TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
999 Kegagalan Thomas Alfa Edison


__ADS_3

Bagiku dia-lah ‘orang gila’ di zamannya, prilakunya sejak kecil sudah terbilang sebagai anak yang tidak pada umum-nya alias tidak wajar, Hal yang menarik dalam hidupnya, sejak kecil telah membiasakan diri bertanya tentang sesuatu yang baru. Di sekolah ia selalu mempertanyakan jawaban yang diberikan oleh gurunya. Saking terlalu banyak bertanya, guru menilai bahwa dia seorang murid yang bingung atau bocah yang pikirannya tidak normal.


Dalam catatan riwayat hidupnya, ia tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah tempatnya belajar. Dia hanya mampu bertahan di sekolah itu selama tiga bulan.Itulah pendidikan formal yang pernah ditempuhnya. Walaupun demikian, Edison tetap belajar sendiri, sampai menghasilkan karya besar yang mempengaruhi seluruh dunia.


Belasan bahkan puluhan tahun ia dianggap orang yang hanya bisa bermimpi, bermimpi dan terus bermimpi, amat wajar jika orang sudah mengganggap-nya stres, karena ia asik dengan dunia penelitiannya, Jangan dipikir, apa yang sudah thomas lakukan dan segambreng prestasi serta kaeya yang ia ukir, bukan semata-mata ia peroleh begitu saja, melainkan ia harus melawti cemohan orang, kegagalan demi kegagalan ia anggap itu sebagai ajang evaluasi dan berpikir untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.


Kesempatan yang Tuhan anugerahkan tidak dibuang dengan sia-sia. Setiap detik dipakai dengan penuh tanggungjawab. Thomas Alva Edison merelakan dirinya untuk mengalami kegagalan sebanyak 999 kali untuk mencapai keberhasilan yang memuaskan dirinya sebagai penemu, inilah fakta menunjukkan bahwa dia seorang yang mempunya mimpi besar, sekalipun hinaan dan cemohan ia hadapi, justru menjadi pertaruhan untuk membuktikan, bahwa ia mampu merubah pandangan dunia. Alhasil, karya-karya-nya begitu dinikmati oleh seluruh penduduk dunia, andai tak ada lampu seperti apa gelapnya bumi ini?!


Bagi Edison, Jenius adalah:


"Genius


is : 1 % is inspiration dan 99 % is perspiration (Jenius : 1 % adalah inspirasi


bawaan sejak lahir, tetapi 99 % adalah perspirasi/hasil keringat/kerja keras)".


Menurutnya kejeniusan bukan saja hanya bawaan sejak lahir tetapi melalui usaha serta ketekunan yang menghasilkan keringat. Keberhasilan yang dicapai tanpa melalui hasil keringat adalah keberhasilan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan orang lain. Namun, keberhasilan yang sesungguhnya harus disertai kerja keras yang memeras keringat.


Seperti itu-lah ketika aku bermimpi untuk membuat karya-karya besar, hingga akhirnya aku mencoba menulis sebuah novel yang semula dipecut oleh seorang temen bernama Chairil Amien, temen sebangku ketika aku duduk di kursi Sekolah Dasar dan dia melihat potensi yang aku miliki, walau dia sendiri berjanji mau mengantarkan naskahku ke salah seorang temannya yang bekerja di salah satu penerbit, dan kenyataanya justru ia yang aku kasih buku yang sudah dicetak oleh penerbit.


Hingga akhirnya novel itu dibawa ke beberapa rumah produksi, karena ada abang angkat ( anggaplah begitu ) yang bekerja sebagai art director disalah satu PH besar, atas dasar karena suka tertarik dengan judul dan memaksa ia untuk membacanya, sampai ia sendiri ingin mencoba membawa naskah tersebut ke beberapa PH yang ia kenal, Alhasil? Pernah ada salah seorang produser yang menghubungiku, dan aku pikir bercanda, hingga akhirnya aku tidak datang untuk menemuinya.


Muncul-lah nama Rire alias kang Asep yang membawa dan merefrensikanku ke salah seorang yang bekerja di PH dan sedang menggarap program komedi, namanya mas Anggit. Perjalanan-nya cukup jauh dan memakan waktu yang panjang, dari mas Anggit aku bertemu dengan seorang sutradara Haji Deden yang dahulunya sempat menggarap film-film di era tahun 80-an, dari kang Deden-lah semua bermuara, mulai dari produser yang pura-pura banyak uang dan mau menggarap layar lebar, sampai investor yang memiliki kekayaan dengan aset miliaran serta emas batangan, sampai ada lagi investor yang mengaku memiliki usaha travel dan batu bara.


