TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Dan Takdir pun Menjawab


__ADS_3

 


 


 


Sepulangnya aku ke tanah air, tak ada yang bisa aku ceritakan dan memang terlalu banyak nantinya apa yang aku dapatkan dari sana, dari tiga negara dan dua benua yang aku tulis dalam lembaran demi lembaran dari naskah hidup ini. Selain rasa syukur dan bahagiaku yang tak bisa terhitung lagi dengan digit nomor di dalam kalkulator. Jika pun aku tuliskan mungkin diperlukan waktu yang lama, ratusan bahkan ribuan lembar yang aku tulis pun tidak cukup untuk menelusurii hari demi hari dari diary hidup ini.


Tetapi inilah lembaran dari jawaban yang selama ini aku jalani, dan aku pun masih kalah cepat dengan apa yang terjadi, melebihi perhitungan titik cahaya persekian detik, aku pun tak mampu untuk menunda, mempercepat atau menduga-duga seperti apa nantinya. Sebab, takdir ini tidak sama seperti menulis novel, yang bisa kita tentukan sendiri seperti apa ending dari semuanya, buku diary yang aku tulis masih kalah cepat dengan jalan hidup yang sudah Tuhan goreskan dalam Lahul Mahufdz.


Tidak bisa direkayasa, tidak bisa dipermanis atau pahit dengan seeanaknya, itu-lah takdir dan hanya Allah yang memiliki hak prerogativ. Di tangan-Nya-lah baik- buruk jalan hidup seseorang tetapi semua itu kembali lagi menjadi hak hamba-Nya untuk memilih, berbaik sangka atau berburuk sangka kepada Tuhan. Jika kita sendiri menganggapnya kesulitan dan masalah hidup menjadi beban yang sulit untuk dihadapi, maka akan sulit pula jalan yang akan kita lalui.


Dan ingat, menjustifikasi manusia saja sudah tergolong sombong, terlebih memberikan penilaian buruk kepada Tuhan, apa yang diberikan Allah itu- lah yang terbaik, tawakal kepada Allah dengan jalan ikhtiar dalam menempuh Qadha sebelum jatuhnya Qadar dari Allah. Berbaik sangka itu lebih membuat kita merasa nyaman dan aman, dibandingkan harus gelisah, gunda-gulana dengan apa yang kita harus jalani.


Perjalanan hidup ini, membuatku semakin dewasa dalam berpikir, tentang kematian yang sudah pasti datangnya dan tinggal menunggu waktu saja, tentang rezeki yang bukan saja berupa materi kesempatan untuk panjang umur itu sudah menjadi hadiah atau rezeki tersendiri, heeem dan jodoh?! Aku memilih diam dan tidak menjawab, sebab


orang yang harapkan untuk menjadi pasangan hidupku masih belum bisa menentukan sikap.


Aku hanya terus berusaha mengejar dia yang aku yakini adalah cinta sejati dan memang pantas untuk aku miliki. Sekalipun jatuh-bangun mengejarnya, karena aku menyadari sekeras-kerasnya batu akan terkikis juga dengan setitik air. Seperti itulah aku menjawab tentang jodoh yang kini sedang aku kejar, dan berhati-hati agar tidak terjatuh untuk kedua kali, cukup Julie menjadi sikap keterburu-buruanku, tak perlu aku sesali anggap-lah ia bukan rezeki-ku atau sebaliknya.


Dan Vega yang menurutku pengganti dan jawaban dari jodoh yang harus aku tuju dan aku pun sudah mengunci hati untuk yang lain. Ini caraku tidak membuka peluang dan memberi harapan semu yang aku sendiri tidak suka dibuai dengan harapan palsu dan janji-janji muluk, yang nantinya aku kecewa dan sudah sering aku dihadapi hal semacam ini, hingga aku memilih untuk menyandarkan harapan-ku pada si pemilik janji yang pasti, Allah.


Seperti itu juga aku menghejar Vega dan memintanya untuk menjadi pendamping hidupku, tetapi sebelumnya aku sandarkan pengharapan ini hanya kepada Allah, ku sisipkan namanya dalam setiap bait doa, berharap kepada Allah semoga ada jawaban yang bisa aku dapatkan. Dan ini bukan kali pertama aku lihat Vega tak lagi aktif di


jejaring sosial, karena hanya di tempat itu-lah aku tahu kabar dan apa yang dialaminya.


Ini kabar terakhir yang aku temukan dari akun facebook-nya, semakin membuatku tidakmengerti ada apa dibalik ini semua?! Apa ia merasa belajar untuk dekat dengan-Nya. Atau hanya setatus biasa saja?!


