TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
TAFSIR CINTA DAN MIMP


__ADS_3

 Ku kemas masa lalu dan harapan pada sandaran yang begitu rapuh. Harapan yang semakin aku genggam sama seperti menggenggam pasir, semakin keras jemari ini mengepal, justru semakin banyak pasir yang hilang. Lucu, aku mengharapan pada manusia yang ia sendiri gelisah dalam kerapuhannya, menuntut mimpi pada manusia yang ia sendiri tak pernah bisa memiliki mimpi berkepanjangan, paling lama hanya 6 jam saja. Bersandar, pada tembok yang rapuh sama saja aku menjemput ajalku sendiri, reruntuhannya akan menenggelamkan ragaku nantinya.


Arrahman, tempatku menyulam kasih sayang yang abadi dalam untaian bait-bait kalam yang aku sendiri merasa sejuk ketika melantunkan ayat-ayat tersebut. Aku ingkar dengan rasa syukur atas nikmat yang sudah Allah berikan. Dan membiarkan hati ini terus terluka, aku sadar ini dzolim namanya, menyakiti diri sendiri sehingga membelenggu akal sehat-ku tentang cinta yang aku anggap ini salah tafsir.


Memilih menjadi lilin yang berlahan lebur, tanpa memikirkan diri sendiri dan berupaya menjadi penerang bagi orang lain, apa-kah lilin akan dikenang?! Heem, dicari hanya ketika dibutuhkan saja, apa ini yang disebut cinta dan pengorbanannya?!


Mulailah melupakan cinta manusia yang hanya bersifat nisbi bagiku, terkikis kepercayaan cinta manusia yang tidak pernah abadi, labil dan kehilangan arah, terlalu dini menilai bahwa pendamping hidup kita itu cinta sejati. Sejati itu yang aku tahu, murni dan tidak tercampur dengan yang lain, jiwa serta pemberi semangat dalam hidup, kalau begitu apakah masih bisa dikatakan sejati jika kadar cinta itu berubah-ubah dan tidak tetap?!


Inilah saatnya, aku meluruskan tafsir cinta mejewantah menembus dinding Lahul Mahfudz dalam suratul Al-Mulk, aku berlindung dalam takdir yang aku masih ikuti terus seperti apa jadinya jalan hidupku, tentang Jodoh yang sudah pupus, tentang ajal yang aku sendiri tidak bisa mendampingi ayah ketika meregang nyawanya, dan tentang rezeki yang sampai kini aku harapkan dapat merubah itu semua. Nyatanya babak baru itu pun aku tak tahu kapan akan dimulai?!


Jujur, inilah masa-masaku mengenal tentang apa mau-nya Allah, aku mencari pembuktian, “Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”Tak ada jalan lain, salah satu cara berdamai dengan Takdir hanya sholat dan sabar, hijrah menjadi orang yang bertakwa. Reward dari ketaqwaan, maka Allah akan mudahkan segala urusan, dan aku percaya itu.


Tepat, selepas menunaikan sholat Tahjud dan Taubat segala yang membuat kita mustahil tidak dengan apa yang Allah anggap itu mungkin, seperti biasa selepas sholat sunah aku bacakan dua surat yang menjadi favorit bacaan dalam Al-Qur’an, yakni Al-Mulk dan Ar-Rahman. Handphone ku berbunyi, dan tertera dalam display LCD tertulis Febri Valentino, team produser yang kelak menggarap film layar lebar yang diambil dari novelku,’Antara Jerman dan Masjidil Haram’dan inilah tabir mimpi yang aku sudah tunggu sejak dua tahun silam. Jawaban dari sebuah proses perjalanan panjang.


“Mas, aduuh susah banget dihubunginnya!” Untuk kesekian kalinya seorang produser Febri Valentino berkata seperti ini, dan memang kebiasaanku jarang mengangkat telepon karena memang sering aku silance.


“Ada apa mas?! Tumben telepon!”


“Yaaah, berarti kalau saya telepon ada kabar baiklaaah...Hahahaha!” Diselingi tertawa.


“Kabar baik-nya seperti apa niih?!” “Film siap kita garap.” “Alhamdulillah.”


