
Belum genap masa iddah, Amelsudah terlihat mesrah di akun facebook-nya dan aku mendapat kabar dari beberapa teman yang memang mutual friends juga dengan mantan istri, sebutan untuk pacar- nya yang ketika itu aku lihat di dalam kost-kostan dengan sebutan nama ‘Pupu’ banyak laporan miring yang aku dapatkan, ini-lah dan itu-lah, setiap kali namanya disebut menjadi luka untuk-ku, tetapi aku harus bisa hadapi semua ini.
Aku lelaki normal, dan aku tidak bisa pungkiri ada beberapa wanita yang memang dekat dengan-ku, setelah aku nyatakan cerai dengan Amel,taruh saja seperti Astary, dia ‘Si Perempuan Pemintal Hujan’ wanita yang elok paras dan santun laku-nya, walau dia seorang ex-wife tetapi aku memandangnya sosok yang begitu tangguh, dia Wonder Woman di masa-nya. Pertemuanku dengan- nya bermula dari komentar-komentar di statusnya, hingga membuat kami lebih dekat. Dan aku to the point untuk memintanya menjadi ‘temen dekat’ sebagai langkah ke jenjang yang lebih serius.
Hingga kami sepakat untuk meluangkan waktu bertemu, tak lain tempat pertemuan kami di Taman Ismail Marjuki, seperti awal kami bertemu beberapa bulan lalu. Ketika suara lantunan puisi yang ia bawakan mengusik telinga.
Dan di tempat ini pula, aku temukan takdir-ku yang terlambat, ada Eva yang pernah mengukir cerita di hati ini, dia pun wanita yang baik dan memiliki kepekaan batin tersendiri, ia yang begitu paham mengenai apa itu amanah, ketika kita bercerita tentang pribadi kita, sekuat hati ia akan menjaga rahasia tersebut. Sekalipun sinyal-nya menandakan ada gelagat tidak baik, tetapi ia terus menjaga-nya.
Dan Eva termasuk tangan-tangan kecil yang Allah berikan untuk-ku, hingga terungkap kejadian tersebut itu juga menjadi peranan wanita yang beberapa waktu lalu menghubungiku hanya sekedar melampar candaan, tentang rencanya ingin menikah dan Julie pun sudah dikabarkan oleh-nya.
“Hallo bang, insyallah aku mau menikah do’akan yah bang? Oh iya! Btw diundangan loh gue tulis nama Amelnggak? Jadi Haidar dan Amel bagaimana? Hahahaha...Kidding bang...” Tidak ada marah-nya sama sekali ketika Eva bercanda seperti itu dan aku pun tahu bagaiamana gaya Eva bercanda.
“Ah, bisa ajaa ngeledeknya. Bebas aja deh, mau diberduain juga nggak apa.”
“Akhirnya Allah buktikan kalo Dia sayang sama loh bang, buktinya dikasih tahu semua rahasia yang manusia sendiri tidak pernah tahu. Berarti abang termasuk orang baik dan dugaan gue akhirnya terbuktikan?”
“Iya Eva, tanks yah dah mau dikabarin rencana mau nikah-nya.”
Padahal hanya beberapa baris percakapan saja, dan ketika aku mendengar ia ingin menikah, hati ini seperti seekor domba yang diikat lehernya, mau bergerak pun sulit. Dan dari Eva pun aku disarankan untuk sholat malam, ditambah munjat sama Allah untuk diperlihatkan sesuatu rahasia yang tidak bisa terlihat oleh manusia, yakni kejadian yang demikan halusnya yang aku sendiri seperti kecolongan.
Dan ingat-kah kejadian ketika kami duduk di rindanganya pepohonan, dan ketika Eva ingin melabuhkan tubuhnya di tempat duduk terlihat tulisan ‘Batak’ dengan tinta hitam. Dan ia hanya tertawa melihat tulisan tersebut.
“Eva liat ini?” Dan Aku mengarahkan jari telunjukku pada saat itu ke satu kata, ‘batak’ padahal baru beberapa menit yang lalu Eva berkeinginan memiliki pasangan hidup seorang penulis berdarah batak. Walau sedikit lebay, aku berprasangka usil,” Apa iya kamu takdirku? Atau ini hanya kebetulan saja?” Eva pun hanya melempar senyum semakin terlukis jelas lesung pipih gadis itu. Semua sudah terlambat!
Dari nanar wajahnya terlihat ada setitik cahaya yang jika aku artikan bahwa ia pun amat menyesal dengan apa yang sudah terjadi, ‘Kenapa kita tidak kenal dari awal? Disaat semua-nya masih bisa dirubah!?” Atau ini hanya embun yang jatuh sesaat dan terbias mentari pagi, lalu hilang. Apakah ini hanya harum wewangian daun jeruk yang seketika disayat lalu wanginya pun hilang terbawa angin?!
Aku mencoba mengulang kembali masa-masa aku bertemu dengan Eva walau berlainan orang, kali ini Astary yang aku ajak untuk duduk di tempat itu, tempat di mana tulisan Batak masih terlihat jelas. Tetapi rencana-ku tidak sesuai dengan kenyataan, di tempat yang sama terlihat sepasang kekasih begitu serius berbincang.
“Kenapa juga harus di tempatin orang lain?” Sesal dan tanyaku dalam hati. “Apa ini bertanda, bahwa Astary bukan gadis pengganti Amel?!”
