TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Diantara Samudra Cinta Dan Keikhlas


__ADS_3

 


 


Kini aku akui, bahwa sudah aku memimiliki alasan sendiri mengapa aku memilih dan memastikan Vega itu yang kelak akan duduk di kursi nomor satu, di ruang VVIP ketika gala primer nanti. Aku akan lamar ia di depan ratusan tamu undangan, pihak produser pun tidak mempermasalahkannya, bahkan mereka sendiri yang ingin mempersiapkan segala sesuatunya, biar terlihat exclusive dan menarik. Renacanaku ini sudah aku sampaikan ke Mas Febry dan ia teruskan ke tim lainnya, hasilnya itu tadi akan ada kejutan besar.


Aku sendiri semakin eksis meng-upload semua kegiatan produksi ke akun facebook, twitter, path dan yang lainnya. Beragam komentar serta ucapan aku terima setiap harinya, terselip satu komentar yang menurutku amat penting ketika ia mendo’akan atas kesuksesan yang bagiku sendiri bukan sampai di sini saja.


Phey Sumi Hariyono, memberikan ucapan selamat dan masih terus mendo’akan-ku. Ia pun tahu rencanaku untuk pergi ke Jerman dan pelesiran ke Milan dari statusku di facebook, tante juga sedikit menyinggung masalah Thea dan keberadaannya sekarang serta aktifitas yang ia lakukan.


Mantanku satu itu, karir kerjanya cukup bagus sebagai pemandu wisata atau guide jika hari libur saja, kesehri- hariannya bekerja di sebagai staf kedutaan di Milan, bukan hanya itu saja ia juga menjadi koreografer di salah satu sanggar tari dan budaya di kota Milan, sering sesekali waktu pelesiran ke Jerman untuk mengisi acara atau sebagai tamu undangan oleh kedutaan besar Indonesia di sana.


Aku berharap bertemu dengannya, biar tidak sulit untuk mengurusi perizinan serta atisipasi jika ada permasalahan baik besar atau pun kecil nantinya. Tante pun memberikan nomor ponsel putri pertamanya itu. Terlalu sulit untukku untuk memilikinya, mengingat kita terpisah atas dasar keyakinan, terlalu bermimpi muluk jika mengharapkannya kembali.


Dan lagi pula, keyakinan hati ini sudah memilih Vega untuk menjadi pendamping hidupku, karena memang sudah tidak ada alasan lagi serta kesempurnaan fisik sudah di milikinya, berlahan ia pun mempelajari agama dengan tekun, sering ia tidak mengangkat telepon yang membuatku berprasangka buruk atau neting, negative thingking. Setelah aku tanya, ia sedang sholat dan tadarus atau sholat-sholat sunah-nya menjadi rutinitas yang tidak bisa ia tinggalkan.


Maka,tidak ada alasan lagi untukku mencari pengganti dirinya, walau tidak mudah meluluhkan hati gadis yang juga memiliki kebiasaan baru, puasa sunah Senin-Kamis. Lelaki mana yang tidak ingin mencoba merebut hati mantan pramugari ini. Sudah cantik, pintar dan berlahan sedang memperbaiki akhlak-nya.


Dan aku mengenal Vega, bukan ketika karirku mendekati puncaknya tetapi ada-nya film ini berkat do’a khusus yang ia pinta disetiap sepertiga malam. Ia juga yang selalu kepo mengenai perkembangan film ini, dan dia tidak berharap apa-apa atau meminta balas budi. Termasuk rencanaku ingin memingnya saja selalu yang muncul kata-kata,”nggak tauu!!!” Terkadang aku sendiri sedikit jengah dengan ucapan dan kata-kata itu.


Mau bagaimana lagi?! Karena aku yakin dengan apa yang aku pilih, jika memang ia aku anggap cinta sejati, maka aku harus rela berjuang dan mengejar-nya, sampai aku sendiri tak berdaya dengan ketentuan serta garis Takdir yang Allah sendiri yang menjadi penentu dari ihkitarku, tugasku hanyalah berusaha meyakinkan, mengimbangi, menjadi kawan seiring sejalan dengannya bukan untuk saling mendahului. Buat dia nyaman sampai ia merasakan sendiri hadirnya aku menjadi candu untuknya.


Di saat itu-lah, ia akan berucap, “ Aku ikhlas menjadi pendamping hidup-mu, bukan hanya saat ini saja, tetapi akan setia menunggu di akhirat kelak. Sekalipun raga ini berpisah dari ruh-nya, sebab cinta sejati akan terbawa sampai mati.”


Sepulangnya aku dari Eropa, akan ku bawakan Vega oleh-oleh kerinduan dan akan aku jadikan hari- hari bersamanya dengan indah, aku sudah punya rencana mengajak ia jalan bersama anak-anak yatim yang memang sudah menjadi nazarku, ketika film ini rilis maka aku harus membawa mereka ke tempat wisata di Jakarta, untuk bermain sepuasnya.


