
Sepasang burung Mandar begitu lincah melompat di setiap dahan di tepian empang tepat di belakang rumah kediaman Haji Usman yang tak lain calon mertuaku. Sambutan meraka begitu menyejukan hati, terlebih Mamah yang selama ini aku mengenal dekat di telepon dan SMS saja, kini sapa dan sambutan hangatnya aku rasakan,
begitu juga dengan Papah walau terlihat sudah masuki usia senja, tetapi
semangat hidupnya masih tinggi.
Kemarin sesampainya kami, hanya sedikit saja bercerita tentang perjalanan yang cukup
meletihkan, selebihnya kami disarankan mereka untuk istirahat.
Pagi ini sudah merasa segar, setelah menyantap sarapan yang Mamah sudah siapkan, menjelang siang hari Amel ingin mengajak kami berkeliling ke kota yang dikenal dengan pempek-nya. Jembatan Ampera dan tepian sungai Musi itu yang menjadi bukti cerita kalau aku pernah berpijak di bumi para Saudagar Islam ini.
Walau arus-nya tengah deras, tetapi begitu indah dan gagah jembatan Ampera membelah sungai. Jembatan inilah yang menyatuhkan dua wilayah ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir”, walau ide ini memang sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906.
Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya.
Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terselesaikan.
Seperti Ijab dan qabul yang tak lama lagi akan aku lafadzkan, inilah jembatan yang akan
menyatuhkan dua perbedaan, dan inilah bukti kehabsahan cinta yang tidak-lah lagi terlarang.
Shirat yang akan memberikan jalan untukku mampu melewati jahanam, jembatan yang terbentang di atas punggung Neraka sebagai satu-satunya jalan menuju jannah Allah.
Yah, surga di dunia dan surga di akhirat kelak, jika aku tidak mampu menitih jalannya, maka bersiaplah diri ini akan tergelincir dalam jurang jahanam yang akan melahap sekujur tubuhku sampai tak tersisa, hancur dan tumbuh kembali hingga selama- lamanya.
Matahari memaku kami tepat di ujung kepala, menyengat panasnya bayang-bayang pun tepat berdiri di pusat tubuh dari ujung kepala sampai ke telapak kaki. Sebentar lagi
waktu Dzuhur akan tiba, vicky terlihat sibuk dengan gadget-nya.
“Pe,Rudi mau kesini. Dia mau ketemu kita di masjid Raya, katanya deket-deket jembatan Ampera juga, kita sholat Dzuhur sambil nunggu dia datang.”
Hitung-hitung menikmati suasana Palembang, kami pun memilih untuk berjalan kaki, walau cukup jauh tetapi jika seiring jalan berdua calon istri berharap dunia berhenti
berputar sejenak, dengan begitu waktu terasa kian lama.
Dari jembatan Ampera kami berjalan melewati pasar 16 llir yang menjadi ciri kota
ini, walau sama seperti pasar pada umumnya yang membedakan hanyalah suasana pasar yang begitu dekat dengan Sungai Musi, m bagiku ini pemandangan yang langkah
dan kelak akan aku rindukan suasana seperti ini, suara gemuruh dan hilir mudik perahu-perahu yang membelah sungai, sejumlah penjajah makanan menawarkan dengan cara mereka masing-masing, ada yang berteriak menyebut menu masakan yang mereka sediakan, ada juga pelayan yang terlihat cantik merayu para pengguna jalan untuk sudi mampir ke tempat makan mereka.
Membelah jalan, kami telusuri satu persatu gedung-gedung yang terlihat tua, mata ini tak
henti- hentinya terus memandang setiap barang dagangan yang mereka tawarkan.
Sungguh, susana di sini seperti di Malioboro yang memaksa kita untuk rindu dengan khas
daerah yang mereka sodorkan, entah kapan lagi aku bisa kembali.
Seperti biasa, kami sempat mengabadikan beberapa gambar dan inilah saat-saat yang indah ketika Amel begitu terlihat menyayangiku, jemari gadis itu terus menuntun dan seolah-olah takut kehilanganku.
“Rabbi, jangan kau hapus masa-masa indah seperti ini hingga kelak kami lanjut usia dan
memapah kami menatap senja.” Hati ini hanya mampu berdoa, semoga bisa mewakili
rasa syukurku.
Tak jauh dari pasar 16 llir, tepat di tengah kota terlihat air terjun begitu riang menari, seolah-olah menyambut kedatangan sepasang kekasih yang hanya dalam
hitungan hari lagi akan berijab dalam qabul-nya, mendeklarasikan diri untuk
hidup – semati, Vicky yang ikut bersama kami terlihat asik dengan kamera dan handphone –nya yang terus mengabadikan sisi menarik dari kota ini.
