Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 29 : Ganti Rugi


__ADS_3

Dipapah Rista menuju tempat tidur oleh Zian. Perlahan dilepasnya bahu Rista. Tangan Zian beralih mengambil semangkuk sup hangat di atas Nakas. Rista yang sudah duduk manis, sedikit mengeryitkan dahi saat ingat Zian mengatakan Bi Maya membawa makanan ke kamar.


"Mas, kenapa kita makan disini?" tanya Rista.


Zian menyendokkan sup lalu menyentuhkan ujung sendok ke bibir Rista. Dengan senang hati Rista menerima suapan dari Zian, ia mengunyah sayuran dan nasi yang Zian suapkan sembari menunggu jawaban dari Zian.


"Gak apa-apa. Aku cuma pengen manjain kamu hari ini. Ini adalah bukti aku mau berubah dan berusaha jadi suami yang bertanggung jawab buat kamu." ucap Zian dengan senyum manis.


Rista membalas senyum itu. Meski tanpa melihat Zian yang tersenyum, Rista merasakan ketulusan dari apa yang Zian ucapkan. Terasa ujung sendok mulai menyentuh bibirnya lagi. Rista kembali menerima suapan itu. Kening Rista sedikit mengkerut.


"Mas, kamu kenapa gak makan?" tanya Rista seusai menelan makannya.


"Aku juga makan, pas udah selesai suapin kamu." jawab Zian sembari memasukkan satu suap untuk diri sendiri.


Rista tersenyum, tapi kemudian senyumnya pudar.


"Tapi kamu gak bohongkan mas?" ujar Rista merasa ragu.


"Gak sayang, aku gak bohong. Ini aku lagi nguyah." jelas Zian yang memang sedang mengunyah. "Udah ah, kita jangan banyak bicara dulu! Kamu makan lagi ya? Mau pake apa? Ini ada Ayamnya, ada Tahu juga. Kamu mau pake apa?" lanjutnya sembari mengaduk sup.


"Apa aja mas. Aku suka kok, kamu juga makan lagi mas!" Rista tersenyum manis.


Percaya Rista sekarang, suaminya pasti akan benar-benar tulus sekarang. Tak akan ada lagi kebohongan. Zian pasti bertindak tulus dan akan mencintainya dengan tulus juga, seperti itulah yang Rista pikirkan. Berpikir setiap tindakan Zian adalah ketulusan tanpa dusta sedikitpun.


Zian hanya tersenyum, kemudian kembali menyuapi Rista. Sarapan pagi ini mereka lakukan dengan saling suap. Zian menuntun Rista untuk menyuapinya. Seusai sarapan, Zian mengambil tisu dan dengan lembut mengelap bibir Rista. Matanya tertuju pada bibir mungil merah muda itu, bibir yang membuat Zian merasa candu untuk selalu mengecupnya disetiap ia punya kesempatan. Dielusnya bibir Rista bagian bawah dengan ujung ibu jari Zian.


"Mas!" gumam Rista.


Tak ada jawaban dari Zian, tapi jemari tangannya mulai bergeser mengelus pipi lalu merangkak menuju leher Rista. Jemari itu mengelus tekuk leher Rista, membuat sang pemilik sedikit mendesah. Desahan Rista membuat Zian menggila, ia menarik leher Rista agar bibir Rista menyentuh bibir miliknya yang tentu sudah siap untuk kembali mengecap lembut bibir itu. Jarak mereka begitu dekat, deru nafas keduanya saling beradu.


Namun, usaha Zian untuk kembali mengecup bibir Rista gagal, karena ketukan pintu di luar kamar.


"Tuan, nyonya maaf saya ganggu. Tapi, ini Den Chandra pengen ketemu nyonya katanya. Boleh saya masuk tuan, nyonya?" teriak Bi Maya sembari mengetuk.


Ditariknya kembali tangan yang sudah mencengkram leher Rista. Usaha Zian gagal, ia sedikit mendengus kesal. Berdiri Zian setelah itu ia membuka pintu mendapati Bi Maya yang sedang berdiri bersama Chandra yang juga berdiri di depan Bi Maya. Anak itu menatap Zian sebentar lalu menunduk merasa takut menatap tatapan Zian.


