
“Inilah yang aku maksud mungkin satu hari nanti aku pun bisa membantumu dengan cara lain. Dan seperti inilah bahwa takdir itu bisa kamu rubah dengan tanganmu sendiri. Sebab ia tidak akan merubah nasib umat-nya, jika umatnya tidak akan merubah nasibnya sendiri. Terbukti kematian itu bisa kamu ciptakan, dari tangan-mu, dan inilah yang bisa aku persembahkan untuk-mu, tentang takdir kematian Luis yang memang harus mati di tanganku, Haidar!”
Dari balik jeruji besi suara itu muncul dan mengejutkanku yang hampir terlelap tidur, mataku berusaha mengumpulkan reaksi cahaya yang membuatku silau. Berlahan aku mencoba menangkap bayangan dari sumber suara. Rupanya ‘si penjaga malam’ berbicara di balik sel, wajahnya menatap jauh ke luar.
“Mengapa kamu tega menghilangkan nyawa orang, untuk apa?! Dan aku tidak menyuruhmu untuk balas dendam!!”
“Aku sendiri membendung semua emosiku setiap kali kamu ceritakan tentang Amel, Luis dan jalan hidupmu yang membuatku terpukul, dan aku merasakan bagaimana jika aku berada di posisi-mu, Haidar!!”
“Terimakasih atas solidaritasmu sebagai seorang sahabat, tetapi ini bukan jalan keluar. Dan kamu tahu bagaimana nasib ayahku yang ketika aku tinggalkan ia dalam keadaan kritis?! Hah?! Apa kamu merasakan juga?! Apa kamu tahu itu?!!”
“Kenapa lagi dengan ayah-mu?!”
“Kritis!”
Dalam kegelapan ruang tahan aku mencoba menenangkan pikiran, dan berharap ada keberuntungan yang bisa menolongku untuk keluar dari tempat yang tidak pernah ada dalam mimpiku. Gelap, sorot mata tahanan lainnya yang begitu tajam, liar dan buas.
“Kamu tak perlu emosi seperti itu Haidar, air mata buka cara-mu untuk menebus takdir, lebarkan sayapmu kepakan lebih kuat dan terbanglah seperti Elang. Sekalipun sayap-mu terluka, tetapi itu hanya sementara.”
Inilah disaat aku tidak bisa menyalahkan siapa pun, dan aku tahu bagaimana solidaritasnya seorang Junaidi Abdillah yang akan membela sahabatnya sampai mati, tanpa perdulikan lagi kondisi dirinya sendiri.
Aku redam amarahku dalam istighfar, berlahan aku tarik nafas dalam-dalam, sambilku pejamkan mata dan aku biarkan air mata ini menetes, bukan karena aku lemah tetapi seperti ini caraku mengusir keresahan hati, apakah haram?!
Aku masih berprasangka baik dengan apa yang menimpah diriku, kondisi ayah yang sedang sakit, jodohku yang hanya seumur jagung, dan mimpi-mimpiku yang masih tersimpan rapih dalam loker ‘pengharapan’.
Heeem, tak mudah mendaki gunung Rinjani, harus aku lewati jurang yang terjal, kondisi medan lengkap dengan aral yang mengiringi setiap langkahku untuk sampai ke puncak, tidak menutup kemungkinan ada binatang buas yang aku harus taklukan selama dalam perjalanan, atau aku kalah diterkam dan tubuhku dicabik-cabik dengan taringnya?! Akanku katakan pada langit, bahwa aku masih tegar berdiri.
“Percayalah Haidar, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka. Dan perlu kamuketahui! Ada takdir yang memang sudah tercantum dalam Lahul Mahfudz dan ada juga takdir yang memang bisa berubah dan bisa juga menjadi ketetapan Allah.
Biarlah takdir buruk, takdir yang aku anggap Mu’alaq yang aku rubah sendiri dan bukan menjadi kehendak Allah tetapi pilihan yang aku ambil. Semata-mata hanya ingin kamu ketahui, sekalipun kematian seseorang itu bisa kita ciptakan sendiri, walau pada kenyataannya itu salah. Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh (kerana memenuhi kehendak agama Kami), sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.”
“Jadi aku harus perbaiki amal-amalku?”
“Jelas! Hanya berbuat kebajikan dan terus bero’a yakinlah akan janji Allah, ia akan merubah takdir yang kita anggap itu buruk, tidak ada takdir yang kejam, hanya kita sajalah yang berhak menentukan-nya, selebihnya kamu harus percaya akan janji Allah yang tidak sama dengan janji mantan istri-mu itu, yang masih saja mengingkari janji dalam ijab dan qabul-nya.
