
Dan kami pun bergegas meninggalkan PDS. HB Jassin menujuh masjid Amir Hamzah tepat di belakang Graha Bhakti Budaya. Sehabis sholat, kami coba melanjutkan obrolan yang masih tersisah untuk dibahas tuntas.
“Lumayan-lah 30 menit untuk tenangin diri, sambil membahas apa saja yang akan kita
ketengahkan.” Bisikku dalam hati yang masih menyimpan rasa penasaran dengan Astrid.
Aku simpati sekaligus amat menyayangkan, mengapa semua datangnya terlambat, tidak
lebih dan aku pun sadar mau tidak mau pernikahan ini harus dilangsungkan yang
tinggal menghitung hari saja, walau sepeser pun aku tidak memiliki uang.
Kalau terlalu dipikirkan otak ini tidak sanggup untuk menampung semua beban.
Rimbun pepohonan memayungi kami, ranting yang jatuh di hadapanku mungkin bagi si tukang kebun itu adalah hal yang biasa, tetapi tidak bagi seorang peneliti ranting yang jatuh ia anggap sesuatu yang perlu diketahui lebih dalam lagi penyebab jatuhnya.
Begitu juga ketika kita menghadapi masalah mungkin hal kecil saja bisa terlihat besar, begitu juga sebaliknya hal besar terlihat kecil hanya bagaimana cara kita menyikapinya.
Belum sempat kami duduk di rindanganya pepohonan, baru saja Astrid ingin melabuhkan tubuhnya di tempat duduk terlihat tulisan ‘Batak’ dengan tinta hitam. Dan Astrid hanya tertawa melihat tulisan tersebut.
“Trid, liat ini?” Aku mengarahkan jari telunjukku ke satu kata, ‘batak’ padahal baru beberapa menit yang lalu Astrid berkeinginan memiliki pasangan hidup seorang penulis berdarah batak. Walau sedikit lebay, aku berprasangka usil,” Apa iya kamu takdirku? Atau ini hanya kebetulan saja?” dan Astrid pun hanya melempar senyum semakin terlukis jelas lesung pipih gadis itu. Semua sudah terlambat!
Dari nanar wajahnya terlihat ada setitik cahaya yang jika aku artikan bahwa ia pun
amat menyesal dengan apa yang sudah terjadi, ‘Kenapa kita tidak kenal dari awal? Disaat semua-nya masih bisa dirubah!?” atau ini hanya embun yang jatuh sesaat dan terbias mentari pagi, lalu hilang. Apakah ini hanya harum wewangian daun jeruk yang seketika disayat lalu wanginya pun hilang terbawa angin?!
Waktu menyeret kami untuk segera menunaikan tugas, setelah tuntas barulah apa pun yang akan kami lakukan sudah terasa lega.
Seperti acara pada umumnya, setelah sambutan ada beberapa dari tamu undangan yang ingin mengisi acara, seperti Dian Kelana dia seorang blogger yang sudah mengenal sosok Bunda di forum sosial dia mengapresiasikan moment ini dengan membacakan puisi, ada juga seorang penulis yang pernah berdikari di Hongkong, Tari dia pun membacakan sebuah puisi, selebihnya mereka yang mengenal sosok Tari berkomentar dan bercerita sedikit banyaknya kiprah seorang wanita berumur senja ini yang terus berkomitmen dengan jalan hidupnya sebagai penulis, hingga menghantarkan seorang Bunda berkeliling dunia, lantaran karya-karyanya.
Malu rasanya jika aku bercermin kepada beliau, dengan sakit yang menahun dan
menggerogoti dirinya masih saja ia tetap berkarya, hebat! Sedangkan aku hanya beberapa tulisan saja yang sudah diterbitkan dan tidak seberapa jumlahnya bila dibandingkan dengan karya-karya yang terlahir dari buah pemikiran wanita yang
ternyata sudah pernah berkunjung ke negara Timur jauh.
