Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 27 : Tes DNA


__ADS_3

Jalanan Kota Jakarta pukul delapan malam masih terlihat macet. Mungkin karena weekend maka banyak orang pergi keluar rumah untuk sekedar merasakan malam mingguan di kota yang terkenal padat ini.


Diantara kepadatan kendaraan yang berjejer rapi menunggu lampu merah berubah warna. Seorang dari dalam mobil sedan hitam tengah menggigit salah satu jemarinya. Merasa cemas orang itu, mengingat ia akan bertemu dengan seseorang yang sudah sekitar beberapa hari ini tak ia temui. Di sebelah orang itu seorang wanita paruh baya tengah sibuk dengan ponselnya. Diliriknya wanita itu oleh Zian. Jemari yang semula ia gigitpun spontan ia lepas.


"Bu gimana alamatnya udah dapet?" Tanya Zian cemas.


Bu Yuni sendiri telah mengatakan bahwa Akira anaknya ternyata sudah pindah. Memang masih di Jakarta, tapi ia tak bersama bibinya melainkan mengontrak di salah satu pemukiman.


Yuni yang sibuk mengetik menyempatkan menjawab.


"Sudah nak. Kita tinggal nunggu jalan aja, nanti setelahnya belok kiri. Ini jalurnya." Jawab Yuni sembari memberikan ponsel.


Zian mengambil ponsel itu. Memperhatikan petunjuk arah dari aplikasi maps disana. Zian yang mengerti segera memberikan kembali ponsel pada Yuni.


"Saya mengerti Bu." Kata Zian lalu kembali fokus. Menanti mobil di hadapannya segera melaju.


Sekitar beberapa menit kemudian. Lampu merah sepertinya sudah berganti warna hijau. Terlihat dari antrian panjang kendaraan mobil maupun motor yang mulai melaju satu persatu tak terkecuali mobil Zian.


Setelah berhasil melewati kemacetan yang terjadi kurang lebih setengah jam. Akhirnya, mobil Zian kembali menelusuri jalanan ibu kota. Seperti yang dilihatnya di peta Zian membelokkan mobil setelah berada cukup jauh dari Stopan.


Mobil terus melaju melewati sebuah komplek lalu melewati pemukiman penduduk yang cukup padat. Di dekat sebuah pos kamling yang masih sepi Yuni meminta Zian berhenti.


Zian melirik sekilas ke arah Yuni. Menghentikan mobil kemudian.


"Jadi rumahnya yang itu bu?" Tanya Zian menunjuk rumah berwarna coklat belakang pos kamling.


Bu Yuni mengangguk.


"Iya nak, yuk kita turun! Saya udah bilang sama Akira kalau kita mau datang." Seru Yuni lalu turun terlebih dahulu.


Zian menarik kunci mobil kemudian ikut turun juga. Saat keluar mobil, perasaan Zian tak menentu. Kebenaran akan segera terungkap dan entah kenapa Zian merasa khawatir menghadapi kenyataan ini. Suara Yuni menyadarkan Zian dari ketegangan hati dan pikiran.


"Yuk!" Ajak Yuni yang berjalan terlebih dahulu.


Tanpa sepatah kata Zian mengekor ibu paruh baya itu.


"Ngomong-ngomong Nak Zian kenal Akira dimana? Kok saya kaya pernah liat kamu nak, cuma saya lupa liat dimana?" Tanya Yuni disela langkah mereka menuju kontrakan Akira.


"Em," Zian sedikit berpikir. "Di tempat kerja bu." Lanjutnya kemudian.


"Oh gitu ya."


Yuni tak kembali bertanya, karena merekapun telah sampai di depan pintu. Diketuknya pintu itu oleh Yuni sembari mengucap salam. Zian semakin menerka-nerka kebenaran anaknya. Harapan Zian semoga hanya kesalahan dan Chandra bukan anaknya. Beberapa ketukan membuat sang pemilik rumah membuka pintu. Dibukanya perlahan pintu itu.

