TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Pacaran Rasa Arab


__ADS_3

Terkadang Haidar menjerit dalam kesendirian, menangis diantara surat Ar-Rahman’, amalan rutin yang ia sering lakukan ketika hati ini gelisah, letih dan jenuh dengan segala yang ada.


“Yaa Rahman, wahai sang Maha Pengasih, kasihanilah hati dan jiwaku yang rapuh ketika


aku harus menjadi hamba dari cinta semu seperti ini, aku ingin pulang Ya Allah...pulang ke pangkuan-Mu, Haidar yang dulu sebelum masuk waktu sholat sudah bersimpuh menunggu suara seruan-Mu, kini aku buta dengan cinta, sungguh letih rasanya.” Lirih Haidar dalam doa.


Hanya do’a itu yang sering Haidar munajatkan selepas membaca surah Ar-Rahman, dan ia yakin dengan keputusan yang kelak Allah berlakukan untuk-nya, dan pasti semua akan tersirat hikmah.


Rupa-nya, jauh sebelum-nya aku sudah mengenal siapa Nanda Nabila Putri, pernah sekali waktu Dewi mengajakku untuk menemaninya ke rumah sahabat se-geng-nya di sekolah di komplek perumahan dimana Nanda pun tinggal di sana.


Kediaman Nanda saat itu begitu besar dan lengkap dengan fasilitas mewah, maklum Mamahnya sebagai sekertaris di perusahaan yang modal awal pendirian maskapai tersebut hanya sepuluh juta dan enam buah pesawat, Perusahaan maskapai tersebut memulai usahanya sebagai jembatan udara yang menghubungkan tempat-tempat terpencil di Kalimantan.


Sejak berdiri, tanggal 6 September 1962, sampai sekarang, dan Mamah-nya merupakan pejabat yang cukup berpengaruh di perusahaan itu.


Aku perhatikan, banyak sekali guci dan benda-benda mewah di ruang tamu, sofa-nya


pun bukan yang standar melainkan Luxury Sofa dengan lampu hias crystal candle lamp yang berdiri di apit oleh dua sofa besar.


Di ruang tamu nampak sebuah televisi besar lengkap dengan sound sytem atau boleh dikatakan home theater sebagai wujud entertaiment sett dalam rangka memanjakan para tamu yang datang, dan terlihat elegan. Kulit telapak kaki Haidar merasakan sentuhan halus dari bulu-bulu permadani, semakin terlihat strata ekonomi si tuan rumah, kalau diperkirakan gaji kedua orang tuanya puluhan juta.


Namun kedatangan Haidar bukan untuk medecak kagum dengan apa yang dimilki si tuan rumah, tugas ia hanya mengantarkan Dewi bertemu dengan gadis yang hampir puluhan tahun tak pernah aku dengar lagi kabarnya seorang Nanda dan tak diduga gadis itu kini tengah dekat dengannya.


“Elo masih inget kalo gue pernah ke rumah loh, dan disitu kita dikenalin Dewi?!”

__ADS_1


“Iya gue masih inget kok, dan pada saat itu juga Dewi ketemuan dengan gebetannya di sekolah...hahaha." Sindir Nanda


"Serius loh?!"


“Eeeh seriuuuss! Ngapain gue ngada-ngada....”


“Yaudah siih, marah amat...”


Sesuatu yang amat mustahil bagi seorang Haidar saat itu, untuk memiliki kekasih seperti dirinya. Anak orang kaya, yang dibesarkan dengan fasilitas mewah seperti itu, dibandingkan Haidar hanya anak seorang guru ngaji.


Ustadz kampung biasa. Tetapi tidak membuat nya minder, atau tersudut dan silau dengan apa yang orang lain miliki.


Kata ‘enak’ itu hanya milik orang lain, belum tentu orang yang kita bilang enak seperti itu hidupnya pun nyaman dan bahagia, bisa jadi meraka juga mengatakan, ‘jadi orang susah itu enak nggak perlu banyak tuntutan!’


_______________¤¤¤_______________


Aku dan Nanda tak pernah bertatap wajah, hubunganku dengan gadis yang ternyata memiliki hobi photography itu hanya melalui telepon.