Setelah itu, aku ajak ia untuk berkunjung ke rumah jompo, memberikan sedikit infak dan shadaqah yang harus aku tunaikan sebagai ucapan rasa syukurku hingga aku libatkan dalam proses garapan akhir dari film ini, yaitu persiapan malam gala primer.


Sebelum aku berangkat ke Jerman, Milan dan terakhir Masjidil Haram untuk perjalanan satu bulan penuh di ketiga negara tersebut, dua negara memang sudah menjadi prioritas utama, sedangkan untuk Milan sendiri hanya pelesiranku saja, yang dipotong dari uang royalty nantinya. Karena Itali bukan bagian dari kerja, dan aku harus pahami itu.


Walau tanpa dipinta pun orang-orang kantor akan menfasilitasinya, tetapi aku coba untuk tahu diri dan tidak mencampur adukan masalah pribadi dengan urusan film, aku mohon do’a restu dari mamah, adik-adikku yang selalu basah bibirnya mendo’akanku, termasuk Vega Putri Nafisah. Merekalah orang-orang yang harus merasakan apa yang menjadi peluh dan kebahagianku.


Karena aku percaya, bahwa orang yang memiliki nama besar itu terlahir dari keluarga yang selalu menopang-nya dengan mimpi, pengharapan dan do’a yang tidak pernah henti, sekalipun air mata, luka dan duka justru itu menjadi protein serta cambuk kecil untuk terus...terus... dan terus berusaha, sekalipun kalah dalam ikhitar, jika niat karena Allah bagiku itu sudah menjadi point tersendiri di mata sang pemintal Takdir.


Setelah paspor sudah di tangan, hanya ada sepuluh orang yang berangkat ke Jerman dan Masjidil Haram, aku, tiga orang produser, empat orang crew dan dua orang artis nasional yang memerankan Dita serta Syahrel. Segala perlengkapan produksi hanya sebagian saja yang di bawa, mengingat sebagai langkah antisipasi dari pihak kepolisian sana yang memang tidak toleransi nantinya, atau bisa jadi mereka sudah mempersiapkan alat di sana yang sengaja di rental. Dan itu bukan menjadi ranahku, tugas utamaku hanya mengawal produksi, mendiskusikannya dan memberikan masukan agar film tidak jauh dari novelnya.


Ini perjalanan pertamaku pergi ke luar negeri, tak tanggung-tanggung 3 negara dan dua benua. Membutuhkan tenaga lebih dan menjaga stamina, kesehatan serta perlengkapan pribadi yang harus disiapkan. Kami harus transit ke Singapura dulu, untuk pindah pesawat yang mengantarkan kami ke benua Eropa. Perjalanan Jakarta –Singapura tidak memakan waktu yang lama. hanya sekitar 1,5 jam.


Jedah waktu antara Jakarta dan singapura adalah 1 jam waktu singapura lebih cepat. 1,5 jam pun berlalu. Roda pesawat yang kami tumpangi telah menyentuh salah satu dari lima bandar udara terbaik di dunia, yakni Changi Airport Singapura. Dan inilah, negara kecil tempat para mafioso perbank-an melarikan diri, sepertinya sumber devisa negara ini di dapat dari mereka.


Spanduk selamat datang dengan lebih kurang tuju bahasa menyambut kedatangan kami, benar-benar menakjubkan dan tertata rapih, dekorasi interior yang begitu menakjubkan, banyak juga terlihat pusat hiburan yang disediakan di bandara ini.


Sistem skytrain, tak perlu berlari dan bercucuran keringat atau berpeluh-peluh ria, mirip seperti di film Holywood


yang selalu memperlihatkan kecanggihan teknologi yang mereka miliki, kurang lebihnya seperti itu gambaran Changi Airport Singapura, dan kami bergegas menuju terminal dua, tak ada waktu lagi untuk sekedar istirahat, walau sempat foto itu pun mencuri lengahnya para produser, kalau sampai mereka tahu kelihatan sekali ndeso-nya aku.


 


Terminal dua itu bersebelahan dengan terminal satu, tak jauh terlihat host bioskop dan kios burger serta sejumlah toko begitu teraturnya. Mata ini dimanjakan oleh taman dengan atap terbuka dan menampilkan bagian teknologi layar plasma terbesar di dunia. Setelah petugas mengecek kembali adminitrasi, kami pun menunggu beberapa menit untuk menanti pesawat Lufthstansa, maskapai penerbangan Jerman, semua terlihat serba on time tidak ada istilah dalayed terasa banget waktu di sini begitu berharga.


Tak lama, pesawat yang akan kami tumpangi sudah berada di landasan bandara. Aku kira pesawat yang akan membawa kami menembus awan dan membelah langit di benua Eropa merupakan pesawat elit, nyatanya aku sedikit kecewa perjalanan sejauh dan selama ini tidak ada fasilitas entertaiment yang menunjang, sheat-nya pun


begitu sempit ali ini naek Lufthstansa, maskapai penerbangan Jerman. Tak seperti yang di bayangkan ternyata tempat duduknya agak kecilan, kami hanya disediakan earphone, jadi sepanjang perjalanan kami harus ikhlas yang hanya diberikan hiburan music saja dan tidak ada televisi.


