TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Gema Takbir Berkumandang, Kamu dimana?


__ADS_3

Genap setahun yang lalu, ketika kami diburuh rasa gelisah, cemas dan was-was. Tenaga,


waktu serta pikiran ini terkuras habis memikirkan sosok yang terbaring tak


berdaya. Ia kini bersahabat dengan selang yang menempel di hidung dan alat vitalnya,


tak sadarkan diri selama dua minggu di ruang intermedite karena butuh penangan


yang intensif, sepintas lelaki itu tertidur pulas padahal beliau tengah


dihadapi perjalanan ghaib yang kita sendiri tak pernah tahu.


Di minggu kedua bulan Ramadhan, kemenakan Ayah, Zulfan menghubungi adik keduaku


menceritakan kondisi kesehatan lelaki yang memilih hidup sendiri lantaran


memang seperti itu cara ia berdakwah, dimana berpijak disitu ia menuntun orang


untuk memahami ketauhidan, walau kesehari-hariannya hanya menjadi tabib yang


tidak pernah mematok harga untuk sekali berobatnya, tetapi memang Ayah termasuk


seorang tabib yang mujarab.


Pernah aku temukan seorang pasien yang tidak bisa berjalan dari semenjak usia dua


tahun, dan ketika bernajak di usia lima tahun baru-lah anak itu mampu berjalan


walau berlahan-lahan, karena berobat kepada ayah.


 Bang Zulfan memberitahukan kami, bahwa ayah sedang sakit dan sempat pingsan. Ketika


sudah sadarkan diri aku menghubunginya, justru ia hanya tertawa seolah-olah


tidak terjadi apa-apa.


“Ayah, kurangi rokoknya jangan terlalu banyak ngopi juga bahaya kalau jatuh sakit


lagi.”


Ayah hanya menjawab, “ Hahahaha....” Entah apa yang ia tertawakan, mungkin caraku


yang terbilang menggurui sampai akhirnya beliau membuka pembicaraan hanya


dengan canda dan tawa, lagi-lagi aku tidak tahu apa maksudnya. Pada satu


pembicaraan, ketika suara tawa Ayah mulai meredah kami terhanyut dalam satu


pembahasan akan kekhawatiranku mengenai cara Ayah berkelana seperti itu, dari


aku balita memang Ayah jarang pulang, sampai tiga bulan bahkan lebih, barulah


ia kembali.


Dan aku pernah berharap dan meminta sama Allah, untuk memulangkannya ke rumah biar


ketika ia sakit tidak terbengkalai, karena hidup dan matinya seseorang tidak


bisa ditebak. Khawatir, Ayah meregang nyawanya sendiri tanpa ada sanak famili,


na’udzubillah min dzalik.


Karena memang seperti itu perilaku Ayah yang mencari kebenaran agama lewat perjalanan dari satu kota ke


kota lain, dari pulau yang ramai penduduknya sampai terpencil sekalipun ia


kunjungi, selama demi agama, hidup dan mati-nya untuk Islam. Aku sendiri tidak


tahu, mazhab Islam seperti apa yang Ayah tekuni dan aku tidak pernah ingin tahu


tarekat apa yang sedang ia jalani hingga begitu hanyut , lupa dengan kami anak-


istrinya.


Jatuh sakit-nya Ayah seakan menjawab bahwa ia harus kembali kepangkuan istri dan


istirahat total dari sebuah pencarian kebenaran walau sampai kapan pun


kebenaran itu tidak akan berlabuh di dermaga mana pun juga, kini saatnya


berbagi waktu untuk putra dan putri-nya yang kini sudah beranjak dewasa, bahkan


dua diantaranya sudah menikah dan dianugrahi putri-putri yang lucu.


Hingga suatu ketika, Ayah membelah shaf para jam’ah sholat terawih, dan memang sudah


menjadi rutinitas setiap tahun, keluarga kami mengadakan sholat terawih


berjama’ah, walau berlahan-lahan para penghuni shaf tersebut satu persatu


dipanggil Allah, lantaran memang semuanya sudah sepuh dan tidak ada lagi yang


melanjutkan tradisi ini. Di pangkuan adikku yang ke lima, Ayah jatuh


dipelukannya tanpa alas kaki dan baju yang sudah kotor dengan debu.


