
Genap setahun yang lalu, ketika kami diburuh rasa gelisah, cemas dan was-was. Tenaga,
waktu serta pikiran ini terkuras habis memikirkan sosok yang terbaring tak
berdaya. Ia kini bersahabat dengan selang yang menempel di hidung dan alat vitalnya,
tak sadarkan diri selama dua minggu di ruang intermedite karena butuh penangan
yang intensif, sepintas lelaki itu tertidur pulas padahal beliau tengah
dihadapi perjalanan ghaib yang kita sendiri tak pernah tahu.
Di minggu kedua bulan Ramadhan, kemenakan Ayah, Zulfan menghubungi adik keduaku
menceritakan kondisi kesehatan lelaki yang memilih hidup sendiri lantaran
memang seperti itu cara ia berdakwah, dimana berpijak disitu ia menuntun orang
untuk memahami ketauhidan, walau kesehari-hariannya hanya menjadi tabib yang
tidak pernah mematok harga untuk sekali berobatnya, tetapi memang Ayah termasuk
seorang tabib yang mujarab.
Pernah aku temukan seorang pasien yang tidak bisa berjalan dari semenjak usia dua
tahun, dan ketika bernajak di usia lima tahun baru-lah anak itu mampu berjalan
walau berlahan-lahan, karena berobat kepada ayah.
Bang Zulfan memberitahukan kami, bahwa ayah sedang sakit dan sempat pingsan. Ketika
sudah sadarkan diri aku menghubunginya, justru ia hanya tertawa seolah-olah
tidak terjadi apa-apa.
“Ayah, kurangi rokoknya jangan terlalu banyak ngopi juga bahaya kalau jatuh sakit
lagi.”
Ayah hanya menjawab, “ Hahahaha....” Entah apa yang ia tertawakan, mungkin caraku
yang terbilang menggurui sampai akhirnya beliau membuka pembicaraan hanya
dengan canda dan tawa, lagi-lagi aku tidak tahu apa maksudnya. Pada satu
pembicaraan, ketika suara tawa Ayah mulai meredah kami terhanyut dalam satu
pembahasan akan kekhawatiranku mengenai cara Ayah berkelana seperti itu, dari
aku balita memang Ayah jarang pulang, sampai tiga bulan bahkan lebih, barulah
ia kembali.
Dan aku pernah berharap dan meminta sama Allah, untuk memulangkannya ke rumah biar
ketika ia sakit tidak terbengkalai, karena hidup dan matinya seseorang tidak
bisa ditebak. Khawatir, Ayah meregang nyawanya sendiri tanpa ada sanak famili,
na’udzubillah min dzalik.
Karena memang seperti itu perilaku Ayah yang mencari kebenaran agama lewat perjalanan dari satu kota ke
kota lain, dari pulau yang ramai penduduknya sampai terpencil sekalipun ia
kunjungi, selama demi agama, hidup dan mati-nya untuk Islam. Aku sendiri tidak
tahu, mazhab Islam seperti apa yang Ayah tekuni dan aku tidak pernah ingin tahu
tarekat apa yang sedang ia jalani hingga begitu hanyut , lupa dengan kami anak-
istrinya.
Jatuh sakit-nya Ayah seakan menjawab bahwa ia harus kembali kepangkuan istri dan
istirahat total dari sebuah pencarian kebenaran walau sampai kapan pun
kebenaran itu tidak akan berlabuh di dermaga mana pun juga, kini saatnya
berbagi waktu untuk putra dan putri-nya yang kini sudah beranjak dewasa, bahkan
dua diantaranya sudah menikah dan dianugrahi putri-putri yang lucu.
Hingga suatu ketika, Ayah membelah shaf para jam’ah sholat terawih, dan memang sudah
menjadi rutinitas setiap tahun, keluarga kami mengadakan sholat terawih
berjama’ah, walau berlahan-lahan para penghuni shaf tersebut satu persatu
dipanggil Allah, lantaran memang semuanya sudah sepuh dan tidak ada lagi yang
melanjutkan tradisi ini. Di pangkuan adikku yang ke lima, Ayah jatuh
dipelukannya tanpa alas kaki dan baju yang sudah kotor dengan debu.
