
Kedua mata merekapun bertemu. Dalam benak Yuni, ia merasa anak muda di hadapannya ini orang mapan. Menerka-nerka mungkinkah ini pria yang dimaksud Akira anaknya? Matanya menyipit sekilas. Seperti mendapatkan durian runtuh merasa ada kesempatan besar. Jika benar ini ayah dari cucunya, maka pasti sangat menguntungkan.
Yuni menyunggingkan senyum.
"Tenang nak, saya tahu alamat rumahnya. Kalau kamu mau ketemu nanti hari Sabtu datang kesini lagi. Tapi, kamu ngertilah!? Saya kan orang gak punya, jadi ..." Yuni menghela nafas berharap Zian langsung faham maksudnya.
Zian menautkan alis sekilas, tapi langsung mengerti maksud Yuni. Tanpa curiga, Zian menjawab dengan tenang.
"Ibu tenang aja! Biar saya yang tanggung ongkosnya." Sahut Zian.
Yuni tersenyum puas. Menaruh kresek belanjaan di lantai, kemudian menggenggam tangan Zian dengan mata berbinar.
"Duh nak, makasih banyak. Saya sebenarnya ingin membujuk Akira untuk tidak bekerja disana. Akirakan perempuan, saya khawatir nak." Tutur Yuni sedikit memelas. Wajahnya ia tundukkan seolah merasa sedih.
Tentu hal itu membuat Zian kasihan. Ia seakan melihat ibunya sendiri yang sedang merasakan kesedihan jauh dari anaknya. Meski Zian terakhir kali melihat ibunya di usia enam tahun. Namun, kenangan terakhir dari ibunya adalah wajah sendu sang ibu yang tengah menangis. Itulah alasan Zian tak pernah tega melihat wanita menangis. Hatinya seolah terketuk. Ada rasa iba menyeruak. Repleks tangan Zian mengelus punggung tangan Yuni. Tatapannya menunjukkan empati menatap wajah Yuni.
"Bu, ibu tenang aja! Saya akan bantu ibu." Ucap Zian dengan lembut.
"Terima kasih banyak nak."
Setelah mendapat jawaban Zian. Yuni melepaskan genggaman pada tangan Zian. Senyumnya mengembang sempurna. Merasa begitu bahagia.
Senyuman Yuni dibalas lembut oleh Zian. Pria itu kemudian sedikit menunduk hormat, berpamitan pada Yuni. Dilihat oleh Yuni kepergian Zian yang menaiki mobil, lalu pergi menjauh dengan mobil itu.
Setelah mobil tak nampak lagi dari pandangan. Yuni tersenyum licik. Otaknya mulai menyusun rencana untuk menyatukan Zian dan Akira. Senang sekali hatinya berpikir jika benar Zian ayah Chandra, maka tentu kehidupannya yang miskin ini akan berubah. Biarlah untuk urusan istri Zian sekarang, lagipula bukannya tak masalah seorang pengusaha mempunyai istri lebih dari satu?
Dengan langkah riang, Yuni mengambil kresek belanjaannya melangkah kemudian ke dalam rumah yang sebelumnya ia buka dengan bantuan kunci di genggaman.
Sekitar satu jam Zian melakukan perjalanan menuju rumah. Karena macet melanda beberapa jalanan kota, membuat Zian harus pulang lebih telat dari biasanya. Perasaan Zian serasa kehilangan beban akan kepenasaranya tentang Akira. Meski memang masih ada sejumlah pertanyaan tentang kebenaran Chandra sebagai anaknya. Namun, karena sudah bertemu dengan Yuni yang akan membantunya Zian merasa lebih tenang.
Setelah memarkirkan mobil di Garasi. Langkah kaki Zian segera melangkah menuju kamar. Namun, dahinya mengkerut kala melihat pintu kamar yang sedikit terbuka. Merasa heran kenapa Rista tak menutupnya dengan rapat. Tapi kemudian, Zian berusaha tak peduli. Melangkah kembali Zian. Saat satu langkah lagi untuk membuka pintu. Tangannya yang hendak memengang gagang pintu terpaku melayang di udara. Pendengarannya menjadi begitu tajam, mendengar suara di dalam kamar. Suara canda tawa dari anak yang ia kenal juga suara tawa dari istrinya Rista. Ada rasa yang tak Zian mengerti. Rasanya Zian tak pernah mendengar istrinya tertawa seperti itu kalau bukan tadi pagi. Dan itupun yang membuatnya tertawa adalah Satya bukan dia. Zian masih melayangkan tangan di udara. Mendengarkan setiap percakapan yang di lakukan Rista juga Chandra di dalam.
"Ayah, cium!"
Suara Chandra terdengar riang. Berikutnya Zian mendengar suara dari balik telpon, tapi kurang jelas. Dipertajamnya pendengarannya, tapi masih kurang jelas. Hingga suara manja yang familiar membuatnya sedikit merasa sedikit kesal.
