
Memang aku bukanlah orang yang sempurna dalam menjalankan ibadah, tetapi lagi-lagi
keyakinan yang membuatku untuk berani ber-spekulasi dengan hidup. Selama niat
yang aku kerjakan itu baik, maka baik pula yang kelak akan aku tuai.
Dalam pergaulan pun tak terbesit di pikiranku hanya memikirkan isi perutku semata,
dan aku yakin ketika kita memikirkan orang banyak maka banyak pula rezeki yang
Allah berikan untuk kita, tetapi disaat kita berpikir hanya untuk perut kita
pribadi, maka sebatas isi perut kita saja Ia berikan rezeki itu.
Sebelum berangkat, aku persiapkan apa pun yang menjadi kebutuhanku selama satu minggu,
hari ini aku harus membeli mas kawin, dan ini pun menjadi pengalaman pertamaku
ke toko emas. Uang Dua Juta Empat Ratus Ribu Rupiah untuk membeli 4 gram emas,
24 karat sudah aku siapkan. Faridz bersedia menemaniku untuk membeli emas
dengan harapan sedikit banyaknya ia paham lingkungan pasar, karena memang orang
tuanya berprofesi sebagaipedagang.
Tak perlu lagi, aku deskripsikan serta narasikan bagaimana suasana pasar siang itu,
seperti pasar pada umumnya, kalau sudah terik panas seperti ini bau anyir
terasa menyengat di hidung, panas matahari cukup mengerenyitkan dahi dan
membuat pandangan kita terbatas, karena sinarnya yang begitu menyilaukan mata.
Dari gang satu ke gang lainnya, aku menelusuri setiap sudut jalan di pasar. Memang
tidak banyak toko emas di sini, terhitung jari hanya dua toko yang cukup di
kenal, Cantique dan Liong. Aku lupa bahwa dihari-hari tertentu toko Liong itu
tutup, mau tidak mau aku ke toko Cantique membeli emas kawin.
Di depan toko, berjajar etalase berbagai ukuran, nampak puluhan perempuan rela
berdesakan untuk antri, entah mau membeli atau menjual emas mereka. Jujur aku
terlihat sedikit nervous, lagi pula hanya aku dan Faridz saja lelaki yang mau
ikut berdesakan. Terbesit di pikiranku, “ Katanya Indonesia negara miskin, kok
sebegini banyaknya yang antri beli emas?”
“Mau jual apa beli ?” Tanpa aba-aba wanita mengenakan t-shir dengan kerah terbuka
lebar, seakan sudah menjadi kewajiban bagi setiap penjaga toko di sini untuk
berpenampilan menggoda, sambil mikir.
“Apa hubungannya emas dengan kerah baju, make up tebal dan godaan binal? Ooh, ini
yang disebut pemikat?!” Ah, tapi untuk apa aku terlalu jauh memikirkan itu,
walau memang sedikit aneh. Tapi yang terpenting hari ini aku harus beli emas
kawin.
“Beli Mba.”
“Berapa gram mas?”
“Satu gram-nya berapa Mba?”
“Tiga Ratus Enam Puluh Lima Ribu.”
Rasanya aku ingin cepat-cepat mengakhiri tawar-menawar ini, disamping aku tidak
mengerti sama sekali untuk urusan satu ini, justru yang ada malah menjadi pusat
perhatian ibu-ibu.
Benar-benar dibuat kikuk, terlebih ketika si pelayan toko menanyakan, “ ukuran jari calon
istrinya berapa?”
“Adduuuh! Ini yang tidak pernah aku tanyakan sama Amel.”
Sesalku dalam hati.
“Kalau ukuran 17 itu seperti apa?” Tanyaku, sempat Amel memberikan aku clue ketika kita berbicara bentuk dan ukuran mas kawin yang ia inginkan.
Wanita itu dengan sabar dan kelihatannya ia masih bisa memaklumi kondisiku saat itu,
dan ia pun memberikan sample dari cincin berukuran 17.
“Gedeeee amaat Dar! Calon istri luh memangnya buruh cuci ?!” Guyon Faridz ketika melihat
ukuran cincin sebegitu besarnya.
“Sebentar mba, biar aku telepon calon saya dulu yah?”
Tak berapa lama, Amelmenyebutkan ukuran cincin yang sesuai
__ADS_1
jarinya, “ ukuran jari aku 14 yank.”