Ada yang tidak wajar dari pingsannya, tiba-tiba mengeluarkan buih. Aku berinisiatif
untuk membawanya ke Rumah Sakit, khawatir ada penyakit serius yang beliau
derita. Benar saja, diagnosis dokter mengatakan, Ayah terserang penyakit stroke
dengan infeksi dan kebocoran pembuluh darah 17 persen di otaknya.
“Tapi bisa sembuhkan dok?!”Tanyaku panik dan khawatir.
“Kita hanya berusaha saja mas, selebihnya serahkan sama si pemilik takdir.” Jawab dokter
sambil melempar senyum dengan tenangnya. Panikku hilang seketika, terngiang di
telinga dengan kata-kata terakhir yang pria ber-jas putih itu ucapkan, tugas
manusia hanya berusaha dan keputusan akhir ada pada si pemilik takdir.
Memang kalau menyandarkan takdir itu semua kepada Allah mungkin bisa membuat kita
tenang, tetapi terkadang wujud takdir itu sendiri menggantung di Lahul Mahfudz
dan masih misteri. Yang dikhawatirkan dari mereka yang mengalami pesakitan
adalah kematian. Padahal, maut itu adalah sebaik-baiknya perjalanan seorang
anak manusia untuk kembali kepada si pemilik jiwa-nya, tetapi memang dibutuhkan
keberanian dan bekal untuk menyambut kematian itu sendiri.
Yang pasti kematian adalah realita yang harus dihadapi dan tidak bisa dapat
dielakkan, inilah awal perjalanan manusia untuk mendekat dan kembali kepada
Tuhanya, yang membuat kematian itu menjadi duka hanya karena sifat tamak
manusia yang menginginkan keabadian dan terlalu serakah untuk memiliki barang
titipan yang menjadi kepunyaan-Nya. Rasanya tidak etis, jika seorang juru
parkir mengaku-ngaku menjadi si pemilik mobil yang terparkir di lahan-nya,
padahal hanya sekedar menumpang untuk menitipkan kendaraannya saja.
Seperti itulah aku harus belajar untuk sadar bahwa semua itu milik-Nya, jiwa, raga dan
fasilitas yang kita miliki sekarang pun sama, dan semuanya tidak abadi. Bagi si
pujangga yang ia begitu nyaman dengan malam, maka ia pun harus rela menyambut
pagi datang, dan bagi si pecinta ia pun harus sadar bahwa ada pertemuan maka
ada juga perpisahan. Dengan begitu aku akan tenang menghadapi segala
kemungkinan yang akan terjadi, yah tentang takdir yang kita sendiri masih
meraba dan bahkan buta.
Sekarang, aku serahkan Ayahku kepada Allah, biarlah Ia yang menentukan jalan terbaik
untuk beliau dan dihadapan Allah sendiri mulia, aku pasrah.....
Seminggu sebelum Ayah di rumah sakit, Zahra adik-ku pun di rawat intensif di tempat yang
sama, si bungsu didiagnosis positif terjangkit DBD, dan membutuhkan banyak sel
darah putih. Di awal masuk ruang IGD, petugas medis kurang merespon bagi pasien
yang hanya menggunakan rujukan surat SKTM, Surat Keterangan Tidak Mampu, yah,
karena nyawa orang miskin itu lebih murah dibandingkan mereka yang memiliki
perusahaan atau setidaknya menyematkan jabatan strategis atau berpura-pura
ramah ketika ada pegawai Pemda yang tengah survei. Benar, inilah gambaran
realita bahwa orang miskin dilarang sakit.
Mengapa pihak rumah sakit tidak berani untuk terang-terangan membuat sticker lengkap
dengan tulisan, ‘ orang miskin tahu diri kalleeee!!’ atau ‘yang merasa warga
miskin harap sabar menunggu.’ Beruntunglah mereka yang diperlakukan seperti
itu, karena hanya orang miskin-lah yang memiliki stock kesabaran yang tak
pernah ada habisnya.
Pengajuan darah dan kamar sudah aku upayakan sedari jam sepuluh pagi, hingga tepat tengah
malam adik-ku hanya menahan sakit dan tergolek lemas,”abang Zahira sudah nggak
kuat!” Tangisan kami pun pecah ketika mendengar ucapan dari biir yang sudah
mengering dan terkelupas kulitnya.
Berkali-kali aku coba menanyakan kembali ruang ICU yang katanya masih penuh dan sedang menunggu pasien lain keluar.
