TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Apa Kabar Merpatiku?


__ADS_3

Selamat datang di pesonan Candra Di Muka, ku hirup dalam-dalam kota berfilosofi Sanghyang Wisesa ini, di tempat ini puluhan musisi Indonesia dilahirkan, pusat trand dan fashion yang lebih dahulu populer dibandingkan Jakarta sendiri yang merupakan ibu kota. Bandung, kota kedua setelah Yogyakarta yang aku harapkan sekali untuk bermukim di tempat ini, kota yang menjadi hadiah dari Herman Willem Daendels, seorang Gubernur Hindia-Belanda yang memprakarsai kota ini untuk dijadikan pemukiman penduduk.


Begitu asri dan harmonis, alam serta pesona keindahan lainnya yang dimiliki tempat lahir dan wafatnya sastrawan Indonesia, taruh saja seperti Dewi Lestari Simangunsong kelahiran Bandung, Abdul Moeis yang menutup usianya di kota kembang tersebut. Kini aku bukan hanya transit tetapi menetap sementara waktu, untuk project film yang hampir semua lokasinya di ambil di tempat ini. Selebihnya Jakarta dan untuk Luar Negeri, Jerman-Masjidil Haram.


Di kota ini-lah aku memulai membuka lembaran baru, di sebuah Vila milik salah satu produser, fasilitas yang begitu lengkap, mulai dari home theater, billiard, kolam renang dan makanan serta minuman lengkap di lemari es. Lantai-nya saja dari marmer berukuran besar, kamar tidurnya terlihat begitu mewah, televisi plasma, play statsion, tv cable dan lain sebagainya. Aku tidak biasa dengan kemewahan seperti ini, boleh dikatakan aku tinggal di Ibu Kota tetapi minim fasilitas.


Kamar mandi dengan kolam besar yang setelah aku googling itu yang disebut bathup, dua kran lengkap air panas dan dingin, serta kran panjang yang airnya mengalir seperti air terjun, dan kalau itu aku tahu, shower namanya. Sayang masih ada yang kurang dari kamar ini, aku tidak tahu yang mana Kiblat dan tidak aku temukan Sajadah, Al-Qur’an serta tasbih. Setelah aku meminta kepada dua orang pembantu rumah tangga yang memang sengaja disiapkan untukku, barulah mereka menyediahkannya.


Di ruang kerjaku, terlihat dua komputer dengan monitor besar dan satu laptop ber-merk yang aku tahu harganya itu belasan juta. Sound system lengkap, tetapi tidak ada televisi yang sengaja tidak disediakan di ruangan ini, mungkin mereka ingin aku benar-benar kerja. Tetapi aku merasa kesepian tiap dinding seakan melukiskan wajah kusam mamah, dan adik-adikku dengan bingkai emas.


“Andai saja mereka ada di sini.”


Sepintas terbesit wajah ayah dengan senyumnya terus memberikan semangat, seperti dia berbicara, “ Sudah lupakan urusan di rumah, ini-lah saatnya kamu buktikan pada dunia bahwa anak ayah itu penulis hebat.” Air mata ini tanpa sadar sudah membasahi pipi dan kerah baju-ku, ada penyesalan yang tersisa.


Andai saja ayah masih hidup, aku mau ia merasakan empuk-nya kasur mewah karena badannya terbiasa tidur di lantai hanya beralaskan kasur tipis yang jahitannya sudah terlepas. Di kamarku kini selimutnya saja tebal dan halus, telintas lagi ketika ayah menyedekapkan tangan dengan jemari yang mengapit di kedua ketiaknya, karena teramat dinginnya angin malam.


“ Wahai pemilik rahasia kematian dan raja di alam barzakh, terima-lah segala amal kebaikan ayahanda yang kini berselimut kain kafan seorang diri. Temani dan peluk-lah ia dengan Rahman-Mu yang menyelimuti segala sesuatu, Jangan Kau siksa tubuh yang kini tak berdaya, lantaran kesalahan yang disengaja atau tidak ia sengaja semasa hidup beliau. Gugurkan-lah dosa-dosanya dengan segala kebaikan yang sudah ia tanamkan semasa hidupnya.


