
Selang beberapa jam, Haidar pun memenuhi panggilan untuk menghadap owner perusahaan, dari cara ia menyambut Haidar terlihat begitu energic sekali orang-nya dan memang mental-mental ‘sang pemenang’ itu tidak layu, sepintas begitu ramah dan bersahabat.
“Dulunya kerja dimana Haidar?” Tanya Pak Amir, si Pemilik perusahaan dengan wibawanya.
“Nulis buku dan bantu-bantu temen di tv-program.”
“Sudah berapa buku yang sudah diterbitkan?” Sepertinya ini interview ringan sekaligus
ingin membaca karakternya yang ceplas-ceplos, tanpa topeng dan apa adanya.
“Alhamdulillah, sudah lima buku, dua buku pakai nama sendiri dan tiga buku beli putus.”
“Maksudnya beli putus?”
“Saya hanya menulis saja dan draf ide dari si klien yang ingin mengeluarkan buku. Jadi saya dibayar sebagai upah menulis saja.”
Percakapan mereka tidak hanya seputar pribadi Haidar, tetapi melebar ke ranah politik, ekonomi dan sosial, pertanyaannya semakin mengerucut dan semakin jelas apa yang dibutuhkan perusahaan darinya, ada nilai lebih yang Pak Amir temukan dalam diri Haidar, ‘sudut pandang yang berbeda dalam memandang sebuah peristiwa.’ Dan pada akhirnya, ia diterima kerja di perusahaan portal cerita yang berkantor di kawasan elit di Pusat Jakarta, Pasuruan.
“Silahkan kamu ketemu Mas Yama, untuk pembicaraan lebih lanjut-nya.”
Haidar pun masuk ke dalam ruangan yang terpisah dari karyawan-karyawan lainnya, ruangan yang begitu tenang, di atas meja terlihat jambangan, Ipad, Note Book dan frame photo wanita cantik mungkin istrinya.
Dari property dan setting dekorasi ruangannya mencerminkan diri bahwa ia seorang manager atau bisa jadi Mas Yama ini HRD di perusahaan tersebut.
“Begini Haidar, kamu di perusahaan ini memiliki hak diantaranya gaji pokok, tunjangan kesehatan dan kenaikan gaji jika kerja kamu baik dan maksimal. Sampai sini ada yang kamu mau tanyakan?”
“Oh sudah cukup pak.”
“Perlu kamu ketahui juga Haidar, jam kerja kita itu masuk jam sembilan pagi sampai jam
lima sore.”
“Baik pak.”
Setelah dijelaskan panjang lebar tentang hak dan kewajiban karyawan, Haidar pun meninggalkan ruangan, bergegas menuju loby kantor, lalu pulang setelah pamitan dengan beberapa orang kantor yang aku kenal, seperti Mas Adi dan Ibrahim.
“Kapan loh mulai kerja?”
“Insyallah besok Mas.”
“OK. Gua tunggu besok yah?”
“Iya. Tanks Mas. Assalamu’alikum.”
__ADS_1
Dengan langkah penuh harapan, ia meninggalkan rumah mewah yang disihir menjadi kantor sebegitu asri, sayup rimbunya pepohonan menambah sejuknya suasana walau di tengah kota,tepat di pertigaan jalan Pasuruan-Menteng.
Entah ini satu kebetulan atau memang Allah telah merencanakan ini semua, ketika Haidar bimbang tentang profesinya, justru Allah memberikan jalan untuknya sejenak menggadaikan idialisme menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan.
Seperti menjadi warga baru dalam perusahaan, di tengah-tengah meeting pagi namaku berkali-kali disebut Pak Amir seraya memperkenalkan Haidar kepada sejumlah staf dan karyawan-nya.
Rupanya ini sudah seperti tradisi tersendiri bagi perusahaan tersebut untuk memperkenalkan karyawan baru, sekaligus membahas langkah dan progres untuk mempertahankan rating di website yang memiliki standarisasi alexa, istilah itu baru-baru ini saja aku mengenalnya.
“Sampai sini ada yang mau memberi masukan?” Tanya si Bos yang ternyata orang dekat dengan petinggi di negeri ini.
Tak ada satu pun yang mau memberikan masukan dan pertanyaan, hingga akhirnya ia memberanikan diri.
“Pak mohon maaf, terlepas dari pembahasan ini semua saya sebelumnya minta izin, bulan depan mau menikah. Jadi, jauh-jauh hari saya meminta restu sekaligus izin cuti.”
Kontan seisi rapat tercengang dan mungkin terbesit di hati mereka, “ Ini anak baru kok nekat amat, ngomongin masalah pribadi di dalam forum?”
“Haidar, sehabis meeting kamu ke ruangan saya.” Dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun ia meminta dirinya untuk ke ruangan.
Tanda tanya besar, “Ada apa gerangan?” Semua mata tertuju padaku, seakan ada sesuatu yang ganjil-mengganjal dan dianggap tidak wajar.
