TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Lain Lubuk, Lain Pula Ikan-nya


__ADS_3

Setiap daerah memiliki adat yang berbeda, begitu juga ketika menjelang pernikahan


kalau bagi orang Palembang biasanya kedua mempelai menggunakan pacar atau henna


di kuku serta pergelangan tangan dan kaki sebagai penghias diri, begitu juga


bagi mempelai pria, termasuk aku yang harus mengikuti adat tersebut, selama


adat itu tidak bertentangan dengan agama.


Dua hari ke depan, aku mulai sibuk untuk menghias dan merawat diri, dan aku tidak


menyangka resepsi pernikahan ini terlihat megah, jauh dari pemikiran dan


dugaanku semula. Tetapi, sedikit berbeda dengan calon pengantin lainnya, justru


aku mendapat tugas untuk merapihkan halaman rumah yang luasnya 200 meter,


meratakan undukan tanah dan ilalang yang tumbuh subur, sampai telapak tangan


ini terkelupas, perih.


Perasaan ini semakin tidak menentu, mengapa sebegini gelisahnya? Mengapa aku tidak tenang?! Ada hal yang lain membuatku tidak menemukan kenyamanan.


Aku coba menghibur diri dan menganggap ini hanya perasaanku yang baru pertama kali mengenal pernikahan.


Kalau untuk berbicara di hadapan orang banyak itu bukanlah masalah buatku, selama


duduk di bangku Madrasah aku sudah ditempa dengan pelajaran muhadhoroh, mata


pelajaran yang memang sudah menjadi tradisi di kalangan pelajar madrasah, bertujuan memperisapkan para orator dan khatib serta mengajarkan kita untuk


berani berbicara di depan orang banyak, alhamdulillah itu bisa aku atasi.


Berkali-kali orang tua Amel mempertanyakan, “Haidar, katanya ada paman kamu yang ingin


menyaksikan resepsi ini, berapa banyak keluarga kamu yang datang?” Bagai


disengat lebah, telinga ini begitu panas-nya mendengar, bahwa keluarga Amel ingin dari pihak keluarga mempelai pria datang, dan memang semula rencananya adik dari Mamah mau datang, tetapi sampai detik ini tak ada kabarnya.


Semakin membuatku cemas, dag...dig...dug tak karuan.


Lagi pula, dari awal aku pun sudah menceritakan keadaan keluargaku. Kok, masih saja dipertanyakan tentang keberadaan pamanku? Disini aku protes, dari pertama aku kenal Amelia sudah aku jelaskan semua keadaan Ayahku yang sedang sakit stroke dan Mamah yang terbaring di tempat tidur berbulan- bulan, tanpa ada perubahan


tanpa perawatan medis, nyaris kami kehilangan jalan keluar untuk mengobati


kedua orang tua kami.


Keputusanku untuk menikah semata-mata ingin mencari ridho Allah, mengais berkah dari langit dan menyempurnakan kekurangan yang aku miliki, sebab aku sadar tak perlu wanita yang sempurna untuk menjadi pendampingku tetapi aku butuh wanita yang mengerti bagaimana caranya menyekat air mata ketika aku menangis, wanita yang menopang langkahku ketika kayuh berjalan, dan setiap jengkal perjalanan hidupku selalu


bersama dalam do’anya, tidak lebih dan tidak kurang.


Robbi hablii Miilandunka Zaujatan Thoyyibah Akhtubuhu Wa Atazawwaj Biha Watakuna Shoihibatan


Lii Fiddiini Waddunyaa Wal Aakhiroh.


Wahai


Rabb-ku, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku


lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan


dunia dan akhirat.


Aku coba menenangkan keluarga Amel dan


meyakinkan kalau paman yang nantinya menjadi saksi pernikahan kami, beliau sudah berada di Palembang dan bermalam di rumah santrinya. Dien Nanda Pangestoe, dia ustadz


muda, adik dari Mamah yang sebelumnya memang sudah aku kabarkan berita tentang


pernikahanku dan ia bersedia untuk hadir sebagai perwakilan dari keluarga mempelai pria.