Dugaanku cukuplah walau hanya mendengar suara-nya saja bisa mengenal-nya lebih jauh lagi. Selepas dengan mantannya dahulu, Haidar untuk sementara waktu untuk mengenal istilah ‘pacaran’ yang menurutnya hanya menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran.


Siapa bilang menahan rindu itu bukan siksa batin, siapa bilang cemburu itu tidak menyita waktu, dan siapa bilang sekali nge-date tidak menghabiskan biaya? Semua itu kalau dikalukasikan cukup merugikan diri sendiri.


Apa iya dengan pacaran bikin hati kita nyaman? Apaaa iya dengan pacaran membuat hati kita yakin bahwa kelak ia akan menjadi pendamping hidup kita yang katanya, ‘sehidup-semati’? Rata-rata mereka yang memilih pacaran berakhir dengan sakit hati, tragis, naas, apes! Dan selama itu pula kita akan diburuh rasa gelisah yang teramat menyiksa diri dan menghabiskan waktu,sia-sia bukan?

__ADS_1


Sedangkan dalam Islam sendiri aku mengenal istilah ta’aruf, lagi-lagi konsepnya sama dengan pacaran yang membedakan hanya-lah ‘ke-vulgaran-nya’. Ta’aruf sendiri bagiku adalah pacaran gaya arab.


Apa iya Rasulullah mencanangkan program ta’aruf sebelum menikah sebagai jalan penjajakan, mengenal satu sama lain, karakter dan sifat dari kandidat orang yang menjadi nominasi pendamping hidup kita nanti? Rasulullah tidak menganal kata ta’aruf.


Dibeberapa riwayat, bahwasannya Khadijah meminta salah seorang wanita Quraisy, bernama Maisaroh. Ia diutus untuk menjadi mediasi antara Muhammad dengannya. Maisaroh pun menceritakan keistimewaan dan kelebihan Khadijah, wanita itu menawarkan kepada Muhammad, bahwa Khadijah layak menjadi istrinya, begitupun dengan Muhammad begitu cocok menjadi suami beliau. Lalu dengan ditemani pamannya, Abu Thalib, Muhammad pun melamar Khadijah. Apa ini yang disebut ta’aruf?!


Tidak bedanya dengan konsep ta’aruf, jika cocok maka diteruskan kepada satu dermaga


suci, ijab dan qabul. Lalu, bila tidak cocok? Entah pihak lelaki atau wanita kah yang menanggung kerugian akibat dari dampak keduanya.


Dan baginya antara ta’aruf dan pacaran masing-masing memberikan satu keunggulan tanpa mempertimbangkan dampak yang timbul dari semua itu, hanya saja kadar dan durasi kekecewaannya saja yang berbeda.


Ta’aruf menawarkan mediasi cinta yang praktis, dibalut dengan budaya Timur Tengah dan ke-arab-arab-an yang dinilai cukup santun, oleh sebagian kalangan dan terkesan bahwa budaya Arab adalah pembawa almamater budaya Islam.


Dengan catatan kaki, seolah-olah Nabi Muhammad turut serta dalam perumusan satu konsep apapun yang beraoram timur tengah hanya bermodalkan hadits-hadits beliau yang dijadikan rujukan.


Ini loh, PeDeKaTe gaya Rasulullah? Tanpa memberikan satu muqadimah yang gamblang dan dinilai tuntas, tanpa cacat dan pihak yang terluka.


Atas dasar ini-lah Haidar memutuskan untuk tidak mengenal istilah pacaran dan ta’aruf. Disamping itu juga usianya kian tahun kian bertambah, singgungan pun sering ia dapatkan dari sanak saudara, teman dekat yang setiap kali aku dapatkan. “ Kapan nikah?” Pertanyaan yang simple tetapi sulit untuk menjawab, ia merasakan terlalu letih dengan yang namanya pacaran.


Untuk itu sementara waktu ia pun ‘membunuh’ perasaan sepiku dengan menulis dan berkarya walau ia sendiri tak pernah tahu, seberapa berhasilnya aku di dunia aksara.


Karena menjadi penulis itu memang pilihan yang terbilang ‘nyerih-nyerih sedap’ kalau diterima penerbit itu suatu anugrah terbesar dan terindah dibandingkan dengan selembar kertas yang tertulis nominal royalty yang akan kita terima.

__ADS_1


__ADS_2