“Dengan nama PH Belunni Entertaiment, tetapiiiiii.....ada tapinya niih!”


“Apaa tuuuh mas?”


“Mas Haidar buat skenario untuk treler-nya.” Sebagai langkah awal mereka memintaku untuk membuat skenario triller film atau cuplikan dari keselurahan yang akan ditayangkan. Jadi, aku harus mencari adegan yang cukup memiliki kekuatan dalam cerita, tetapi harus memiliki bobot promosi yang kuat.


“OK! Siaaap mas....”


Inilah yang menjadi kekuranganku untuk membuat skenario, dan tidak pernah aku sentuh sama sekali cara membuat skenario film itu seperti apa. Tak ada yang mustahil, aku bisa banyak belajar dari internet cara penulisan skenario, dan aku pun mulai browsing.


“Usahakan satu minggu skenarionya selesai yaah mas?” Pinta sang produser.


Satu tantangan untukku, yang harus aku selesaikan dan untuk memahami seluk beluk skenario itu bukan hal yang mudah.


“Insyallah, satu minggu sudah aku kirim yaa mas?!”


“OK.”


Mulai ditutupnya telepon, aku berusaha mencari tahu bagaimana cara penulisan skenario. Dan yang aku temukan hanya istilah penting-nya saja, tidak ada contoh skenario film. Fuuuh, cukup menguras pikiran. Dan akhirnya dengan modal istilah dalam penulisan skenario aku coba mencari inti dari itu semua, dengan memahami cara penulisan serta contoh penggalan skenario yang aku temukan.


Aku harus kerja ekstra membuka kembali lembaran novel ‘Antara Jerman dan Masjidil Haram.’ Satu- satunya cara untuk menemukan sisi klimaks dan anti klimaks serta satu adegan yang mewakili isi serta ide cerita, inilah yang harus aku pahami, agar bisa menghasilkan film yang berkualitas, minimal mendekati film layar lebar yang sudah meledak di pasaran.


Ada yang membuat sang produser terkejut, ketika aku kabarkan kepada mereka tentang skenario yang dipesan untuk aku selesaikan dalam waktu satu minggu, dan mereka pun tahu kalau kemampuanku menulis novel saja. Bagiku hanya yang tidak mau belajar dan memanfaatkan fasilitas sajalah termasuk merugi. Dengan umurku yang


 terbilang sudah hampir diujung masa remaja saja, teramat menyesal karena masih saja aku sia-siakan nikmat hidup ini.


Andai saja waktu bisa terulang kembali, mungkin banyak yang aku harus benahi dalam menata hidup dan menjadi orang berarti. Tak ada penyesalan yang terhebat, jika melihat mereka yang tidak memiliki impian dan cita-cita dalam hidupnya, membuang waktu dengan sia-sia. Demi Allah, aku masih menyesal dengan sisa umurku tetapi sedikit yang bisa aku perbuat untuk bisa berkarya. Dan aku cemburu dengan seorang penulis muda, diusiannya terbilang terpaut lima tahun denganku, ia berhasil dengan karya-karyanya yang selalu best seller.


“Dia makan nasi dan aku juga makan nasi, dia punya kesempatan waktu yang sama. Tetapi kenapa dia bisa dan aku tetap menjadi seperti ini?!”


Jantungku terpacu, tak ada yang aku kerjakan lagi selain menulis, menulis dan menulis, berkarya, berkarya dan terus berkarya. Nyaris, hari-hariku tak lain aku habiskan di dalam kamar dan hanya tiga hari sekali aku keluar, itu pun hanya me-refresh kembali otak ini, dan bahkan di tempat keramain aku masih memikirkan bagaimana akhir dari novel yang sedang aku garap.


Aku selalu penasaran dan tidak sabar untuk mengakhiri halaman demi halaman, judul demi judul yang harus selesai. Aku seperti diburu number page setiap kali aku melihat di sudut kanan bawah. Seolah inilah yang menjadi acuanku untuk terus berprestasi.


Hari ini aku bisa menulis sepuluh halaman, esok aku harus lebih meningkatkan lagi jumlah halamannya, minimal satu-dua halaman. Jika jenuh, aku coba menghibur diri chating dengan Vega atau teman-teman di jejaring sosial. Atau mendengar cerita Vega yang berlahan terungkap siapa dia sesungguhnya.