 Ada yang tidak wajar dari pingsannya, tiba-tiba mengeluarkan buih. Aku berinisiatif


untuk membawanya ke Rumah Sakit, khawatir ada penyakit serius yang beliau


derita. Benar saja, diagnosis dokter mengatakan, Ayah terserang penyakit stroke


dengan infeksi dan kebocoran pembuluh darah 17 persen di otaknya.


“Tapi bisa sembuhkan dok?!”Tanyaku panik dan khawatir.


“Kita hanya berusaha saja mas, selebihnya serahkan sama si pemilik takdir.” Jawab dokter


sambil melempar senyum dengan tenangnya. Panikku hilang seketika, terngiang di


telinga dengan kata-kata terakhir yang pria ber-jas putih itu ucapkan, tugas


manusia hanya berusaha dan keputusan akhir ada pada si pemilik takdir.


Memang kalau menyandarkan takdir itu semua kepada Allah mungkin bisa membuat kita


tenang, tetapi terkadang wujud takdir itu sendiri menggantung di Lahul Mahfudz


dan masih misteri. Yang dikhawatirkan dari mereka yang mengalami pesakitan


adalah kematian. Padahal, maut itu adalah sebaik-baiknya perjalanan seorang


anak manusia untuk kembali kepada si pemilik jiwa-nya, tetapi memang dibutuhkan


keberanian dan bekal untuk menyambut kematian itu sendiri.


Yang pasti kematian adalah realita yang harus dihadapi dan tidak bisa dapat


dielakkan, inilah awal perjalanan manusia untuk mendekat dan kembali kepada


Tuhanya, yang membuat kematian itu menjadi duka hanya karena sifat tamak


manusia yang menginginkan keabadian dan terlalu serakah untuk memiliki barang


titipan yang menjadi kepunyaan-Nya. Rasanya tidak etis, jika seorang juru


parkir mengaku-ngaku menjadi si pemilik mobil yang terparkir di lahan-nya,


padahal hanya sekedar menumpang untuk menitipkan kendaraannya saja.


Seperti itulah aku harus belajar untuk sadar bahwa semua itu milik-Nya, jiwa, raga dan


fasilitas yang kita miliki sekarang pun sama, dan semuanya tidak abadi. Bagi si


pujangga yang ia begitu nyaman dengan malam, maka ia pun harus rela menyambut


pagi datang, dan bagi si pecinta ia pun harus sadar bahwa ada pertemuan maka


ada juga perpisahan. Dengan begitu aku akan tenang menghadapi segala


kemungkinan yang akan terjadi, yah tentang takdir yang kita sendiri masih


meraba dan bahkan buta.


Sekarang, aku serahkan Ayahku kepada Allah, biarlah Ia yang menentukan jalan terbaik


untuk beliau dan dihadapan Allah sendiri mulia, aku pasrah.....


Seminggu sebelum Ayah di rumah sakit, Zahra adik-ku pun di rawat intensif di tempat yang


sama, si bungsu didiagnosis positif terjangkit DBD, dan membutuhkan banyak sel


darah putih. Di awal masuk ruang IGD, petugas medis kurang merespon bagi pasien


yang hanya menggunakan rujukan surat SKTM, Surat Keterangan Tidak Mampu, yah,


karena nyawa orang miskin itu lebih murah dibandingkan mereka yang memiliki


perusahaan atau setidaknya menyematkan jabatan strategis atau berpura-pura


ramah ketika ada pegawai Pemda yang tengah survei. Benar, inilah gambaran


realita bahwa orang miskin dilarang sakit.


Mengapa pihak rumah sakit tidak berani untuk terang-terangan membuat sticker lengkap


dengan tulisan, ‘ orang miskin tahu diri kalleeee!!’ atau ‘yang merasa warga


miskin harap sabar menunggu.’ Beruntunglah mereka yang diperlakukan seperti


itu, karena hanya orang miskin-lah yang memiliki stock kesabaran yang tak


pernah ada habisnya.


Pengajuan darah dan kamar sudah aku upayakan sedari jam sepuluh pagi, hingga tepat tengah


malam adik-ku hanya menahan sakit dan tergolek lemas,”abang Zahira sudah nggak


kuat!” Tangisan kami pun pecah ketika mendengar ucapan dari biir yang sudah


mengering dan terkelupas kulitnya.


Berkali-kali aku coba menanyakan kembali ruang ICU yang katanya masih penuh dan sedang menunggu pasien lain keluar.