Di sebelah kanan jalan, sudah terlihat pintu gerbang besar begitu kokoh bangunannya, berdiri megah di hamparan tanah seluas ± 15.400 m2. Seolah tak ingin kehilangan suasana, Masjid ini pun menghadapsungai Musi. Setiap bibir bangunan dikelilingi pagar dan pada sisi barat, timur,dan selatan halaman terdapat pintu masuk ke halaman masjid.
Nampak jelas sekali pengaruh budaya
China, ini terlihat dari atap tumpang bertingkat tiga dan yang teratas berbentuk limas dengan hiasan jural, dan ustaka masjid berbentuk kuncup bunga.
__ADS_1
“Inilah Mesjid Agung milik kami, tak bedanya dengan Istiqlal yang menjadi ciri Jakarta.” Amel mendadak menjadi guide untuk kami. Memang sepanjang jalan begitu semangatnya ia menjelaskan apa pun yang menjadi pertanyaanku, dan tepat juga ia menjelaskannya.
Tak khayal denganku di Jakarta, yang mungkin bisa menjelaskan sebagian informasi tentang Ibu Kota dan tempat-tempat menarik lainya. Walau Amel sendiri mungkin tidak perlu meminta penjelasanku tentang itu semua, karena memang ia dibesarkan di sana, hanya beberapa tahun belakangan ini saja semenjak masuk kuliah ia tinggal di Palembang.
Pas banget, selang beberapa menit kami sampai suara adzan Dzuhur begitu indah
terdengar dan aku memastikan bahwa muadzin di sini tidak sembarang orang, ini
terdengar begitu teratur dan begitu diperhatikan sekali makhorijul huruf-nya.
Dan aku yakin, dari cara ia melantunkan adzan sudah pasti ia memahami cara baca
dan menempatkan suara yang sering disebut qiraat sab’a.
Nyeees! Seperti dihujani rintik hujan ketika dahaga berjalan di tengah gurun, suara muadzin tersebut seperti memiliki daya pikat sendiri. Aku, Amel dan Vicky segera mengambil air wudhu untuk menyegerahkan sholat berjam’ah setelah itu kita lanjut lagi menikmati suasana kota yang dikenal dengan wisma atlitnya, Hambalang.
Selepas sholat, rencana kami kembali lagi ke pasar llir 16 ada barang titipan Mamah
yang Amel lupa beli. Tetapi kali ini Vicky memilih untuk rehat dan menunggu
waktu Ashar, kami pun melanjutkan perjalanan. Karena terik panasnya sudah tidak wajar, Amel meminta untuk menggunakan becak. Kendaraan
yang sudah tidak ada di Jakarta, merayuku untuk mengingat-ingat kembali masa
sekolah dulu, sering kali aku dan Mamah pulang menumpang becak milik Bang
Jayadi, tukang becak yang sudah menjadi langganan Mamah.
Kami duduk berdampingan berdua, kayuh pria paruh baya terus mengayuh dan mengayuh walau aku tahu ia pun letih, tetapi bapak itu memahami konsekwensi pekerjaan
yang ia pilih.
Sepintas di lengan kanan Amel terlihat bekas luka yang membekas, dari pada tidak ada bahan pembicaraan Amel pun menjelaskan, bahwa luka itu cacat yang ditinggalkan mantan pacarnya, Uwis.
Pria berdarah Jepang dan Jakarta, alumnus perguruan tinggi swasta dibilangan
Kami tidak terlalu lama di pasar itu karena memang mudah mencari barang yang Mamah titip dan tak terasa sudah mau menjelang Ashar, sesampainya kami di masjid.
Masih ada waktu setengah jam lagi, lumayan kami gunakan untuk menikmati suasana
Masjid Agung. Dan beberapa kali kami mengubungi Vicky dan ternyata aku
dikejutkan dengan kehadiran Rudiansyah Hambali, sahabat kami di Jakarta ia asli
‘Wong Kito Galo’ dan mengais rezeki di Jakarta sebagai staf di salah satu
perusahaan pengembang properti.
Tetapi ada yang aneh dengan wajah-nya, pelipis matanya terlihat diperban, bukan luka
ringan sepertinya.
“Rai kau ngapo?” Tanyaku yang sedikit-sedikit belajar bahasa Palembang dari Amel.
“Kecelakaan.” Jawab Rudi dari kejauhan.
“Kesini sebentar, kita makan es krim durian!!” Balasku sambil teriak dan menyodorkan
segelas ice cream.
“Nanggung, sebentar lagi Ashar.” “Oooh, yowis.”
Rudy dan Vicky memilih untuk sholat Ashar, sedangkan aku mencoba merapihkan barang
belanjaan kami sambil menikmati rimbunya pepohonan dan segelas ice cream, sengaja aku menunda sholatku karena sedikit ada kerjaan yang tidak membutuhkan waktu yang lama, paling hanya 10-15 menit, setelah itu barulah aku dan Amel bergantian sholat.
