
Ternyata televisi 14 inch pemberian seorang sahabat, bermanfaat juga mengusir letihnya
menunggu, sampai akhirnya aku tertidur pulas dan terbangun kembali, tapii Amel belum pulang juga.
Makanan yang aku siapkan sudah tak hangat lagi. Semakin membuatku membantah, “yang
seharusnya menunggu pulang itu istri bukan suami!” Wajar jika aku marah dalam hati seperti ini, dan memang sudah terlihat kita kehilangan fungsinya masing-masing dalam rumah tangga.
Aku coba mengisi waktu luang untuk melanjutkan naskah yang masih tertinggal dan harus aku selesaikan.
Mudah-mudahan Allah bukakan pintu rezeki dari pintu-pintu yang ia janjikan, selama aku masih memiliki kekuatan untuk terus semangat menulis, walau seribu kali penolakan oleh penerbit, tetapi itu semua proses disetiap kesuksesan yang ingin kita coba raih pasti sepaket dengan tantangan
yang kita akan hadapi, sebab ‘sukses itu adalah ketika kita merasakan bahwa keringat itu benar-benar asin tanpa harus disengaja dijilat.’
Tepat tengah malam, Amelbaru pulang bukan melalui pintu tapi jendela yang memang ia tahu bahwa jendela itu tidak terkunci karena lubangnya tidak sejajar dengan lock-nya. Samar aku mendengar dan membuat aku terbangun.
“Baru pulang yank?”
“Menurut loh?!”
“Aku kan nanya baik-baik.”
“Makanya kalo istri pulang itu dibukain pintu jangan sampe masuk lewat jendela begini, kaya maliiing bangeeet!!!”
Padahal aku tahu dia tidak mengucapkan salam sama sekali, dengan cara masuk lewat
jendela itu sebagai alasannya untuk marah. Dan sekalipun aku tidak tahu atau tidak terbangun Amel pulang pasti aku tidak tahu dan dengan begitu ia bisa berbohong kalau pulang sebelum larut malam.
“Yaaaank, badan aku pada pegel-pegel. Pijitin dooong!” Giliran ada mau-nya pasti manja
atau pura-pura baik.
Tetapi aku harus husnudzon, berbaik sangka terhadap-nya. Bagaimana pun juga ia istriku dan sudah kewajibanku melayani-nya.
“Full body yah?” Pinta Ameldengan tubuh yang sudah tergolek dan berlahan ia mulai menanggalkan pakaiannya, aku pun sudah siap dengan minyak kayu putih yang aku campur dengan minyak kelapa, biar terasa hangat dan pegal-nya hilang.
Seperti awal pertama menikah, aku pun ingin merasakan lagi bagaimana pergi ke langit
biru, menyingkap kelambu dan ranjang tanpa selimut. Dan Amel menolak untuk membawaku ke tempat tinggi itu dengan alasan terlalu letih untuk bisa pergi ke langit dan masuk ke dalam ranjang tanpa selimut.
Bukan sekali, dua kali bahkan lebih dari itu. Dan aku pun memaklumi hal itu, mungkin
ia letih dan terlalu capek selama di perjalanan. Tetapi ada yang aneh....
“Tanda merah ini apa yank? Kamu luka?!!” Aku lihat tanda seperti habis terantuk atau
tergigil ngengat. Tetapi setelah aku tekan, Julie tidak mengerang kesakitan dan
tidak terlihat tanda-tanda ia kesakitan.
“Enggak tahu bekas luka apa! Bangun tidur sudah ada seperti itu.”
Aku cuek dan tidak mau berpikir jauh tentang ‘tanda merah’ di bagian terdalam Amel dan aku tahu persis semua lekuk dan cacat tubuh Amel, wajar karena aku pernah merasakan pergi ke langit bersamanya dan menyingkap ranjang tanpa selimut. Aku meneruskan kembali me-refleksi seluruh tubuh-nya. Walau
banyak kekecewaan yang aku dapatkan, termasuk aksi penolakan dan tanda merah
tersebut.
“Ah, paling ulah binatang kecil kalau tidak ngengat biasa.”
Aku mencoba menghibur diri dan memastikan semua baik-baik saja....
“Menyingkap Rahasia di Balik Rahasia”
Sungguh aku tak kuat lagi menahan beban yang tak sanggupku pikul dan rasanya ingin
menangis tetapi malu lantaran hanya perkara urusan dunia semata.