Ditambah lagi, alasan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, bahwa persediaan di bank
darah kosong, hingga akhirnya kami disuruh meminta ke bank darah terdekat, tidak
ada tempat yang terdekat kecuali di kota Tanggerang. Jam dua belas malam,
sebegitu teganya pihak rumah sakit meminta kami untuk mencari darah yang memang
__ADS_1
sama sekali kami buta untuk hal satu ini.
Dengan air mata yang masih terselip di kelopak, aku harus mencari sel darah putih yang
sesuai dengan jenis darah untuk adik-ku, pihak rumah sakit hanya memberikan
sedikit sample darah dan sebuah ice box.
“Adik Mas butuh enam kantung sel darah putih.” Ucap petugas bank darah sambil memberi
setabung kecil contoh darah dan box yang berisi es batu serta selembar kertas
yang aku sendiri tidak bisa menerjemahkan bahasa medis.
“Oh iya Mas, kalau sudah selesai pemakaian, tolong boxnya dikembalikan kembali ke
kami yah?”
“Ya, Allah andai saja ada voucer isi ulang kesabaran mau rasanya kami membeli,
sungguh kami tak sabar diperlakukan seperti ini, lapangkah hati dan sejukan isi kepala ini Ya Rabb...” Getirnya kupendam
sendiri dan aku hanya menganggung saja sebagai tanda meng-iya-kan apa yang
dipinta wanita berjilab putih tersebut.
Yang kami miliki hanya-lah pasrah dan sabar dengan perlakuan pihak rumah sakit
karena jika kami berucap keras, mereka tambah mempermainkan keluarga hingga
akhirnya berdampak kepada si pasien dan aku tidak mau Zahra dibiarkan
terlantar.
Hanya ditemani lampu jalan yang temaram dan sesekali mati secara otomatis, jarak dari
rumah sakit untuk sampai ke jalan protokol dibutuhkan waktu 15 menit atau
secapat-cepatnya 5 menit itu pun menggunakan jasa tukang ojeg, dan uang di saku
hanya cukup untuk ongkos pulang-pergi.
Keringat tak terbendung lagi dan terus bercucuran di sekujur tubuh. Terkadang aku
selipkan lari-lari kecil demi mengejar waktu dan es batu yang dikhawatirkan
mencari, karena jarak antara rumah sakit dengan bank darah kota Tanggerang itu
memakan waktu satu jam jika menggunakan angkot, dan aku harus dua kali naik
angkutan umum untuk sampai ke sana.
Dari depan jalan yang tak jauh dari rumah sakit, aku harus menumpang angkot berplat
hitam untuk sampai ke jalan utama, karena hanya ada di situ angkot yang
mengantarkanku ke arah lapangan Ahmad Yani.
“Apa ada angkot jam segini?”Tanyaku begitu
cemas-nya.
Aku harus berjalan beberapa meter dan menyeberangi lampu merah untuk dapat
menemukan angkot dengan garis sisi-nya berwarna hijau, itu alternatif jika aku
tidak menemukan mini bus yang bisa mengantarkan aku tepat di lokasi yang aku
tujuh. Nah, kalau aku menggunakan angkot hijau M-10 mesti berjalan lagi untuk
sampai di taman kota Tangerang.
Aku kehilangan waktu yang cukup banyak ketika harus menunggu angkot, cukup menyiksa
batin dan semakin mebuatku bertambah cemas. Jantung berdebar semakin tidak
menentu, di benakku ada hanya wajah Zahira yang pucat dan ia tak sadarkan diri.
“Abang, Zahra sudah nggak kuat lagi.” Kata- kata itu yang terus menghantui aku,
dan memicu emosi.
“Sabar yah Zahra sayang...sebentar lagi abang dapatin darah itu untuk kamu.” Sambil
memejamkan mata begitu rapat, hingga akhirnya air mata ini pun tumpah dan tidak
mampu aku bendung lagi, nyaris pikiranku kosong dan hilang konsentrasi.
Tak pantas jika aku marah dengan supir angkot yang terlalu lama mangkal, tetapi
lagi-lagi aku harus toleransi bahwa ia bekerja demi anak dan istrinya, belum
lagi uang yang harus ia setorkan kepada si pemilik angkot, seketika itu
meredam-lah emosiku. Setengah jam, barulah sang supir melajukan kendaraannya
karena dinilai sudah merasa cukup dengan standarisasi hitungan,rumusan
matematis, hanya dia saja yang tahu cara berhitungnya.