__ADS_1


Kala pintu telah terbuka lebar. Mata Zian seakan sulit berkedip melihat sosok wanita di hadapannya. Wanita yang cantik dengan mata indah. Bukan itu saja yang menarik perhatian Zian, tapi pakaian wanita itu yang sangat minim mampu mempertontonkan bagian dada juga betis mulus yang berisi. Senyum wanita itu begitu manis, sedikit membuat Zian gelagapan menelan saliva sekilas.


"Waalaikumsalam. Ibu!!" Jerit wanita itu langsung memeluk sang ibu.


Yuni membalas pelukan sekilas langsung kembali mendorong perlahan tubuh Akira. Diperkenalkannya Zian pada Akira. Saat sang ibu mengatakan Zian temannya, Akira sedikit mengeryitkan dahi.


"Teman?" Tanya Akira merasa heran. "Maksudnya apa pak?" Lanjutnya bertanya menatap Zian.


Terlihat Zian salah tingkah dengan tatapan mata Akira. Mata yang indah dengan kornea mata berwarna kecoklatan begitu membuatnya terpesona. Berdehem sesaat untuk menetralisir kegugupan, Zian kemudian bicara sesopan dan seformal mungkin.


"Saya sengaja menemui kamu. Ada hal yang ingin saya bicarakan."


Wajah Zian serius dan berusaha menghilangkan kegugupan yang mungkin saja terpampang di wajahnya.


Kini kegugupan beralih pada perasaan Akira. Ia mengalihkan pandangan melihat sekeliling. Bola mata yang seolah mengindari tatapan Zian, membuat Zian semakin curiga. Lidah Akira terasa kelu. Mulutnya sedikit menganga hendak berbicara tapi tertahan di tenggorokan.


"Bisakan?" Tanya Zian dengan tatapan selidik. "Ini hal yang sangat penting dan saya ingin privasi untuk pembicaraan kita." Lanjutnya.


Mata Zian melirik sekilas Bu Yuni. Tatapan yang langsung Bu Yuni mengerti.


"Kalau gitu ibu akan meninggalkan kalian berdua." Ucap Bu Yuni.


Sesegera mungkin Bu Yuni masuk ke dalam rumah. Setelah itu hening terasa, tak ada yang berbicara. Kedua insan itu nampak saling mematung terlarut dalam pikiran masing-masing. Akira tersadar mengerjap-ngerjapkan mata kemudian berkata.


Di kursi sederhana itu mereka duduk berdampingan. Berulang kali Akira menelan ludah. Terasa kerongkongannya begitu kering. Gugup juga takut akan apa yang dikatakan Zian. Jelas sudah, Zian pasti telah menerima surat darinya. Pikirannya melayang kemana-mana. Berpikir maksud dari kedatangan Zian. Akankah seperti yang ibunya katakan? Tentu saja tidak mungkin, Zian sudah menikah. Akan sangat mustahil pria itu datang hanya untuk sekedar melamar.


"Langsung saja, apa benar Chandra darah daging saya?" Tanya Zian.


Tatapan Zian fokus menatap ke depan. Ia sama sekali tak ingin melirik Akira. Bukan benci, hanya saja Akira begitu mempesona ia tak ingin menjadi pria yang bodoh yang memandang apa yang bukan haknya.


Akira yang meremas jemari demi menghilangkan kegugupan, kini tangan itu berhenti meremas. Tatapan matanya fokus menatap wajah Zian yang menatap lurus ke depan. Keterkejutan terlihat jelas di mata Akira. Pertanyaan yang memang sudah pasti akan Zian lontarkan akhirnya didengar juga oleh Akira.


Ada rasa malu mengakui kebenaran itu. Akira menunduk lemas.


"Iya." Lirih Akira tapi masih didengar Zian.


Zian menghela nafas panjang. Merasa begitu kesal. Tak percaya dengan jawaban Akira pria itu kemudian berdiri. Dengan angkuh ia memasukkan kedua tangan kedalam saku celana.


"Bagaimana kamu bisa yakin dia anak saya? Kapan kita bertemu? Dan bagaimana anak itu bisa lahir? Semuanya mustahil! Ini sama sekali gak masuk akal!" Tegas Zian.