Amel, wanita yang aku nikahi dua bulan silam sudah menunjukan tanda-tanda yang wajar,
mulai dari handphone-nya di-silance dan selalu ia sembunyikan di bawah bantal,
dan diam-diam sering aku jumpai dia asik bercengkrama via phone, entah dengan
siapa, aku tak mau berpikir buruk tentangnya,” oh mungkin itu temen SMA atau kuliahnya dulu, bisa jadi ada masalah yang Amel sembunyikan dan tidak ingin aku ketahui.” Hanya ini hiburan yang aku punya.
Yah, hati kecil yang menjadi sahabat dan tempat aku berbagi ketika logika meracuniku
dengan rasa ketidakpercayaan, mendikteku dan terus memberikan manuver serta
segudang alibi hingga batin ini bergemuruh, menerjang akal sehat, menghantui dan menjejaliku dengan sederet pertanyaan yang aku pun lumpuh untuk sadar dalam kerangka berpikir, rasa menjelembab melakukan akrobatik hebat diantara insting dan sejuta pembenaran yang mampu membodohiku, hingga akhirnya seperti macan tanpa taring.
“Haidar, kamu itu seorang imam restu-mu mampu mengantarkan istri-mu masuk ke dalam syurga. Dan murkahmu mampu menjerumuskan istrimu ke dalam neraka.
Perlu kamu ketahui, dosa-nya adalah dosa-mu juga. Silahkan kau pilih, apakah kamu
terus bertahan dengan kubangan dan lumpur yang hampir menenggelamkanmu, atau
kau putuskan untuk keluar dari lumpur tersebut, bersihkan diri kamu dan kembalilah menjadi muslim yang kahfah. Sekalipun kebencian Tuhan atas keputusan-mu untuk menempuh keputusan akhir, atau kamu biarkan batin mu terus bergemuru hebat, hingga badai terlalu panjang untuk berlalu?!”
****
Duhai pemilik hati, yang pada-Mu lah aku meminta dengan segala ketetapan dan
peruntukan baik dan buruk tentang takdir seseorang.
Wahai pemilik...
petunjuk arah bagi mereka yang merasa tersesat ketika berjalan terlalu
jauh, hingga akhirnya lupa untuk kembali pulang.
Ya Illahi, duhai sanjungan-ku,....
Angan ketidakberdayaanku membuat-ku menjauh dari Rahmat dan kasih sayang-Mu. Peluklah aku, karena yang aku inginkan hanyalah menjerit dan meneteskan air mata di pangkuan-Mu.
Yaa Maulana,..
Kini aku hadapkan wajah yang hina ini, dan izinkan ku menatap wajah-Mu dalam setiap
bait dan lantunan dzikir dari mulut yang sering mengingkari nikmat-Mu.
Sungguh aku malu, jika hanya mengabarkan berita duka yang tengah aku hadapi, maafkan
aku yang hanya kembali pada-Mu ketika kepedihan dan keresahan hati mendera-ku.
Aku yakin rencana-Mu lebih matang dibandingkan keinginanku yang tidak pernah
berkesudahan. Izinkan aku titipkan takdir yang misterinya tak pernah sedikit pun aku ketahui.
Hampir setiap hari aku diusik dan membuat ku tidak tenang, suami yang mana sanggup
menjalani biduk rumah tangga seperti ini, tetapi aku harus kuat dan tidak boleh
menjadi suami yang lemah, mau tidak mau aku harus bertindak cepat, entah pernikahan dan komitmen seperti apa yang Amel buat, sejak di awal menikah aku tidak boleh membuka handphone miliknya.
Pernah aku diam-diam mencuri memory card-nya hanya untuk mengetahui aktifitas yang tersimpan dan apa saja yang ada di momeri miliknya, minimal aku menemukan foto atau data yang sekiranya menjadi petunjuk.
Pelan-pelan jemariku menyelinap di atas kepala Amel, meraba ke bawah bantal yang dipakai-nya, aku perhatikan raut wajah-nya sekiranya terlihat perempuan yang memiliki kebiasaan menggigit tepian mulut, dan sering
memajukan bibirnya, mirip mulut ikan. Jika sudah aku temukan tanda-tanda seperti itu, berarti Amel sudah tertidur pulas.
Pelaaan...pelaaan..aku meraba dan jemari menyelinap di antar bantal dan kepala Amel,
hati-hati sekali jangan sampai ia terbangun.
