
Pemandangan yang membuat kening Diana mengkerut. Satya sedang melakukan gerakan menyilang kedua tangan lalu diikuti dengan gerakan seolah mencubit ke depan, tak lupa ia juga menggoyangkan tubuhnya, berjoged ria. Musik di kamar itupun cukup keras. Lagu yang diputar Satya adalah lagu berjudul Salah Apa.
Diana menghampiri Satya dengan masih mengerutkan dahi. Duduk di sampingnya tanpa peduli Satya yang terperanjat karena pertanyaan Diana.
"Katanya gak suka main tik-tokan? Kaya anak alay. Sekarang, kok malah tik-tokan?" Sindir Diana mecebik bibir.
Satya memegang dada karena kaget.
"Kamu kaya hantu aja. Datang tiba-tiba, ketuk dulu ke! Ucap salam. Janji Masuk aja, kaget tahu!" Gerutu Satya. Menurunkan tangan perlahan. Mengambil ponsel dan mengutak-atiknya, terlihat Satya mematikan aplikasi Tik-Tok di ponselnya.
Diana kembali mencekik bibir. Disindirnya lagi Satya, bahkan sedikit mencubit lengan atas Satya.
"Huu.. Anak alay aja yang main tik-tokan. Aku gak level, terlalu tampan untuk main Tik-Tok." Sindir Diana mengulang apa yang pernah Satya katakan padanya.
Satya nampak tak senang, ia kemudian mencubit ujung hidung Diana.
"Ini ngilangin galau, Beo ..."
"Aw.." Diana mengusap hidungnya yang terasa perih. "Sakit kakak! Emang kue! janji cubit. Idung ini!" Gerutu Diana menunjuk hidung sendiri, lalu kembali mengusapnya.
"Mana idung? Bukannya paruh Beo ya?" Ejek Satya sedikit terkekeh.
"Gak lucu!" Diana memanyunkan bibir.
"Uh marah! Harusnya aku loh yang marah. Janjinya kemarin kesini. Kok baru sekarang?" Satya mengusap kepala Diana, sedikit mengacak rambutnya.
Gadis di hadapan Satya itu menuduk. Pipinya merona, merasa malu dengan perlakuan Satya. Ada getaran di jantungnya, seperti ingin meloncat dari tempatnya. Malu juga merasa salah tingkah. Satya benar-benar ada di hadapannya. Dulu hanya Rista yang sering diperlakukan seperti itu. Namun, sekarang Dianalah yang diperlakukan begitu. Senang rasanya, Diana tersenyum malu-malu.
"Kenapa? Kok senyum-senyum? Terpesona ya?" Satya mengeryitkan dahi, ia kemudian ikut menunduk menyetarakan wajahnya agar menghadap Diana. Membuat Diana semakin salah tingkah. Didorongnya wajah Satya.
"Kakak! Jangan dekat-dekat! Bau tahu!" Tukas Diana.
Dengan cepat Satya mundur. Menciumi bagian atas tubuhnya, kemudian mengeryitkan dahi. "Gak kok! Udah mandi tadi. Wangi malah. Ganteng lagi." Bantah Satya menaikan alisnya tersenyum manis.
Diana kembali mencebik,
"Ih, narsis!"
"Udah-udah. Jangan bahas penampilan! Udah jelas aku yang paling okey. Jadi, cukup jangan terus memuji! Lama-lama idung aku terbang." Jelas Satya begitu tenang.
Diana menghela nafas, memutar bola mata sesaat. Kemudian fokus dan serius menatap Satya.
"Kak, gimana keadaan Kakak? Udah sembuh?" Tanya Diana cemas.
"Galau."
"Hah? Galau? Galau kenapa? Karena Kak Rista? Itu sih karena bukan jodoh Kak. Jadi, kakak sabar ya!?" Diana mengelus bahu Satya.
Satya masih terlihat murung, menekuk wajah.
"Terus siapa jodoh aku? Kamu?"
__ADS_1
Diana terbelalak. Mengalihkan pandangan melihat sekeliling, seolah menghindari tatapan. Kembali salah tingkah, melepaskan tangan dari bahu Satya.
"Ya, gak tahu. Emang aku peramal." Diana beringsut mengeser duduk.
Satya menahan tawa.
"Hfff.. hahaha. Di-di.. Kamu salah tingkah lagi. Kenapa sih? Bercanda kali!" Satya menagacak rambut Diana.
Diana memberengut kesal. Diambilnya bantal putih samping Satya, memukul pria itu dengan brutal.
"Kakak!" Teriak Diana kesal memukul Satya.
