
Hangat mentari pagi menerpa kulit kuning langsat milik Rista, gadis yang kini berusia dua puluh lima tahun. Banyak keindahan di kota kelahiran nya itu, kota yang terkenal akan industri perminyakan, juga kota yang memang menyimpan suka duka hidupnya.
Tuk, suara tongkat. Gadis itu berusaha berdiri dan mencari jalan untuk keluar dari kamarnya. Rista memang pengguna tongkat dia tidak lumpuh. Hanya saja, gadis dengan rambut sepunggung itu sudah memiliki cacat sejak lahir. Ya, Rista Alfarisi, gadis yang memang sudah buta sejak lahir karena kelahirannya yang prematur.
"kakak!!" Teriak seorang gadis berusia enam tahun lebih muda darinya.
Gadis itu dengan segera memeluk Rista, membuat sang kakak kaget karena tingkah nya, meski memang Diana selalu begitu. Tapi, entahlah kebutaan yang dirasa Rista tetap membuat nya kaget, kala sang adik memeluknya secara tiba tiba.
"kakak cantik deh, udah siapkan kak?" Tanya Diana dengan senyum manis terukir dibibirnya.
Diana sendiri adalah gadis yang bisa dibilang sempurna. Dia tak memiliki cacat seperti kakaknya, Diana memiliki tubuh proporsional juga rambut yang ikal dan panjang, bahkan gadis itu mewarnai rambut panjangnya itu. Bisa dibilang Diana lebih bandel ketimbang Rista. Diana gadis bawel dengan berbagai sifat manja.
Dengan senyum yang tak kalah manis, Rista menjawab sembari meraba raba keberadaan adiknya. Setelah ia merasa kan bahu Diana, Rista mengelus lembut bahu itu.
"Udah Di, Kaka udah siap."
Terdengar suara putaran roda dilantai, Rista tahu itu pasti ibunya. Ibu Rista sendiri saat ini sedang sakit, bahkan sudah hampir dua bulan. Makanya sang ibu harus rela mengenakan kursi roda kemanapun dia pergi.
"Anak mama udah cantik. Berarti jadi dong tunangannya? Ya kan pa?" Tanya Tanika ibu Rista menoleh ke arah suaminya yang tepat berada disamping, mendorong kursi rodanya.
Faris menggenggam lembut tangan Tanika.
"Iya sayang. Ternyata putri kita udah dewasa, sebentar lagi mau nikah." ungkap Faris mengiyakan pertanyaan Tanika.
Rista terlihat menunduk malu, raut wajahnya tiba tiba berubah sedih. Entah apa yang dikhawatirkanya? Mungkin dia khawatir dengan kehidupannya setelah ini. Tanpa ayah, ibu juga adiknya. Luar sana bagi Rista lebih gelap ketimbang kebutaannya saat ini. Gadis itu memang jarang keluar rumah, kecuali diajak orang tuanya.
Tanika yang menyadari perubahan ekspresi wajah Rista segera memutar roda kursinya, lalu mendekat dan menggenggam tangan gadis kecil yang kini telah beranjak dewasa.
"sayang, kamu jangan sedih! Mama masih ada disini kok. Ada papa ,ada Diana juga, kamu memang akan menjalani hidup baru. Tapi, semua disini tetap sama. Lagi pula Zian itu anak yang baik, dia pasti bisa jadi cahaya baru buat kamu." Ujar Tanika menasehati Rista agar ia tak murung atas perjodohan ini.
Faris menghampiri kedua wanita itu,
"Sini sayang!!" Faris menuntun Rista agar kembali duduk. Setelah duduk Faris menoleh ke arah Diana, ia juga menyuruh putri bungsunya itu untuk mendekat.
"Sayang, anak anak papa harus selalu bahagia, ya? Apa yang papa dan mama pilih kan untuk kalian, sudah pasti itu yang terbaik. Kamu jangan sedih Ris! Papa bakal selalu ada buat kamu." Jelas Faris dengan lembut.
"Aku juga kak, aku bakal selalu jadi cahaya buat Kaka. Ya kan pa?" Diana melirik ayahnya sesaat lalu memeluk Rista.
Faris tersenyum,
"Papa ayo pelukan!" Rengek Diana,
Faris pun menyetujui keinginan putrinya itu. Mereka berempatpun saling berpelukan sebelum keluar kamar dan melaksanakan pertunangan Rista.
Pertunangan Rista dilaksanakan dirumah Faris. Rista bertunangan dengan cucu sahabat Juan, kakek Rista. Pria itu adalah pria yang tampan, berkarisma, serius dan bertanggung jawab. Itu jugalah yang menjadikan Juan berpikir untuk menjodohkan mereka. Berpikir Zian akan bisa menjadi imam yang baik untuk Rista.