Ditambah lagi, alasan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, bahwa persediaan di bank


darah kosong, hingga akhirnya kami disuruh meminta ke bank darah terdekat, tidak


ada tempat yang terdekat kecuali di kota Tanggerang. Jam dua belas malam,


sebegitu teganya pihak rumah sakit meminta kami untuk mencari darah yang memang

__ADS_1


sama sekali kami buta untuk hal satu ini.


Dengan air mata yang masih terselip di kelopak, aku harus mencari sel darah putih yang


sesuai dengan jenis darah untuk adik-ku, pihak rumah sakit hanya memberikan


sedikit sample darah dan sebuah ice box.


“Adik Mas butuh enam kantung sel darah putih.” Ucap petugas bank darah sambil memberi


setabung kecil contoh darah dan box yang berisi es batu serta selembar kertas


yang aku sendiri tidak bisa menerjemahkan bahasa medis.


“Oh iya Mas, kalau sudah selesai pemakaian, tolong boxnya dikembalikan kembali ke


kami yah?”


“Ya, Allah andai saja ada voucer isi ulang kesabaran mau rasanya kami membeli,


sungguh kami tak sabar diperlakukan seperti ini, lapangkah hati dan sejukan isi kepala ini Ya Rabb...” Getirnya kupendam


sendiri dan aku hanya menganggung saja sebagai tanda meng-iya-kan apa yang


dipinta wanita berjilab putih tersebut.


Yang kami miliki hanya-lah pasrah dan sabar dengan perlakuan pihak rumah sakit


karena jika kami berucap keras, mereka tambah mempermainkan keluarga hingga


akhirnya berdampak kepada si pasien dan aku tidak mau Zahra dibiarkan


terlantar.


Hanya ditemani lampu jalan yang temaram dan sesekali mati secara otomatis, jarak dari


rumah sakit untuk sampai ke jalan protokol dibutuhkan waktu 15 menit atau


secapat-cepatnya 5 menit itu pun menggunakan jasa tukang ojeg, dan uang di saku


hanya cukup untuk ongkos pulang-pergi.


Keringat tak terbendung lagi dan terus bercucuran di sekujur tubuh. Terkadang aku


selipkan lari-lari kecil demi mengejar waktu dan es batu yang dikhawatirkan


mencari, karena jarak antara rumah sakit dengan bank darah kota Tanggerang itu


memakan waktu satu jam jika menggunakan angkot, dan aku harus dua kali naik


angkutan umum untuk sampai ke sana.


Dari depan jalan yang tak jauh dari rumah sakit, aku harus menumpang angkot berplat


hitam untuk sampai ke jalan utama, karena hanya ada di situ angkot yang


mengantarkanku ke arah lapangan Ahmad Yani.


 “Apa ada angkot jam segini?”Tanyaku begitu


cemas-nya.


Aku harus berjalan beberapa meter dan menyeberangi lampu merah untuk dapat


menemukan angkot dengan garis sisi-nya berwarna hijau, itu alternatif jika aku


tidak menemukan mini bus yang bisa mengantarkan aku tepat di lokasi yang aku


tujuh. Nah, kalau aku menggunakan angkot hijau M-10 mesti berjalan lagi untuk


sampai di taman kota Tangerang.


Aku kehilangan waktu yang cukup banyak ketika harus menunggu angkot, cukup menyiksa


batin dan semakin mebuatku bertambah cemas. Jantung berdebar semakin tidak


menentu, di benakku ada hanya wajah Zahira yang pucat dan ia tak sadarkan diri.


“Abang, Zahra sudah nggak kuat lagi.” Kata- kata itu yang terus menghantui aku,


dan memicu emosi.


“Sabar yah Zahra sayang...sebentar lagi abang dapatin darah itu untuk kamu.” Sambil


memejamkan mata begitu rapat, hingga akhirnya air mata ini pun tumpah dan tidak


mampu aku bendung lagi, nyaris pikiranku kosong dan hilang konsentrasi.


Tak pantas jika aku marah dengan supir angkot yang terlalu lama mangkal, tetapi


lagi-lagi aku harus toleransi bahwa ia bekerja demi anak dan istrinya, belum


lagi uang yang harus ia setorkan kepada si pemilik angkot, seketika itu


meredam-lah emosiku. Setengah jam, barulah sang supir melajukan kendaraannya


karena dinilai sudah merasa cukup dengan standarisasi hitungan,rumusan


matematis, hanya dia saja yang tahu cara berhitungnya.