Tapi nyatanya, menjelang hari H tak diketahui keberadaannya, memang dia orang yang


super sibuk dan tidak bisa dipastikan keberadaannya, hari ini mungkin dia ada


di Jakarta, entah esok atau lusa tiba- tiba beliau berada di Kalimantan, Bangka dan Tasikmalaya.


Sampai menjelang malam hari, aku masih menghitung jumlah piring, sendok, gelas dan


keperluan resepsi esok harinya, sambil menunggu kabar dari Ingdin, biasa aku


memanggilnya seperti itu tak apalah walau istirahat agak larut malam.


“Peee...Peee, dimana-mana calon penganten jam segini masuk kamar dan istirahat. Elu masih aja ngitungin sendok!”Sindir Vicky. Pe itu potongan dari pak, lantaran orang Betawi


senang sekali menggunakan akhir ‘e’ maka di singkat menjadi ‘Pe’ mungkin itu


awal sapaan itu disematkan untukku.


“Yaah, nggak mesti juga boooy. Lagi pula masih sore jam segini mah, biasa tidur pagi.


Kan loh sendiri tauu....”


“Si Amel kok belum tidur?”


“Udah aah, dia lagi! Nggak boleh ngeliat bantal guling dikit langsung tidur.”


“Tuuh, loh liat! Lagi asik telepon-teleponan.” Vicky mengisyaratkan pandangannya ke arah Amel yang memang terlihat asik berbincang, mungkin ia merasa senang esok hari ingin

__ADS_1


menikah jadi lupa waktu.


Pembicaraan kami pun melebar, tak beraturan. Ngalor-ngidul. Mulai dari masalah teman, dunia kerja, keluarga, agama sampai kepada kesedihan hidup yang dialami kaka-kakanya dan aku akrab dengan keluarga Vicky, karena memang kita sahabat dari TK sampai detik ini, lika-liku keluarganya pun aku tahu.


Vicky dahulu hidupnya dipenuhi segala fasilitas, apa yang ia inginkan harus dipenuhi


dan memang ia pernah mengalami enak-nya jadi orang kaya dan bergelimangan harta, tetapi setelah Papahnya meninggal dunia, kabut hitam mulai memasuki biduk luka keluarganya.


Hingga sampai kini, Vicky tidak pernah tahu kemana ia harus pulang dan pergi, karena memang tidak mempunya tempat tinggal yang pasti. Dan tak terasa pekerjaan kami


sudah selesai, mulai dari menghitung jumlah peralatan prasmanan, sampai kepada menata kamar pengantin yang begitu indah, walau tidak seperti tempat tidur yang diilustrasikan dalam film Marie Antoinette, besutan sutradara Sofia Coppola, begitu sempurnanya menggambarkan kemewahan tempat peraduan para bangsawan Francis, di Istana Versailles.


Kelambu-nya yang terurai tipis dan menjulur sampai ke lantai, tepat di atas kepala


rangkaian bunga tulip, mawar dan nyinyir wewangian bunga sedap malam begitu mengusik hidung, menjelebab ke syaraf otak, imajinasi pun liar.


Di tempat peraduan inilah, untuk pertama kali dalam hidupku bibir ini terucap santun, Assalamu’alaika yaa Baba Rahmah, dan di kamar ini-lah generasi Rabbani yang kami inginkan akan segera terealisasi, ketika dua insan di mabuk cinta, malaikat dan bidadari syurga pun enggan untuk melihat, batin kami beranjak, bergegas menuju langit-langit kerinduan bagi si perawan dan bujang, seisi


ruangan ini kelak akan menjadi saksi peluh yang semula diharamkan, menjadi sebuah ibadah yang tak terbayarkan, jihadunnikah, lisan kami akan senantiasa berselawat atas Rasulullah dengan harapan kelak kami peroleh dzuriat yang setabah Hasan dan Husein, yang seteguh Fatimatudzahra, penguhulu bagi wanita-wanita suci.