Zian mengerakkan kepala ke samping mengisyaratkan untuk masuk.


"Ayo masuk!" titah Zian dengan nada dingin.


Chandra menatap Zian sekali lagi, tapi tak lama. Anak itu segera masuk menerobos saat melihat Rista yang duduk di atas Ranjang.


"Bunda!" teriak Chandra langsung berlari memeluk Rista.


Kedua tangan Bi Maya yang menahan kedua bahu Chandra terlepas seketika saat Chandra masuk menerobos masuk. Bi Maya kaget sendiri, karena tak bisa menahan Chandra. Namun, wajah kagetnya berangsur tenang. Saat Zian berkata, "udah gak apa-apa bi. Bibi boleh lanjutin pekerjaan bibi. Chandra biar saya sama Rista yang urus." tegas Zian, membuat Bi Maya mengerti dan sedikit menganggukkan kepala.


"Baik tuan, saya permisi." pamit Bi Maya kemudian berlalu menuju kamar.


Ditutup kembali pintu saat Bi Maya telah berlalu. Zian kemudian berdiri di depan Chandra yang diperlakukan begitu manja oleh Rista. Memperhatikan setiap tindakan yang mereka lakukan. Sungguh Rista begitu akrab dan lembut seperti dia adalah ibu kandung dari Chandra sendiri.

__ADS_1


"Bunda, Chandla kangen! Chandra mau bobo ma bunda." celoteh Chandra yang menengadah menatap Rista penuh harap.


Rista tersenyum manis, ia mengelus lembut rambut Chandra setelahnya berkata,


"sayang, kan udah pagi. Kok mau bobo lagi, kita sarapan aja yuk! Chandra udah sarapan belum? Papa Zian tadi suapin bunda sup, Chandra mau?" tawar Rista masih mengusap-usap rambut Chandra.


Zian merasa tak terima iapun mengeryitkan dahi sedikit merasa kesal.


"Papa Zian?" ulangnya mengingat apa yang Rista tuturkan.


Mendengar nada seolah penolakan dari Zian Ristapun bertanya, "kenapa mas? Gak apa-apakan, kita anggap Chandra anak kita. Bukannya mas belum menemukan ibunya, untuk sementara biar kita jadi orang tuanya." seru Rista kemudian berdiri dan menggendong Chandra.


Ia memegang tangan Chandra. Mengangkatnya setelah itu menyuruh Chandra memperkenalkan diri pada Zian.


"Ayo sayang! Kenalan dulu sama papa Zian! Kamukan belum pernah kenalan sama papa Zian!" pinta Rista dengan lembut.


Terpaksa Chandra mengakhiri pelukannya pada Rista. Menengadah wajah lalu berbalik dan menatap Zian yang menatapnya tajam. Seketika Chandra menunduk dan kembali menenggelamkan wajah dalam dekapan Rista. Merasa takut melihat tatapan Zian. Tindakan Chandra tentu membuat Rista kaget, wanita itu kembali mengelus lembut kepala Chandra. Merasakan tangan mungil Chandra semakin mempererat pelukan.


"Sayang kenapa?" tanya Rista.


"Takut." singkat Chandra.


Rista menautkan alis kemudian bertanya,


"loh kenapa takut sayang? Papa Zian baik kok, yakan pa?" tanya Rista pada Zian.


"Hm." dehem Zian singkat. Pria itu masih berdiri di tempat.


"Mas, kamu maukan terima usul aku. Untuk sementara mas. Kamu pasti suka sama Chandra, dia anak yang baik dan lucu. Sekarang kamu sini deh mas!" pinta Rista sembari mengangkat tangan.


Zian faham dengan maksud Rista, meski agak keberatan Zian akhirnya mengenggam tangan itu. Ristapun menuntun tangan Zian untuk memegang tangan Chandra. Chandra masih merasa takut, ia tatap Zian yang tengah menatap Rista dengan ragu-ragu.