Di tengah jalan ada yang sedikit terlihat aneh, mengapa tiba-tiba angkot ini


berbelok dan tidak searah dengan jalan yang aku maksud. Lama kelamaan semakin


membuat supir merasa terpancing adrenalinnya, atau jangan- jangan ia tahu waktu


jam sewa, sampai-sampai begitu tergesa-gesanya mengejar setoran, dan alhasil


aku harus mencari angkot yang berlawan arah dari tempat aku diturunkan.


Meleset dari perhitunganku, uang di saku hanya untuk ongkos pulang-pergi dan tidak ada


lebih untuk kejadian force mejure seperti ini. Aaah, pasti ada jalan keluar dan


Allah masih berjaga dan terus menjaga hamba-hamba-nya. Keringatku berlahan


mengering, karena tersapuh dengan pendingin ruangan di bank darah Kotamadya


Tanggerang, dua petugas menyambutku dengan ramah.


 “Selamat malam Mas, bisa kami bantu?”


Aku pun menyodorkan apa yang dibekalkan oleh pihak rumah sakit tempat yang kini


menjadi kubangan air mata, karena aku tahu siapa Mamah yang hatinya peka dan


terlalu mudah untuk menangis, apa lagi melihat putri kesayangannya tengah


kritis. Semakin tak berhenti ia menangis, semakin berusah, justru semakin


memecahkan tangisannya.


Kembali lagi kepada kedua petugas yang menyambut kedatanganku, mereka sepertinya paham


dengan selembar kertas yang diberikan pihak rumah sakit dan contoh darah


adik-ku, Zahira. Setelah masuk ke dalam laboratorium dari kejauhan terlihat ada


lemari es besar di dalam, dan aku melihat ada ratusan kantong darah tersusun


rapih, tak beberapa lama kedua petugas itu datang kembali dan memanggilku.


“Mas,  ini darah-nya.” Menyodorkanku ice box yang terbuka sebagai bukti bahwa sel


darah putih yang aku pinta dipastikan sudah berada di dalamnya.


“Terimakasih mas.” Aku menjulurkan tangan sebagai sapa mengkahiri urusan yang aku anggap


sudah selesai ini.


“Dan ini service cost-nya.” Petugas memberikanku selembar kertas.


Aku terkejut seketika dan tidak memahami maksud dari nominal yang tertera dalam


kwitansi tersebut.


“Apa maksudnya Mas?!”


“Ini jumlah yang harus dibayarkan.”


“Ya Allah, darah kok dijual? Setahu saya gratis sebab saya pun pendonor darah,


kenapa dikenakan biaya juga?”


“Memang gratis Mas, ini hanya peganti dari biaya yang sudah bank darah keluarkan, untuk merekrut atau mencari


donor darah sukarela, biaya pengadaan kantong darah, biaya bahan pakai medis


atau non medis, biaya pemeriksaan golongan darah dan Haemoglobin/Hb, biaya


pengadaan reagen uji saring agar terbebas dari IMLTD yang meliputi HIV/AIDS,


HBsAg, HCV, serta RPR(sifilis), biaya pengadaan reagen untuk uji cocok serasi


(metode gel test), biaya penggantian


alat, biaya pemeliharaan alat, sarana dan prasarana, biaya penunjang meliputi air, listrik, telepon, dan pemusnahan limbah medis, demikan mas anggaran untuk


setiap kantungnya, kami gunakan untuk biaya tersebut...”


“Sama saja, dimana gratisnya??!” Benar-benar negara ini semakin tidak jelas dan


sampai hati Ibu pertiwi membebani biaya ini semua, dimana kemakmuran untuk


rakyat?! Dimana kesejahteraan yang dijanjikan dalam Undang-Undang, sedangkan untuk meminta darah saja harus


bayar sebegini mahalnya?! Kok tega?!


“Mas, kami ini keluarga kurang mampu dan disuruh untuk meminta darah di sini, tetapi


kenapa harus bayar? Sedangkan rumah sakit saja kami gratis?! Dan saya punya


kartu donor darah saya, ini sebagai bukti bahwa saya rela mendonorkan darah,


tetapi ketika saya butuh kenapa harus bayaaar?!” Disini aku naik pitam, dan


tidak mengerti dari ini semua.


