TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Neraka di Bawah Telapak Kaki Istri


__ADS_3

Aku sadar perubahan dari Amel, itu karena memang salah dari sikapku yang kurang memahami apa sebenarnya arti kesetiaan dan tidak terbuka dengan apa yang


harus ia ketahui.


Namun, bagiku ini demi meminimalisir masalah dalam rumah tangga, sampai akhirnya Amel melakukan hal yang tidak adil menurutku, ketika ia membuat sebuah komitmen bahwa aku tidak boleh membuka handphone miliknya, bagiku hal serupa pun harus aku berlakukan. Lagi-lagi untuk yang satu ini aku perlu egois, karena aku kepala keluarga.


Dan bodohnya, memang aku tidak mahir dalam menyembunyikan rahasia diri sendiri, dan ini yang memicu pertengkaranku dengannya.


“Siapa itu Eva?!!!”


Sumpah, seperti tersiram air panas seluruh tubuh ini. Telinga dan pikiran tidak lagi


harmonis untuk saling bekerjasama menyelaraskan antara akal dan ucapan. Aku


tahu, Amel mempertanyakan itu, pasti ia sudah membuka handphone-ku.


“Ooh itu...temenku waktu acara sastra di HB Jassin dulu.” Aku pura-pura tenang dan


seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan memang tidak ada rahasia sedikit pun antara


aku dan Eva, hanya ada sedikit sanjungan untuknya.


“Lalu apa maksud kamu, aku adalah takdir keterburu-buruan kamu saja?”


Loh, kok Amel bisa tahu?! Yaaa ampuun, aku lupa menghapus inbox di handphone-ku. Aku mulai kikuk dengan manuver pertanyaan yang


ia lontarkan untukku.


“Oooh, itu hanya bahasan untuk nulis buku bareng saja kok, tidak lebih!”


“Lalu, apa maksud-mu dia yang terbaik dan keinginan-mu memilih diri-nya, dan kamu


menyesali pernikahan ini?!” Intonasinya semakin tinggi, dan Amel sudah terlihat


marah.


“Aku tidak ada maksud untuk itu, dan ini semata-mata hanya materi untuk buku yang


aku mau tulis.”


“Aaaah, alaaaasaaan....Susah kalau punya suami penulis!!”


“Yank, tolong jangan bawa-bawa profesiku? Dan kita hidup dari buah hasil tulisanku


bukan?”


Dia hanya diam dan tidak berucap sepatah kata pun. Mungkin ia teringat dengan dosa-nya yang menghabiskan uang teramat begitu singkat dan terbilang tidak wajar, antara penghasilan yang aku dapatkan dengan pengeluaran yang sebegitu berbalik jauh dengan apa yang ia keluarkan, dan seharusnya Amel mesti pandai menyimpan uang yang aku berikan. Bukan lantaran memang tak ada uang untuk dijadikan simpanan, tetapi bagaimana ia harus bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan, hanya itu saja pintaku.


Untuk membeli kebutuhan dirinya, ia mampu dari penghasilan yang aku dapatkan, mengapa tidak berhemat diri tanpa harus mengurangi kewajibannya memanjakan diri.


Misal, yang seharusnya dia menginginkan tas bermerk seperti Louis Vuitton Retiro mengapa tidak memakai tas lokal dengan kwalitas yang sama? Sampai pernah ia membeli parfume seharga seratus ribu, hanya sebotol kecil.


Mengapa tidak membeli parfume refill dengan aroma yang sama?! Maka dengan begitu tidak menghilangkan kewajibannya memanjakan diri, dan aku pahami dia seorang wanita dengan khas tersendiri yang Allah berikan. Itu sudah kodrat yang tidak mesti


harus dihilangkan, tetapi ada batasan- batasan agama yang harus Amel tanamkan,


namun kenyataanya dia kosong dari pemahaman seperti itu.


Bukanku tidak berusaha, tetapi sifatnya yang memang sudah menjadi karang dan membatu.