Dan kami pun memutuskan mencari tempat lain yang sekiranya nyaman untuk kita berbagi cerita, tentang masa lalu-nya yang dia sendiri bukanlah seorang gadis, tetapi apalah arti sebuah status ikatan pernikahan yang kita pun memiliki latar-belakang sama, pernah mengalami coretan-coretan tak beraturan dalam rumah tangga. ‘Gadis’ bagiku memang pantas sebutan itu melekat di dirinya karena dia tak terjamah oleh hati-hati yang kotor, tangan-tangan kekar yang ingin merampas mahkotanya untuk kedua kali, ia bertahan seorang diri tak ingin ada kumbang yang rela singgah, seperti Mawar berduri yang tidak sembarang orang bisa memetik-nya.
Apakah aku orang yang cukup memiliki pengetahuan lebih tentang setangkai Mawar hingga akhirnya aku mampu untuk memetiknya? Atau aku harus bersakit-sakitan dahulu tertusuk duri-nya baru-lah aku bisa mendapatkannya? Aku akan coba mencari tahu terlebih dahulu, kumbang yang pernah singgah di mahkota-nya, lalu mengapa ia harus sementara singgah, apakah karena saripatinya sudah habis lalu seenaknya sang Mawar dibiarkan bahkan dicampakan begitu saja.
“Mantan suami-ku kasar sering memukul hingga akhirnya ia menikah lagi dengan sahabatku sendiri, ada buah hatiku yang tertinggal di sana.” Matanya berkaca-kaca, seperti ada rindu yang tertahan tentang putra-nya.
“Berapa umur-nya?” Tanyaku yang mencoba mencari tahu tentang si Perempuan Pemintal Hujan.
“Sebelas tahun.”
Bagiku masa lalu itu tidak terlalu penting, sebab spion mobil itu lebih kecil dibandingkan kaca yang lebar di hadapan kemudi, jelaslah bahwa kita hanya sesekali saja melihat masa lalu agar tidak terjerembab di masa yang akan datang, kalau pun kita sering melihat ke belakang maka bersiaplah kita akan tertabrak kendaraan yang ada di depan, seperti itulah aku memandang sosok Astary, bahkan mereka-mereka yang di status KTP-nya ‘Cerai Mati atau Hidup’ memiliki pengalaman hidup yang harus dijadikan evaluasi dan pembelajaran agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang.
Tetapi aku melihatnya ada luka sendiri yang membuat Astary enggan membuka hati untuk pria mana pun, hampir empat tahun ia jalanin hidup seorang diri di Jakarta, kota yang tidak bisa bersahabat dengan nasib orang, kota yang tidak peka telinga-nya untuk mendengar jeritan perut orang lain, kota yang begitu arogan, si miskin dan si kaya hanya dibatasi tembok tinggi dan tebal, kota yang katanya menjanjikan masa depan, faktanya tidak sedikit mereka yang memilih jalan mengadu nasib di Jakarta justru terseok bahkan malu untuk kembali ke kampung halaman lantaran tidak ada yang bisa dibanggakan.
Tidak dengan Astary, dia mampu melawan sesakit apa pun untuk tinggal jauh dari orang tua, tanpa seorang yang bisa ia andalkan dan untuk ia sandarkan hidup, bukan hanya itu menurut penuturannya dan memang aku tahu dari Mama Nini bahwa ia pernah bekerja menjadi TKW di Hongkong, untuk apa?! Demi meninggalkan luka yang ia rasa perih dan demi si buah hati yang memang pada saat itu membutuhkan banyak yang untuk biaya berobatnya. Hebat! Aku sendiri tidak mungkin bisa seperti- nya, menantang takdirnya sendiri.
Angin membelai wajahnya yang tersipu malu di balik kerudung Jingga, di sebuah Cafe masih dalam komplek Taman Ismail Marjuki, ketika aku berucap, “ Kita sama-sama melupakan masa lalu yang mungkin tidak berpihak, tetapi ada masa depan yang menungguku untuk mengenakan cincin di jari manis-mu?”
Dia hanya terdiam, dan mengangguk terlalu ambigu bagiku ketika seorang wanita tidak mampu meng- iya-kan disaat seorang pria benar-benar berniat baik, bukan hanya sebatas pacaran, atau apakah memang sebagian wanita tidak bernyali besar untuk berucap setia, atau pikiran-nya yang menerobos jauh kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi, atau ada luka sendiri bagi-nya sehingga membutuhkan waktu untuk menyembuhkan memarnya yang ia sendiri tidak pernah tahu, kapan akan pulih.
Jangan-jangan aku yang terlalu terburu-buru, hingga membuat Astary tidak siap dengan komitmen yang aku pinta darinya, atau dia punya kriteria khusus hingga aku bukan tipe yang ia inginkan. Kalau memang begitu, mengapa ia memberikan aku harapan? Untuk bersabar sampai ia mampu memastikan bahwa tidak lama lagi benar-benar merasa bisa bangun dari tidur panjang yang larut dalam kesepian!
Mudah-mudahan Astary gadis yang akan menjadi tamu istimewa dan duduk di kursi nomor satu, VVIP, di tengah-tengah rekan-rekan media aku akan umumkan bahwa dia-lah wanita yang aku pilih untuk memperoleh hasil keringat dan penantian panjang dari impianku selama ini, dari wacana serta perjalanan panjang film yang diangkat dari novel-ku.
