
Pagi ini, aku mulai belajar terbangun tanpa ada Amel di samping, aku sudah merasakan hangatnya udara pagi meskipun aku harus menggigil menahan dinginnya malam, aku mulai terbiasa tertidur tanpa selimut, aku mulai nyaman membasuh air mata ini dengan wudhu dan mencium sejadah sebagai pengganti kebiasaanku mencium kening Amel sebelum dan sepulang kerja.
Walau hanya bertahan beberapa minggu saja, tetapi tetap masa-masa itu akan selalu aku
rindukan. “ Kamu tetap istriku yang hebat!”
Aku mulai membiasakan diri sebelum berangkat kerja untuk menunaikan sholat Dhuha dan hajat serta istikharah, semoga terjwab semua apa yang menjadi keresahan hati ini, tentang status-ku yang sudah tidak tahu lagi arah-nya,
“mau dibawa kemana?”
Sepertinya angin dan badai memporak porandakan rakit kecil kami, atau diam-diam kami diincar bajak laut? Dan ia tahu ada barang berharga dalam rakit itu, hati kami yang sudah terikat dengan ijab dan kabul, hingga akhirnya banyak sekali bajak laut yang ingin menghancurkan rakit yang sudah koyak layarnya dan tak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan. Atau salah satu dari kami akan dicuri oleh perompak laut?!
Selepas aku tunaikan sholat sunah, tiba-tiba saja map hijau panjang terjatuh dari atas meja diantara tumpukan buku, tepat di depan sejadah dan terbuka begitu saja. “ Ya, Allah....Ada apa ini?!” Dan aku anggap kejadian ini hanya ulah keteledoran aku yang tidak rapih menempatkan arsip penting pernikahan kami.
Tetapi tidak ada angin dan petir, kenapa map hijau ini bisa terjatuh? Ah, mungkin ini hanya firasat biasa saja, tidak se-lebay bertanda buruk seperti di FTV atau sinetron-sinetron. Murni ini hanya kecerobohan yang seharusnya arsip buku nikah itu aku simpan baik-baik, entah kenapa tiba-tiba ada di atas tumpukan meja yang aku sihir jadi rak buku. Atau apa ini benar satu bertanda buruk?
Baru saja aku sampai di depan pintu kantor, tidak ada angin dan hujan. Tiba-tiba saja Eva menelepon- ku, cukup membuat jantung berdetak kencang.
“Bang, ada cewek minta nomor handphone loh, boleh gue kasih ke dia?”
“Untuk?”
“Nanti loh denger sendiri penjelasan dari dia, dan gue nggak mau ikut campur. Takut terjadi fitnah!”
“Ada apa siih Va? Aneh deh!”
“Pertanyaan gue, boleh dan tidaknya nomor handphone loh gue kasih ke dia? Itu aja!”
“Heeeeem! Yaudah kasih aja.”
Baru beberapa menit, handphone masuk ke dalam saku celana, Tiba-tiba saja, getarnya cukup mengejutkanku. Dan terlihat nomor asing dan tidak terdapat di contact phone book di HP. Biasanya aku malas untuk ngeladenin nomor dan orang-orang yang tidak jelas, tetapi dikarenakan ia berkali- kali ia menelepon ku dengan menggunakan nomor kantor, aku pun akhirnya menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alikum. Ini Mas Haidar yah?”
“Iya betul. Ini siapa?”
“Saya Ayu Mas. Oh, iya boleh nggak saya main ke kantor mas atau kita ketemuan dimana gituh?”
“Untuk apa?” Tanyaku yang mulai menaruh perasaan curiga. Padahal baru saja kenal dan dengan santainya minta ketemuan.
“Benar Mas suaminya Amel?”
“Iya bener, ada apa yah?”Jawabku penasaran
“Aku Ayu Mas, tunangannya Uwis!”
Sepertinyanama itu pernah aku dengar, tetapi siapa yang mengucapkannya? Aku mencoba mengingat nama itu kembali dan tak sadar Ayu aku acuhkan.
“Uwiiis?” Batinku bertanya dan terus mengingat serta memburu kembali nama itu.
“Hellooooo Mass! Bisa kita ketemuan hari ini? Selepas makan siang?!”
“Oooh, bisaaa...bisaaa....!”Aku terkejut
“Aku ke kantor Mas? Atau kita ketemuan di luar?” “Ke kantor aja deh!”
__ADS_1
Dan aku jelaskan semua secara terperinci acuan serta alamat tempat-ku bekerja. Dan tepat pukul dua belas siang, Ayu meneleponku kembali, memberitahukan kepadaku tentang keberadaannya yang sudah sampai di depan kantor.
Duduk kami di pertigaan jalan yang nampak berjajar barang-barang antik, di perbatasan antara Jakarta Selatan dan Pusat. Di bawah rimbun pohon dan persis bersebelahan dengan warung di tepian jalan.
Ayu mulai membuka pembicaraan, dimulai dari pribadi-nya, hingga akhirnya melibatkan dua nama yang cukup membuat jantung ini mau copot. Dan tidak percaya dengan apa yang diceritakannya.
“Kamu jangan fitnah loh! Ini negara hukum Yu!!”
