
Mengambil tas lalu kembali bercermin, ia menaruh tas dibahunya. Diana sudah siap sekarang, gadis itu tak ingin kalah dengan kakaknya. Ia berpikir untuk keluar juga malam itu. Berbeda dengan Rista yang akan pergi kencan. Diana, gadis itu akan pergi ke salah satu Supermarket untuk pergi berbelanja. Diana tak lupa pamit pada sang ibu sebelum ia berangkat.
Tiba tiba, langkah Diana terhenti saat melihat seseorang tengah mengacak rambut didepan gerbang rumahnya. Nampak orang itu tengah frustasi. Diana kenal orang itu, ia menautkan alis melihat tingkah Satya.
"Kak Satya?"
Satya menoleh menatap Diana. Ia tanpa basa basi menarik tangan Diana agar gadis itu naik motornya.
"Eeh,Kak," Diana mencoba menolak, tapi rupanya ia tak bisa melakukan itu.
"Ayo naik!" Pinta Satya, membuat Diana pasrah untuk naik saja.
"Pegangan!" Pinta Satya lagi.
Diana akhirnya menurut dan memeluk pria dihadapannya. Sebenarnya, Diana merasa senang akan hal ini, meski sebenarnya dia tak tahu akan dibawa kemana oleh Satya.
Satya melajukan motor. Tanpa sepengetahuan Diana, Satya mengejar mobil Zian. Entahlah, Satya rupanya tak percaya Zian adalah pria baik seperti yang Rista katakan. Pria itu memutuskan untuk mengikuti mobil Zian. Sementara Diana ia merasa senang, berpikir Satya akan membawanya kencan atau makan malam bersama, misalnya.
Tanpa Satya duga, ia tak berhasil mengejar mobil itu, karena terjebak lampu merah.
"Sial!!" Gerutu Satya memukul stang motor.
Diana merasa heran kenapa Satya marah. Padahal itu hanya lampu merah. Bukannya suatu hal biasa jika lampu merah, maka kendaraan harus berhenti.
Diana yang penasaran akhirnya bertanya.
"Kak Satya kenapa?"
"Kita kehilangan jejak Di."
"Kehilangan jejak, emang kita lagi ngejar orang?" Diana mengeryitkan dahi.
"Iya. Kita harus ngejar mobil si mata silet, soalnya aku gak percaya sama dia. Jangan jangan dia mau ngapa ngapain Kak Rista lagi!"
"Hah?! Itu gak mungkin Kak, lagian merekakan bakal nikah. Meskipun Kak Zian pernah bawa pulang pagi Kak Rista, tapi mereka gak ngelakuin apa apa kok." Cerocos Diana, mulutnya itu sepertinya memang sulit untuk direm.
"Apa? Pulang pagi? Itu malah bikin aku semakin cemas sama Kak Rista, jangan-jangan tu muka tembok mau ngapa ngapain Kak Rista lagi."
Brummmmm ... Tanpa mau mendengarkan protes atau celoteh Diana lagi, Satya melajukan kembali motornya, setelah lampu hijau menyala tentunya.
Diana memang tak berkomentar lagi. Dia sibuk dengan pemikirannya. Angin yang kencang menerpa rambutnya ia abaikan, seakan tak peduli Satya melajukan motor dengan kecepatan diatas rata rata. Ia hanya sedang memikirkan betapa Satya begitu peduli pada kakaknya. Bahkan, tanpa pernah melirik dia yang selalu berusaha menyatakan cinta, meski tanpa mengungkapkan.
"Ternyata, kita cuma mau ngejar Kak Rista. Aku kira kita bakal kencan. Kenapa sih? Padahal, Kak Rista sudah mau nikah, tapi tetap saja kamu seperti gak bisa lupain Kak Rista. Kapan kamu liat aku kak?" Ungkap Diana dalam hati, seakan bicara pada Satya. Ia sendiri memang belum berani mengungkapkan perasaannya itu.
°°°
Rista yang sedari tadi diam, gadis itu mulai memecah keheningan didalam mobil.