Itu-lah hari yang aku nanti, dan aku agungkan wanita yang memang mau mengikuti sejarah hidup yang aku peroleh bukan dari buaian tawa dan fasilitas mewah, melainkan air mata, cibiran serta anggapan orang tentangku yang hanya seorang pemimpi, pembual dan si angan-angan besar. Tak apa-lah wajar karena mereka melihat segala sesuatunya itu serba instan dan tidak sebar dengan sebuah proses, bukan-kah emas murni itu dihasilan dari proses penyaringan, dibakar dengan api, ditempa oleh palu besar dan hingga akhirnya terbentuk emas yang memiliki nilai jual yang tinggi?!
Aku pun sadar dengan arti sebuah proses yang tidak sekonyong-konyongnya dengan mudah bisa memperoleh hati seorang Astary, yang memang memiliki fans atau penggemar berat yang siap meminangnya, sebab setiap kali ia performance membawakan sebuah syair, puluhan dan bahkan ratusan pasang mata dari lawan jenisnya terbelangak dan mengaguminya, sudah cantik, soleha dan pintar pula.
Menurutku juga demikian, sebab tidak mudah untuk membuat syair atau puisi yang sebegitu hebatnya tanpa ada ruh dari sang creator ulung yang bisa menumpahkannya dalam serangkaian kata-kata yang memang amat sedikit orang paham dengan apa yang ditulis dan disajikan ketengah para pembaca, sebab puisi pun sams dengan lagu yang dinilai dari rasa serta karya seni lainnya.
Akhirnya memilih untuk mengikuti proses yang Astary maksud, dan memahami serta menyadari bahwa ia butuh waktu untuk mengobati trouma masa lalu-nya, mungkin aku dan dia memiliki pemikiran serta cara lain menghapus semua kenangan sekalipun itu pahit, bagiku untuk apa memikirkan orang yang tidak memikirkan kita, menangisi orang yang dia tidak menangisi kita menghabiskan waktu, sedangankan orang yang dipikirkan dan ditangisi saja berlalu tanpa malu. Untuk apa berlarut-larut dalam kesedihan karena dipisahkan atau berpisah sekalipun, aku sendiri memahami bahwa sepeninggalan Amel banyak hikmah yang aku bisa dapatkan, tentang cinta yang aku perjuangkan, sekalipun aku kalah, minimal aku mampu jadi seorang pahlawan untuk diriku sendiri.
Hati ini seperti sebuah taman yang semula penuh bunga dan buah, karena jika tidak ada lagi yang merawat-nya akan terlihat seram dan terkesan angker, aku berharap Astary sang perawat kebun yang akan membersihkan kembali daun-daun, sampah bahkan hewan berbisa yang berserakan dan berkeliaran, ia akan mengembalikan lagi dedaunan yang mati serta tanah yang tandus, kelak taman yang semula mati akan kembali terlihat indah, bunga pun mekar, buah-nya ranum, serta hijaunya pepohonan memayungi dari teriknya matahari, embun pagi serta kicau burung akan menghiasi taman yang tidak memiliki harapan lagi untuk dapat ditanami.
Apa mungkin Astary mampu? Atau satu diantara kami harus ada yang kalah! Benar, waktu yang singkat cukup untuk mengenal karakter dan kepribadian masing-masing. Astary yang tidak juga bisa sembuh dari kisah masa lalu yang sudah merampas senyum, mimpi dan harapannya. Sedangkan aku yang tidak mau membuang-buang waktu, ibarat sebilah pedang yang akhirnya membuatku tersayat bahkan tercabik sampai aku tergeletak lunglai tak berdaya, gugur dalam cinta yang tidak ia pilih.
Gugurlah bunga, gugur pula mimpi dan harapan untuk menjadikan Astary sebagai tamu istimewa yang kelak akan menduduki kursi nomor satu, kursi yang sengaja aku pinta dari team produser sebagai tempat yang hanya bisa diduduki oleh orang-orang terpilih, duduk sejajar dengan mereka yang keringat, waktu dan tenaga serta pikirannya tercurahkan untuk film ini.
“Walau pahit, biar jamu ini aku minum dan mudah-mudahan badan-ku segar esok hari-nya. Dibandingkan aku memilih untuk meminum syirup, walau manis serta terlalu banyak pengawet yang hanya sebatas menghilangkan dahaga semata, lebih baik jamu sekalipun pahit tetapi memiliki khasiat dan baik untuk tubuh ini.” Ucapku dalam hati ketika menghapus beberapa halaman naskah hidup yang akan terus aku tulis hingga aku merasa puas dengan cerita akhirnya nanti.
Biarlah Perempuan Pemintal Hujan itu mencari tempat singgah yang menurutnya layak untuk dijadikan tempat bernaung dari rasa kedinginan, ancaman dan suara gemuruh. Sebab aku menyadari, bahwa siapa pun itu akan memilih tempat yang bisa dijadikan sandaran dan membuatnya nyaman.
__ADS_1
*****
** Tentang Khadijah Kecil**
Memang pasca aku berucap talak tiga untuk Amel, tidak akan membuatku larut dalam kesedihan. Aku harus keluar dari kamar yang hanya dengan dinding-nya aku merasa nyaman, atau pada bintang dan bulan yang aku harus merasa nyaman bercengkarama dengan meraka.
