
Setiap daerah memiliki adat yang berbeda, begitu juga ketika menjelang pernikahan
kalau bagi orang Palembang biasanya kedua mempelai menggunakan pacar atau henna
di kuku serta pergelangan tangan dan kaki sebagai penghias diri, begitu juga
bagi mempelai pria, termasuk aku yang harus mengikuti adat tersebut, selama
adat itu tidak bertentangan dengan agama.
Dua hari ke depan, aku mulai sibuk untuk menghias dan merawat diri, dan aku tidak
menyangka resepsi pernikahan ini terlihat megah, jauh dari pemikiran dan
dugaanku semula. Tetapi, sedikit berbeda dengan calon pengantin lainnya, justru
aku mendapat tugas untuk merapihkan halaman rumah yang luasnya 200 meter,
meratakan undukan tanah dan ilalang yang tumbuh subur, sampai telapak tangan
ini terkelupas, perih.
Perasaan ini semakin tidak menentu, mengapa sebegini gelisahnya? Mengapa aku tidak tenang?! Ada hal yang lain membuatku tidak menemukan kenyamanan.
Aku coba menghibur diri dan menganggap ini hanya perasaanku yang baru pertama kali mengenal pernikahan.
Kalau untuk berbicara di hadapan orang banyak itu bukanlah masalah buatku, selama
duduk di bangku Madrasah aku sudah ditempa dengan pelajaran muhadhoroh, mata
pelajaran yang memang sudah menjadi tradisi di kalangan pelajar madrasah, bertujuan memperisapkan para orator dan khatib serta mengajarkan kita untuk
berani berbicara di depan orang banyak, alhamdulillah itu bisa aku atasi.
Berkali-kali orang tua Amel mempertanyakan, “Haidar, katanya ada paman kamu yang ingin
menyaksikan resepsi ini, berapa banyak keluarga kamu yang datang?” Bagai
disengat lebah, telinga ini begitu panas-nya mendengar, bahwa keluarga Amel ingin dari pihak keluarga mempelai pria datang, dan memang semula rencananya adik dari Mamah mau datang, tetapi sampai detik ini tak ada kabarnya.
Semakin membuatku cemas, dag...dig...dug tak karuan.
Lagi pula, dari awal aku pun sudah menceritakan keadaan keluargaku. Kok, masih saja dipertanyakan tentang keberadaan pamanku? Disini aku protes, dari pertama aku kenal Amelia sudah aku jelaskan semua keadaan Ayahku yang sedang sakit stroke dan Mamah yang terbaring di tempat tidur berbulan- bulan, tanpa ada perubahan
tanpa perawatan medis, nyaris kami kehilangan jalan keluar untuk mengobati
kedua orang tua kami.
Keputusanku untuk menikah semata-mata ingin mencari ridho Allah, mengais berkah dari langit dan menyempurnakan kekurangan yang aku miliki, sebab aku sadar tak perlu wanita yang sempurna untuk menjadi pendampingku tetapi aku butuh wanita yang mengerti bagaimana caranya menyekat air mata ketika aku menangis, wanita yang menopang langkahku ketika kayuh berjalan, dan setiap jengkal perjalanan hidupku selalu
bersama dalam do’anya, tidak lebih dan tidak kurang.
Robbi hablii Miilandunka Zaujatan Thoyyibah Akhtubuhu Wa Atazawwaj Biha Watakuna Shoihibatan
Lii Fiddiini Waddunyaa Wal Aakhiroh.
Wahai
Rabb-ku, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku
lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan
dunia dan akhirat.
Aku coba menenangkan keluarga Amel dan
meyakinkan kalau paman yang nantinya menjadi saksi pernikahan kami, beliau sudah berada di Palembang dan bermalam di rumah santrinya. Dien Nanda Pangestoe, dia ustadz
muda, adik dari Mamah yang sebelumnya memang sudah aku kabarkan berita tentang
pernikahanku dan ia bersedia untuk hadir sebagai perwakilan dari keluarga mempelai pria.