Aku coba untuk menghubunginya, mencari tahu kabar tentang gadis yang beberapa hari lagi menjadi bagian terpenting dalam hidupku, karena hasil shooting kemarin sedang diedit dan di-burning dan proses pembuatan film sudah memasuki pasca produksi, pada tahap ini film disunting, agar gambar- gambar sesuai tepat dengan jalan cerita dan skenario yang sudah aku buat. Setelah selesai disunting lalu masuk ke laboratorium untuk kemudian diduplikasi. Bila pengambilan gambar tidak menggunakan kamera seluloid, maka sebelum didistribusikan film harus di blow-up terlebih dahulu ke format seluloid lalu digandakan.


Dalam beberapa minggu, aku sudah mulai memasuki masa promo film, dan tahapan inilah aku harus lebih gencar untuk terus manuver dan sering bertemu dengan Vega.


“Assalamu’alikum. Bagaimana kabar kamu?” Aku biasa memulai membuka pembicaraan di telepon.


“Alhamdulillah. Kamu sendiri? Sudah pulang yaa?”


“Kok tau?”


“Didisplay handphone nomor kamu sudah kembali seperti biasa.” Suaranya aku denger sedikit parau.


“Kamu lagi kurang sehat yaah?”


“Cuma batuk biasa aja kok. Eeeh cerita dooong, enaaknyaaa yang habis jalan-jalan ke luar negeri.”


“Aaah biasa aja kok, justru kamu yang enak sering terbang gratis-an digaji pula.”


“Aaah itukan dulu waktu aku masih jadi pramugari.”


“Aku keluar negeri juga kerja dan hanya beberapa hari saja jalan-jalannya. Oh iya, lusa bisa kita ketemuan?”


“Ketemuan?! Emmmm, insyallah yaah? Aku nggak bisa janji takut kamu berharap nantinya.”


Vega tahu kalau memang aku tidak suka dijanjikan, dengan begitu aku juga tidak berlebihan berharap dan menunggu waktu bertemu dengan penuh pengharapan.


“Aku usahakan jauh-jauh hari aku kasih kabar ke kamu.”


“Mudah-mudahan bisa yaah? Soalnya aku juga mau bawa anak yatim jalan-jalan dan aku mau kamu ikut.”


“Insyallah. Aku sholat dulu dan istirahat yaah? Assalamu’alaimum.”


“Wa’alikum salam.”


Baru saja ia menutup telepon, hati ini terus menaruh harapan yang tidak sepenuhnya tetapi sedikit mengganggu pikiran. “Setiap kali aku telepon tidak pernah ia mau berbicara panjang-lebar yaah seperti itu tadi.


Ada waktu-waktu tertentu untuk bisa menemukan mood-nya, ketika itu baru bisa kita temukan waktu yang asyik untuk bicara lebih banyak.


Kurang lebih setelah satu jam berikutnya, dan moment ini terbilang langkah semenjak aku kenal Vega, kalau tidak ada masalah atau pembicaraan yang tidak penting, ia tidak mungkin mau menghubungiku, berarti ini bertanda ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan.


“Assalamu’alikum.”


“Wa’alaikum salam.” Aku menjawab salamnya di telepon.


“Cuma mau ngasih kabar insyallah aku bisa nemenin kamu jalan-jalan dengan anak yatim. Jika tidak ada halangan yaaah? Cuma itu saja yang mau aku sampaikan. Assalamu’alaikum.”


Aku hanya mendengar apa yang ia sampaikan dan menjawab ucapan salam penutupnya, hanya beberapa detik saja ia telepon, benar-benar gadis yang aneh.


“Wa’alikum salam.” Aku akhiri pembicaraan singkat tersebut.


Bagi Vega pembicaraan itu mungkin biasa-biasa saja, tetapi bagi aku?! Harus kembali gelisah menunggu selama dua hari dan nantinya yang akan aku hadapi selama dua hari itu adalah menghitung jam yang begitu lambat berdetak, selama 48 jam itu-lah aku harus sabar menunggu kabar dan kepastian dari-nya. Dan memang jalan-jalan dengan anak yatim itu sudah direncankan dari awal, ada dua agenda acara yang terbilang masalah pribadiku tetapi difasilitasi oleh pihak PH, melamar Vega di saat pemutaran gala primer yang direncanakan empat hari ke depan, setelah jalan-jalan bersama anak yatim ini sudah terlaksana.


Dan agenda selanjutnya yang sudah aku dengar dari pihak management perusahaan, untuk gala primer ada moment romantis yang mereka ingin berikan untukku dan itu menjadi kejutan tersendiri, yang aku pun tidak tahu seperti apa nantinya.


Mas Febry sudah mengetahui rencanku yang ingin melamar Vega, dan dia juga-lah yang merencakan sesi tersebut, gimik acaranya. Yang aku tahu, pihak Belunni Entertaiment sudah mengundang awak media infotaiment dan hiburan. Baik media cetak, elektronik dan portal media yang kelak akan mengabadikan saat-saat bersejarah hidupku.