Semoga ini bukan sekedar mimpi di siang hari.......


Kantung dan kelopak mata seperti bergelantungan anting-anting 5 gram, berat terangkat. Kantukku hilang seketika seperti tersiram air, disaat pikiran ini teringat


paman yang belum juga memberikan kabar, padahal beberapa jam lagi akad nikah akan dilaksanakan.


“Udah begini aja kalo Ka Didin belum dateng juga, loh bayar orang untuk pura-pura jadi keluarga loh, satu orang sepuluh ribu juga cukup buat hati mereka seneng.


Hahhahaaa...”Sindir Vicky, padahal baru selesai sholat Subuh sudah buat dosa


lagi.


“Elu temen lagi panik masih aja dibercandain, jangan loh samain acara begini sama


setting di film.”


Aku dan Vicky memang sama-sama menggeluti dunia entertaiment yang terbiasa mencari talent seabagai pemain extras dalam produksi film, tetapi kita berbeda lokasi


dan sekmentasi program.


Kalau Vicky cendrung ke sinetron dan aku lebih ke program reality show yang semuanya


tayangan 75 persennya adalah rekayasa. Karena kebiasaannya itu, maka ia berinisiatif mencari orang untuk berpura-pura menjadi tamu undangan dari pihak keluarga yang nantinya membawa seserahan atau mahar ke tempat mempelai wanita.


Dan bagiku itu solusi terakhir, kalau sampai jam tujuh pagi pamanku belum datang


juga, terpaksa saran Vicky aku ikuti dari pada malu? Tetapi entah kenapa, dari semalam perasaanku tidak enak dan merasa ada sesuatu kejadian yang aku rasakan, entah siapa yang mengalami kejadian itu.


Sudah terlihat sanak saudara dari keluarga Amel satupersatu berdatangan, ada yang begitu sibuk dengan urusan dapur, ada juga yang bertugas mempersiapkan hidangan, sedangkan aku dan Amel mulai make cover serta memakai baju adat Palembang, aku terasa risih dengan acara adat seperti ini. Tetapi bagaimana pun juga harus aku tangguhkan idealisme ku yang memandang hal semacam ini tidak pantes untuk dituruti.


Memang semula inisiatifku hanya sebatas nikah di KUA dan tasyakuran saja sudah cukup, toh tujuan walimatul ursy untuk mencegah fitnah saja bukan untuk


“Semoga Allah memberkatimu.Adakanlah walimah meski dengan seekor kambing.”


Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, tak seperlu megah seperti ini.


Tetapi aku menyadari bahwa hal ini wajar, karena Julie putri satu-satunya dan keluarga


mereka terbilang dari kalangan ekonomi menengah ke atas, walau ada beberapa


yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.


Mungkin walimah masih dianggap


gengsi bagi sebagaian orang, mudah menerka keadaan ekonomi sesorang ketika


tengah menyelenggarakan walimah-an dan yang menjadi barometernya adalah seberapa megah acara itu diselenggarakan, walau pada akhirnya hanya meninggalkan hutang.


Apa dengan begitu akan tercipta keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warahmah?! Yang jelas selepas pernikahan, harus menanggung beban hutang yang tidak sebanding dengan pendapatan. Jangan bermimpi, dengan mengadakan resepsi pernikahanbesar-besaran akan mendapatkan angpao yang besar pula., mimpi.....


Kecemasanku makin memuncah, ketika sudah datang penghulu yang kelak akan menikahi dan menuntun kami memenuhi syarat dan rukun pernikahan, sampai detik itu pamanku belum datang juga.


“Haidar coba kamu hubungi paman kamu itu, sudah sampai mana? Acara mau kita mulai!”


Pinta papah Ameldengan penekanan.


