
Beruntung aku punya teman yang bekerja di kawasan Sudirman, dan memang sempat aku lihat di status facebook-nya membuka lowongan kerja, dan terpaksa aku mencari
statusnya yang sudah bergeser jauh dengan status-status terbarunya. Syukur-syukur kalau belum di-delete bisa aku catat kembali alamat kantornya, nah yang apesnya kalau sudah dihapus, itu yang bikin pusing kepala.
“Memang bagus rezeki kamu yank.” Ucapku dalam hati, ketika melihat status yang Ria
Afandi tulis lengkap dengan nomor contact person-nya.
Tetapi ada yang cukup mengerenyitkan keningku dan membuatku sedikit spekulasi, “ apa iya Amel bisa diterima di tempat itu? Ijazahnya saja tertinggal di Palembang!” Ah, tapi aku akan coba untuk sekedar meminta bantuan dan pengertian darinya. Walau
tercantum jelas-jelas syarat yang harus dipenuhi bagi calon pelamar, diantaranya
harus berijazah strata satu, sedangankan Amel belum lulus kuliah walau dipenghujung semester akhir.
“Apa salahnya aku coba dulu, kali aja berhasil.” Entah ini ucapan yang sesuai metode quantum yang sering dihembuskan para enterprenuer atau ini hanya optimisme
kosong saja sebagai caraku menghibur diri? Berhasil dan tidaknya yang penting sudah berusaha.
Tanpa pikir lama, aku hubungi wanita yang aku kenal akrab dan mau mendengar kisah hidupku, sebelumnya ia pun tahu aku mau menikah dengan Amel.
“Masyallah, pulsa pakai habis segala.”
Dan di saku celana Jeans hanya ada selembar uang dua ribu-an. Apa iya cukup untuk beli pulsa? Tetapi niat dan usahaku kuat untuk mencarikan Julie pekerjaan agar
ia bisa menyibukan diri. Satu-satunya jalan aku coba merayu Bu Laila si pemilik
counter handphone yang terbilang susah untuk dihutang, pasang ‘muka tebal’ itu
tips yang akan aku pakai.
Sekeras-kerasnya orang pasti akan luluh hatinya jika kita tahu apa yang paling ia suka,
sekalipun dengan pujian, bujuk dan rayu. Ini akan aku lakukan untuk sekedar mengharap diberikan hutang-an pulsa.
“Ok Haidar, semangat cari hutangan!” Aku coba menyemangati diri sendiri yang mulai berargumentasi dengan ‘ketidakyakinan.’
Merasa nyaliku sudah terkumpul, aku memberanikan diri dan ini pertama kalinya aku berusaha berani kasbon dan ini pengalaman pertama. Tidak mudah untuk melakukan hal ini, walau terbilang hanya meminta hutangan pulsa .
Counter milik Bu Laila tidak jauh dari rumah sepetak yang aku sewa tiap bulannya, dari gang ke kang dan lamunanku sepanjang jalan terusik bocah-bocah yang tengah asyik
bermain bola, padahal jalan di kampung kami hanya cukup dilalui dua sampai tiga
orang. Namun, lantaran tidak adanya lahan kosong, pemandangan seperti ini
terbilang wajar-wajar saja.
Sejak tembok sekolah yang dibangun oleh seorang pengusaha besi dan tembaga tua itu,
sebagian teman bermain sedari kecil satu persatu pergi, lantaran membutuhkan
lahan yang cukup luas, mereka pun membujuk warga untuk menjual rumah
tinggalnya, ada sebagian dari kami yang bertahan, termasuk tanah warisan yang
kami miliki, namun sebagian dari warga memilih menjualnya dan membeli sebidang
tanah lalu mendirikan tempat tinggal di ujung kota Tanggerang.
Lahan kosong, tempat anak-anak bermain pun dilahap bangunan, isunya ingin dikembangkan menjadi Islamic Center.
Inilah ketika uang sudah bicara dan mampu memutuskan tali silaturahmi, tak ada lagi
kelakar dan guyonan yang menghabiskan waktu sore, hingga akhirnya kami dipisahkan oleh senyum sang mega di ufuk barat.
__ADS_1
Aku rindu ketika bermain bola di kala hujan turun, dan aku pun rindu olok-olokan sahabat kecil ketika tengah asyik bermain layangan, sebab, tidak boleh ada dari kami yang beradu antara benang kenur satu dengan yang lainnya, layangan yang paling tinggi menari di langit itu-lah pemenangnya, walau terkadang aku berharap di satu waktu mampu mengalahkan sahabat kecilku, Rizky, Adit dan Billy tetapi layangankulah yang sering kali kehilangan kendali, entah apa yang menjadi penyebabnya, sering kali layang-layang milikku lepas dari tangan.
Bahkan tali kama-nya, ( itu loh, tali yang menghubungkan antara sisi satu dan sisi
lainnya tidak seimbang ) hingga akhirnya harus mendarat darurat di atap, ranting pohon dan juga kabel listrik. Huft! Tidak sesuai harapan....
Seperti apa yang aku alami saat ini, niat hati merayu Bu Laila tetapi rencana tidak sesuai harapan,
counter-nya tutup.
“Ya Allah, sebegini susahnya hidup. Mudah-kan jangan kau persulit Yaa Rabb....” Aku berdiam diri di depan terali besi yang
begitu rapat, lengkap dengan dua buah gembok besar, hanya itu yang aku temukan.