“Loh! Dimana dia taruh handphone-nya?” Rupanya ia tidak seperti biasanya menaruh
handphone di bawah bantal, lalu dimana Julie taruh ? Terpaksa aku mencari-nya di dalam tas, tetapi tidak juga aku dapatkan. Dan aku terus mencari, tidak sulit untuk menemukan barang sebesar itu,”Pasti aku temukan!”
Rupanya handphone itu ia sembunyikan tepat dalam pelukan bantal guling, berlahan-lahan
aku menarik kaki Amel, agar tidak menghimpit dan membangunkan tidurnya.
Pelaaan....pelaaan...aku angkat kaki dan bantal guling dalam pelukannya. Dan akhirnya aku bisa dapatkan, baru saja aku buka cashing handphone-nya, cara ini aku ambil dikarenakan Hp-nya Amel diberi password. Target aku hanya memory card saja, dan tidak lebih.
Dan aku berhasil mendapatkan kartu memori handphone-nya, ke esokan harinya aku
temukan beberapa foto yang tidak wajar, mulai mengumbar aurat, foto cowok di whatsapp dan beberapa foto yang membuatku bertanya-tanya.
Miris melihatnya dan tidak tahu harus bicara seperti apa, andai Ameltahu aku mencuri memory card-nya pasti dia akan marah besar, bisa jadi kebun binantang keluar dari mulutnya. Yang jelas, aku sudah tidak kuasa melihat tingkah dan lakunya yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Sampai akhirnya, entah kerasukan setan atau jin dari mana, tiba-tiba Amel memintaku berlahan-lahan untuk terbiasa hidup tanpa dia. Aku pun tidak tahu maksud dan tujuannya, apa ini bertanda pernikahan ini akan usai?!
Hanya seumur jagung, dan belum hilang hena yang mewarnai kuku kaki dan tanganku,
masih jelas terdengar suara penghulu mengucapkan ikrar pernikahan dan
bayang-bayang handai taulan begitu meriah-nya menyuapi kami dalam acara dulangi dan cacapan. Teriring suara mak tuwo yang membacakan sebuah syair ketika dari keluarga mempelai lelaki memberi suapan kepada mempelai wanita :
*Dengan bismillah aku menyuap
Sebagai bukti meniti adat
Aku titipkan satu nasihat
Dengan suami agar mufakat
Dua pasang sungguh serasi
Bagai Raja dan Ratu-nya
Aku berikan sesuap nasi
Kasih sayang yang tak terhingga*
__ADS_1
Dan begitu sebaliknya, ketika suapan nasi kuning dan ayam bekakak singgah di
mulutku, syair pun berdendang melayu terucap :
Dengan bismillah aku menyuap
Sebagai bukti meniti adat
Aku titipkan satu nasihat
Dengan istri agar mufakat
Para Nelayan mencari ikan
Para pembeli menunggu di tepian
Dari kandungan dilahirkan dan dibesarkan
Sudah besar dinikahkan / Melepas Kewajiban
Dan ada nasehat syair yang begitu membekas dan serat dengan makna kehidupan dalam rumah tangga, ketika kepala kami dipercikan air, terucap syair pun berdendang :
Di atas kepala air disiramkan
Biar sedikit tapi bermakna
Kasih sayang tak kunjung padam
Dari kecil hingga dewasa
Aku tahu maksud dari adat yang satu ini, ketika amarah memenuhi seisi ruang kepala
kami, dan masalah yang begitu berat tengah kita hadapi, ucapan boleh panas tetapi otak harus tetap dingin dalam mencari jalan terbaik dari problem hidup,cabaran dan dugaan, ketika cemburu dan prasangka buruk sedang dihadapi tetapi haruslah sadar untuk menghadapinya dengan kepala yang dingin. Dilanjutkan dengan syair yang menjadi kunci jawaban :
Istri cantik memang pilihan
Pergi tamasya bergandengan tangan
Kalau ananda sedang bermarahan
Ambil wudhu lalu sembahyang
Dan ini yang harus aku lakukan untuk menenangkan hati dan pikiran, tak lain adalah
sholat.
Apa maksud dari sholat dan masalah? Apa iya sholat yang semula aku anggap hanya
sebagai kewajiban dan nyaris menjadi beban, sanggup-kah mengatasi masalah?!
Himpitan dan tekanan batin yang acap kali dada ini berderu kencang, kepala ini
tak sanggup lagi menampung beban yang sebegini hebat-nya.