“Iya Pak.”
Tiga puluh menit sudah dan breafing pagi pun berakhir, seperti apa yang diperintahkan dan ia segera memenuhi panggilannya. Masih saja ada mata-mata yang mencurigai dan mengkhawatirkan maksud Pak Amir memanggil Haidar ke ruangannya, apa karena ia kurang sopan? Seribu pertanyaan pun tak akan terjawab jika tidak ia hadapi.
Perlu mental dan nyali yang besar untuk mengetuk daun pintu-nya saja dan ini pengalaman pertamaku masuk ke ruang Chief Executive Officer sekaligus owner perusahaan tersebut.
Haidar basahi bibirny dengan bismillah, moga saja ia tidak terkena marah, padahal ini hari pertamany masuk kerja.
“Iya, masuk.”
Tidak kalah nyaman dengan ruangan milik Mas Yama, beberapa gelas, sofa, jambangan dan lukisan terlihat mewah, terlihat juga beberapa pelakat yang terbuat dari perunggu menghiasi lemari yang terbuat dari kayu jati.
Terkejut Haidar ketika melihat ada bentangan sajadah di sisi meja kerjanya, dan beberapa tafsir Al-Qur’an, membuat saya semakin yakin bahwa bos sepertinya masih mengedepankan toleransi dan paham dengan konsep adil dalam memimpin perusahaan.
“Silahkan duduk Haidar.”
“Makasih Pak.”
Ia pun menyuruput secangkir kopi susu yang sudah tersedia di meja dan sesekali ia meghisap rokok dalam-dalam, namun tak banyak asap yang dikeluarkan.
“Maaf, saya sambil merokok yah?”
“Oh, nggak apa Pak.”
__ADS_1
“Haidar, selama puluhan tahun saya memulai membangun perusahaan. Selama itu juga karyawan saya bertambah dan terus bertambah, sampai akhirnya mencapai ribuan orang.” Sepertinya ada acara curhat colongan niih.
Tak apa hitung-hitung dapat pelajaran leadership gratisan dan memang Haidar senang mendengarkan cerita- cerita orang yang berhasil dalam usahanya, kenapa meraka bisa sedangkan ia tidak bisa?!
“Sebanyak itu karyawan saya, tetapi tidak ada satu pun yang mempunyai nyali seperti apa yang kamu lakukan tadi.” Lanjutnya.
“Maaf Pak, kalau sikap dan perilaku saya salah tadi. Itu benar-benar spontan, nggak pake perhitungan atau duga-duga.” Haidar mencoba membela diri.
“Asal kamu tahu, dari situ saya tahu karakter dan dari situ juga saya tahu apa yang harus saya lakukan sama kamu.”
Semakin dag-dig-dug, jantung berdebar tidak menentu. Ia tidak tahu maksud Pak Amir berucap seperti itu, sepertinya ada diskriminasi yang akan ia jatuhkan untuknya.
“Saya mau tanya, seberapa besar kamu merasa memilki perusahan ini?”
“Boleh saya menjawab Pak?”
“Silahkan.”
“Bagi saya, tempat kerja itu seperti rumah kedua. Mau tidak mau saya harus merasa memilki perusahaan ini.”
Terlihat senyumnya merekah di balik bibir yang walau sudah nampak tua, tetapi Pak Amir masih terlihat gagah dan sehat.
“Apa yang kurang dari persiapan pernikahan kamu?”
“Sama sekali belum ada persiapan Pak, hanya niat dan rencana yang sudah saya sampaikan ke orang tua calon istri, dan kami sudah tentukan tanggalnya.”
“Saya akan berikan kamu uang anggaplah sebagai bentuk ucapan terimakasih saya, karena kamu sudah mau bergabung di perusahaan saya.”
“Waaah! Tidak bisa begitu Pak. Biar saya pinjam saja dan setiap awal bulan saya cicil untuk mengembalikannya.”
“Kalau pun kamu kembalikan, saya suruh Bu Caroline untuk memberikannya lagi ke fakir miskin.” Sepertinya Pak Amir sudah tersinggung dengan ucapannya dan Ibu Caroline yang beliau maksud itu yang tak lain adalah bendahara di kantor.
“Wah maaf Pak. Yasudah kalau itu memang keinginan Bapak, saya terima dengan ikhlas, semoga Allah mudahkan dan lapangkan segala urusan bapak. Amin.”
“Amin. Tanks Haidar...”
“Saya yang seharusnya berterimakasih sama Bapak.”
“OK. Bantu dan kerja yang benar yaah Haidar?”
“Siap Pak.”
Terbukti, bahwa Dia-lah yang akan membukakan jalan,”....Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
__ADS_1
Semakin yakin aku, benar-benar Allah mudahkan segala urusanku, Allah lapangkan rezekidan Allah bukakan segala pintu Rahmat-Nya ketika Haidar berniat ingin menikah demi menjaga kehormatanku, keluargnya dan agama nya.