Di tengah jalan ada yang sedikit terlihat aneh, mengapa tiba-tiba angkot ini
berbelok dan tidak searah dengan jalan yang aku maksud. Lama kelamaan semakin
membuat supir merasa terpancing adrenalinnya, atau jangan- jangan ia tahu waktu
jam sewa, sampai-sampai begitu tergesa-gesanya mengejar setoran, dan alhasil
aku harus mencari angkot yang berlawan arah dari tempat aku diturunkan.
Meleset dari perhitunganku, uang di saku hanya untuk ongkos pulang-pergi dan tidak ada
lebih untuk kejadian force mejure seperti ini. Aaah, pasti ada jalan keluar dan
Allah masih berjaga dan terus menjaga hamba-hamba-nya. Keringatku berlahan
mengering, karena tersapuh dengan pendingin ruangan di bank darah Kotamadya
Tanggerang, dua petugas menyambutku dengan ramah.
“Selamat malam Mas, bisa kami bantu?”
Aku pun menyodorkan apa yang dibekalkan oleh pihak rumah sakit tempat yang kini
menjadi kubangan air mata, karena aku tahu siapa Mamah yang hatinya peka dan
terlalu mudah untuk menangis, apa lagi melihat putri kesayangannya tengah
kritis. Semakin tak berhenti ia menangis, semakin berusah, justru semakin
memecahkan tangisannya.
Kembali lagi kepada kedua petugas yang menyambut kedatanganku, mereka sepertinya paham
dengan selembar kertas yang diberikan pihak rumah sakit dan contoh darah
adik-ku, Zahira. Setelah masuk ke dalam laboratorium dari kejauhan terlihat ada
lemari es besar di dalam, dan aku melihat ada ratusan kantong darah tersusun
rapih, tak beberapa lama kedua petugas itu datang kembali dan memanggilku.
“Mas, ini darah-nya.” Menyodorkanku ice box yang terbuka sebagai bukti bahwa sel
darah putih yang aku pinta dipastikan sudah berada di dalamnya.
“Terimakasih mas.” Aku menjulurkan tangan sebagai sapa mengkahiri urusan yang aku anggap
sudah selesai ini.
“Dan ini service cost-nya.” Petugas memberikanku selembar kertas.
Aku terkejut seketika dan tidak memahami maksud dari nominal yang tertera dalam
kwitansi tersebut.
“Apa maksudnya Mas?!”
“Ini jumlah yang harus dibayarkan.”
“Ya Allah, darah kok dijual? Setahu saya gratis sebab saya pun pendonor darah,
kenapa dikenakan biaya juga?”
“Memang gratis Mas, ini hanya peganti dari biaya yang sudah bank darah keluarkan, untuk merekrut atau mencari
donor darah sukarela, biaya pengadaan kantong darah, biaya bahan pakai medis
atau non medis, biaya pemeriksaan golongan darah dan Haemoglobin/Hb, biaya
pengadaan reagen uji saring agar terbebas dari IMLTD yang meliputi HIV/AIDS,
HBsAg, HCV, serta RPR(sifilis), biaya pengadaan reagen untuk uji cocok serasi
(metode gel test), biaya penggantian
alat, biaya pemeliharaan alat, sarana dan prasarana, biaya penunjang meliputi air, listrik, telepon, dan pemusnahan limbah medis, demikan mas anggaran untuk
setiap kantungnya, kami gunakan untuk biaya tersebut...”
“Sama saja, dimana gratisnya??!” Benar-benar negara ini semakin tidak jelas dan
sampai hati Ibu pertiwi membebani biaya ini semua, dimana kemakmuran untuk
rakyat?! Dimana kesejahteraan yang dijanjikan dalam Undang-Undang, sedangkan untuk meminta darah saja harus
bayar sebegini mahalnya?! Kok tega?!
“Mas, kami ini keluarga kurang mampu dan disuruh untuk meminta darah di sini, tetapi
kenapa harus bayar? Sedangkan rumah sakit saja kami gratis?! Dan saya punya
kartu donor darah saya, ini sebagai bukti bahwa saya rela mendonorkan darah,
tetapi ketika saya butuh kenapa harus bayaaar?!” Disini aku naik pitam, dan
tidak mengerti dari ini semua.