Tiba-tiba saja pundak ini di tepuk dengan telapak tangan besar, mengejetukan
rasa ketidak berdayaanku sebagai seorang suami, hanya untuk membeli pulsa saja
tidak mampu, benar-benar tiada guna.
“Dar, ngapain loh ngelamun begitu?” Saat aku menoleh rupanya Fadil, yang tengah
berangkat kerja. Aku dan dia memang tidak ada batasan dan tidak ada yang harus
ditutup-tutupi.
“Mau ngutang pulsa, eh tutup....”
Berharap Fadil mau meinjamkan pulsanya, hanya untuk telepon beberapa menit saja untuk menanyakan lowongan kerja untuk istriku, Amel.
“Pagi-pagi ngutang...Yaah,jelaslah!!!Orang belum pada bangun. Nih, pake pulsa ane aja.”
Ternyata gayung bersambut, dengan sendirinya pria yang bekerja di perusahaan
“Serius?!”
“Yaelah kaya sama siapa aja!!”
“Tanks yah Fad?” Aku pun mulai menekan satu persatu nomor di keypad handphone,
akhirnya Amelbisa kerja juga, hanya itu yang ada
dipikiranku. Sekonyong-konyong senyum yang semula merekah di bibir ini, berubah
drastis ketika mendengar suara ‘tante opera’ bukan lantaran ucapannya menyinggung perasaanku tetapi memang ada kewajiban yang tidak ditunaikan si pemilik kartu.
Wajar jika ia berucap seperti ini, “sisa pulsa dalam kartu pra bayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, silahkan isi kembali. Pulsa yang anda miliki saat ini sebesar empat puluh rupiah.”
“Ya Allah, kenapa kejadiannya mirip banget kaya di sinetron-sinetron.” Memang,
kejadian yang aku alami ini seperti sebuah skenario film, seakan ada seorang
sutradara tengah mengatur jalan cerita, agar terlihat menarik begitu terta naskah hidup yang aku jalani, mulai cerita yang melatar belakangi kisah ini, klimaks dan entah seperti apa pengembangan klimaks yang
akan aku alami nantinya, ini masih misteri.
“Heeem, pantesaaan ente bae banget Faaaaad....!” Sindirku.
“Maksud ente?”
“Coba aja cek pulsa-nya.” Aku sodorkan kembali handphone miliknya. Dan ia pun
memastikan apa yang aku ucapkan.
__ADS_1
“Sumpah!Padahal ane baru isi pulsanya tadi malem, kok cepet banget habis ya?” “Emangnya diisi berapa duit?”
“Lima ribu.” Jawabnya enteng.
Mungkin bagi provider yang menawarkan bonus SMS-an sampai jari keseleo, pulsa Lima Ribu cukup untuk satu minggu ke depan, tetapi giliran dipakai untuk telepon seperti ini kejadiannya.
“Yaudah Fad nggak apa. Yang pasti niat baik ente, sudah masuk hitungan pahala kebaikan.
Coba tengok ke sebelah kanan ente.” Dan Fadil mengikuti apa yang aku
perintahkan.
“Nggak ada apa-apa Dar...”
“Ente nggak bisa ngeliat, ada malaikat Atid lagi nyatet pahala. Pulpennya gede
banget, buku catatannya panjang.
Mungkin pahala ente sudah banyak Fad, dan cukup untuk bekal ente pulang ke
akhirat. Hahahahaha.....” Candaku yang cukup membuat Fadil tersinggung.
“Aah, ente bisa aja kalo bercanda pake bawa-bawa malikat segala, kan ane jadi ngerih dengernya.
Begini aja deh...” Fadil memasukan tangannya ke dalam saku celana.
“Anggap aja ini sebagai penebus kesalahan gue sama elo.” Ia berikan selembar uang dua
puluh ribu rupiah.
Memang seperti itu gayanya Fadil, yang kalau disinggung masalah kematian dan malaikat
merasa orang yang paling banyak dosanya, padahal memang orangnya baik dan
paling royal. Ia tidak bisa mendengar temannya hadapi kesulitan, secepat mungkin ia jadi orang pertama yang mengulurkan bantuan.
“Ah ente terlalu berlebihan Fad, orang ane bercanda.”
“Ane ikhlas Dar, ente ambil, kalo ditolak ane marah dan nggak bakal ane bantuin ente
lagi.”
Dan ini-lah jeleknya Fadil, kalau ada yang menolak pemberiannya maka seumur-umur
dia enggan untuk membantunya lagi, dan aku pun harus menghargai, tidak munafik
memang kondisinya uang itu memang aku butuhkan.
“Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza“.
Dan inilah sebaik-baiknya ucapan sebagai balasan atas kebaikan seseorang, teringat
apa yang dikatakan oleh Usamah bin Zaid bahwasanya Rasulullah pernah mengatakan demikian,”Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan ‘Jazaakallahu Khaeron (semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam
menyatakan rasa syukurnya.”
Hingga akhirnya, uang pemberian dari Fadil
menjadi keberkahan tersendiri untukku. Ria kawanku yang bekerja di sebuah jasa keuangan akhirnya mengerti dengan penjelasan yang aku berikan dan Amel pun diterima untuk interview.
Tetapi apakah istriku mampu bertahan, dengan gaji yang diberikan perusahaan tersebut terbilang jauh dari Upah Minimum Regional dan hanya mengandalkan bonus ?!
__ADS_1