"Mas.."
"Hmm."
"Apa benar mas kita sudah melakukan itu?" Tanya Rista dengan wajah sendu.
"Iya." Singkat Zian.
"Tapi, aku masih gak percaya, aku yang meminta itu duluan mas." Rista kembali melanjutkan. "Jujur, aku gak ingat apa-apa Mas, Apa mungkin aku meminta itu? Seingat aku, aku ketiduran dimobil kamu Mas, setelahnya aku gak ingat apa-apa. Aku merasa aneh, bagaimana bisa aku melakukan itu?" Jelas Rista panjang lebar.
Zian mendegus kesal, rupanya tak mudah membodohi gadis buta itu. Nyatanya, Rista tak sebodoh yang Zian kira. Terpaksa Zianpun mengatakan kebenarannya.
"Itu semua kebohongan saja, itu hanya sekedar caraku untuk membuat kamu mau menikah sama aku. Aku terpaksa melakukan itu. Dan akhirnya berhasilkan? Kamu mau menikah sama aku dengan cara itu. Kalau tidak, apa kamu masih mau menikah sama aku?" Jelas Zian.
Rista benar benar tak percaya Zian setega itu padanya. Apa karena melihat dirinya yang buta. Maka, dengan mudah Zian berpikir untuk mengelabuinya dengan berbuat keji. Lalu Rista masih penasaran, apa saja yang telah mereka lakukan semalam itu. Rista mencoba menahan air mata.
"Terus, apa aja yang udah kita lakuin Mas? Apa kita benar benar tidur bersama?" Tanya Rista menahan bibirnya yang bergetar menahan tangis.
"Sudah aku bilang, itu hanya kebohongan saja. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak sebodoh itu harus meniduri wanita buta tak berdaya."
__ADS_1
Jleb,
Kembali sebuah kalimat dari mulut Zian menyakiti hati Rista. Ternyata, begitu yang Zian lihat darinya. Wanita buta tak berdaya. Sungguh, hati Rista sangat sakit mendengar penuturan Zian. Karena, merasa Rista adalah gadis buta tak berdaya, Zian sampai membodohinya untuk menjebak dia dan menidurkan Rista dikasurnya, agar terlihat bahwa mereka telah melakukan hal tak senonoh dan akhirnya, Rista merasa bersalah. Membuat Rista tak punya pilihan lain selain menerima lamarannya. Zian kamu sungguh tega.
Cukup lama Rista diam memikirkan semua yang terjadi. Hingga ia meraba samping dan membuka sabuk pengaman.
"Aku mau turun Mas!" Pinta Rista mengangkat tongkat yang ia pegang sedari tadi.
Zian merasa heran. Kenapa Rista ingin turun? Apa ada yang salah dengan kata-kata nya?
"Loh kok kamu turun? Kita belum sampe!"
"Aku bilang aku mau turun Mas!!" Rista memaksa. Bahkan, dia mulai meraba untuk membuka pintu mobil.
"Eeh.. Kamu jangan nekad Ris!!" Zian menginjak pedal rem. Menarik tangan Rista. "Kamu mau kemana? Bahaya kalau kamu keluar! Ini udah malem, kita juga belum sampe. Kamu kenapa sih?"
Zian masih menahan tangan Rista. Namun, Rista menghempaskan tangan itu dengan kasar. Kini air matanya tak bisa ia tahan lagi.
"Lepas Mas!! Aku mau pulang!! Dengerin aku Mas! Meskipun tanpa melihat. Tapi aku bukan wanita buta tak berdaya seperti yang Mas bilang. Aku gak akan kena bahaya diluar. Tolong Mas bisa lebih jaga omongan Mas! Karena apa yang mas ngomongin itu bisa menyakiti hati orang lain." Tegas Rista sembari menitihkan air mata.
Zian hanya diam terpaku mendengar penuturan Rista. Rista tanpa basa-basi membuka pintu mobil dan keluar. Zian tersadar beberapa detik kemudian. Ia lalu turun dan mengejar Rista yang sudah berjalan dengan bantuan tongkatnya.
