
Kalau dibilang, aku termasuk paling eksis di jejaring sosial. Awalnya aku cuek tetapi lantaran menjadi penawar rasa suntukku, sampai akhirnya aku eksis di dunia maya, mulai saling sapa sampai diskusi serius pun pernah aku ikuti dalam percakapan via on line.
Disamping itu juga, aku memang suka menulis di blog pribadiku, walau domainnya gratisan dan aku pun sering mem-posting tulisanku di forum-forum media dan aku suka baca artike-artikel yang menurutku menarik. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk kita membodohi diri sendiri dengan adanya fasilitas internet yang sewaktu-waktu kita bisa akses kapan pun dan dimana pun.
Aku mulai memposting, mulai menanggapi respon dan mengomentari status teman yang kelihatan galau, atau menanggapi status mereka. Bagiku inilah dunia penuh warna, dan menjadi tempat aku memahami apa yang menjadi keinginan pasar.
Ada pemilik akun yang selalu teriak-teriak tentang konspirasi, Islam garis keras dan perbedaan mazhab. Ini pemandangan yang lucu bagiku, “ Ada yah? Orang yang menjustifikasi agamanya sendiri dengan lebel haram dan sesat, dengan alasan sepele perbedaan cara pandang berpikirnya saja yang berbeda.
Tanpa disadari meraka sendiri yang saling menghujat, justu sudah masuk ke dalam ranah konspirasi dan provokasi barat.” Ada juga yang statusnya galau, menanti jodoh, cemburu melihat temannya sudah menikah,”gue?Kapaaan?!” Ada juga yang meminta,”Oh my god!Susah bangeeeeet siiih nyari lowongan pekerjaan. Pliiis doong, cariin gue gaweaaan!!!.” Ada lagi yang selalu muncul dengan kata- kata ‘RIP’ anonim kata dari Rest in Peace yang memiliki makna istirahatlah dengan damai. Sepintas Wall di facebook mirip tembok ratapan yang dipercaya memiliki ‘Shekhinah’ dan jika berdoa disitu sama saja berdoa kepada Tuhan.
Bagiku, apa yang aku posting di facebook dan twitter tidak murni apa yang aku rasakan dan pikirkan justru lebih cendrung membahas masalah sosial yang sering teman-teman di facebook alami. Dan ini merupakan kekayaan dan sumber ide yang bisa aku kembangkan menjadi sumber tulisan. Dan disinilah media untukku berbagi tulisan dan tidak menutup kemungkinan banyak dari teman-teman di akun-ku ini sebagian besar penulis dan penerbit serta beberapa Ustadz yang statusnya bisa aku baca kapan saja.
Termasuk aktifitas yang aku alami saat ini, pasti aku posting. Separuh hariku bersahabat dan melepas kejenuhan di facebook apa lagi selama di karantina, tak ada yang bisa aku ajak bicara karena dua pembantu itu hanya datang pagi hari dan pulang di sore hari saja.
Selepas senja rumah sebesar itu aku huni seorang diri. Bukan masalah suasanya yang mencekamnya, justru kesepiannya inilah yang tidak membuatku larut dalam kerinduan, tentang mendiang Ayah, Mamah dan adik-adik serta keponakanku yang jauh di sana. Nyaris, aku dibunuh kesepian dan memang ini pengalaman hidupku selama puluhan tahun, baru kali ini jauh dari orang tua untuk waktu yang kelihatannya cukup lama.
Jadwalku setalah merampungkan skenario, hunting mencari lokasi shooting dengan produser dan team produksi, ada kesempatan untukku pulang ke Jakarta, ketika ada scehdule beberapa scene yang di garap di sana. Walau satu hari saja, rasanya cukup melepas dahaga dan itu pun bukan untuk bertemu mereka, tetapi mempersiapkan kelengkapan adminitrasi yang aku harus mengurusnya untuk pembuatan paspor. Kurang lebih enam bulan dari proses awal sampai produksi dan tayang film yang setelah diskusi panjang ditentukan dengan judul, ‘Antara Jerman dan Masjdil Haram’ aktifitas yang cukup melelahkan serta butuh stamina yang serba ekstra.