Bercerita tentang Jodoh, Rezeki dan Kematian hingga akhirnya membuatku sadar kesemua itu kembali kepada kita untuk mencari, terus berupaya mengejar dan meraih serta menanti itu semua.
Tidak aku pungkiri ada beberapa wanita yang memang dekat denganku, Perempuan Pemintal Hujan yang akhirnya tidak mampu menyembuhkan luka dan membiarkan ia larut dalam syair serta pusinya, dan ini tentang Khadijah Kecil, dia wanita yang terpaut jauh umurnya denganku, mirip dengan usia Rasulullah yang terpaut puluhan tahun dengan Khadijah tatkala menikah, seperti itu usiaku yang terpaut sepuluh tahun dengan seorang gadis, karena ia memang belum pernah menikah jadi bisa aku pastikan dia seorang gadis.
Pertemuanku itu dikenalkan oleh seorang teman, dan ia tidak ingin melihat aku yang belum juga sadar untuk menikah kembali, walau kata-nya umurku masih terbilang cukup muda dan ada kesempatan mengulang kembali membaca Ijab-Qabul. Aku akan mencoba karena mimpiku untuk mendapatkan pasangan hidup, hingga akhirnya aku bisa memperoleh keturanan yang kelak dan semoga saja dapat mewarisi pemikiran serta cita-cita yang sama seperti Yanda-nya( Aku suka dipanggil Yanda, mengingat pernah bekerja pada seorang Habib, kedua anaknya ( Basil dan Bahman ) yang lucu memanggil bos sekaligus guru bagiku begitu manjanya memanggil Yanda, panggilan ini tidak semua orang memiliki, pada umumnya Ayah, Papah, Abi dan Abah )
Aku memanggilnya Azka, walau itu bukan nama aslinya, profesinya sebagai telemarketing senior di sebuah bank asing yang namanya cukup familiar. Semula niatku hanya membahas permasalahan hati- nya yang tersangkut dengan cinta indah milik orang lain, karena merasa diri ini bisa move on dan dapat mengobati luka-ku sendiri dengan kisah rumah tangga yang kandas begitu saja, niatku hanya ingin menyadarkan dia dari cinta buta, cintanya yang terlarang.
Bermula kami diskusi panjang lebar VIA phone sampai akhirnya kita menyepakati untuk bertemu di apartemen dibilangan Jakarta Pusat, disana ia menyambutku dengan senyum, walau umurnya hampir senja tetapi ada sisa-sisa kecantikan masa muda yang ia tinggalkan, itu terlihat dari raut wajah, hidung dan senyumnya.
Pembicaraan kami biasa saja, sekedar menjadi pendengar yang baik sampai ia cerita semua tentang perasaan dan cinta-nya, serta seluk beluk apa yang membuatnya menjadi seperti ini? Dan akhirnya ia pun terbuka, Azka mengakui bahwa ia memang sedang menjadi cinta dengan suami orang. Memang secara sepihak aku bisa menilai bahwa wanita berusia empat puluh tahun ini tidak tahu orang yang diam-diam si pencuri hatinya itu, sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak, membawa Azka kedalam cinta yang terlalarang, dengan seorang pria berprofesi sebagai geolog disebuah pertambangan nasional.
Meski ia sudah mengetahui, baginya cinta itu candu yang sulit untuk dihilangkan kecuali ada racun lagi yang mesti harus diminum demi menghilangkan candu yang sudah cukup membekas, walau secara berlahan membuatnya tersungkur dan mati seketika, seperti itu gambaran hati yang ia miliki, sampai- sampai Azka sendiri tidak bisa membuka hati nya untuk yang lain, dan ia pun jujur dari sekian banyak cowok yang coba untuk dekat dengannya hanya aku yang diberikan kesempatan untuk bisa bertemu dan saling sapa seperti ini.
“Biasanya tidak seorang pun lelaki yang aku biarkan untuk masuk ke dalam apartemenku, cowok yang dekat sekali pun, hanya si lakor saja yang biasanya mampir ke sini.” Jelas Azka yang menyebut lakor itu lelaki orang.
“Sorry! Jadi kamu dipelihara dia?”
“Sembarangaan!!!”
“Kanaku nanya.”
“Apartemen ini hanya sewa aja, karena memang dekat dengan tempat kerja di kawasan Sudirman.”
Aku melihat seisi ruangan yang dipenuhi barang-barang mewah, tempat yang begitu nyaman dan jauh dari suara bising, padahal di tengah kota. Ia menyiapkan aku teh hangat karena memang sebelumnya ia menawarkanku minum sebagai jamua-an.
“Dan tidak ada seorang pun yang boleh atau pernah datang ke tempatku kecuali keluarga dan si lakor satu itu. Dan kamu termasuk orang pilihan, karena aku melihat kamu pinter dari segi agama, sampai akhirnya aku memintamu untuk datang. sebagai konsultanku untuk masalah menata hati. Mudah-mudahan dengan adanya kamu bisa membuka hatiku dalam mencari calon pendampingku kelak.”
“Maksud kamu?!”
“Aku memandang kamu sebagai ustadz.”
