TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Upload Mimpi


__ADS_3

Terseok dan hampa sudah menjadi bagian dalam kesehari-harianku seperti kehilangan arah


dalam hidup. Aku mencoba melawannya, belajar untuk tidak larut dalam duka. Teringat pada kisah Rasulullah dengan Amul Huzni-nya, ketika beliau dirundung kedukaan yang berkepanjangan ditinggal wafat istrinya tercinta. Tahun itu, tahun sepuluh kenabian, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib, wafat.


 


Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib, seperti yang diceritakan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya hanya berselang satu bulan lima hari. Dua tokoh penting yang selama ini menopang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kerasnya intimidasi dan konspirasi kaum Musyrikin Makkah terhadap Rasulullah dan para sahabatnya kala itu.


Khadijah bukan hanya seorang istri bagi Rasulullah, beliaulah penghibur ketika ia mengalami maslah berat. Begitu juga halnya dengan Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi kaumnya yang bertolak belakang dan menjadi boomerang. Rasulullah pun akhirnya mengharapkan perlindungan dan dukungan dari Tha’if dari ancaman kaum Quraisy, namun bukan perlindungan yang didapatkan tetapi justru hujaman batu yang ia dapatkan. Hingga akhirnya Rasulullah menengadahkan tangan ;


“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, minimnya upayaku dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkau Tuhan orang-orang Yang tak berdaya. Engkau Tuhanku, kepada siapakah diriku akan Engkau serahkan? Apakah kepada orang jauh (tidak dikenal) yang akan menyergapku? Atau kepada musuh yang urusanku telah Engkau pasrahkan padanya? Bila Engkau tidak murka padaku, maka aku tidak akan peduli lagi (dengan Celaan mereka), tetapi kemaafan-Mu jauh lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang menerangi segala kegelapan dan membenahi segala urusan dunia akhirat, dari murka-Mu yang akan Engkau turunkan atasku atau dari kebencian-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku. Hanya bagi-Mu kerelaan hingga Engkau rela. Tiada daya dan upaya selain dari-Mu.”


Inilah cikal diberangkatkannya Rasulullah menujuh mi’raj-Nya, ketika penderitaan memuncah justru Allah mengangkat derajatnya ke level tertinggi, perjalanan mi’raj itu reward dari Allah dan bagiku bukan semata-mata beliau seorang Rasul, melainkan aku memandangnya dalam kaca mata manusia biasa. Ada hikmah kesabaran,


keta’atan dan ketaqwaan yang seorang Muhammad ajarkan. Wajar, kalau manusia mengikuti manusia, yang tidak wajar ketika manusia diperintahkan Allah untuk menjadikan Jibril sebagai Uswahtun Hasanah.


Mengapa seorang Muhammad bisa, yang nota bene- nya manusia biasa, hanya tingkat ketaqwaan-nya saja yang sudah mencapai maqam lebih tinggi, menitih tangga manusia paripurna.


“Belajarlah dari Rasul-mu Haidar, belajar kepadanya tentang kesabaran, keta’atan dan ketaqwaan.” Aku memotivasi diri sendiri.


Setidaknya seujung kuku mengikuti jejaknya kenapa tidak?! Walau jauh dari kesempurnan tetapi apa lah artinya hidup tanpa mencari syafa’at-nya. Apa yang aku alami jauh bila dibandingkan dengan kejadian yang menimpah Rasulullah dan keluarga-nya. Aral hidupku baru seujung kuku dibandingkan Abu Dzar Al-Ghifary, Hamzah bin Ash, Bilal bin Rabah, Syaidnya Hasan dan Husein.


Aku harus lewati masa-masa seperti ini dengan keikhlasan, dan sebagai ajang untukku lebih dekat kepada sang pemilik masa depan hidupku. Satu-satunya jalan aku harus hijrah untuk aku temukan merajut takdirku sendiri. Dan aku harus belajar dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah, tidak perlu mendekati diri kepada manusia paripurna seutuhnya, namun percikan cahaya beliaulah yang ingin aku coba raih.


Sudah itrah Tuhan, bahwa jasad yang kita miliki hanya pinjaman sesaat saja, jangan merasa memiliki barang pinjaman, mungkin bisa saja aku menangis sejadi-jadinya, tidak terima dengan ketentuan Allah dan merasa kehilangan orang-orang yang aku cintai, tetapi aku sadar diri bahwa aku hanya-lah tukang parkir saja, jangan


merasa memiliki kendaraan mewah sekalipun kendaraan yang parikir di lahanku, sebab itu bukan milik ku.