Demi Allah, akan ada hisab dari Allah yang akan ia hadapi, tidak di dunia, maka bersiaplah perhitungan Allah yang abadi di akherat kelak. Satu pesanku Haidar, patrikan dalam dirimu bahwa Allah-lah yang engkau maksud, minta-lah Ridho-Nya, dengan begitu kamu akan jatuh cinta dengan Tuhanmu dan akan mengenal siapa Dia.”
“Tapi bagaimana dengan kamu?!”
“Biarlah aku jalanin pilihan hidup ini, penjara bukan akhir dari segalanya bagiku.”
“Tapi kamu tidak ceritakan kronoligis dari semua ini!”
“Kamu pernah cerita tentang Luis, kost-kost-an tempat mereka melakukan hal yang seronok itu! Dari situ cukup aku mencari tahu, lokasi tempat kost tersebut dan memang tidak mudah, tetapi aku punya progres hidup, aku punya target dan aku punya rencana yang matang, untuk melakukan ini semua.
Jangan panggil namaku Junaidi Abdillah, kalau tidak bisa melacak keberdaan orang macem Luis dan Amel. Dan asal kamu tahu, bahwa Luis itu suka bergonta-ganti pasangan. Semula aku ingin menghabisi nyawa mantan istri-mu itu yang telah menginjak-injak kepala-mu, tetapi dia perempuan, haram untukku menghabisi nyawa anak-anak dan perempuan.
Sebulan penuh aku mencari mereka, dan aku pancing Luis keluar dengan menggunakan akun facebook wanita sexy, dan aku rayu, hingga akhirnya si Unge, nama akun palsuku, wanita dengan foto profil yang cukup membuat lelaki bercucuran keringat, termasuk Luis dan aku terus merayunya untuk bertatap muka langsung, aku sewa wanita bayaran untuk berpura-pura menjadi Unge, sampai ulah nakal dan kebodohan Luis dia tidak sadar masuk dalam perangkapku.
__ADS_1
Di hari berikutnya, baru aku mulai mengamati prilaku Luis, mulai dari kebiasaanya keluar malam, tanpa sepengetahuan mantan istrimu itu.
Ketika semuanya lengah dan aku anggap sudah aman, termasuk aku perhatikan semua penghuni- penguni kost-an yang hampir rata-rata itu temannya Luis. Dengan profesi yang berbeda-beda, aku lakukan pemetaan lokasi untuk aku eksekusi mati, Luis di tanganku sendiri.
Dan kamu tak perlu khawatir, sebab aku berikan keterangan bahwa aku bekerja sendiri, dan wanita bayaran itu biarlah dia merasakan dinginnya sel sementara waktu, anggaplah sebagai pembelajaran untuknya taubat dari kelakuan buruknya yang terbiasa dengan hotel berbintang, dan pendingin ruangan serta kasur mewah. Di dalam penjara ia akan belajar memaknai hidup.
Aku belajar banyak dari hasil nge-googling, tentang pembantaian ala Yakuza, lagu-lagu keras Thufail Al Ghifari yang menjadi influance-ku untuk bergerak. Hahahah...aku menjiwai sekali menjadi seorang pembunuh walau masih terbilang amatir. Sebentar lagi kau akan keluar dan merasakan udara bebas, sulamlah takdirmu di alam bebas yang aku anggap lebih buas daripada penjara.”
Tak terasa, suara Adzan Subuh menutup pembicaraan, dan kami pun sempat sholat berjam’ah bersama, sarapan sekedarnya. Sampai akhirnya, suara parau memotong detik-detik terakhirku bersama Junaidi Abdillah.
“Haidar keluar!”
Aku mendapat jaminan dari sahabatku Imam Yuniarto, tetapi tetap saja aku harus laporan rutin setiap hari Selasa. Dengan berat hati aku tinggalkan ‘si penjaga malam’ seorang diri di dalam sel tahanan, dan aku berhutang budi kepada-nya.
Sujud syukur aku panjatkan atas nikmat kebebasan yang aku rasa lebih berharga dibandingkan mendekam di balik jeruji besi. Walau aku akui banyak orang-orang besar seperti Syaid Qutub, Hasan Al Banna, Ibnu Taimiyah, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Syech Ahmad Yasin, Buya Hamka, Tan Malaka, tetapi meraka merengkuh penjara bukan kasus kriminal melainkan menjadi tahan politik, strata tertinggi dalam lingkaran narapidana, bukan menjadi tahanan hanya karena membunuh, korupsi atau tindak kriminal lainnya.
Apapun itu yang beraroma penjara, bagi diriku akan memenjarakan juga waktu dan impian yang sudah terencana, dan untuk masuk dalam penjara tidak termasuk dalam target mimpi yang harus aku sulam. Alhamdulillah, walau satu malam saja sudah aku temukan bagaimana atmosfir udara di dalamnya.