“Waaah! Itu terlalu berlebihan Azka, aku hanya remaja biasa saja dan duda yang pernah gagal dalam rumah tangga. Apa yang bisa dibanggakan?!”
“Setidaknya kamu bisa move on hanya itu saja yang aku mau tau.”
Aku kembali ke masa-masa indahku dulu, ketika Amel masih menjadi istriku. Hampir saja aku memiliki seorang anak, dan membuat aku berpikir mengapa aku tidak diberikan keturuan pada saat itu, ketika janin dalam kandungan Amel mengalami abortus, atau keguguran. Kehadiran si jabang bayi bagiku suatu kebahagiaan dan kebanggan seperti seorang ayah muda lainnya, anak menjadi pengikat cinta, andai saja waktu itu Allah menganugrahi ku si buah hati mungkin menjadi pertimbangan sendiri jika memang terjadi penceraian anak yang akan menjadi korban, atau bisa jadi perselingkuhan Ameltidak pernah ada.
Kita tidak pernah tahu rencana Allah itu seperti apa, terkadang kita sendiri pun sudah berani menarik kesimpulan sendiri dengan apa yang sedang kita hadapi. Kejadian yang dialami ‘si lakor’ bisa saja menimpah diriku, yang diam-diam selingkuh tetapi dari cerita Azka membuatku mempertanyakan, apa yang yang menjadi alasan memilih mengkhianti pasangan dibandingkan harus bersabar dalam kesetiaan, termasuk Amel yang sebegitu tega mengkhinati kepercayaan, menodai pernikahan.
Jika memang ada kekurangan yang aku miliki seharusnya sudah menjadi konsekwensi baginya untuk menerima diriku seutuhnya, begitu juga aku ketika ada kekurangan pada diri Julie maka aku harus menerima ia tanpa ada pengecualian.
Kalau pun alasan Amel selingkuh Dikarenkan mi, sampai kapan pun manusia akan terus merasa kekurangan, hanya mereka-lah yang dihatinya bersemayam rasa syukur itu-lah hakikatnya kekayaan terbesar yang harus kita miliki. Begitu juga dengan ‘si lakor’ dia memiliki alasan tersendiri memilih selingkuh atau bisa jadi ia terjebak dalam ‘ritual facebookiyah’ yang menjebak dan menyeretnya dalam lingkaran ‘cinta terlarang’.
Aku tdak memiliki ranah terpenting untuk mengetahui sejauh mana hubungan mereka, pada akhirnya Azka secara berlahan bisa mengembalikan dan mengosongkan serta membuka hatinya untuk pria lain, walau aku tahu itu sulit dan ia pun mengakui satu hari saja untuk tidak mengangkat teleponnya, hatinya merasa teriris, ia pun tidak kuasa menahan air mata yang tumpah. Memang berat di awal, tetapi ini harus dilakukan mengingat bahwa Azka tidak berhak merebut sesuatu yang memang bukan miliknya, andai itu terjadi dan menimpah dirinya, apa-kah dia sanggup melihatnya?
Azka perempuan yang baik, hanya memang jodoh-nya saja yang belum ia temukan dan itu yang menjadi ke khawatiran sendiri untuk-ku, kalau dibilang memilih aku pastikan kriteria yang pinta tidaklah berlebihan, cukup dia yang mampu membuatnya nyaman, menjaga dan bertangung jawab. Ia perempuan tegar, sama seperti Perempuan Pemintal Hujan dia tinggal seorang diri di Jakarta, banyak sisi lain-nya yang walaupun terbilang baru kenal beberapa bulan saja, aku sudah bisa merasakkan kebaikan-kebaikan yang sudah ia berikan.
Secara materi? Aku tidak bisa hilang bagaimana baiknya ia, ketika aku terhimpit dari masalah dengan sisa hutang untuk modal menikah dengan Julie, bukan bunga terakhir yang Julie sisahkan tetapi bunga bank yang ia tinggalkan, dan Azak yang menanggung itu semua. Tanpa ku pinta dan ia sendiri yang menyodorkan bantuan, dia melepaskanku dari beban yang entah sampai kapan berakhirnya.
Dan Azka paling mengerti ketika aku sama sekali tidak memegang uang, apa yang ia berikan menjadi tolak ukur tersendiri untuknya kapan lagi ia harus memberikan uang untukku, walau berkali-kali aku katakan tidak usah, karena salahku di awal yang tidak tahu lagi harus mencari uang dimana sedangkan keadaan menghimpitku, dan dalam keadaan terpaksa aku meminta tolong kepada Azka, sampai akhirnya ia tahu nomor rekening milik adik-ku yang sengaja aku pinjam, dikarenakan hanya dia yang memiliki tabungan di bank swasta terbesar itu.
__ADS_1
Tanpa disadari Azka merasa nyaman, itu yang akhirnya membuatku khawatir dan harus bersikap tegas untuk katakan bahwa kita sebatas teman, walau secara naluriku sebagai lelaki mengakui bahwa kebaikannya dan kedewasaannya itu yang membuatku pun harus berbalas sayang kepadanya, tak lain alasan ku hanya faktor usia.Seperti ada ganjalan sendiri ketika aku dekat dengannya, tak bedanya aku sedang memperhatikan wajah Mamah, itu yang membuatku mengurungkan niat, dan bukan aku pilah- pilih berlebihan dalam mencari siapa wanita yang akan menggantikan posisi Amel.