Tapi nyatanya, menjelang hari H tak diketahui keberadaannya, memang dia orang yang
super sibuk dan tidak bisa dipastikan keberadaannya, hari ini mungkin dia ada
di Jakarta, entah esok atau lusa tiba- tiba beliau berada di Kalimantan, Bangka dan Tasikmalaya.
Sampai menjelang malam hari, aku masih menghitung jumlah piring, sendok, gelas dan
keperluan resepsi esok harinya, sambil menunggu kabar dari Ingdin, biasa aku
memanggilnya seperti itu tak apalah walau istirahat agak larut malam.
“Peee...Peee, dimana-mana calon penganten jam segini masuk kamar dan istirahat. Elu masih aja ngitungin sendok!”Sindir Vicky. Pe itu potongan dari pak, lantaran orang Betawi
senang sekali menggunakan akhir ‘e’ maka di singkat menjadi ‘Pe’ mungkin itu
awal sapaan itu disematkan untukku.
“Yaah, nggak mesti juga boooy. Lagi pula masih sore jam segini mah, biasa tidur pagi.
Kan loh sendiri tauu....”
“Si Amel kok belum tidur?”
“Udah aah, dia lagi! Nggak boleh ngeliat bantal guling dikit langsung tidur.”
“Tuuh, loh liat! Lagi asik telepon-teleponan.” Vicky mengisyaratkan pandangannya ke arah Amel yang memang terlihat asik berbincang, mungkin ia merasa senang esok hari ingin
__ADS_1
menikah jadi lupa waktu.
Pembicaraan kami pun melebar, tak beraturan. Ngalor-ngidul. Mulai dari masalah teman, dunia kerja, keluarga, agama sampai kepada kesedihan hidup yang dialami kaka-kakanya dan aku akrab dengan keluarga Vicky, karena memang kita sahabat dari TK sampai detik ini, lika-liku keluarganya pun aku tahu.
Vicky dahulu hidupnya dipenuhi segala fasilitas, apa yang ia inginkan harus dipenuhi
dan memang ia pernah mengalami enak-nya jadi orang kaya dan bergelimangan harta, tetapi setelah Papahnya meninggal dunia, kabut hitam mulai memasuki biduk luka keluarganya.
Hingga sampai kini, Vicky tidak pernah tahu kemana ia harus pulang dan pergi, karena memang tidak mempunya tempat tinggal yang pasti. Dan tak terasa pekerjaan kami
sudah selesai, mulai dari menghitung jumlah peralatan prasmanan, sampai kepada menata kamar pengantin yang begitu indah, walau tidak seperti tempat tidur yang diilustrasikan dalam film Marie Antoinette, besutan sutradara Sofia Coppola, begitu sempurnanya menggambarkan kemewahan tempat peraduan para bangsawan Francis, di Istana Versailles.
Kelambu-nya yang terurai tipis dan menjulur sampai ke lantai, tepat di atas kepala
rangkaian bunga tulip, mawar dan nyinyir wewangian bunga sedap malam begitu mengusik hidung, menjelebab ke syaraf otak, imajinasi pun liar.
Di tempat peraduan inilah, untuk pertama kali dalam hidupku bibir ini terucap santun, Assalamu’alaika yaa Baba Rahmah, dan di kamar ini-lah generasi Rabbani yang kami inginkan akan segera terealisasi, ketika dua insan di mabuk cinta, malaikat dan bidadari syurga pun enggan untuk melihat, batin kami beranjak, bergegas menuju langit-langit kerinduan bagi si perawan dan bujang, seisi
ruangan ini kelak akan menjadi saksi peluh yang semula diharamkan, menjadi sebuah ibadah yang tak terbayarkan, jihadunnikah, lisan kami akan senantiasa berselawat atas Rasulullah dengan harapan kelak kami peroleh dzuriat yang setabah Hasan dan Husein, yang seteguh Fatimatudzahra, penguhulu bagi wanita-wanita suci.
