
"Dia ...."
"Sekertaris kamu, mas?" potong Rista.
Mengerjapkan mata sesaat, Zian mengangguk seolah Rista mampu melihat, meyakinkan Rista. Masih ia genggam kedua tangannya. Menatap wajah yang kini tersenyum tanpa ada guratan curiga.
"Sayang," Zian kecup punggung tangan yang ia genggam. "Aku ada urusan penting sebentar, aku boleh pergikan?" lanjut Zian menatap lekat wajah Rista.
Dielusnya tangan Zian, Rista kemudian berucap, "boleh mas, kamu hati-hati ya!" Rista tersenyum masih mengelus tangan Zian.
Mendengar jawaban Rista, Zian segera berdiri setelah itu duduk di samping sang istri. Tangannya memegang lembut tekuk leher Rista, ditariknya perlahan. Satu kecupan Zian beri di kening Rista. Senyum terukir indah di wajah Rista kala Zian memberikan kecupan.
"Sayang, kamu istirahat ya! Gak usah nunggu aku takutnya aku lama, kamu langsung tidur aja, okey?" pesan Zian kemudian merengkuh Rista dan menghujani Rista dengan kecupan di puncak rambut.
Rista balas pelukan itu. Melerainya beberapa saat kemudian. Senyum manis masih Rista tunjukkan.
"Ya, mas. Kamu hati-hati ya! Gak tahu kenapa aku suka khawatir kalau kamu jauh dari aku." Rista sedikit menunduk. Zian mengerti kekhawatiran sang istri. Ditariknya dagu Rista perlahan. Mendaratkan kecupan sekilas di bibir.
Seusai mengecup bibir sang istri, Zian membantu Rista untuk berbaring. Jemari Zian mengelus lembut rambut atas Rista. Mendekatkan wajahnya kesana lalu mengecup lembut kening sang istri. Perasaan Zian berada pada posisi dilema antara salah dan benar. Sebelum pergi mengganti pakaian, tangan Zian masih mengelus lembut rambut sang istri. Menatap wajah Rista yang penuh ketulusan seolah tanpa ada rasa curiga, tapi andai Rista tahu detik dimana Zian menatapnya saat ini. Detik itu adalah saat dimana hati Zian terasa terluka karena untuk kesekian kali ia telah berbohong pada Rista.
"Sayang, aku pergi sekarang. Kamu tidur ya! Mimpi indah sayangku." ucap Zian yang dijawab senyum oleh Rista.
Perlahan Zian melangkah menuju Walk In Closet. Mengganti pakaian disana dengan stelan kaos lengan panjang juga jeans. Langkah Zian pelan keluar kamar. Sebelum keluar, ia melihat sang istri yang sudah terlelap. Nampaknya, Rista begitu lelah hari ini. Diliriknya jam yang bertengger di pergelangan tangan saat Zian sudah di luar kamar. Waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, menatap sekeliling rumah terlihat sudah sepi. Bi Maya mungkin sudah tidur.
Setelah mengambil kunci mobil di dalam laci, Zian melanjutkan langkah menuju garasi. Melajukan mobil kemudian.
Dalam perjalanan Zian menelpon Akira. Tadi orang yang menelpon Zian adalah Akira dan dia menyembunyikan perihal wanita itu sebagai sekertaris Zian. Berulang kali Zain menghubungi, tapi tak ada jawaban atau nada tersambung di sebrang sana. Zian menghela nafas kesal. Merasa dipermainkan oleh Akira, Zian berpikir untuk putar balik. Namun, tiba-tiba mata Zian memicing melihat seorang gadis menyetop mobilnya. Gadis berkerudung biru tua itu menurunkan tangan saat Zian sudah berhenti di sampingnya.
"Kenapa dek?" tanya Zian membuka kaca mobil.
"Alhamdulillah mas, saya dari tadi nunggu orang lewat. Mas bisakan tolong saya? Ada mbak-mbak jatuh dari motor mas, saya gak tahu harus minta tolong sama siapa." tutur gadis itu dengan penuh harap.
"Dimana, dek?" Zian kemudian turun.
Jalanan disana memang sepi, pantas gadis itu sangat cemas. Suasana jalan yang tak ada satupun kendaraan yang melintas. Gelap disana karena lampu jalan hanya ada satu itupun berkisar lima meter dari sana.
"Ikut saya mas!" Pandangan Zian yang tengah mengamati sekitar, seketika terhenti oleh suara nyaring gadis berusia sekitar tujuh belas tahunan itu. Gadis itu menuntun Zian berjalan menuju pohon yang berada pinggir jalan. Terlihat ada tumpukan pasir juga batu-batu kecil beberapa inci dari pohon itu. Sebuah motor matic sudah terjungkir samping pasir beserta batu-batu kecil.