Illahi...


Hapus air mata-nya ketika ia rindu dengan orang-orang yang ia sayang selama hidupnya Jangan biarkan ia murung, meratapi kesendirianya.


Temani dan hiburlah ia disaat kabut hitam menyelimuti wajah-nya, yang beberapa saat nanti akan dihujani air mata. Jagalah ia seperti ia menjagaku dari kejahatan dan tangan-tangan usil ketika aku kecil dulu.


Nafkahi-lah ia dengan Rahmat-Mu, jangan biarkan ia merasakan kelaparan dari maghfirah-Mu.


Seperti ia yang tak akan membiarkanku merintih kelaparan semasa hidupnya.


Bersihkan tubuh-nya dari dosa dan nista sama seperti ia sering membersihkan tubuhku ketika berlumuran debu dan noda sehabisku bermain.


Ya Rabb...


Sampaikan salam rindu-ku untuk-nya dalam bait-bait do’aku yang aku rintihkan kepada-Mu, berikan kabar pada-nya, kini putra yang ia cintai menitih karir-nya dan aku sampaikan pada-Mu


Ya Allah sembah sujudku atas karunia yang Engkau berikan mengantarkan hamba untuk menjadi Muslim yang berguna untuk kemaslahatan umat, hingga Kau angkat derajatku seperti sekarang ini.


ROBBI AUZI'NII AN


ASYKURO NI'MATAKALLATII AN'AMTA 'ALAYYA


“ Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku.”

__ADS_1


Kini tak ada lagi tempatku berbagi cerita, yang selalu setia menemani malam-malamku ketika kegelisahan menusuk hati, disaat kesepian mulai membunuh, dan dikala kerinduan menusuk di setiap detup jantung ini. Aku merentas mimpiku seorang diri, aku mencari penawar penghapus kesendirianku kepiliuan yang aku rajut di keheningan malam, terbesit bibir mungil dan mata coklat yang menyembunyikan senyum di balik jilbab orange-nya.


“Apa kabar-mu Vega? Merpati tanpa sayapku...” Gumamku menatap bintang di balik jendela kamar.


Apakah ia merasakan juga seperti aku yang kini menggigil menahan kerinduan, ini-lah waktu istirahatku barang sejenak untuk menyelesaikan ratusan lembar skenario full produksi. Dan aku mencoba menghubungi Vega, tetapi hanphone-nya tidak aktif. Selang lima menit sekali aku kembali menghubunginya, tetap saja hasilnya nihil dan tidak ada kabar. Status di facebook, twitter, contact BB, whats app-nya pun tidak pernah diganti. Ada apa dengannya?


Dua nomor yang aku punya pun tidak tidak ada yang aktif, semakin membuatku bertambah gelisah. Tetapi aku harus profesional tidak boleh menganggu konsentrasiku menyelesaikan tugas ini, aku harus memilah masalah-masalah yang bisa menghilangkan feeling ku dalam menulis. Jika ada salah satu secene ada yang salah, maka bisa berdampak pada kualitas produksi.


Nah, di dalam ruang kerjaku ada sebaris aturan yang harus aku ta’ati, mulai dari masalah penggunaan handphone, jam istirahat serta hari libur untuk menulis, walau peraturan itu dibuat sebagai acuan saja dan tidak terlalu baku, tetapi mesti aku ikuti.


Taregetku menyelesaikan skenario full film ini selama satu bulan, walau yang ditargetkan dari pihak production house selama dua bulan, selambat-lambatnya satu bulan setengah atau 45 hari kerja. Semoga aku bisa mencapai target tersebut, agar film ini segera digarap. Dan aku mulai tidak sabar untuk segera pergi ke Jerman serta pelesiran ke kota Milan-Italia ingin sekali aku rasakan pesona kota lahirnya tim Panser serta arsitektur bangunan yang sunggu memberikan daya tarik tersendiri untukku. Seperti itu juga aku memandang Vega dan berusaha bertahan dengan hubungan yang hanya sebatas teman baik saja, aku mencoba membuatnya nyaman dan masih mencari tahu alasan ia memutuskan ikatan hati kami.