Benar-benar perjalanan yang menjenuhkan rupanya, minimal aku bisa menghilangkan jenuh dengan membaca majalah, nyatanya tidak aku temukan satu pun bahan bacaan.


Selepas Subuh, mega di ufuk Timur menyiram langit-langit Jerman hingga terlihat memerah seperti tembaga panas, hamparan pegunungan yang luas yang diselimuti warna putih seperti kapas yang keluar dari mulut buah kapuk, bersih karena tertutup salju. Sebagian nampak mengkilap berkilau karena terbias sinar mentari pagi. Sejauh mata ini memandang ke bawah hanya warna putih menyelimuti pegunungan terselip warna coklat keperakan warna sebagian badan gunung mirip batu virus yang belahan-nya mengelupas seperti cairan larva panas.


Kami sampai di tanah kelahiran Deso Dogg, seorang repper yang kini memilih menjadi mujahid dan meninggalkan


kepopularitas-annya.


Kastil Heidelberberg, Baden Wuerttemberg Jerman dan Berliner Ensemble, sebuah gedung pertunjukan yang cukup terkenal. Di Jerman ada 120 teater publik, 700 lebih gedung pertunjukan ditambah dengan 180-an gedung pertunjukan milik swasta. Serta beberapa ansable terkenal, seperti Thalia-Theater, Kammerspiele di Munchen yang menjadi tempat prioritas kami untuk shooting di sana, serta tiga lokasi diantaranya Bandar Udara Internasional Frankfurt am Main, rumah sakit lokal, kantor redaksi Ill Magazine yang menjadi setting venue untuk sepekan ke depan.


Di bandara Frankfurt dijemput oleh Joe Nathan, yang masih keponakan mas Febry yang sedang mengenyam pendidikan sebagai calon insinyur engineering, kami langsung menuju KBRI di Berlin untuk melakukan kordinasi mengenai perizinan serta kendala yang nantinya kami akan hadapi.


Sesampainya


di sana, tempat yang aku harus datangi adalah toilet, karena merasa sudah tidak


sanggup lagi menahan rasa sakit ini. Aku menelusuri ruang di kantor KBRI, ada


satu ruangan dan sepintas aku melihat ada seorang wanita yang begitu asyik


berbincang-bincang.


Dari hair style nya seperti tak asing dan


aku ingat wajahnya. Tetapi apa daya aku harus selesaikan urusanku di toilet,


baru-lah akan aku cari tahu siapa dia, dari tinggi dan bentuk tubuhnya aku


berani memastikan kalau itu gadis yang aku kenal.


“Aaaah,


mungkin aku salah lihat! Atau memang ada kemiripan saja.” Mencoba menepis

__ADS_1


dugaanku.


Aku


lupakan wajah yang mengusik pikiran, dan aku anggap itu mustahil atau cerita


ini hanya ada di dalam FTV dan Sinetron lokal di Indonesia saja. Setelah aku


dapat melewati masa kritis di perut, dan kembali bergabung dengan yang lainnya.


Ruangan tempat gadis tadi, sudah terlihat kosong, hanya demi menghilangkan rasa


penasaran, aku coba menelusuri setiap ruangan dan pintu keluar gedung, tidak


juga aku temukan.


Merasa pencarianku sia-sia, aku memutuskan


untuk kembali meeting antara pihak production


house dengan perwakilan KBRI. Di ruangan hanya


aku dan Mas Edo saja yang tidak ada, kemana dia?


“Ah,


mungkin ada urusan lain yang ia harus kerjakan.“ Dugaku dalam hati.


Tak


beberapa lama aku bergabung, rupanya hanya beberapa menit saja setalah itu tak


ada pembahasan lagi, dan memang ini bukan menjadi ranah tugasku. Jadi, tema aku


di sini hanya pelesiran dan sedikit mengikuti jalan produksinya saja.


Ini hadiah yang diberikan pihak produser


untukku yang hampir dua bulan menggarap skenario. Mungkin di hari kedua,


shooting akan dilaksanakan, satu hari ini menjadi hari meeting panjang yang


sedikit menjenuhkan. Karena memang harus direncankan dengan matang, sebelum


beranjak ke Masjidil Haram.


Sama seperti ketika kami menyelesaikan shooting di Indonesia, aku menjadi asisten sutradara, walau terbilang masih belajar, insyallah aku sudah mampu mengarahkan bagaimana cara mengambil gambar serta penjiwaan disetiap karakter yang harus menempel di setiap pemain. Aku belajar tata pencahayaan, sampai ke pada setting lokasi. Agar para penonton nantinya benar-benar meninggalkan bekas yang mendalam, ketika selesai menyaksikan film ini ada kesan yang mereka bawa pulang, dan dengan rela menceritakan film ini, dari mulut ke mulut. Itu yang menjadi target utamaku dan tim produksi.