"Ih, Satya apaan sih!"
Suara Rista yang terdengar malu-malu.
Entah apa yang mereka bicarakan terkesan asik dan membuat Zian menghela nafas jengah. Kemudian memutuskan untuk membuka pintu.
__ADS_1
Tampaknya Rista belum menyadari kedatangan Zian. Mereka berdua nampak masih asik dengan ponsel di genggaman Chandra.
"Ya udah ayahnya harus istirahat. Jadi tutup ya telponnya! Besok Chandra video callan lagi sama ayah. Gak apa-apa ya? Chandrakan anak pintar." Seru Rista.
"Ya. Dadah ayah." Jawab Chandra dengan tatapan polos, kemudian hendak menyerahkan ponsel ke tangan Rista.
"Cium dulu dong!"
Suara Satya di balik telpon menghentikan aksi Chandra, ia kemudian mengerucutkan bibir.
"Muaachh, dadah ayah."
Terlihat anak itu begitu senang dengan ekspresi wajah yang terpampang di ponsel Rista. Rista tak kalah bahagia, iapun tersenyum setelahnya menengadahkan tangan.
"Mana ponselnya sayang!"
Chandra memberikan ponsel tepat di telapak tangan Rista. Suara di ponsel membuat Rista tersipu malu.
"Gak mau cium ayah bunda?" Tanya Satya yang dapat didengar oleh Zian. Membuat Zian menghela nafas memutar bola mata. Pemandangan ini terkesan menyebalkan di mata Zian. Ia lebih memilih melenggang ke arah kamar mandi. Ditutupnya pintu kamar mandi dengan kasar.
Tindakan Zian itu sedikit membuat Chandra juga Rista terperanjat. Beberapa saat kemudian terdengar suara gemericik air. Di dalam kamar mandi Zian menguyur tubuhnya dengan air dingin. Mendinginkan otaknya yang terasa panas juga hatinya yang teras bergejolak. Ia menengadahkan wajah merasakan titik-titik air menyentuh permukaan kulit wajah. Terasa sejuk membuatnya memejamkan mata. Ditundukkan kembali wajahnya menatap tetesan air dari tubuhnya. Perasaannya seakan tak stabil ada amarah yang terpendam. Ada rasa tak nyaman itu kembali. Perasaan yang hadir saat melihat kedekatan Satya dan Rista meski itu hanya via telepon saja. Zian kembali menghela nafas, mematikan shower lalu mengambil handuk dan membalut bagian bawah tubuhnya. Berjalan keluar kamar mandi.
Matanya mendapati Rista yang tengah mengeloni Chandra. Gadis itu segera bangkit dari tempat tidur. Mendengar pintu kamar mandi yang dibuka, Rista tahu suaminya telah selesai melakukan ritual mandi. Tangannya perlahan meraba tongkat lalu berdiri hendak mendekati Zian. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan tempat tidur. Ada rasa ragu mendekati Zian. Merasa takut suaminya tengah marah. Hal itu terbukti dari tindakannya tadi menutup pintu dengan kasar.
"Mas kamu udah selesai mandinya?" Tanya Rista hati-hati.
Zian menghentikan langkah, tak menjawab. Ingin mendengar kata-kata apa yang selanjutnya akan dilontarkan Rista.
"Mas, apa kamu lagi marah? Apa kamu lagi ada masalah, mas?" Tanya Rista lagi dengan lembut dan hati-hati. Wajahnya menunduk seolah takut.
Tentu saja sebenarnya perasaan Rista merasakan takut. Takut suaminya marah, ia tahu satu hal kalau suaminya marah maka akan begitu mengerikan. Bukan sekedar bentakan tapi juga lemparan barang.
Menunduk takut, bibirnya seolah terkunci untuk kembali berucap. Karena Zian tak menjawab membuat Rista tak ingin kembali berucap takut itu menjadi masalah.
Melihat ekspresi takut istrinya. Zian mengerti dan menjawab meski hanya sekedar berdehem.
"Hmm."
Rista mengangkat kepala sekilas, tapi kembali menunduk. Memegang tongkat dengan erat. Merasa harus berani mengatakan isi hatinya. Mulutnya yang semula begitu kelu untuk berucap, kini ia paksakan untuk bicara.
"Mas," lirih Rista.
__ADS_1
Seketika Zian merasa terenyuh mendengar lirihan suara Rista. Kakinya repleks melangkah mendekati gadis itu.
Selama perjalanan Zian mendekati Rista, Rista bertutur penuh penyesalan.
"Aku minta maaf, aku selalu bawel sama kamu. Aku banyak nanya padahal kamu lagi ada masalah."
