TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Jangan Kotori Tangan-mu


__ADS_3

Bertalu-sesambutan dan sepertinya mereka sedang saling menyapa, begitu harmonisnya sama seperti


bahasa Tuhan yang aku pun tidak mengerti, meraka terlihat nyaman atau memang sudah menjadi habit-nya sehingga sepi malam justru menjadi tempatnya berbagi ceria, ketika manusia sudah terlelap tidur, mereka justru berdendang seakan malam ini menjadi pesta untuk para binatang malam.


Sehabis sholat Isya dan sengaja aku rebahkan tubuh ini untuk segera terpejam, lalu ikut melarutkan diri sampai aku berdiri di ujung jalan menuju gerbang mimpi, hingga aku masyuk dalam mimpi yang tidak bisa aku pilih semau-ku, andai mimpi di malam hari saja bisa aku request aku mau setiap malam- malamku dipayungi bintang dan


kita duduk di bawah bangku taman ditemani temaram-nya lampu, kau pun rebah di pundakku.


Tetapi aku sering kehilangan mimpi di malam hari, sebab aku terbiasa tidur selepas Subuh, hanya butuh dua sampai tiga jam saja untuk memejamkan mata, mungkin lebih pantas aku sebut mimpi di pagi hari, seperti biasa aku isi malam-malamku hanya untuk menulis, sebab di tengah keheningan banyak yang bisa aku dapatkan, dan inilah caraku mengolah pikiranku, bisa jadi hampir rata-rata penulis memilih waktu malam hari, tidur sejenak lalu terbangun di sepertiga malam, hingga suara adzan Subuh memberikan isyarat untuk tinggalkan sementara waktu.


Benar-benar aku kehilangan kehidupan normal seperti mereka, dan aku mulai terbiasa memutar balikan waktu, malam untukku bekerja sedangkan pagi hari, walau tidur beberapa jam saja lalu aku lanjutkan untuk menulis kembali, terus dan terus seperti itu, hanya bertahan beberapa bulan saja aku hidup normal, karena memang pagi-nya harus pergi bekerja rutin seperti seorang lelaki pada umumnya.


Karena masyarakat memang tahunya seperti itu, yang disebut bekerja itu seperti mereka yang pergi pagi, pulang sore hari dan mengenakan pakaian atau seragam yang rapih, sedangkan aku? Jauh dari itu semua, aku bisa bekerja kapan pun, dan melebihi batas waktu daily rutinitas para buruh pabrik, karyawan kantoran atau pekerja lainnya. Bedanya, mereka bisa mendapatkan gaji setiap bulan, dan aku? Hanya mendapatkan royalty yang aku ambil setiap tiga bulan sekali, ada juga penerbit yang memberikan down payment di awal, sebagai tanda jadi. Tetapi hanya penerbit tertentu saja, sedangkan aku memperoleh itu semua setiap tiga bulan sekali, itu pun aku tidak pernah tahu, setiap tanggal berapa saja uang royalty itu bisa aku terima.


Dan malam-malam-ku kini terusik dengan pesan singkat yang tiba-tiba saja Amel kirim untukku. Aku tidak pernah tahu setan apa yang merasuki tubuh-nya, hingga ia sebegini kehilangan kodratnya sebagai wanita, dan aku pun makin kehilangan taring sebagai lelaki.


 Ini sudah diluar batas kewajaran dan aku sendiri tidak sanggup lagi dengan beban batin yang seperti ini, memang secara agama Amel sudah aku ceraikan, tetapi tidak dengan hukum negara, bukan aku tidak mau urus, keadaan yang tidak bisa aku paksakan.


Disamping itu memang aku paling malas berurusan dengan yang beraroma birokrasi, adalah sesuatu hal yang menjadi alasanku untuk tidak terlampau jauh bermain di proses adminitrasi birokrasi yang cukup ngejelimet. Bukan aku tak punya nyali untuk ini semua, tetapi menahan emosi itu memang sulit, sekalipun dibilang pecundang,


bagiku meredam emosi itu lebih baik dibandingkan aku harus kehilangan masa depan.