Semoga ini bukan sekedar mimpi di siang hari.......
Kantung dan kelopak mata seperti bergelantungan anting-anting 5 gram, berat terangkat. Kantukku hilang seketika seperti tersiram air, disaat pikiran ini teringat
paman yang belum juga memberikan kabar, padahal beberapa jam lagi akad nikah akan dilaksanakan.
“Udah begini aja kalo Ka Didin belum dateng juga, loh bayar orang untuk pura-pura jadi keluarga loh, satu orang sepuluh ribu juga cukup buat hati mereka seneng.
Hahhahaaa...”Sindir Vicky, padahal baru selesai sholat Subuh sudah buat dosa
lagi.
“Elu temen lagi panik masih aja dibercandain, jangan loh samain acara begini sama
setting di film.”
Aku dan Vicky memang sama-sama menggeluti dunia entertaiment yang terbiasa mencari talent seabagai pemain extras dalam produksi film, tetapi kita berbeda lokasi
dan sekmentasi program.
Kalau Vicky cendrung ke sinetron dan aku lebih ke program reality show yang semuanya
tayangan 75 persennya adalah rekayasa. Karena kebiasaannya itu, maka ia berinisiatif mencari orang untuk berpura-pura menjadi tamu undangan dari pihak keluarga yang nantinya membawa seserahan atau mahar ke tempat mempelai wanita.
Dan bagiku itu solusi terakhir, kalau sampai jam tujuh pagi pamanku belum datang
juga, terpaksa saran Vicky aku ikuti dari pada malu? Tetapi entah kenapa, dari semalam perasaanku tidak enak dan merasa ada sesuatu kejadian yang aku rasakan, entah siapa yang mengalami kejadian itu.
Sudah terlihat sanak saudara dari keluarga Amel satupersatu berdatangan, ada yang begitu sibuk dengan urusan dapur, ada juga yang bertugas mempersiapkan hidangan, sedangkan aku dan Amel mulai make cover serta memakai baju adat Palembang, aku terasa risih dengan acara adat seperti ini. Tetapi bagaimana pun juga harus aku tangguhkan idealisme ku yang memandang hal semacam ini tidak pantes untuk dituruti.
Memang semula inisiatifku hanya sebatas nikah di KUA dan tasyakuran saja sudah cukup, toh tujuan walimatul ursy untuk mencegah fitnah saja bukan untuk
“Semoga Allah memberkatimu.Adakanlah walimah meski dengan seekor kambing.”
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, tak seperlu megah seperti ini.
Tetapi aku menyadari bahwa hal ini wajar, karena Julie putri satu-satunya dan keluarga
mereka terbilang dari kalangan ekonomi menengah ke atas, walau ada beberapa
yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Mungkin walimah masih dianggap
gengsi bagi sebagaian orang, mudah menerka keadaan ekonomi sesorang ketika
tengah menyelenggarakan walimah-an dan yang menjadi barometernya adalah seberapa megah acara itu diselenggarakan, walau pada akhirnya hanya meninggalkan hutang.
Apa dengan begitu akan tercipta keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warahmah?! Yang jelas selepas pernikahan, harus menanggung beban hutang yang tidak sebanding dengan pendapatan. Jangan bermimpi, dengan mengadakan resepsi pernikahanbesar-besaran akan mendapatkan angpao yang besar pula., mimpi.....
Kecemasanku makin memuncah, ketika sudah datang penghulu yang kelak akan menikahi dan menuntun kami memenuhi syarat dan rukun pernikahan, sampai detik itu pamanku belum datang juga.
“Haidar coba kamu hubungi paman kamu itu, sudah sampai mana? Acara mau kita mulai!”
Pinta papah Ameldengan penekanan.