Terlepas diterima atau tidaknya niatku meminang Vega Putri Nafisah. Gadis yang hanya dua kali aku bertemu selebihnya komunikasi kita hanya sebatas dunia maya dan telepon saja. Tapi bagiku itu bukan masalah dan aku suka cara seperti itu, dengan begitu peluang untuk aku zinah mata agak berkurang.


“Takdir jodohku sudah di depan mata, aku pilih kamu bukan tanpa alasan Vega, justru kamu-lah gadis yang memiliki peranan penting dalam karirku, sampai aku menjadi seperti ini dan kamu ikuti semua jalan ceritanya. Kini saat yang tepat untuk memberikan-mu kado teristimewa, ketika mata kamera membidik-mu, ketika bibir ini rindu untuk memanggil ’sayang’ dan hati yang sudah terkunci untuk gadis selain kamu.


Menunggu itu memang satu pekerjaan yang sulit untuk aku lakukan, tetapi aku rela demi kamu, demi mimpiku dan demi masa depanku, aku mau untuk bersabar menanti sesuatu yang aku anggap memang membuang-buang waktu saja,  tetapi keyakinanku ini lebih besar dari pada akal sehatku yang sudah terpasung dalam cinta-mu. Kamu sirami lagi hati yang dahulu tandus dan lupa caranya untuk jatuh cinta, justru hadirnya kamu memberikan warna baru dalam hidupku. Hanya menghitung hari saja, jawaban dari misteri hidup dan tentang jodohku akan terjawab.


Yaaah, kamu-lah bintang di hati dan yang aku tuju dalam setiap langkah hidup ini. Aku percaya, hanya lelaki yang hebat saja mampu mendampingi wanita yang hebat juga, dan wanita yang hebat hanya untuk lelaki yang hebat pula. Kini dalam syahadat cintaku, izinkan aku memanggil nama-mu, dan menjadi jawaban atas semua do’a yang aku sampaikan kepada Dia Sang Pemilik Hati, Maha dari Cinta dan Pecinta, Raja dari segala Raja’ kini aku serahkan semua urusan ini kepada-Nya untuk menjadikan-mu Ratu dalam hati dan hidupku, seperti Sulaiman ketika berikrar cinta kepada Bilqis.”


 


 


Semua sudah aku persiapkan, termasuk mobil kantor yang bisa aku gunakan kapan pun jika aku memang memerlukan. Ada beberapa hadiah dan cendra mata yang sengaja aku belikan untuk Vega, mulai dari Bunga Sedap malam yang aku tahu ia suka menaruhnya di sudut kamar, aku bawakan juga beberapa hijab dan kaftan, dan beberapa cendramata dari Mekah serta Jerman,plus Jersey yang aku beli langsung di Giuseppe Meazza, San Siro. Walau aku sendiri tidak mengerti dan tidak tahu perkembangan dunia sepak bola. Seisi mobil penuh dengan oleh-oleh yang aku bawa untuk gadis yang sudah menyandra hatiku, Vega.


Rasa ini tak sabar untuk bertemu langsung dengannya, aku yakin dia akan senang dengan apa yang aku bawa karena semua barang-barang ini hasil dari aku cari tahu kesukaan-nya dengan melihat serta membongkar semua foto-foto di akun facebook-nya, serta hasil pendekatanku selama ini.


“Bismillah, semoga hari ini menjadi hari yang indah.” Sambil aku melihat Foto Profil Vega di Whats App.


Sepertinya aku merasakan jatuh cinta lagi, dan terkadang suka tertawa sendiri,”kenapa juga prilaku ku mirip seperti ABG yang dimabuk cinta. Benar-benar cinta yang mampu merubah karakter orang dan aku percaya, ini semua hadiah dari adanya kekuatan cinta. Yang jelas, hari ini adalah hari terindah dalam hidupku.


Setelah memastikan semua-nya sudah siap, ada tiga mobil yang berangkat dan anak-anak yatim sudah menunggu-ku dari pagi. Sekitar dua puluh orang yang ikut, pihak mangement membawa kendaraanya sendiri dan satu bus membawa anak-anak itu, sedangkan satu mobil travel disiapkan untuk membawa logistik.


“Bang Haidar kapan jalannya? Piyan Bete niih nunggunya!” Celetuk Piyan sahabat kecilku.


“Sabar yaah? Sebentar lagi, bang Haidar lagi nunggu satu orang yang mau ikut kita jalan-jalan, kasian kalo ditinggal.” Aku coba menenangkan bocah yang aku kenal rajin dan berpengaruh memimpin anak-anak sebayanya.

__ADS_1


Satu jam berlalu, aku pun mulai gelisah dan berkali-kali mencoba menghubunginya, emosi ini tidak lagi terkendali, aku coba ambil air wudhu serta meminta waktu untuk sholat dua rakaat. Kepada pihak Belunni sendiri yang sudah terlihat gelisah.


“Mas, aku sholat sebentar yaah?” Aku meminta izin kepada Kang Bang Berman dan Mas Febry.


