TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Mengemis Harapan


__ADS_3

Mungkin cerita Opa Wasis, penulis senior yang wafat meregang kanker paru-paru, tak ada seperak pun ia meminta negara untuk menanggu biaya perobatan, semoga tidak lagi mendengar ada seorang penulis seperti Bunda dan Opa Andy Wasis, akhirnya tangan ini memberanikan diri untuk mengetik beberapa kalimat dalam pesan yang Haidar tinggalkan di inbox facebook ‘si Emak hebring’ hanya sebaris kalimat.


“Aku mau sastrawan di negeri ini, sama seperti selebritis yang berjalan di atas karpet merah.”


Dan ia pun membalas, “Iya kapan kita ketemuan?! Bagaimana kalo hari Kamis, aku ada rencana ke Rumah Sakit untuk tranfusi darah, bisa?!” Tanya wanita yang saat itu hanya dari jejering sosial saja aku kenal, belum terlalu dekat tapi cukup akrab.


Haidar meng-iya-kan apa yang ia rencanakan untuk bisa bertemu atau istilah-nya kopi darat. Dan beliau menunjuk sebuah tempat yang mudah dicari dan tidak sulit bagi mereka yang sudah kenal Jakarta walau hanya kulitnya saja. Ia menyebut tempat dimana para seniman berkumpul, ‘Taman Ismail Marjuki.’


 “Kita ketemuan di gedung Pusat Sastra HB Jassin, di sana ada pengurus-nya juga yang akrab denganku.” Tambahnya menunjukan tempat yang direncanakan untuk bertemu langsung dengan seorang penulis besar, yang waktu-nya cukup padat.


“Jam berapa Mba?” Tanya Haidar dalam pesan tersebut. Semula aku memanggil amanya seperti itu demi menghargainya dan agar terkesan lebih muda.


Jujur, memang Haidar tidak tahu wujud aslinya seperti apa. Dan sapaan ‘Mba’ itu terbilang netral, tidak membedakan status usia seseorang dan menurutnya itu panggilan yang ‘aman’ untuk disisipkan dalam sapaan orang yang sedikit akrab.


“Sehabis makan siang, seusai aku cek up.”


“Ok Mba, thanks.”


“Sampai ketemu hari kamis yaah?!” Kata penutup itu yang mengakhiri percakapan kami VIA facebook.


Berarti lusa, schedule pertemuan sama Bunda. Terlalu berani untuk berjanji tanpa mempertimbangkan keadaan.


Memang kamu punya ongkos?! Untuk membeli sebatang rokok saja kau tak sanggup, apa lagi mencari seperak, dua perak untuk pergi ke TIM?!


Keluh Haidar berbisik dengan suara hati.


"Aah, selama kita jangan berhenti untuk terus berusaha pasti Allah akan buka-kan jalan, lagi pula masih ada jedah satu hari untuk mengais rezeki, walau untuk sekedar ongkos saja sudah lebih dari cukup, yang penting kerjakan apa yang bisa dikerjakan, selama kita punya kemampuan dalam diri, maka sedikit banyaknya pundi- pundi rupiah bisa dikumpulkan, masih banyak jalan menuju Roma." Ia kembali menjawab suara hati dan membantah hakikat rezeki.


Sisa waktu 24 jam untuk bisa mencari uang minimal 30 Ribu, itu sudah cukup untuk ongkos dan rokok.Tapi entah apa yang bisa Haidar kerjakan? Dan tidak begitu saja, kita diberikan uang tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun. Di Jakarta, tidak mudah mencari uang sepuluh ribu dalam se hari, dengan catatan harus dengan cara yang halal.


Di saku celana masih tersimpan selembar ribuan, dan cukup jadi modal pertama untuk


membuka pagi yang sudah lama hilang cerah-nya.


Suara itu telah hilang, sudah tak ada lagi suara Burung Gereja atau Kutilang bersahutan, suasana itu sudah hilang sepuluh tahun silam, sebagai gantinya suara bising knalpot motor dan suara radio atau VCD player. Syukur-syukur tak ada suara balita yang menangis, merengek-rengek, membuat pecah gendang telinga.


Tetapi lama-lama kita terbiasa dengan keadaan seperti itu, suasana ini yang hanya bisa ditemukan di kawasan padat penduduk, yang lebar jalannya hanya satu meter,


cukup untuk satu motor, apa lagi kalau ada gerobak masuk, memakan jalan warga,

__ADS_1


keadaan semakin kacau. Bukan lagi knalpot yang bersuara, tetapi sumpah serapah


dan caci maki.


Hanya bermodal sebatang rokok membuka pergi, Haidar meninggalkan bangunan tua warisan dari almarhumah Nenek yang diberikan untuk Mamah, cat yang sudah kusam, atap rumah yang sudah rapuh, jika musim penghujan kami sibuk mencari wadah untuk menampung air hujan karena atap-nya memang harus diganti.