Akira terkejut juga tak terima dengan jawaban Zian. Ikut berdiri Akira karena tak terima dan tentunya ingin membantah apa yang Zian katakan.


"Maksud bapak apa? Bapak saat itu mabuk. Mungkin bapak tidak ingat, tapi bapak sudah menodai kehormatan saya tiga tahun yang lalu di club itu. Asal bapak tahu saja! Saya awalnya ingin membunuh anak itu, tapi saya berpikir ulang. Bagaimana anak yang tak tahu apa-apa harus saya bunuh? Sebagai ibunya saya tidak tega. Saya rela membesarkannya selama dua tahun. Dan sekarang saya ingin memberikan anak itu pada bapak karena saya sudah yakin bapak bisa menjaganya sekarang. Tapi, bapak benar-benar tega menanyakan kebenaran darah daging bapak sendiri! Saya faham kalau bapak memang tidak ingat. Tapi sekali lagi, bisakah bapak menerima keberadaannya saat ini? Hanya itu yang saya minta." Tegas Akira dengan lantang.

__ADS_1


Penuturan Akira mampu membuat Zian terpaku. Kekesalan memuncak di batin Zian. Sekarang memang tak ada alasan Zian menolak Chandra. Pria itu beradu dengan emosinya sendiri. Merasa buntu dengan pemikirannya. Tak sanggup berpikir lagi untuk menepis kenyataan Zian dengan cepat menarik tangan Akira.


"Kalau begitu, ayo kita menikah!" Tegas Zian berhasil membuat Akira membulatkan bola mata dengan sempurna. Ternganga mendengar permintaan Zian.


"Itukan yang kamu mau. Merusak rumah tangga saya juga kehidupan saya. Kamu pikir dengan kamu membawa anak itu ke rumah saya, kamu bisa menikahi saya dengan dalih Chandra sebagai perantara, begitu? Sayangnya saya tidak bodoh! Bagaimana saya tahu anak itu benar-benar anak saya sedangkan pekerjaan kamu saja di club, bukannya tidak mustahil anak itu hasil permainan kamu dengan laki-laki lain?"


Plakkk,


Satu tamparan berhasil menyentuh pipi mulus Zian. Akira sigap menarik tangan dari cengkraman pria itu dan tentu saja karena tak terima, ia menampar pipi Zian. Dengan nafas terengah-engah Akira berkata penuh amarah.


"Maaf Tuan Zian Alansyah! Saya tegaskan kepada anda, saya bukan wanita murahan! Chandra adalah darah daging anda. Jika anda butuh bukti, silahkan lakukan tes DNA!" Tantang Akira kemudian berbalik badan, tapi ia kembali berbalik menunjuk wajah Zian. "Dan satu lagi jaga ucapan anda!" Titah Akira penuh penekanan.


Luapan emosi Akira membuat Zian kembali tertegun. Matanya menatap Akira yang masuk ke dalam rumah. Menutup pintu begitu keras. Wanita itu terlihat tak peduli dengan Zian yang mematung. Pria angkuh seperti Zian rasanya pantas mendapat pelajaran, kiranya seperti itu yang Akira pikirkan.


Zian mendengus kesal. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang, selain melakukan apa yang Akira pinta yaitu tes DNA. Mungkin butuh waktu, tapi Zian masih tak terima dan ingin membuktikan bahwa pemikirannya benar. Chandra bukan anaknya.


Dengan kecepatan diatas rata-rata. Zian menyalip setiap mobil yang menghalangi pandangannya, tak ingin ada yang menahannya. Ia merasa begitu kesal saat ini. Akira sangat kurang ajar, selain wanita itu berani menaruh Chandra di rumahnya wanita itu juga begitu lancang menamparnya.


Karena kesal, Zian semakin mempercepat laju mobilnya. Tak memperdulikan beberapa bunyi klakson yang tak terima saat disalip Zian, pria itu tetap melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Tiba Zian di sebuah persimpangan jalan yang cukup sepi. Tanpa pikir panjang Zian membelokkan mobil tanpa mengurangi kecepatan.