“Santai Haidar, semua sudah ada yang ngatuuur.” Mas Febry mencoba menghibur atau menyudutkanku, entahlaah...


Aku tunaikan dua rakaat shalat mutlak, sebagai penawar rasa kesalku. Aku mencoba untuk berprasangka baik kepada Vega, tetapi dada ini terus bergemuru dan emosi.


“Ya Allaaaah kenapa semua jadi seperti ini!!” Aku hela nafasku dalam-dalam, aku pinta dan serahkan semua perkara hidupku pada Allah.


Dengan berat hati aku tinggalkan Vega, apa pun kemungkinan yang terjadi nantinya. Ini keputusanku


terakhir dan tidak akan merubah niat ku yang sudah bulat untuk melepas-nya. Walau berat untukku menghapus semua mimpi dan harapanku bersamanya.


“Haidar, besok gala primer dan undangan sudah kita sebar. Ada Edo dan Lucky yang sedang


ngurus untuk acara besok. Kemungkinan acara besok itu kita mulai jam satu siang sampai jam delapan malam, siapkan tenaga dan jaga kesehatannya. Mulai banyak agenda acara yang harus Mas Haidar ikuti setelah gala primer. Dan untuk acara lamaran Mas sama Vega itu kita setelah konpres dan itu masih banyak tamu undangan yang datang, sebelum nonton bareng.”


Aku hanya terdiam dan tidak banyak bicara, karena aku sendiri tidak tahu kabar Vega. Yang jelas, ia sudah membuatku kecewa hari ini. Dan tidak ada lagi mimpi untuk hari esok bagiku, semua aku batalkan.


“Acara lamarannya dibatalin aja yaah Mas?”


“Loooooooooooooh koook!!!” Semua mata tertuju padaku, seakan menanti jawaban dari rencana yang sudah dipersiapkan secara matang. Sampai-sampai Kang Belman yang sedang asik di balik kemudi memilih untuk menepis di bibir jalan, karena terkejut dengan pertanyaanku.


“Yaudah begini saja, jadwal tetap apa adanya yang sudah kita buat. Untuk hal teknis seperti Mas Haidar pengen nembak atau ngajak si pramugari itu menikah itu kita lihat kondisinya saja, bagimana?” Kang Belman memberikan jalan solusi yang terbaik.


“Aku ikutin jadwal Mas-Mas aja deeh!”


“Ok, jadi schedule besok aman yaaah?” Mas Febry memastikan lagi.


“Insyallah aman Mas.”


Saat ini waktu yang tepat untuk aku mampu keluar dari harapan dan mimpi-mimpi indah yang aku sendiri tidak tahu dengan keputusan yang aku ambil, apakah benar atau tidak?! Atau ini hanya ucapan emosi sesaat saja yang sudah tak mampu aku bendung lagi dan aku harus mampu memilah serta membuat hatiku nyaman.


“Ya Rabb, berikan aku petunjuk-Mu. Akan misteri takdir jodoh yang aku tidak paham dengan semua ini.” Ucapku dalam hati dan pandanganku kosong menerawang jauh di balik jendela mobil mewah yang seumur-umur baru kali ini aku merasakan.


Aku harus menikmati dan bersyukur atas nazarku yang pada hari ini terbayar sudah, cita-citaku yang sudah jauh hari dipersiapkan. Inilah jawaban dari semua mimpiku, yang akhirnya terjawab dalam lembaran-lembaran harapan yang aku bingkai indah dalam doaku.


Hari ini harus aku nikmati walau suasana-nya memang tak seindah apa yang aku bayangkan.


“Andai kamu ada di sini Vega.” Ucapku sambil memegang boneka Paul Maldini yang aku beli langsung dari San Siro.


Satu harian ini aku nikmati segala macam permainan di sebuah pusat rekreasi di Utara Jakarta, aku seperti kembali mengingat kenangan ketika masih duduh di bangku Taman Kanak-Kanak, dan memang itu yang terakhir aku merasakan rekreasi di tempat ini. Dan puluhan tahun baru aku kembali lagi ke tempat yang memang menjadi prioritas tempat rekreasi di Jakarta.


Pikiranku sudah tak tahu dan arah lagi, konsentrasi pun hilang. Aku hanya duduk termenung di sebuah cafe di pusat belanja, di tempat ini-lah beberapa jam lagi akan berlangsungnya acara terpenting dalam sejarah dunia creative dan entertaiment ku. Dan Saat inilah puncak karir-ku yang harus tetap harus dipertahankan, itu lah hal yang tersulit aku jalani.


Untuk melepas jenuhku, aku hanya melihat panita begitu sibuk mempersiapkan acara tersebut termasuk Team Management rumah produksi, aku sengaja mengasingkan diri sekedar menenangkan pikiran karena acara ini terlihat begitu resmi, seperti perhelatan di Hollywood, ada karpet merah yang terbentang dari depan pintu masuk dan berujung di meja yang sedang aku duduki.


