
“To think god is closest. Until no more limitations for you to tell. Even just a wound you whisper, god will always smiling and hug you to be warmth.”
( Hasan Al Bana )
Aku berpikir bahwa Allah itu begitu dekat, hingga tak ada batasan untuk-ku bercerita, sekalipun luka yang aku bisikan, ia akan tetap tersenyum dan memeluk-ku hangat. Apa yang terjadi dan misteri waktu itu akan menjawab, karena tangan-tangan Tuhan akan membuka aib tentang siapa pun yang menyimpan bangkai, walau tersimpan rapih dalam lemari besi sekalipun, Ia mampu tunjukan aib yang tersimpan begitu rapat.
Seperti Amel yang begitu halus dan apik menyimpan aib-nya sendiri, Allah tunjukan dan mengungkap tabir rahasia ini, tanpa harus pergi ke Moguicheng, kota misterius di China, atau bersemedi di gunung Kawi hanya untuk mengemis pada kekutan ghaib demi membuka topeng seseorang, resepku hanya do’a Kumayl, bagiku ini bahasa hati karena Allah sendirilah yang meminta untuk kita berdo’a, “berdo’alah niscaya aku kabulkan.”Dan Ratib Alhaddad yang berlahan-lahan menjadi amalanku, disamping sholat Istikhara, Hajat dan Tahajud sampai akhirnya melalui tangan-tangan-Nya berhasil menyingkap ini semua.
Tanda merah di tubuh Amel jelas itu bukan memar biasa, kepergianya di malam takbiran yang ternyata memadu asmara dengan pria lain, itu yang aku dapatkan berita dari Ayu, surat nikah yang terjatuh ketika usai ku tegakkan sholat hajat ,Istikharah dan Dhuha. Prihal kedatangan Ayu yang begitu tiba-tiba dan ia ternyata sampai membeli buku-ku hanya untuk mencari tahu alamat dan identitas diriku.
Sampai akhirnya aku menyaksikan pemandangan secara live kejadian yang sunggu menginjak kepalaku sebagai seorang suami dan sekaligus imam untuk istriku Amel.
Dan fitnah pun mulai menghampiriku, ketika aku jelaskan kejadian ini semua kepada kedua orang tua Amel. Ia menganggap aku perlakukan putrinya kasar, suka bermain tangan dan sering selingkuh. Allah Karim! Entah darimana kabar berita tersebut. Rupanya Amelyang menceritakan itu semua dan pandai- nya ia memutar balikan fakta. Aku berani bersumpah, tangan ini tidak memiliki kekuatan untuk memukul bahkan menyentuh serta memperlakukan Amel dengan kasar.
Lidah ini tidak sanggup untuk berkata yang mampu menyinggung perasaan-nya, seburuk apa pun Amel, ia tetaplah istriku yang aku pilih dengan meminta petunjuk dari Allah, untuk menjadi pendamping hidupku. Bukan semata-mata berdasarkan hawa nafsu saja, tetapi aku menikah bukan lantaran tak mau tertinggal kereta, disaat teman-teman sebayaku sudah memiliki putra dan putri, tetapi aku asik dengan duniaku sebagai seorang penulis, setelah selesai aku tulis, entah kemana aku kirimkan naskah ini, aku pun tak pernah tahu.
Apa yang menuntunku untuk menjadi penulis yang jelas-jelas bukan tempat untuk mencari kekayaan, sekalipun ada buku yang laku dipasaran itu pun rezeki atau anggaplah sebagai bonus sebagai penulis. Jangan bermimpi untuk menjadi orang kaya raya, hanya dari menjual naskah. Walau banyak penulis muda yang memang hoki dengan profesinya.
Bagiku, cukup aku niatkan karya yang aku buat ini sebagai sumbangsih-ku bagi satu peradabaan, yang aku malu hanya menjadi penonton saja. Selebihnya bonus pahala yang aku cari, walau terbilang terlalu naif dan terkesan munafik kalau aku tidak butuh royalty, tetapi bagiku menghasilkan karya yang memiliki ruh, dan mampu membuat orang asik ingin melahap hasil karya yang kita buat dalam waktu singkat, itu sudah cukup membuatku bernafas lega.