“Mba, rupanya ukuran jari calon saya 14.”
Setelah mengetahui ukurannya, si pelayan itu terlihat senyum-senyum sendiri, mungkin
melihatku sebegitu repotnya.
“Harap maklum Mba, saya baru pertama kali nikah. Kalau besok-besok nikah lagi mungkin
saya sedikit punya pengalaman.” Celotehku menghilangkan rasa malu.
“Memangnya istrinya dimana?” “Palembang.” Jawabku singkat “Jauh amat.”
“Yah mau bagaimana lagi, namanya juga jodoh Mba.”
“Ooh iya, bener...beneeeer...bener juga. Kalau sudah takdir mau dikata apa ya Mas?”
“Nah, itukan si Mba-nya tau takdir.”
“Terus model cincinya mau seperti apa?” Ia menunjukan jenis model mas kawin, mulai
dari yang sederhana sampai ke model dengan aksen yang terlihat ribet. Aku pun
mencari yang tidak terlalu sederhana dan tidak juga terkesan mewah.
“Kalau di ukir nama-nya nambah berapa lagi? Terus beli box-nya ada?” “Tambah Lima
Puluh Ribu, itu sudah plus tempatnya.”
“Jadi totalnya?”
“ Satu Juta Lima Ratus Sepuluh Ribu, itu sudah semuanya.”
Aku hitung kembali uang yang aku bawa dan ternyata masih tersisa Satu Juta setengah
lagi, dan ternyata harga emas yang aku siapkan itu diluar dari perkiraan.
Alhamdulillah, dengan begitu aku bisa sisikan untuk ongkosku dan bekal di
perjalanan nanti.
“Rid, habis ini kita pulang dulu, taruh emas-nya dan temenin ke terminal, mau?”
“Atur aja Dar, selama gue nggak bisa ngebantu loh dengan materi, setidaknya bisa
bantu loh wara-wiri, untuk satu hari ini kemana pun loh pergi gue siap
nganterin.”
Syukurlah, akhirnya ada teman yang bersedia memberikan tumpangan untukmempersiapkan segala
motor, terdengar samar seperti orang memanggil namaku.
“Haiiidaaar....” Pandanganku
mencari sumber suara ke setiap penjuru, “Rid, denger ada yang manggil nggak?”
“Denger. Seperti suara si Vicky. Oooh, ituu orangnya!”
Faridz pun menghentikan laju kendaraannya dan mendekati Vicky. Sepertinya ada
pembicaraan penting, atau hanya sekedar menegur saja.
“Loh mau kemana boy?” Tanyaku yang kerab memanggilnya Boy, karena memang bentuk
wajahnya mirip Ongky ‘Si Boy’ Alexander.
Dan ia sahabatku semenjak kami duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, yah boleh
dikatakan hampir seperti saudara angkat. Di Jakarta ia seorang diri, pasca permasalahan
besar menimpah dirinya, dua Kakak perempuannya tinggal di luar Jakarta, begitu
juga sang ibu yang sedang sakit stroke, sama seperti ayahku, Mamah biasa aku
memanggilnya, ia juga meninggalkan cacat permanen pasca stroke.
“Katanya loh mau cabut ke Palembang, kok belum berangkat?”
“Sehabis ini mau beli karcis. Ikut ke Palembang yuk Boy?”
“Ke Palembang? Lah deket.” Sindirnya.
“Berapa hari?” Vicky kembali bertanya.
“Paling cepet tiga hari.”
“Tapi gue sama sekali nggak megang duit Dar!”
“Insyallah, kalo untuk ongkos sama makan dan bekal di sana, uangnya masih cukup.” “Serius
nggak niih?”
“Ya Allah, kapan gua bohong. Yaudah, kalo memang mau ikut, biar dibeliin tiketnya
dan sekarang siapin pakaian yang mau di bawa.”
“Berangkatnya kapan?”
“Jam tiga sore nanti. Sambil nunggu loh pripare gue bawa bokap dulu ke Pasar
__ADS_1
Minggu.”
“Ngapain?!”
“Berobat. Jadi sebelum kita berangkat biar ninggalin bokapnya tenang, sengaja gue bawa
dulu ke Haji Agus, untuk terapi akupuntur.”