Perempuan Pemintal Hujan atau Azka ‘Si Khadijah Kecil’ kupanggil dia seperti itu karena nama-ku Muhammad Haidar Hafedz dan diusiannya yang hampir senja serta kebikan Azka, maka aku panggil dia ‘Khadijah Kecil’. Aku pikir merekalah yang akan duduk di bangku nomor satu, VVIP tersebut. Atau masih adakah wanita lain yang kelak akan hadir menjadi pengganti mereka ?!
***
** Tentang Merpati Tanpa Sayap**
Inilah ketika aku mulai nyaman, seisi kamar yang kini menjadi teman ketikaku terbius dalam sepi, laptop yang tidak terlalu mewah, boleh dikatakan model-nya sudah sepuh, LCD dan hard disk-nya sudah mulai rusak, ini terlihat dari gambar yang setiap kali dinyalahkan seisi layar-nya berwarna putih, sedangkan untuk hard disk-nya dipastikan rusak, disaat pertama kali menghidupkan sering mati dan aku harus mengulang untuk menekan tombol power barulah laptop ini akan menyala seperti normal, rupanya dia mengerti apa yang disebut warming up.
Facebook dan beberapa jejaring sosial tak elaknya menjadi tempat ajang silaturahmi yang tidak ada jarak lagi, di sini aku bisa berdiskusi dan tidak menutup kemungkinan, aku menjadi salah satu dari sekiat ratus ribu bahkan jutaan orang yang mencari teman di dunia maya, tidak sedikit dari mereka yang menemukan jodohnya disini, tetapi hati-hati di tempat ini juga beragam macam permasalahan dengan mudah-nya mulai bermunculan, mulai dari transaksi judi, gadis display, pelecehan bahkan tidak sedikit pula hubungan suami-istri bisa hancur buah dari iseng-iseng, saling sapa, curhat, kopi darat dan akhirnya menjalin hubungan gelap.
Kalau aku memandang facebook Cs hanya sebagai tempat diskusi sastra, agama dan politik, walau sesekali berbalas komentar, seperti itu pertama kali aku mengenal Amel dan kini seperti itu juga aku mengenal sosok wanita cantik yang berprofesi sebagai pramugari di salah satu Maskapai milik BUMN, panggil dia Vega Putri Nafisah. Tidak biasanya dia berkomentar di status facebook yang aku share, hingga akhirnya pesan singkat yang aku kirim untuk-nya.
“Tumben komentar?! Thanksyah ibu pramugari.”
Aku tahu ia berprofesi sebagai pramugari dari info yang tertulis di akun miliknya, bukan hanya itu ketika off atau libur Vega juga menekuni dunia modeling, itu terlihat dari foto-foto dalam album yang ia upload di akun-nya. Dan harus aku akui dia cantik, sempurna secara fisik, tidak tahu bagimana hati- nya.
Dari pesan singkat yang aku kirim, ternyata hubungan-ku berlanjut untuk mengatur pertemuan dengan agenda, ia meminta novel-ku. Ia pun tahu profesiku sebgai penulis, karena memang apa yang aku posting di akun facebook ku semua kutipan-kutipan dari buku yang memang sudah terbit atau yang sedang aku tulis, anggaplah sebagai test market sebagai cara reaksi friends di akunku, dan memang sudah menjadi cara tersendiri bagi para penulis di angkatan gadget, untuk berbagi info hasil karya-karyanya, termasuk aku.
Semula rencannya kalau memang jarak kediaman Vega jauh denganku, VIA jasa kurir mungkin lebih baik, dan ternyata setelah Vega menjelaskan bahwa rumah-nya tidak jauh dari tempatku, hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Dan ia pun statusnya masih seorang mahasiswi disebuah universitas swasta yang cukup familiar di Jakarta, hingga kami pun sepakat untuk bertemu di kampus, sekalian ada sedikit kelengkapan adminitrasi yang ia harus selesaikan kembali kuliah-nya yang terbengkalai karena dua profesi yang ia tekuni. Deal, kami pun bertemu di depan kampus, lalu mencari tempat yang asik untuk berbincang ringan.
Di sebuah kantin, walau terlihat sederhana namun ada yang istimewa bagiku, seorang gadis berjilbab orange menyapaku dengan senyum.
“Vega.” Ia menjulurkan tangan-nya, nampak jelas bahwa ada perawatan khusus yang membuat kulit tangannya halus.
“Haidar.” Aku pun menyambut kembali salam perkenalannya sebagai pembuka bercakapan.
“Sorry yaah lama nunggu, ada yang harus aku kerjakan di dalam. Maklum, jadi mahasiswi baru lagi.”
“Loh kok!? Lalu bagaimana dengan penerbangan-mu?”
“Kemungkinan aku resign dan off sementara waktu untuk mencari-cari lagi lowongan di maskapai baru.”
“Hanya itu saja alasan kamu?”
“Yaah, disamping harus menyelesaikan akademikku lagi.”
Itulah percakapan pembuka kami, sampai akhirnya menyentuh dinding hati. Aku bukan tipe cowok berbasa-basi ria, heeem, menghabiskan waktu kalau ujung-ujungnya harus bilang,” aku jatuh hati sama kamu.” Dan aku pun lebih suka to the point jika memang pertemuan ini membuatku merasa pantas untuk mengutarakan isi hati, walau aku sendiri sempat berucap untuk tidak mencari wanita lain dalam hidup-ku, pernikahan cukup satu kali seumur hidup. Tetapi, ada satu yang menjadi pikiranku, suara bayi...yah, aku rindu suara bayi yang kelak ia harus menjadi penulis hebat.