“Iya Pah, katanya sudah dekat-dekat sini.” Terpaksa aku berbohong dan mudah- mudah apa yang aku ucapkan ini benar, maka gugur dosaku.


Aku berusaha menghubunginya, tetapi tak pernah diangkat atau terkadang di-reject


siapa juga yang tidak naik pitam, acara sebentar lagi akan dimulai tetapi Ingdin tak terlihat batang hidungnya.


Seluruh pandangan tertuju kepadaku, dari tatapan mereka terlihat ada yang menghakimi, bergumam dan berbisik dengki, ada juga yang tetap tenang dan berbaik sangka.


“Dari keluarga mempelai pria, masih ada yang ditunggu?” Pertanyaan yang keluar dari


mulut penghulu semakin membuatku cemas. Allahu akbar....! Aku diam memantung,


pandanganku tertunduk, takut menatap mata mereka yang hadir dan memenuhi ruangan.


“Bagaimana? Apa kita lanjut?”


Ingin rasanya aku mengumpat di balik bukit yang besar atau masuk kedalam gua untuk menutupi rasa malu. Namun ditengah kecemasanku, suara parau mengusik keheningan suasana dan nampak di luar terlihat tiga mobil bermerk terparkir di depan pekarangan rumah Amel.


“Assalamu’alikum, maaf kami terlambat.” Suara itu muncul di tengah kerumunan tamu undangan yang ingin menyaksikan akad nikah kami.


“Wa’alikum salam.” Jawab mereka serentak dan melihat aneh sosok pria yang mengenakan kopiah putih dan berbaju gamis, pasti banyak yang bertanya,”siapa orang ini?”


Alhamdulillah, akhirnya tamu yang dinanti datang berserta rombongan entah dari mana mereka dan wajah-wajah asing yang aku sendiri tidak mengenalinya. “Siapa mereka?”

__ADS_1


Dibenakku timbul tanda tanya besar, dan memang pamanku tidak pernah bercerita


tentang mereka yang ikut mengiringinya. Tiga orang wanita, dan lima orang pria yang beriringan memasuki ruang yang beberapa menit lagi akan ikut hadir pula malaikat yang merangkaikan do’a bagi kami, mempelai pria dan wanita.


Pada saat itu Arsy berguncang dan pada saat itu juga seorang suami memangku berat


beban amanah yang tidak main-main ;


Duhai istriku, di sinilah akan terlihat bagaimana pengorbanan seorang suami


terhadapmu, disaat lisanku basah dengan kalimat, ‘saya terima nikah dan kawinnya Amelia binti Rustam  dengan mas kawin tersebut, di bayar tuuuunaaai!” maka pada saat itulah, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang aku tanda-tangani bukan pada manusia semata tetapi aku di depan Rabb-ku, dengan di saksikan para malaikat dan manusia, sekalipun kau menghisap darah dan nanah dari hidungku, maka tak cukup rasanya untuk menebus semua pengorbananku sebagai suamimu.


***


Semoga kamu ingat hal itu Amel...


Menjelang penghulu membacakan muqadimah ijab dan qabul, aku teringat satu malam menjelang ke berangkatanku ke kota Palembang, ketika aku mendengar suara tangis wanita yang ternyata mengharapkan kehadiranku sebelum pergi, yang aku anggap main-main dan disini terjadi kesalah pahaman antara Eva denganku, andai ia tahu kondisiku saat itu mungkin ia akan memaklumi.


Eva sempat menelepon dan mengajakku untuk bertemu di sebuah tempat di bilangan Selatan Jakarta, hanya ingin memberikanku hadiah yang aku tidak tahu hadiah apa itu.


Bukan aku tidak memenuhi janji, tetapi memang keadaan saat itu aku tidak mempunyai uang seperak pun. Aku sudah banyak bertanya dan meminjam uang untuk memenuhi ajakannya tetapi mereka yang aku temui kondisinya memang tidak memiliki uang lebih, maka aku urungkan niat untuk bertemu dengannya, ditambah lagi pulsaku


habis.