Datang-pergi, ada jumpa dan ada pula perpisahan itu hal yang amat wajar, hanya dibutuhkan keikhlasan serta bagaimana kita menyikapi itu semua, ini bertanda bahwa hanya Allah-lah pemilik keabadian, jangan terlalu serakah untuk memiliki apa pun dan jangan terlalu berharap serta menyandarkan diri pada sesuatu yang memang lemah.


Tak ada alasan lagi, aku harus mampu melewati masa-masa sulit seperti ini dengan memebaskan diri dari syak-wasangka kepada Allah SWT maka dengan begitu hatiku akan merasa tenang dengan apa yang aku jalani.


“Selamat datang Takdir.” Aku menyapanya begitu tenang.


Aku mulai merasa nyaman dengan kesendirian, membaca banyak buku dan artikel. Mencari tahu apa yang menjadi keinginan pasar, penerbit dan aku tuangkan apa yang menjadi buah pikiran. Hingga akhirnya terbesit untukku menuliskan novel yang aku akan kemas realistis dengan gaya santun dan romantis, aku akan membahas tentang jodoh, rezeki dan kematian. Yang masih gamang untuk dibahas secara realistis sebagai bukti teori mana yang lebih mendekati kepada konsep semua itu. Dan memang sebelumnya aku sempat sounding dengan Mas Ayatullah Khomaeny seorang editor buku agama di sebuah perusaahan penerbit.


“Coba kirim naskahnya.”


“Insyallah mas.”


Padahal, aku baru membuat headline title nya saja. Mengingat lebih efisien dengan cara begitu, jika ditolak kita coba judul baru. Dan dari pernyataan beliau aku anggap respon yang perlu dicoba, dan aku mempunyai target menulis naskah selama satu bulan. Insyallah, akan rampung dalam waktu yang sudah aku schedule-kan. Terlepas diterima atau tidaknya naskahku, yang penting aku harus berusaha.


Setiap hari itu, aku harus menulis sepuluh lembar bagaimana pun keadaan suasana lingkungan dan hati, aku harus profesional dengan profesiku sebagai penulis. Seperti Sule ‘OVJ’ orang tidak pernah tahu kalau ia sedang mengalami kegundahan, gelisah dan mungkin kondisi tubuhnya yang tidak fit, tetapi lelaki yang memiliki nama lengkap Entis Sutisna ini begitu profesional dengan karir-nya, tak perlu orang tahu kalau dirinya sedang mendapat banyak masalah, tetapi yang penonton dan audiens tahu bagaimana ia menyajikan lawakan serta humor yang fresh.


Seperti itulah, bagaimana pun keadaanya aku juga harus profesional dengan profesi yang sudah aku pilih. Ini bagian dari pekerjaan dan aku harus memiliki jam kerja juga, jika jenuh biasanya aku berselencar di dunia internet dan asik saling sapa di dunia jejaring sosial. Aku mulia meng-upload foto yang akan menjadi mimpiku kelak, aku harus berpose di depan gereja Katedral Milano, salah satu gereja terbesar di dunia yang menjadi gereja kebanggaan di Eropa, gereja ini panjangnya 157 meter dan total 40.000 orang dapat ditampung di dalamnya dengan nyaman. Jendela-jendela yang besar dari bagian paduan suaranya terkenal sebagai yang terbesar di dunia. Aku lebih suka melihat gereja tesebut dengan kacamata artistik semata.


Lalu aku pun meng-upload foto Kastil Neuschwanstein, sebuah kastil Bavaria pada abad ke-19. Bangunan ini terlihat romantis dan unik karena terletak di puncak pegunungan di Jerman, di dekat Hohenschwangau dan Füssen di Bayern barat daya. Kastil ini dibangun oleh Ludwig II dari Bavaria.


 Dan aku suka Jerman, karena bagiku negara ini-lah simbol sebuah motivasi seorang Hitler yang aku pandang bukan seorang pembunuh, tetapi ia memiliki sisi lain, jiwanya yang tak mudah menyerah, tegas dengan arah hidupnya, hingga ia mampu mencapai apa yang ia targetkan. Walau kemenangan tanpa ada lencana atau kehormatan khusus untuk-nya.


Dan terakhir aku meng-upload foto Masjidil Haram, ini lah petilasan terakhirku untuk bisa pergi ke sana, ketika aku letih dengan masalah dan urusan dunia, aku rebahkan hati, tenaga serta pikiran di Jazirah para nabi. Bukan tanpa alasan, aku meng-upload tiga mimpiku itu. Sejalan dengan filosfi sebuah kezuhudan yang dituangkan dalam sebuah hadits populer ;


"I’mal lidunyaaka kaannaka ta'iisyu abadan wa'mal liaahirotika kaannaka tamuutu ghodan".