Dan aku pun mencoba untuk berani membuka hati, mudah-mudahan ini-lah bintang hidupku, inspirasi dan semangat hidupku yang baru.
Tepat dugaanku, dan gayung pun bersambut, terik matahari justru menjadi penyejuk bagi hati-ku, seisi ruang menjadi hening seketika, hati yang semula tandus seakan dibasuh embun pagi, dahagaku pun hilang setelah Vega memberi satu jawaban yang jauh dari dugaanku semula.
“Boleh aku jadi yang terakhir untuk-mu?” “Apa harus secepat ini?!”
“Kenapa tidak?! Bukannya sama saja ditolak atau tidak-nya dengan hari ini? Mengapa harus menunggu esok atau dua, tiga hari lagi?!”
“Yaah, tapi kaan kita baru kenal! Mungkin kalo dibilang nyaman, aku nyaman sama kamu. Lalu bagaimana aku tahu kalau kamu itu baik untukku atau sebaliknya?”
“Vega, kalau sudah tahu matahari itu panas, apa perlu kamu naik ke atas langit untuk memastikan bahwa benar matahari itu panas?”
Vega pun terdiam dan mulai membaca nalarku, mencari tahu maksud pertanyaanku itu. Ini terlihat bahwa gadis yang kini duduk di hadapanku mencoba memahami tiap-tiap kata yang aku ucapkan, mengeja satu persatu tentang matahari, naik ke atas langit dan memastikan bahwa matahari itu benar-benar panas.
“Begitu juga, mudah untuk kamu mengetahui tulus dan tidaknya seorang cowok, perhatikan dari sikap, ucapan, laku dan progres hidup yang ia tawarkan untukmu, bukan buju rayu semata, sebab sikap, laku dan ucapan itu cukup dijadikan refrensi bahwa hatinya pun cerminan dari itu semua.”
Waktu pun terus memburuh, detak-nya bergeser berganti menit dan tak terasa hampir tiga jam kami duduk berhadapan, pandangannya yang tajam, bibir vega yang menari manja, dari balik hijab tercermin bahwa ia gadis yang memiliki arah hidup, dan begitu hati-hati dalam memilih pasangan, atau jangan-jangan ia ada pilihan lain? Yah, pria lain di hatinya?!
“Harus aku jawab sekarang?”
“Aku tidak banyak waktu untuk basa-basi, tidak punya cukup waktu untuk sekedar pacaran, aku butuh pendamping yang menjadi bintang di hati dan semangat hidup- ku, luka lama ini harus segera diobati.”
“Haidar, kamu harus tahu, aku pun memiliki masa lalu yang begitu hitam, aku pun pernah kecewa dengan sebuah komitmen, lima bulan lalu masih membekas di pikiranku ketika seorang cowok berikat janji, ia sudah melamarku lalu seenak-nya pergi begitu saja. Apa ini bukan luka? Aku ini wanita yang perasaannya jauh lebih peka dibandingkan pria!”
Aku terperangah dengan ucapan Vega yang akhirnya aku pun tak berani untuk mempertanyakan komitmen dan kepastian itu lagi, kepastian untuk ku diterima sebagai lelaki pengganti dari masa lalu- nya itu. Dan aku pun harus toleransi, tidak semua orang orang yang pernah merasakan sakitnya patah hati, sakitnya ditinggalkan dan sakitnya dicampakan itu seperti aku, yang dengan mudah melupakan masa lalu.
Jika boleh aku katakan tidak semua lelaki mampu hadapi kejadian yang sebegini hebat, ini bukan pendapat dariku pribadi, tetapi beberapa teman di tempatku dulu bekerja seperti Ibe dan Imam, meraka satu team penulis konten denganku yang mereka pun tahu jalan ceritaku seperti ini, kalau Ibe ibaratkan,’ sudah jatuh tertimpah tangga dan genteng juga.’
Sedangkan Imam sendiri jika menghadapi masalah sepertiku, mungkin ia akan kalap dan menghabisi selingkuhan istrinya, tetapi aku pun memiliki pandangan tersendiri dan tidak sulit bagiku untuk melakukan hal gila sekalipun tetapi aku masih punya mimpi, aku masih memiliki seorang ayah yang membutuhkan biaya dan perhatian dariku, masih punya seorang ibu yang menyandarkan doanya padaku. Biarlah kuserahkan semua perkara ini kepada Ia yang Maha Adil, Dia yang Maha Benar Hisab- nya, Dia yang Maha Berhitung dan Memperhitungkan baik-buruknya
seorang hamba. Dan aku sendiri tidak punya hak untuk menghukum Amel dan Luis, mantan yang kini kembali menjadi kekasih-nya itu.
Aku coba toleransi dengan keadaan gadis yang setelah aku tahu pernah juga ingin
dipinang oleh seorang lelaki yang berprofesi sebagai News Anchor disalah satu stasiun swasta. Dan menurut pengakuan darinya, kesalahan terberat dari seorang Afrizal Aprilandi, lelaki yang sudah ia kenal satu tahun silam, adalah ia membawa kembali mantan pacarnya sebagi model untuk mereka foto prewedding.