Selama di Jerman kami tinggal di wilayah yang kerap disebut Ringbahn. Terletak di luar pusat kota atau sebut saja ia semi kota. Jumlah penduduk yang tidak padat, dan harga sewa rumah di sini sedikit murah menjadikan kawasan ini sebagai pilihan tempat tinggal bagi mahasiswa baru,walau masih di kota Berlin, tetapi memang seperti ini tata kota di negara yang pernah mengalami sejarah hitam kaum Yahudi ini. Ada juga kawasan elit di perbatasan Berlin, biasanya mereka yang memang mencari ketenangan dan jauh dari kebisingan kota, biaya sewa serta kepemilikan rumah pun terbilang mahal.


Tak ada istimewanya di negara Jerman, masih saja kita melihat ada pengemis, pengamen dan coretan- coretan di tembok Setiap yang datar pasti memiliki lukisan atau sekedar nama yang sulit terbaca karena huruf yang bertumpuk, yang penting tidak polos Sementara, ada pengemis berpura-pura penjual koran, ada yang hanya duduk diam di pintu stasiun, di depannya terdapat tumpukan koran dan brosur, seperti hanya dijadikan tameng kalau mereka sepintas seperti pekerja, aku dengan penjelasan dari Nathan, bahwa kehadiran mereka seperti dianggap hanya beban negara saja, mereka pun dapat tunjangan dari negara yang diambil dari pajak para pengusaha dan pekerja, sedangakan para pengemis itu lah yang enak menikmati sedikit hasil keringat mereka yang memang benar-benar bekerja dengan gigih.


Sama seperti di Indonesia, pengamen pun memiliki style dan cara sendiri untuk mencari uang sampingan, biasanya mereka berkeliling dalam kelompok kecil, antara 3 – 6 orang, membawa alat musik seperti gitar, biola, saxophone, harmonika dan sound system. Ada yang kecurangan yang bisa kita lihat di sana, para pengamen yang berkelompok ini biasanya hanya berpura-pura bermain musik, padahal itu lipsing dengan sound system disambungkan dengan iPod. Lead Guitar sendiri kebanyakan bersumber dari iPod tersebut, tetapi mereka termasuk kreatif dengan kombinasi musik yang mereka aransemen sendiri, sehingga begitu terdengar seperti musik kreatif.


Di lokasi pertama di sebuah Kastil Heidelberberg, Baden Wuerttemberg, dimana ada adegan bahwa Dita memiliki kekasih di Jerman, bernaman Jhon. Reruntuhan bangunan sengaja tidak disusun dan ditata ulang, biar terlihat alami. Sebuah kota tua kecil di Baden-Württemberg, kota otonom di tepi sungai Neckar.


Di kedua sisi sepanjang jalan tersebut berjajar toko-toko, mulai dari toko cokelat, perabotan, baju dan sepatu, kosmetik, cafe, perhiasan, meubel , dan sebagainya. Jika menelurusi jalan panjang ini, kita akan melihat sebuah kastil di atas gunung yang berwarna cokelat kemerahan, itulah Heidelberg Schloss. Dari kastil ini kita bisa melihat indahnya kota Heidelberg kemudian bisa menikmati Sungai Neckar dan Alter Brüke (old bridge) dari kejauhan.


Ada sedikit hambatan dalam setting property di sebuah gedung pertunjukan dimana, kami membutuhkan banyak sekali penonton, dan jika harus membayar sebanyak 300 pengunjung rasanya film ini biayanya hanya habis untuk membayar para pemeran figuran, yang rata-rata mau dibayar 20- 25 Euro. Atau jika dikalkulasikan dengan mata uang rupiah, sekitar 250 ribu rupiah, coba saja jika dikalikan maka biaya yang akan dikeluarkan sebesar Rp. 76.308.000,- disinilah terjadi perdebatan panjang antara sutradara dengan bagian telent serta pihak adminitrasi PH.


Dari pihak sutradara, ia tidak ingin film ini tidak terkesan dibuat-buat atau manipulasi gambar, sedangkan pihak telent pun tidak mau mengeluarkan budget sebesar itu. Beruntunglah, ada Nathan yang meminta bantuan teman-teman di KBRI, Pelajar Indonesia di Jerman serta sahabat-sahabatnya di kampus yang mereka memang orang Jerman asli.


Berlahan hambatan-hambatan itu mulai terkikis, dari izin keamanan yang berbelit-belit, alat-alat yang kami bawa harus disediakan pihak Jerman seperti kamera, dan kebutuhan lain selama shooting berjalan. Hampir-hampir kami dideportasi, ketika artis yang berperan sebagai Jhon visa miliknya sudah habis masa berlakunya, mau tidak mau kami harus mengurus kembali visa miliknya, dan ini menjadi beban produksi.


