TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Inisial, JA...?!


__ADS_3

Inilah pagi yang tidak seperti biasanya, pagi yang tidak wajar. Dan terpaksa aku membuka portal media yang hampir beberapa bulan ini aku tinggalkan, karena memang hampir memasuki dua bulan belakangan ini aku resaign dari portal cerita, walau sempat dipanggil kembali, aku memilih untuk tetap meninggalkan pekerjaan yang aku rasa sudah tidak sehat dengan keadaan team kerja, tidak seperti sedia kala, sewaktu Pak Amir menyatakan perusahaannya itu mengalami kebangkrutan senilai harga satu mobil Maserati Gran Cabrio keluaran terbaru. Kami pun di-PHK masal, dan beberapa orang pilihan saja yang dipanggil kembali, walau diberikan upah per artikel, itu pun dibatasi hanya dua artikel per hari.


Yang menjadi bebanku, setelah munculnya nama pimpinan redaksi baru sehingga kita para penulis konten harus menulis beberapa artikel, dan yang dipilih hanya dua saja. Lalu sisa-sisa artikel yang ditolak itu dikemanakan? Inilah wajah baru mafia konten yang seenaknya melecehkan dunia penulis, kita seolah-olah dikebiri, yang nantinya sisa artikel tersebut ia gunakan untuk menulis di website lain, benar-benar predator. Sejak itulah, aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang hanya menjadikan para penulis sapi perah saja dengan upah yang dinilai jauh dari kata layak.


Melapas rasa penasaranku tentang kejadian semalem, aku menemukan berita tersebut di sebuah situs berita yang terbilang cepat dalam menyajikan kabar terhangat, dan ini yang aku dapatkan, bahwa kejadian tersebut adalah penangkapan seorang pelaku pembunuhan.


 


 


Tertulis korban bernama, Louis seorang karyawan swasta dan ada tukilan pernyataan dari


seorang Amel, bahwa kekasihnya itu menemu ajal di kamar kost-an dibilangan Jakarta Barat.


Kronoliginya belum aku baca lebih lengkap dan pelaku sendiri memakai nama inisial yang membuatku semakin penasaran. Dan aku langsung berinisiatif menghubungi seorang teman yang bertugas di Polres Jakarta Barat, namanya Imam.


“Mas, ada dimana?” Tanyaku VIA telepon membuka pembicaraan. “Di kantor, lagi Dinas. Tumben loh telepon, memangnya ada apa?!”


“Bukan tumben tetapi memang lagi butuh informasi penangkapan semalam.”


 “Hahaha, abisan loh kalo nggak ada perlu males telepon gua-kan. Iya semalem ada penangkapan di kampungan loh, pelaku pembunuhan.”


Dia tertawa dan memang kami cukup akrab, teman sedari kecil dan juga jama’ah dari Ratib Al-Hadad, walau kini dia berseragam tetapi masih rendah hati dan tidak mengenal batasan antara dia selaku pejabat kepolisian, dengan aku yang hanya teman sepermainannya.


“Kalau boleh tahu, pelakunya siapa mas?!”


“Kalau pelakunya sendiri belum gua liat, tapi coba gua cari tahu. Memangnya loh kenal?!”


“Mungkin saja kenal, massssa iya satu RW tidak kenal! Hanya mau memastikan takut-takut ada teman akrabku yang tertangkap.”


“Ooooh.”


“Kalau sudah dapatkan inisial dan ciri-ciri pelaku tolong kasih kabar ya mas.”


“Siaaaaaaaap. 86!”


86, itu sandi di udara atau radio panggil yang artinya dimengerti, dan aku langsung


mencari tahu siapa pembunuh Luis, yang juga kekasih dari mantan istriku Amel.


Firasatku semakin tidak tenang, dan ada masalah besar sampai nantinya menyeret nama-ku.


Kontan, aku pun menghubungi sahabat-ku yang lain dan ia tahu jalan cerita ini semua.