Detak jarum jam terus memburu, walau terseok tetap berdetak dan melaju. Serangkaian terstimoni tentang sosok wanita berbusana muslimah ditambah dengan aksen bunga berwarna ungu, warna yang difilosofikan dengan cerminan ketegeran seorang wanita merawat dan membesarkan putra-putrinya seorang diri, terdengar lirih
ketika putrinya bercerita, “ kita pernah mengemis-ngemis royalty di sebuah kantor majalah lantaran memang tidak ada makanan di rumah.”
Kini apa yang aku lihat di hadapanku, semakin membuat keyakinanku bertambah dan jelas, mereka yang kini menjadi orang besar, memang dibesarkan oleh kepedihan, keperihan dan air mata.
Hingga akhirnya mereka mampu memperoleh apa yang kini ia dapatkan buah dari konsekwensi jalan hidup yang dipilih, jika baik maka akan baik pula buah yang dipetik.
Usai sudah acara, ditutup dengan do’a dan photo session bersama seorang penulis senior yang bertahan hidup dari karya-karya-nya.
Bunda terlihat seperti selebritis, percikan lampu blitz kamera seperti kembang api yang begitu indah menghiasi langit-langit malam, seperti Bunda diusia senja tampak berkilau indah dengan karya-karyanya.
Jangan lihat ia sekarang tetapi lihat ia di masa- masa lalunya, dan bagaimana ia mendapatkan ini semua, itu yang terpenting.
Mataku terus menembus pandang sosok Bunda yang begitu terlihat senang menyambut para tamu yang sudah menghadiri acaranya, ingin pamit rasanya malu hati, kalau pun pulang diam-diam tidak nampak tidak santun.
Ah, tunggu beberapa menit lagi, mungkin ia akan menghampiriku dan berharap ada sedikit cendra mata yang beliau berikan untukku, yaah, walau sebatas ongkos pulang sudah cukup untukku.
Di saku celana, hanya ada ongkos untuk pulang dari Megaria ke Grogol, setelah itu
aku bingung untuk menyambung perjalanan. Aku coba cari-cari perhatian Bunda, kali saja ia menghampiriku.
Lagi- lagi langkahnya untuk mendekatiku terhalang tamu yang menyapa dan meminta foto bersama, ada juga yang meminta untuk membubuhi tanda tangan di buku yang sudah mereka beli.
Dengan langkah gontai aku menyisir satu persatu anak tangga, tanpa meminta izin
pulang. Satu- satunya jalan, aku harus ngamen dari Grogol sampai ke rumah.
Cara seperti ini pernah aku lakukan ketika memang kepepet tidak punya ongkos sama
sekali. Mau tidak mau yah memang harus seperti ini, atau kalau tidak tahu malu
__ADS_1
meminta kepada kondektur untuk numpang. Resikonya, pasti dicemberutin sepanjang jalan.
Tinggal beberapa anak tangga lagi, tiba-tiba saja,”Abaaaang, mau pulang bareng nggak?”
Suara parau itu muncul dari belakang tubuhku, aku coba melihat ke belakang. Rupanya Astrid yang mengajak aku pulang bareng.
“Abang sholat Ashar dulu yaah Astrid?”
“Ikut Bang...Aku juga belum sholat!”
Tak berapa lama aku kenal dia, tidak berapa lama juga sudah terlihat akrab. Seiring
sejalan kami banyak bercerita tentang dunia tulis.
“Aku bukan penulis, tapi pendongeng.” Guyonku
“Oh, iya bagaimana kalo kita coba nulis bareng.”
Langkah kaki Astrid terhenti, tak sadar aku sudah berjalan dua langkah lebih dahulu.
“Loh, kok berhenti neng?” Mulai saat itu aku memanggil dia dengan nama ‘Neng’ kalau diartikan istilah itu panggilan (kata sapaan untuk anak perempuan atau seorang gadis).
“Abang serius?!”