Begitu juga dalam membuat skenario film, dari yang ditargerkan team produser aku mampu menyelesaikannya tiga hari, ini prestasi bagiku.

__ADS_1


“Mas, skenarionya sudah selesai.”


“Waduuh gilaaa beneer! Semangat juga penulis satu ini, semoga saja nggak melempem


nantinya.”


“Oooh, insyallah tidak mas.”


“Baguslah kalau begitu. Coba dikirim ke email saya yah?” “Siaaaaaap.”


Seketika itu setelah pembicaraan by phone berakhir, aku langsung mengirim skenario triller yang sudah aku selesaikan, dan tinggal menunggu reaksi seperti apa dari team produksi serta produser.


Mungkin beberapa jam setelah membacanya, mas Febri langsung menghubungiku dan mengomentari apa yang aku kirim. Tepat, kurang dari satu jam ia sudah memberikan respon yang posistif dan pujian darinya terlalu berlebihan, atau jangan-jangan hanya menghibur.


“Good Jobmas broo, sesuai dengan apa yang saya pesan. Dan sedikit penulis novel yang bisa membuat skenario sempurna seperti ini, kalau menurut kacamata produksi loh! Atau jangan-jangan si mas-nya sudah pernah buat skenario yah?”


“Waah, justru aku sendiri sama sekali tidak pernah buat skenario, pernah baca tetapi sedikit dan kurang mengerti dengan maksudnya. Jauh banget dengan menulis novel atau buku lainnya mas...”Aku coba mengimbangi bicaranya.


Sejak tugas itu, aku mulai terbiasa dengan istilah-istilah seperti Disolve to, cut to, Long Shoot ( LS ), VO, Estabilishing dan lain sebagainya. Ternyata memang tidak ada yang sulit jika kita mau belajar, hanya ada sedikit hambatan disaat kita harus membaca ulang lagi naskah novel yang tebalnya 300 halaman dan membuat adegan per adegan nantinya.


Untuk kesekian kalinya, mas Febry Valentino menghubungiku, di hari kedua setelah tugasku selesai.


“Mas, besok bisa berangkat ke Bandung?!”


“Untuk apa?!”Tanyaku harap-harap cemas.


“Diskusi skenario, hunting dan pembuatan teler.”


 “Yang bener mas?!!!”


“Ya Allah masa saya bohong! Jangan lupa persiapkan bekal dan apa saja yang harus diselesaikan di Jakarta, tolong kirim nomor rekening-nya yaa?!”


“Yaudah sekalian aja rekening air, telepon sama rekening tivi kabel. Hahahaha...” Candanya VIA phone.


“Tapi memang jujur mas, aku nggak punya nomor rekening bank. Biasanya aku pakai rekening punya adikku.”


“Yowis, SMS-in nomor-nya yaah?”


Aku mem-forward nomor rekening adikku yang memang sengaja aku save di draft handphone dan aku kirim ke nomor handphone miliknya. Dan tak lama lagi, mas Febri menghubungiku karena dialah yang memang dari awal aku kenal.


“Maaas, tolong di cek yaaah ATM-nya. Mudah-mudahan cukup untuk jajan keluarga dan ongkos ke Bandung.”


“Jadzakumullah ya mas.”


 “Sama-sama.”


Sehabis aku melanjutkan judul baru Upload Mimpi, setelah itu aku langsung memastikan ongkosku berangkat ke Bandung dan meninggalkan keluarga, terutama mamah untuk beberapa saat sampai tugasku selesai, dan semoga ini menjadi awal karir yang bisa aku banggakan untuk bangsa dan anak- cucuku nanti.


Materi bagiku itu reward dan masuk dalam urutan kesekian puluh, yang terpenting berusaha dan menghasilkan karya-karya berkualitas, bukan hanya semata-mata mengharapkan untuk mendapat appluase dari hasil kerja keras kita.


Seperti apa yang kini sudah ada di pelupuk mataku, sekali lagi materi bukan di atas


segala-galanya, popularitas pasti ada masa berkarhirnya, tetapi bagaimana lahirnya kita menjadi orang yang dikenang zaman atas kebaikan-kebaikannya memberikan dampak positif bagi sebuah peradaban.