Tak peduli Satya yang meminta ampun. Diana semakin menghujani Satya dengan pukulan menggunakan bantal itu.
"Di-di ampun. Kamu kasar banget jadi cewek! Ampun di!" Satya menghalangi wajahnya dengan kedua tangan.
Diana beringsut naik ke kasur, ia semakin merasa kesal dengan ucapan Satya. Dipukulnya Satya berulang-ulang.
"Euu.. Kakak! Jahat! Rasain nih!" Teriak Diana sambil terus memukul.
Diana tak sadar, ia naik semakin jauh. Bahkan, ia sampai duduk di atas perut Satya. Satya mengambil bantal itu, merebutnya dengan satu tarikan tangan. Membuat Diana tertarik ke dalam pelukannya. Diana kaget, jantungnya berdebar kencang, nafasnya naik turun tak karuan. Dapat Diana rasakan hangat nafas Satya menembus kulit lehernya. Satya mendorong tubuh Diana, membuat Diana kembali duduk. Mata kedua insan itu saling mengunci pandang. Satya mengerjapkan mata, beralih menatap ke bawah.
"Kenapa kamu duduk di perut aku?" Tanya Satya sedikit salah tingkah.
Cepat-cepat Diana turun. Memperbaiki duduk di samping Satya. Gadis itu terlihat salah tingkah, mengerjap-ngerjapkan mata. Menatap ke bawah, karena tentu ingin menghindari tatapan mata Satya yang pasti akan sangat membuat Diana malu. Hangat nafas Satya kembali Diana rasanya, tapi kali ini tepat di telinga Diana.
"Kamu kenapa? Baper ya? Mau gak jadi pacar aku?" Bisik Satya, membuat Diana membulatkan bola mata dengan sempurna. Mata Diana seolah mencari pelarian untuk menghindari tatapan Satya. Memang Satya tidak menatapnya, tapi siapa tahu? Satya menarik wajahnya dan menatap mata Diana.
Namun, tiba-tiba..
"Tapi, bohong." Ujar Satya melepaskan dagu Diana. Tertawa begitu keras. Menunjuk Diana yang tertunduk malu.
"Hahaha.. wajah kamu Di, kaya anak SD disetrap. Tegang banget! Hahaha ..." Satya bahkan sampai memegangi perutnya, menertawakan ekspresi Diana. Apalagi, saat melihat Diana menutup mata. Itu lucu bagi Satya.
Diana marah, ia beranjak dari duduk. Berdiri dengan cepat, wajahnya memberengut kesal. Dihentakannya kaki, kemudian keluar.
"Eh Di, mau kemana kamu?"
Diana tak memperdulikan pertanyaan Satya. Malu sekali Diana, saking malu Diana sampai menitihkan air mata. Tidak tahukah Satya? Diana sangat berharap Satya benar-benar menyatakan cinta, tapi Satya mempermainkan perasaan Diana. Harusnya Satya tahu Diana mencintainya. Jikapun tidak cinta, seharusnya Satya tak bercanda seperti itu. Itu keterlaluan! Mempermainkan perasaan Diana yang sungguh-sungguh mencintainya. Menganggap seolah perasaannya hanya lelucon semata.
°°°
"Pernikahan bukan lelucon Zi. Tolong kamu serius! Jangan sampai kamu membuat Rista sedih. Sekalipun kamu gak cinta sama dia. Kamu harus bisa belajar, belajar mencintai dia. Tak ada manusia sempurna Zi. Tolong jangan pandang fisiknya! Kamu hanya belum mengenal dia. Seiring berjalannya waktu, kamu bakal jatuh hati sama dia."
Zian menghela nafas jengah, mendengar penjelasan kakeknya, Pram. Rasanya tak peduli! Mau cinta berjalan seiring waktu atau cinta akan hadir seiring banyaknya bertemu. Itu tidak akan berpengaruh pada rasa bencinya pada Rista. Terlanjur, Zian terlanjur tak suka pada gadis itu. Caranya berjalan, caranya meraba, semua itu terasa menyedihkan di mata Zian.
"Ya ya kek. Aku gak sejahat itu kok, sampai sakitin perasaan Rista. Kakek tenang aja! Dia aman sama aku." Tegas Zian berpura-pura.
"Bagus kalau kamu ngerti." Ucap Kakek Pram, lalu menengadahkan wajah melihat Zian yang berdiri.
"Kek, aku mau ke SPBU mau ngecek pembangunan Cafe. Aku berangkat sekarang! Kalau emang gak ada lagi yang mau kakek bicarakan." Pamit Zian.
__ADS_1
Kakek Pram ikut berdiri, menahan tubuh dengan tongkatnya.
