TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Jodoh : “Jangan Kau Tanya Kapan Aku Datang”


__ADS_3

Aku mencoba meyakini bahwa jodoh kita tak akan tertukar dengan orang lain, orang baik itu jodoh- nya lama, karena meraka-lah orang-orang pilihan, dibandingkan harus terburu-buru dalam menanti pasangan di plaminan kita kelak. Tidak perlu mencari yang sempurna, tetapi dia mampu menyempurnakan kekurangan yang kita miliki, tak perlu yang kaya raya seperti Sulaiman dan Bilqis atau Khadijah, tetapi cari-lah pasangan yang dia pandai bersyukur dengan rezeki yang Allah sudah berikan untuk menafkahi rumah tangga, dan Halal.


Aku sendiri punya tafsiran lain tentang kecantik dan rupawan bagiku itu mudah didapatkan, semua bisa kita beli dengan uang, tetapi yang indah akhlaknya, santun perangai-nya, hanya bisa dimiliki mereka yang memang mau berbenah diri dan memperbaiki akhlak-nya, konsep jodoh itu yang sebenar-nya yaitu jangan bermimpi Kucing memilki pasangan seekor Macan, sebab Kucing jodoh-nya Kucing. Tak akan minyak menyatu dengan Air.


Seperti Amel yang meninggalkanku, anggaplah ia tidak berjodoh lama denganku, yakin saja bahwa Tuhan sedang mempersiapkan bidari tanpa sayap yang diutus untuk menemani hari-hari ku, saat ini dan selama-nya.


Bukan yang mencintai ku hanya prestasi semata, atau yang diam-diam mengincar harta yang aku miliki kelak, setelah ku jatuh miskin belum tentu ia akan menemani dan merawat kita ketika jatuh sakit.


Tuhan begitu sayang-nya dengan ku, dengan melepas tali kasih yang memang bukan tambatan hati. Kini aku mencoba untuk tidak menangis dan juga bersedih, Tuhan tidak membiarkan ku terluka dan teraniaya dengan kisah cinta semu yang berujung pada ‘luka batin’ sehingga berdampak merusak diri sendiri. Apa-kah dengan perpisahan yang terjadi seakan esok bumi akan berhenti berputar, dan matahari tak lagi menghangatkan tubuhku?


Aku kembalikan semua-nya kepada pemilik cinta, Dia-lah yang akan menentukan mana yang terbaik , Pendamping yang kelak dia akan menghapus air mata ketika ini disaat menangis, dia yang akan menyanggah langkah kaki ku ketika lunglai untuk berjalan, melangkah dan menitih jalan hidup yang tidak semudah dengan rencana manusia.


Aku mencari pasangan hidup yang disaat ia dekat memberikan kita kenyaman, dan ketika jauh rindu ini sebegitu dahsyat-nya hingga menghantarkan kita ke tepian do’a serta sujud, sebab hati ini percaya bahwa ia kan menjaga cinta dan hati-nya hanya untuk ku. Amien...


Sejak lepas dari Amel, walau secara agama sudah jatuh Talak, tak tanggung-tanggu aku memilih Talak tiga, aku takut apa yang Julie kerjakan di luar sana menjadi beban amanah yang membuat dosaku terus membukit.

__ADS_1


Seiring waktu dan satu hari setelah jatuh talak itu, Pak Amir direktur perusahaan tempat aku menulis konten, mengirimkan sebuah pesan singgkat disetiap karyawan yang bekerja, untuk tidak panik, sewaktu-waktu kantor-ku dinyatakan kolaps alias bangkrut, karena bisnis website itu tidak semudah dugaan, dibutuhkan jati diri dari isi dan kontributor, mau diapakan website tersebut, sudah berjalan 3 tahun tetapi tidak memiliki pemasukan dari iklan.


Lengkap sudah penderitaanku, istri pergi dengan mantan pacar-nya, untuk karir sendiri sudah tidak ada lagi peluang untuk menjadi karyawan dan terpaksa jadi pengangguran, ditambah lagi orang tua yang butuh biaya besar untuk biaya berobat. Kalau bukan keyakinan yang aku miliki mungkin aku sudah tidak tahu bagimana lagi aku harus jalanin hidup, inilah tahun-tahun terberat yang mesti aku harus hadapi.


Tak ada pesangon, yang tersisa hanyalah hutang biaya pernikahan, dan tuntutan sang mantan yang ingin segera diurus akte penceraian dan itu butuh biaya yang besarjuga, dengan sistem under table dari birokrasi di negeri ini, tidak ada uang maka besiap-siaplah kita akan dihadapi sistem birokrasi yang berbelit-belit dengan alasan ini dan itu.


Inilah tahun dimana aku sudah kehilangan banyak waktu, tenaga dan pikiran. Tentang pengharapan yang tidak tahu seperti apa nantinya, dosa apa yang sudah aku perbuat Ya Allah?! Sehingga sebegini besar-nya mungkin ujian, cobaan, atau jangan-jangan ini teguran. Jika memang ini ujian, mudah- kanlah jalan untukku dapat menyelesaikannya. Jika ini cobaan, mohon kuatkan aku untuk terus tetap yakin dengan aqidah-ku. Jika ini memang teguran dari-Mu Ya Allah, maafkan segala kesalahan hamba dan orang tua hamba, semoga akan aku temukan air mata yang kelak akan berganti senyuman.


