
Kapal itu kini meninggalkan dermaga, persiapan untuk berlayar pun sudah di bawa
sebagai bekal di perjalanan yang kita sendiri tidak tahu, apakah badai itu akan
datang tiba-tiba ketika kapal baru saja meninggalkan pelabuhan, atau bisa jadi
badai akan datang ketika di tengah perjalanan bahkan bisa jadi ketika mendekati
pelabuhan terakhir badai dan ombak besar baru-lah kita temukan, disinilah
kesiapan juru mudi untuk mengatasi semua ini, membenturkan kapalnya ke karang
lalu karam dan tenggelam atau sekuat tenaga mempertahankan agar kapal itu tak
karam? Seperti itu-lah biduk rumah tangga yang nantinya kita jalani.
Memang masih terbilang jauh dari rumah idaman, kontakan tiga kamar untuk masuk
kendaraan saja sulit karena letaknya di sudut gang yang tak jauh dari kediaman
kedua orang tuaku. Tak banyak alasan mengapa aku masih tinggal berdekatan
dengan mereka, tidak lain karena aku ingin Amel lebih mengenal keluarga, teman dan saudara-saudaraku disamping itu aku tidak bisa meninggalkan ayah dan Mamahku, karena mereka butuh perhatian lebih walau untuk memberikan materi masih belum bisa membalas segala kebaikannya.
Kontrakan yang kini kami tempati, itu pun masih terbilang baru dibangun dan si pemiliknya sendiri me-wabil-khusus-kan untukku mengingat berkali-kali digeser posisinya aku tetap terima, karena bermacam-macam permintaan dari calon penghuni yang terdiri dari empat kepala keluarga, ada yang meminta di tengah, pinggir dan sudut. Semula aku menempati pintu ke empat, atau terbilang di pojok mengingat
terlalu risih jika dilewati orang, hingga akhirnya aku mendapat tempat di
tengah dan aku tidak protes.
Mudah-mudahan Amel kerasan untuk tinggal di sini, mengingat di sini masih ada adik-adiku yang bisa menemaninya selama belum medapatkan pekerjaan, dan Jakarta bukan kota yang asing baginya karena selama puluhan tahun ia tinggal yang tak jauh jaraknya dari tempat kami berdomisili, komplek para pilot dan pramugari serta staf Merpati Nusantara Airlines, dan Mamahnya
Julie sekertaris umum di maskapai tersebut. Kebayangkan bagaimana kehidupan
istriku masa-masa itu?
Apa yang Amel pinta mereka pasti membelikannya, dan memang semasa SMA dahulu Amel terbilang update dengan yang namanya gadget, fashion, sampai tempat kursus bahasa asing pun menjadi gengsi di tempatnya sekolah, ia tidak asing dengan
barang-barak ber-merk dan berkelas dan tidak sedikit teman sekelas-nya mencoba mendekati Amel hanya untuk bisa meminjam pakaian, sepatu atau sandal jepit yang paling terbaru.
Dan nyata mudah bagi Allah untuk melimpahkan rezeki bagi hamba-Nya dan mudah pula untuk memfakirkan-nya kembali. Rumah yang di beli dari hasil jerih payah selama berpuluh-puluh tahun ketika masih menjabat di Merpati, rumah idaman bak seperti istana itu berpindah tangan seketika, lantaran keluarganya terburu-buru menjual
dengan harga murah, andai tidak terburu-buru dan bertahan satu tahun saja, kini harga-nya menjadi dua kali lipat dari harga jual, 2 Miliar bukan jumlah yang sedikit.
Darisitulah keadaan keluarga-nya mengalami pasang-surut dan tak tahu arah, Amel pun sempat bekerja sebagai Sales Promotion Girls di sebuah Mall di Bekasi.
__ADS_1
Hanya beberapa tahun saja setelah itu mereka kembali ke kampung halaman dan membeli sebidang tanah dan bangunan sebagai tempat peristirahatan mereka di hari tua.
Apa iya Amel sanggup tinggal di kontrakan yang sesak tanpa ventilasi dan pendingin ruangan? Hanya ada televisi 14 inci pemberian dari Vicky dan kipas angin, tak ada kompor, tak ada ceret dan tak ada lemari
es. Apa kamu sanggup sayangku? Dan memang dari awal tak ada janji muluk yang
aku berikan, bukan angin syurga yang kuhembuskan di telinga-mu! Tetapi kesulitan hidup yang sama-sama akan kita tanggung, apa kamu sanggup sayangku?
Aku bukan Syeikh Hamdan pewaris tahta kerajaan Dubai yang perusahaanya tercatat
dalam Wall Street Journal, aku juga bukan Carl Philips, bukan juga Al Walid bin Talal yang memiliki ratusan perusahaan di seluruh dunia, tetapi aku hanya putra dari seorang Ustadz kampung yang diberikan upah hanya dari belas kasihan orang tua murid yang memang tahu diri dan mencari keberkahan dari seorang guru dan kini lelaki itu nyaris kehilangan suaranya, ia sudah terkulai lemas di kursi rotan, lelaki yang dahulu tak pernah kenal lelah keluar masuk majlis satu dan
majlis lainnya hanya mengajarkan nilai-nilai aqidah, teologi ketuhanan, hukum syar’i, dan syahadatain.
Hingga kami terbiasa mendengar ucapan dan perkataan miring tentangnya, ‘Ustadz *******, sesat dan menyesatkan serta cibiran lainnya,' hanya lantaran Mazhab-nya berbeda. Dan kini ia sedang meredam sakitnya sendiri...
