
Pasti ada hal lain yang kita nggak tahu! Coba kamu konfirmasi ke Bunda, acaranya dimulai jam berapa, giiih!” Aku meminta Astrid untuk menghubungi si pemilik acara, biar apa yang kurang bisa segera disiapkan.
“Iya.” Dengan raut wajah kesal, mungkin di dalam hatinya Astrid berkata,” baru kenal sudah sok akrab! Pake nyuruh-nyuruh segala!!”
“Bukan merintah ini yah? Tetapi minta tolong, soalnya situkan tahu kalo disini nggak punya handphone! Maklum dipinjem orang tapi nggak dipulang-pulangin!”
“Iyeee!”
Aku kembali menikmati hisapan rokok sambil menunggu kabar dari gadis berkerudung
hitam, “ Ini mau hadirin acara sastra apa nyelayat?!” Gerutuku usil, Astrid melihatku sinis.
“Kata Bunda, acaranya dimulai sehabis Dzuhur.”
“Masyallah! Kita harus nunggu tiga jam ke depan?!”
“Yaah habis bagaimana? Mau nggak mau-lah!” Kata Astrid.
“Terus kita ngapain di sini? Kita ngobrol di luar aja yah?” Pintaku
Kita pun sepakat untuk mencari tempat untuk sekedar membahas profesi dadakan ini,
walau memang ini bukan kali pertama aku menjadi pembawa acara.
Walau bagaimana pun juga perasaan nervous itu masih ada. Dari pada waktu yang tersisa
ini kita sia-siakan, terkadang aku dan Astrid berbicara seputar dunia tulis, sesekali terselip juga masalah-masalah pribadi.
“Denger-denger mau nikah yah bang?” Mata ku terbelangak mendengar pertanyaan Astrid.
“Kok dia bisa tahu? Heem, pasti dari si bunda ini!”
“Tau dari bunda yah?”
“Iya.”
“Wah! Bunda bocor juga orangnya!” gumamku dalam hati. “Bunda ngomong apa aja?”
__ADS_1
“Heeeem, dia bilang nanti kamu nge-MC bareng sama bang Haidar, tapi inget yah Strid! Haidar itu mau menikah, bulan depan.” Entah apa maksud Bunda menjelaskan itu kepada gadis yang kini duduk di hadapanku dan ternyata ia pun berprofesi bekerja di sebuah penerbit buku.
Hingga akhirnya kita larut dalam suasana kantin di bawah tangga PDS. HB Jassin yang
cukup asri dan memang ini tempat para seniman, sastrawan dan budayawan kongkow
yang tak lain membahasa seputar dunia seni dan budaya.
Panjang lebar kami berbicara, ada satu ucapan yang seorang Astrid ucapakan, “Bang, aku nyaman ngobrol sama abang.” Bagiku ini sudah tidak wajar dan aku takut untuk terjebak dalam situasi yang sejujur-jujurnya, Astrid ini tipikal gadis yang aku cari.
“Padahal Strid, jauh sebelum abang mau menikah. Abang minta sama Emak, untuk mencarikan wanita yang seprofesi dan mengerti pekerjaan orang seperti Abang yang tidak normal ini.”
“Loh!Kenapa Abang katakan tidak normal?” tanya Astrid memotong pembicaraan.
“Karena tidak semua wanita bisa menerima pasangan hidup yang hanya bekerja sebagai
penulis. Penulis di negeri ini tidak ada posisi tawar yang jelas, semua mangsa dari industri! Dan kita seperti pengemis yang meminta- minta royalty kita untuk biaya berobat atau membeli susu anak, dan nilainya tidak seberapa.
Apa lagi dengar cerita Bunda rasanya ingin menyudahai profesi sebagai penulis! Benar-benar penulis kehilangan taring dan kurang mendapatkan prioritas dalam kebijakan pemeritah baik daerah maupun pusat.
Wajar! Jika sekelas Andy Wasis meninggal dunia merintih di kamar rumah sakit tanpa ada sedikit pun santunan dari pemerintah!” Obrolan kami jadi sedikit jenuh dan lagi-lagi menyerempet ke permasalahan pribadi.
“Facebook.”
“Apa?! Kamu menikahi wanita yang hanya kamu kenal di dunia maya, dunia palsu itu?! Dengan nama palsu, foto palsu, profil palsu dan alamat palsu?!” Astrid sedikit terkejut dengan apa yang aku ucapakan dan memang apa adanya.