__ADS_1


Bekerjalah utk urusan duniamu sekedarnya saja, tdk usah khawatir tdk kebagian karena kamu akan hidup selamanya.


Aku belajar ‘mengimani mimpiku ‘ dari Alphany Septhan Thea, gadis yang dahulu pernah hadir dalam hidupku, masih teringat dengan doa yang ia ucapkan ketika aku sama-sama bersimpuh di bawah tiang salib yang besar, di hadapan altar ia berdoa.


“Tuhan, peluk pacarku dalam kasih-Mu, sampaikan mimpi-nya dan keinginannya. Aku tahu dia lelaki hebat. “


Aku menengadahkan tangan, dan Thea mengipit jemarinya. Kita begitu khusyu aku tahu dia berdoa dengan ketulusan hatinya, Tuhan kita memang satu tetapi aqidah ini yang berbeda. Ketika gadis berambut kriting ozon itu berdoa sampai dan mendekati kata,”....sampaikan mimpinya dan keinginannya...” Respon bibir ini pun ikut berdoa, ini pengalaman aku masuk ke dalam gereja.


“Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqîna imama.”


"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa"


Alhamdulillah, meskipun sudah terpisah jauh tetapi aku masih saling sapa dan menanyakan serta terkadang tante, aku memanggil mami-nya Thea dengan sebutan tante ikut mendo’akan karir menulisku, menanyakan kabar meskipun melalui facebook aku bisa mengetahui keadaan mereka. Karena aku masih bertemen dengan Rama Rafael Pangestoe, adik kandung Thea yang memanggilku dengan sebutan ‘Koko’ karena mereka berdarah Chines.


Sepuluh tahun lalu, aku menertawakannya ketika setiap kali sepulang ku menemaninya ke gereja. Ia selalu memegang foto Gereja katredral di Milan, serta menara Eifel yang menjadi negara favoritnya. Sambil memejamkan mata dan memegang dua poster tersebut,” Tuhan, sampaikan mimpiku untuk sampai ke negera ini.” Sepuluh tahun


berikutnya, aku terkejut ketika tante Phey Sumi Hariyono meng- upload foto-fotonya.


“Tante, Thea sekarang dimana?” Spontan aku bertanya di chat Via Facebook.


“Si Kuntet tinggal di Milan.” Kuntet itu nama panggilan dari mami-nya, karena tingginya hanya 164 cm tidak seperti saudara-saudara kandungnya.


Aku hanya bisa berucap dalam hati, “ Kini mimpi mu dijawab Tuhan yah?” Sambil melihat foto-fotonya yang masih aku simpan dalam folder di laptop. Itulah mimpi, yang kita sendiri tidak tahu kapan Allah akan menjawabnya. Dan aku coba mengikuti jejaknya dengan cara yang berbeda. Diantara butiran tasbih, di atas sejadah serta selepas tengah malam.


“....Ya Allah, Sampaikan Hajat-ku.”


Selepas sholat Tahajud, aku lanjut menyelesaikan naskah novel yang harus selesai dalam waktu satu bulan atau lebih cepat, lebih baik. Sehabis Subuh aku repahkan tubuhku sementara waktu, hingga terbangun di waktu Dhuha, dan bersiap-siap karena sehabis Dzuhur Janji bertemu dengan Vega. Tiba- tiba saja ia meminta sedikit waktuku untuk bertemu walau satu jam, agendanya sendiri aku tidak tahu. Mungkin dia kangen, atau ada pembicaraan yang serius dan ingin ia sampaikan, sekalian ia mau keluar ada urusan yang aku tidak tahu.


Kami pun menyepakati untuk bertemu di sebuah mini market yang memang cukup familiar dan sering dijadikan ajang hang out remaja pada umumnya. Tepatnya di bilangan Selatan Jakarta, sehabis Zuhur jam satu atau dua siang. Satu sisi aku senang bisa bertemu dia, hampir satu minggu pasca kejadian penangkapanku, ia tak


Waktu yang dinanti pun tiba, aku sudah perhatikan betul penampilanku, mulai dari sepatu, rambut, pakian dan tidak lupa minyak wangi. Janji jam 2 siang, aku harus jalan dari jam setengah satu. Karena yang aku khawatirkan macet-nya Jakarta tidak bisa diprediksi.


“Lebih baik menunggu satu jam daripada telat satu menit.” Aku pernah membaca motto itu di depan gerbang sekolah, dan masih tertanam sampai sekarang.