“Iya Pah, katanya sudah dekat-dekat sini.” Terpaksa aku berbohong dan mudah- mudah apa yang aku ucapkan ini benar, maka gugur dosaku.
Aku berusaha menghubunginya, tetapi tak pernah diangkat atau terkadang di-reject
siapa juga yang tidak naik pitam, acara sebentar lagi akan dimulai tetapi Ingdin tak terlihat batang hidungnya.
Seluruh pandangan tertuju kepadaku, dari tatapan mereka terlihat ada yang menghakimi, bergumam dan berbisik dengki, ada juga yang tetap tenang dan berbaik sangka.
“Dari keluarga mempelai pria, masih ada yang ditunggu?” Pertanyaan yang keluar dari
mulut penghulu semakin membuatku cemas. Allahu akbar....! Aku diam memantung,
pandanganku tertunduk, takut menatap mata mereka yang hadir dan memenuhi ruangan.
“Bagaimana? Apa kita lanjut?”
Ingin rasanya aku mengumpat di balik bukit yang besar atau masuk kedalam gua untuk menutupi rasa malu. Namun ditengah kecemasanku, suara parau mengusik keheningan suasana dan nampak di luar terlihat tiga mobil bermerk terparkir di depan pekarangan rumah Amel.
“Assalamu’alikum, maaf kami terlambat.” Suara itu muncul di tengah kerumunan tamu undangan yang ingin menyaksikan akad nikah kami.
“Wa’alikum salam.” Jawab mereka serentak dan melihat aneh sosok pria yang mengenakan kopiah putih dan berbaju gamis, pasti banyak yang bertanya,”siapa orang ini?”
Alhamdulillah, akhirnya tamu yang dinanti datang berserta rombongan entah dari mana mereka dan wajah-wajah asing yang aku sendiri tidak mengenalinya. “Siapa mereka?”
__ADS_1
Dibenakku timbul tanda tanya besar, dan memang pamanku tidak pernah bercerita
tentang mereka yang ikut mengiringinya. Tiga orang wanita, dan lima orang pria yang beriringan memasuki ruang yang beberapa menit lagi akan ikut hadir pula malaikat yang merangkaikan do’a bagi kami, mempelai pria dan wanita.
Pada saat itu Arsy berguncang dan pada saat itu juga seorang suami memangku berat
beban amanah yang tidak main-main ;
Duhai istriku, di sinilah akan terlihat bagaimana pengorbanan seorang suami
terhadapmu, disaat lisanku basah dengan kalimat, ‘saya terima nikah dan kawinnya Amelia binti Rustam dengan mas kawin tersebut, di bayar tuuuunaaai!” maka pada saat itulah, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang aku tanda-tangani bukan pada manusia semata tetapi aku di depan Rabb-ku, dengan di saksikan para malaikat dan manusia, sekalipun kau menghisap darah dan nanah dari hidungku, maka tak cukup rasanya untuk menebus semua pengorbananku sebagai suamimu.
***
Semoga kamu ingat hal itu Amel...
Menjelang penghulu membacakan muqadimah ijab dan qabul, aku teringat satu malam menjelang ke berangkatanku ke kota Palembang, ketika aku mendengar suara tangis wanita yang ternyata mengharapkan kehadiranku sebelum pergi, yang aku anggap main-main dan disini terjadi kesalah pahaman antara Eva denganku, andai ia tahu kondisiku saat itu mungkin ia akan memaklumi.
Eva sempat menelepon dan mengajakku untuk bertemu di sebuah tempat di bilangan Selatan Jakarta, hanya ingin memberikanku hadiah yang aku tidak tahu hadiah apa itu.
Bukan aku tidak memenuhi janji, tetapi memang keadaan saat itu aku tidak mempunyai uang seperak pun. Aku sudah banyak bertanya dan meminjam uang untuk memenuhi ajakannya tetapi mereka yang aku temui kondisinya memang tidak memiliki uang lebih, maka aku urungkan niat untuk bertemu dengannya, ditambah lagi pulsaku
habis.