Titik temu, ketika semua sudah menyerah dan omongan para investro yang begitu menghina dan seakan kami harus sujud dengan kepala di bawah telapak kaki mereka, begitu hina.


Cibiran terus dan terus aku temukan, mempertanyakan tentang novel ku yang katanya mau dilayar lebarkan, sampai sekarang tidak kunjung diproduksi, sampai harus terkecoh dengan film Ainun Dan Habibe, sebuah film dengan latar dan setting yang sama. Lagi-lagi orang miskin harus pasrah dan berdamai dengan Takdir, tetapi aku terus bermimpi....


 


 


Orang yang selama ini ada di balik layar dan tidak pernah aku temukan, dan namanya hanya disebut- sebut ketika meeting dengan para investor, hingga akhirnya bertemu waktu yang mempertemukan kita, nama yang sering sekali disembunyikan entah disengaja atau tidak, dia-lah Febry yang terbilang mahir dalam membuat proposal ke investor.


 ***


   Senayan City....


Sore itu, diantara para pengunjung mall yang notabene-nya kalangan ekonomi mapan ternyata tidak memiliki anggaran khusus untuk membeli pakaian utuh, semua rata-rata berpakaian serba nanggung dan sepertinya belum selesai di jahit, atau hanya mataku saja yang memang terasa asing dengan pemandangan seperti ini?


Beberapa pria dan dua orang gadis terlihat asik dengan gadget, laptop dan obrolan ngalur-ngidul sepertinya mereka membicarakan tugas kampus.


Nah loh, aku semakin bingung dan bertanya entah aku yang kurang canggih atau mereka yang terlalu hebat, sampai-sampai restouran dijadikan tempat pembahasan kuliah? Dan kok boleh yah masuk kampus dengan sekujur tubuh penuh tatto? Aku perhatikan wanita dengan busana minimalis itu, terlihat asik dan supel.

__ADS_1


“Hebat yah dia mampu mewarnai hidup-nya, sedangkan aku tidak punya nyali untuk membuat tatto, yang aku sendiri suka dengan bodi painting. Hanya saja hukum agama sudah terlukis jelas dalam hati dan haram untuk merubah ciptaan tuhan. Dan tidak tahu kalo sedang hadats, apa kah sah jika aku mandi, karena memang tidak masuk ke pori-pori kulit.” Gumam-ku dalam hati sambil melihat gadis cantik dengan rambut kuncir buntut kuda.


“Tapi bagaimana pun juga, aku tetap mengapresiasikan dan mengagumi tattoo butterfly dengan mawar merah-nya, keren!”


Sambil menunggu enam orang yang mau hadir dalam pembahasan investor dan langkah audisi pemeran dalam layar lebar.


Rencannya ada Mas Dana dan Ryan dia-lah dua Executive Muda yang berhasil dengan usahanya dan mereka-lah yang akan membuat konsep audisi, Kang Haji Deden dan Mas Lucky serta Pak Andri yang ikut untuk mempersentasikan konsep, mulai dari audisi sampai ke produksi.


Setelah kita sepakat dan dinilai yakin dengan apa yang kita bahas, schedule selanjutnya kita naik ke lantai 9 di sana ada kantor milik seorang pengusaha muda yang bergerak dibidang advertising.


Mas Trido nama-nya, kami mempersentasikan semua itu dihadapan pria dengan kepala plontos dan hidung-nya yang mancung, aku kagum dengannya masih muda sudah mampu mempekerjakan ratusan karyawan, hebat! Itu-lah mimpiku yang ingin bermanfaat untuk orang banyak, mudah- mudahan dengan layar lebar ini membuka peluangku untuk membuka usaha yang sudah direncanakan dan aku simpan dalam langit-langit impian, bismillah aku pasti bisa!


Tepat pukul delapan malam, kami diberikan kesempatan satu jam untuk membahas apa yang menjadi keinginan dan rencana kita serta proses pembagian hasilnya. Sungguh diluar dugaan kita, mas Trido, setelah membahas dengan team, pembagian hasil tersebut tidak adil, dan akhirnya kami sepakat untuk tidak mengambil, walau itu peluang tetapi untuk apa kerja rodi?! Dan tercetus bahwa mas Dana dan Ryan akan mengambil peluang bisnis ini.


