
Tak ada nyiur yang melambai, tak ada kicau dan tarian burung camar yang begitu
ceria, tak nampak binatang laut yang mampu meredam segala gemuruh kegelisahan
di hati, hanya sorot lampu mercusuar dari kejauhan, sebagai isyarat dan
navigasi, walau hadirnya hanya sebagai pelengkap saja, tetapi begitu
konsistennya ia tegak berdiri, sekali pun ombak mencoba menggoyahkan tetapi ia
tetap setia, walau ia tak pernah tahu untuk apa menunggu, walau ia pun tak
pernah tahu sampai kapan ia tetap berdiri di tepian pantai.
Semilir angin basah menembus di setiap lubang pori-pori, membasuh wajah yang terlihat
begitu letih, seakan ia mengusapnya dengan manja, seperti seorang ibu yang
mencoba menenangkan anaknya ketika menangis.
“Haidar, kamu lelaki jangan menangis!!!” Aku coba menahan segala kegelisahan di hati,
seperti debur ombak yang siap menerjang karang, sesekali waktu akan pecah juga.
Aku coba menepis kesedihan ini, mencari kesibukan dan Vicky menangkap kesedihan
yang aku rasakan, aku tahu dia berpura-pura mencari topik pembicaraan
mengalihkan segala beban pikiran yang ia pun tahu.
“Pe, kita beli kopi yuk? Atau kita cari makanan, gue laper.” Pe, nama sapaan yang ia
berikan ke aku, walau tidak memiliki arti khusus.
“Di bawah ada kantin, kita cari makanan di situ. Sekalian ngopi, cucacanya dingin.”
Kami pun menulusuri satu per satu anak tangga, kapal yang kami tumpangi tidak
terlalu ramai, mungkin karena malam hari dan memang bukan hari libur, jadi
terlihat senggang.
“Pak, indomie rebus dua, kopi satu dan es teh manis satu.” Tanpa bertanya lagi, Vicky
sudah memesannya, mungkin prinsip cowok yang pernah merasakan menjadi orang
kaya ini, apa yang ia makan harus sama apa yang aku makan. Tetapi setahuku dia
tidak punya uang sama sekali, heeeem, ujung-ujungnya aku yang bayar, kebiasan
lama.
Panjang lebar kita bercerita, mulai dari masalah pernikahanku sampai persoalan yang ia
tengah alami, seakan membius dan membuat kita tak sadar, suara sirine
mengejutkan kami dan menjadi tanda bahwa beberapa saat lagi kapal akan bersandar.
Secepat mungkin kami habiskan makanan dan minuman yang sudah kami pesan, sekuat
apa pun mulut ini, tak akan sanggup menyeruput mie rebus dan kopi yang masih
panas. Mau tak mau kami harus menyisahkan itu semua dan membayarnya.
“Berapa semuanya pak?”Tanyaku kepada pria berkumis lebat. “Sembilan puluh delapan
ribu.”
“Maaaaaaaaaaaaaak! Mahal kallllliiiii....” Dari pada aku protes keras dengan ulah Vicky yang
seenaknya memesan makanan tanpa mempertimbangkan keadaan uang di dompet, mau
marah rasanya harus mikir ulang, toh sudah menjadi tanggung jawabku, karena
sudah memintanya menemaniku.
Untuk meredam rasa kesal, aku coba sedikit berkelakar,”Pak, di atas kapal ada klinik
jantung nggak?”
“Untuk apa mas? “
“Mau ngecek jantung saya, masih ada apa nggak!”
Vicky langsung tertawa terbahak-bahak dan dia paham dengan maksudku menanyakan hal
itu, karena dia tahu harga untuk dua mangkuk mie rebus dan segelas kopi hitam,
__ADS_1
ditambah es teh manis tidak semahal yang dikatakan si pelayan kantin. Tetapi
wajar karena harga di atas kapal itu, dua kali lipat mahalnya, bahakan
seenaknya saja mereka menaikan harga.
Kami tidak punya banyak waktu untuk memperdebatkan perkara harga, mengingat kami
harus segera turun ke garasi kapal, telat sedikit mungkin kami akan tertinggal
bus. Yang sudah terjadi untuk apa kami permasalahkan, cukup dijadikan cerita
dan pengalaman yang berharga, agar hal serupa tidak terulang kembali.
****
Bakaheuni,
Lewat Tengah Malam
Kapal kini bersandar di dermaga, lagi-lagi tak ada matahari yang bisa kami lihat, tak
ada pemandangan sebagai penghibur hati yang kalut. Di ujung pulau, kini
kusandarkan rakit kecil di dermaga hati, waktu terasa begitu terseok berdetak
disetiap detiknya, sebegini jauh menjemput jodohku.
Ternyata bukan hanya dalam lirik lagu dan syair para pujangga, ketika cinta memanggil
tak gentar kaki melangkah, sekalipun samudra yang luas kan kuselami, gunung
yang tinggi akan ku daki, lautan bara api akan seberangi, walau terdengar
berlebihan tetapi memang kenyataannya seperti inilah yang ku hadapi.
Rasa hati tak sabar menanti mentari di balik bukit, rasa hati tak sabar menanti
senyuman hangat yang keluar dari bibir gadisku yang menunggu di perbatasan Musi
Dua dan rasa hati ini tak sabar suara lembut memanggilku, “Selamat datang duhai
calon imamku, selamat datang di ruang hatiku.”
Teriakan sang kondektur cukup mengejutkanku dan Vicky, suara lantangnya membuat
penumpang yang lain terbangun dari tidur,” Musiiiiii...siap-siap Musiiiii!”