Biasa-nya Haidar sehari-harinya mencari uang sekedar untuk sebungkus nasi, beberapa batang rokok dari hasil membantu pelayanan di kantor sekertariat RW, walau hanya membuat surat pengantar RT/RW bagi warga yang memang membutuhkan untuk mengurus adminitrasi kependudukan, yah walau tidak tentu, karena sifat-nya sukarela dan memang ketua RW menyerahkan tugas ini kepada-nya, jika ia sibuk denganburusannya di luar.


Namun hari ini tidak seperti hari biasa-nya, tidak ada satu pun warga yang meminta


dibuatkan surat pengantar padahal jam pelayanan beberapa menit lagi sudah mau


ditutup, dan memang seperti ini keadaannya, sekalinya ramai dan warga yang meminta tolongnya pun murah hati, uang jasa yang ia dapatkan lumayan untuk makan dua hari ke depan.


Tetapi sekalinya sepi yaaah seperti ini-lah, tidak ada satu pun warga yang datang. Ia


coba mengulur waktu satu jam untuk menutup sekertariat, mudah-mudahan ada warga yang datang dan terburu-buru minta dibuatkan pengantar perpanjang KTP atau pembuatan Kartu Keluarga baru.


Satu jam yang dinanti pun tak sesuai dengan harapan, dua jam yang dinanti tidak membuahkan hasil, mungkin keberuntungan belum berpihak.Namun yang terpenting bagi Haidar sudah berusaha, urusan hasilnya ia serahkan kepada Allah, mungkin ada rezeki ain yang nantinya ia dapatkan.


Manusia hanyalah berusaha, tugas kita hanya berupaya menebar benih-benih itu, tetapi kita tidak pernah tahu tumbuh kembangnya benih yang tertanam tanpa ada campur tangan Allah.


Banyak yang menduga bahwa profesi atau usaha yang dijalani kita anggap sebagai sebab datangnya rezeki. Dengan apa yang ia alami ini menjadi satu pembuktian bahwa ada juga orang yang berusaha mati-matian tetapi tak kunjung juga membuahkan hasil, ada juga orang yang hanya sedikit mengeluarkan peluh, sudah memperoleh penghasilan yang besar.


Banyak pula yang beranggapan bahwa mereka yang memiliki jenjang akademik yang cukup tinggi berpengaruh terhadap rezeki yang ia dapatkan.


Lalu bagaimana dengan nasib tukang asongan yang pernah Haidar jumpai di terminal, ia lulusan Ilmu Sosial Politik disalah satu perguruan tinggi negeri, mengapa ia memilih profesi sebagai penjajah minuman mineral dan rokok? Demikian ketatnya kah persaingan di dunia kerja?! Sehingga seorang yang memiliki ijazah sarjana penuh harus sama dengan mereka yang hanya mengenyam bangku Sekolah Dasar?!


Tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata.


Membuat kita yakin, tidak mungkin Allah membiarkan umatnya kelaparan, dan nyata bahwa rezeki setiap makhluk sudah tersimpan dan tercatat rapih dalam kitab di Lahul Mahfudz. Kini membuatnya semakin tegar dan memahami.


Allah pasti memberikannya rezeki tanpa diduga Sesuai kehendak-Nya, dan cukuplah Allah tempat meminta rezeki. Cukuplah keyakinan Haidar menjadi penghibur ketika diri dihadapkan dalam keadaan seperti ini.


“Ya Allah aku tahu Engkau Maha Kaya, selayaknya orang kaya yang selalu ingin memberi. Harta-Mu tak pernah habis. Dan aku yakin janji-Mu itu pasti, ketika Engkau perintahkan kami untuk meminta rezeki hanya pada-Mu, maka mustahil bagi Mu untuk mengingkari itu semua.” Dalam hati haidar bermunajat.


Benar, berkali-kali kita coba untuk berspekulasi hidup bersandar pada Allah, semua terjawab rezeki yang kita butuhkan, walau sebatas apa yang menjadi keperluan saat itu, Allah penuhi apa yang menjadi kebutuhan kita.


Seperti sekarang ini, yang Haidar inginkan hanya ongkos untuk sampai ke Taman Ismail Marjuki, tidak mungkin ia harus menjual handphone yang memiliki sejarah dalam hidup. Alat komunikasi satu-satunya yang ia dapatkan sebagai hadiah dari seorang direktur penerbit di bilangan Selatan Jakarta.

__ADS_1


Namanya Hadi Purwantoro, ia orang yang bersahaja, sederhana dan baik. Tiba-tiba saja handphone yang terbilang mahal dan jarang orang yang memilikinya di saat itu sudah ada di meja kerja, membuat Haidar terperangah dan bertanya, “handphone siapa ini?”


Setelah ia buka kantong pelastik bertuliskan nama toko handphone, ia berikan barang yang terbilang mewah itu, bukan tanpa alasan, ternyata itu hadiah lantaran novel kontroversi milik seorang habib atau doktor yang Haidar tulis telah terbit, Haidar terlibat dalam penulisan novel bergendre religi- romantis itu.