Simple, tetapi artinya   begitu membekas di ingatanku, padahal tulisan itu aku lihat belasan tahun lalu.


Alhasil, aku menunggu setengah jam dengan keadaan uang yang pas-pas-an, hanya cukup untuk ongkos, dan membeli dua botol air mineral. Cukup membuatku harus merasa tahu diri, menunggu orang lama-lama tetapi tidak satu pun ada yang aku beli di tempat itu. Sedangkan hampir di setiap meja yang aku lihat penuh dengan makanan dan minuman ringan, sedangkan di meja aku melompong.


Aku mencoba acuh dengan pemandangan yang boleh dikatakan cukup miris, sampai akhirnya untuk membeli minuman botol saja aku ragu, dan mempertimbangkan segala macam kemungkinan- kemungkinan, draft negatif dan prediksi buruk yang keluar. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk membeli satu botol minuman, itu pun keputusan itu aku ambil tepat di menit ke 30 aku merasa jenuh menunggu.


Masih di depan kasir, nada whats app ku berbunyi dan aku sudah menduga itu dari Vega, secepat mungkin aku ambil dari saku Jeans. Berdebar jantung ketika membaca pesan dari-nya, singkat dan cukup membuatku menyesal membeli air mineral.


Messege : Vega PN ( +62812XXX-XXX-44 )


Ketemuan di Blok M skrg!Sorry!


Kontan, aku pun harus meluncur ke sana dengan keadaan yang serba pas-pas-an, di tempat yang ia sebut di pesan whats app-nya yang kedua, sebuah restouran siap saji tepat di dekat shoping center yang cukup ternama. Di pikiranku hanya ada, bagaimana caranya untuk sampai ketempat itu. Uangku hanya untuk satu kali saja naik bus Trans Jakarta, urusan pulang nya nanti biar aku cari jalan keluarnya nanti.


Ya ampuuun!!! Ada acara macet segala, tepat di Masjid Al-Azhar sampai ke terminal Blok M, dan terpaksa aku turun, berlari kecil ke tempat yang Vega tunjukan. Aku berburu waktu, karena Vega ada urusan yang cukup penting hingga tidak punya banyak waktu.


Hingga muncul pesan whats app-nya untuk kesekian kali, aku harus toleransi kali ini karena memang kesalahan ada di keadaan yang tidak memungkinkan untukku tepat waktu.


Messege : Vega PN (

__ADS_1


+62812XXX-XXX-44 )


Kita batalkan yah?! Maaf, soalnya ada urusan yang penting dan aku harus pergi. Next, mungkin kita  akan lebih pripare lagi.


Hilang semua harapan, rencana-rencana yang begitu indah terlintas sepanjang perjalanan tadi. Dan aku harus maklum dengan keadaan seperti itu. Sekarang yang aku pikirkan bagaimana caranya untuk bisa kembali pulang, tanpa ada uang sedikit pun. Cara yang cukup mendesak tak lain, aku harus mengamen di dalam Angkutan Kota, untuk sampai ke rumah.


Di tengah perjalanan, aku dikejutkan lagi dengan suara yang sama ketika aku menerima pesan dari Vega, dan aku sudah tak berminat lagi untuk membuka pesan singkat tersebut, yaah, mungkin boleh dikatakan sedikit kecewa dengan sikapnya. Aku putuskan untuk mematikan handphone, disamping tidak enak dengan pengamen yang lainnya, jika aku terlihat agak sedikit berbeda dan bisa merusak image pengamen nantinya.


Kalau punya ongkos, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai kembali ke rumah. Normalnya, satu jam setengah aku sudah melepas lelah di kamar. Tetapi tidak untuk saat ini, butuh waktu tiga jam lebih, mengingat aku harus turun-naik bus kota. Karena tidak ada lagi selain Trans Jakarta yang langsung sampai di terminal, hanya butuh waktu sepuluh menit jika ditempuh dengan jalan kaki untuk sampai ke rumah.


Barus saja menghidupkan handphone, beruntun pesan masuk dan hampir semua dari Vega yang rupa- nya ia berharap bisa bertemu-ku hari ini, walau sempat gagal beberapa jam lalu dan ia rela jika aku yang menentukan tempatnya. Belum sempat aku membalas gadis itu menjelaskan bahwa dirinya resign dari profesi sebagai pramugari. Dan memilih melanjutkan aktifitas kampus yang sempat ia tinggalkan.


Aku pun meng-iyakan pertemuanku dengannya walau sedikit kecewa, tetapi memaafkan itu lebih baik. Mungkin ada alasan yang lebih penting dan mengesampingkan untuk bertemu denganku. Deal! Kita pun sepakat bertemu di Shoping Center terdekat dari tempat tinggalku.