Dan tunggu sampai mereka menyelesaikan beberapa event yang sudah di-planning jauh-jauh hari. Kami pun sepakat menunggu untuk meeting berikutnya, hari berganti bulan tak juga mereka berani untuk menyepakati kerja sama ini, janji tinggallah janji dan kami pun mulai kenyang dengan pengharapan yang cukup memakan waktu berlarut-larut hampir dua tahun, hingga akhirnya Mas Lucky diam-diam dengan PH miliknya belunni entertaiment melakukan perencanaan.


“Mas, bismillah produksi film-nya kami yang ambil. Tugas mas Haidar buat sKenario triller dan langkah kita untuk produksi triller jadi.”


Bukan main senang mendengar pernyataan VIA phone yang dikatakan mas Lucky tersebut, semula saya menjanjikan pembuatannya skenarionya satu minggu, walau basic ku tidak ada dalam penulisan skenario, tetapi alhamdulillah dalam waktu tiga hari aku mampu menyelesaikannya. Aku pun mulai terbiasa dengan istilah establising shoot, long shoot, Dislove to dan cut, fade in serta fade out serta masih banyak lagi istilah dalam penulisan skenario, alhamdulillah aku paham.


Anganku dan rencana sudah aku rangkai, jika memang film ini pembuka dari jalan rezeki yang berguna untuk orang banyak, aku akan buka usaha dengan beberapa temen-temen di bilik kreatif, sebuah komunitas dengan rumah singgah milik teman yang umurnya terpaut jauh puluhan tahun, tetapi dia seorang anak yatim-piatu, hanya rumah bilik yang diwariskan oleh keluarganya dan di sana kita sering berbagi kelakar, canda dan tawa, serta beberapa langkah usaha yang kami sudah rencanakan dan berjalan walau terkadang masih kekurangan modal.


Aku sempat vakum dan meninggalkan mereka bukan tanpa alasan, karena aku sudah memiliki Amel yang harus diperhatikan terus dan sedikit menge-rem untuk membatasi interaksi sosial, itu juga karena permintaannya, pernah aku dimaki habis-habisan di depan temen semasa kecilku dulu, ini karena memang ulah dan salahku yang terlalu asik menikmati malam, dan terlena untuk sadar bahwa aku sudah tidak lajang seperti dulu.


Termasuk dengan proses pembuatan film ini, aku dianggap hanya ‘omdo’, omong doang dan hanya promosi kosong biasa. Seharusnya Amel berucap seperti itu, apa-kah sulit untuk menjawab angan dan mimpi ku dengan do’a atau sekedar membasahi bibir dengan meng-amin-kan apa yang menjadi ikhtiar dan upayaku. Amel tidak mengenal arti sebuah proses....


 Seandainya Amel ada di sini, dan ia ikuti bagaimana proses jatuh dan bangun-nya aku untuk mewujudkan film,’Antara Jerman dan Masjdil Haram’ menjadi karya terbaik ketika perfilm-an di negeri ini haus karya-karya yang terbaik.


Sudah jenuh ketika film-film dalam negeri bermain di Timur- Tengah, aku mau menawarkan konsep Eropa yang sebelumnya, sempat ada film ber-gandre remaja yang memberikan sentuhan romantis negeri Prancis dengan menara Eifel-nya.


Kupilih Jerman, karena bagiku di negara ini-lah simbol rasis terbesar, ingat bagaimana Hitler membunuh ratusan ribu bahkan satu juta berdarah Yahudi? Inilah mesin pembunuh Hitler, tetapi lihat-lah bagaimana gigih-nya ia berupaya mewujudkan impian sekali pu ia gagal, tetapi pandang-lah bagaimana cara ia membentuk pasukan rahasia yang loyal dan royal dengan-nya. Maka aku sebut Jerman itu sebagai simbol obsesi, tetapi ketika jiwa ini letih mencari obsesi hidup kiblatkan hati ke Masjidil Haram, filosofi yang aku ambil dari sebuah hadits ;


“I’mal lidunyaaka kaannaka ta’isyu Abadan, Wa’mal liaakhiratika kaannka tamutu ghadan”.


“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk persediaan akhiratmu, seakan-akan engkau mati besok”.