Sehingga tidak ada sesal bagi meraka yang memang sudah membeli buku yang sudah diterbitkan. Karena masyarakat di negeri ini lebih memilih membeli beras ketimbang harus menghabiskan uang hanya untuk membeli buku, tak apa-lah....
__ADS_1
Yang jelas aku sudah kehilangan bintang dalam hidup-ku, ia yang menjadi ruh dan semangatku selama aku bekerja dan berkarya, seharusnya film yang sedang dalam proses penggarapan ini hadiah untuk- nya, jika ia mau bersabar.
Redup sudah redup dan hilang cahaya yang menjadi penerang jalan ku untuk menaiki tangga, aku seperti berjalan dalam lorong yang panjang dan begitu gelap, hanya meraba tembok yang menjadi penunjuk jalan, tak tahu kemungkinan apa yang terjadi nantinya selama perjalananku mencari setitik cahaya. Duri yang menusuk di kaki pun mungkin aku biarkan dan aku nikmati sakitnya, binatang buas di hadapanku pun aku tak berdaya untuk melawannya. Mataku gelap....
Aku butuh tubuh yang kokoh untuk bersandar, aku butuh tangan-tangan lembut yang menghapus air mata, aku butuh sahabat yang mau mendengar cerita ini sekalipun hanya bisa berucap, “sabar”, yang aku sendiri tak sanggup memikul beban seberat ini, Illahi !!! Jika memang ini guratan takdir, aku terima sekalipun aku berperan menjadi insan yang malang.
Tetapi aku meminta-Mu jangan pergi tinggalkan aku, jangan...jangan Tuhan, tuntunlah jalanku untuk dapat menyelesaikan ini semua, sampai akhir dari pagelaran panggung sandiwara yang Engkaulah sang Sutradara-nya. Scene demi scene –nya aku harus bisa lewatkan, dan aku penasaran dengan disetiap judul yang akan aku lalui, yang aku rasa akan menjadi hikmah dan aku sendiri akan tersenyum ketika membaca ulang kembali diary hidupku.
Seperti orang yang terbiasa dengan mengendarai motor, tiba-tiba saja Allah bukakan rezeki dan ia diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana nyamannya duduk manis di dalam mobil, tidak perlu lagi merasakan panas dan teriknya matahari, tidak usah harus mengigil menunggu baju kering hanya karena kehujanan.
Dengan begitu, kita akan merasakan bagaimana menikmati perjuangan, dan lebih peka dengan ‘suara perut orang lain’ sebab kita pernah kelaparan, serta lebih toleransi ketika melihat ada orang lain yang begitu letih mendorong motor, entah ban-nya bocor atau kehabisan bensin, yang jelas kita akan lebih peka, semoga saja menjadikan kita manusia yang pandai bersyukur, amiiin....
Aku coba mencari cara bagaimana aku harus menikmati luka ini, dan menjadi hikmah yang begitu besar bagi diriku, dan semoga menjadi pembelajaran yang berharga untuk semua yang pernah merasakan bagaimana sakitnya jika berada di posisiku, tetapi setiap orang memang memiliki kadar ujian dan cobaan yang berbeda-beda, tetapi janji Allah bahwa cobaan yang diberikan untuk kita disesuaikan kadar dan kemampuan seseorang. Di luar sana, ada yang lebih menderita dari kita, lebih luka dari apa yang kita alami saat ini.
Meteor ini terjadi karena adanya serpihan benda luar angkasa yang dinamakan meteoroid, yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Ukuran meteor yang aku tahu pada umumnya hanya sebesar sebutir pasir, dan hampir semuanya hancur sebelum mencapai permukaan Bumi. Serpihan yang mencapai permukaan Bumi disebut meteorit. Hujan meteor umumnya terjadi ketika Bumi melintasi dekat orbit sebuah komet dan melalui serpihannya.