Apa yang ingin Allah tunjukan kepada ku?! Nyata, aku menikah pun bukan semata-mata
syahwat yang menjadi orientasi atau prioritas utama, tetapi aku takut untuk melakukan maksiat, yang gelombangnya mampu menghantam keimanan-ku, sekuat-nya
karang akan hancur, sekuat-kuatnya iman ini, akan terkikis juga sebab ada DOSA
DALAM KESENDIRIAN.
Aku menentukan pilihan Amel sebagai pendampingku tanpa ta’aruf, tanpa
pacaran dan tanpa bersentuhan kulit sekalipun, aku mengenal-nya hanya gara-gara
sejadah yang aku pinjam dan selebihnya aku tahu cerita tentang dirinya dari orang-orang terdekat, sahabat dan orang tua-nya.
Ketika aku menentukan ia pilihan yang tepat, bukan tanpa dasar yang kuat, justru semua
aku temukan dari Istikharah dan sholat hajat-ku.
Hanya modal bismillah dan sholat Istikharah ditambah sholat malam, sepeser pun tidak
memiliki uang, tetapi ada saja jalan yang aku dapatkan, hingga akhirnya dalam
waktu satu bulan terkumpul uang hampir 25 juta, dan dengan cara halal semua. Apa
ini bukan bertanda, bahwa Allah membukakan pintu rezeki dan merestui pernikahan kami?!
Mau tidak mau, aku harus sadar bahwa sholat-lah yang menjadi tangan Tuhan untuk aku dapatkan semua ini, hanya bermodal keyakinan yang aku selipkan dalam do’a, terlepas dari banyak-nya dosa yang sering di-dengung-kan yang menjadi penghalang dari sebuah do’a ada-lah butiran dosa. Lalu bagaimana dengan Asma-nya Allah, yang Sayang-Nya melebihi dari murkah-Nya?Cinta-Nya melebihi dari Adzab-Nya?
Justifikasi hanya menjadi hak prorogratif-nya Allah, bukan doktrin dari para rahib atau
sang penguasa mimbar yang berdiri dengan hamparan jubah putih dan sorban serta
janggut memutih serta memanjang.
Sekalipun salah? Mohon disalahkan dan jangan dikultuskan. Aku tidak sepaham, jika memang dosa yang sering kita lakukan dan sholat yang sering kita kerjakan hingga
akhirnya aku menjadi enggan berdoa, hanya gara-gara dosa yang menjadi beban,
dosa?!!” Lalu bagaimana dengan jaminan dari
Tuhan-ku sendiri, yang memberikan pandangan bahwa Ia bagaimana prasangka umat-nya?! Ini hanya gambaranku selaku manusia awam, yang mencoba melepas dari belenggu itu semua.
Lagi-lagi aku memahami Asma Allah dari sudut pandang yang berbeda dengan sudut
pandang manusia, bukan ‘mau-nya’ Allah.
Yang tidak sekonyong-konyong-nya
menilai bahwa dosa itu bukan bagian dari sebuah reward ibadah, tidak ada pahala
jika dosa tidak diciptakan.
Seperti itu-lah ketika aku mulai yakin untuk mengembalikan semua perkara yang memang ulah dari tangan-ku sendiri, ‘ainul yakin, Allah juah-lah yang akan meluruskan
benang yang aku anggap kusut, dan ini mudah saja bagi-Nya.
Aku rebahkan sejenak tubuh ini dia atas kasur dan berteman bantal guling, tanpa
seorang istri. Dan Amelmemilih untuk hidup mandiri, mencari nafkah sendiri dan demi mengejar karir-nya. Amel memilih untuk bekerja sebagai telemarketing dari sebuah perusahaan asuransi yang gaji-nya masih sanggup aku berikan dari gaji disetiap bulan-nya.
Biarkan ia memilih menjadi wanita karir dibandingkan harus berkarir menjadi seorang
istri dan ibu bagi anak-anakku kelak. Ini salah-ku yang tidak mampu memiliki
penghasilan lebih dan materi. Dan wajar jika ia menjadi seperti ini, bagiku tetap ini salah seorang pria, walau tidak sedikit juga wanita yang mengalami hal serupa, dan bahkan lebih sadis dari apa yang Amel alami, tetapi ia tidak
bersyukur....
Seperti seorang prajurit yang sudah terkepung dan di perut ku sudah menanti ujuk tombak dan pedang yang siap memcabik-cabik isi perut, aku pun pasrah dan ikhlas.