"Itu mas!" seru si gadis.
Mata Zian mengikuti arahan tunjukkan gadis itu. Seketika Zian terbelalak melihat seorang wanita yang tengah meringis memegang kakinya yang berdarah. Belum jelas siapa wanita itu karena dia tengah menunduk dan memegang kedua kaki.
"Mas, tolong ya! Tadi mbak itu jatuh dari motor. Kakinya jatuh pas di tumpukan pasir itu." Gadis itu menunjuk tumpukan pasir. "Kakinya lecet berdarah lagi, kasihan mas. Mas bisa tolongkan! Saya harus segera pulang kalau gak bapak saya bisa marah." lanjutnya sedikit menunduk.
Zian menepuk pelan bahu gadis itu. Mengerti dengan apa yang gadis itu tuturkan. Tindakan Zian membuat gadis itu menengadah.
"Ya udah, dek. Adek pulang aja biar saya yang nolong mbaknya." ujar Zian.
Tersenyum senang gadis itu kemudian berpamitan. Setelah kepergian gadis itu, Zian mencoba menyakinkan diri dengan apa yang ia lihat. Dilihat dari perawakan wanita itu dia terlihat seperti Akira.
"Mbak!" panggil Zian.
Saat wanita itu menengadah matanya membulat sempurna. Kaget melihat sosok Zian. Ada rasa tak percaya juga syukur, tapi kaget lebih dominan ia rasa.
"Mas Zian!"
"Akira!" seru Zian tak kalah kaget. "Kamu kenapa bisa jatuh?" tanya Zian kemudian.
Berjongkok Zian lalu melihat luka lecet di kaki Akira. Bagian atas mata kaki yang lecet juga berdarah. Darah yang memang masih mengalir tidak banyak tapi cukup mengelilingi bagian lecet yang juga memar itu.
"Aw!" ringis Akira saat Zian menyentuh bagian luar luka.
"Kayanya ini parah deh, kita ke rumah sakit. Kamu bisa jalankan?" Zian menatap Akira.
__ADS_1
Sejenak Akira terpana dengan sepasang bola mata hitam milik Zian. Namun, Akira segera tersadar dan mengerjapkan-ngerjapkan mata.
"Ah, aku gak tahu." Akira menunduk.
"Tadi juga aku dibantu duduk disini" lanjutnya.
Menghela nafas kesal, Zian tanpa basa-basi kemudian menggedong Akira. Seketika Akira terbelalak dengan tindakan Zian.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" Akira menatap heran juga tak menyangka.
"Diam! Kamu harus dibawa ke rumah sakit." tegas Zian.
Diam seketika, Akira tak mampu menolak apa yang Zian lakukan. Dengan cekatan Zian memasangkan sabuk pengaman saat Akira sudah duduk di kursi belakang. Setiap langkah demi langkah yang Zian lakukan tak luput dari tatapan Akira yang menatap penuh arti dan perasaan kagum yang entah datang darimana.
"Kita ke rumah sakit. Untuk urusan motor, nanti biar bawahan aku yang urus."
Tersadar Akira dari lamunan menatap wajah tampan Zian karena mendengar penuturan pria itu. Tak menjawab Akira hanya mengerjapkan mata sekilas lalu mengangguk mengerti.
Setelah selesai dengan Akira, Zian menaiki mobil dan melajukan mobil menuju rumah sakit. Tak ada percakapan dalam mobil. Hening, Zian fokus dengan jalanan sementara Akira diam-diam mencuri pandang ke arah Zian. Senyum manis terukir tak sengaja di wajah Akira. Kagum adalah rasa yang melanda hati Akira. Pria yang ada di hadapannya kini adalah sosok pria sempurna dengan berbagai kelebihan. Baik, bertanggung jawab, juga jangan lupakan wajahnya yang tampan dan sikap dingin namun penuh perhatian.
Terlihat Zian mengubungi seseorang. Namun, Akira tak peduli ia hanya sedang ingin menikmati pemandangan indah di hadapannya. Pemandangan seorang pria yang membuat jantungnya berdebar seolah debaran yang tak biasa. Debaran yang mungkin adalah debaran cinta. Cintanya yang mungkin salah tapi terlanjur ia miliki. Akira tak tahu itu cinta atau bukan. Selama ini Akira sudah mencoba menepis rasa pada ayah kandung Chandra itu, jadi Akira pikir ia tak mungkin jatuh cinta lagi.