Entah salah didik atau memang orang tua yang terlalu memanjakan dirinya. Pernah


aku menyuruhnya untuk sholat berjama’ah tetapi ada saja alasan yang ia berikan,


“mukenahku tertinggal di kantor.” Padahal masih ada mukenah lain yang bisa ia pakai dan bisa aku pinjamkan dari Mamah, lagi-lagi ia lebih keras membantah.


Sungguh aku tidak punya nyali untuk bersikap tegas dan lebih keras, semakin aku bersikap demikian, maka semakin besar Amel untuk


berontak.


Apa dengan Allah menejadikan Amel sebagai pendamping hidup, Ia bermaksud


untukku memperbaiki dan menutupi kekurangannya, serta menuntun wanita yang kini telah menjadi istriku untuk sama- sama menuju jalan kebaikan. Tetapi apa? Justru Amel mendominasi dalam rumah tangga dan hampir 70 persen mengatur kehidupanku.


Seperti macan yang kehilangan taringnya, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, yah,


aku dari sekian banyak suami yang tidak pernah dihargai sebagai kepala rumah tangga, imam bagi anak dan istri. Lagi –lagi karena tangan ini tidak mampu untuk memukul dan bibir ini tidak mampu berbuat kasar.


Terlebih kesalahan yang telah aku lakukan, semakin membuat Julie menjadi-jadi, bahkan


dia sudah berani meninggalkan rumah tanpa seizinku. Seharusnya aku diperbolehkan untuk memukulnya dengan ma’aruf dan pisah ranjang sekalipun menjadi hakku untun melakukan itu.13 Tetapi lantaran kesalahan itu, seperti menjadi boomerang hingga akhirnya aku kalah, Amel menuduhku selingkuh. Sampai akhirnya sampai di telinga Mamah – Papah di Palembang.


Berlahan-lahan Amelmenunjukan watak aslinya, sudah tidak ada lagi yang ia tutup-tutupi. Bahkan ia semakin intens dan tidak bisa jauh dari handphone-nya. Pernah ketika ia lengah, aku melihat ada foto yang sudah terbilang tidak wajar aku temukan di memori Handphone tanpa sepengetahuannya


dan ketika ia terlelap tidur, aku berusaha mengambil dari bawah bantal.


Ooh ternyata di-password, berkali-kali


aku browsing di internet mencari tahu cara membuka password handphone blackberry, tak ada satu pun yang berhasil aku lakukan.


Merasa tidak mau kehilangan kesempatan, aku coba mengambil memori handphone-nya saja dan ku simpan di dalam laptop, baru-lah


sekiranya kondisi sudah terlihat aman, aku lihat satu persatu foto yang ia save, mulai dari whats app, line, blackberry messengger dan ada satu foto seorang lelaki hampir mirip aktor layar lebar dunia yang terkenal dengan aksi pertarungan akrobatiknya-nya, Jackie Chan.


“Siapa cowok yang ada di dalam handphone kamu?”


“Cowok yang mana yaaah? Aaah jangan cari-cari kesalahan gue deeh, gara-gara loh


ketahuan selingkuh!” Ia mencoba mengelak dan Amel sudah tidak ada lagi etika-nya sebagai seorang istri.


“Cowok yang lagi asyik dengan minuman juice-nya dan terlihat centil di depan kamera


itu?”


“Aaah loh mengada-ada aja, mana ada di hanphone gue photo cowok, selain papah dan


pernikahan kita yang menurut loh dipaksakan!!!” Amel mengungkit kembali pesan singkat yang ia temukan di inbox handphone ku.


Berkali-kali ia mengelak, hingga akhirnya dia tidak berkutik ketika aku tunjukan bukti,


folder yang aku beri nama ‘ketangkap tangan’ dan ada beberapa foto yang memang tidak pantas bagi seorang istri menyimpan foto pribadi seperti itu,na’udzubillah min dzalik.


“Berani-beraninya loh ngambil barang gue, jangan mentang-mentang istri loh, jadi dengan seenaknya ngambil barang milik orang tanpa seizin dari yang punya, suami macem apa si loh?!!!” Terlihat Amel marah besar saat itu, entah gara-gara terbukti bersalah atau cara ia menutupi kesalahannya.