“Ampppppppuuun! Pulsa pake habis segala.”


Tanpa memikir panjang aku langsung mengisi pulsa, dan apa yang aku harapkan jauh dari kenyataan, orang yang aku harapkan bisa menolongku rupanya handphone miliknya tidak aktif. Selakas mungkin agar kasus ini tidak berlarut, aku harus segera mencari tahu, siapa pelakunya dan aku harus dapatkan informasi lebih pasti.


“Mas, bisa tunggu saya di kantor?!”


“Oooh nggak bisa pak, gua ada janji sehabis ngantor. Kenapa?!” “Saya mau ke sana, cari tahu lebih jelas siapa pelakunya!”


 “Begini aja, besok gua dinas pagi dan loh bisa bareng gua ke kantor, bagaimana?”


“Oooh baiklah, saya tunggu besok yah? Biar saya yang ke rumah.”


“Ok.”


Aku pun menutup pembicaraan dengan kata sepakat bahwa besok aku bersama Imam pergi ke kantor Polres . Semakin larut aku dalam kebimbangan, menunggu waktu satu hari itu membuatku semakin gelisah tidak menentu, dan aku yakin nama-ku akan terseret dalam jeratan hukum, karena ini kasus berat yang menyangkut nyawa seseorang.


“Siapa si pemilik insial JA itu?! Mengapa ia membunuh Luis?!” Aku bertanya dalam hati, dan aku khawatir tewasnya Luis akan membawaku masuk ke dalam sel, pupus semua harapanku jika memang si pelaku menyebut namaku dalam intrograsi nantinya.


Mimpiku akan terkubur di dalam jeruji besi, vonis hukuman akan aku jalani dan itu membutuhkan waktu yang terbilang tidak cukup satu tahun penjara, bahkan bisa seumur hidup, menurut KUHP pasal 340.


Tidak kebayang andai aku dipenjara selama itu, bagaimana nasib ayah? Karir menulisku, film yang sebentar lagi memasuki tahap final, lalu bagaimana dengan Vega ‘Merpati Tanpa Sayap’ yang padanya aku sandarkan mimpi ini?! Tidak aku biarkan ia diambil lelaki lain, dan Mamah yang di bahuku menyandarkan doa serta harapan.


Detak jarum jam bagiku seperti sebuah dinamit yang tidak lama lagi akan meledak, setiap detiknya begitu membuatku semakin resah, terlebih ketika menit berganti jam, menjadi siksa batinku tersendiri. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sudah terekam di kepala, ada rencana melarikan diri, ada juga menyerahkan diri kepada proses hukum yang berlaku, jika dinyatakan aku bersalah dan terlibat dalam pembunuhan Luis.

__ADS_1


Hari mendekati senja, dan malam ini tidak aku temukan kedamaian, mudah-mudahan tidak menyurutkanku untuk tetap melakukan ritual malam, atau dengan kejadian ini membuatku semakin dekat dengan Allah, menyerahkannya perkara ini kepada sang Maha Pemilik Hukuman yang adil. Hanya dia-lah yang bisa melepaskanku dalam kegelisahan ini


Suara yang keluar dari knalpot motor membisingkan telinga, padahal hampir masuk tengah malam, firasatku tidak enak, bukan hanya satu motor saja yang suaranya habis dilahap kesunyian dan hilang di depan rumah yang memang lebar jalannya tak seberapa, cukup dua motor sudah membuat arusnya tersendat macet.


“Suaranya kok mati di depan rumah, ada apa yah?” Aku mulai gundah, takut ini kelanjutan dari penangkapan kemarin malam, debar jantungku semakin tak menentu.


Dan aku dikejutkan suara orang yang membuka pintu kamar, nyaris tanpa suara.


“Heeeem, ayah kok bangun?”