Inilah tempat tertinggi dari sebuah pencapaian yang aku dapatkan, semua anugrah dari Allah dan sebagai kado istimewa ketika popularitas sudah berada dalam genggaman tangan, dan puluhan mata kamera akan tertuju kepada sosok lelaki yang dianggap pemimpi dan panjang angan-angan ini. Secara karir aku memang menang, tetapi aku memakai topeng kepalsuan bahwa aku-lah lelaki yang kalah dalam mencari pasangan


hidup.


Dan satu persatu tamu undangan pun sudah datang, menduduki kursi yang sudah di persiapkan. Di barisan terdepan sudah tertulis nama-nama tamu penting, termasuk tokoh-tokoh nasional dan para budayawan, termasuk para tamu dari kantor konsulat untuk negara seperti Jerman dan Uni Emirat Arab. Dan mamah sendiri sejajar dengan mereka, di kursi barisan ke dua ada orang-orang terdekatku yang sengaja diundang sebagai tamu istimewa.


Namun, bangku nomor satu yang sengaja aku pesan dan dipersiapkan pihak penyelenggara masih terlihat kosong. Aku menantap dari kejauhan dengan penuh kecemasan.


“Mas, tamu undangan untuk kursi nomor satu belum datang?” Tanyaku kepada Mas Lucky yang dia bertanggung jawab atas penyebaran undangan.


Pria itu membuka lembaran kertas dalam genggaman tangannya. Nampak begitu sibuk mencari daftar tamu undangan.


“Itu kursi untuk Vega Putri Nafisah Mas.” Aku langsung memberikan jawaban dari pertanyaanku, padahal aku hanya ingin memastikan kehadiran-nya.


“Dan memang, sudah dari kemaren itu saya hubungi nomor yang mas Haidar berikan tidak bisa dihubungi. Sampai pagi tadi handphonenya juga nggak aktif.


Begitu aja siih laporan dari saya, Ok! Tak lanjuti tugasku yo?” Dialek bahasa Jawanya masih kental terdengar.


“Siiip! Dilanjut Mas, tanks yah?”


“Ok.”


Beberapa jam lagi acara akan dimulai, nampak sepasang pembawa acara sudah siap di


belakang stage dan aku masih gelisah berharap Vega bisa hadir. Aku mencoba menghubungi, mulai dari whats app, chat di facebook sampai terakhir aku telepon pun tak ada yang aktif.


“Aku harus belajar untuk tidak ketergantungan pada-nya hidup harus terus aku jalani, mudah-mudahan aku bisa hadapi ini semua dan aku pastikan tanpa hadirnya dia, acara ini harus berjalan sesuai rencana. Walau ada beberapa agenda yang harus dipangkas. Kamu harus bisa Haidar!! Ingat! Di depan kamu sudah menanti mimpi


yang selama ini membuat-mu gelisah, bertanya dalam do’a-mu jangan hanya gara- gara hal sepele kamu rusak semua yang sudah direncanakan jauh sebelum kamu mengenal Vega. Dan ketika mata kamera terus memburu-mu itu-lah kesempatan yang tidak akan terulang lagi seumur hidup-mu. Kamu pun bisa mendapatkan yang lebih


baik dari Vega. Kamu harus bisaaa Haidar!!!!..” Bisik hati ini melawan kerisauan dan kegelisahan.


Jemari ini terkepal menutupi semua ruas di telapak tangan, aku genggam dan kepal erat-erat untuk tetap menyemangatiku. Dan suara MC sudah terdengar membuka acara ini bertanda bahwa sebentar lagi nama-ku akan dipanggil untuk duduk dikursi yang sudah disediakan. Tetapiiiii....aku masih tidak sanggup untuk


melihat kursi nomor satu di sudut kanan-ku masih terlihat kosong, tak berpenghuni.


“Kamu dimana sayaaang?!” Bibir ini masih terus memanggil-manggil dan hati ini juga masih terus menyebut nama gadis itu.


Sampai akhirnya aku harus benar-benar meninggalkan Vega yang hampir beberapa bulan ini begitu dekat. Aku terus mencari tahu kabar gadis yang dua hari ini tiba-tiba menghilang tanpa alasan dan sebab yang tidak aku ketahui, aku seperti orang yang ragu untuk melewati sungai yang aku yakin mampu, hingga keraguanku ini terseret arus sungai tersebut. Seperti itu-lah gambaran hubunganku dengan Vega, ia menggantungkan semua-nya, tentang komitmen yang ia sendiri tidak memberikan kejelasan tentang status hubungan ini.


Semula aku memang tidak yakin, tetapi seringnya komunikasi membuatku terseret arus perasaan hingga seperti ini jadinya, akal sehatku seperti mati suri tanpa bisa berpikir logis dan terbuai perasaan-perasaan yang akhirnya merusak hati ini lagi.