Puji syukurku atas anugrah yang Allah berikan, berlahan mulai terlihat di depan sana ada seberkas sinar harapan baru untuk jiwa-jiwa yang memang Allah sudah persiapkan baik mental, kemampuan yang teruji, bukan semata-mata diperoleh dari hasil simsalabim atau warisan yang tak pernah putus dari orang tua kita. Jangan lihat seorang Bob Sadino saat ini, tetapi lihatlah ia lima Empat Puluh Enam Tahun silam ( 1967 ) ia pun pernah menjadi kuli harian, dan Bob Sadino-lah yang menjadi pioner masuknya telur dan ayam negeri ke Indonesia.


Hasil-ku hari ini, adalah sebagai penebus air mata, peluh dan energi yang terkuras habis dalam dunia tulis, yang aku sudah tekuni sejak kelas enam SD, tanpa ada sedikit pun warisan genetik yang diwariskan dari keterunanku.


Menjadi penulis, sudah pilihan jalan hidupku yang pernah aku hindari justru semakin mendekat sampai akhirnya aku pasrah, bahwa memang aku terpanggil untuk menjadi seorang penulis. Kini akan kutuai mimpi itu, selangkah demi selangkah anak tangga ini aku naiki.

__ADS_1


Dan aku pun tidak boleh puas untuk terus menerus berpikir bagaimana karya-karya tulisku ini bukan aji mumpung, setelah itu lahir karya-karya yang tidak seimbang dengan karya sebelumnya, bahkan kurang diminati.


Sudah menjadi syndrome tersendiri, bagi penulis yang booming di naskah pertamanya, setelah itu naskah berikutnya hanya datar-datar saja, modalnya mengandalkan nama besar, karyanya terbenam bahkan anjlok di pasaran. Nah, inilah yang aku harus hindari sebab mempertahankan apa yang sudah diraih itu sama berat dengan memperoleh kepercayaan publisher di awal ketika sudah mendapatkan apa yang kita gapai, hingga akhirnya mampu diterima oleh pembaca.


 Sebab, menjadi tantangan tersendiri masyarakat lebih memilih membeli beras dibandingkan untuk menghabiskan waktu hanya membaca tebalnya sebuah novel. Dan Tidak mudah untuk menembus leble Best Seller menyematkan pita di cover buku.


Saat ini aku bukanlah siapa-siapa, kelak waktulah yang akan membentukku untuk menjadi siapa. Bismillah, gerbang pintu untukku menjadi manusia yang produktif sudah terbuka, ketika karya seni yang tak terhitung oleh materi kini mendaptkan apresiasi yang sangat besar, uang yang diberikan oleh mas Febry itu bukan bertanda bahwa inilah akhir dari tujuan hidup. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan, dan masih ada mimpi yang mesti diraih.


Aku tak menyangka uang yang diberikan mas Febry itu lebih dari cukup dan ini terbilang saldo terbesar yang tertulis dalam rekening buku tabungan milik adikku, karena memang transaksi keuangannya sebatas untuk menerima gaji setiap bulan, setelah itu kartu ATM hanya pelengkap dalam dompet saja. Dan ini kali pertamanya melihat digit saldo yang cukup membuat sedikit ada masalah untuk menghitung jumlah angka nol yang berjajar mirip tentara berbaris dengan lurusnya.


“Alhamdulillah, apa iya mas Febry salah mentransfer uang sebegini banyaknya?!” Tanyaku menghapus keragu-raguan.


Setelah aku konfirmasi dengannya, dan memastikan jumlah yang yang aku terima itu benar sebegitu banyaknya.


“Oooh, tidak salah! Anggaplah itu uang DP dan ongkos kamu ke Bandung.”


“Ini serius mas?!”


“Seriuslaah, masa iya daun bisa masuk ke mesin ATM. Jangan lupa selesaikan dulu apa yang menjadi beban pikiran-mu di Jakarta. Jadi, di Bandung mas Haidar harus konsentrasi bareng tim untuk bekerja semaksimal mungkin tanpa harus memikirkan keadaan keluarga di Jakarta.”