Seperti itu-lah ketika aku merelakan apa pun yang Allah ingin tuliskan dalam naskah takdir ini, aku pun rela dengan apa yang terjadi, jika memang itu keputusan-Nya.
Lewat tengah malam, ketika Amel positif memintaku untuk mengakhiri pernikahan ini, selepas aku sholat tahajud. Dunia seperti hitam dalam pandanganku, ijab dan kabul serta sighat ta’lik yang aku bacakan setelah akad nikah menjadi beban teramat berat untuk aku ingkari, aku mengemis untuk jangan pergi meninggalkan aku, walau ini-lah serendah-rendah-nya derajat seorang lelaki, tetapi aku lebih malu lagi di hadapan Tuhan-ku ketika gagal dengan tanggung jawab ini.
Aku keluar rumah untuk menenangkan pikiran mencari para petuah di kampung-ku yang
setidaknya mampu memberikan percikan air dan menyejukan hati dan pikiran-ku, seperti cancapan yang menjadi adat, tempat Amel dilahirkan.
Dan terpaksa aku mengetuk rumah salah seorang sahabatku yang bapaknya sudah ku anggap orang tua-ku sendiri. Aku perhatikan jam di display LCD handphone ku ternyata sudah pukul setangah dua pagi. Bagaimana pun juga aku harus ketemu beliau, setidaknya
nasehat yang ia berikan berguna dan bisa menjadi pertimbanganku.
“Paaak....Paak...Assalamu’alikum...”
Aku mengetuk pintu rumahnya, tetapi tak ada satu pun yang menjawab. Di dalam rumah terlihat begitu gelap, terdengar suara dengkuran dan aku pastikan itu suara Pak Kirmanto yang sudah menjadi ciri khasnya.
“Pak...Assalamu’alikum...ini Haidar!”
Seperti ada suara orang terbangun dan membukakan aku pintu. Muncul dengan kumis yang sudah memutih dan hanya mengenakan sarung. Tetapi kali ini ada yang tidak seperti biasanya, di sekujur tubuh pensiunan Tribrata ini terlihat penuh dengan
tempelan koyo.
“Bapak lagi nggak enak badan Dar, meriang!”
“Yaah bapaak...saya mau curhat! Istri saya minta cerai...”
“Mau bagaimana lagi? Besok pagi aja loh ke sini lagi...”
“Yaudah pak, maaf ganggu istirahatnya. Assalamu’alikum.”
“Wa’alikum Salam,” Beliau pun kembali masuk ke dalam rumah.
Entah kemana lagi langkahku berjalan, air mata berlahan terjatuh. Menyayangkan dengan kondisi Ayah yang sudah tidak lagi bisa bicara.
Ayah, aku tidak bisa terima semua ini. Aku takut Allah membenciku, aku butuh
pundak ayah. Tetapi aku tak mau ayah terbebani dengan masalah yang sedang aku
hadapi karena aku tahu ayah sendiri tak berdaya dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Andai saja Ayah bisa bicara, mungkin aku tidak harus seperti ini.”
Ada satu lagi yang juga aku anggap sebagai orang tua-ku, dia-lah Achmad Syafe’i pria polos dan baik hati, walau perangainya mirip sekali dengan Bang Benyamin Suaeb.
Sama seperti pak Kirmanto, pak RW pun, lagi tidak enak badan dan langsung pulang ke rumah. Biasanya ia sampai pagi di pos RW, walau hanya sekedar nonton televisi dan main catur.
“Yaaah tooong, Baba loh lagi nggak enak badan. Bu Rw udah neleponin terus, taaaau tuuh nenek-nenek nggak bisa banget gua tinggal. Besok aja yaa? Sekalian loh maen-
maen di POS RW.”
“Iya pak. Yaudah bapak istirahat aja...”
__ADS_1
Sepanjang jalan begitu sepi dan hanya kelakar tikus got yang begitu nekat-nya
dan tidak takut lagi sama manusia, entah berguru silat dimana sampai-sampai
lewat di depanku tanpa permisi.
Atau jangan-jangan ia lulusan kemp perang di Timur-Tengah, yang hanya takut sama nuklir saja.
Sebentar lagi masuk di sepertiga malam, mungkin di atas sejadah sebaik-baiknya tempat curhat. Merasa sudah mentok dan tidak tahu lagi harus bicara pada siapa.