Sampai rumah sakit, Zian kembali menggedong Akira yang tentu tak sedikitpun mendapatkan penolakan dari Akira. Disana Akira diperiksa lalu lukanya dibersihkan dan diberi perban.
Sementara Akira diperiksa dan diobati, Zian duduk di depan ruang perawatan Akira. Suara dering ponsel, membuat Zian berdiri dan mengangkat panggilan masuk itu.
"Ya Hallo, sayang kamu belum tidur?"
"Aku baru bangun, mas." jawab Rista di balik telpon. "mas kamu baik-baik ajakan? Kata Pak Gugun kamu ketemu perempuan yang kecelakaan. Kamu nambrak orang mas atau gimana? Kamu baik-baik ajakan?"
Diam sesaat, Zian tak tahu harus jujur atau tidak. Namun, sudah cukup Zian berbohong.
"Aku gak apa-apa sayang, dia tadi kecelakaan motornya jatuh terus kakinya lecet dan aku bawa dia ke rumah sakit." jelas Zian.
"Astaghfirullah, dia gak apa-apa mas?" tanya Rista cemas.
"Mas! Kamu gak apa-apa? Apa ada sesuatu yang terjadi, mas?"
Zian tersadar kemudian tersenyum getir.
"Gak sayang, aku gak apa-apa. Dia juga baik-baik aja, aku akan segera pulang. Kamu tunggu ya! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." tutur Zian lembut.
"Alhamdulillah kalau kamu gak apa-apa mas. Ya mas, aku tunggu. Kamu hati-hati di jalan!"
"Ya udah sayang, aku tutup. Assalamualaikum." pungkas Zian yang mendapat jawaban salam dari Rista.
Ditaruhnya kembali ponsel ke dalam saku celana. Zian melirik pintu di belakang. Seorang dokter wanita keluar tersenyum lalu mendekati Zian.
"Pak, syukurlah bapak membawanya segera kesini kalau gak mungkin akan infeksi lebih parah. Untuk sekarang jangan sampai dia jalan-jalan dulu kalaupun harus jalan ia harus dipapah karena lukanya dikhawatirkan akan lebih parah kalau dipakai berjalan." Zian terlihat mengangguk mengerti dengan penjelasan dokter. "Kalau begitu saya permisi." lanjut dokter yang mendapat balasan senyum dari Zian.
Dokterpun melangkah meninggalkan Zian. Perlahan Zian buka pintu perawatan Akira. Akira terlihat duduk sembari menelonjorkan kaki yang diselimuti.
"Gimana keadaan kamu, udah mendingankan?" Zian menghampiri dan berdiri di samping ranjang Akira.
"Ya mas, terima kasih banyak. Maaf aku ngerepotin kamu." jawab Akira sembari tersenyum.
"Semua orang yang ada dalam posisi aku pasti juga bakal nolongin kamu. Ya udah, kalau kamu udah baikan. Kata dokter kamu jangan dulu jalan kaki jadi lebih baik kamu istirahat aja disini." ketus Zian kemudian hendak berbalik, tapi Akira cepat mencekal pergelangan tangan Zian.
"Tunggu mas!"
Hanya menoleh, Zian tak berucap apapun.
"Apa besok kamu kesini lagi?" tanya Akira menatap penuh harap.
__ADS_1
Zian terlihat berpikir sejenak. Tanpa peduli Akira yang terlihat kecewa Zian melepaskan tangan yang memegang pergelangan tangannya.
"Maaf, kayanya aku gak akan kesini lagi. Aku bakal jujur sama Rista tentang kamu sama Chandra. Mungkin Rista akan marah, tapi aku udah gak bisa bohong lagi sama dia. Dan mungkin Ristalah yang bakal jenguk kamu."
Segera Zian keluar kamar perawatan. Tak peduli Akira yang terlihat menatap kecewa dengan apa yang dijelaskan Zian. Seolah harapannya luntur untuk menjadi salah seorang yang mengisi hati Zian. Menghela nafas kecewa, Akira memilih membaringkan tubuhnya dengan pikiran hanya berpusat pada sosok Zian. Pesona pria itu telah menarik hatinya dan Akira tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Nyatanya dia sadar, saat Zian pergi ia merasa begitu kehilangan.
°°°
Dengan tekadnya Zian yang sudah sampai rumah segera masuk setelah menyimpan mobil di Garasi. Ternyata tanpa Zian duga, Rista benar-benar menunggunya bahkan gadis itu menunggu di Sofa Ruang Tamu sembari membaca buku braille di tangan. Ucapan salam dari Zian membuat Rista berdiri dan menyimpan buku di atas Sofa.