“Asal kalian tahu, di sana...adik saya sedang dihadapkan dengan maut dan jauh-jauh


saya ke sini hanya untuk mengemis belas kasihan pihak rumah donor, tetapi sampai

__ADS_1


disini justru seperti ini kejadiannya. Andai ini terjadi pada keluarga kalian?


Apa yang akan kalian lakukan? Dan kartu donor darah yang saya miliki tidak laku rupanya?! Jawaaaab!!! “ Aku lihat dua


petugas itu nampak kikuk dan mengerti dengan keadaan yang aku sedang hadapi.


“Begini Mas, kami belum ada kerjasama dengan pihak rumah sakit tempat adik mas di


rawat. Tetapi inilah mekanismenya dan kami sendiri bukan orang yang menentukan


kebijakan, mengingat ini tengah malam dan tidak ada orang kantor yang masuk.”


Emosiku takut membawa dampak buruk untuk Zahra dan aku pun akhirnya meminta kebijakan,


handphone serta KTP yang aku miliki terpaksa untuk menjadi jaminan, ketika


sudah aku dapatkan biaya ini semua, akan kutebus apa yang menjadi jaminan.


Bagiku hanya darah ini yang aku butuhkan, selebihnya harta yang ada dalam


genggaman tangan, nampak sudah tidak berarti lagi. Dan kedua petugas itu,


merasa percaya hingga akhirnya memberikan beberapa kantong darah putuh untuk


Zahra.


Apalah arti materi yang aku miliki, semua tidak mampu membeli senyum, canda dan


keceriaan Zahra, dialah adik yang menjadi penerus cita-cita keluarga, masih


jelas terdengar ketika ia berucap, “Abang, kalo Zahra jadi dokter apa mampu


membiayai kuliahku sampai wisuda?” Pertanyaan yang ringan tetapi sulit untukku


jawab, karena aku sadar betul bahwa ongkos pendidikan di negeri ini terlalu


mahal, apa lagi jurusan yang ingin Zahra ambil.


Bukan jumlah sejuta atau dua juta, tetapi ratusan juta, sekalipun di universitas


negeri terkemuka di Republik ini. Satu-satunya jawab yang bisa menenangkan adikku satu itu, hanya ucapan masyi’ah11


yang bisa aku berikan untuknya, sebagai motovasi, untuk belajar lebih giat


lagi.


Tetapi gadis kecil itu kini terlihat lemah, tanpa reaksi apa pun dari tubuhnya, hanya


elektrokardiograf yang menjadi teman bicaraku.


Duhai pemilik tabir langit, penghapus segala kecemasan, dan sebaik- baiknya pemberi


keputusan, berikan jalan yang terbaik untuk adikku. Setelah darah yang aku bawa


masuk ke dalam tubuhnya, berlahan terlihat reaksi yang membaik. Kelopak matanya


berlahan terbuka, ia terlihat bingung dengan keadaan disekelilingnya. “Abang,


Zahra dimana?” Beberapa kata yang keluar dari lisannya, cukup membuat hati ini


seperti tersapuh oleh embun.


“Zahra ada di rumah sakit, dan sebenatar lagi pulang.” “Mamah kemana?”


“Besok pagi ia kembali, kasihan Mamah kurang istirahat. Jadi, biar malam ini abang


yang jaga. Sudah, Zahra istirahat lagi...”


Tak ada kata yang pantas terucap, tiada doa yang tidak mungkin terijabah, hanya


saja waktu dan sudut kebaikan menurut pandangan serta penilaian Allah. Yah,


itu-lah kejadian satu tahun lalu, menjelang hari Raya Idul Fitri, dua cobaan


terberat yang Allah berikan untukku.


Kini setahun silam, masa-masa itu sudah berganti dan ini tahun yang menurutku masih


diselimuti kebahagiaan, karena usia pernikaha ini baru beberapa hari. Kami


lewati bulan yang penuh berkah ini dengan kebahagiaan, tidak seperti tahun yang


lalu. Saat-saat yang mencekam dan menguras tenaga, bukan karena pekerjaan


fisik, tetapi batin ini bergelut dengan takdir. Tentang kematian yang kita


sendiri tak pernah tahu, dia-lah tamu misterius yang sengaja Allah ciptakan


sebagai tanda bahwa tak pernah ada satu pun yang abadi, dan ingat! Tidak ada


satu pun makhluk yang mampu mem-vonis seseorang dengan kematian, karena itu


bukan wilayah kita sebagai makhluk.