Aku kembali ke kontrakan, Hamparan sejadah sudah terpentang dan memang tempat ini
biasa aku berbisik pada Tuhan dalam do’a dan mimpi yang belum terwujud, sekalipun luka yang sering aku ceritakan, jujur aku malu dengan semua ini, ketika aku hadapkan wajah dan menengadahkan tangan hanya untuk meminta belas kasihan, menyampaikan keluh serta kesah. Kapan aku bisa berbagi kebahagiaan yang aku dapatkan?
Atau jangan-jangan Tuhan suka dengan doa yang sering aku panjatkan kepada -Nya, seperti ketika aku mendengar pengamen di dalam Bus Kota, suara dan lirik lagu
yang dibawakan begitu merdu, andai saja tidak waktunya tak terbatas, mungkin
aku akan menunda untuk memberikannya uang, hanya karena aku ingin mendengar
suara-nya lebih lama.
Mungkin seperti itu yang Allah maksudkan atau kasarnya, “Haidaaaar! Kalo aku kabulkan segala yang kamu pinta, mungkin kamu akan berhenti berkeluh kesah kepada-ku! Dan aku suka cara kamu meminta dan berdoa kepada-ku.”
Aku pernah dapatkan sebuah buku doa yang menurutku artinya begitu bagus dan begitu
merendahnya di hadapan Allah, terlepas dari perdebatan antar mazhab, aku tidak suka dengen perselisihan tersebut, kembali lagi sesat dan menyesatkan hanya hak Allah untuk membuat ketentuan seperti itu, tugas kita sebagai manusia hanya menjalankan apa pun yang sudah menjadi kemaslahatan bersama, bukan hanya perbedaan yang sering sekali diperuncing.
Sekalipun yang keluar dari ayam berupa telur,
kalau itu bermanfaat yaah diambil.
Ya Allah, aku bermohon padaMu
Dengan permohonan orang yang tunduk dan menyerah Yang hina dan rendah,yang ketika
kesulitan menyampaikan hajatnya padaMu
Berilah daku kelembutanMu, kasihanilah daku,
Dan jadikanlah daku puas dengan pemberianMu,
Dan juga berpuas hati dengan segala keadaan yang menimpaku
Tiada alasan bagiku
untuk menolak ketentuan yang Engkau tetapkan bagiku,
Demikian pula hukum dan
ujian yang menimpaku.
Aku datang kini
mengadapMu,
Ya Illahi dengan segala kekuranganku,
Dengan segala kedurhakaanku (pelanggaranku),
Sambil menyampaikan pengakuan dan penyesalanku
Dengan hati yang hancur luluh.
Memohon ampun dan
berserah diri dengan rendah hati mengakui segala kenistaanku.
Karena segala cacatku ini, Tiada aku dapatkan tempat untuk melarikan diri Dan tiada tempat
berlindung untuk menyerahkan urusanku
Selain daripada kehendakMu untuk menerima pengakuan kesalahanku
Dan memasukkan daku kepada keluasan kasihMu
Ya Allah, terimalah pengakuanku,kasihanilah beratnya kesukaran-kepedihanku
Dan lepaskanlah daku dari kekuatan belengguku
Kalau boleh disamakan ketika kita mendengarkan lagu yang sesuai dengan suasana hati,
pasti kita akan menganggap,”lagu-nya gue banget!”
Begitu juga ketika aku menemukan buku do’a ini yang aku sendiri tertarik dengan
artinya. Dan mulai saat itu aku coba mengamalkannya, setiap kali menemui
masalah hidup yang aku tak menemukan jawab-nya, dan semua aku serahkan dalam do’a ini.
Bukan hanya itu saja, ketika keadaanku terpuruk seperti ini, tiba-tiba saja Bagus
Sasongko, sahabat lama-ku memberi kabar agar aku ikut menghadiri pembukaan Ratib Alhaddad yang biasa majlis tempat-nya mengaji amalkan, ratib ini.
Hingga akhirnya aku pun jatuh cinta dengan dua ritual ini. Pertama, aku suka membaca
do’a Kumayl dan rindu akan suara Hadrah yang mengiringi pembacaan Ratib.