“Andai Abang tau, bagimana kondisiku saat itu yang ngebala-belain datang pagi-pagi
buta hanya untuk memberikan kado yang memang nggak ada harganya, tetapi Al-
Qur’an harta satu-satu dan barang yang paling berharga untukku, aku ingin berikan untuk Abang. Tetapi apa?! Banyak sekali
alasannya, entah kesianganlah, ini dan itu! Jujur bang, aku kecewa sama abang.”
Terdengar nada suaranya begitu berat.
“Kamu nangis?”
“Nggak koook!” Di sini dia berbohong, dari awal sampai pertengahan bicara aku bisa
menilai dan merasakan bagaimana kondisi dia di ruang yang berbeda dan aku yakin
dari nada suara yang awalnya begitu ringan terasa hening dan pecah karena kecewa dengan sikapku yang tidak menepati janji.
Aku coba toleransi dengan keadaan itu dan aku pun merasakan apa yang ia rasakan
jika aku berada di posisi Eva.
“Maafin Abang neng, benar-benar abang nggak ada maksud buruk sama kamu. Dan memang kondisinya tidak memungkinkan, jadi harap maklum.”
Mungkin ia teringat kembali saat pertama kita bertemu bagaimana kondisi aku saat itu
hingga akhirnya emosinya agak sedikit rendah.
“Bang, kalau nanti ijab qabul do’ain Eva biar cepet dapat jodoh yah?”
“Ooh, kalo itu pasti Eva, insyallah abang do’akan.”
“Eva, bagaimana proyek nulis buku bareng kita?”.
“Ayoo bang, kapan kita mulai?”
“Biar abang buat dulu nanti tinggal Luna sisipkan ceritanya, bagaimana?” “Yaudah, aku
tunggu kiriman naskah-nya.”
“Insyallah secepatnya.”
#Tuuut..tuut...tuut#
Entah kenapa tiba-tiba teleponnya mati, mungkin pulsa-nya habis atau jangan-jangan
baterai-nya drop. Tapi sedikit bisa
bernafas lega, setidaknya Eva sudah merasa tenang.
Suasana pun hening, ketua Rukun Tetangga setempat yang sekaligus tokoh masyarakat
membuka dan membacakan susunan acara, hingga akhirnya ke acara inti, ‘ucap
sumpah kedua mempelai’ terdengar begitu sakral dan sedikit menakutkan. Kalam
Illahi begitu menyejukan suasana, melepaskan segala beban, nyata bahwa
Al-Qur’an memang menjadi penawar dari kegelisahan hati. Setelah sambutan, baru
kini giliran acara untuk-ku dan Amelia.
Alhamdulillah, ketika membacakan ijab-qabul aku tak harus mengulang berkali-kali, begitu juga disaat aku membacakan sighat taklik suasana kembali hening dan tak satu pun
suara-suara yang berbisik.
Dan tangisan pun pecah, terlihat Amel mengusap air mata-nya, entah mengapa setiap aku hadiri akad nikah, selalu terselip suasana yang begitu menikmati haru-biru dan kesedihan, dan entah kenapa harus diselingi
air mata?! Sampai kini aku belum temukan jawab-nya.
Ternyata cukup risih jadi raja dan ratu semalam, mirip barang pajangan. Apa iya di zaman Rasulullah seperti ini?! Atau ini hanya tradisi yang cukup menyita waktu dan
tenaga?!
Tidak sedikit mereka yang meninggalkan sholat-nya hanya takut hiasan sanggul dan make up-nya rusak, lantaran pakaian pengantin sebegitu murah-nya air wudhu bila dibandingkan dengan apa yang melekat di tubuh kita, hingga akhirnya memaksa diri untuk meninggalkan sholat, apa-kah masih perlu dipertahankan budaya semacam ini?
__ADS_1