Masih maukah kamu menemani langkah hidupku?
Amel,...
Hanya istana kecil ini saja yang bisa aku berikan untuk-mu, istana yang aku sewa tiap
bulannya, tempat kita berbagi cerita,cinta, ceria dan luka. Ini-lah sebuah proses perjalanan hidup, aku harap kamu mampu berhitung, 1...2...dan 3 bukan 1,...2...dan 5, inilah istana tempat kita belajar apa itu pendewasaan diri.
mendengar pesakitan kita, cukup di atas sejadah tempat kita berbagi, tempat kita berbisik dan tempat kita meneteskan air mata, jangan sampai masalah biduk rumah tangga kita terdengar sekalipun ada kumbang jantan yang masuk ke dalam istana, tolong jangan membuat-mu tergoda untuk berbagi cerita, satu waktu ia akan menyengat-mu, walau yang ia keluarkan madu tetapi sunggutnya akan membahayakan-mu, pahami itu...
Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan sesuatu yang baru, ia akan terus bercerita
dan membangga-banggakan –nya, siang-malam tak henti-henti mencari siapa lagi orang yang ingin ia tunjukan kebahagiaan yang kini ia rasakan, hingga akhirnya
ia letih dan terlelap tidur, itu pun masih terbawa dalam mimpi!Tanpa sadar
terucap pula ketika mengigau.
Dan seperti itu juga, ketika aku bangga memilki-mu, ingin rasanya tak ingin berhentiberbagi kebahagiaan ini, bercerita seputar pernikahan kami, walau sebagian tetangga memang sudah tahu prihal kepergianku ke Palembang, satu hari itu aku dibanjiri do’a.
Ketika kami beriringan jalan, begitu erat jemari dan lengan kiri Amel menghimpit di
lengan kananku, senyum dan bualan manja memancing kami untuk tersenyum, mata
ini beradu pandang dan berlabuh di lipatan bibir tipis yang memancingku untuk
mengatakan, “sayang kamu Amel.” Ia pun berbalas,”sayang kamu juga Haidar.”
Andai saja kasat mata ini mampu menatap labirin alam malakut, mungkin pada saat itu mereka tersipu malu melihat begitu mesrahnya kami. Serta merta memanjatkan kami do’a dan keberkahan dalam hidup, “mudah-mudahan Allah memberi keberkahan untukmu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebajikan."
__ADS_1
Ketika jauh rasanya ingin segera pulang dan berbagi cerita, melepas segala penat, aku
rindu dipeluknya. Dan betapa senang dan tenangnya hati ini, sepulang mengais rezeki senyum sang istri menyambut kedatangan-ku. Tanpa harus diajarkan lagi Amelmenggapai jemari tangan kanan-ku, dahi dan ujung bibir begitu hangat-nya ketika
menyentuh secara berlahan di punggung tanganku.
“Aku lapar, kamu masak apa?”
“Bagaimana aku mau masakin kamu, kompor saja kita tidak punya yank.”
Aku helakan nafas ini dalam-dalam, ‘ Ya Allllllllllaaaah....” Untuk membeli kompor
saja aku tidak sanggup.
“Sabar yah sayang, bulan depan aku gajian nanti kita beli kompor gasnya.”
“Iya yank.”
“Kamu sudah makan? Biar aku belikan nasi bungkus yah?”
“Beli sebungkus aja, kita makan berdua, aku makannya sedikit.”
Sampai akhir bulan, kami tak mampu untuk membelinya. Semula aku menduga harga kompor dan tabung gas itu semahal-mahal-nya seratus Lima Puluh Ribu Rupiah dan ternyata untuk tabungnya saja itu aku harus merogoh saku Seratus Enam Puluh
Ribu ribu itu sudah termasuk dengan isi, belum lagi harga kompor gas-nya sendiri yang paling murah saja dua ratus lima puluh ribu.
Jadi, total keseluruhannya Empat Ratus Sepuluh Ribu Rupiah. Itu seperempat-nya dari gaji yang aku terima di kantor, belum lagi
untuk bayar kontrakan dan cicilan bank, sisa-nya sebesar Enam Ratus Ribu aku
gunakan untuk makan sehari-hari bersama Amel. Cukup tidak cukup...Mau tidak mau! Dan Harus...
Ini-lah yang mengusik hati, betapa tidak berfungsinya aku sebagai seorang suami, apa
yang aku hasilkan dari jeri payah selama satu bulan masih jauh dari kata ‘sejahtera’ bukan aku tidak bersyukur dengan apa yang Allah sudah berikan untukku, jika aku masih sendiri mungkin uang sebesar itu cukup untuk kebutuhan sampai akhir bulan, walau dipaksakan. Aku yang dulu, kini jauh berbeda, Ameladalah amanah yang Allah titipkan, dan aku harus bertanggung jawab dengan apa
yang menjadi kebutuhan hidupnya.
Apa dengan uang yang aku sisihkan itu mampu memenuhi kebutuhan-nya? Dan aku memilih mengalah, biarlah uang sisa dari gaji yang sudah digunakan untuk membayar
kontrakan dan cicilan bank itu sepenuhnya untuk Amel, sedangkan untuk ongkosku sehari-hari biar aku cari walau sehabis pulang dan libur kerja aku cari-cari celah usaha sampingan, selama halal pasti Allah buka
kan jalan. Walau aku sendiri tidak tahu usaha apa yang harus aku tekuni...
Namun aku khawatir Amel hanya wanita biasa yang kesabarannya terbatas...
__ADS_1