Rempak Hadrah bertalu mengisi disetiap detup jantung, Lafdzul Jalalah mendesir di
setiap aliran darah, atmosfir ruangan pun berganti dan berubah begitu khidmatnya. Suara para ustadz yang membacakan Ratib begitu masyuk-nya membawaku ke alam ruhaniyah yang begitu tinggi. Sungguh, aku hanyut dalam suasana yang penuh euporia, ketika para malaikat menari, sanjung dan salam atas- Mu sang pemilik jiwa-jiwa yang rapuh.
Kini aku mampu tuk hadapkan semua masalah hidupku dengan ikhlas dan mampu untuk kembali kepada fitrah sebenar-benar-nya fitrah cinta yang selama ini membuatku terbuai dalam ke-nisbi-an semata.
Di Majlis ini, aku temukan secerca cahaya untuk-ku dapat bangkit dan kembali pulang, ketika sudah terlalu jauh aku melangkah dan nyaris hampir tersesat.
Selamat datang pagi, selamat datang jiwa baru.” Hanya ini yang bisa aku ucapkan
dan cukup sejuk suasana embun yang aku yakin kini tak akan hilang termakan
matahari, sebab tetesannya sudah cukup membasahi dahaga, dahaga batin yang
hanya hilang ketika seluruh relung dalam diri ini mengalir asma-Nya yang agung.
Allahu Ahad, disaat ke-esaan-Nya sudah memasuki dan melebur menjadi kesatuan dalam rububbiyah ketika itu juga ia berkehendak dengan segala sesuatu, mencipta segala sesuatu menjadi nyata, segala sesuatu menjadi berbeda, segala sesuatu menjadi berupa-rupa, segala sesuatu menjadi nyata warna- warninya, terang, gelap, kabur, samar-samar dan sampai tak terlihat sama sekali, karena Allah
menciptakan sesuatu menjadi nyata, maka Allah itu secara hakikat sebenarnya dan
sesungguhnya lebih nyata dari segala sesuatu, bagaimana segala sesuatu menghijab Allah sedangkan segala sesuatu itu Dia yang menjadikan Nyata dan Allah Maha Besar dari segala sesuatu(segala sesuatu yang dimaksud di sini adalah Selain
dari Allah SWT), segala sesuatu lebih kecil dari pada Dia, bagaimana mungkin
yang kecil mendinding Yang Maha Besar, kalaulah ada Yang Maha Besar bisa
dihijab atau didinding oleh sesuatu maka bukanlah Dia Maha Besar.
Dan maka aku pun mulai sadar dengan kentuan yang menjadi hak Allah, Dia yang
menciptakan, dan berhak dengan kekuasaan yang Ia miliki serta Allah-lah juga yang mengatur ketentuan baik dan buruknya apa pun yang kita terima.
Jangan berharap, tukang parkir merasa memiliki kendaraan mewah yang terparkir dilahan yang itu pun bukan milik-nya.
Seperti itu-lah ketika aku akan menjadi budak perasaanku sendiri, ketika aku terlalu berlebihan untuk memiliki Amel, yang pada
hakikat-nya memang bukan semata-mata menjadi hak atas diri pribadi, tetapi semua ini sudah terangkum menjadi satu dalam misteri hidup, tentang hikmah yang tidak pernah kita ketahui, ada apa dibalik ini semua? Dan berprasangka baiklah kepada Allah, maka baik pula akhirnya.
Hingga akhirnya kutawakal-kan, kuserahkan ketentuan hari ini kepada-Nya, basah lisan
ini dengan satu doa ketika aku siap untuk menanti pagi, menanti pergantian jiwa-jiwa
baru :
Bismikallahumma nad'u....
Fii ghuduwwi wa rowa...
Laka minna kullu hamdin...
Fii masaain wa shobah..
Hablana minka rosyada...
Wahdina subulas sholah...
Unna takwallahi nuurun'
a thoriiqun lil falah...
Dengan namaMu Ya Allah...kami meminta pada waktu pagi dan petang...
BagiMu segala pujian pada waktu pagi dan petang...
Karuniakan kepada kami dari sisiMu petunjuk...
Tunjukkan kami jalan kebaikan...
Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah adalah Cahaya dan Jalan menuju kejayaan...
Dan percayalah, ada tangan-tangan Tuhan yang akan membantu kita menyelesaikan
segala perkara, tentang rezeki, jodoh dan kematian.
Allah akan buka-kan tabir
rahasia, dari setiap ke-dzoliman yang ada, sekalipun pisau belati sembunyi di
__ADS_1
balik kain sutra, Allah akan ungkap-kan itu semua.
Biarkan waktu berbicara,....