“Huuuh!Apa karena....akk..mmupa...adduh...!” Hanya kosakata itu yang keluar dari mulut ayah, dan tidak satu pun yang paham, dan ia tidak menyesal karena tidak bisa berbicara. Dan aku lihat ayah membelah sekujur tubuhnya yang sebelah kanan, dan terlihat dari gerak tubuh serta raut wajah menjelaskan bahwa ia merasakan nyerih yang tak tertahan di bagian tersebut.


“Sabar yaaa yah, serahkan semuanya sama Allah. Kalau uang royaty bukuku turun kita cek up ke rumah sakit, atau kita cari pengobatan alternatif lagi.”


Dan memang hanya seperti itu yang aku bisa ucapkan, bagaimana lagi? Memang di Jakarta berobat itu gratis, tetapi bukan tidak membutuhkan biaya? Untung ongkos mondar-mandiri serta waktu yang cukup melelahkan dan antrian panjang, hanya sekedar untuk berobat jalan minimal harus ada uang dua ratus ribu, untuk makan dan jajan ayah yang harus menunggu dari sehabis subuh dan baru akan dipanggil selepas adzan Zuhur, saking banyaknya pasien di Rumah Sakit Umum.


Bahkan pengambilan nomor antrian itu bisa tiga kali di buka, pertama jam enam pagi, dilanjutkan jam 12 siang, setelah itu jam 3 sore. Untuk mendapatkan nomor antrian lima puluh orang pertama itu, minimal jam empat subuh harus ikut antri memasukan data adminitrasi seperti kartu berobat jalan, serta lampiran Kartu Keluarga dan KTP si pasien.


Namun, kalau sakit ayah kambuh seperti malam ini, biasanya cukup membasuhnya dengan minyak gosok, sampai hangatnya minyak membuatnya tertidur pulas. Tetapi tidak malam ini, ayah merasakan sakit yang amat dahsyatnya sampai ia sendiri merontah dan seluruh syarafnya tegang, biasanya kepalanya akan terasa berat dan sakit yang luar biasa sampai-sampai ia harus mengeluarkan darah dari mulutnya. Aku tak dapatberbuat banyak selain memberikan rangsangan di leher dan kepalanya dengan merefleksi bagian-bagian terpenting yang ia rasa sakit.


“Sebuuut nama Allah yaaah!Allaaaah....Allaaah...Allah...Terus yaah!”Aku menuntunnya untuk menyebut Asma Allah.


Jantung ini berdebar tak menentu, dan darah terus mengalir deras membuatku semakin panik dengan keadaan ayah. Ditambah lagi suara orang yang mengetuk pintu rumah, semakin membuat perasaan tak menentu. Aku lihat jam dinding menunjukan pukul dua belas malam, tamu yang aku anggap tak wajar.


Mataku mengisyaratkan Mamah untuk membukakan pintu, sedangkan aku terus menuntun Ayah


 mengucapkan kalimatut thoyibah. Suara pintu semakin keras ia ketuk, selama belum ada yang membukakan pintu, mungkin suara itu akan bertambah dua kali lipatnya, bisa jadi hampir separuh tenaganya ia gunakan hanya untuk mengejutkan kami untuk bangun dari tidur.


Nafas ayah kian tersengkal, pikiranku semakin tak karuan, air mata ini terus menetes deras, membasahi wajah ayah yang tersengkal menahan nafasnya.


“Allaaaaaah...Allaaaah...Allaaah...terus sebut nama Allah yaah!! Jangan pergi dulu sebelum Ayah mencium Hajar Aswad, dengar itu ayah!!” Isak tangisku pun pecah, ketika melihat ayah meregang sakitnya.


Mamah pun pergi menemui tamu yang tidak lagi tahu waktu, dan aku melihat dari celah gorden yang terbuka, sepintas ada dua orang mengenakan jacket kulit berwarna hitam dan sepatu pantofel. Mamah kembali dengan wajah yang cemas.


“Haidar ada empat orang menunggumu di depan rumah.” “Siapa mereka mah?”