Syukurlah, shooting sepekan di Jerman tidak membawa dampak yang buruk, dan semua masalah bisa diatasi dengan kepala dingin, tidak ada selisih yang begitu berat sehingga menghambat proses shooting. Alhamdulillah, schedule yang ditargetkan dan draft negatif tidak terjadi, hingga hanya membutuhkan waktu 5 hari kerja berjalan


sesuai rencana.


Hari Sabtu dan Minggu masa-masa istirahat semua crew kecuali sutrada dan editor yang memang harus mulai memilah gambar-gambar yang layak serta berkualitas. Memotong satu persatu adegan setiap adegan yang salah,


mencari titik kekurangan, hingga akhirnya tidak harus kembali lagi ke Jerman hanya untuk mengambil stock shoot yang masih kurang.


Sabtu-Minggu aku lanjutkan perjalananku ke Milan, hanya untuk menikmati cuaca Eropa serta fashion yang menjadi icon negara Italy. Serta bangunan-bangunan bersejarah, pusat belanja dan hiburan aku akan nikmati selagi memiliki kesempatan. Sekaligus mencari cendra mata untuk di bawa pulang ke tanah air. Dari Jerman hanya membutuhkan waktu sekitar enam jam, pesawat landing dengan di Malpensa Airport, Italy. Harus menempuh 41 Km dari bandara, perjalanan ini sudah jauh-jauh hari dipersiapkan oleh mbak Rini salah seorang staf admin di Belunni. Jadi, aku tidak harus ribet mencari transportasi, hotel dan makan.


Aku benar-benar dimanjakan sekali, yang berangkat pelesiran ke Milan, aku, Mas Febry dan Kang Belman saatnya menikmati hasil jerih-payah kita selama ini yang sedikit rumit dengan masalah-masalah adminitrasi, perenencanaan, meeting sana dan sini. Kini saatnya kita menikmati hasilnya dari kerja keras selama kurang lebih tiga bulan.


Aku berkunjung ke Arch of Constaintine, sebuah bangunan yang penuh dengan ukiran sebagai saksi sejarah pertempuran hebat di Jembatan Milvina, ia semacam gerbang sebuah istana penghubung dan ini dijadikan prasasti Konstantinus. Aku pun menikmati Cucina italiana, di kawasan Mediterania. Bagiku makan-makan ini tidak asing sama seperti apa yang pernah aku rasakan di tanah air, kuliner yang belum aku nikmati hanya antipasto, yakni pembuka makan siang, aku rasakan ada rasa berupa ikan tuna, ada sedikit rasa asin pada jamur, pimiento, zaitun hitam, prosciutto, lobak dan ikan teri. Begitu juga Pizza yang sudah biasa aku makan dan tidak ada masalah untuk


menikmati kuliner di Itali.


Kami pun diberi kesempatan untuk bisa melakukan sholat Ashar di Grande Moschea. Sebuah masjid yang menurutku jantung toleransi beragama di kota ini, bayangkan lokasinya saja saling berdekatan dengan kota Vatikan dan Sinagog Yahudi. Masjid ini berdir atas jasa dari almarhum Raja Faisal bin Abdul Aziz, pemimpin Saudi Arabia. Ia menganggap Roma sudah harus memiliki masjid dikarenakan pertumbuhan umat muslim di sana terbilang cukup mengalami peningkatan yang signifikan.


Di hari kedua, aku berkunjung ke hanya di dua tempat saja, gereja Katredral Milan dan stadiun dimana para pemain club besar seperti AC Milan berlatih, di San Siro. Giuseppe Meazza nama stadiun tersebut, sementara penggemar AC Milan lebih suka menyebut stadion ini sebagai stadion San Siro. Di tempat ini, aku diberikan kesempatan untuk melihat ruang ganti para pemain Intermilan yang begitu elegan- nya tetapi nampak sederhana, berbentuk melingkar dengan tempat duduk dari beton tanpa sandaran. Di dinding terdapat gantungan pakaian bagi pemain dan di hanya ada satu televisi plasma yang memang sengaja diperuntukan untuk ditonton bersama. Tampak piagam schudetto dipampang diatas dinding. Aku upload semua foto-foto aku di facebook, path dan twitter.


Inilah, pembuktian dari sebuah mimpi yang sebagian orang menganggap aku hanyalah seorang pemimpi, yang tidak punya arah dalam hidup, pengangguran kelas berat yang akhirnya membawa aku ke benua Eropa, jauh dari kata mustahil di dunia ini, sebuah kota yang hanya orang-orang tajir saja bisa berkunjung ke negeri impian seperti Jerman, Italia dan Mekkah. Ketika samudra cinta dan keikhlasan aku temukan di sini, hasil dari pengkristalan keringat, dari do’a yang membumbung tinggi, dari lisan yang selalu ikhlas mendo’akan setiap langkah hidupku. Jika dirupiahkan, berapa biaya yang harus aku keluarkan? Yang notabene nya aku hanya seorang pengangguran, sebab masyarakat masih menganggup bahkan mantan istriku bahwa dunia kerja itu, rutinitas dari pagi sampai petang, berkemeja, rambut tertata rapih, sepatu yang mengkilap, yang gaji bulanannya habis untuk beban hidup setiap hari.