Mata-mata dengan sorotan yang tajam, seperti ingin menikam, senyuman yang bengis seakan ingin menghabisi kawan dalam penjara, seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang akan menjadi kepala kamar, seperti itulah istilahnya.
Setelah aku pamit dengan team penyidik, kepala sipir dan beberapa orang yang aku kenal satu malam di dalam sel penjara. Tetapi ada yang aneh, “Dimana Junaidi Abdillah?!” Tak beberapa lama, ketika mataku memandang liar mencari dimana posisi sahabatku itu, muncul dari balik jeruji.
“Haidaaaaaaaar!!! Teruslah bermimpiiii!!!! Besahabatlah dengan takdirmu!!”Teriak Dillah lantang,
hingga petugas sipir penjara menenangkannya, seperti para tentara di Timur
Keluar dari pintu kantor kepolisian, seakan aku melihat teriknya matahari menjadi ruh tersendiri untukku menantang waktu, membuat seisi dadaku penuh semangat karena pernah merasakan dalam belenggu ruangan hampa udara dan tak tersentuh cahaya matahari.
Kita yang menghirup udara bebas saja sebegini jenuhnya, apa lagi mereka yang hanya bersahabat dengan dinding ruang penjara. Sedangkan untuk ongkosku sendiri diberikan oleh Mas Imam, cukup satu kali naik angkot aku sudah sampai di bibir gang menuju rumah.
“Ada bendera kuning?!” Tanyaku dengan rasa yang bergemuruh dan baru saja aku langkahkan kaki dari mini bus yang membawaku pulang.
Secapat mungkin aku berlari, menulusuri gang jalan melewati kerumunan orang yang melihatku aneh, walau sebagian orang tahu siapa aku, karena memang aktifitas sosial menjadikan ku orang yang cukup dikenal oleh orang banyak. Dari mimik dan cara mereka berbicara sepertinya sudah mengetahui kabar berita yang menimpahku,
tidak seperti Junaidi Abdillah yang penangkapannya tak seorang pun tahu. Tetapi, dari senyum beberapa orang yang aku temui, seperti melihatku kasihan. Ada apa sebenarnya?!
Di ujung jalan, walau jaraknya masih jauh terlihat ramai orang berkumpul di depan rumahku. Perasaanku sudah menduga pasti kabar duka tentang ayahku, yang semalam aku tinggal dalam keadaan kritis.
Dengan menyisahkan peluh yang ada, dan tenaga yang tersisa aku coba terus berlari meskipun nafas ini tersengkal, semakin dekat jaraknya semakin membuat jantungku berdebar tak menentu. Sekujur tubuhku terasa tak memiliki tenaga dan tak berdaya aku terus berlari kecil untuk sampai ke depan pintu rumah.
“Ayaaaaah!!!”
Tubuh terkulai di atas pembaringan, pucat dan sudah tak bernyawa. Aku hampiri jasad yang dahulu kekar, kini tak bedaya.
“Ayaaaaaah!!!
Aku sudah bilang, jangan dulu tinggalkan aku sebelum ayah mencium Hajar Aswad!
__ADS_1
Kenapa ayah tidak bisa lawan sakit-nya?!!!”
Kali ini aku tidak bisa membendung air mata, aku menangis terisak-isak, walau itu berlebihan. Inilah caraku mengungkapkan kekesalanku, kekesalan seorang putra yang tidak bisa mendampingi saat-saat Malikal Maut menyapa dan membawa pergi ruh ayahku. Ikhlas tak ikhlas, ridho dan tak ridho sekalipun, aku tetap
menyesal belum sempat aku urai niat ini memberangkatkan ayah ke Masjidil Haram, sekalipun hanya haji kecil yang bisa ia tunaikan.
“Ayaah, kita masih punya mimpi yang belum terbayar lunas.” Aku terus meratapi jasad dan bibir merahnya yang masih menyisahkan senyum.
Dan aku memeluk tubuh Mamah begitu erat, hanya ia yang masih tersisah untukku, yang harus aku tunaikan janji dan mimpi untuknya.
“Sabar Bang” Mama memanggilku dengan sebutan Abang, karena anak pertama
“...Kamu anak lelaki jangan bertingkah seperti perempuan. Dimana-mana lelakilah yang harus tegar. Ini sudah sunatullah, ada hidup dan ada kematian, ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan yakinlah Allah memisahkan kita di dunia, pastinya ingin mempertemukan kita dalam pertemuan abadi di akhirat kelak.”