Selama bulan Ramdhan, hampir sembilan puluh persen aku yang menyiapkan makanan untuk


saur dan berbukanya Julie. Sekalipun di pagi buta hujan turun, ia akan marah


jika tidak disiapkan santapan sahur, tetapi lagi-lagi aku harus berpikir


positif, memang sudah menjadi kewajiban suami menyiapkan dan menyediakan


makanan serta mencuci pakaian anak dan istri.


****


 Perkara yang menjadi kehendak Allah


Jika kita merujuk firman-Nya, bahwa kewajiban ayahlah memberi makan dan pakaian


kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Aku pun


sadar bahwa tugasku sebagai seorang suami bukan hanya mencari nafkah,


pengembangan dari ayat itu sudah jelas bahwa sudah menjadi tugasku juga


menyiapkan makan dan mencuci pakaian.


Yah, hampir satu bulan aku jalani hal seperti ini, sepulang kerja aku sempatkan


mencuci pakaian, jika memang benar-benar capek biasanya aku meminta orang lain


untuk mencucinya, dan aku bayar harian, walau sesekali Amelpun mencuci, itu juga kalau memang mood-nya bagus. Atau ada hal yang membuatnya


senang.


Ada


kebiasaan Amel yang tidak bisa dirubah, walau mungkin


terbilang wajar tetapi lama-lama membuatku tidak tenang. Satu hari ia pernah


menghabiskan uang empat ratus ribu, hanya untuk sekedar hang out dengan


teman-temannya se masa SMA dan kuliah.


Karena memang sebelum tinggal di Palembang ia lahir dan besar di Jakarta, kota yang


tidak ada lagi batasan normatif seorang pria dan wanita, kota dimana gendre


bukan halangan untuk bergaul, tertawa dan bicara ngalor-ngidul tanpa ada ujung,


dan intinya have fun.


“Yaaank,


suami mu ini hanya karyawan biasa, bukan seorang direktur atau pemilik saham


perusahaan besar. Jadi, tolong kamu hargai hasil keringat-mu. Bukan aku tidak


suka dengan apa yang kamu lakukan, tetapi memang belum pantas kita seperti itu.



“Ah kamu, apa yang aku lakukan sama temen-temenku itu juga demi menjaga derajat


kamu di mata mereka. Toh, mereka tahu kamu penulis, masa istri seorang penulis


untuk meneraktir makan saja tidak mampu, kamu mau dihina seperti itu sama


temen-temenku?!!!” Itu alasan yang ia berikan setiap kali aku memintanya untuk


mengurangi aktifitas di luar rumah yang tidak ada gunanya.


“Jujur, aku jenuh dengan keadaan seperti ini yang hanya diem di rumah seharian penuh


dan menyambutmu dengan senyuman ketika kamu pulang kerja, walau harus mengorbankan batinku. Maaf...Aku


tidak bisa yank!”


Hingga akhirnya, demi mengurangi pertengkaran yang tidak berujung dan memperkeruh


keadaan rumah tangga, maka aku bebaskan ia untuk melakukan apa pun dengan


teman-teman-nya.


Dan berlahan aku kehilangan wibawa dalam rumah tangga. Lagi-lagi karena aku tidak


pandai bermain tangan dan berucap kasar.


Hingga satu waktu, ketika di penghujung Ramdhan, disaat suara gema takbir saling


bersautan, sampai malam pun larut dalam temaram rembulan yang tidak sempurna


bentuknya. Belum juga Amelpulang, dan aku menunggunya sampai


tertidur pulas, dalam kamar yang masih terlihat renggang.


“Ya Allah, sampai jam segini kamu belum pulang. Kamu dimana sayang?”


Selimut pun akhirnya menghanyutkanku dalam kehangatan dan menuntutku dalam peraduan,


seraya telinga ini mendengar sahutan takbir, dan lisanku menutup keletihan


menunggu yang tidak pasti hingga basah dengan gema takbir yang hanya bisa aku


kumandangan dalam kesepian,


” Allahu akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar...Laa


Illaha ilallah huallahu akbar...Allahu Akbar Walillah Ilham....”

__ADS_1


Dan aku pun tak tahu, kapan Amel pulang.....


__ADS_2