Satu minggu kami mencari lokasi yang sesuai dengan skenario, Mas Febri, Kang Belman, Edo DOP, dan Mas Lucky, tim inilah sebagai penentu tempat yang memang memiliki kesamaan sudut pandang, jika salah satu dari mereka tidak setuju maka kami pun membatalkan dan mencari lokasi lain.
Yang menjadi pertimbangan adalah, lokasi tersebut tidak bocor atau terlalu ramai dengan pengunjung yang ingin menyaksikan penggarapan film, dari suara pun tidak boleh terkontaminasi dengan suara-suara lain.
Dan masih banyak lagi alasan-alasan lokasi yang memang layak atau tidak layak untuk dijadikan lokasi shooting nantinya, berdasarkan pertimbangan kondisional serta analisa anggaran terutama, hebat, dan aku baru tahu sebegini ribetnya menggarap sebuah film layar lebar, belum lagi masalah perizinan tempat dan keamanan. Satu minggu, seperti satu tahun bagiku karena memang aku tidak terbiasa dan aku harus mengawal produksi film ini sampai selesai. Huuuft! Sungguh melelahkan tetapi syukurku tak berhenti aku ucapkan atas tangan-tangan Tuhan sampai detik ini.
Schedul esetelah rampung pembuatan triller, kini memasuki tahapan menjual film ini ke beberapa client yang memang sudah jauh-jauh hari ingin masuk sebagai sponsor dan ini sudah menjadi tugas Kang Dana serta Mas Ryan selaku Marketing Komunikasi atau disebut Markom. Dan Alhamudulillah, tidak ada kendala yang paling krusial, yang nantinya membuat tim berpikir hingga harus kerja dua kali.
Setelah itu, penggarapan besar mulai dipersiapkan dalam waktu 40 hari kerja, jadwal shooting sudah harus selesai. Aku belajar menjadi asisten sutradara dan memberi masukan agar film ini tetap realistis, sesuai dengan naskah di dalam novel, walau ada beberapa adegan yang harus di-cut karena termakan durasi.
Kami pun merampungkan shooting di dalam negeri untuk satu bulan penggarapan dan inilah tahapan tersulit dan kritis yang harus kami hadapi, tantangan demi tantangan, hambatan demi hambatan, serta kendal demi kendala kami harus hadapi, mulai dari cuaca yang tidak bias diperikirakan, serta lagi asyik shooting kita harus main kucing-kucingan dengan petugas keamanan, ormas dan apa pun yang berniat mencari kesempatan demi mencari uang receh atau sampingan mereka. Untungnya hal ini sudah dipersiapkan matang-matang oleh tim analisa teknis yang didalamnya itu tiga orang produser.
Selepas shooting atau terkadang ada jedah waktu istirahat aku mencoba mencuri-curi kesempatan untuk sekedar mencari tahu kabar Vega, gadis yang aku pastikan akan menjadi tamu istimewa di gala primer nantinya. Dia-lah wanita yang akan aku tunjuk di hadapan media untuk aku pinang menjadi istri-ku, kursi nomor satu di ruang VVIP sudah aku siapkan untuknya. Walau masih saja, ia memberikan jawaban,”Nggak tahu!” Setiap kali aku tanyakan,”Mau-kah kamu menjadi istriku?” tetapi aku tetap bersih keras mencoba meluluhkan hatinya untuk menerima pinanganku nantinya.
“Lagi apa?” Tanyaku memulai percakapan.
“Nonton.” Biasanya kalau ia sudah menjawab sesingkat ini ada yang membuatnya kesal.
“Cuma nonton tivi aja?”
“Heeem..” Kalau dia sudah mengeluarkan kata-kata seperti ini, biasanya ia lagi sensitif dan marah-marah.
“Yaudah deeh kamu lanjutin aja aktifitasnya, aku lanjut shooting.”
“Nggak kok, biasa lagi gedeg denger nenek-nenek sama kakek-kakek berantem. Tivi aku gedein sampai 25 volumenya. “
“Apa yang mereka ributkan?”
__ADS_1
“WIL.”
“Na’udzubillah min dzalik. Papah?” “Iya.”