"Sayang, Chandra sekarang kamu punya papa ya? Papa Zian. Papa Zian ini baik, dia juga perhatian. Chandra pasti suka sama papa Zian. Chandra mau ya? Sayangi papa Zian kaya Chandra sayang sama bunda." tutur Rista begitu halus memberi Chandra pengertian.


Zian hanya terdiam mendengar penuturan Rista. Dalam hati Zian benar-benar merasa tak enak, melihat Rista yang tulus membuat Zian memiliki tekad untuk tak pernah mengungkapkan identitas Chandra sebenarnya. Batin Zian seolah terketuk, perasaannya semakin luluh karena ketulusan Rista. Pria itu kemudian menatap dua mata indah yang mirip dengannya. Dipegangnya dengan lembut kedua bahu Chandra. Anak itu hanya menatap tak mengerti ke arah wajah Zian yang menatapnya dengan lembut. Senyum manis kini terukir di bibir Zian. Senyum yang membuat Chandra perlahan melepaskan pelukannyannya pada leher Rista.


"Sayang, Chandra mau punya papa kaya om Zian?" tanya Zian.


Chandra diam kemudian menatap Rista yang hanya tersenyum mendengar pertanyaan Zian. Chandra yang memang masih polos, ia tersenyum kecil menatap Zian setelah itu mengangguk, tanda ia mau menerima Zian sebagai papa.


Zian menarik Chandra setelah itu mengambil alih Chandra dari pangkuan Rista, mendekap anak itu dalam dekapannya. Tak ada penolakan dari Chandra, anak itu malah balas memeluk leher Zian. Pelukan anak itu membuat Zian tertegun merasakan pelukan dari Chandra seolah membuat Zian merasa nyaman dan seperti ada ketertarikan pada Chandra. Rasa yang mungkin seperti ikatan batin antara sepasang ayah dan anak. Kemudian Zian sedikit mencubit kecil pipi gembul milik Chandra.


"Sekarang kita sarapan, Chandra mau disuapin?" tanya Zian.


Dilepaskannya pelukan pada Zian. Tangan Chandra bergerak-gerak ingin menjangkau Rista.


"Mau disuapin bunda." rengeknya.


Rista yang menyadari suara Chandra berada pada pangkuan Zian, membuat Rista meraba-raba. Setelah mendapat tangan mungil itu, Rista mencium sebentar tangan Chandra.

__ADS_1


"Sayang, mama bakal suapin Chandra ya? Tapi Chandra maukan Om Zian jadi papa Chandra?" tanya Rista.


"Mau bunda."


Zian tersenyum manis. Merasa momen ini sungguh berbeda dengan kehidupannya dahulu yang memang kurang mendapat kasih sayang kedua orang tua. Hatinya merasa begitu tenang saat melihat senyum indah merekah di bibir sang istri. Juga tawa Chandra yang begitu riang kala Rista menggelitik pinggang anak itu, membuat Zian merasakan cinta yang memang kurang dalam hidup Zian. Tak henti senyum terus terukir di bibir Zian. Dengan spontan Zian menarik tubuh Rista lalu mengecup pelipisnya dengan lembut.


"Terima kasih sayang." bisik Zian setelah mengecup Rista.


Wanita itu hanya tertunduk merasa malu, sembari tersenyum manis.


"Kalau gitu gimana kalau kita sarapan di Ruang Makan aja? Biar Chandra bunda suapin mau ya?" pinta Rista.


Rista lalu meraba tongkat yang berada di samping tempat tidur, setelah mendapat tongkat Rista berjalan terlebih dahulu. Zian memperhatikan setiap langkah Rista. Merasa tak terdengar hentakan kaki dari Zian, Rista berhenti sejenak.


"Mas, kamu masih diem ya? Ayo mas kita sarapan!" ajak Rista. Zianpun melangkah, ia sentuh bahu Rista dari belakang.


"Iya ayo!" sahut Zian, setelah itu mengekor di belakang Rista menuju meja makan.