"Waalaikumsalam, mas kamu udah pulang?" sapa Rista yang langsung menunjukkan senyum hangat.
Rindu sudah begitu menggelora di hati Zian. Padahal hanya sebentar ia meninggalkan sang istri, tapi rasa rindunya begitu dalam. Mungkin karena rasa bersalah, Zian semakin tak ingin melukai hati wanita itu. Membuat Zian yang mematung menatap Rista yang tak sedikitpun menunjukkan rasa curiga padanya, kini pria itu menghampiri sang istri dan mendekapnya seolah mencurahkan segala rasa rindu dan kasih sayang.
"Mas," seru Rista.
"Ya, sayang." Zian mengecup sekilas pucuk rambut Rista. Masih dalam dekapan Zian mengeratkan pelukannya.
"Kamu pasti capek, kita tidur yuk mas!"
"Aku masih kangen kamu, bolehkan aku peluk kamu? Jangan lepasin pelukan ini Ris, karena aku gak mau kehilangan kamu." lirih Zian.
Rista merasa sedikit heran dengan Zian. Merasa aneh tiba-tiba Zian takut kehilangan dia, seolah mereka akan berpisah. Dengan tenang Ristapun menjelaskan, "mas, aku gak bakal ninggalin kamu. Jadi, sayang sekarang kita tidur ya!"
Tersenyum hangat penuturan lembut Rista, Zian kemudian menggedongnya. Mengecup sekilas bibir wanita itu, membuat Rista kembali tertunduk malu.
"Okey sayang kita tidur ya!" seru Zian, Rista melingkarkan tangan di leher Zian memeluknya dengan erat.
Sampai kamar Zian merebahkan tubuh Rista di atas tempat tidur. Mengelus rambut Rista sekilas.
"Sayang, aku ganti baju dulu ya! Kamu jangan dulu tidur! Ada sesuatu yang mau aku bicarakan."
"Ya mas, kamu mau ngomong apa sih? Aku jadi penasaran." Rista sedikit mengerutkan dahi.
"Bentar ya sayang! Aku bakal cerita semuanya." ujar Zian yang langsung meninggalkan Rista untuk mengganti pakaian.
Sebenarnya Rista merasa begitu penasaran, tapi rasa kantuk kembali menyergap. Merasa begitu lelah dengan segala aktivitas hari ini juga tidurnya tadi terganggu karena teriakan Bi Maya. Rista menarik selimut menutupi sampai dada. Tak ada niat untuk tidur, Rista akan menahan kantuk demi untuk mendengarkan cerita Zian. Namun, selimut yang menyelimuti tubuh rasanya menambah rasa nyaman. Sedikit terkantuk-kantuk, tapi Rista masih mencoba untuk tidak tidur.
Dekapan hangat yang tiba-tiba membuat Rista sedikit terperanjat. Namun, dekapan itu terasa begitu nyaman.
"Sayang," panggil Zian yang mendekap Rista dari belakang.
"Mas," balas Rista berbalik lalu mendekap suaminya. "Aku ngantuk mas, tapi kamu mau cerita apa mas?"
Zian mengelus atas kepala sang istri dan mengecupnya. Membelai lembut rambut Rista yang terurai.
"Ya sayang, kamu bakal dengerinkan?"
"Hm,"
Rista hanya menyahut dengan deheman dan malah memperat pelukan.
"Kamu gak bakal marahkan?"
"Hm,"
Suara Rista semakin pelan. Zian menghela nafas pelan masih membelai rambut sang istri.
"Sayang, aku mau jujur ... sebenarnya aku udah bohongin kamu selama ini. Aku tahu siapa ibu Chandra dia adalah bagian dari masa lalu aku. Chandra adalah anak aku. Ris, kamu gak marahkan? Aku harap kamu gak akan ninggalin aku karena ini." tutur Zian.
Namun, Zian tak mendengar sahutan Rista justru ia merasakan tangan Rista melepaskan tubuhnya. Melepaskan pelukannya pada Zian.
"Sayang!" seru Zian menurunkan pandang melihat Rista.
__ADS_1
Ternyata elusan lembut tangan Zian membuat Rista semakin merasa nyaman. Wanita itu sudah tertidur lelap. Dengkuran halus sudah Zian dengar dari sang istri. Menghela nafas, Zian kemudian menarik dua sudut bibir. Mengecup dahi Rista Beberapa saat sebelum akhirnya Zian kembali mendekap wanita itu.
"Sayang, aku gak tahu kamu denger atau gak tapi aku harap kamu tetap cinta sama aku dan gak akan ninggalin aku karena ini."