Aku temui mereka dan meninggalkan ayah dengan kondisi yang cukup serius, rasanya inginku bawa ke rumah sakit, tetapi dokter sudah angkat tangan dengan kodisi ayah dengan infeksi di kepala yang kian bertambah, terus dan terus bertambah. Ini serangan stroke-nya untuk yang ke lima kali, tetapi fisik ayah masih kuat.


Dan inilah keadaan yang menghimpitku, satu sisi aku harus membantu ayah melewati masa kritis seperti ini, di sisi lain aku pun mesti memenuhi panggilan dari pihak aparat kepolisian seperti yang sudah aku duga, pasti aku dikaitkan di dalamnya.


“Allah Kariiiiim! Adakah yang salah dengan jalan hidupku? Adakah dosa yang aku perbuat hingga sebegini besarnya entah ujian, cobaan atau peringatan dari-M. Jika memang ini adalah Ujian, aku akan ikhlas menerimanya kalau memang seperti ini cara Allah ingin mengangkat derajat hambanya. Jika pun ini ada lah cobaan hidupku, aku akan ikhlas jalani naskah hidup yang sebegini getirnya.  Andai ini peringatan dari Allah, akan kupanjatkan taubatku.”


Terlalu berat aku meninggalkan ayah, dimana perasaanku sebagai anak melihat orang tua sedang menghadapi masa kritis tetapi aku tinggalkan begitu saja, apa mungkin hukum tidak toleransi dengan keadaan yang sedang aku hadapi. Aku coba negosiasi untuk menangguhkan semementara waktu proses hukum yang harus aku ikuti.


“Saya Haidar, dan bapak-bapak ini dari polsek atau polres?” Aku menyambut kedatangan mereka dengan senyum, walau ke empat orang tersebut tidak nampak sama sekali membalas senyumku. Mungkin sudah menjadi peraturan atau kode etik tertentu bagi kesatuan mereka, tak ada toleransi untuk aku yang mereka cap sebagai pembunuh.


“Kami dari Polres.” Jawab pria berkumis tebal dan berbadan tegap yang berdiri di hadapanku.


“Bapak mau masuk dulu atau bagaimana enaknya?”


“Kami harus membawa anda ke kantor dan silahkan selesaikan urusan ini di sana saja, tugas kami hanya menjemput saudara!”


Tanpa perlakuan yang santun, salah satu dari mereka sudah memegang pergelangan tanganku, sangat kuat sampai aku pun tak mampu bergerak.


“Taaa...tapi pak, kondisi ayah saya sedang kritis, tidakkah bisa ditangguhakan beberapa jam saja?”


“Maaf, sekali lagi tugas kami hanya membawa anda untuk ikut ke kantor dan selesaikan urusannya disana!!”


Mereka sudah kehilangan rasa empati dan tidak ada kata toleransi lagi, mereka nampak lebih buas dari raut wajah-nya yang semula masih tidak terlihat tegang.


“Bapak-bapak bisa lihat sendiri bagaimana kondisi orang tua saya, dia sedang kritis dan ini bicara nyawa orang.”


“Andaaaa pahaaam tidak?!!! Kalau kami bilang silahkan selesaikan urusannya di kantor yaah coba minta penangguhan di kantor saja!! Masih tidak paham?!!!”


“Iya saya paham!”


Bisa saja petugas itu membalikan ucapanku, bahwa aku pun sedang terlibat kasus pembunuhan, bukankah itu bicara masalah nyawa orang juga?! Dan aku mencoba melihat kembali kondisi ayah yang semakin membuat tubuhku tak berdaya, dari mulutnya keluar darah semakin banyak.

__ADS_1


 “Mah, coba bawa ke rumah sakit! Hubungi adik-adik semua! Semoga saja tidak terjadi apa-apa! Petugas kepolisian tidak bisa menangguhkan panggilan tersebut.”


“Naaak, kenapa kamu harus harus terlibat masalah seperti ini siih?! Mamah tidak tahu harus berbuat apa...” Air mata Mamah terus membasahi pipi dan jilbab yang ia kenakan.