Pagi yang cerah itu semakin terasa indah. Seusai sarapan mereka bertiga pergi ke halaman belakang. Bermain disana, Zian sengaja menggelar tikar untuk mereka duduk santai. Senyum bahagia nampak di wajah Zian. Sikap dingin Zian seolah luluh dengan tindakan juga kelembutan yang Rista tunjukkan. Wanita itu menjadi terasa spesial di mata Zian. Keceriaannya juga ketulusan Rista membuka ruang di hati Zian untuk menempatkan Rista sebagai wanita spesial disana. Mata Zian tak henti memandang Rista yang tengah meraba mencari keberadaan Chandra.


"Mana ya? Mana Chandra? Bunda gak denger suaranya loh." kata Rista sembari meraba-raba.


Chandra hanya menutup mulut menahan tawanya, tiba-tiba tangan Rista menyentuh kaki Chandra, dikelitikinya kaki Chandra yang membuat anak itu tertawa lepas. Rista semakin mengelitik kaki mungil itu.


"Ayo-ayo mau lari kemana? Bunda tahu suara kamu dimana loh." Chandra segera beringsut mendekati Zian, ia berlindung di balik tubuh Zian sembari cekikikan menahan tawa.


"Ah, suara Chandra disini deh." ujar Rista yang meraba-raba mendekati suara tawa Chandra.


Senyum Zian tak henti menatap kelucuan Chandra juga senyum istrinya yang terus merekah. Senyum yang begitu manis dan menenangkan hati Zian. Namun, Zian tiba-tiba terperangah saat dengan tak sengaja Rista malah meraba paha Zian yang tengah berselonjor ke depan. Sadar tangannya menyentuh paha Zian, Rista dengan cepat menarik tangan itu menunduk lalu meminta maaf.


"Maaf mas," gumam Rista pelan.


Zian yang melihat Rista menunduk hanya tersenyum. Merasa suasana terasa canggung, Zian tanpa meminta izin Rista segera menarik tangan Rista dan menenggelamkannya dalam dekapan.


"Hore! Papa dapet bunda ni! Ayo Chan sini! Ini saatnya kamu gelitik bunda." sorak Zian mencairkan suasana.


"Mas!" Rista terlihat meronta, tapi senyum terbit di bibirnya. Kemudian Rista tertawa lepas saat Chandra menggelitik kakinya. Wanita itu tertawa merasakan geli di kakinya, ia bahkan tak sadar malah memeluk tangan Zian karena merasa geli dan Zian malah menahannya dengan pelukan. Zian dengan sengaja malah semakin mendekap Rista.


°°°


Setelah hari itu, Zian dan Rista menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Zian benar-benar membuktikan ketulusannya mencintai Rista. Tak bisa dipungkiri memang Rista rupanya telah berhasil menaklukkan hati Zian meski belum genap satu tahun. Kelembutan juga kasih sayang Rista membuat Zian luluh, meski begitu Zian masih merasa cemas mengingat tes DNA yang belum diketahuinya. Zian menggunakan sampel rambut Chandra untuk tes DNA yang ia ambil saat anak itu tertidur. Lalu hari ini sudah sekitar dua minggu sejak dilakukan tes dan hasilnya sudah keluar.


Zian yang tengah di ruangannya dikagetkan oleh Hendri yang tiba-tiba masuk mengucap salam.


"Permisi tuan, maaf saya menganggu. Tapi hasil tes DNAnya sudah keluar." ujar Hendri sembari menyodorkan amplop berwarna putih.


Seketika Zian mengalihkan fokus dari laptopnya. Melirik Hendri sekilas lalu membuka amplop itu perlahan. Dibacanya oleh Zian kata demi kata dari hasil tes itu. Mata Zian terbelalak setelah usai membaca surat hasil tes. Ia perlahan menaruh surat di atas meja. Zian menghela nafas, menekan sedikit meja di bawah tubuhnya. Menahan tubuh itu dengan kedua tangan. Nafas Zian kembali terdengar, helaan nafas yang terasa berat.


"Saya udah duga ini," gumam Zian...

__ADS_1


__ADS_2