Zian tepat berada di hadapan Rista sekarang. Jantungnya terasa berdebar memandang wanita di hadapannya. Fokus matanya menatap bibir mungil yang mengatup setelah berucap penyesalan. Memandanginya dengan seksama.
"Ya gak apa-apa." Sahut Zian dengan lembut. Repleks begitu saja.
Membuat Rista mengangkat wajah terperangah tak percaya dengan jawaban Zian. Terkesan lembut dan menenangkan hatinya. Rista tersenyum manis. Senyuman yang begitu jelas dilihat Zian. Matanya menatap setiap inci wajah yang kini Zian sadari begitu cantik dan menenangkan. Debar jantungnya semakin tak menentu kala pandangan matanya terhenti menatap bibir mungil merah muda milik Rista. Yang entah kenapa membangunkan hasrat untuk segera menyentuh bibir itu untuk mengecupnya meski hanya sekilas. Matanya dikedipkan berulang kali. Mencoba menepis pikiran yang entah dari mana datangnya. Tangannya terangkat hendak mengelus rambut Rista, tapi hanya sanggup melayang di udara. Jantungnya yang semula stabil kini berdebar menatap wajah istrinya yang tersenyum manis. Tubuhnya seolah terpaku dan tak ingin beranjak dari keindahan yang ia lihat.
"Mas, mas udah makan malam?"
Pertanyaan Rista menyadarkan Zian. Menarik tangan lalu sedikit berdehem menetralisir rasa gugup di benaknya.
"Belum." Singkat Zian cepat dengan mengalihkan pandang.
"Mas kamu di depan aku ya?"
Zian kembali menatap Rista. Menelan saliva sesaat. Matanya fokus kembali menatap bibir mungil itu.
"Emang kenapa?"
Zian merasa salah tingkah. Masih ia perhatikan gerakan bibir Rista yang entah mengapa begitu menggoda.
"Aku cium aroma kamu mas. Jadi, aku tahu kamu di depan aku." Jawab Rista dengan senyuman.
Zian tak bisa menahan diri lagi. Ditariknya perlahan wajah Rista hingga menengadah menghadap Zian. Dikecupnya bibir mungil itu, mengecapnya perlahan. Mempertahankan posisi itu cukup lama. Tekuk Rista ditahan lembut dengan satu tangan. Rista kaget tapi tak menolak. Zian menutup mata menikmati penelusuran di bibir lembut Rista. Begitupun Rista berusaha tenang menutup mata menikmati perlakuan Zian.
Setelahnya Zian melepas perlahan. Wajahnya seketika memerah. Merasa malu melakukan tindakan nekad yang memang tak bisa ia tahan lagi. Godaan merah muda bibir Rista membuat Zian tak bisa tahan untuk merasakan manis mengecup bibir itu. Rista sendiri menunduk malu. Menghadirkan rona malu di pipi. Dalam hati Rista merasa begitu senang, Zian memperlakukannya dengan manis kali ini. Perasaannya seolah melayang apalagi debar jantungnya yang seakan berdebar-debar. Ingin tersenyum Rista, tapi ia malu. Ia menunduk mengigit perlahan ujung bibirnya. Merasa gugup dan juga malu.
Zian masih mengawasi tindakan Rista. Kembali menelan saliva memalingkan wajah. Menghindar untuk tak tergoda mengecup kembali bibir itu.
"Jangan lakukan itu! Atau aku akan melakukannya lagi." Tegas Zian.
Rista kaget mendengar penuturan Zian. Jantungnya kembali berdebar diluar debaran yang biasa. Terasa berdetak kencang. Pertanyaan demi pertanyaan menyelimuti hati Rista.
"Apa? Mas Zian mau melakukannya lagi? Lalu setelah ini..." Pikir Rista terhenti tak berani melanjutkan apa yang ia pikirkan. Dihentikannya tindakan mengigit ujung bibir. Kini Rista diam terpaku. Memegang kembali tongkat dengan kedua tangan. Berharap debaran jantungnya tak dapat didengar Zian. Perasaan malunya membuat ia mempererat pegangan pada tongkat.
"Aku akan ganti baju dulu. Kamu tunggu! Temenin aku makan! Ada hal yang ingin aku bicarakan!" Titah Zian kemudian melenggang pergi ke arah walk in closet.
__ADS_1
Rista masih terpaku. Memegang dada dengan satu tangan. Dapat Rista rasakan debaran jantung yang tak biasa. Juga perasaan bahagia atas perlakuan Zian. Sungguhkah perlakuan Zian kali ini?
Rista harap ini memang ketulusan hati Zian, bukan kebohongan. Rista kembali ingat ucapan terakhir Zian. Dia mengatakan ingin mengatakan sesuatu, membuat Rista bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan Zian? Apa hal penting? Atau Zian akan mengatakan untuk memperbaiki hubungan ini?