Lagi-lagi aku suami yang tidak memiliki nyali untuk melakukan kekerasan, karena hukum di


negeri ini sudah jelas tidak lagi realistis, jika menemukan kasus semacam ini,


dan kita memukul istri seketika itu ia tidak terima dengan perlakukan yang kasar, walau istri adalah hak milik si suami, tetapi hukum tidak mengerti kejadian yang sebenarnya.


Aku hanya bisa istighfar dan entah sampai


kapan aku bisa bertahan dengan semua ini?...Allah Karim!!!


 ***

__ADS_1


Langit-langit Jakarta terlihat semakin muram, suara bising kendaraan seakan tidak mampu lagi aku dengar, patung Tugu Tani yang setiap kali aku lihat memiliki sisi keindahan, seakan menjelma menjadi sepasang suami-istri yang tengah berdiri di ambang pintu kehancuran, hayal-ku petani yang sedang memanggul senjata itu, mengarahkan-nya ke arah kepala sang istri.


Memang seakan menjadi satu kebiasaan ketikaku menunggu angkutan umum, kurang lengkap tanpa melihat helikopter dari hotel Aryaduta dan patung tugu tani.


“Ya Allah, aku yakin pasti orang yang di dalam helikopter itu terlalu sibuk dengan jadwal kerjanya yang padat, sampai-sampai untuk menghindari macet ia harus rela menyewa heli. Atau jangan-jangan itu kendaraan pribadinya. Heeem, jadi pengen seperti dia yang waktunya sebegitu bermanfaatnya....pasti aku bisa seperti dia!! Toh, sama-sama makan nasi dan memiliki waktu yang sama, 24 jam dalam sehari.


Kenapa dia bisa, sedangkan aku tidak bisa?!” Bisikku dalam lamunan dan mata ku tajam


melihat pesawat yang tengah landas di halipad yang memang sudah disediakan di atas gedung tersebut.


“One day’s, pasti aku bisa!!!” Entah ini khayalan kosong atau jangan-jangan aku


sudah tidak waras?! Aaah, tak apa-lah beginilah nikmatnya jadi orang susah,


yang masih Allah berikan khayalan muluk seperti ini, dan bisa jadi satu hari nanti menjadi do’a dan terjawab mimpi-mimpi ini semua, bismillah...


Jalan di Jakarta yang paling memiliki kesan bagiku, yakni Merdeka Selatan, Tugu Tani


dan Menteng serta Jalan Surabaya yang menurutku memilki histori panjang dalam


pergerakan, seperti memiliki ruh perjuangan, masih tercium aroma peristiwa


heroik sepanjang jalan tersebut. Ini terlihat dari museum dan beberapa peninggalan bangunan kuno, apa lagi kalau sudah memasuki sepanjang jalan Cikini Raya, semakin santer aroma pergerakan.


Aku iri dengan Ismail Marjuki, aku cemburu dengan HB Jassin yang namanya begitu


terukir dan aku pun sudah mulai risih dengan nama Cipto Mangun Kusumo yang akhirnya membakar-ku untuk tegar hadapi kerasnya hidup.


Aku malu hanya menjadi penonton dalam sejarah hidupku, mereka besar lantaran air


mata yang sudah mengkristal dan keringat yang sudah terkuras habis, bukan untuk


memikirkan ‘isi perut pribadi’ tetapi mereka telah berhasil mewakafkan dirinya


untuk orang banyak.


Dan sengaja aku memilih berjalan kaki dari Kwitang, Cikini Raya hingga akhirnya


sampai di tempat kerja. Aku memilih menjadi seoarang karyawan lantaran didesak


oleh Julie, sebelum menikah aku sempat ditawarkan oleh beberapa teman yang


memang sudah terbilang matang di dunia entertaiment dan mereka melihat aku


memiliki kemapuan untuk menjadi talent, dua orang yang menurutku berjasa hingga


akhirnya membawaku kedua creative tv program, Edi ‘Kopi’ dan Edo ‘Uban’ namun


semua kembali lagi kepada jalan yang aku pilih. Amelmelarangku untuk jadi artis dengan alasan yang tidak logis.