Sedangkan orang seperti aku, hidupnya saja sudah tak teratur, dan hampir kehilangan gaya hidup manusia normal, pagi aku jadikan malam begitu juga sebaliknya. Hampir tidak tertata rapih, gaya pun urakan, pendapatannya hanya dari buku-buku yang sudah diterbitkan, yang aku ambil per tiga bulan sekali. Siapa juga yang betah untuk duduk berdampingan denganku, sampai Amelsendiri pergi tanpa maaf yang terucap, redup semua sudah bintang dalam hidupku, hilang semua pengharapan ini, mimpi dari seorang lelaki normal yang rindu suara bayi menangis, dan mulai cemburu ketika mendengar suara manja memanggil,”ayah...”

__ADS_1


Mungkin terdengar biasa, tetapi kata-kata itu seakan menghukumku dan berbicara tentang kegagalan seorang penulis yang nama-nya sebentar lagi sejajar dengan penulis-penulis yang sudah terlebih dahulu novelnya divisualiasasikan ke bahasa gambar. Bukan membuatku menjadi bangga dengan apa yang aku dapatkan sekarang, justru ini semua menjadi beban amanah yang semakin sulit untuk aku hadapi, bukan sebatas naskah novelku yang dilayarlebarkan, dan aku memperoleh persentase dari penjualan film tersebut, justru mempertahankan yang sudah aku dapatkan bahkan harus lebih baik dari apa yang sudah ada dan sudah aku hasilkan.


 


Menjaga hati untuk tidak terjangkit star syndrome, dan menjadi pribadi yang rendah


diri, tidak sombong atau bangga dengan apa yang kini sudah ada dalam genggamanku, serta belajar lapang dada untuk tidak menjadikan bahan pembicaraan miring orang disekelilingku yang mudah men-justifikasi, memandang orang lain dengan sebelah mata, saat inilah cibiran akan menjadi do’a, hina menjadi mulia, dan ‘sampah’ menjadi barang berharga. Semua yang aku dapatkan buah dari tangan sang pemilik takdir, Maha Memudahkan segala urusan yang kita anggap sulit, di mata kita semua tidak mungkin, lain juga apa yang menjadi pandangannya. Dia-lah sang Penuntun dan Penunjuk Jalan bagi hamba-hambanya yang merasa tersesat dari jalan-Nya, untuk


dimudahkan jalan kembali. Hingga mampu mengantarkanku ke negara selanjut-nya, Jazirah Nabi.


Labbaik Allah, kupenuhi panggilan-Mu dalam Tasbih Cinta...


Labbaik Allah, dalam Mihrab-Mu


kupasrahkan takdir hidupku...


Labbaik Allah,


Kau sambut aku dalam pelukan kasih


sayang-Mu...


Labbaik Allah, ku


ikhlas menjadi tamu di hati-Mu...


Labbaika La Syarika Laka Labbaik, kini aku hadapkan, aku bisikan, aku sampaikan, aku pasrahkan semua tentang tabir cinta, cita dan cipta yang tersimpan rapih dalam Lahul Mahfudz, tak ada satu pun yang mampu menyekutukan-Mu. Dalam Mihrab cinta-Mu, terlantun indah dalam munajat do’a kini kupasrahkan hidup dan matiku....


Air mata ini tumpah, tubuh pun terkulai lemah, tanpa sadar kini bersimpuh dalam sujud syukur. Sesak dada ini, terasa menjadi lapang, dan aku tak menyangka tubuh yang penuh noda-dosa diberikan kesempatan menginjak tanah kelahiran manusia-manusia suci.


Illahi, jangan kau lucuti rahasia di balik kotor-nya tubuhku, jangan Kau buka aib diri ini, duhai yang Maha Menjaga Rahasia. Berat rasanya aku melangkah, ketika kaki berpijak di bandara Internasional King Abdul Azis, Jedah.


Terlihat shuttle bus yang modern, yang dapat menampung penumpang dalam skala besar, dan memang sudah terlihat profesional, landasan terbang lebih dari cukup luas-nya serta ruang tunggu yang sangat memadai, para calon penumpang, pelancong atau jam’ah haji yang singgah di Airport King Abdul Azis tidak perlu khawatir ketika hendak menggunakan toilet, sebab pihak bandara sendiri menyediakan fasilitas tersebut amat banyak, airnya berlimpah, arsitekturnya pun terlihat unik. Namun kami sedikit harus bersabar menghadapi petugas yang begitu hati-hatinya memeriksa adminitrasi serta barang bawaan kami.


 


Di sebelah Selatan, ada landasan tersendiri dan rupanya hanya boleh dipergunakan oleh Saudi Arabian Airlines serta beberapa pesawat dari keluarga kerajaan Saudi Arabia.