Bagaimana pun juga, handphone itu menjadi barang bersejarah dan Haidar pertahankan karena memang tidak mudah baginya untuk membeli HP seperti itu, mungkin jika ada rezeki baru bisa ia ganti, dan tak akan ia jual, di dalamnya banyak contact BB dari orang-orang penting, mulai dari artis sampai kepada pembaca novelnta yang lebih awal terbit, karena di dalam karya satu itu sengaja aku pasang nomor pin Blackberry-nya untuk memantau jalan atau tidaknya dan seberapa jauh penjualan buku tersebut.


Mengingat ada beberapa pembaca novel Satu Cinta, Dua Benua yang meng-invite pin BB- ku mereka hampir dari penjuru tanah air sampai kepada Indonesia Timur.


Dan hampir semua-nya memberikan apresiasi tersendiri. Ada yang mendo’akannya, semoga bisa dilayarlebarkan, ada juga yang sedikit protes karena ending –nya yang menyedihkan, ada juga yang sekedar mempertanyakan sisi keperibadian Haidar, mirip wartawan dadakan, Haidar menanggapinya, karena tanpa mereka, apa yang ia tulis hanya ter-display saja di etalase toko buku tanpa ada yang membeli.


Tetapi semua itu tidak membuatnya merasa puas, dibandingkan banyak banget penulis muda yang berhasil melahirkan karya-karya hebat.Sedangkan Haidar jauh dari itu semua dan perlu memotivasi diri, toh mereka sama-sama memiliki peluang waktu dan kesempatan yang sama, 24 jam dalam sehari, mengapa ia tidak bisa? Padahal mereka pun sama-sama makan nasi bukan? Lalu mengapa kita tidak memiliki prestasi yang sama dengan mereka?


Syukurlah Pak Syafe’i ketua RW datang, dan entah ada angin apa tiba-tiba memberikan selembar uang dua puluh ribu.


“Niih ada rezeki untuk elu!” Sambil memberikan uang tersebut


“Untuk apa Pak?”Tanya Haidar, ia terlalu baik selama ini dan sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri.


Jadi kalau tidak ada alasan mengapa ia memberikan uang itu, aku tidak akan.terima. Karena sudah terlalu banyak ia merepotkan beliau.


“Tadi gua abis ke kelurahan, ikut seminar.bEeeh diamplopin gocap, yah gua bagi ajabuntuk luh!” Maklum ia Betawi tulen, dan gaya kepemimpinannya mirip Coboy, tidak ada batasan antara Haidar dengannya.


Memang, kejadian ini bukan pertama kali, tetapi sering ia memberikan uang, kalau menurutnya anggaplah ‘uang jajan.’


Ahmad Syafe’i, kumisnya yang tebal dan raut wajah antagonis padahal hati-nya lembut dan sering berkelakar, kalau masih ada program acara di televisi yang Asli atau Palsu, mungkin ia mirip banget sama Benyamin Sueb.


Beliau terbilang orang yang dermawan, walau aku tahu menjadi pelayan masyarakat itu lebih banyak pengorbanan, lebih banyak pengeluaran dibandingkan dengan pendapatannya.


Disatu sisi, ia harus menafkahi anak dan istrinya, tetapi jika dihitung-hitungperhari itu ia bisa habiskan uang minimal lima puluh ribu hanya untuk orang-orang terdekat yang memang membantu meringankan pekerjaannya di pelayanan. Walau terkadang ia sendiri bingung mencari penghasilan untuk dirinya dan keluarga.


Syukurlah, ada rezeki juga untuk menunaikan janji dengan penulis senior itu, esok hari. Tetapi ada sedikit hambatan lagi, yaitu Haidar tidak tahu rute jalan ke Taman Ismail Marjuki ( TIM ) jika naik Trans Jakarta.


Mengingat ada aturan rute yang harus ia pelajari jika ingin sampai ke sana, satu-satunya cara ya harus browsing di internet, pakai aplikasi google map.


Sebetulnya ia meragukan aplikasi yang harus di-downlad terlebih dahulu. Mengingat HP-nya tidak sesuai antara memori internal-nya dibandingkan dengan kapasitas aplikasi yang ia harus download, satu-satunya jalan harus berlangganan paket unlimited untuk bisa mengakses layanan internet.


Dan itu mengharuskan Haidar untuk beli pulsa, berlangganan paket tersebut, otomatis berkuranglah uangnya yang baru saja dikasih Pak Rw, dan tidak menutupi ongkos pulang-pergi esok.


"Bismillah aja deh, apa pun yang terjadi esok hari aku hadapi, karena aku pun yakin orang hebat itu dibesarkan dari masalah hidup dan air mata." Gumam Haidar.

__ADS_1


__ADS_2