
Terpaksa BB milik Haidar harus di-upgrade karena loading-nya berat. Ditambah lagi batrai-nya yang sudah tidak layak pakai. Masalah baru muncul, terhambat komunikasinya, untuk balas SMS saja, harus melotot melihat ‘jam pasir’ di tengah-tengah LCD.
“Ampuun dah! Bisa darah tinggi kalau begini terus.” Gumam Haidar
Mau tidak mau, harus di-instal ulang, yaaah maklum namanya juga handphone pemberian
orang.
Dan resikonya jika tidak di-back up, datanya akan hilang semua. Termasuk, semua contact BBM di HP. Benar juga dugaannya, nyaris hilang semua, termasuk nomor hand phone orang-orang penting, teman- teman penulis, penerbit dan artis dari lintas profesi yang pernah Haidar geluti, termasuk entertaiment.
Apa mau dikata, semua sudah terjadi satu-satunya jalan, mengumpulkannya satu persatu, tanya sana dan sini, plus promosi di akun facebook.
Mulai berdatangan mereka-meraka yang sempat memiliki Pin BB, dan dari mereka yang muncul atau nge-reinvite ulang, Haidar pun harus tanyakan satu persatu teman yang berhubungan dengannya.
Seperti teman SMA ia dapatkan kembali dari Andriansyah, kalau dari teman-teman artis aku meminta kembali dari Ibnu ‘Elkasih’, Mas Eddy ‘Kopi tanpa Susu’ serta teman-teman penulis lainnya ia mencari dari inbox di twitter dan facebook. Walau hasilnya tidak maksimal, tetapi sedikit demi sedikit akan terkumpul juga.
Yaah, apa boleh buat, “dimulai dari nol yah?” Gumam Haidar dalam hati meniru petugas SPBU.
Dan ada yang tidak diduga-duga, muncul nama wanita yang asing di ingatannya. “Siapa
ini? Manda nama yang ter-display di id blackberry nya ?
Siapaa yaah? Perasaan nggak punya teman di BB dengan nama Nanda. Nama yang terlalu janggal di telinga, namun demi silaturahmi akhirnya Haidar accept kontak tersebutm
Sejak awal ia terima pertemanan-nya, gadis yang mengaku bernama Nanda itu cukup mengganggu. Setiap kali ia menulis status, berkali-kali juga ia mengomentari tulisan-tulisan Haidar.
Angkuh! Sok perfect itu yang ada dipikiran Haidar. Jengkel dibuatnya, ada-ada saja ulahnya yang membuat ia kesal. Pernah satu waktu ia menulis status, ‘ I Need Someone ..to rise up’
Gadis itu tiba-tiba mengomentarinya.
“Apa siih mau-nya?!”Kali ini sudah tidak ada batas kesabarannya lagi, ia benar-benar naik pitam.
__ADS_1
Sampai-sampai ia terpaksa membujuk- nya hanya untuk meminta nomor handphone milik-nya, pengen tahu apa sebenarnya yang ia mau, dan siapa dia? Yang sudah mengusik ketenangan.
Terkadang tengah malam gadis itu mengganggu dengan ‘nge-ping!!!’ dan nge-broadcast yang tidak penting.
Sampai akhirnya Haidar bisa dapatkan nomor HP-nya, serangkaian pertanyaan aku sudah siapakan.Tentang siapa dirinya? Tempat tinggal dan mungkin ada cerita unik lain yang bisa aku temukan dari ‘wanita yang nggak jelas’ itu.
"Apa iya dia jawaban dari kegelisahanku?" Harapan Haidar.
Haidar mengingat kembli semua percakapan dengannya, bermula dari obrolan biasa saja. Seputar tempat tinggal dan aktifitas sehari- hari.
“Gue tinggal di Pondok Indah," jawab gadis itu.
Kawasan elit di bilangan Jakarta Selatan. Tetapi tidak mudah membuat Haidar langsung mempercayainya. Ia mulai korek kembali siapa dia sebenarnya, yang cukup membuatnya penasaran.
“Loh, kerja atau kuliah?”
“Gue kerja SPG di Bekasi. Tapi sekarang lanjutin kuliah di Palembang.”
Sejak malam itu Haidar lebih sering menghubungi-nya, ia mulia bercerita tentang dirinya.