 


 


Cuacanya begitu panas melebihi Jakarta, ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh tim produksi, mengingat perubahan iklim yang begitu trastis. Kang Belman sendiri jatuh sakit, walau masih terbilang sakit ringan dan cukup hanya beristirahat total di hotel yang tak jauh dari Masjidil Haram. Sedangkan awak film lainnya berpencar menyelesaikan tugas dan kewajibannya masing-masing.


Aku sendiri sambil menikmati pijar lampu menara Masjidil Haram menyiapkan dan membaca ulang skenario yang untuk venue terakhir. Dua pemeran wanita sudah datang satu hari sebelum kami tiba, mereka sengaja tidak diikut sertakan ketika shooting di Jerman, selain efisiensi budget dan memang tuntutan peran yang harus mereka selesaikan di sini, scene yang kita ambil hanya dua hari saja, selebihnya kami melakukan umrah bersama sebagai bentuk rasa syukur dan Mekkah-lah tempat terakhir produksi kita.


Di kota ini, sebagian stock shoot dan ada adegan di dalam asrama atau tenda jam’ah haji ketika Bunda mendekati ajal-nya, dengan di temani Hajah Zahrotul Hayati dalam novel Antara Jerman dan Masjidil Haram.


Satu hari itu digunakan untuk melakukan kordinasi dengan pihak terkait, untungnya tidak ada adegan yang harus mengambil tepat di dalam Masjidil Haram, hanya di dalam tenda jama’ah haji saja, dengan begitu kita tidak perlu kucing-kucingan dengan petugas keamanan.


Selebihnya bisa diambil ketika kami sedang melakukan ibadah di dalam Masjidil Haram, walau harus sedikit memanfaatkan kelengahan petugas keamanan komplek di dalam masjid.


Entah mengapa air mata ini tidak henti-hentinya terus membasahi pipiku, ketika berada di depan makam Rasulullah, di hadapan jasad suci itu bibir membisu. Selepas aku tunaikan sholat Isya dan sengaja aku habiskan malam-malamku di sisi pusara yang begitu indah gerbang pintunya terukir lafadz basmallah dan ukiran aksara arab lainnya.


Dari kejauhan pancaran kemuning dari lapisan makam begitu terlihat jelas. Aku mencium aroma wangi kasturi terpancar dari dalam tempat jasad nan suci itu bersemayam.


“Assalamu’alikum, duhai duda suci dari Khadijah bin Khuwalid, jiwa suci yang mengantarkan kami dalam syafa’at cinta-mu kepada umat.Wahai panglima perang yang mampu memerangi hawa dan nafsu-nya.


Aku sampaikan salam dan sanjung atas-mu, penghulu para nabi. Kini, aku datang memenuhi panggilan-mu sebagai Isra’ku dan mi’raj cinta-mu yang tidak pernah bertepi.


Duhai kekasih Allah, terima lah air mata ini sebagai penghantar rasa rindu-ku pada- mu, kerinduan yang teramat menyesakan dada, kini aku merasakan sebegitu dekatnya dengan-mu, peluk aku wahai datuk dari dua pasang cahaya mata yang suci, ayah dari wanita penghulu bidadari surga, Fatimatuzzahra akuilah...akuilaah aku ini sebagai umat-mu, jangan kau asingkan kami di Padang Mahsyar nanti.


Yaaa Rasulullah, Yaa Habiballah izinkan aku bersimpuh mengantarkan kepasrahan hidup ini, pada jalan takdir dan rahasia langit yang cukup meresahkan hati, sampaikan hajat kami, kepada Rabb-ku atas kehadirat-mu duhai Madinatul’ilmi, yang cahaya- nya sampai Rabbi Dzal Jali Wal Ikram....”


Aku bersandar di antara tiang-tiang tinggi tepat di makam Rasulullah, mengingat kembali perjalanan hidupnya sampai dikenal umat dari dunia hingga akhirat, jarak rentangan abad tidak melunturkan kecintaan umatnya bukan hitungan jari, tetapi sudah ribuan tahun sampai sebegini-nya orang terus mengalir dari seluruh pelosok belahan bumi masih mendambakan, berabad jarak pula kerinduan kepada sosok Nurul Musthofa tak pernah lekang termakan zaman. Hadiah terbesar dalam hidupku dapat diberikan kesempatan ziarah ke makam beliau, semoga diberikan nikmat panjang umur hingga bisa kembali lagi ke tanah suci, Illahi Amiiin...


Setelah selesai waktu-ku untuk berkemas dan kembali ke tanah air, seakan menjadi kerinduan tersendiri berjumpa dengan sanak keluarga, orang-orang terdekat-ku. Bibir ini terasa keluh tak dapat lagi berucap kebahagiaan yang kini aku dapatkan, walau terkadang terjerat rasa sesal ketika mimpi ini sudah tercapai, tetapi aku harus merelakan untuk kehilangan sosok seorang ayah yang selalu menuntun disetiap langkah hidupku. Berkali-kali ia mencoba melawan sakitnya, ketika aku berbisik di telinga lelaki kelaharian Pematang Siantar itu, “ Ayaaah...Ayaah harus kuat dan lawan penyakitnyaa!”