“Percaya mah, Haidar akan baik-baik saja dan tidak seperti apa yang Mamah duga.”


“Tapi bagaimana dengan ayah naaaak?!! Dia kritiiis!!!”


“Serahkan semua sama Allah, pasti ia tunjukan jalan yang terbaik. Aku pamit ikut mereka, semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan ayah pun kembali sehat!”


Aku hapus air mata mamah yang aku sendiri tahu bagaimana perasaannya, walau ia sendiri tidak mengerti apa yang harus ia lakukan untuk menolong putranya. Aku cium kening mereka, sebagai isyarat bahwa air mata ini kelak akan berganti senyum. Dan aku pamit untuk meninggalkan ayah yang tak tahu bagaimana nasibnya nanti, aku pasrahkan semua hanya pada Allah, walau berat hati aku lakukan, tetapi hukum sudah kehilangan ‘hati nurani’.


Diapit kedua petugas kepolisian dan dua diantranya berjaga di belakang, padahal belum tentu aku terlibat dalam pembunuhan tersebut, tetapi sudah seperti penjahat sekelas Dul Matin dan Umar Patek.


Aku rasa ini terlalu berlebihan, terlalu didramtisir atau lebih tepatnya terlalu ‘lebay’ hanya untuk memanggilku harus dikawal seperti penjahat kelas kakap. Yaah, mungkin memang sudah aturan yang dibuat dari kesatuannya, aku sendiri tidak tahu.


Tepat tengah malam aku sampai di kantor Polisi Resort Jakarta Barat, aku di masukan ke dalam sebuah ruangan, tetap di pintu masuk tertulis ruang penyidik yang tertempel di sebuah papan dengan background coklat. Setelah menyerahkan ku ke ruangan penyidik, mereka pun meninggalkanku begitu saja. Satu meja terlihat kosong, dan di sebelahku terlihat seorang remaja yang aku taksir umurnya masih belasan tahun, merunduk setelah petugas mengintrogasi dengan nada yang cukup keras. Apakah aku akan diperlakukan sama oleh mereka?


Dan ini pengalaman pertamaku masuk ke ranah hukum, tidak tanggung-tanggung pasal 340 yang nantinya menjeratku terindikasi melakukan tindak kriminal pembunuhan berencana. Yang pasti aku harus bisa mengendalikan emosi dan mampu menjawab pertanyaan para petugas penyidik yang wajahnya tidak jauh beda dengan mereka yang membawaku beberapa saat lalu. Tidak adakah cara yang lebih santun untukn memperlakukan saksi atau tersangka?!


Atau memang mereka sudah tidak percaya lagi dengan prilaku para pelaku kriminal yang bermuka dua, sehingga apa yang mereka lakukan seperti itu jadinya. Kasihan kalau ada orang yang memang belum tentu bersalah, jika diperlakukan seperti itu atau disama-ratakan.


Kini aku dihadapkan oleh tim penyidik yang siapa membredel aku dengan sejuta kata dan pertanyaan. Jemarinya siap menari di atas keyboard dan merekam semua dalam tulisan di dalam hardisk komputer. Yang pasti wajah sang penyidik tidak sama dengan SPG justru berbalik 360 derajat.


“Nama?”


“Haidar”


“Bawa


KTP?!”


Mungkin ia enggan banyak bertanya identitas lengkapku, hingga akhirnya memilih Kartu Tanda Penduduk untuk menulis data diri dalam form yang memang sudah disiapkan dan diformat di dalam new page, tinggal memasukan data. Dan barulah, dilanjutkan lagi menyudutkan saksi untuk mengaku jika memang bersalah.


Azas praduga tak bersalah yang mereka susupkan, sehingga bagi orang yang baru pertama kali duduk di kursi panas ini, perlu kesiapan mental yang cukup. Dan meraka mulai memanuverku dengan pertanyaan ini.


“Kenal dengan JA sudah berapa lama?”