Julie memberikan acuan yang harus aku ikuti untuk sampai di kediaman orang
tuanya, “Jembata Musi I apa Musi II ya?” Aku menghampiri sang kondektur untuk
menjawab keragu-raguanku.
“Pak, ini Musi berapa?”
“Di depan jembatan Musi I,” Jawabnya seperti orang tersibuk di dunia, jutek. Dan
aku meyakinkan bahwa ini benar Jembatan Musi, di sisi kiri terlihat ada sungai
besar, tetapi kenapa sepi amat daerahnya yah? Rasa was-was bergejolak di hati,
masih ragu untuk meyakini bahwa di depan itu-lah tempat Amelia berjanji
untuk menjemputku.
Hentakan suara koin yang beradu dengan kaca di pintu, memastikanku untuk segera turun.”
Aaaah, pasti ini tempatnya!” Aku coba meyakini hatiku, tetapi apa boleh buat
sekalipun tempat yang kami tuju itu salah, kaki ini sudah terlanjut melangkah
meninggalkan bus yang kami tumpangi.
Secepat menghubungi aku menghubungi Amel, sungguh hal yang
tak diinginkan itu terjadi, rupanya kami salah jalan. Mata ini menitih di
sepanjang jalan, mencari ada angkot yang melintas dan kami harus mencari alamat
yang diberikan Amel, Jembatan Musi II turun di bawah dan di
sana ada kantor polisi Gandus, aku disuruh menunggunya di sana, Amel segera
menjemput kita.
Sungguh cuacanya lebih panas di Palembang dibandingkan di Jakarta, mungkin terlalu
dekat jarak antara daratan dan lautan. Baru beberapa menit saja menunggu,
keringat ini bercucuran. Di belakang kami rupanya pasar kaget, tepat di tepian
__ADS_1
sungai Musi yang pada saat itu terlihat begitu deras dan tak ada seorang pun
yang berani untuk berkendaraan dengan perahu.
Kalau tidak besar arusnya, penduduk di sana itu terbiasa berbelanja di atas perahu
dan menggunakan perahu sebagai alternatif transportasi ke tiga, setelah angkot
dan sepeda motor. Mungkin bagi mereka yang memiliki kelebihan uang, mampu
membeli kendaraan pribadi.
Tetapi memang di tanah lahirnya kitab Simbur Cahaya, yang disusun oleh Ratu Sinuhun
menyimpan sejarah panjang Islam di nusantara, Mahmud Badaruddin I yang begitu
tersohor melahirkan keturunan yang kelak menjadi pewaris sejarah kesultanan di
Palembang Raden Muhammad Hasan atau Sultan Mahmud Badaruddin II, Raden
Muhammad Husin atau Sultan Najamuddin II, Pangeran Adikusuma, yang kemudian
bergelar Pangeran Ariya Kusuma, Pangeran Natakusuma, yang kemudian bergelar Pangeran
Suriya Kusuma, kesemua itu berujung kepada Sayyidina Maulana Muhammad ‘ainul
Yaqin R.A yang tak lain adalah Sunan Giri, daerah
ini memiliki taraf ekonomi menengah ke bawah, masih banyak kita temukan rumah
yang hanya berdinding bambu dan beratap jeramih.
Hampir setengah jam mencari kendaraan umum, tidak juga kami temukan, yang ada hanya
bus antar kota-antar provinsi. Di seberang jalan, lelaki paruh baya berteriak,
“Nak kemano?!”Begitu kerasnya ia berteriak, melawan suara angin yang memang
begitu besar dan ia pun menghampiri kami.
“Nak kemano?” Ia mengulang kembali pertanyaannya.
Setidaknya aku paham dengan dialek yang ia gunakan, “ mau ke Jembatan Musi Dua.” Jawabku
sedikit canggung dan tidak tahu harus bertanya apa lagi, karena memang kami
tidak bisa bahasa Palembang.
“Ayo, Ngojek aku bae.”
“Berapa duit?”
“Duo puluh ribu bae.”
Tanpa tawar- menawar lagi, aku iya-kan tawarannya, satu motor untuk tiga orang.Bapak
itu tidak terlihat protes dengan barang bawaan dan berat badan kami, begitu
menikmati perjalanan dan begitu lincah melaju dengan motornya. Tepat di bawah
Jembatan Musi II dan kami berdiri tepat membelakangi kantor polisi.
Hanya menunggu sepuluh menit saja, muncul seorang gadis dengan hijab penuh aksen
bunga menghampiri kami, “ Kok bisa nyasar si bang?” Tanya Amel sambil
mengulurkan dan menggapai tanganku, rupanya ia ingin membuka salam sebagai
bentuk penyambutan untukku.
“Yah, mungkin karena malu bertanya.”
“Makanya sesat di jalan yah Bang?” Balasnya
“Kita naek ojek aja yah? Ke dalamnya masih jauh.”
Aku masih tak menyangka bisa menemukan jodoh sejauh ini, hampir puluhan tahun aku
tinggal di Jakarta, tidak pernah berpikir pergi selama ini menyeberangi pulau,
sejauh aku pergi masih berkisar di pulau Jawa, pernah juga satu kali kau pergi
ke Jambi, itu juga hanya satu hari-satu malam, tidak lebih, itu pun menggunakan
pesawat tidak jalur darat seperti ini.
Berharap malam ini aku bisa menikmati suasana tenang, melepas sejenak penat sehari penuh
di jalan. Dan malam ini tak ada pilihan selain istirahat total, biar esok hari
terasa fresh.
__ADS_1
Entah mengapa hati ini begitu gelisah.......