Sampai acara selesai tak juga ia mneghubungiku hanya sekedar maaf atau apa-lah, sudah tiga kali aku ragu untuk melepasnya, dan ini saatnya aku hapus semua akun jejaring sosial, termasuk nomor handphone-nya aku Block.


“Maaf Vega, mungkin aku orang paling bodoh di dunia ini, memaksa untuk memiliki- mu yang aku begitu mengemis dan menghamba untuk memintamu menjadi pendamping hidup-ku.” Mataku terus memperhatikan foto-fotonya di akun twitter yang menjadi akun pertama untuk aku hapus, setelah itu whats app, line, path, kakao dan yang terakhir facebook-nya.


Dalam temaram lampu gedung yang cahayanya tetap setia memayungiku, disaat semua crew dan management sudah kembali atau mungkin mereka sedang merasakan lelahnya, aku masih berada di dalam venue event seorang diri. Aku bersandar di kursi nomor satu, kursi yang sudah aku pesan jauh- jauh hari untuk gadis yang teristimewa


dalam hidupku, yang semula ada beberapa nama seperti Astary, Azka yang aku pikir mereka layak untuk menjadi pendamping hidupku dan menggantikan Amel, perempuan yang menyisahkan luka dan trouma untuk-ku, tetapi nyatanya tidak. Hingga akhirnya hatiku terbelenggu oleh perasaan-perasaan-ku sendiri oleh ‘merpati tanpa sayap’ itu, Vega.


Nyata kini! Apa yang menjadi rencana manusia, dan sekuat apa pun kita mengejar dan


berusaha mempertahankan, mensyukuri dengan apa yang sudah aku dapatkan kalau Allah berkata TIDAK, maka tak ada seorang pun dan tak ada kekuatan apa pun yang bisa merubah-nya.


Di kursi nomor satu, di ruang VVIP aku termenung beberapa saat, meng-evaluasi dan intropeksi kembali, “Ada apa dengan jalan hidup-ku?! Apa salahku hingga sebegini letih-nya untuk-ku mencari kekasih yang halal, disaat rezeki terus menghujaniku, disaat puncak karir sudah ada di genggamanku, disaat popularitas menjadi santapan sehari-hariku, justru aku menjadi pecundang dengan jalan takdirku sendiri. Air mataku tak cukup menjawab dari misteri hidup yang hanya Allah saja-lah yang tahu.


“Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaaan,apa salah-ku hingga kau menghukumku seperti ini?!”


Ketika hati ini mulai terasa letih, disaaat habis-habisan aku menyalahkan diri dan jalan takdiriku, ketika akal-ku tak mampu lagi menjawab tentang rezeki, jodoh dan kematianku sendiri. Seiring dari itu, aku temukan celah dan titik cahaya yang pada akhirnya, aku merasakan ada yang salah dalam niat-ku, ada yang kurang lurus dengan amalanku, sampai pada titik nol disaat diri ini merasa benar-benar menyerahkan sepenuhnya guratan takdir hidup, tanpa sadar lisanku dan pipi ini basah dengan air mata,mungkin ini-lah klimaks dari pencarian yang tak pernah ku temukan jawabanya, aku pun mulai letih menghujat takdirku sendiri.


"ILLAHI ANTA MAQSUDI WARIDHOKA MATLUBI, ATINI MAHABBATAKA WA MA’RIFATAKA"

__ADS_1


“Ya Allahku, Engkaulah Tujuan ku dan keridhaanMulah tujuan ku. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai Mu dan makrifat kepada Mu"


Inilah jawaban dari pencarianku, dari takdir yang kuhujat, dari suratan takdir yang tak pernah aku tahu seperti apa jadinya. Aku terus meyakini bahwa apa pun yang Allah berikan, baik itu kesedihan dan kesenangan serta keberuntungan lainnya, dan itu yang menjadi Qadr yang terbaik bagiku. Lalu untuk apa kusesali dan gelisah dengan jalan hidup yang memang sudah tertulis di Lahul Mahfudz. Kini, aku merasa tenang dan seutuhnya pasrah dengan apa yang terjadi setelah ini.


“Tuhan, masih adakah lembaran takdir yang bisa aku tulis?!”


Ketika aku pasrahkan semua segala urusanku, termasuk Jodoh yang belum juga terjawab sampai saat ini. Suara high heels mengusik lamunan, suara itu terdengar dari belakangku, aku beranjak dari kursi nomor satu, dari ruang VVIP dan mencari sumber suara itu, mata ini berusaha menembus dan menerka walau pandangannya terbatas, karena siisi ruangaan ini gelap dan hanya di kursiku saja dibiarkan tetap menyala.


Oh, rupanya wanita dengan rambut teruai panjang, mengenakan jeans terus mendekat ke arahku. Cahaya dari balik pintu masuk terus menuntunnya, wanita itu terus menghampiriku dan menelusuri karpet merah, begitu terlihat anggun. Lama-lama kian mendekat dan terus mendekat, hingga aku pun terhipnotis dengan kehadirannya, sungguh aku tidak pernah menyangka dan tidak pernah terbesit wajah yang kini berdiri di depanku.


