TAKDIR TAK SALAH

TAKDIR TAK SALAH
Umur-Umur Panik


__ADS_3

Empat tahun bukan-lah waktu yang singkat untuk Haidar tetap bertahan dalam kesendirian, tanpa seorang wanita pun transit di hati ini.


Dan empat tahun itu waktu yang cukup lama bagi seorang Haidar membiarkan dirinya sendiri, biasanya ia tidak sanggup hidup tanpa ada wanita yang memperhatikan dan memanjakannya meskipun hanya dalam bualan.


Yah, Haidar tetaplah lelaki normal dibalik keras sikap dan tubuh seperti lelaki pada umumnya, tetapi hatinya yang terkadang butuh sanjungan, suara lembut yang memanggil namanya manja dan menggelitik di telinga.


Sekali pun semua-nya itu hanya kepura-puraan semata, hanya sebagai pelengkap dan legalitas, bahwa kita sedang pacaran.


Jadi, yaaah selayaknya orang berpacaran-lah, ada yang selalu memperhatikan dan bertanya,”sudah makan belum? Jangan telat makan yaah, nanti sakit loooh!”


Logikanya mana ada orang yang bisa kenyang dan terisi perut-nya hanya gara-gara mendengar suara si dia dari balik membran phonecell, ingat loh hanya suara! Bukan sepiring Batagor atau Siomay' , walau kita sadar ‘tidak mengenyangkan’. Itulah Cinta, yang terkadang membuat manusia berpikir di tidak wajar.


Empat tahun bukan lah waktu yang cepat hanya untuk membiarkan hati seorang Haidar kosong, belum lagi usianya yang tak lagi mudah, menjadi ketakutan sendiri untuknya.


Ketika lelaki se-umuran-nya begitu asyik bercanda dengan putra-putrinya yang lucu, dan disaat lelaki seusia Haidar tengah asyik sholat berjama’ah dengan istri dan anak-anaknya.


Sedangkan Haidar? Hanya mencari dan terus mencari siapa gerangan wanita yang mampu menghapus kerinduan masa-masa itu dan ada yang mengkhawarirkannya.


Keinginannya untuk melepas kesendiriannya tak lain, ia ingin menyempurnakan separuh agama, walau di luar sana masih banyak lelaki belum siap untuk melepas lajang-nya, mereka berkelut dan berdalih dengan karir-nya, bisnis-nya.


Mereka sembunyi dibalik kata ‘belum mapan’ padahal ‘Usia-mu sudah tak sanggup lagi menunggu jodoh.’


Sebelum-nya, empat tahun lalu memang ada wanita yang hadir dalam hidupnya, dia berdarah Chinese, dari orang tua kelahiran Bangka Belitung. Gadis itu dancer profesional, anak-nya baik dan yang terpenting dia tidak rasis.


Hampir tiga tahun ia jalani hubungan ini, namun fitrah cinta terhalang dinding yang tinggi, hanya beda keyakinan, hingga akhirnya ia memilih melabuhkan hatinya dengan pria asal Kualalumpur.

__ADS_1


Rasanya ia belum siap untuk merasakan sakitnya patah hati, dan belum sanggup harus menahan cemburu serta rindu, yang menjadi satu paket ketika lisan ini berani untuk berkomitmen dengan kata cinta.


Mungkin sebagian dari remaja juga merasakan hal yang sama, ketika sudah jenuh dengan hubungan yang tidak jelas dan tanpa arah.


Disamping terus berusaha untuk mencari yang terbaik, selama menunggu, mungkin alangkah baiknya ia isi dengan menulis.


Manusia hanya bisa berusaha, selebihnya biar-lah Allah yang menentukannya bukan? Haidar hanya memiliki keyakinan bahwa sekelas Andrea Hirata pun awal-nya tidak menyangka akan menjadi penulis terkenal dengan novel ‘Laskar Pelangi’ yang cukup fenomenal.


Pundi-pundi rupiah sudah ia dapatkan, dan sudah tidak sulit lagi menjual tulisan-tulisannya kepada penerbit, sekalipun itu ‘sampah’ dari karya yang seharusnya ia buang, pasti masih ada penerbit yang masih mau menerima.


Tidak seperti dirinya yang masih tak beda-nya dengan tukang asongan, yang menyodorkan barang dangangannya.


Persis dengan apa yang Haidar lakukan, menawarkan bundelan kertas yang sudah dijilid, mengemis harapan, semoga naskah yang dibawanya ini diterima dan diterbitkan.


Dari kantor penerbit satu ke penerbit lainnya, tapi apa yang aku dapat-kan? Hanya secarik kertas yang di atasnya tertulis, ‘tanda terima naskah’ diketik dengan font Arial Black.