TIDID ...


Suara klakson membuat Zian mengerem mobil mendadak. Kepalanya sedikit terhempas ke depan hampir membentur stir mobil.


°°°


"Mas.." Gumam Rista disela tidur.


Rista mendengar suara suaminya berteriak keras dalam mimpi. Seketika Rista bangun dari tidur. Didudukannya tubuh yang terasa tak nyaman itu. Air mata tak ia duga sudah berderai. Mimpi apa Rista barusan? Perasaannya semakin tak karuan. Tangannya meraba samping tempatnya terlelap barusan. Namun, ia tak menemukan sosok Zian disana.Tangannya beralih memengang dadanya yang terasa sesak. Ada rasa khawatir. Sampai detik ini, Zian belum juga pulang. Kemana suaminya itu pergi? Rista takut terjadi hal buruk pada Zian. Tanpa bisa Rista tahan lagi kini air mata luruh jatuh berderai membasahi pipi. Bibirnya berucap begitu lirih.


"Mas.. Hiks.. Hiks.. Kamu kemana mas? Aku khawatir mas, kamu cepet pulang!!"


Rasanya sakitnya begitu menjalar ke seluruh tubuh. Sakit karena perasaan khawatir mengingat Zian yang belum kembali. Begitu jauhkan perjalanannya? Hingga terasa ada firasat buruk menerpa hati Rista. Firasat yang merasa Zian tak baik-baik saja.


Tak ingin larut dalam kegundahan, Rista memilih beranjak dari tempat tidur. Dirabanya keberadaan tongkat samping ranjang. Setelah mendapat tongkat itu, Rista berjalan ke arah kamar mandi. Kakinya hendak melangkah masuk kesana. Ia berpikir untuk mendinginkan wajahnya yang pasti sembab akibat tangis yang ia lakukan. Namun, baru saja Rista hendak meraba handle pintu, suara pintu terbuka menghentikan niatnya. Dengan wajah sumringah Rista membalikkan badan ke arah pintu yang terbuka. Langkahnya begitu bersemangat mendekati sang pemilik tangan yang telah berhasil membuka pintu.


"Mas! Kamu udah pulang? Alhamdulillah, kamu gak apa-apa kan mas? Kamu baik-baik ajakan? Gimana perjalanan kamu? Aku khawatir mas! Kenapa kamu baru pulang?" Berondong Rista dengan berbagai pertanyaan.


Rasa cemas bercampur syukur terpancar jelas di wajah gadis itu. Orang di hadapan Rista yang memang adalah Zian merasa kupingnya seolah mendengar cerocosan tak berguna yang menggangu pendengarannya. Ia sudah begitu kesal dengan bentakan Akira dan sekarang saat pulang Rista memberondonginya dengan berbagai pertanyaan. Membuat Zian menghela nafas jengah.


"Bisa gak kamu diem? Berisik!!" Sentak Zian melenggang melewati Rista.


Sentakan Zian mengangetkan Rista, membuatnya mengendikan tubuh meringis ketakutan. Kembali air mata luruh membasahi pipinya. Kecemasannya berubah jadi kesedihan yang teramat. Sakit sekali hatinya. Sekali lagi Rista bertanya, dimanakah letak salahnya? Ia khawatir, apa itu sebuah kesalahan? Rista hanya merasa khawatir. Pertanyaan dari mulutnya adalah murni karena spontan karena ia merasa bahagia mendengar Zian telah pulang. Namun, selalu begitu setiap hal yang Rista rasa dan Rista lakukan selalu salah di mata Zian. Bukankah pria itu bisa melihat? Tapi tak bisakah dia melihat derai air mata disetiap kali Rista terluka? Terluka karena ucapan dan tindakan Zian yang tak pernah bisa menerima cinta tulus yang diberi Rista. Jika memang tak bisa membalas, setidaknya hargai rasa yang akan terluka jika terus diperlakukan dengan sia-sia. Rasa cinta ini bukan Rista yang meminta. Tak ada paksaan, ini murni ketulusannya.

__ADS_1


__ADS_2