Muncul dari mulut daun pintu yang besar Vicky dan Rudy, bangunan masjid itu seperti
cerita negeri 1001 malam mirip dengan istana Baghdad, lantai nya terbuat dari
__ADS_1
marmer berukuran besar dan gerbang pintunya begitu gagah berdiri dengan corak
ukiran dan mereka terlihat kecil, sampai-sampai aku sendiri bingung setiap kali melewati pintu masuk dan keluarnya berbeda-beda, saking luasnya masjid ini.
Loh, kok mereka tidak menemuiku malahan pergi ke arah pos keamanan masjid, ada apa
ini? Dan raut wajah mereka begitu panik, ada apa yah? Aku pun menghampiri mereka dan bergegas mendekati pos keamanan yang saat itu dijaga hanya satu orang security saja. Setelah memberikan identitas diri tertulis keduanya baru memaparkan kronologis kejadian.
“Apa saja yang hilang?” Tanya pria berseragam biru gelap.
“Tas kecil di dalamnya ada 3 handphone, power bank dan dompet.”
Tangan security yang aku lihat di name text –nya bernama Ridwan Rasyidi ini terus mencatat dalam buku laporan kehilangan. Dan aku lihat ternyata masjid ini menyimpan catatan kriminal yang cukup membuat mata terperangah.
“Dan satu lagi pak, sendal jepit saya ikut hilang juga.”
Tak tanggung-tanggu bukan hanya tas, handphone dan dompet saja yang hilang tetapi sendal jepit miliki Vicky pun ikut diambil si pencuri.
Jelas kini, mengapa di masjid itu tidak pernah ada yang namanya piano dan alat musik akustik , tidak seperti di tempat beribadatan milik agama lain. Oh, ternyata jangankan piano dan gitar yang di taruh di masjid, toh, sendal jepit saja bisa hilang apa lagi
kalau di masjid ada piano, organ dan alat musik, bisa-bisa disapu bersih sama mereka.
Setelah diberikan surat kehilangan, kami pun meninggalkan masjid agung dan kembali ke
rumah Amelia kali ini diantar oleh Rudy dan adiknya yang memang membawa mobil, Amel pun meminta diantar untuk mengambil paket
cream wajahnya.
Mendekati waktu Maghrib kami pun sudah sampai dikediaman orang tua Amel, dengan menyisahkan cerita yang tidak enak untuk berbagi.
Sayup terdengar adzan maghrib berkumandang, tidak seperti suara adzan di Masjid Agung, kali ini suaranya membuat telinga gatal dan dalam hati kecilku
bertanya,” kemana anak remajanya? Kok orang tua yang sudah sepuh dibiarkan
adzan, atau jangan-jangan masjid di sini sama seperti masjid di Jakarta, dimana
senioritas masih memegang kendali operasional masjid, termasuk siapa yang jadi
bilal, rata-rata semua orang tua yang tidak mau digantikan.”
“Boy, kita ke masjid yuk?” Ajakku kepada Vicky.
“Ogaaah! Orang niat baik aja harus kehilangan barang di masjid.” Canda
Vicky yang membuatku tertawa, mengingat dua kejadia selama kami di Palembang.
Pertama, sewaktu di perjalanan menuju ke Palembang, kami sempat ingin ditinggal bus,
hanya gara- gara kami sholat sebentar saja, dan tanpa sepatu aku berlari mengejar bus tersebut dan berteriak, “ mas, temen saya masih sholat, tinggal satu rokaat lagi! Tunggu sebentar...” Rasanya ingin aku mempertanyakan agama si supir, yang sepintas seorang muslim dan anehnya selama perjalanan tak satu pun penumpang yang sholat ketika berada di rest area.
Di dalam bus Vicky nyeletuk,”kalo sampe gua ditinggal sama ini mobil, berarti tuhan bener-bener tega, pengen banget ngeliat gua sengsara.” Yah, memang begitu gaya Vicky ketika bercanda, tetapi hanya lelucon biasa, semenjak puluhan tahun aku mengenal dia, baru kali ini aku lihat perubahan dirinya begitu jauh, dari yang tidak kenal sholat sampi akhirnya rajin sholat berjama’ah dan tidak lepas dari lima waktu.
Dan kejadian kedua yang ia alami, benar-benar apes handphone, tas, dompet sampai sendal jepitnya pun hilang di masjid, dan wajar jika dirinya menggerutu, “
Tuhan usil amat yaa?!” Memang seperti itu gaya bercandanya, tanpa ia sadari.
"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia
mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya
dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan
mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya.
Jika ia mendekat kepada- Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan
berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." Itu firman Allah dalam hadits Qudsi yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Maka, berbaik sangkalah sama Allah....
__ADS_1