“Tuuuh makanya aku itu benci sama lelaki dan akhirnya aku milih kamu untuk aku ajak nikah, seperti itu-lah ulah laki-laki. Sumpaaah! Sampai kapan pun aku nggak akan memilih laki-laki untuk menjadi pendamping hidupku!” Candaku untuk menghangatkan ketegangan.
“Ngomong aja kamu sama bedug.”
“Hahahaha...Kadang-kadang kamu lucu yah.”
“............ .........” Ia hanya terdiam, mungkin sambik tersenyum. “Kok papah bisa selingkuh? Padahal kan mamah cantik.”
“Nggak tau juga siih, benar atau nggaknya dan hanya mereka saja yang tahu.”
“Heeem, berarti hanya dugaan mamah saja dan belum ada data yang valid.” “Tapi....”
“Tapi apa?!”
“Hellllloooooow dari gw kecil begitu terus.”
“Wadddddddddduh!!” Ternyata pertengkaran antara mamah dan papahnya sudah mendarah-daging, dan aku mulai sadar diri bahwa benar-benar Vega besar dilingkungan keluarga yang tidak harmonis.
“Eneeegh bangeeet nggak siiih?! Dan tiga tahun belakangan ini mulai jengah denger kata-kata cerai dari mamah. Sampai aku hanya bisa bilang, lakukan yang harus kalian lakukan dan aku bisa urus hidupku sendiri karena kalian sendiri tidak perduli. Dan jika kamu bilang aku tidak punya hati dan perasaaan, yups, you’re right aku kini tidak punya hati dan perasaan lagi.
Alasan ini sepertinya yang membuat Vega takut kehilangan orang-orang yang ia sayangi dan trouma masa lalunya sebegini hebatnya untuk ukuran seorang gadis, rasanya memang sulit untuk bisa menerimaku menjadi kekasihnya, terlebih aku menuntut untuk-nya menjadi pendamping halalku.
“Troumatis dalam hidup nggak baik juga siih, latar belakang rumah tangga dan masa lalu itu seharusnya membuat kamu jadi lebih hebat. Bagiku, badai besar pasti menyisahkan satu bangunan yang kekar. Dan pelangi itu akan terlihat indah ketika sebelumnya harus kita nikmati suara gemuruh, halilintar dan hujan deras.
Dan aku yakin, kelak ada bidadara surga yang akan membawa kamu ketepian samudara mahabah yang maha dahsyat. Kamu pasti tahu, Muhammad menjadi orang besar bukan karena dia hidup di atas fasilitas dan orang tua atau warisan kerajaan dari ayah-nya Abdullah. Tetapi seorang Muhammad besar itu lantaran buah dari upper
cut, straight, jep yang Allah berikan untuk-nya. Kamu tahu emas?”
Aku mencoba melempar pertanyaan yang simple hanya memastikan bahwa ia masih
mendengarkan ucapanku.
“Yaah tauuulaaah...”
“Untuk
menjadikan kamu itu emas murni, kamu harus siap di saring, diayak, dibakar
untuk dilebur, lalu ditempa hingga terbentuklah emas murni tersebut, hingga
__ADS_1
harus dipoles agar terlihat indah kilaunya dan berharga jual tinggi.”
“Entaaahlaah....”
“Sayaaaang, rumah tangga mamah dan papah itu ancur, serta kamu yang gagal menikah, karena Allah mempunyai alasan dan Dia Maha Sayang sama kamu.”
“Darimana kamu tahu bahwa Allah itu sayang sama aku?!
Sedangkan kamu tahu sendiri latar belakang masa laluku yang super ancur. Dan untuk calon pendampingku kelak, aku berani pastikan bahwa ia tak akan pernah ada.”
“Eiiiits, kamu jangan menjustifikasi diri kamu seperti itu dan jangan juga mendahuli takdir Allah, tanpa kamu sadari di ujung dunia entah berantah ada calon pendampingmu kelak yang sedang mencari kamu, tetapi ia masih mencari navigasi dan petunjuk dari Allah dalam do’a serta sholat malam-nya untuk segera dipertemukan dengan kamu, hingga akhirnya ia sendiri pun lelah untuk mencari-mu, barulah tangan-tangan Allah akan menyatukan kalian, hingga akhirnya kamu akan tersenyum dan meneteskan air mata bahagia di pelaminan bersamanya kelak. Dan disinilah, orang lain pun tidak bisa merasakan kebahagiaan sedasyat yang kamu rasakan bersamanya.”