“Kalo memang kamu mau jadi artis lebih baik kita cerai!”


Entah doktrin apa yang bersarang di benak-nya, memandang dunia entertaiment sebegitu berlebihannya. Oooh, mungkin banyak dikalangan artis yang selingkuh


sampai-sampai Amel memukul rata semua, padahal, tidak semua-nya artis


demikian.


Aku melihat seorang Edy ‘kopi’ komedian yang dahulu dikenal sebagai asisten seorang artis yang sekarang sedang menjalani program televisi swasta itu.


Mas Edy, biasa aku memanggilnya seperti itu, perjalanan hidup yang ia miliki terbilang unik dan aku mengikuti proses bagaimana ia cukup dikenal oleh masyarakat. Kesan yang ia berikan pertama kali aku mengenalnya dengan handphone yang diikat karet dan dia tengah menjajahkan dirinya kesetiap mall dan event organizer untuk bersedia memakai jasanya sebagai MC, magiction atau apa pun,


selagi memang ia bisa tunjukan kemampuan dirinya.


Perjalanan seorang Edy ‘Kopi Tanpa Susu’ ini bukan terbilang instan, melainkan melalui


nasi.


Padahal sudah dihubungi bagian talent itu jam tujuh pagi, tetapi shooting-nya jam dua belas malam. Tetapi bagi dirinya, itu semua akan mejadi cerita indah, yang kelak ia bisa jadikan nasehat hidup bagi orang-orang yang


dekat dengannya.


Itu-lah proses hidup, yang harus sama-sama kita sadari, terkadang kita memandang orang


yang melihat enak-nya tanpa memandang sisi masa lalu mereka sebagai entertainer yang dikenal dengan dunia glamournya saja, dan tidak sedikit juga orang-orang seperti Mas Edi ‘Kopi Tanpa Susu’ yang memulai karirnya dari hinaan sampai ke tahap sanjungan orang-orang. Sedangkan Mas Edo ‘Uban’ yang juga sahabat karib Mas Edi ‘Kopi Tanpa Susu’ dia-lah orang yang juga ikut membantuku terjun kedunia program televisi, mengajarkan aku banyak hal, mulai dari mengkemas acara yang kreatif dan bermutu, hingga akhirnya kita tawarkan ke beberapa stasiun televisi.


Dan itu pun tidak sekonyong-konyongnya program dapat diterima oleh mereka, belum


lagi nantinya yang kita hadapi para plagiator, buaya di dunia kreatif. Program yang kita buat ditolak, selang beberapa lama akan muncul acara yang sama tetapi kemasannya berbeda, sebagai siasat agar terkesan milik si stasiun televisi tersebut. Inilah gambaran bahwa hukum di negara ini tidak berpihak kepada


mereka yang memang dianugrahi Allah dengan ide-ide cemerlangnya.


Termasuk naskah novel- ku yang sempat dilayar lebarkan tetapi si penulisnya tidak


mengakui dan menganggap itu adalah hasil karya-nya.


Aku pun sadar, karena diri ini belum menjadi siapa-siapa dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan, cemoohan, hinaan dan padangan miring tentang diri kita.


Termasuk Amel, istriku saja tidak bisa menerima profesi-ku sebagai penulis.


Setiap kali aku tidak mau diganggu dan setiap kali aku menceritakan tentang gagasan ide kreatif ku, ia hanya menjawab-nya dengan datar, bahkan pernah ia mencibir dengan ucapan.


“ Ah omdo, katanya novel kamu mau difilm-kan, sampai sekarang cuma omongan kosong doang. Nulis ini-lah...Nulis itu-lah tapi nggak ada satu pun yang diterbitkan!!”