Apa-kah ia sudah ada yang lain? Atau jangan-jangan ia berusaha menghindar dariku atau ada tekanan lain sehingga ia tidak meneruskan hubungan ini? Haruskah aku bertahan?! Hingga akhirnya aku pun seperti lilin yang berusaha menerangi walau pada kenyataannya ia lebur dan termakan api-nya sendiri?! Terserah saja mana yang menurut Vega yang terbaik, sekalipun ia sudah ada yang memiliki.


Dua malam berturut-turut aku berharap ada tanda-tanda bahwa memang ia masih ada untukku, dan untuk kesekian kalinya aku memperhatikan status di jejaring sosialnya tidak terlihat kabar berita tentang gadis yang tiba-tiba saja menghilang, Kekhawatiran ini semakin memuncah dan aku pastikan bahwa ia sudah tidak ada lagi untukku.


“Satu persatu aku harus hapus dan pasti bisa!” Ucapku menyemangati untuk menghapus semua cerita tentang Vega dan aku mencoba memberanikan diri untuk menghapus akun, nomor handphone-nya yang aku duga ia sudah mengganti nomor yang baru.


Perang batin yang teramat sangat ketika aku sambil memejamkan mata memulai menghapus nama- nya di akun jejaring sosial milikku. Dimulai saat aku berhasil menghapus akun facebook-nya dari pertemanan denganku, Ketika aku mencoba untuk menghapus contact BB-nya getaran bertanda ada yang mencari perhatian lebih, pasti kalau ada vibrate seperti ini ada yang nge-PING!!! Aku pun mencari tahu, rupanya itu dari Vega yang rencananya aku mau hapus contact BB-nya. Semula aku tidak mau menjawab, tetapi sapaan dia pertama membuatku tak biasa untuk melakukan hal itu.


“Kamu sehat?”


“Alhamdulillah. Kamu?!” Aku jawab VIA Chat di BB.


“Kemana aja?!!” Tanyaku


“HP-nya bablas ketinggalan, aku terburu-buru.”


Apa iya? Sampai sebegitunya lupa dan bukannya handphone sekarang menjadi alat komunikasi yang vital. Kenapa dengan mudah-nya ia tinggalkan?! Atau bisa saja ada keperluan mendadak sampai- sampai dia lupa membawanya. Dan aku pun percaya dengan apa yang ia katakan, walau agak sedikit tidak logis saja.


Obrolan kita VIA chating semakin panjang dan Vega memang paling kuat, tidak pernah berhenti untuk berbicara panjang lebar bukan saja di Blackberry Messenger tetapi di jejaring sosial pun ia kuat walau keadaan batrainya low batt tetapi sambil di-carger ia teruskan obrolan sebelum ada kata, “ Aku istirahat dulu yah?” Atau terpotong dengan adzan sholat dan makan, paling itu saja yang sering aku temukan. Walau sesekali pernah chating serius hingga tak terasa hampir setengah harian, hanya membahas masa lalu-nya saja.


“Aku ini dari keluarga broken, tidak seperti keluarga yang lain. Mama-papah sering berkelahi karena dicurugai papah memiliki pasangan lain aku nggak mau tahu.


Sifat papa yang begitu keras, cuek dan tidak pernah memperlakukan dirinya sebagai


imam sekaligus seorang kepala keluarga.”


“Terus biaya kuliah kamu darimana?” “Biaya sendiri.”


“Kok bisa?”

__ADS_1


“Yah aku mau mandiri. Aku cari uang sebagai SPG, usher dan modeling untuk biaya kuliah.”


Merasa ini adalah obrolan serius dan sudah memasuki kehidupan pribadinya, secepat mungkin aku langsung menghubunginya, karena aku merasa inilah saatnya mencari tahu sisi lain dan latar belakang gadis yang membuatku penasaran. Dan ia pun hanyut dalam kisah masa lalu dan yang sedang ia hadapi.