Awalnya Faris dan Tanika menolak, tapi Juan meyakinkan keduanya bahwa Rista akan baik baik saja dan bahagia hidup dengan Zian. Sebenarnya Tanika dan Faris sendiri tak pernah tahu motif dibalik perjodohan itu. Setahu mereka Juan selalu khawatir Rista tak kunjung menikah karena cacat yang dimilikinya.
Keluarlah wanita cantik bergaun merah muda itu menuju ruang tamu. Rista dituntun sang ayah, sementara Diana mendampingi sang ibu dengan setia mendorong kursi roda yang dipakai Tanika.
__ADS_1
Kedua orang di ruang tamu itu berdiri untuk menyambut sang tuan rumah. Senyum ramah ditunjukkan Pram, kakek dari Zian. Sementara Zian sendiri terlihat terpana melihat sosok wanita cantik dihadapannya. Wanita dengan dress merah dibawah lutut juga rambut panjang yang diwarnai coklat pirang dengan dominasi warna brown caramel dan light blonde. Tunggu!! Zian tidak sedang terpesona dengan Rista, tapi pria itu terpesona pada kecantikan Diana adik Rista.
Tapi, pandangan pria itu terhenti, kala sang kakek menyenggol bahunya. Ia sempat terperanjat hingga ia melirik kakeknya sebentar, lalu tersenyum kepada empat orang dihadapannya.
"Mohon maaf Pak Pram, harus menunggu lama." ucap Faris sembari berjabat tangan dengan Pram.
Pria tua berusia enam puluh tahunan itu, nampak tak bermasalah ia malah tersenyum dan mengalihkan pandang pada Rista yang terlihat begitu cantik dan anggun pagi itu.
"Tidak apa-apa nak Faris. Saya bisa mengerti. Jadi, ini yang namanya Rista?"
Rista yang mendengar itu segera mengulurkan tangan ke arah Zian.
"Saya Rista Pak." tentu saja Rista yang memang tak mampu melihat, ia selalu seperti itu saat berkenalan alias salah sasaran.
Zian yang melihat itu sedikit kaget. Kenapa wanita bergaun merah muda itu malah mengulurkan tangan padanya? Rupanya Zian sendiri belum tahu wanita yang akan dia nikahi adalah seorang gadis buta.
Faris yang melihat itu, segera mengarahkan tangan Rista ke arah Pram dan tentu dengan senang hati Pram menjabat tangan Rista.
"Saya Pram, kakek Zian. Kamu panggil saja Kakek, sebentar lagi kan kamu jadi cucu kakek juga."
Rista menarik tangannya dengan senyum malu malu, ada merona merah dipipinya.
Mata Zian seketika terbelalak.
"Apa?! Jadi, cewek yang mau nikah sama gue, cewek buta? Tidak!! Kenapa gue harus menikah sama cewek cacat ini? gue gak mau." Gerutu Zian didalam hatinya.
"Kakek, Aku mau ngomong sebentar sama Kakek." Tanpa permisi Zian berjalan keluar rumah itu.
"eh .. Zian ..!!" panggil Pram, wajahnya terlihat malu saat melirik empat orang dihadapannya.
"Nak Faris, maaf ya! cucu saya memang suka maunya sendiri. Kalau boleh saya mau bicara sebentar sama dia." Ungkap Pram penuh penyesalan.
Faris hanya bisa tersenyum kecil,
"baik Pak. Silahkan."
Hanya tertunduk sedih yang mampu Rista lakukan. Dalam pikirnya dia sudah menduga ini semua, pria manapun yang melihat seorang yang cacat seperti nya. Mana mau menjadikannya sebagai pendamping? Rista berusaha untuk tidak menangis.
Tapi, tanpa sepengetahuan Rista ketiga orang disamping nya sudah lebih dulu melihat bulir bening yang ia tahan disudut mata.
"Sayang papa," Faris menghapus air mata yang berhasil lolos dari tahanannya. "kamu jangan sedih ya!? Zian pasti lagi ada urusan penting sama kakeknya."
Rista merasakan dua telapak tangan lembut memegang bahu, juga genggaman tangan lembut dari yang Rista tahu itu pasti genggaman tangan dari ibunya.
"Sayang, kamu duduk dulu yuk!! Mama buatin teh lemon kesukaan kamu, mau ya?" Bujuk Tanika, seakan mengalihkan suasana.
"gak ma," lirih Rista.