“Asal kalian tahu, di sana...adik saya sedang dihadapkan dengan maut dan jauh-jauh
saya ke sini hanya untuk mengemis belas kasihan pihak rumah donor, tetapi sampai
__ADS_1
disini justru seperti ini kejadiannya. Andai ini terjadi pada keluarga kalian?
Apa yang akan kalian lakukan? Dan kartu donor darah yang saya miliki tidak laku rupanya?! Jawaaaab!!! “ Aku lihat dua
petugas itu nampak kikuk dan mengerti dengan keadaan yang aku sedang hadapi.
“Begini Mas, kami belum ada kerjasama dengan pihak rumah sakit tempat adik mas di
rawat. Tetapi inilah mekanismenya dan kami sendiri bukan orang yang menentukan
kebijakan, mengingat ini tengah malam dan tidak ada orang kantor yang masuk.”
Emosiku takut membawa dampak buruk untuk Zahra dan aku pun akhirnya meminta kebijakan,
handphone serta KTP yang aku miliki terpaksa untuk menjadi jaminan, ketika
sudah aku dapatkan biaya ini semua, akan kutebus apa yang menjadi jaminan.
Bagiku hanya darah ini yang aku butuhkan, selebihnya harta yang ada dalam
genggaman tangan, nampak sudah tidak berarti lagi. Dan kedua petugas itu,
merasa percaya hingga akhirnya memberikan beberapa kantong darah putuh untuk
Zahra.
Apalah arti materi yang aku miliki, semua tidak mampu membeli senyum, canda dan
keceriaan Zahra, dialah adik yang menjadi penerus cita-cita keluarga, masih
jelas terdengar ketika ia berucap, “Abang, kalo Zahra jadi dokter apa mampu
membiayai kuliahku sampai wisuda?” Pertanyaan yang ringan tetapi sulit untukku
jawab, karena aku sadar betul bahwa ongkos pendidikan di negeri ini terlalu
mahal, apa lagi jurusan yang ingin Zahra ambil.
Bukan jumlah sejuta atau dua juta, tetapi ratusan juta, sekalipun di universitas
negeri terkemuka di Republik ini. Satu-satunya jawab yang bisa menenangkan adikku satu itu, hanya ucapan masyi’ah11
yang bisa aku berikan untuknya, sebagai motovasi, untuk belajar lebih giat
lagi.
Tetapi gadis kecil itu kini terlihat lemah, tanpa reaksi apa pun dari tubuhnya, hanya
elektrokardiograf yang menjadi teman bicaraku.
Duhai pemilik tabir langit, penghapus segala kecemasan, dan sebaik- baiknya pemberi
keputusan, berikan jalan yang terbaik untuk adikku. Setelah darah yang aku bawa
masuk ke dalam tubuhnya, berlahan terlihat reaksi yang membaik. Kelopak matanya
berlahan terbuka, ia terlihat bingung dengan keadaan disekelilingnya. “Abang,
Zahra dimana?” Beberapa kata yang keluar dari lisannya, cukup membuat hati ini
seperti tersapuh oleh embun.
“Zahra ada di rumah sakit, dan sebenatar lagi pulang.” “Mamah kemana?”
“Besok pagi ia kembali, kasihan Mamah kurang istirahat. Jadi, biar malam ini abang
yang jaga. Sudah, Zahra istirahat lagi...”
Tak ada kata yang pantas terucap, tiada doa yang tidak mungkin terijabah, hanya
saja waktu dan sudut kebaikan menurut pandangan serta penilaian Allah. Yah,
itu-lah kejadian satu tahun lalu, menjelang hari Raya Idul Fitri, dua cobaan
terberat yang Allah berikan untukku.
Kini setahun silam, masa-masa itu sudah berganti dan ini tahun yang menurutku masih
diselimuti kebahagiaan, karena usia pernikaha ini baru beberapa hari. Kami
lewati bulan yang penuh berkah ini dengan kebahagiaan, tidak seperti tahun yang
lalu. Saat-saat yang mencekam dan menguras tenaga, bukan karena pekerjaan
fisik, tetapi batin ini bergelut dengan takdir. Tentang kematian yang kita
sendiri tak pernah tahu, dia-lah tamu misterius yang sengaja Allah ciptakan
sebagai tanda bahwa tak pernah ada satu pun yang abadi, dan ingat! Tidak ada
satu pun makhluk yang mampu mem-vonis seseorang dengan kematian, karena itu
bukan wilayah kita sebagai makhluk.