“Heeeeem....” Aku tahu secuek apa pun Vega pasti ia masih mendengarkan, hanya saja ia gadis yang jaim untuk mengakui hatinya luluh dengan apa yang aku ucapkan lantaran argumentasinya patah dengan asumsi yang aku sampaikan.
“Dan disaat itulah rasa syukur akan terucap dari bibir kecilmu dan air mata yang jatuh menjadi air mata keihklasan akan takdir Allah. Matahari esok pagi itu lebih indah sayaaang....karena ada malam yang membuat kita tersudut dalam kesunyian dan kesepian, gelapnya saja begitu mencekam. Jadilah wanita akhir zaman yang kuat dan tangguh, tenangkan hati kamu dalam dzikir yang tak pernah lepas, basahi bibir kamu yang mungil itu dengan Asma Allah. Pastiii....Allah akan memelukmu dalam kasih dan cinta-Nya.”
Kini aku pun mulai sadar dengan alasan yang sudah mulai mengerucut mengapa ia memutuskan hati dan perasaannya untukku. Bagiku Vega itu mawar putih di tepian jurang, yang tidak mudah dipetik, hanya sang advanture sajalah yang mampu mengambilnya, jika ingin memetiknya harus berhadapan dengan duri yang tajam di
sekujur tangkainya. Tetapi akan menjadi kebanggaan tersendiri, ketika mampu membawa pulang mawar putih. Dan ia akan ceritakan bukan karena bunganya, tetapi perjuangan sang advanture ketika memetik, sedangkan mawar putih itu hanyalah kado istimewa dari Allah.
“Ingat sayang! Muhammad itu menjadi rasul itu bukan dengan mudah ia dapatkan tetapi ada proses yang beliau hadapi dari masa duka, hinaan dan cemoohan sampai akhirnya ia hijrahkan hati dan jiwa-nya sampai Allah menganggap Muhammad ini layak untuk di bawa ke Lahulu Mahfudz, melintasi Shidrotul Muntaha itu karena hadiah untuk seorang Muhammad.
Sayaang, kamu itu wanita pilihan Allah dengan dihadapkan masalah-masalah yang mungkin tidak semua wanita lain bisa lalui dan hadapi. Karena ada kado istimewa yang Allah akan berikan untukmu. Berpikirlah dan bersahabatlah dengan takdir kelak kamu akan merasakan damai di bawa-nya. Maaf, bukannya aku mengguri kamu looh!”
“Iyaa nggak apa kok, santai aja! Aku agak lebih tenangan. Tanks yaah sudah kasih wejeungan untuk aku.”
“Jadi, kesimpulannya maukan menikah denganku?”
“Heeeem....nggaaaak tauu! Sudah yaah, aku mau mandi dan sholat dulu.”
“Ooh yowis nggak apa-apa. Assalamuailove you.”Aku coba selingi gurauan agar ia merasa tidak aku buru dengan pertanyaan seperti itu.
“Iiiish, apa siiiiiiiih!!!” Dan sedikit aku dengar ada tawa dan senyum manja di balik speaker
handphone.
“Seharusnya kamu jawab, Wa’alikum sayaaang...atau Wa’ailove you too...”Tidak ada maksudku mempermainkan salam, tetapi ini caraku menghapus beban yang begitu berat di kepalanya.
“Baiklah...Assalamu’alikum.”
“Wa’alikum salam.”
Tak terasa, waktu istrihat aku habiskan hanya untuk berbicara dengan Vega, hingga bablas belum makan siang, dan aku mencuri waktu untuk sholat, lalu makan siang setelah itu kembali aku mengawal penggarapan produksi di dalam negeri. Lusa, aku harus pripare untuk keberangkatan ke kota impian- ku, karena jadwal shooting selanjutnya ke Jerman dan Masjidil Haram, rencanaku transit dan pelesiran ke Milan-Italy, lalu aku tunaikan haji kecil atau umrah ke Masjidil Haram.
“Bismillah walhamdulillah, walailahaillah wallahuakbar, walahaula walaquata illabillahil’ali’il adzim.”
__ADS_1