"Ris.. " Zian menarik pergelangan tangan Rista.
"Lepas Mas!" Zian melepaskan pegangan di tangan Rista.
"Kamu mau kemana? Kamu gak tahu jalan! Gimana kalau kamu tersesat? Ayo kamu naik lagi! Kalau kamu mau pulang, aku antar kamu pulang." Ujar Zian.
"Gak Mas, aku gak mau repotin kamu lagi." Rista besikukuh.
"Kamu jangan keras kepala Ris! Bagaimana kamu bisa pulang sedangkan kamu gak bisa lihat?"
"Cukup Mas!! Jangan kamu hina aku lagi!! Kamu terus bilang aku gak bisa lihat. Aku udah bilang Mas, tanpa melihat aku gak akan kena bahaya. Sekarang kamu pergi Mas!! Aku gak mau repotin kamu lagi." Pinta Rista.
Gadis itu kembali melangkah dengan bantuan tongkatnya.
"Lepas Mas!! Aku gak bisa lihat, cuma ngerpotin kamu." Rista menghempaskan tangan Zian, masih dengan air mata yang terus berderai.
Zian merasa jengah.
"Okey!! Terserah kamu!! Jangan salahkan aku. Aku udah peringatin kamu. Kalau luaran itu berbahaya apalagi untuk orang buta seperti kamu."
Zian melangkah pergi meninggalkan Rista.
Air mata semakin berderai. Rista merasakan begitu sakit. Apalagi, saat dia mendengar deru mobil Zian. Rista yakin mobil itu melaju pergi meninggalkannya. Bukan karena Zian yang meninggalkannya sendiri.Namun, Rista sakit hati karena ucapan Zian yang seolah meremehkan juga menghina dia sebagai seseorang yang buta.
Rista tak tahu harus kemana dia sekarang. Gadis itu merasakan lemas dikakinya, ia memilih untuk berjongkok sejenak.
"Astaghfirullah, sakit sekali Ya Allah. Tega sekali Mas Zian, apa aku harus masih melanjutkan pernikahan ini? Haruskah? Atau aku lebih baik mundur saja? Mas Zian sudah keterlaluan hiks hiks ..." Rista mulai kembali menangis.
"Mba.." Suara wanita menghentikan tangis Rista. Ia lalu bangkit dengan bantuan tongkat. Kini gadis itu berdiri tegak. Mencoba mendengar kembali suara yang wanita yang memanggilnya tadi.
"Mba kenapa? Mba mau kemana?" Tanya wanita itu.
"Saya.." Rista mengerjapkan mata, mengigit bibir bawahnya menahan agar ia tak terlihat menangis dihadapan wanita itu.
"Mba, Mba nangis? Mba mau kemana?"
Telat, wanita itu sudah tahu Rista menangis. Ristapun menghapus air matanya cepat.
"Gak mba, saya cuma lagi nunggu orang." Rista diam sesaat lalu melanjutkan. "Oh ya Mba, apa disini ada kursi untuk duduk mba?" Tanya Rista meraba-raba takut wanita itu sudah pergi.
Wanita itu memegang tangan Rista.
"Ayo Mba! Saya tuntun kesana. Kebetulan depan sana ada kursi.Mba bisa duduk disana."
"Terima kasih banyak Mba." Rista melangkah dituntun wanita itu.
__ADS_1
Sampai disebuah kursi. Wanita itu membantu juga Rista untuk duduk.
"Terima kasih Mba. Maaf merepotkan, sebenarnya saya bisa jalan sendiri kok," Rista tersenyum.
Wanita itu dengan tulus membalas senyuman Rista.
"Gak apa-apa Mba, santai aja! Lagian udah seharusnya kita saling tolong menolong. Oh ya, Mba yakin gak apa-apa? Maaf sebelumnya, tapi saya lihat Mba nangis tadi." Ujar wanita itu terdengar tulus.
Rista tersenyum manis.
