, lalu bagaimana undangan?


Oh iya nak, Mamah tunggu yah? Biar kami ke


Jakarta sekalian ngambil undangan itu.”


Belum selesai permasalahan satu, muncul lagi masalah baru yang Haidar pun sampai detik itu tidak menemukan bagaimana caranya dapat uang.


Beruntunglah aku punya adikbperempuan, Syarifah yang mau meminjamkan BPKB motor milik-nya untuk digadaikan. Itu pun harus memberikan imbal balik, anggaplah sebagai uang ‘balas kebaikan’buntuk adik-ku yang ke tiga. Lagi pula kalau tidak ada dia, kemana juga cari uang sebanyak itu.


Dibantu oleh adik perempuannya yang nomor dua, untuk mengurus adminitrasi di bank, walau terlihat berbelit-belit dan cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran.


Takut-takut tidak di-ACC untuk pinjaman itu. Berdasarkan informasi yang Haidar terima dari tetangga dan teman-teman yang pernah bersangkutan dengan pihak bank, memang tidak mudah untuk meminjam uang hanya bermodalkan BPKB tanpa ada usaha.


“Aa, berkas sudah Fah masukin ke Bank dan domosili sama surat keterangan izin usaha sudah Fah buatin di kelurahan, tinggal nunggu survei dari pihak bank-nya.” Jelas Syarifah yang membantu proses pinjaman tersebut.


“Kira-kira kapan?”


“Paling cepet minggu depan, dan biasanya selang dua minggu uangnya cair.”


“Masyaallaaaah...Lama juga yah?”


“Berdo’alah mudah-mudah cepet di-ACC-nya.” Hibur sang Adik.


“Amin, semoga saja.”


Seruput sebatang roko Haidar tarik dalam-dalam, dan kulepas berlahan-lahan seperti melepaskan beban yang ada di dada. Hati bertanya-tanya, “entah apa lagi mau-nya Allah?!”


Semua masih ghaib dan tidak pernahvmendapat bocoran dari takdir yang kelak kita alami.

__ADS_1


Begitu juga dengan nasibnya , selepas menikah. Entah usaha apa yang akan ia geluti, menulis buku-kah?! Atau ada keberuntungan lain setelah menikah.


"Apa mungkin bisa menghidupkan istriku kelak? Toh, royalty buku itu tak seberapa paling-paling 8-10 % itu juga dipotong sana-sini dan sekalinya sudah jatuh tempo, kita penulis seperti pengemis." Gumam Haidar begitu cemas setelah menikah nanti.


“Aaah, masa bodo-lah! Allah tidak tidur dan tinggal diam. Pasti ada jalan yang ia akan tunjukan. “ Gumamnya dalam hati.


Treeeet...treeet....


Handphoneny tiba-tiba bergetar, terlihat di display LCD tertulis Imam Ceritamu, ada apa yah? Tumben- tumbenan dia telepon.


“Iya mas, ada apa?”


“Loh sekarang lagi sibuk apa?” Tanya pria yang sudah hampir enam tahunan aku kenal.


“Nganggur mas.”


“Loh bisa dateng ke kantor gue nggak? Sekalian bawa CV loh!”


“Kapan?”


“Kalo bisa besok.”


Haidar mengenal Imam Iskandar itu sejak awal kerja di entertaiment sebagai event organizer. Waktu itu dia menawarkan aku untuk memegang salah satu band nasional yang hits-nya itu terbilang meledak di pasaran dan laku keras.


Nah, dari dia-lah Haidar mengenal dunia band selebritis khususnya group band yang waktu itu ia kerja di sebuah leble dan Haidar disuruh untuk memegang ELKASIH, sejak saat itu aku mulai akrab dengan Ibnu ‘Elkasih’ sang vokalis dan beberapa temen-temen artis yang memang satu leblegroup pelantun ‘Kau 3 Kan Cintaku.’


Tetapi Imam kini keluar dari dunia tersebut dan menggeluti pekerjaan sebagai author disalah satu situs website ceritamu.com dan kini ia menawarkan Haidar untuk menulis konten cerita.


Penghasilan cukuplah untuk biaya hidup sehari-hari. Ia merasa terpanggil, padahal sudah cukup lama sering ia berkunjung ke kantornya, tetapi belum ada niatan untuk bekerja, karena pada saat itu aku lebih tertarik dengan dunia entertaiment, concept event, dan penyelenggara konser musik.


Walau hanya sekala kecil, tetapi cukup-lah untuk membiayai hidup dan membantu orang tua, meski pun tak sebanding dengan apa yang mereka sudah berikan untuknya.


“Kali ini saya coba dulu Mas, sekiranya nyaman dan saya bisa berkarya di situ yah mau nggak mau harus mau.”


“Yaudah, gua tunggu besok pagi yah? Inget jam 8 loh mesti sudah sampai tempat kerja!”


“Ok bos.”

__ADS_1


‘Menunggu satu jam itu lebih baik daripada telat satu menit.’


Motto yang pernah Haidar temukan di dinding Sekolah Dasar, kini ia terapkan ketika ada janji dengan siapa pun itu, penting atau pun tidak penting, resmi maupun tidak resmi sekalipun, menunggu satu jam itu lebih baik baginya dibandingkan telat, karena dengan begitu ia bisa lebih prepare dan mempersiapkan ketika memang ada yang terlupa, kalau tidak satu jam itu biasanya ia gunakan untuk mengamati situasi atau merapihkan pakaian dan penampilan.


__ADS_2