“Maksud bapak?! Siapa J.A”


“Junaidi Abdillah.”


Rupanya JA itu, nama asli dari Junaidi Abdillah, dia sahabatku, aku tak menyangka ia pelaku dari ini semua. Tetapi bagaimana bisa ia lakukan, dan aku kenal betul siapa dia, hanya seorang yang selalu berkutat dengan dunia website, bahasa program dan sama sepertiku terlalu asik di depan layar laptop, bagimana bisa ia melakukan pembunuhan ini? Aku belum yakin dan mustahil menurut akalku.


“Dia sahabat saya pak.”


“Dan menurut pengakuannya, kamu pun mengenal korban?!”


“Tepatnya pernah ketemu dan itu dalam satu kejadian yang memang aib untuk saya ceritakan.”


“Dimana anda bisa mengatakan aib yang tidak mungkin anda ceritakan sedangkan hukum menuntutmu untuk jujur. Apa anda kenal dengan saudari Amelia?”


“Baiklah akan aku ceritakan semuanya, dari awal hingga akhir. Amel itu dahulu istri saya, entah apa yang menjadi alasannya hingga ia tergoda dengan seorang pria yang saya tahu ia pernah cerita tentang pria bernama Luis, semula saya tidak berpikiran yang macem-macem, bagi saya Luis itu masa lalu dari Amelia.


Tanpa sepengetahuan saya, ternyata mereka masih menjalin hubungan, hingga satu hari saya temukan mereka sedang melakukan hubungan intim di kamar kost, dan Junaidi Abdillah dia sahabat sekaligus tempat saya berbagi cerita, dan ia pun tahu semua apa yang sedang saya alami, tak ada batasan bagi kami untuk tahu satu  sama lain. Ia sering menasihati saya dalam kebaikan dan kesabaran, begitu juga sebaliknya.”


“Tapi apakah anda tahu kalau sahabat anda itu seorang pembunuh?!”


“Tidak sama sekali, dan tidak pernah terbesit diotaknya untuk membunuh.”


“Tetapi kenyataannya?!!Aah semua penjahat pasti bisa bicara seperti itu, khilaf-lah, kepepet dan apa pun alibinya. Bagi kami pembunuh yaaah tetap pembunuh, sekalipun dia ahli ibadah!!” Pria berkumis tebal itu membanting tumpukan kertas, aku tak tahu apa maksudnya, menggertakkah atau dalam rangka menjatuhkan mentalku. Aku tak gentar untuk berbicara fakta yang sebenarnya dan tidak ada yang aku tambah dan kurangi.


Aku coba maklum dengan tugas mereka, memang sudah banyak orang yang berpura-pura baik tetapi hatinya menyimpan prilaku buruk, dan membutuhkan waktu lama untuk memahami karakter seseorang. Ada juga yang berpenampilan rebel tetapi ia memiliki hati yang tulus untuk saling berbagi. Ada juga yang memang perangainya buruk lalu ia sembunyikan dalam gincu senyum yang aku anggap itu palsu.


Tiga jam berlalu, aku tidak diperkenankan menggunakan handphone, di pikiranku hanya ada ayah dengan erangan sakitnya, aku mau tahu bagaimana kondisinya saat ini. Tetapi pihak penyidik bersih kukuh melarangku untuk melakukan komunikasi dengan siapa pun selagi masa penyidikan.


“Kamu lelaki Haidar, untuk apa menangis. Apakah air mata dapat merubah jalan takdirmu?”Bisikku menahan air mata yang hampir tumpah.

__ADS_1


Untuk pemeriksaan lebih lanjut, aku ditahan oleh pihak kepolisian, rasanya sudah jelas aku paparkan keterangan yang tidak dibuat-buat. Tanpa ada paksaan dari pihak mana pun juga, tidak ada intimidasi dari siapa pun, dan memang apa adanya. Tetapi mengapa aku masih harus mendekam di ruang tahanan?!


__ADS_2