“Kalo Mas mau bukti, sabtu besok kita ketemuan lagi. Biar Mas lihat dengan mata kepala sendiri, ok?”
“Siap. Jam berapa?”
“Enaknya pagi!”Ayu begitu bersemangatnya.
“OK. Sabtu pagi yah?” Aku memastikan lagi, untuk Ayu dan aku bertemu dua hari
mendatang.
“Iya.”
Setelah kami menyepakati akan ada pertemuan ke dua, untuk memastikan apa yang ia ucapakan benar dan bukan fitnah semata. Jujur, menunggu waktu dua hari itu seperti memikul batu besar di pundak, dengan kaki terikat rantai besi.
Berat dan terlalu lama untuk menunggu-nya, setiap jam-nya seakan seperti jam pasir dengan lubang kecil yang memaksa pasir-pasir itu untuk berpindah dari tempat tertinggi ke tempat paling bawah, seperti air yang akan mengalir dari atas ke tempat titik terendah.
Menunggu dua hari itu, tidak semudah menghitung dengan jari atau cukup dengan memejamkan mata maka hari yang dinanti pun sudah berganti.
Mata menjadi gelap untuk melihat kebenaran, telinga-ku lebih merasa nyaman mendengar bualan dan seribu alasan, hati ini begitu damai untuk dipermainkan, aku menikmati nyanyian-nyanyian serta tarian-tarian luka yang aku sendiri tidak sanggup untuk menghentikannya. Inilah gendre alunan cinta buta, dimana ia berhasil membuatku mabuk kepayang, hingga akhirnya menjadi candu yang sulit untuk dihilangkan.
Dan justru aku rindu dengan itu semua, aku begitu khusyu, walau cintaku kini tidak memiliki kiblat, tak tahu kemana hentak aku sandarkan keletihan ini.
Sanggupkah
sanggupkah aku menertawakan kebodohanku?! Semua tentang waktu yang akan
menjawab rahasia semua ini....
Inilah hari dimana ketika macan ditanggalkan gigi-nya satu persatu, dan ini-lah hari dimana mentari begitu terik-nya, seakan redup dengan gemawan yang gelap.
Mungkin inikah yang disebut hujan tanpa angin dan gemuruh tanpa kilat ? Seperti-nya aku melihat para malaikat berjalan beriringan membawa payung hitam, ada apa ini??!
Dan kami pun menyelinap di antara jeruji pintu gerbang yang begitu tertutup rapat, rupanya Ayu paham dengan kondisi rumah bertinggat dan begitu luwasnya tetapi tertulis besar di atas triplek putih.
“Terima Kost-an” tempat apa ini?! Dan untuk apa Ayu membawaku kesini?! Mengapa hatiku ingin mendikte satu persatu sebuah do’a yang sering aku dengar se-usai sholat dan dibacakan oleh imam ratib.” Gumamku dalam hati
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan, warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimeen.
“Ya Allah, Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya.”
Semakin membuatku tak mengerti, ada apa ini?! Mengapa darah ini mengalir begitu deras dan jantung berdetak begitu hebatnya. Duhai pemilik cerita yang tak pernah habis lembarannya, entah judul apa lagi yang ingin Engkau torehkan untuk-ku? Apa ini sebuah jawaban dari misteri waktu, yang angin pun tak pernah membawakan kabar berita?
Pelan-pelan kami menitih anak tangga, satu persatu. Mirip balerina yang begitu lihai menjingjit-kan ujung jari kaki, tak bersuara. Setiap langkah menjadi teror batin tersendiri untuk-ku, terlihat Ayu mulai mengendap dan mengatur langkahnya pelan-pelan. Satu...dua...tiga pintu aku lalui, sampai di sebuah kamar paling ujung, kami nyaris tak bersuara.
Apa maksud Ayu membawaku ke sini?? Mengapa harus seperti pencuri yang mengincar rumah kosong, mengintai, sembunyi dan mengendap mirip tentara yang sedang menyerbu barak musuh.
“Masyaaalllaaaaaaaah!!!” Aku terkejut ketika melihat ada sepatu yang aku kenal di depan pintu dan keadaan kamar kost-an yang gelap.
__ADS_1
“Ssssssssttt!! Kenapa Mas?” Ayu mencoba menahan suaraku.
“Sepatu itu mirip punya istriku Amel.”
“Aaah itu perasaan Mas saja.”
“Terus maksud kamu ngajak aku kesini apa?” Tanyaku seperti berbisik. “Nanti saja lihat, kita ini lagi membahas tentang FITNAH!”
Sepintas mulai tergambar maksud dari Ayu mengajakku ke sini, dan tentang sepatu yang baru saja aku lihat. Kenapa ada Amel di sini?!!
“Silahkan lihat ke atas Ventilasi.” Ayu menyuruhku untuk mengintip, ada apa didalam kamar tersebut?!
Aku mulai menitih dan merayap di dinding, mirip seorang climber amatir. Ujung jari ku terasa sakit, karena harus menahan tebal-nya tembok tanpa ada titian yang bisa aku singgahi. Aku pun dengan hati-hati mulai merambah celah untuk bisa melihat apa yang Ayu mau tunjukan kepadaku?