Tugasku sekarang hanya menjaga ayah ketika terjaga di malam hari, atau dia mengeluhkan sakitnya, mungkin sudah tidak tahan lagi dengan apa yang ia rasakan, aku pun pasrah,” Ya Allah, ambil nyawa ayahku.” Kasihan jika melihat ia menahan sakit, sering aku temui ayah mengeluhkan sakitnya, sambil menengadahkan tangan meminta, dan aku paham dengan isyarat tubuhnya, bahwa ia sudah tidak kuat lagi, berharap Allah akan mengambil nyawanya.


Yang mampu ia ucapakan hanya kata,” Allah...Allah dan Allah...” itu saja, ketika kepalanya terserang sakit yang hebat. Aku akan rindu, ketika ayah yang diam-diam menutup pintu kamar ketika aku sedang asik nulis, tawa-nya yang khas, terkadang ia meledek kami dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas, mirip manusia planet. Jika kami tidak paham dengan apa yang ia ucapkan, maka begitu puasnya ia tertawa terbahak-bahak, setelah itu ia hanya bisa berucap,”Allah...”


Di bangku rotan yang sudah tak beraturan sulamannya, ayah terkadang merebahkan tubuhnya di sana, terkadang lewat tengah malam, ia termenung seorang diri, menahan sakitnya tanpa bersuara, karena tidak ada yang ingin ia repotkan, tanpa disadarinya aku diam-diam memperhatikannya dari celah pintu kamar. Ia mengerang, menggigit dan menggigil di lepas malam yang sepi.


Aku sengaja melihat dari kejauhan, bukan karena tidak sayang, justru aku menahan air mata. Jika aku menangis pasti ayah mengusap-nya walau sedang menahan sakit yang teramat sangat.

__ADS_1


Aku bukan lelaki pada umumnya, yang pandai menyembunyikan air mata, justru tidak pernah aku sesali dengan keadaanku seperti ini, yang senjatanya air mata dan doa, apa salah jika seorang lelaki menangis? Dan Haramkah jika aku temukan ketenangan ketika meneteskan air mata menahan isak tangisku sendiri?! Bagiku menangis adalah penawar dari rasa ketidakberdayaan, simbol betapa lemahnya seorang hamba.


Sejenak aku tanggalkan batu yang berat membenaiku, ketika aku rasakan sudah hilang letih ini barulah aku ambil kembali batu itu, ada selembar uang lima ribuan cukup untuk rental warnet satu jam, mencari tahu perkembangan penerbit dan buku terbaru serta buku-buku andalan mereka. Dengan begitu aku bisa menganalisa pasar serta kemauan para penerbit yang sekalipun harus antri, tidak ada prioritas, bagi penulis yang sudah masuk penerbit besar, dan harus penunggu 3 bulan, bahkan jika diingatkan penulisnya saja baru mereka membuka kembali naskah kiriman dari kita, itulah Indonesia.


Aku mengenal perlakuan santun penerbit yang pemiliknya adalah seorang budayawan walau cendrung dianggap penganut mazhab tertentu, tetapi bagiku etika yang diberikan cukup membuat ku sebagai penulis merasa nyaman dengan sikap mereka, salah satu editornya yang mengantarkan aku untuk memiliki kembali ruh dalam menulis, walau seperti pada umumnya sering menerima perlakuan naskah ditolak, so fine, tidak musolah, waduuuh! Salah ketik tidak masalah, karena naskah bagi mereka mungkin dipandang yang memiliki nilai akademik dan bisnis juga.


Alhamdulillah, ketika ingin mengirimkan naskah hanya tinggal chat VIA facebook dan kirim lewat email saja, seperti apa yang aku lakukan sekarang biasanya banyak pertanyaan yang aku tujukan seputar naskah.


Sedang asyik-nya chating muncul satu nama di sisi kanan dari page facebook dengan foto profil cover buku, siluet perempuan dengan background ungu, dengan font Arial ‘Perempuan Pemintal Hujan,” nama itu tidak asing dan pernah aku dengar, tetapi dimana yah? Aku mencoba mengingat kembali pertama kali mendengar nama itu di sebut. Ooooh, rupanya dalam acara 40 tahun Mama Nini berkarya.


Yaah, perempuan yang membacakan puisi dengan begitu penuh penjiwaan, tidak bisa aku pungkiri bahwa ia memang memiliki talent dalam membacakan puisi. Aku add dia untuk sekedar mengetahui seperti apa ketika si Perempuan Pemintal Hujan ini mengeluarkan sisi kepribadiannya di dunia maya.


Hampir empat bulan acara itu sudah berlangsung, mengapa baru kali ini aku mau menjalin pertemanan dengannya ? Dan aku bukan tipe orang yang sembarangan memasukan orang lain yang tidak aku kenal dan tidak memiliki hubungan sesuai profesiku sebagai penulis. Begitu juga sebaliknya ketika ada yang ingin menjalin pertemanan dan aku tidak tahu sedikit pun tentangnya, mungkin tidak akan aku konfirmasi.


Ada apa dengan Perempuan Pemintal Hujan?!....

__ADS_1


__ADS_2