Astaghfirullah, aku anggap ucapan yang ia lontarkan itu wajar, karena Ameltidak paham dengan profesi yang aku pilih,mengingat menulis itu tidak seperti seorang karyawan yang setiap bulan menerima gaji sekian juta, dan mudah diterima oleh penerbit. Yang masih terbilang memandang sebelah mata untuk penulis sepertiku, yang baru membuat satu-dua buku. Itu pun harus bersaing


dengan puluhan bahkan ratusan karya yang masuk ke penerbit.


Bersyukurlah ada satu buku yang diterima penerbit besar seperti Mizan, itu pun tiga dari


karyaku yang mereka tolak. Mungkin mereka memiliki alasan tersendiri, atau jangan-jangan mereka sedang melihat pergerakan dari karya-karyaku.


Ketika aku sudah diposisi sebagai penulis ‘best seller’ sampah-sampah hasil tulisanku


pasti akan diminta mereka, sekalipun aku ganti judulnya.


Jadi teringat ketika sepuluh tahun lalu, diawal karirku sebagai penulis. Disaat aku


menjajakan buah tulisanku ke semua penerbit, walau minim ongkos dan anggaranku sudah habis untuk photo-copy naskah setebel halaihim gambreng. Nama Agus Sasongko, ( Mungkin ketika ia membaca novel ini akan meneteskan air mata...yah, kalau ia membacanya sambil ngiris bawang ) tapi ini cerita serius. ...


Sosok yang terbilang sudah tua tetapi ngentrik dari cara dia berpakaian, aku langsung disambut oleh- nya, padahal ia pemilik dari perusahaan penerbit. Tanpa harus melalui editor, staf redaksi atau resepsionis, justru beliaulah yang menerima


kedatanganku dengan kerendahan hati ia menceritakan perjalanan hidupnya sebagai


penulis.


“Saya pernah membuang naskah saya ke dalam tong sampah, karena ditolak penerbit


besar. Eeeh, ketika saya sudah diposisi aman dan beberapa karya saya terjual dengan eksempler yang besar, naskah tersebut malah diterima sama penerbit yang sudah menolak-nya.”Aku mengingat kembali ucapan itu, dan menjadi motivasi untukku terus berkarya sekalipun naskah-ku dicampakan begitu saja oleh penerbit besar, bahkan dilirik pun tidak.


Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah redamkan hati ini dari rasa dendam dan benci.


Tugasku hanya berusaha, menulis dan menghasilkan karya yang berkualitas itu


saja.

__ADS_1


Selebihnya biarlah Allah yang mengatur ini semua, sebab aku percaya Dia-lah Tuhan yang Maha Berhitung.


Aku yakin, bahwa benar Dia-lah yang mengatur semua rezeki umat-nya. Ini terlihat


ketika aku menemui ada orang yang memang kerjanya hanya duduk saja dan sedikit


mengelurkan keringat tetapi Allah masih berikan rezeki yang tidak disangka-sangka, dan ada juga orang yang bekerja diluar batas waktu yang normal, tetapi tidak sebanding dengan keringat yang sudah ia keluarkan.


Tetapi aku tidak berani untuk menjustifikasi mereka, karena yang berhak menilai


hamba-nya itu hanya Allah, dan tidak wajar jika kita berani memberi lisensi kepada makhluk ciptaannya dengan penilaian kita sebagai manusia biasa, yang boleh jadi mereka lebih baik dari kita di mata Allah.


Kembali lagi dengan cerita pertemuanku dengan penulis buku-buku anak seperti beliau, setelah mendengar wejeungan dari-nya dan ia pun menerima naskahku, selang beberapa menit aku berjalan dari Kwitang ke RSPAD Gatot Soebroto, tiba-tiba ada nomor telepon yang masuk dan terlihat asing.


Tetapi aku kenal dengan suara


parau lelaki di balik speaker handphone ku, Mas Agus Sasongko memintaku untuk


kembali ke kantor-nya. Ada apa yah? Apa jangan-jangan naskahku diterima?! Batin


ini bertanya-tanya.


Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi aku diperintahkan oleh-nya untuk ikut dengan


pria berbadan kekar yang saat itu hanya memakai celana pendek, mobil mewah yang


aku tumpangi bergerak menuju jalan Kalimalang, dan masuk ke sebuah basement Rumah Sakit swasta. Waduuh! Jangan-jangan aku diculik, dan memang orang yang duduk di balik kemudi itu terlihat antogonis dan mencari tahu latar belakang serta kepribadianku.


“Satu hari nanti, saya-lah orang pertama duduk di samping penulis besar.” Entah


menyindirku atau hanya ucapan mengisi kekosongan obrolan saja, yang jelas memang Mas Sis ini orang yang aneh atau jangan-jangan ia memiliki sixth sense.


Kami pun masuk ke dalam rumah sakit itu, ada yang membuatku semakin aneh dan timbul pertanyaan, “kenapa semua perawat dan dokter begitu hormatnya?” Rupanya ia


owner dari Rumah Sakit tersebut, panteees! Tetapi mengapa aku diajak ia ketempat ini? Apa hanya sebagai ajang dia memerkan kekayaannya? Pengaruhnya ? Atau ada maksud dan tujuan lain?! Dan aku tidak boleh berburuk sangka dan menduga-duga sesorang, jangan lantaran aku negative thinking hingga akhirnya mempengaruhi kebaikan seseorang.


Aku menulusuri lorong rumah sakit, hingga sampailah disuatu ruangan kantor yang


hanya orang tertentu saja yang diperbolehkan masuk.


Di sana sudah ada sutradara film Aku Cinta Indonesia, sebuah film yang sempat melejitkan nama almarhum Irwinsyah di tahun 1985, dia-lah sang sutradara itu. Semakin membuatku tidak mengerti dengan maksud Mas atau Pak Sis mengajakku ke tempat semacem ini.


Sampai akhirnya pertemuanku dengan mereka berakhir dengan menyisahkan tanda tanya besar, ada apa dengan maksud semua ini?! Apa maksud Pak Sis mempertemukan aku dengan Mas Irwinsyah, dan apa maksud dengan ucapan beliau yang mengaggap ia


orang pertama yang pernah jalan bareng dengan calon penulis besar?


Wallahu’alam...


Setiap Sabtu-Minggu sudah menjadi hari dimana menjadi siksaan batin untukku, padahal dua hari itu adalah hari libur kerja-ku, tetapi Amel tidak pernah ada di rumah. Semula ia meminta izin untuk membantu temannya yang anak-nya sedang sakit kanker tiroid.


Penyakit yang memang terbilang mematikan dan begitu ganas. Aku harus teloransi untuk halsatu ini, karena memang beberapa teman yang aku kenal mengidap penyakit seperti


itu, berujung pada kematian.


Alasan Amel ia harus menemani sahabatnya itu setiap Sabtu dan Minggu untuk berobat ke daerah Sukabumi, entah tempat apa aku pun


tidak tahu. Yang jelas, aku mencoba percaya dengan apa yang ia utarakan, selama


itu untuk kebaikan aku izinkan.


Mengapa Amelmemilih hari tersebut? Mungkin karena sahabat yang aku sering dengar namanya disebut bernama Nania hanya memilki waktu Sabtu- Minggu saja, selebihnya dari Senin sampai Jum’at ia kerja.


Diminggu pertama, semua nampak baik-baik saja tidak ada kejadian yang aneh, walau ada


yang membuatku risih, ketika tetangga mempertanyakan kemana istriku pergi? Itu


saja yang harus aku jawab disetiap Sabtu dan Minggu.


Di Minggu kedua, setelah ia pergi nampak ganjalan di hati, mengapa setiap kali aku


hubungi-nya dan tidak ia angkat, alasannya ia sedang menggendarai mobil, yang jelas- jelas setahuku Amel hanya memiliki SIM C saja, tidak ada SIM A.