“Lah, kenapa nggak serius? Seriuslaaah!”
Aku lanjutkan pembicaraanku, “bagaimana kalo kita buat novel?” Aku mencoba menyamakan langkah, seiring sejalan dengannya.
“OK. Siapa takut!”
“Selepas sholat Ashar kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, bagaimana?”
“Siap booss!”
Dedaun kering jatuh berguguran, mengiringi kami menelusuri jalan menujuh Masjid Amir
namun hanya waktu saja yang terlambat, atau lantaran aku terburu-buru dalam menentukan sikap. Jangan-jangan Allah punya rencana lain dengan semua ini, wallahu’alam.
“Ah, bagaimana pun sesempurnanya Astrid belum tentu dia baik untukku, mungkin saja
jika kita berjodohan ia akan mendominasi dalam rumah tangga, karena terlihat
dari cara ia bersikap dan berbicara, benar-benar wanita cerdas.” Bantahku menepis penyesalan di dalam hati.
“Kenapa kamu datangnya terlambat Trid?!” Sisi lain hati ini membantah dan masih saja menyisahkan ketidakikhlasan dengan keadaan yang sudah terlanjur terjadi.
Aku coba menerima keadaan, bagaimana pun juga aku harus bersyukur. Apa yang Allah
berikan, maka itulah yang terbaik. Bukankah lantaran niat yang sudah terpatri di hati untuk melangkah dan menikah, Allah sudah bukakan pintu rezeki yang tidak pernah aku sangka-sangka.
“Kalo boleh jujur aku nyaman sama abang.”
Aku tertegun, menatap wajah-nya yang masih terlihat basah dengan air wudhu, aku lihat alisnya masih terlihat beberapa tetes air yang tersisa, “Astrid kenapa kamu bunuh aku dengan penyesalan!” Sungguh aku tidak mampu menguasai diri, kepala ini rasanya mau pecah.
“Abang....” Gadis itu tertunduk sambil memperhatikan apa yang tertulis di bawah pohon beringin, jemarinya menari mengikuti bentuk tulisan,’batak’.
Seakan ia mengisyaratkan untuk aku berani memutuskan, hentikan pernikahanku yang
memang hampir batal, gara-gara aku berpura-pura mengirim pesan via short
message service kepada Nanda dan mengaku sebagai mantan-nya.
Tak disangka, Nanda membalasnya dengan SMS nakal. “Allahukabar!”
Darah mendesir begitu hebat, jantung berdetak kencang dan akalku mati untuk
berpikir sehat.
__ADS_1
Aku lelaki normal yang masih memilki rasa emosi, mau tidak mau aku harus bicarakan
ini kepada orang tuanya Astrid, walau lewat telepon, karena tidak mungkin aku harus pergi ke Sumatra untuk bicara dengan orang tuanya hanya gara- gara SMS dan keinginanku untuk mengurungkan niat dan membatalkan pernikahan ini.
“Aduh nak, jangan kau mempermalukan kami di mata orang banyak. Kabar kau ingin menikah dengan Nanda sudah mama sampaikan ke sanak saudara semua.
Malu kalo sampai pernikahan ini tidak jadi! Mau ditaruh dimana muka kami?!”
“Jadi tolonglah selamatkan pernikahan ini, nanti setelah kalian menikah, terserahlaah!”
Masyallah, ini satu bertanda buruk. Tetapi menurut pengalaman teman-teman yang pernah menikah memang begini ujian ketika menjelang pernikahan, karena syaitan itu
paling benci melihat anak remaja yang ingin menyegerahkan pernikahan, terlebih aku yang menikahi Nanda tanpa pacaran, tanpa ada kontak fisik dan saling bertatap wajah, kami hanya kenal sekali bertemu itu pun gara-gara aku meminjam sajadah untuk sholat, selebihnya sepuluh tahun lebih baru diketemukan lagi. Dan aku yakin bahwa Amel itu wanita baik dari keluarga yang baik juga.
