TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Bisik Hati Kecil,”Berdamailah Dengan Takdir”


__ADS_3

Diantara Sujud aku bersimpuh dengan segala keterbatasan, jika aku berdo’a hanya untuk menceritakan tentang luka yang kini mulai meradang, memerah dan bahkan memarnya sudah membuatku harus pasrah menikmati sakit-nya, mengeluh pun aku rasa tetap saja akan terasa nyerih dan membuatku tetap tidak nyaman, aku malu. Biarlah aku kabarkan pada Allah tentang bahagianya ku saja, sebab tanpa bercerita pun Ia sudah tahu, tentang air mata. Seperti itulah ketika aku merasakan sakit-nya, dan aku serahkan semua urusanku kepada Allah dengan jalan Tawakal.


Aku pun kembali merajut malam-malamku sendiri, dan bertanya pada takdir yang membawaku untuk meresapi disetiap hembusan angin malam yang akan membawaku ke dalam mihrab cinta, aku larut dalam dzikir dan kidung do’a berharap sampailah kabar ceritaku di Al-Lauh Al-Mahfuzh disana-lah peruntukan-ku diperhitungkan, termasuk rumah tangga-ku yang sudah di ujung tanduk, dan tak tahu lagi apa yang Allah tuliskan dalam Kitabbim Mubiin. Kitab apa itu ?


Kitab dimana Allah telah mencatat segala kejadian-kejadian di dalam Lauh Mahfuzh, dari permulaan zaman sampai akhir zaman. Baik berupa kisah nabi dan rasul, azab yang menimpa suatu kaum, pengetahuan tentang wahyu para nabi dan rasul, tentang penciptaan alam semesta dan lain-lain. Sekalipun jika kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh.


Asal kamu tahu Haidar bahwa Takdir itu bisa kau rubah!


“Seberapa hebatnya manusia mampu merubah takdir tersebut, sedangkan bangsa Jin dan Syaitan saja tidak Allah izinkan untuk mengintip kerajaan langit. Bagiamana bisa aku yang hanya manusia biasa, yang perlu dicatat bahwa maksiatku lebih banyak dari pada amal dan ibadahku.”


Heh! Haidar, kamu jangan menjustifikasi atau berani ambil kesimpulan dari praduga yang kamu kira.Kamu tidak tahu bahwa semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di Lahul Mahfuz, bisa saja dihapus dan diubah oleh Allah atau Allah menetapkan sesuai dengan kehendak-Nya.


“Tetapi itu tidak logis dalam penilaianku, karena keterbatasan yang kita miliki bukan?”


Tetapi kamu tidak pernah tahu, ada yang mampu kamu rubah!Pahami itu Haidar!!

__ADS_1


“Darimana takdir manusia itu bisa diubah atau dihapus oleh Allah, sedangkan belum sampai


kepada-ku ilmu tentang itu.”


 Sebelum jatuh-nya Qadr ada Qadha yang bisa kamu pinta kepada Allah, Rabb-mu yang mengatur segala urusan hambanya.


“Dengan apa, bisa merubah takdir-ku?! Sedangkan hanya jiwa yang suci saja tak mampu merubah itu semua, bukan?”


Siapa bilang?! Rasulullah sendiri yang membuat pernyataan itu, "tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik"


Jelas, itu pun jika kamu mampu juga berprasangka baik pada Allah. Ingat! Sekalipun engkau berprasangka buruk pun bagi Allah itu tidak penting. Tetapi kembali lagi, itu hanya menurut kacamataku, biarlah aku yang menjadi orang pertama mendengar sedih-mu, dan akan senang jika mendengar kamu bahagia, itu saja. Selebihnya Allah-lah juga yang mengembalikan kita semua, dan Allah-lah jua yang akan memperhitungkan segala amal kita, walau yang kita cari bukan semata-mata pahala, atau memburu syurga dan berama-ramai memadamkan neraka, bukan itu?!