Darimana ia bisa mengemudikan mobil sejauh itu ? Sedangkan tempo hari saja ketikaku berada di Palembang dan ia disuruh mengemudikan mobil saja ia menolak dengan alasan ini dan itu. Tetapi aku meng-iya-kan saja dan mencoba berbaik sangka, aku serahkan semua-nya sama Allah saja, maka seketika itu tenang pikiranku.


Diminggu ketiga, semakin terlihat jelas keanehan yang aku rasakan. Sepulangnya dari Sukabumi ia mencak-mencak dan marah, karena pakaian belum aku cuci dan rumah


yang saat itu memang berantakan, karena aku belum sempat dan lagi asyik menulis novel yang aku harus selesaikan.


“Ngapain aja siiih loh di rumah?! Apa harus gue yang rapihiiin lagi?! Heh! Gue bukan


pembantu dan loh nggak pernah ngerti kalo istri loh capek!!” Sambil membanting tas yang berisi pakaian miliknya.


Kali ini aku harus menentukan sikap dan berani untuk membantah, walau kemungkinan terburuk perang besar.


Sekalian aja kamu nggak usah pulang yaaank...” Bantahku simple.


Diluar dugaanku, ia pun mengambil kembali tas miliknya, bergegas meninggalkan rumah


dan aku pun panik, berharap Amel tidak melakukan hal senekad itu.


Bagaimanabisa aku ditinggal ia lebih lama, baru dua hari saja sebegini gelisahnya.


Dengan segala upaya aku membujuknya, walau aku bukanlah tipe cowok romantis,


yang bisa memeluk dan mencium keningnya.


Aku tidak bisa romantis, tetapi lebih cendrung memberikan perhatianku dengan sikapdan perbuatan.


Tetapi aneh, justru sebagian wanita lebih senang dengan ucapan dan bualan serta rayuan gombal dibandingkan dengan pria yang memilih dengan sikap termasuk Amel yang berkali-kali memintaku untuk romantis.


Dan aku harus belajar untuk hal satu ini, terkadang beberapa orang yang aku kenal


dan sudah membaca novelku, tidak percaya kalau aku bisa seromantis itu di dalam


tulisan.


Mereka mengenal sosok Haidar itu, orang yang suka humor dan nyeleneh dengan style-ku sendiri.


Tentang romanitis aku jauh dari itu, dan aku akui wanita akan bertekuk lutut dengan


para ‘marketing cinta’ yang begitu piawai memasarkan cintanya, walau mereka pun


tidak tahu apakah cinta itu memiliki kwalitas yang sama atau jangan-jangan tujuan para marketing cinta itu memberikan garansi, lantaran tidak berani menjamin bahwa cintanya itu bertahan dalam waktu lama, sekalipun ditinggal mati si pembeli-nya ?


Mungkin itu yang Amel inginkan, aku belajar untuk menjadi ‘marketing cinta’ walau apa surat nikah yang aku berikan belum menjadi jaminan bahwa cinta-ku tidak perlu bergaransi tetapi sudah memberikan bukti, bukan sekedar di lisan saja tetapi negara dan agama pun sudah memberikan jaminan


untuk itu semua, bagi Amel tidak cukup dengan aku menikahinya tanpa ta’aruf, pacaran apa lagi.


Duhai Rasulku, sudah kutunaikan sunah-mu apakah masih tak pantas untukku mendapatkan syafaat-mu? Dengan kerendahan hati, tolong engkau jawab, sekalipun waktu akan terus menunggu dari takdir yang aku sendiri tak pernah tahu seperti apa.


Sedangkan lisan-mu pun basah dengan ucapan, Illahi anta maqsudi, waridhoka matlubi, wahai Tuhan- ku Engkaulah tujuan dan keridhaan yang aku tuju.


Atini, berilah aku mahabataka wa ma’rifataka, kemampuan untuk bisa mencintai dan makrifat kepada-Mu, mengenal-Mu.


Tak lain hanya itu yang aku harapkan, hingga aku pun memutuskan untuk menikah.

__ADS_1


Entah syurga atau neraka yang berada di bawah telapak kaki istriku, aku menanti


jawaban itu...


__ADS_2