"Kakek cuma titip Rista, jaga dia baik-baik!" Pesan Kakek Pram yang dijawab anggukan oleh Zian.
Zian mencium tangan kakeknya, kemudian pamit untuk pergi.
Perjalanan menuju SPBU dari kantor itu sekitar sepuluh menit, tapi karena macet perjalanan berlangsung sekitar dua puluh menitan. Zian sudah merasa kesal ditambah ingatannya sedang berkecamuk tentang Rista.
"Heran! Tu cewek banyak banget yang peduli. Lah gue! Gak ada apa yang peduli sama perasaan gue!' Gerutu Zian dalam mobil.
Kegelapan sudah menyelimuti jalanan malam itu. Zian keluar kantor pukul lima sore, lalu kemudian menemui kakek di ruangannya. Mereka berbincang sekitar satu jam disana, membahas perampungan proyek cafe juga yang terakhir membahas tentang Rista tadi.
Diparkirannya mobil di SPBU itu. Zian melangkah keluar dari mobil. Saat Zian turun, semua karyawan SPBU berbaju merah disana menunduk hormat. Zian menghampiri salah seorang dari mereka. Tersenyum manis seperti biasa.
"Effan dimana?" Tanya Zian tanpa basa-basi.
"Pak Effan ada, tadi masuk minimarket pak." Jawab seorang pria berbaju merah.
Zian mengangguk mengerti.
"Okey! Kalian lanjutin kerja kalian!"
"Baik pak." Jawab serentak semua karyawan SPBU itu.
Berjalan dengan santai menuju minimarket di SPBU itu. Ditepuknya bahu Effan, saat Zian sampai di depan meja kasir. Pria berjas hitam itu sedikit terperanjat, kemudian menunduk hormat.
"Eh, Pak. Selamat Malam."
"Malam juga. Kamu ada waktu kan? Kamu ingat aku akan datang?" Tanya Zian dengan nada dingin seperti biasa.
"Iya pak. Saya ingat, saya udah pesen makan malam di restoran depan. Kita langsung kesana aja! Gimana pak?"
"Gak usah. Saya harus cepat pulang. Kamu jelasin aja udah sampai mana proyek kita!" Pinta Zian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Oh baik pak. Untuk proyek cafe kita, sudah sampai tahap 60% pak. Kita hanya tinggal pilih warna cat yang cocok untuk dindingnya. Kemudian untuk tempat parkir kita berencana untuk membuatnya di samping minimarket." Effan menunjuk keluar ke samping minimarket itu. "Nah, paling disana Pak. Kita rencananya mau bikin yang agak luas, sekalian untuk parkir yang datang ke minimarket juga." Jelas Effan.
Zian memperhatikan halaman samping minimarket yang cukup luas itu. Zian mengangguk mengerti, tapi tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita yang berjalan disana. Wanita dengan seragam khas merah hitam yang memang dikhususkan untuk karyawan SPBU. Zian menyipitkan mata.
"Siapa wanita itu?" Tanya Zian pada Effan. Rupanya Zian merasa tak asing dengan wanita itu. Terasa pernah melihatnya.
"Itu pak." Effan menunjuk wanita yang Zian maksud. Zian mengangguk mengiyakan. "Oh, itu karyawan disini juga Pak. Namanya Akira."
"Kok saya kaya baru liat ya?"
"Memang pak. Bapak baru lihat, soalnya Kira baru kerja sebulan disini dan dia selalu berkerja sif malam, jadi bapak baru melihatnya." Jelas Effan.
Dengan seksama Zian mendengar penjelasan Effan. Sekilas ingatan membuatnya ingat siapa wanita itu. Segera Zian berlari keluar, mendorong cepat pintu minimarket. Ditariknya tangan wanita itu, saat Zian sudah berada di sampingnya. Kaget bukan main wanita yang ditarik pergelangan tangan oleh Zian. Matanya terbelalak, bahkan mulutnya hampir ternganga.
"Tunggu!" Pinta Zian.
Wanita itu mengerjapkan mata merasa begitu gugup, tanpa diduga atasannya menarik tangannya begitu saja. Zian memicingkan mata, menyelidik setiap inci wajah wanita itu. Tiba-tiba ponsel Zian berdering, membuat Zian melepas tangan si wanita, beralih merogoh ponsel di saku jasnya. Fokus Zian kini beralih pada suara orang dibalik telpon. Didengarnya dengan seksama penjelasan dari orang dibalik telpon itu. Seketika Zian mengeryitkan dahi, merasa kaget juga tak percaya.
__ADS_1
"Apa?! Apa kamu bilang?" Kesal Zian mendengar penjelasan orang itu.