Haidar, hampir separuh kisah-mu sudah aku dengar, mulai dari perkenalan kamu dengan gadis yang semula aku meminta-mu untuk mempertimbangkan niat baik-mu menikah dengaan wanita asal Palembang, dan aku tahu niat baik itu, karena aku sudah merasakan sikap dan tingkah-mu Haidar, maka tidak perlu aku membelah hati-mu untuk tahu seberapa bersih dan tulusnya.


Semoga Allah membalas niat baik-mu yang menikah karena Allah. Dan kamu sudah buktikan sendiri, bahwa rezeki Allah Maha Luas, ketika kamu memutuskan untuk menikah, bukan?

__ADS_1


“Yah, kamu pun tahu itu. Aku menikah hanya bermodalkan niat tulus, sampai dalam waktu satu bulan mampu mengumpulkan uang puluhan juta rupiah, yang kamu pun tahu aku hanya seorang pengangguran waktu itu, waktu pertama kali aku niatkan untuk menikah dengan Amel. “


Dan satu hal Haidar, jangan pernah engkau menyesal dengan keyakinan-mu hanya gara-gara pengalaman pahit yang kamu alami, cukuplah simpan rapih-rapih dalam bilik pengalaman hidup yang tidak mudah dijabarkan dan dihitung memakai rumus matematika sekali pun.


Aku yakin Al-Jabar sendiri tak mampu untuk merinci semua keajaiban-keajaiban tangan Tuhan yang membantumu, mulai dari proses pernikahan sampai tabir rahasia yang Allah singkap untuk-mu, bersyukurlah tidak semua orang bisa seperti kamu, itu bertanda Allah begitu sayang dan jangan kamu khianati rasa sayang-Nya itu, dan tidak banyak orang yang bisa dapatkan itu.


Haidar, jika seorang pria itu selingkuh memang tidak begitu mahir menyembunyikan-nya karena sifatnya yang ceroboh dan hampir rata-rata dialami seorang suami. Tetapi tidak demikian dengan seorang wanita atau juga istri, tidak mudah pria bisa mengetahui-nya disamping sikapnya yang acuh tak acuh, ditambah lagi banyak urusan yang lebih penting dibandingkan harus memata-matai pasangannya.


Tidak dengan kamu Haidar, Allah menampakan semua-nya tidak tanggung-tanggu hanya dengan resep do’a Kumayl dan Ratib Al-Haddad, serta amalan sholat sunah yang terbilang mampu merubah ketetapan takdir, tanpa kamu sadari itu sudah membuktikan bahwa takdir itu bisa dirubah dengan do’a. Eh, dimana kamu menemukan istri-mu sedang berasik-asikan dengan pria itu?


“Di kost-an bilangan pusat hiburan di Barat Jakarta.”


Dan satu yang aku banggakan dari kamu Haidar, ketika kamu mampu menempatakan serta mengendalikan hawa nafsu mu yang mungkin mudah bagi-mu untuk menghabisi nyawa pria itu, tetapi kamu sendiri begitu mudah-nya memaafkan, mungkin kamu punya alasan tersendiri untuk tidak menghukum mereka.


“Simple, biarlah Allah yang menghakimi, dengan begitu akan lebih membuatku mampu berlapang dada. Dan aku berpikir panjang, ini negara hukum jika aku habisi salah satu dari mereka, apa dengan begitu urusan kelar? Tidak, justru bukan saja aku yang merasakan penderitaan hidup, tetapi akan bertampak ke Ayah yang sedang sakit, dan sering mengeluh tidak kuat lagi dan meminta kepada Allah untuk diambil nyawa- nya. Terus, apa dengan aku membunuh, urusan ini sampai di dunia saja? Tidak, justru hisab Allah yang akan mengejarku dan menyeretku ke dalam api neraka, khalidina fiha abada. Lalu bagimana dengan mimpiku untuk membawa Ayah dan Mamah untuk menjadi tamu Allah, belum lagi dengan karyaku yang OTW untuk diangkat ke layar lebar?! Bisa-bisa berantakan urusan semua, hanya kasus seperti ini...”

__ADS_1


Kapan novel-mu diangkat ke layar lebar? Pasti ada mimpi besar yang sedang kamu rencakan?! Untuk yang satu ini kamu belum ceritakan.


__ADS_2