“Haidar, selamat yaah? Akhirnya mimpimu sudah terjawab. Tuhan begitu dekat dengan-mu dan kini memelukmu dengan kasih-Nya.”


Aku masih tak menyangka, dan gadis ini tidak pernah ada di dalam bait-bait do’aku, yang aku anggap mustahil untuk datang kembali. Atau jangan-jangan aku lupa, pernah ada do’a yang terjebak dalam dimensi waktu, dan mungkinkah saat ini-lah jawaban dari do’aku itu?! Aku diam dan tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutku, masih tidak menyangka dengan sosok gadis yang kini berdiri di hadapanku.


“Tanpa kamu ketahui, aku banyak mendengar tentang dirimu dari Mas Edo, ketekunan, keyakinan serta kepasrahan-mu menjalani disetiap kisah hidup. Dan kini aku berhadapan langsung dengan lelaki hebat, yang sepuluh tahun lalu menghilang, keikhlasan-mu memaafkanku, dan merelakanku untuk mengembara di hati yang lain. Kini, dan saat ini waktu yang tepat untukku menyerahkan diriku seutuhnya untuk-mu. Aku ikhlas untuk menjadi belahan hati-mu.”


“Tetapi kita berbeda?! Tak ada satu orang pun yang merubah keyakinan dan aqidahku, dan


itu tidak pernah dan tak akan bisa menyatuhkan kita bukan?!”


Senyum lebarnya mengembang dan matanya begitu tajam memandangku hingga aku pun tak


tertunduk tak sanggup untuk melihatnya.


“Haidar, tak ada yang tidak mungkin kalau Dia sudah berkata.”


“Dan dalam agama-ku tidak ada pemaksaan untuk-mu. Agama ini adalah kepasrahan,


ketundukan, "berserah diri kepada Tuhan" dan agama yang mengimani satu Tuhan.”


“Aku sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan dalam hidupku.” “Lalu bagaimana dengan orang tua-mu?!”


“Mamah-Papah sudah aku berikan pengertian dan mereka pun yakin bahwa kamu mampu bertanggung jawab, itu saja cukup bagi mereka yang sudah mengenal


kamu, terlebih mamah yang berharap kamu jadi menantunya.” “Walau kita berbeda


keyakinan?”


“Ya.” Gadis itu menganggukan kepala dan masih tersenyum.


“Dan satu hal yang harus kamu ketahui Thea, aku sudah tidak lagi mengenal istilah


pacaran.”


“Daaaan perlu kamu ketahui juga bapak Haidar yang terhooormaat....aku pun sudah letih dengan yang namanya pacaran, kamu harus paham itu?!” Gaya manjanya membuat ku, membuka kembali cerita sepuluh tahun lalu, dia memang gadis yang manja, dan paham dengan keadaanku.


“Jadi?!”


“Jadiiiiii...Kesimpulannya dari aku datang ke acara-mu hanya untuk mengucapkan selamat dan menantang seorang lelaki hebat untuk mau menikah denganku?”


Aku masih tak menyangka dan menganggap ini hanya-lah mimpi, dan aku memastikan kembali bahwa gadis yang sedang berdiri di hadapanku ini adalah benar-benar Alphany Septhan Thea, gadis yang terpisah sepuluh tahun silam, dan ketika ia memutuskan dirku lantaran berbeda keyakinan.


Lalu mengapa tiba-tiba kini datang kembali? Apa karena aku kini sudah menjadi perbincangan publik, sampai akhirnya ia menginginkan?! Aku rasa Thea bukan tipe gadis seperti itu dan jauh sebelum aku mengenal dunia entertaiment kembali, ia pun sudah lebih dahulu tenar dengan dancer-nya. Atau kekayaan?! Itu pun aku rasa tidak, orang tua-nya masih sanggup memberikan dia apartemen dan rumah yang mewah, sebab papahnya seorang kontraktor senior dan memiliki usaha distribusi panel listrik.


“Apa alasan kamu mau menikah denganku?”


“Haidar, cinta itu datang tak mengenal alasan, ia datang dengan penyerahan diri seutuhnya, ia buta dengan materi dan apa pun itu yang menjadikan alasan. Cinta itu datang, ketika tak ada alasan lagi untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada yang dicintainya. Maka jika aku mampu memberikan alasan itu, kamu patut pertanyakan kemurnian cintaku untuk-mu dan cinta itu tidak pernah salah untuk memilih. Kamu harus pahami itu, ok?!”


Aku sendiri tak lagi mempunyai alasan untuk memutuskan memilih Thea untuk menjadi


pendamping hidupku, walau aku sendiri masih menyimpan pertanyaan, dimana Vega? Ada ada dengan gadis itu yang tiba-tiba saja menghilang.