__ADS_1


“Hadapi semua dengan kepala dingin Haidar, nanti juga akan kamu temukan balasan bagi mereka berdua, serahkan semua kepada Allah, yang kamu sendiri meyakini adanya hari pembalasan bukan?!” Aku berbisik pada penghuni malam yang ia tidak pernah tidur.


Hampir semua telah aku ceritakan dan tidak ada selembar judul pun tidak aku sampaikan, karena aku tahu kau tempatku berbisik, tempatku mencaci maki langit, bukan karena aku membenci terlahir ke bumi, dan tidak juga aku menghujat Takdir, karena aku sudah ikhlas dengan naskah hidupku.


Inilah silaturahmiku pada ‘pemilik malam’ yang ia sendiri tidak pernah tertidur nyenyak, ia pun gelisah dengan takdirnya sendiri. Karena hanya bersahabat dengan-mu aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya berbagi. Dan mungkin dalam waktu dekat ini aku ke Bandung untuk menyelesaikan skenario film, disana aku di karantina. Mudah-mudahan tidak memakan waktu terlalu lama, mengingat sebelum Ramdhan film ini harus segera dirilis.


“Teruslah kau mengejar mimpi-mu Haidar, dan aku siap untuk menjadi tempatmu beragi cerita, walau caraku hanya seperti ini aku bisa membantumu, mungkin satu hari nanti aku pun bisa membantumu dengan cara lain yang aku bisa lakukan.”


Tak apa, dengan aku seperti ini aku terasa memiliki umur yang panjang, dan rezeki yang melimpah, karena aku teringat pesan beliau, kalau kita mau dipanjangkan umur dan dimurahkan rezeki maka perbanyaklah silaturahmi, sebab aku merasakan dampaknya, ketika aku butuh sahabat yang bisa mau berbagi tentang masalah hidup yang aku tanggung sebegini beratnya, dengan aku bercerita seperti ini setidaknya aku bisa mendapatkan masukan dan nasehat yang berguna untukku.


 Aku pun pernah merasakan rezeki dari silaturahmi, ketika aku membutuhkan pekerjaan kemarin. Hingga dari temanku Imam Iskandar memberikanku pekerjaan dan ia juga tahu bagaimana kemampuanku sampai akhirnya aku dipercaya sebagai penulis konten atau artikel di sebuah website cerita.


Seperti itu lah ketika aku memintanya hanya menjadi pendengar setia saja dan bagiku masukan darinya sudah cukup mengurangi beban hidup-ku, kepada siapa lagi aku akan bercerita hanya kepada dia ‘si penjaga malam’ yang memang tak pernah tidur dan selalu ada waktu ketika aku membutuhkan secera cahaya penerang, dan aku pun tahu ‘si penjaga malam’ akan amanah menyimpan disetiap rahasia-rahasia hidupku.


Dan aku sendiri tidak paham dengan ucapannya, “...., mungkin satu hari nanti aku pun bisa membantumu dengan cara lain yang aku bisa lakukan.” Cara seperti apa yang ia akan lakukan untukku?!


***


Di Malam  Berikutnya, 00.00 WIB


 Suara jangkrik tak lagi aku dengar bersahutan, tak ada satu pun binatang malam yang aku dengar. Hanya aroma tanah yang menyengat menusuk. Olfactory epithelium, partikel zat pembau tertangkap receptor, sinyal itu akan di kirim ke the olfactory bulb melalui saraf olfactory. Bagian inilah yang mengirim sinyal ke otakku, hingga akhirnya aku

__ADS_1


tahu kalau aroma bebaun tanah yang segar ini tak lain beberapa jam yang lalu hujan turun, menyisahkan dingin yang menyengat pori-pori kulit, walau tak sampai membuatku mengigil tetapi cukuplah membuat bulukudukku berdiri.


Aku menulusuri tiap gang, tak ada tanda-tanda kehidupan, minimal aku temukan suara erangan orang mendengkur, ternyata benar-benar sepi. Mungkin udara malam ini, cukup mendukung untuk mereka berpacu dalam mimpi yang hanya hilang terbawa suara adzan Subuh nanti.