“Hancur-nya hidupku itu ketika memasuki dunia SPG dan Usher, sudah terbiasa dengan kehidupan malam, setiap pulang sempoyongan, mabuk setiap malam dan masa-masa seperti ini aku sebut sebagai zaman Jahiliyahku dulu. Hahahahaha...”


“Lalu kamu bisa sampai jadi pramugari?”


“Dari situ aku berusaha hijrah mendaftarkan diri menjadi pramugari, karena saking ingin dapat penghasilan yang lebih dari apa yang sudah aku dapatkan. Lalu ikutlah mendaftarkan diri sebagai Pramugari di maskapai nasional, tetapi aku gagal di piskotest dan ditawarkan sebagai pessenger service assistance, semacem checker quality control, lalu aku move ke lounge sebagai check baggage di executive class.”


“Teruuus masuk ke Merpati?”Semakin membuatku penasaran.


“Naaaah, disaat aku stay di checkin counter yang kebetulan bersebelahan dengan counter Merpati, karyawannya kasih aku info kalau Merpati sedang membutuhkan lowongan sebagai pramugari. Nyolong-nyolong bolos kerja, padahal aku apply untuk mengikuti ujian masuk, sampai pas aku sudah mau mulai pendidikan, baruuu deeh aku quit.”


“Alasan kamu keluar dari pramugari?”


“Aku banyak yang bully.”


“Hanya itu?” Tanyaku yang mulai menghujaninya dengan pertanyaan. Tidak seperti di awal, ketika pertanyaan ini ia mulai terlihat kikuk dan berpikir lama. Aku mencoba mencari pertanyaan lain yang lebih ringan.


“Siapa yang Bully?! Di-bully seperti apa?”


“Senior. Di kunci di dalam kamar dan nggak boleh main atau makan di lounge.”


“Heeeem ini....tidak wajar dan pasti senior punya alasan!”


“Hahahaha...aku...pacaran sama pilot.”


“Panteees!!”


Stop! Aku tidak mempertanyakan lebih detail lagi untuk masalah satu ini dan kembali ke pertanyaan yang cukup serius, selain itu pasti ada alasan sampai Vega benar-benar resign dari Merpati. Pelan- pelan ia terbuka.


“Ok. Aku sudah ngantuk. Boleh aku tidur duluan?”


“Oooh, yaudah.”


Obrolan kami terputus sampai di situ, dan aku kembali meneruskan kewajibanku untuk menyelesaikan skenario yang sudah memasuki bagian klimaks, aku balut dengan bumbu air mata harus detail aku menerangkan bagian-bagian yang memancing emosi penonton nantinya.


Sampai ke dalam sisi romantis serta motivasi seorang Syahrel, pemeran utama dalam film tersebut. Sampai ending-nya aku jatuhkan bunga kamboja tepat di atas papan nisan.


Ini bagian tersulitku untuk menyelesaikan tugas dengan kondisi hati yang sampai sekarang tidak menemukan jawaban tentang Vega, Merpatiku. Yang kalau aku tanya, “ Aku ini siapa kamu?” dia selalu membalas dengan ucapan,” Nggaaak tauuu!” tetapi jika aku memutuskan untuk pergi dari hidup-nya, ia meminta untukku tetap di sisinya. Semakin membuatku tidak mengerti apa maksud dari ini semua?! Aku pastikan tidak ada cowok yang dekat dengannya.

__ADS_1


Aku berani memastikan itu, karena memang setiap kali aku mencoba membahas masalah hati, Vega selalu mengungkit masa lalu-nya, yang sudah dua kali gagal untuk menikah. Dan aku yakin, hal inilah yang membuatnya takut untuk kehilangan orang yang ia sayang ke tiga kalinya.


“Aaah, mungkin ini hanya Pede-nya aku saja dan mustahil aku bisa dapatkan dia seutuhnya. Mengingat mantanya saja seorang pembaca berita di salah satu stasiun televisi milik gorup Bakrie.”


__ADS_2