“Jadzakumullah Khairan Katsir.”


“Yasudahlah, jangan berlebihan yaah mas?”


“Tidak berlebihan kok, ini memang apa adanya saya mas.”


“Oke


deh. Saya lanjut buat estimasi budget produksi yaa mas?”


“Siaaap maas, dilanjuuut...”


“Assalamu’alikum.”


“Wa’alikum salam.”


Lega rasanya, jika sudah memastikan bahwa uang yang aku terima itu memang sejumlah apa yang tertera di display monitor mesin Ajungan Tunai Mandiri. Sebagian aku ambil dan selebihnya biarlah tersimpan di dalam rekening untuk kebutuhan keluarga selama satu bulan ke depan.


Beberapa masalah yang bersangkutan dengan uang aku selesaikan satu persatu, mulai dari cicilan uang untuk resepsi pernikahanku yang hanya menyisahkan hutang selama beberapa tahun dan kini aku bayar untuk tiga bulan ke depan. Sepulangnya aku dari bank, mamah terkejut melihatku yang tidak biasa membeli barang belanjaan sebegitu banyak-nya, dan memang dikeluargaku tidak mengenal istilah belanja bulanan, beras pun kita beli satu liter beras per hari, telur atau mie instan saja.


“Astaghfirullah’aladzim, kamu uang dari mana Haidar? Belanja sebanyak ini?!” “Insyallah halal mah, dan jangan khawatir ini bukan hasil menang judi atau korupsi.”


“Terus barang sebegini banyaknya dari mana?!! Mamah tidak mau, kalau terjadi apa-apa dikemudian hari ya naaak?!!!”


“Mamah jangan begitu juga anggapannya, ini semua Haidar dapat dari uang muka untuk Film. Dalam beberapa bulan aku tinggal di Bandung sampai selesai semua penggarapannya.”


“Alhamdulilllaaaaahirabbil’alamiiiiin, anak mamah sukses sekarang dan semoga keselamatan, keberkahan dan nikmat Allah tercurahkan untukmu naaak....Selamat yaaah?!...”


“Terimakasih maah, moga Allah limpahkan nikmat sehat dan panjang umur untuk mamah juga”


Aku melihat wajah perempuan yang baru saja menyematkan cerai mati di status KTP-nya itu, nampak berseri-seri mendengar kabar baik ini. Mulailah aku berpamitan dengan sanak-saudara dan mengharapkan doa mereka, beberapa tetangga yang memang tahu profesiku serta teman-teman terdekat saja.


Selangkahku berjalan dari rumah begitu berat untuk jauh dengan mereka, aku akan rindu 3 keponakan yang menjadi penawar penat ketika keinginan ini besar untuk memiliki si buah hati, pewaris genetikku kelak, pupus mimpi itu ketika Amel  memilih menikah untuk kedua kalinya dengan Luwis yang meninggal di tangan Junaidi Abdillah, alias Abu Fadl.


Bagiku memaafkan itu lebih baik, dibandingkan harus menyimpan dendam, jika kita yakin dengan cara berhitung-nya Allah, maka hati ini akan lebih legowo. Dendam bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, justru akan menyeret kita ke lembah kegelisahaan yang teramat sangat menyiksa. Kelak waktu jualah yang akan menghukum siapa pun yang telah men-dzolimi kita, percaya itu! Ok, jika tidak di dunia mungkin akan lebih sadis lagi di alam akhirat.


Amel itu masa laluku, yang enggan aku buka kembali kisah-nya, sebab ada lembaran masa depan yang masih harus aku selesaikan dan tak tahu akan berhenti di halaman terakhir dan ending dari cerita yang aku tulis dalam naskah hidup ini.


 “Selamat datang masa depanku, selamat jalan masa laluku dan suatu hari nanti akan ku buka kembali, bukan untuk terjebak dalam nostalgia-nya tetapi hanya untuk dikenang serta dijadikan pelajaran.” Aku tutup judul ini sebagai masa lalu, di lembaran berikutnya adalah masa depanku yang tetap akan aku tulis, karena aku sendiri menanti akhir dari cerita ini akan seperti apa jadinya,

__ADS_1


__ADS_2