“Kita bicara jodoh bukan Ayu Ting-Ting dengan alamat palsunya.”
“Abang....Abang jangan main-main dengan jodoh! Abang harus tahu bentuk dan rupanya dia, jangan beli kucing dalam karung. Yang terpenting agama dan akhlaknya, urusan dia anak orang kaya atau pun miskin itu urusan ke sekian dan anggaplah bonus kalau kamu
mendapatkan anak orang kaya. Tetapi darimana kamu yakin dengan akhlak dan
agamanya?!”
“Jika agama dia tak sempurna, biarkan abang yang menyempurnakannya sebab aku imam
bagi dirinya, dan aku juga yang bertanggung jawab terhadap baik buruknya dia, dan abang yang berkewajiban menuntunnya ke surga dan tidak akan membiarkan dia terseret bersamaku ke neraka.”
__ADS_1
Astrid terlihat pupus dengan serangkaian argumentasi yang aku sampaikan entah benar atau salah aku tidak tahu, yang jelas begitu adanya.
“Dia tinggal dimana?”
“Sumatra."
Sepertinya Astrid ingin tahu banyak tentang siapa wanita yang akan menjadi pendampingku kelak, dan terlihat dia tipe wanita yang asyik untuk dijadikan teman bertukar pikiran, karena apa yang aku pikirkan tidak pernah sama dengan yang ia sampaikan, tetapi anehnya setiap masukan darinya menjadi pertimbangan yang cukup logis.
Dan aku pun sepintas menceritakan awal pertemuanku dengan Nanda.
“Bermula dari blackberry ku yang salah upgrade dan kontak-nya hilang semua. Terpaksa aku mulai mengumpulkan satu persatu yang ada di inbox facebook, sambil aku share status bagi temen-temen yang pernah punya kontak BB-ku mohon di-invite ulang dan aku masukan pin bb dalam statusku itu, beberapa menit kemudian ada dua tiga orang yang mulai menginvaitenya.
Namun ada yang aku curigai, muncul nama Astrid, nama yang asing untuk aku ucapakan dan sedikit janggal di telinga. Demi silaturahmi aku accept saja makhluk satu itu yang entah berantah dari negeri mana. “
“Lalu dimana istimewanya gadis dalam ceritamu itu?”
“Dia selalu usil dengan status-status yang aku post di BB dengan komen-komennya yang buat aku malas untuk membalas chating dari gadis yang ternyata tidak tinggal di Jakarta. Singkat cerita ternyata dia
pernah tinggal di Jakarta.”
“Jujur yah bang, jauh sebelum aku kenal dengan abang juga. Astrid pernah minta sama Bunda untuk dicarikan cowok yang mau berkomitmen dan tidak main-main. Astrid suka cowok batak dan juga dia penulis.”
Entah dia ngarang bebas atau memang benar-benar mencari cowok yang sesuai kriteria tersebut.
Aku hanya mengiyakan saja walau ada segelintir penyesalan dan amat menyayangkan, “Kenapa Bunda tidak cerita kalau punya anak didik seperi Astrid? Aku tidak munafik dia cantik dan cerdas. Mau dikata apa? Sikap sudah diambil dan konsekwensi harus aku terima.
Bulan depan aku harus ke Sumatra, menjemput takdir yang aku pilih, walau sampai saat ini sepeser pun uang tidak ada.
Terlihat beberapa orang sudah nampak sibuk menaiki anak tangga, dan samar terdengar
suara Bunda, kami pun menyudahi pembicaraan dan segera menemui si pemilik acara, untuk mempertanyakan kembali format acaranya seperti apa?
“Acaranya biasa aja yang pertama sambutan dari pengurus PDS yang diwakili Ibu Airin, doa
yang akan dibawakan oleh Ustadz Bobby Herwibowo, pemutaran video yang kamu buat waktu itu dan selebihnya ramah tamah kalian atur sendiri formatnya seperti apa yah? Bunda mau siapin makanan dulu.” Jelas perempuan yang suka dengan warna ungu, entah ada maksud lain dengan simbol warna itu atau memang sekedar suka saja.
“Ooh iya, acaranya sehabis Dzuhur saja dan siap-siap dulu untuk sholat yah? Kalian juga jangan lupa sholat.”
__ADS_1
“Iya Bunda.” Jawab Astrid mewakili.