“Sepelee siih masalahnya, ia nginep tanpa izin aku, terus tiba-tiba pas pulang aku lagi dirumahnya berdua dengan nyokap Rizal .” Ia begitu kesal, ini terlihat dari cara ia mengaduk juice Alpukat, seperti ada cerita masa lalu yang membuatnya terpaksa harus mengungkit kembali dan mungkin tergambar jelas bagaimana cemburnya ia ketika itu.
“Rizal datang bersama mantanya itu?”
“Yaaelaaaah...siapa juga yang nggak keki! Aku tunggu dia seharian, apa aku tidak berhak marah?!”
“Heeeem...yah, tetapi kamu tidak pernah tahu apa mau-nya Allah?!” “Maksud kamu?!”
“Seperti inilah cara Allah mengajarkan kamu untuk menjadi gadis yang tetap tegar, dan seperti inilah Allah membuka mata-mu untuk sadar bahwa ia lihatkan sifat dia yang sesungguhnya. Apa kamu mau ketika menikah nanti ia masih seperti ini?
Bukankah itu siksa batin untukmu?! Come on, waktunya cinta itu melek mata. Bukan membuat kamu cinta buta dan menghalangi akal sehat untuk berpikir jernih. Jelas- jelas Allah sayang dengan memperlihatkan itu semua, sebelum kamu salah pilih!”
“Aku tauuu keleeees! “
“Kalau sudah tauu kenapa kamu larut dalam kesedihan, apa kamu tidak punya keberanian untuk menghapus nama-nya dalam hatimu?!” Aku coba membuka mata hatinya untuk terbangun dan sadar bahwa masih ada yang lebih baik dari Afrizal, sekalipun bukan aku yang ia pilih nantinya.
“Heh Haidar! Tidak sulit untukku menghapus nama dia di hati, tetapi butuh waktu untuk menghapus semua kenangan yang sudah kita jalanin berdua.”
“Sampai kapan?! Sampai akhirnya kamu akan lebih lama lagi terluka?!” “Entahlah, one days pasti aku bisa kok!”
“Dzolim kalau kamu harus melukai dirimu sendiri hanya gara-gara terjebak masa lalu yang hanya menguras air mata-mu saja!”
“Biarlah aku nikmati dulu sakitnya. Dan jujur aku sudah merasa nyaman dengan kamu Haidar, kalau untuk menerima-mu sebagai pacar aku bisa tetapi berikan waktu untuku belajar mencintaimu, apa kamu mau?!”
“Aku tidak untuk dikasihani Vega, atau terpaksa untuk mencintaiku.”
“Aku sayang kamu, dan izinkan aku untuk belajar mencintaimu karena kamu tidak tahu siapa aku yang sebenarnya.”
Aku pun tidak mau terburu-buru, belajar dari kisah Julie yang menyisahkan cerita kelam hidupku, aku tidak mau terperosok untuk kedua kalinya. Aku terima keputusan Vega untukku mengenal dia lebih jauh lagi.
“Jadi kesimpulan dari tiga jam ini apa?!” Aku mencoba menutup pembicaraan karena sudah terlihat langit semakin gelap dan mega merah diufuk barat mengintip di balik sebuah apartement dan gedung-gedung yang tetap berdiri tegak, sekalipun angin yang menerpa-nya tak menggoyahkan untuknya terus berdiri sampai akhirnya termakan usia dan gedung itu pun rapuh nantinya.
“Aku sayang kamu Haidar dan aku mau jadi kekasih-mu! Dan aku akui hatiku luluh hingga tak ada alasan untuku menolak-mu.”
“Alhamdulillah, jika memang itu bahasa yang keluar dari hati-mu, bukan ego-mu yang bicara.”
“Akuuu ciuuuuuuuuuuus Haidar, aku sayang kamuuuuuuuu!!!”
Inilah hari yang terus terulang untuk kesekian kali, dimana percikan embun pagi aku rasakan kembali, ketika kata sudah terucap maka sikap pun harus aku ambil. Penat di jalan nanti akan terasa bukanlah beban, bisa jadi bunga Sakura berguguran sepanjang jalan, ketika aku kembali membawa setitik cahaya yang akan menuntun kisah cerita cinta, semula aku anggap cinta ini mati suri bagiku.
Ternyata masih ada hati yang berpihak untukku, apa-kah ini anugrah atau cobaan?! Apa iya Vega Putri Nafisah yang kelak akan duduk di kursi nomor satu, dimana pada hari yang istimewa itu aku kan menunjuknya sebagai calon pendampiku, dihadapan para tamu undangan, rekan media dan puluhan anak Yatim- Piatu, sahabat-sahabatku yang turut mendoakan agar film ini diproduksi. Amin....
Aku pulang membawa mimpiku yang hilang, dengan senyum dan tawaku yang sudah dirampas mantan istriku Amelia, semoga Allah titipkan Vega ‘Merpati Tanpa Sayap’ sebagai pembuka rezeki, dia-lah matahari pagi yang mengantarkanku pada senyum dan keceriaan yang semula terhempas dalam lamunan serta nikmatnya malam-malam panjang, yang aku pun tak mampu melewatinya seorang diri.
__ADS_1