Pandanganku terbatas dengan ruangan yang gelap dan tetapi aku bisa melihat ada dua orang di dalam kamar tersebut, jelas sudah bisa aku bedakan dua orang itu seperti sepasang kekasih. Tetapi mereka sedang apa?! Seperti ada gerakan erotis, menari walau tak beraturan. Telinga ini masih peka mendengar suara desis, dan samar aku mendengar suara wanita memanggil,
“ Ayoo Puupuuu...Sedikit lagi...!”
“Oooh my god!! Allah kariiim!!” Aku langsung turun dan tak mau lagi melihat pemandangan haram tersebut.
“Ayyyyyyuuu!!! Apa maksud loh?! Gue loh suruh ngeliat adegan seperti itu? Ini haram Yuuuk!!” Aku teriak dan membuat gaduh di depan kamar dengan sticker ‘siluet kelinci jantan’ yang menempel di daun pintu.
Memancing dua orang yang di dalam kamar membuka pintu dan mencari tahu kegaduhan apa yang terjadi. Terlihat wajah lelaki oriental keluar dari kamar, hanya mengenakan celana boxer dengan telanjang dada. Tak lama, bayang bayang wanita tinggi dengan rambut terurai sepundaknya mendekati kami.
“Ameeeeel!!!” Aku terkejut melihat Amel dengan pakaian yang tidak lazim.
“Masyallah, apa yang tadi aku lihat itu rupanya istriku. Lalu siapa lelaki ini?!” Batinku terusik.
“Illahiiiii...Maulanaaaa!!! Ya Allaaaah apa maksud dari ini semua?!! Apa yang kau inginkan dari-ku, hamba
yang tergolek dan tak berdaya?!!!” Air mata ini bercucuran, bukan karena dengan pemandangan yang aku lihat beberapa menit lalu. Aku menangis bukan hanya karena perlakuan yang dilakukan Amel. Tetapi aku semakin tidak mengerti apa yang Allah ingin tunjukan untuk-ku?
Amel terperangah dengan kedatanganku dan ia tidak menyangka bahwa aku bisa menemukan dirinya yang selama ini ia meminta izin untuk menemani mengobati putri dari sahabatnya.
“Sayaang, inikah yang kamu maksud meminta izin kepadaku untuk mengobati putri sahabat-Mu? Seperti inikah cara mu menjaga kepercayaan dan amanah yang aku berikan?!”
Aku lihat raut wajah Amel yang merasa bersalah, matanya berkaca-kaca, entah air mata srigala atau macan betina? Amel merengek, memintaku untuk tidak meninggalkannya dan memaafkan kesalahannya.
Aku pun berlalu dengan menahan sisa-sisa air mata, kini semakin ikhlas aku serahkan diri ini pada takdir yang entah kemana akan membawaku berlabuh, pulau harapan atau aku tedampar di pulau hantu?!
“Yaaandaaaaa...maafiin akuuu!!!” Amelberlari mengejar dan mencoba menghentikan langkah kaki-ku, ia meratap sejadi-jadinya, ia menangis sekencang- kencangnya.
Jujur aku tidak kuasa melihatnya menangis, merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan sesuatu. Dengan hati yang sebegini hancurnya, seperti kepingan kaca yang hancur berantakan dan jangan berharap untuk bisa disatukan kembali. Hanya pabrik-nya saja yang bisa menyatuhkan serpihan kaca yang sudah pecah berserakan.
Aku angkat kedua lengan Amel, untuk tidak bertindak seperti anak kecil yang terus menahan langkah kaki ku, dengan isakan tangisnya.
“Jika memang itu pilihan dan terbaik untuk mu bunda, aku ikhlas melepas kamu. Aku mencintai-mu karena Allah dan aku akan kembalikan kebencianku hanya kepada Allah, aku ikhlas...Pergilah sayang, hampiri dia yang membuat-mu nyaman dan tenang. Aku maafkan kesalahan-mu dan mohon maaf kan kesalahanku yang tidak mampu menjadi imam yang baik untuk-mu.” Aku kecup kening Ameldan pipinya yang sudah basah dengan air mata.
“Haiiidaaaaaaar!!”
Aku pergi meninggalkan Amel, entah kata apa yang pantas untuk aku ucapkan untuk-nya, hati ini hanya mampu ucapkan,” Ya Allah, maafkan aku yang tidak mampu menjaga amanah-Mu dan aku pun tak sanggup dengan beban hidup yang aku pikul.
“Rabbana wala tuhammilna ma la thaqatala bih...
Jangan kau berikan aku beban yang tidak sanggup aku pikul..”
__ADS_1
Resmi aku akan menikmati lajangku kembali, walau akan aku hadapi cobaan, godaan dan dosa dalam kesendiraan yang begitu berat. Hati ini akan bercampur aduk, manis, asem dan asin-nya hidup menyatu dalam satu kuali bernama perasaan.
Aku coba jalani naskah hidup ini, karena aku yakin Allah memiliki organ dari tubuh-Nya yang dia seperti ada tetapi terlihat tak ada ....