Padahal, aku sendiri tidak kuasa untuk menahan air mata ketika ia sekuat tenaga melawat sakit kepala- nya yang begitu hebat, sampai-sampai harus mengeluarkan darah dari mulutnya. Yaah, saat itu-lah hipertensi darah, denyut jantung yang begitu tinggi sampai beliau harus menahan stagnasi syaraf di kepala, dan berdampak kepada kejang-kejang karena ia sendiri memang sudah tidak kuat lagi menahan sakit yang dideritannya selama satu tahun setengah.


Mungkin saat itu-lah, dirinya sudah diambang ketidakberdayaan, dan ia pun harus ikhlas meregang maut tanpa ada aku disampingnya.


“Seharusnya ayah ada di sini, ikut menikmati hasil keringat anak-nya, putra sulung yang diam-diam ia banggakan di depan murid-murid dan kawan-kawannya itu.” Yaaah, ayah seorang ustadz yang memiliki banyak murid tetapi sedikit pun ia tidak pernah meminta upah dari apa yang sudah ia ajarkan, karena beliau dikenal orang royal dan memiliki gengsi yang tinggi.


Hanya tinggal mamah yang harus aku jaga, dia pun menjadi keramat bagi-ku dan do’anya menjadi power supply melawati hari-hari yang begitu berat, baik cobaan dan kesulitan hidup yang aku hadapi. Mamah, perempuan yang begitu pekak dan paham kapan aku lapar dan apa yang aku butuhkan ketika aku asyik menulis.


Walau sudah sebesar ini, masih saja ia menyelimuti dan membukakan kaca mata ketika tak sengaja aku terlelap tidur. Apa lagi disaat Amelmeninggalkanku, sikap mamah menjadi berlebihan, khawatir takut terjadi apa-apa denganku.


Selain almarhum ayah, mamah dan adik-adikku pun ikut berpartisipasi dengan apa yang kini sudah aku raih, keponakan-keponakan ku yang lucu, Audre, Zahira dan Aninditha menjadi pelipur rasa cemburu ketika aku rindu untuk dipanggil,” Ayah.” Oleh anak-istriku.


Selain itu, ada juga sahabatku yang paling paham, ketika aku begitu merasakan lapar di tengah malam, nama-nya Iskandar. Banyak memori indah bersama veteran pesepak bola PERSITA ini, dia yang tidak kenal lelah untuk mengantarkan aku meeting sana dan sini tanpa harus diberi upah.


Pernah ada yang membuatku terharu, Iis begitu aku memanggilnya lewat tengah malam datang dan masuk ke kamarku hanya untuk membawakan aku uang yang walau tak seberapa besarnya dan makanan untuk menemaniku menyelesaikan novel dan tulisan lainnya. Padahal jarak rumahnya cukup jauh, tetapi sebegitu besarnya perhatiaan yang ia berikan. Dan ada juga kenangan yang sedikit nyeleneh menurutku, pernah aku mencoba untuk sekedar obrolan santai tentang masalah-masalahku, panjang-lebar aku ceritakan semua-nya, walau ada sebagaian yang menjadi privacy kami dan tidak semua ia tahu. Jawab-nya simple, “ Udah bang, loh ceraiaja sama istri loh biar kita bisa  nongkrong bareng lagi. Ribet! Istri loh itu banyak aturan...”


Itulah sedikit-banyaknya orang-orang yang begitu sayang dan patut aku syukuri, karena mereka-lah kini aku mampu berdiri tegar, dan tak lupa juga ada Vega yang menjadi spirit lain dalam karirku di dunia tulis, ia menjadi inspirasiku dalam menyelesaikan beberapa buku yang sedang aku selesaikan. Termasuk novel ini.


Dan dia-lah tumpuan harapanku kelak menjadi tamu istimewa di hari yang teramat istimewa untukku, disaat ia duduk di kursi nomor satu di ruang VVIP, ketika itu aku akan umumkan ingin meminangnya untuk bersedia menjadi pendamping hidupku.

__ADS_1


Tetapi ada sedikit kejanggalan yang masih terus memburu dan menjadi pertanyaanku,mengapa ia terus menghindar ketika aku mengajukan pertanyaan,” Vega, apa kamu mau menikah denganku?” Masih saja ia menjawab,” Hmmmmm, nggak tauu!” Pasti, ada perdebatan panjang setiap kali membahas komitmen. Yang berujung aku harus tinggalkan dia, untuk apa menghabiskan banyak waktu dengan orang yang tidak mempunyai tujuan hidup, seperti terperangkap masa lalu dan sisa- sisa trouma yang berkepanjangan. Ia hanya melemparkan emoticon ‘sad’ yang menurutku gadis itu tidak mau aku tinggalkan, apa maksud dari ini semua?!


__ADS_2