Baru saja aku melintas di pelataran parkir Mall, suara wanita memanggil.


“Haidaaar!!”  Vega yang saat itu mengenakan hijab putih terlihat keluar dari pintu kemudi.”


 “Subhanallah!” Mantan pramugari tersebut terlihat anggun mengenakan pakaian serba putih, sepadu-padan dengan warna mobil yang ia kendarai.


Aku menghampiri, gadis yang wajahnya masih terlihat cantik walau tanpa make up. Dengan jilbab inner seperti ninja yang menutup leher, ditambah syal atau scarf yang menutup dadanya. Sempurna secara fisik, atau memang terbilang wajar jika terlihat cantik karena pada dasarnya ia seorang pramugari.


Gadis itu menuntunku ke sebuah restouran Jepang, dengan dua boneka berwarna merah dan biru sebagai ucapan icon selamat datang. Aku hanya disuruhnya duduk dan ia yang memesan makanan, otomatis aku mengikuti menu makan kesukaannya. Hanya beberapa menit, ia kembali dengan baki yang lengkap terisi dua mangkuk nasi, dua piring Chicken Katsu, Beef, Teriyaki dan dua botol air mineral ia hidangkan di hadapanku.


“Silahkan makaan tuan.” Ia menyajikannya dengan senyuman yang lepas.


“Apaan siiih!”


 Selagi asik makan, Vega ketengahkan wacana,” aku mulai merasa nyaman sendiri akhir-akhir ini.” Sock aku mendengarnya, satu bertanda buruk bagiku. Selera makan ku pun anjlok ke level terendah, hingga suapan yang tadinya lahap, terhenti seketika dan aku tepiskan makanan itu ke sudut meja.


“Kok berhenti makannya?”


“Jadi ini maksud pertemuan hari ini.”


“Yaah. Mungkin aku punya alasan sendiri dengan keputusan yang aku ambil.” “Apa yang menjadi alasanmu?” Aku penasaran dengan keputusannya.


“Haidar, kamu tahu aku pernah dua kali kecewa dengan rencana pernikahanku yang gagal, dan keputusanku untuk menerimamu itu terbilang terlalu terburu-buru.


Semakin hari, maka akan semakin tebal rasa pengharapanmu. Itu akan membuat sulit untuk sama-sama kita hapus cerita ini, terlebih kamu bukan?”


Aku terdiam dan lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik, walau tidak terima dengan keputusan yang aku anggap terburu-buru. Apa mau dikata, mengapa aku harus merasa sakit tertusuk jarum, sedangkan aku pernah merasakan bagaimana sakitnya tersayat samurai, dan ini tidak seberapa sakitnya.


“Mungkin ini keputusan yang sulit aku terima Vega, tetapi aku juga tidak bisa memaksakan untuk kamu meneruskan hubungan yang aku anggap keterpaksaanmu saja. Semula aku anggap kamu bisa menemaniku sampai nanti semua mimpi itu bisa kita beli, dan kamu pun tahu aku ingin kamu menjadi tamu istimewaku ketika nanti pemutaran digala primer film yang sudah di depan pintu penantian. Kamu-lah yang pantas duduk di kursi pertama itu, tetapi mimpi tinggallah mimpi Vega dan aku harus terima keputusanmu.”


“Maafkan aku Haidar, aku harap silaturahmi ini tidak putus dan kita masih bisa berteman.”


“Tidak bisa! Aku harus mulai berani me-remove akun-mu dan delcon kontak BB-mu. Kamu bisa mengambil keputusan, aku pun harus tegas dengan keputusan ku juga.”


“Aku mohon Haidar, biar semua ini kita serahkan oleh waktu.”


“Waktu?! Waktu yang akan membunuhku secara berlahan dengan melihat kabar-mu dan segambreng foto-mu di akun-ku!”


“Setidaknya aku bisa tahu kabarmu dari sana Haidar.”

__ADS_1


Tak dapat lagi aku menyangkal bahwa aku masih butuh dia, Vega-lah yang sudah mengusik semua harapan yang semula hilang, sampai akhirnya aku sendiri lupa bagaimana caranya untuk jatuh cinta. Dan aku putuskan kita akan terus sama-sama berbagi cerita tentang serangkaian alasan mengapa Vega memberikan keputusan tersebut, ketika benih cinta itu baru aku rasakan bersemi, justru harus mati hanya karena hama yang masih belum bisa dipastikan jenisnya.


“Aku yakin bukan hanya ini saja alasan Vega mengambil keputusan ini.”


__ADS_2