Selama bulan Ramdhan, hampir sembilan puluh persen aku yang menyiapkan makanan untuk
saur dan berbukanya Julie. Sekalipun di pagi buta hujan turun, ia akan marah
jika tidak disiapkan santapan sahur, tetapi lagi-lagi aku harus berpikir
positif, memang sudah menjadi kewajiban suami menyiapkan dan menyediakan
makanan serta mencuci pakaian anak dan istri.
****
Perkara yang menjadi kehendak Allah
Jika kita merujuk firman-Nya, bahwa kewajiban ayahlah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Aku pun
sadar bahwa tugasku sebagai seorang suami bukan hanya mencari nafkah,
pengembangan dari ayat itu sudah jelas bahwa sudah menjadi tugasku juga
menyiapkan makan dan mencuci pakaian.
Yah, hampir satu bulan aku jalani hal seperti ini, sepulang kerja aku sempatkan
mencuci pakaian, jika memang benar-benar capek biasanya aku meminta orang lain
untuk mencucinya, dan aku bayar harian, walau sesekali Amelpun mencuci, itu juga kalau memang mood-nya bagus. Atau ada hal yang membuatnya
senang.
Ada
kebiasaan Amel yang tidak bisa dirubah, walau mungkin
terbilang wajar tetapi lama-lama membuatku tidak tenang. Satu hari ia pernah
menghabiskan uang empat ratus ribu, hanya untuk sekedar hang out dengan
teman-temannya se masa SMA dan kuliah.
Karena memang sebelum tinggal di Palembang ia lahir dan besar di Jakarta, kota yang
tidak ada lagi batasan normatif seorang pria dan wanita, kota dimana gendre
bukan halangan untuk bergaul, tertawa dan bicara ngalor-ngidul tanpa ada ujung,
dan intinya have fun.
“Yaaank,
suami mu ini hanya karyawan biasa, bukan seorang direktur atau pemilik saham
perusahaan besar. Jadi, tolong kamu hargai hasil keringat-mu. Bukan aku tidak
suka dengan apa yang kamu lakukan, tetapi memang belum pantas kita seperti itu.
“
“Ah kamu, apa yang aku lakukan sama temen-temenku itu juga demi menjaga derajat
kamu di mata mereka. Toh, mereka tahu kamu penulis, masa istri seorang penulis
untuk meneraktir makan saja tidak mampu, kamu mau dihina seperti itu sama
temen-temenku?!!!” Itu alasan yang ia berikan setiap kali aku memintanya untuk
mengurangi aktifitas di luar rumah yang tidak ada gunanya.
“Jujur, aku jenuh dengan keadaan seperti ini yang hanya diem di rumah seharian penuh
dan menyambutmu dengan senyuman ketika kamu pulang kerja, walau harus mengorbankan batinku. Maaf...Aku
tidak bisa yank!”
Hingga akhirnya, demi mengurangi pertengkaran yang tidak berujung dan memperkeruh
keadaan rumah tangga, maka aku bebaskan ia untuk melakukan apa pun dengan
teman-teman-nya.
Dan berlahan aku kehilangan wibawa dalam rumah tangga. Lagi-lagi karena aku tidak
pandai bermain tangan dan berucap kasar.
Hingga satu waktu, ketika di penghujung Ramdhan, disaat suara gema takbir saling
bersautan, sampai malam pun larut dalam temaram rembulan yang tidak sempurna
bentuknya. Belum juga Amelpulang, dan aku menunggunya sampai
tertidur pulas, dalam kamar yang masih terlihat renggang.
“Ya Allah, sampai jam segini kamu belum pulang. Kamu dimana sayang?”
Selimut pun akhirnya menghanyutkanku dalam kehangatan dan menuntutku dalam peraduan,
seraya telinga ini mendengar sahutan takbir, dan lisanku menutup keletihan
menunggu yang tidak pasti hingga basah dengan gema takbir yang hanya bisa aku
kumandangan dalam kesepian,
” Allahu akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar...Laa
Illaha ilallah huallahu akbar...Allahu Akbar Walillah Ilham....”
__ADS_1
Dan aku pun tak tahu, kapan Amel pulang.....