Tiada alasan lagi untukku membatalkan pernikahan, aku harus tunaikan semua janji ini, semua kata yang sudah terlanjur terucap, kalau memang niatku menikah karena
Allah maka aku serahkan semuanya kembali pada Allah.
Aku hanya dari wayang yang harus melakoni apa yang ingin dalang perbuat dengan ini semua, demi sebuah panggung sandiwara, yah dunia ini.
Dan aku harus rela untuk menjadi Togog, Bilung,Limbuk, Cangik dan Semar sekali pun, sekali lagi aku hanya melakoni hidup ini sesuai skenario yang Allah ingin berikan.
Dan ingat! Hanya mereka yang profesional dalam memerankan apa yang sudah Allah gariskan, itu-lah mereka para artis profesional dan upah yang diperolehnya pun berbeda dengan pemain amatir.
Aku mencoba berpikir positif dengan apa yang sudah terjadi dan demi menjaga kehormatan mereka yang sudah menitipkan do’a dari pernikahan kami. Ayah yang begitu
senangnya mendengar aku ingin menikah, walau keadaanya sungguh memperihatinkan.
“Ayah, mohon do’a restu-nya aku mau menikah dengan Nanda. Dan Ayah tidak perlu banyak memikirkanku dan pernikahan ini, yang Haidar inginkan Ayah jaga kesehatan, teruslah berdoa semoga Allah mengangkat sakit Ayah.” Aku bisikan kata- kata ini di telinga, lelaki yang dahulu perkasa kini tak mampu bicara, ia bisu setelah pembuluh darah di kepalanya pecah, Ayah terserang
stroke hampir satu tahun ia bertahan dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, walau keadaan Ayah butuh biaya banyak untuk berobat tetapi bagaimana pun juga aku harus menyempurnakan diriku sebagai lelaki muslim.
Selepas meminta restu dari Ayah, aku pun coba bicara dari hati ke hati kepada Mama yang tengah terbaring menahan sakit syaraf di tulang belakangnya yang membengkok.
“Mah, aku mohon do’a dan restu-nya, Haidar ingin menikah mudah-mudahan istriku kelak
dapat meringankan beban Ayah dan Mamah, setidaknya ia mau merawat dan menjaga
kalian. Bukan Haidar mengabaikan sakit yang Mamah rasakan tanpa harus mencoba
mencari pengobatan atau juga bukan Haidar tidak perduli dengan sakit yang Mamah
dan Ayah alami, justru aku berharap semoga Allah membukakan pintu rezeki untuk
kita semua. Aku yakin Allah menolongku dengan pernikahan ini dan aku yakin
malaikat pun senantiasa mendoakanku ketika ijab-qabul aku lafadzkan nanti. “
Ayah terisak-isak menahan tangisnya, karena aku tahu walau ia tak lagi dapat bicara.
Aku yakin Ayah begitu menyesal dan tidak ingin mengalami sakit seperti itu,
kedua adikku terlebih dahulu menikah ketika Ayah masih sanggup mencari nafkah
untuk membiayai Walimatul Ursy meraka, sedangkan aku mencari uang sendiri tanpa mengharapkan dari kedua orang tua, dan Ayah merasakan ini adalah pukulan baginya untuk menunaikan kewajiban beliau untuk melepas putra sulung-nya ke pelaminan.
Mamah pun menangis, aku tahu dalamnya perasaan beliau yang tidak bisa menghadiri
pernikahanku nanti, tanpa ada saksi hanya aku sendiri menyebaringi Selat Sunda, melintasi pulau Sumatera untuk menjemput takdir-ku.
Orang tua mana yang tega? Dan orang tua mana yang tidak ingin menyaksikan anak pertamanya menikah!?
Aku paham dengan air mata yang tumpah di kedua pasang mata, dan keduanya pun
terbaring tak berdaya.
Bersambung >>>
__ADS_1