Sebelum tinggal di Palembang, Sumatra Selatan, Nanda pun pernah tinggal di beberapa tempat di Jakarta seperti Olimo, Permata Hijau dan di daerah Tanggerang, tepatnya Cileduk.Kegiatan sehari-hari wanita ini hanya sebagai SPG dan sebagai guru di taman bermain.
“Nah, loh sendiri tinggal dimana?” Tanya gadis yang aku lihat di facebook mengenakan jilbab.
“Gue? Tinggal di rumah laaah, massssaa di kandang kambing!” Jawab Haidar yang mungkin membuat dia keki. Akhirnya Haidar pun ceritakan siapa ia sebenarnya.
“Gue tinggal di daerah Kencana Lima Daa, aktifitas gue hanya bantu-bantu di tim kreatif program TV dan sekarang lagi jalan realiti show di TV tujuh. Gue anak pertama dari enam bersaudara dan sudah ada yang lebih dahulu meninggal. Ayah gue stroke dan Mamah pun sedang terbaring karena ada saraf yang kejepit di pinggangnya.” Haidar mulai ceritakan semua tanpa harus ditutup-tutupi.
“Sorry yaah, jadi sedih ceritanya. Eeeh, ngomong-ngomong Kencana limanya dimana?” Haidar tahu ia mengalihkan pembicaraan, mungkin agar suasana kembali asyik lagi.
“Masalahnya gue punya sahabat di Kencana Dua.” Tambahnya
__ADS_1
“Kencana Duanya dimana dulu niih?”
“Sahabat gue tinggal di Kencana Dua lah.”
“Siapa namanya?” Aku penasaran, dan akhirnya memberanikan diri untuk berkata jujur.
“Anggraini"
“Dewi Anggraini maksud loh!” Haidar mencoba tegaskan kembali.
“Iya...kok loh kenal juga?”
“Sempet deket juga dengan dia...”
“Oooh loh Haidar!!! Si Dewi banyak cerita tentang loh kok! Waah, kasian banget loh yah sering di-dua-in sama dia. Ckckckck....sabar yaaah?!”
Akhirnya aku pun harus jujur, bahwa gadis yang disebutkan namanya tersebut adalah lembaran masa lalu Haidar yang berakhir dengan sebuah pilihan.
Kalau mendengar nama-nya disebut lagi, seakan menjadi trouma berkepanjangan dalam hidupnya, berkali-kali ia dikhianti gadis yang disaat Haidar mengenalnya, ia masih duduk di bangku kelas satu SMA, sedangkan umur Haudar dengan dia terpaut jauh dan aku sudah bekerja di perusahaan asing,bdistributor listrik yang cukup terkenal di Francis pada saat itu.
Seleri terbilang besar bila dibandingkan dengan karyawan biasa, terlebih Haidar hanya lulusan SMA, masuk kerja pun hanya bermodal photo copy KTP saja, mengingat si pemilik perusahaan itu sudah mengenalku lama.
Haidar bertemu dengan Dewi Anggraini dikenalkan oleh sepupuhnya, Faradillah yang ketika itu mereka sedang sholat Tarawih bersama dan kebetulan pada malam itu, aku bertugas sebagai Bilal atau Muadzin.
Berucap salam dan saling menyalami menjadi gerbang pembuka untuk mengenal seorang Dewi yang memang tinggal satu wilayah dan hanya beda beberapa RT saja.
Sering kali ia kepergok sedang asyik bermanja-kasih dengan seorang cowok yang tidak kenal VIA handphone, kalau Haidar rebut pasti ia marah besar, dan selama tiga tahun memiliki hubungan dengannya selama itu ia tak pernah diperbolehkan untuk melihatnya. Ini-kah yang disebut cinta butuh keterbukaan?!
Segalanya sudah Haidar diberikan, hingga harus menahan sakit-nya dalam kesendiri untuk semua perselingkuhan yang semula dianggap wajar pada saat itu, karena gadis seumurannya terbilang labil.
“Hellllooo Haidaaaar wake up broooo! Loh harus sadar, berkali-kali loh disakitin. Mata hati loh buta dengan cinta! Akal loh dipasung dengan yang namanya komitmen semu!!” Gumamnya dalam hati.
__ADS_1