"Gak Mba, saya gak apa-apa. Saya lagi mau nunggu supir saya. Terima kasih Mba sekali lagi. Saya senang masih ada yang peduli sama saya."
"Mba jangan bicara seperti itu. Banyak orang yang peduli sama Mba. Saya boleh tahu nama Mba? Barangkali kita bisa jadi teman?"
Rista mengulurkan tangan. Wanita itu mengerti lalu menjabat tangan Rista.
"Dengan senang hati Mba, Saya Rista."
"Akira, panggil aja Kira. Saya juga senang bisa kenal Mba." Wanita itu menarik tangan. Tiba-tiba, ia melirik jam dipergelangan tangannya.
"Ya ampun, maaf ya mba. Saya harus pergi sekarang. Saya harus pergi kerja soalnya." Pamit wanita itu setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
Rista mengerti, ia kembali tersenyum.
"Iya mba. Gak apa-apa, sopir saya juga pasti datang sebentar lagi. Sekali lagi terima kasih Mba." Ucap Rista.
"Iya sama sama Mba. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi." Balas wanita itu. "Kalau begitu, saya pamit dulu mba." Pamit dia kemudian.
"Iya Mba, hati hati."
Rista sekarang berdiri. Duduk dikursi pinggir jalan itu. Dia mulai merongoh ponsel dan menghubungi seseorang.
"Calling Pak Jaka." Tling, ponselpun langsung terhubung ke nomor Pak Jaka satpam rumahnya.
"Ya, Assalamualaikum non. Ada apa ya non?" Tanya Jaka dibalik telpon.
"Maaf pak. Pak Jaka bisa jemput saya gak? Saya nanti nyalain lokasi supaya bapak tahu saya dimana."
"Duh, Non maaf banget, tapi Pak Jaka lagi dibengkel ban mobilnya bocor. Bakalan lama saya disininya. Kalau non nunggu sekitar setengah jaman gak apa-apa non?"
Rista menimang nimang sebentar.
"Em, okey deh Pak gak apa-apa. Saya tunggu ya pak!"
"Baik non. Saya akan segera kesana kalau sudah selesai."
"Ya pak. Assalamualaikum."
Tutttt .. Rista mengakhiri panggilan itu.
Sekarang Rista hanya bisa duduk menunggu. Hanya terdengar bergantian deru kendaraan oleh Rista. Juga udara dingin yang Rista rasa semakin dingin malam itu. Sayup-sayup juga terdengar suara jangkrik. Lalu tak lupa suara orang orang sekitar yang mungkin lalu lalang melewati jalan trotoar itu. Rista meraba jam di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan pukul 9.25, mungkin sebentar lagi Pak Jaka akan datang. Rista sudah menunggu sekitar dua puluh menit disana. Hatinya masih terasa tak karuan. Ada rasa sakit disana. Tak lupa juga rasa kecewa disana, kecewa karena ucapan Zian. Manis bibirnya itu hanya kebohongan dan bodohnya, Rista mulai percaya dan menaruh rasa padanya. Kalau saja tidak ada rasa, mungkin sakitnya tidak akan sesakit ini. Rista hnah berusaha tenang, masih sesekali mengusap cepat air mata yang berderai dipipinya.
Krusuk .. krusuk ..
Rista sedikit kaget mendengar suara yang mungkin dari semak-semak. Krusuk .. Krusuk .. suara semakin jelas. Rista memilih untuk bangkit dari duduk mengangkat tongkat, meminjamkannya ditanah. Krusuk .. Krusuk .. Kembali suara itu terasa semakin jelas. Entahlah, tiba tiba ia merasa takut. Rista berpikir untuk melangkah saja.
Meong ..
"Ya ampun, hanya kucing. Aku kira apa." Rista mengusap dada, karena merasa lega. Itu hanya suara kucing rupanya.
Brummmmm ...
Suara deru kendaraan bermotor kini kembali mengangetkan Rista. Awalnya dia tak mau ambil pusing, hingga tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang.
Rista mulai takut, ia mencoba berani bertanya pada orang itu.
"Siapa?"
__ADS_1