Dalam kurun waktu yang tak pasti hanya untuk menanti sesuatu yang tidak pasti


terikat dalam ikatan semu, seperti percikan embun pagi yang disaat matahari terbit, lalu terbias dari panasnya, seperti itu-lah harapan yang sering aku terima dari setiap penerbit.


Mau tidak mau, Haidar harus pasrah dengan keadaan, beginilah nasib jadi penulis di negeri ini.


Ada ratusan penulis di negeri ini, salah satu-nya seorang wanita yang usia-nya sudah senja, dikalangan sastrawati dia-lah yang paling konsisten dengan karir menulisnya, bayangkan gara-gara buku ia bisa keliling dunia, padahal kondisi kesehatan beliau cukup memperihatinkan.


Diusia ‘menjelang maghrib’ tetap saja jiwa dan semangatnya seperti fajar shadiq selepas Subuh, penuh harapan, dari beliau-lah Haidar diam-diam memperhatikan penulis senior itu di media sosial, untuk menyemangati hidup, walau merasa malu dengan-nya, ia saja yang sudah mempunyai cucu masih sanggup berkarya. Plus sakit yang dirasa cukup serius, sudah belasan tahun ia harus rutin transfusi darah.

__ADS_1


Disaat vonis ‘tak cukup banyak umur’ ia dapatkan dari seorang profesor yang menekuni spesialis penyakit dalam, khususnya Talasemia yang sudah meradan di tubuh seringkih itu.


Bukan halangan ia untuk menulis ratusan karya, semua gandre, rekan-rekan forum penulis memanggilnya Bunda, ia paling keritis menanggapi setiap bualan dan guyonan, mungkin ia tak terbiasa dengan candaan seperti itu, mungkin ia sudah khatam membaca, “Adabul Insan Fiil Islam.” Kitab dengan huruf Arab Melayu yang menjelaskan etika manusia terhadap Tuhan, agama dan sesama manusia lainnya.


Sering manuver kritikan yang terima ketika salah berucap atau bercanda berlebihan, ia tak segan-segan menegur.


Pokok-nya cukup panjang ia berceramah dan mengkritisi apa pun yang melekat diri ini. Bagaimana pun Bunda menyimpan hati yang baik, itu terlihat dari bagaimana ia mau memberikan sumbang saran dan selalu mengajak siapa pun orang yang ia kenal untuk belajar dan mau menulis.


Yaaah, dikalangan penggiat sastra dan penerbit yang sudah mengenal sosok penulis yang kita kenal sering muncul nama-nya di cerita dan majalah anak.


Ibu dua anak ini, ia tidak pernah membeda-bedakan entah itu penulis pemula atau pun senior, ia memperlakukan sama. Sikap rendah hati kepada tetua di kalangan sastra, sedangkan bagi mereka yang memang mau belajar menulis, ia tak segan-segan mau membimbing, walau akktifitasnya begitu padat.


Meskipun karya-nya sudah hampir sering kita lihat di toko-toko buku, tetapi ia tidak pernah sombong dan tak ingin ‘dielu-elukan’.


Tidak seperti penulis-penulis lain, yang baru masuk penerbit besar dengan satu dua naskah saja sudah malas untuk berbagi ilmu dengan rekan-rekan seprofesi yang masih terlalu dini mengenal dunia sastra.


Seharusnya pemerintah memikirkan untuk membuat satu wadah yang mampu menyuarakan masalah-masalah para sastrawan atau penggiat aksara, sehingga tidak lagi terdengar ada penulis yang meringkih sendirian di rumah sakit, tanpa memiliki biaya.


Tak akan ada lagi sastrawan yang harus meregang nyawa menyambut kedatangan maut seorang diri. Seharusnya sastrawan dan penggiat literasi menjadi selebritis dan layak untuk berjalan di atas karpet merah.


Tidak ada lagi sastrawan berkeluh kesah dengan pelayanan kedokteran umum serta beberapa foto dirinya sedang transfusi darah, cukup membuat batin ini protes dengan keadaan seperti ini, orang yang dikenal sepuh di kaki langit dan bibir sastra Indonesia itu, harus meregang sakitnya seorang diri.


“Kok pemerintah tega! Tidak memperhatikan para sastrawan di Indonesia yang harus rela merintis dan mengharumkan perkembangan dunia yang tidak semua orang ingin menekuni profesi ini.


Dimana apresiasi bangsa ini untuk para sastrawan yang dunia luar menghargai, tetapi di negeri sendiri mereka seperti pengemis, yang harus mengais pundi-pundi royalty buku yang tak seberapa itu dan kalau mau menagih- nya harus mengemis terlebih dahulu ke meja pimpinan perusahaan?!!

__ADS_1


Hingga tak ada lagi sastrawan seperti Andi wasis yang merentih sakit-nya di Rumah Sakit sendiri karena kanker paru-paru yang dideritanya”


__ADS_2