Sudah menjadi kebiasaanku setiap selesai sholat Tahajud sebelum menulis, untuk keluar sejenak dari kamar, walau sekedar merasakan damainya malam, dan menengadahkan wajahku ke atas langit, “ Tuhan, izinkan aku menghujat takdirku sendiri! Tentang harapan yang sudah mencapai titik nadir, tentang tangan yang ingin terus memberi tetapi tak kuasa mengepalkan jemari, tentang hina yang disulam dalam cinta dan cita-cita, tentang noda cinta yang aku toreh dengan tinta emas, tentang teror kematian yang membuatku resah, bukan karena takut menghadapi kematian, tetapi bekal yang aku miliki tak ada seujung kuku pun bila dibandingkan dengan maksiat yang aku sudah kerjakan, sadar maupun tanpaku sadari.


Bukanku angkuh terdesak dengan takdir, aku anggap inilah muqadimah pembuka untukku belajar memahami bahwa Engkau lebih dekat dari dugaan hambanya, dan ternyata nikmat umur itu lebih besar dari masalah hidup yang kita hadapi.


Pada malam aku kembali menelusuri jejak hikmah, bahwa aku harus keluar dari tempurung yang membuat seokor katak merasa ia terhimpit dari masalah yang besar, ia menganggap tempurung menjadi beban kebebasannya untuk mengenal bahwa masih ada dunia lain yang melebihi dari sebongkah tempurung yang menyelimuti seekor katak, mau tidak mau katak ini harus keluar dari tempurung, agar ia tahu bahwa fitrah jiwanya itu adalah kebebasan. Disinilah aku temukan, bahwa jiwa ini harus besar dari masalah yang sedang dihadapi, besar hatilah apa pun kemungkinan yang terjadi pada diri sendiri.


Tetapi ingat! Bahwa Allah selalu membuat sesuatu berpasang-pasangan dalam hidup ini, bukan saja masalah jodoh tetapi hikmah hidup yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang memang jiwa-nya memilih untuk bersahabat dengan takdir, bertadabur diri dalam kema’rifatan dengan mengenal diri, maka disitu kita akan mengenal siapa Tuhannya.


Dijadikannya malam dan siang silih berganti sebagai bukti, bahwa ada pelajaran bagi orang yang ingin bersyukur. Duka kan berganti suka, air mata akan terbias dengan tawa, dan jangan salahkan pepisahan karena diawali dari pertemuan. Jangan bermimpi semua itu akan abadi, tetapi ada jedah yang harus aku ambil diantara kedua-nya untuk menyiapkan diri untuk tertawa, lalu menangis. Untuk bersiap menghadapi malam hari di waktu siang datang, sadar diri bahwa tidak ada pertemuan yang abadi dan ia akan terpisah, hanya saja waktu yang berbicara.


Sehabismerenung panjang, aku berjalan menelusuri rumah-rumah penduduk, hanya untuk mencari siapa saja yang tengah terjaga, walau sekedar saling sapa, karena memang aku bukanlah orang asing dan cukup bermasyaraka, tetapi kali ini ada pemandangan yang tidak wajar, di antara tembok pabrik yang berjarak satu meter dengan rumah penduduk, tepat di siku jalan, nampak tiga pria bertubuh kekar berjaga-jaga lengkap dengan senjata laras panjang, satu diantaranya mengenakan topi.


Tak lama tiga petugas lainnya keluar dengan membawa seorang yang aku tahu ia berkelamin pria, walau wajahnya ditutup dengan kain hitam, mirip ketika Densus 88 menangkap tersangka *******. Siapa lelaki di balik kain hitam itu? Begitu rapihnya petugas yang aku tahu meraka memang resmi melakukan penangkapan, ini terlihat ada dua pria dari enam orang yang aku lihat mengenakan seragam resmi, tetapi siapa yang ia tangkap?! Mengapa para tetangga tidak merasa terganggu dengan suara gaduh, atau mungkinkah mereka team khusus yang sengaja diutus untuk melakukan penangkapan.


 


 

__ADS_1


Sungguh ini tidak wajar.....


__ADS_2