"Atau kakak mau kue? Tadi aku bikin kue loh sama papa." Diana tak kalah antusias membujuk kakaknya agar tak sedih.
__ADS_1
Tapi, Rista hanya tersenyum sedih menggeleng pelan.
"Gak Di, nanti aja ya!? Kaka pengen ke kamar, bolehkan ma, pa?" Tanya Rista merasa tak ingin lagi melanjutkan pertunangan yang Rista kira hanya akan menoreh luka.
Kedua orang tua Rista hanya bisa tersenyum sendu. Mengerti kalau Rista memang butuh waktu sendiri saat ini. Entahlah Faris dan Tanika sekarang jadi sedikit ragu untuk melanjutkan pertunangan.
"Ya udah sayang, kamu boleh ke kamar." jawab Tanika.
Faris memengang kedua bahu putri nya dengan lembut.
"Papa antar ke kamar ya!?"
"Ya Pa." kembali Rista memaksakan senyum dibibirnya.
Akhirnya, Faris menuntun putri Sulungnya ke kamar.
Sesampainya dikamar. Rista meminta sang ayah untuk meninggalkannya sendiri. Faris menyetujui hal itu dan meninggalkan Rista sendiri.
Gadis itu hanya tertunduk lesu, sesekali air mata jatuh membasahi pipi.
Rista selalu berpikir : Tanpa melihat aku tetap bisa berjalan, tanpa melihat aku tetap bisa berpijak.
Tapi, entahlah hati juga pendengaran Rista yang sensitif membuat nya tahu apa itu amarah, apa itu sedih, apa itu bahagia hanya dengan mendengar nada suara orang yang berbicara dengan nya. Jelas sudah terdengar ditelinga Rista, ucapan Zian tadi mengisyaratkan sebuah penolakan.
"Mama berkata jika dengan melihat akan banyak kepedihan yang terasa, maka tanpa melihat bukanlah suatu keburukan." Pikir Rista, lalu dengan cepat gadis itu berusaha menepis pikiran negatif akan apa yang telah ia dengar tadi. Ia berusaha berpikir positif. Itu hanya telinganya saja yang salah dengar.
Tiba tiba Rista mendengar suara familiar dari seorang pria yang berteriak diluar. Dengan tergesa Rista mencoba mencari tongkat nya, ia meraba raba sekitaran tempat tidurnya dan untung ia mendapatkan tongkat itu.
Dengan bantuan tongkat Rista mencoba berdiri, berjalan ke arah jendela, kemudian mendekatkan telinga ke arah jendela, setelah sebelumnya dia meraba raba letak jendela itu.
"Tidak!!! Tidak kek, aku tidak mau menikah dengan wanita cacat seperti dia!!"
"Zian, kecilkan suara kamu, kalau keluarga Nak Faris dengar bagaimana?" Si kakek terdengar berbisik, menenangkan cucu satu-satunya itu.
"Biarin aja mereka dengar! Supaya mereka tahu aku gak sudi buat nikahin cewe yang buta kaya anaknya itu."
Trupp
... terdengar suara Zian menutup pintu mobil dengan keras dan kasar, tentu itu dihadapan kakeknya.
Tak lama kemudian, suara deru mobil meninggalkan tempat itu.
Rista yang sudah mendengar kata kata yang menyakiti hatinya itu, hanya mampu menutup mulut dengan telapak tangannya, agar tangis yang ia keluarkan tak terdengar oleh kedua orang tua juga adiknya. Dengan tangan satu lagi meremas tongkat putih yang selalu ia bawa. Rista terisak dalam tangis.
Sakit .. Sakit sekali, Dia tahu dia memang cacat, dia buta, kegelapan adalah kesehariannya. Tapi, mendengar kata-kata itu dari orang lain, membuat nya semakin merasa terluka.
"Papa berkata : Tanpa melihat masih ada penuntun bagiku tangan papa juga mama. Tapi bagaimana jika tangan tangan itu berhenti menggenggam dan menjadi penuntunku. Akankah ada yang sudi menjadi penuntunku dan mendampingi sang gadis buta??" Lirih Rista dalam hatinya, gadis itu masih kembali berdialog dengan dirinya sendiri.
"Kasih sayang dari papa dan mama, kalian adalah cahaya. Lalu bagaimana jika saatnya aku harus memilih cinta, tahukah aku siapa cinta sejati bahkan tanpa melihat?
__ADS_1
Begitu jelas kudengar penolakan yang nyata bahkan dengan kata menghina didalamnya. Sanggupkah aku tetap bertahan dan percaya cinta sejati bagi gadis buta itu ada?" ......