“Yaudah, gue tunggu di rumah loh!”
Sehabis membeli tiket, aku lanjutkan serangkaian acara selanjutnya yakni membawa ayah
ke tempat Haji Agus, beliau ahli akupuntur yang pertama kali mengobati ayah
sampai bisa berjalan.
Untuk sekali berobat, walau tidak ada ketentuan tarif harganya, setiap kali berobat
aku biasa memberikan Haji Agus sebagai pengganti biaya berobat minimalnya saja
seratus ribu, belum lagi harga obat, untuk satu botol obat China, aku harus
bayar dua ratus lima puluh ribu. Jadi, total biaya untuk sekali berobat itu
tiga ratus lima puluh ribu. Belum lagi biaya sewa mobil, yang aku rental dari
Pak Rt Ma’ruf Ali, setidaknya harus mengisi premium, kurang lebih seratus lima
puluh ribu. Total sekali berobat itu, aku harus
keluarkan biaya lima ratus ribu. Jadi, uang yang tersisa aku belikan dua buah
tiket dan bekal selama di perjalanan nanti.
Aku lihat nanar di kedua pasang mata mereka, aku merasa bibir mereka bergetar entah
ingin menangis sedih atau bahagia. Seolah aku tidak akan kembali lagi ke
Jakarta dan menetap di sana, di sebuah kota yang di ambil dari sebuah buku yang
di tulis pada tahun 1178, Pa-lin-fong yang terdapat pada buku Chu-fan-chi yang ditulis oleh Chou-Ju-Kua, hingga akhirnya dikenal dengan nama Palembang.
Seolah mereka tidak rela aku direbut siapa pun juga, seakan tatapan mata mereka
bicara, “ Nak, maafkan kami yang tidak bisa hadir di hari bahagia-mu, engkau
tahu kini kami tak berdaya, hanya do’a dan restu kami yang menguatkan
langkah-mu. Hati-hati yah Sulung, titip salam untuk wanita yang sudah berhasil menaklukan
hati-mu, wanita yang sudah merenggutmu dari pelukan kami. Kamu- lah
satu-satunya anak lelaki yang kami miliki, setelah adik-mu dipanggil sang Maha
Kuasa, tinggallah kamu yang kelak merawat kami sampai nanti, sampai Allah
memanggil kami untuk kembali pulang, menutup senja.”
Aku merasakan bagaimana terpukulnya Ayah, menyesal dengan kejadian yang tengah ia
alami. Aku tahu bagaimana perasaannya, kalau saja dia dapat bicara, “ Haidar,
sungguh Ayah tak mampu menjadi orang tua yang baik, tak pernah Ayah bisa
bahagiakan anak-anak Ayah, sampai menjelang hari pernikahanmu aku sendiri tak
berdaya. Haidar, maafkan Ayah nak! Sekali lagi bukan kami tak ingin
membantu-mu. Kamu pun tahu, kini kami hanya bisa bersandar pada putra-putri
kami. Dan kami meminta kepada Allah, jangan terlalu lama kami merepotkan anak
dan cucu kami.”
Ya Allah, kami ikhlas jika sakit yang aku rasakan menjadi penawar dosa, aku
titipkan anak dan cucu kami kepada –Mu. Jaga mereka Ya Illahi, ketika kami tak
mampu lagi menjaga-nya. Lindungi lah mereka Ya Rabbi, ketika kami tak kuasa
untuk melindunginya.
Ayah mengusap kepalaku, seakan memberikan isyarat, “ Hati-hati di jalan yah nak!”
Namun, lagi-lagi ia tak berdaya, nikmat bahasa yang dimilikinya sudah diamabil
si pemilik-nya.
Aku coba tegar, aku harus terima kenyataan ini, kalau boleh memilih tak ada satu
orang pun ingin menikah tanpa disaksikan oleh orang tua mereka. Inilah moment
yang begitu sakral, dimana restu keduanya sangat dinanti-nanti, ketika sepasang
remaja berdaulat janji bersimpuh di hadapan keduanya, seraya meminta do’a
semoga menjadi keluarga yang Sakiinah Mawaddah Wa Rahmah, senantiasa diberikan
ketenangan, ketentraman dan bunga-bunga cinta yang selalu tumbuh dalam taman
kasih sayang.
__ADS_1