Selang satu hari, baru aku menemukan jawaban, ketika aku mencoba menghapus akun facebook-nya yang tersisa. Ada upload foto dari seorang sahabatnya bernama Bunga dengan kondisi Vega di ruang intensive lengkap dengan peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


“Masyallaaaaah, Vegaaa!”


Dan aku pun mencoba meminta nomor handphone Bunga, untuk mengetahui kabar terakhir dari Vega. Setelah aku ketahui bahwa Vega sudah dirawat lima hari lalu, aku berdua Thea langsung meluncur ke Rumah Sakit yang merawat-nya.


Aku benar-benar panik dan gelap mata untuk menta’ati peraturan di jalan raya, dan pertama kalinya aku mengemudikan mobil inventaris kantor, hanya modal neka tdengan kemampuan mengemudiku yang kurang mahir. Aku mencoba mengejar waktu, karena memang hari ini ada agenda talk show di beberapa radio. Aku menerbos rambu-rambu lalu lintas dan salah masuk jalan tol, semakin membuatku bertambah panik.


“Pelan-pelan Haidar, jangan terburu-buru yaaah?” Suara itu menyejukan hatiku yang diselimuti kegelisahan.


Sampai tiba di Rumah sakit, masih ada saja yang salah, tempat ini memang begitu luas dan sulit untuk mencari ruang intensive. Aku mencari tahu keadaan Vega dari infromasi rumah sakit, kabar yang aku temukan cukup membuatku sock.


“Vega? Nama pasien tersebut sudah masuk ruang jenazah mas, jam 8 pagi tadi”


Air mata ini pun jatuh dan membasahi pipi, sekujur tubuhku lemas dan tak berdaya, telinga ini masih belum bisa menerima kabar seperti ini.


“Kenapaaaaa kamu tidak cerita kalau kamu sakit!” Sesalku dalam hati.


Tangan lembut itu mengusap air mata, punggung dan membelai halus rambutku, ia berusaha


menenangkanku.


“Jangan berlebihan meratapi kesedihan sayangkuuu, dan bukankah sesuatu yang amat wajar, ada pertemuan pasti ada perpisahan.”


Jemari gadis itu terus memenggang erat setiap ruas jari-jariku, seakan dari bahasa tubuh dan raut wajahnya mengisyaratkan satu bahasa hati,” Sekarang kamu punya aku, yang akan terus menyekat air mata-mu ketika kamu menangis Haidar.”


Aku meminta pihak rumah sakit untuk mengizinkan aku melihat Jenazah Merpati yang kini tak mampu lagi ia mengepakan sayap-nya. Kini ia terbang ke alam akhirat walau tanpa sayap-nya, dan menutup takdirnya sendiri. Belum sempat aku meminta maaf, belum sempat aku menemani disaat gadis itu menjemput kematiannya seorang diri. Dua kali aku kehilangan orang yang aku cinta, Ayah dan kini Vega.


Setelah mendapat izin dari rumah sakit, kami pun bergegas menuju kamar jenazah dengan dikawal petugas rumah sakit. Mereka memintaku untuk mengenakan pakaian medis yang telah disiapkan lengkap dengan masker dan sarung tangan anti septik. Ketika salah satu dari petugas menyingkap kain putih, tangisanku pun pecah melihat tubuh yang kini terbujur dalam pembaringan seorang diri. Tanpa orang-orang terdekatnya, atau mungkin meraka belum sampai untuk mengambil Jenazah-nya.


“Jangan Mas....!!!” Petugas melarangku untuk menyentuh wajah-nya walau untuk yang


terakhir kali.


“Khawatir virusnya masih aktif, almarhumah terdiagnosis mengidap penyakit Hepatitis C, dan menular.” Petugas itu


memperlihatkan laporan rekam medisnya.


Ya Allaaaaaaah! Inikah alasanmu melarang aku untuk sekedar memegang jemari-mu di saat itu?!!!Kamu tak ingin aku sentuh sampai jenazah-mu pun tak bisa aku miliki walau sebentar saja. Thea menahan tanganku yang memaksa untuk memegang wajah gadis yang kini bersembunyi dalam senyum dari bibir yang pucat.


“Kenapa kamu rahasiakan ini semua dari akuuuuu?!!” Sesalku kian menjadi-jadi.


Waktuku pun habis dan dua petugas itu mengawalku untuk keluar dari ruang jenazah, Merpatiku kini pergi meninggalkan cerita cinta yang tak pernah terjawab. Kawanan genushepacivirus kini membungkam semua mimpi dan harapanya, dia masih terlalu muda untuk menjemput ajal-nya.


“Selamat jalan Merpati-ku, takdir kini menjawab semua rahasia cinta-mu. Moga Allah


mengampuni segala dosa-dosa yang telah kamu perbuat, dan menerima segala

__ADS_1


kebaikan sekali pun sekecil biji atom.”


__ADS_2