Perempuan yang lisannya selalu basah dengan surat Al-Mulk dan Al-Wagiyah ini mencoba menghiburku. Dan aku yakin beliau sendiri tidak kuasa menahan air mata, karena aku tahu bagaimana cengengnya Mamah. Tapi tidak untuk hari ini, ia terlihat tegar walau hatinya terpukul atas kehilangan orang yang menemaninya dua puluh lima tahun lebih. Bukan waktu yang singkat, manis, asam dan pahitnya hidup sudah mereka rasakan.
Aku hanya memiliki waktu satu jam saja untuk melihat jasad Ayah sebelum dikebumikan, mengingat beliau menghembuskan nafas terkahirnya itu tepat pukul dua belas malam, tak lama aku pergi Ayah pun meregang nyawa, menahan sakitnya sakratul maut, yang seorang Rasulullah sendiri tak kuasa menahan sakitnya ketika ruh terlepas dari jasadnya.
Tertutup sudah naskah hidup yang setiap judul memiliki kelanjutan yang kita sendiri tidak pernah tahu dan menduga-duga seperti apa jadinya. Dialah sang Maha Sixth Sense yang rencanya lebih matang dari ilmu manusia, sekalipun ada paranormal kelas dunia yang mampu memprediksi dengan kitab- kitab kunonya yang katanya hasil dari ramalan suku Sumeria dengan hitungan seksagesimalnya.
Atau berlaga seperti Final Destination sebuah karya dari Jefrrey Reddick yang mampu menipu kematian dan dapat menghindari maut dengan kekuatan pikirannya, apakah takdir kematian itu seperti itu? Lalu siapa yang tak kenal presiden Amerika, John F. Kenedy yang keselamatan dan kematiannya terjamin, rupanya Malikal Maut lebih piawai membidik hingga ia akhir tergolek tak bernyawa.
Berbagai tafsir tentang takdir, ada yang beranggapan bahwa ia adalah hak prerogratif Allah yang tidak bisa diganggu gugat, ada juga yang mengagap bahwa takdir itu tidak ada campur tangan Allah sekali pun dan ini golongan terakhir yang menganggap bahwa apa pun prilaku kita termaktub dalam aturan- aturan Allah, ada juga yang melibatkan Allah, kita pun memiliki hak untuk memilih dan merubahnya.
Aku yakin tak ada akibat tanpa ada musabab yang mengiringi itu semua, kematian ayah itu akibat dari sebab karena ia sakit, dan bisa saja dihindari andai ada upaya yang kita lakukan, membawanya ke Rumah Sakit, ikhitar serta diiringi doa. Namun, adanya sebab dan akibat itu sebagai aturan Allah yang begitu Adil.
Kematian Ayah sudah menjadi aturan Allah, dia Maha Berhitung dan Memperhitungkan, Dia-lah Sabab dari segala sebab yang mampu merubahnya. Renungan panjang di atas peristirahatan terakhir Ayah, kelak aku pun akan menyusulnya hanya waktu yang akan menjawab kapan tiba saatnya untuk istirahatkan segala beban ini, beban
yang harus aku jalani dan syukuri, karena lembaran ini terus dan terus akan ku toreh, hingga tiba waktunya untuk menutup sementara cerita ini dengan kematianku sendiri. Sebab, alam akhirat tidak pernah terekam, atau cerita ini akan lebih lantang nantinya?
Wallahu’alam...
Kini hanya di atas sajadah aku istirahatkan otak ini yang tak henti-hentinya aku gunakan untuk berpikir, aku tuntut hatiku menjadi hati yang selamat, pelan-pelan aku harus belajar. Walau untuk melupakan semua kenangan bersama Ayah seumur hidup tak akan bisa aku hapus dalam ingatan.
ALLAHUMMAGH-FIR
LAHUU WA TSABBIT-HU
“Ya Allah, ampunilah dia dan kuatkan dirinya (untuk menjawab pertanyaan malaikat)”
Terkubur semua kenangan bersama Ayah yang kini sudah tenang dalam pembaringan panjang, air mawar akan selalu basah dan harum, kembang tujuh rupa akan terus menjadi warna dalam bingkai kehidupanku.
Hanya do’a yang aku panjatkan, semoga Allah mengampuni segala dosa dan menerima segala amal kebaikan yang sudah ia tanam-kan, hingga tak akan putus sampai hari akhir nanti. Seiring aku melangkah meninggalkan pusara terakhir ayah, setangkai daun kamboja pun jatuh tepat di atas papan nisannya, seakan bertanda bahwa Ayah ikhlas menghadap Allah SWT dan melepas orang-orang yang dicintainya.
Selamat Jalan
Ayahanda.....
__ADS_1