Bagi mereka yang menganggap bintang jatuh adalah moment untuk make wish dan jangan dijadikan ajang untuk meminta sesuatu selain pada Allah, dan setan itu mencoba mencuri pengetahuan tentang rahasia langit dan beranggapan bahwa metor jatuh itu adalah fenomena dimana setan dikejar-kejar malaikat karena ingin mengintip apa yang menjadi rahasia Allah.
Padahal Allah sendiri menjadikan bintang itu sebagai hiasan langit yang Allah pelihara sebaik-baiknya, sebagai ketentuan dari-Nya yang Maha Perkasa dan Tahu dengan segala perkara di langit.
Setan dan bangsa jin saja ingin mengintip rahasia Allah saja tidak bisa, apa lagi kita yang hanya manusia serta tidak memiliki pengetahuan tentang itu, dan memang benar ada-nya seketika kawanan Setan mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka Allah mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.
__ADS_1
Dahulu memang mereka sempat atau pernah menduduki tempat di langit hanya untuk mendengarkan berita tentang apa yang menjadi keputusan Allah, namun sekarang siapa yang mencoba mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Allah Maha Mengetah (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan seorang hamba.
Jadi, tak perlu aku bersedih dengan apa yang apa yang menjadi rahasia Allah, tidak kebayang andai aku diintai oleh panah api layaknya seperti bangsa setan dan jin yang mencoba-coba mau menggoyahkan kerajaan langit. Tidak bermimpi aku ingin mencari tahu tentang Jodoh, Rezeki dan Kematian yang memang sudah menjadi rahasia Allah.
Hingga akhirnya Amel pun kembali ke rumah, setelah beberapa minggu ia pergi, amarah ku pun redup tertelan oleh raut wajahnya yang selalu aku tunggu, selalu tergambar jelas ketika menjelang tidur, ia memintaku untuk mengusap punggung dan rambutnya.
Apa iya, ia kembali hanya untuk merasakan dan memintaku melakukan hal yang sama sebelum kita berpisah? Ooh iya! Sekilas aku pernah mendengar Amelberucap,” kamu harus belajar terbiasa tanpa aku.” Apa bertanda waktu itu, ia sudah memiliki pria yang lain, hingga aku baru sadar dengan apa yang sudah terjadi.
Yasudahlah, yang terjadi biarlah menjadi lembaran kusam masa lalu, dengan Amel kembali seperti saat ini sudah menjadi satu bertanda baik, ia ingin berada di pelukanku kembali. Aku pun sudah memaafkan kesalahan yang Julie sudah perbuat, begitu juga sebaliknya.
Aku sambut dia dengan senyuman, sekali pun cara masuknya sudah tidak memiliki etika, kebiasaannya yang kalau masuk ke rumah melalui jendela, jika kuncinya aku bawa, tak apalah yang penting aku senang dia sudah mau masuk ke rumah ini.
“Aku sudah ngontrak, jadi maksud aku pulang jangan ke-ge-er-an hanya untuk mengambil pakian dan barang-barangku.”
“Aku mohon kamu jangan pergi.”
“Jangan paksa aku, untuk kasar lagi sama kamu. Jadi jangan memintaku kembali.”
“Aku masih sayang kamu, yank.” Aku mencoba menghalanginya untuk keluar meninggalakan rumah, dan terbilang memaksa-nya untuk tetap bersamaku. Sampai akhirnya Amel pun naik pitam, karena sikap ku itu.
“Asal loh tau yaaah Haidar, guaaa udah nggak cinta sama loh! Gua harap loh paham, dan tak ada lagi yang harus dijelaskan lagi! Udah aah gua mau cabut!”
__ADS_1
Amel menerobos jalan dan menghempaskan tubuhku hingga hampir terjatuh, diluar dari khayalan dan rencana yang ada dibenaku, padahal aku berharap Amel kembali dipelukanku, dan berjanji untuk bersama-sama memperbaiki yang sudah koyak dan porak ini. Tetapi semua musnah dan hilang sudah dari genggamanku, seperti pasir yang hilang dalam telapak tangan.