“Andai Abang tau, bagimana kondisiku saat itu yang ngebala-belain datang pagi-pagi


buta hanya untuk memberikan kado yang memang nggak ada harganya, tetapi Al-


Qur’an harta satu-satu dan barang yang paling berharga untukku, aku ingin berikan untuk Abang. Tetapi apa?! Banyak sekali


alasannya, entah kesianganlah, ini dan itu! Jujur bang, aku kecewa sama abang.”


Terdengar nada suaranya begitu berat.


“Kamu nangis?”


“Nggak koook!” Di sini dia berbohong, dari awal sampai pertengahan bicara aku bisa


menilai dan merasakan bagaimana kondisi dia di ruang yang berbeda dan aku yakin


dari nada suara yang awalnya begitu ringan terasa hening dan pecah karena kecewa dengan sikapku yang tidak menepati janji.


Aku coba toleransi dengan keadaan itu dan aku pun merasakan apa yang ia rasakan


jika aku berada di posisi Eva.


“Maafin Abang neng, benar-benar abang nggak ada maksud buruk sama kamu. Dan memang kondisinya tidak memungkinkan, jadi harap maklum.”


Mungkin ia teringat kembali saat pertama kita bertemu bagaimana kondisi aku saat itu


hingga akhirnya emosinya agak sedikit rendah.


“Bang, kalau nanti ijab qabul do’ain Eva biar cepet dapat jodoh yah?”


“Ooh, kalo itu pasti Eva, insyallah abang do’akan.”


“Eva, bagaimana proyek nulis buku bareng kita?”.


“Ayoo bang, kapan kita mulai?”


“Biar abang buat dulu nanti tinggal Luna sisipkan ceritanya, bagaimana?” “Yaudah, aku


tunggu kiriman naskah-nya.”


“Insyallah secepatnya.”


#Tuuut..tuut...tuut#


Entah kenapa tiba-tiba teleponnya mati, mungkin pulsa-nya habis atau jangan-jangan


baterai-nya drop. Tapi sedikit bisa


bernafas lega, setidaknya Eva sudah merasa tenang.


Suasana pun hening, ketua Rukun Tetangga setempat yang sekaligus tokoh masyarakat


membuka dan membacakan susunan acara, hingga akhirnya ke acara inti, ‘ucap


sumpah kedua mempelai’ terdengar begitu sakral dan sedikit menakutkan. Kalam


Illahi begitu menyejukan suasana, melepaskan segala beban, nyata bahwa


Al-Qur’an memang menjadi penawar dari kegelisahan hati. Setelah sambutan, baru


kini giliran acara untuk-ku dan Amelia.


Alhamdulillah, ketika membacakan ijab-qabul aku tak harus mengulang berkali-kali, begitu juga disaat aku membacakan sighat taklik suasana kembali hening dan tak satu pun


suara-suara yang berbisik.


Dan tangisan pun pecah, terlihat Amel mengusap air mata-nya, entah mengapa setiap aku hadiri akad nikah, selalu terselip suasana yang begitu menikmati haru-biru dan kesedihan, dan entah kenapa harus diselingi


air mata?! Sampai kini aku belum temukan jawab-nya.


Ternyata cukup risih jadi raja dan ratu semalam, mirip barang pajangan. Apa iya di zaman Rasulullah seperti ini?! Atau ini hanya tradisi yang cukup menyita waktu dan


tenaga?!


Tidak sedikit mereka yang meninggalkan sholat-nya hanya takut hiasan sanggul dan make up-nya rusak, lantaran pakaian pengantin sebegitu murah-nya air wudhu bila dibandingkan dengan apa yang melekat di tubuh kita, hingga akhirnya memaksa diri untuk meninggalkan sholat, apa-kah masih perlu dipertahankan budaya semacam ini?

__ADS_1


__ADS_2