Aku balut dalam romansa cinta dalam kaca mata aqidah, daiantara dimensi cinta Aku, Kamu dan Bunda, dan aku yakin ada kekuatan cinta yang mampu menghantarkan manusia ketepian sebuah cita- cita.


Hingga akhirnya membuat team dari Belunni Entertaiment bersedia untuk mengangkatnya ke layar lebar, seiring data yang bicara tentang perdedaran novel tersebut yang sudah menyentuh Indonesia bagian Timur, serta penjualan yang cukup laris di pasaran.


Bukan hanya itu pihak produser sendiri akan mencetak kembali novel tersebut dalam edisi film, jika ini terjawab dan segera ter-realisasi ada nazar yang harus aku tunaikan, memberangkatkan ayah dan Mamah ke masjidil haram, walau sekedar umrah, sebelum ia mencium liang lahat, aku ingin sekali ia mencium Hajar Aswad. Belum lagi rencanaku ingin mengajak anak yatim ke Taman Fantasi, sebab film ini adalah do’a dari mereka.


Dan aku akui bahwa tidak semudah orang bisa menggarap film ini tanpa ada-nya sentuhan tangan dari Allah, ini terbukti ketika seorang sahabat dengan keterbatasan fisik-nya tiba-tiba saja datang dari Buton hanya mendengar kabar dari sepupunya yang juga menganalku, sampai akhirnya menghantarkan ia untuk menemuiku.

__ADS_1


Asih, penyandang Tunanetra datang jauh-jauh hanya ingin bertemu denganku dan sekedar curhat tentang obsesi hidup-nya dengan keterbelakangan fisik tetapi memilki kelebihan, ia mampu memainkan semua alat musik dengan mahir.


Aku pun langsung berinisiatif memintanya untuk membuatkan sebuah lagu untuk sound track film, alhasil lirik yang aku buat ditambah dengan sentuhan nada dasar, dan Asih memberikan warna dalam musiknya, masyallah ini menjadi kado istimewa untuk film ini, karena yang membuat lagu ini seorang Tunanetra, bukan hanya itu kualitas suara vocal Asih mampu membius pendengar. Insyallah ini akan menjadi karya yang patut diperhitungkan.


 


Namun ada yang sedikit mengusik dan amat menyayangkan, seharusnya Amel yang akan duduk di kursi VIP nomor satu dalam gala primer nanti, setelah Julie tidak ada entah siapa yang akan menduduki kursi tersebut.


“Sayang, seharusnya kamu-lah yang akan menjadi tamu istimewa di hari ketika amarah menjadi senyum, ketika hinaan menjadi mulia, dan ketika himpitan hidup Allah lapangkan, hanya untuk-mu. Allah Kariiiiim.....!”


Mudah-mudahan ada pengganti-mu untuk sekiranya menjadi tamu istimewa dan duduk dikursi nomor satu, VIP.


Duhai Sang Pecinta....


Kami yakin jodoh


ini tak akan tertukar, sebab Engkau telah siap-kan dia yang akan memberikan


rasa aman dan nyaman untuk ku.


Tak perlu dia yang kaya raya seperti Sulaiman dan Bilqis, cukup-lah ia yang selalu bersyukur atas


rezeki yang Engkau berikan, dengan begitu kami memilki kekayaan hati yang lebih


dari materi yang kelak akan hilang di telapak tangan, seperti debu yang tertiup


angin.


Wahai Calon Pasangan-ku Kelak....


Aku akan terus bersabar menanti-mu, sampai tiba saat-nya Allah mempertemukan dalam samudara cinta yang tidak akan bertepi.


Engakulah yang akan menghantarkan ku kepada titik kesempurnaan, sebab kekurangan yang aku miliki,


dan engakulah penyekat air mata-ku disaat aku menangis yang tak kuasa


mengarungi keras-nya hidup.


Ya Allah,....


Kini aku pasrahkan semua kepada-Mu, kutitipkan dia kepada-Mu, jika ia jauh dekatkan-lah, jika jodohku harus menanti waktu yang tak tentu, percepatlah karena aku tak sabar ingin memiliki keturunan yang ia berpegang teguh kepada ajaran-Mu.


Rabb-ku yang Cinta-Nya Melebihi dari Murkah-Nya.

__ADS_1


Jangan biarkan cinta buta menghampiri kami, hingga mengahalangi kami untuk bersujud kepada-


Mu, Tuntulah kami dan hantarkan kami dalam MIHRAB CINTA-MU.


__ADS_2