Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 28 : Sebagai Ganti


__ADS_3

Dengan langkah lesu dan hati yang terasa teriris, Rista melangkahkan kakinya menuju ranjang dengan bantuan tongkat putih yang setia dalam genggaman. Tubuhnya berguncang karena tangis yang begitu sulit terhenti. Matanya perih akibat deraian air mata yang tak mau berhenti menerobos pelukan matanya. Tangan mungil itu memegang dada yang terasa sesak. Rista menagis sejadi-jadinya tanpa peduli akan ada yang mendengar suara tangisannya. Hatinya terus bergumam mempertanyakan apa salah yang ia lakukan? Cinta yang ia rasa seakan adalah kesalahan di mata sang suami. Kesempatan yang Zian beri seolah omong kosong. Itu hanyalah cara dia menunjukkan sikap simpati pada gadis buta malang yang mengemis cinta. Tak ingin lebih tengelam dalam rasa sakit, Rista lebih memilih membaringkan tubuh yang terasa begitu letih. Wajah yang penuh dengan deraian air mata itu ia tenggelamkan dalam bantal putih. Menahan agar suara tangis itu tak terlalu kencang, Rista gigit bibirnya yang gemetar. Tangannya meremas ujung bantal sekuat tenaga. Tangis Rista kini benar-benar pada puncak rasa sakit. Ingin menyerah saja rasanya, ia tak sanggup menahan cinta yang hanya sepihak. Dan Zian ia begitu sesuka hati memperlakukan Rista dengan ucapan kasar dan sikap acuh tak acuhnya. Hati Rista adalah hati manusia biasa yang akan hancur bak batu yang terus dihujami air hujan. Hati itu akan hancur jika Zian terus menghujaminya dengan cacian juga bentakan.


Sesegukan akibat tangis ternyata tak benar-benar dapat Rista redam. Terbukti Zian masih mendengar wanita itu menagis kala Zian baru keluar kamar mandi. Tangannya yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk, ia lepas perlahan. Itu repleks Zian lakukan karena melihat Rista yang tengah menangis. Tubuh Rista yang berguncang akibat tangis, membuat Zian khawatir. Cepat-cepat Zian mendekati Rista, ia bahkan tak menghiraukan jika saat ini dia hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Zian duduk disamping Rista. Gadis itu sadar seseorang tengah duduk di sampingnya, sesegera mungkin Rista menghapus air mata. Tak ingin Zian melihat dia menangis dan menghinanya lagi sebagai gadis buta tak berdaya.


Zian memperhatikan tindakan Rista, ia tarik tangan itu.


"Jangan berpura-pura!" ucap Zian kemudian melepaskan tangan Rista. "Aku tahu kamu terluka, jangan bertingkah seolah kamu baik-baik saja!" Zian berdiri hendak ke walk in closet dan memakai baju disana.


Rista beringsut bangun. Matanya sudah kembali menitihkan bulir bening. Memang tenggorokan Rista terasa seakan tersekat dan sulit berucap, tapi ini sudah saatnya Rista mengungkapkan perasaannya lagi. Perasaan yang terluka karena perilaku Zian selama ini. Rista paksakan diri untuk berbicara.


Susah payah Rista dengan lirih ia berkata,


"mas, boleh aku tanya mas? Bagaimana cara aku lupain kamu mas? Bagaimana agar rasa ini gak nyakitin aku? Aku gak kuat mas," Rista menghentikan penuturannya sejenak menahan tenggorokannya yang terasa berat, bahkan hanya untuk sekedar menelan saliva. "Aku sakit, aku ingin bisa lupain kamu mas, hiks, hiks. Lupain perasaan aku. Tapi, semakin aku coba lupain kamu. Semakin berusaha benci kamu, aku semakin gak bisa hiks, bodohnya aku karena terus bertahan dengan cinta ini. Hiks, tolong mas! Tolong bantu aku jalani semua ini hiks, hiks, aku cape mas. Aku gak bisa luapin kamu." lirihnya sembari menunduk. Kini tangis itu kembali pecah, tangisan yang kini lebih kencang namun Rista tahan dengan telapak tangan agar suara tangisnya tak terdengar.


Zian tertegun, matanya menatap lekat sang istri yang tengah menangis. Zian tak pernah melihat tangis wanita sampai seperti itu. Apa dia sudah benar-benar menyakiti hati Rista? Zian perlahan kembali duduk. Dihapus lembut bulir bening yang jatuh berderai di pipi Rista dengan jemari telunjuk Zian.


"Apa yang kamu harapkan dari aku Ris?" tanya Zian seusai mengusap bulir bening itu.


Rista menggeleng lemah. "Aku gak tahu mas hiks, aku minta maaf hiks, karena aku belum bisa ngehapus cinta aku sama kamu. Aku minta maaf mas." lirih Rista lagi kemudian menunduk.


Zian mengangkat dagu Rista, membuat Rista merasa kaget dengan perlakuan Zian. Ditarik perlahan dagu itu. Zian kemudian menyatukan perlahan bibirnya dengan Rista begitu lembut membuat Rista menutup mata menikmati kehangatan yang Zian berikan. Tak ada yang lebih, Zian hanya mengecup wanita itu. Perlahan Zian lepas kembali penyatuan dua bibir itu, setelahnya ia juga melepas dagu Rista. Tangannya beralih mengelus lembut puncak rambut Rista. Ditatapnya Rista dengan lembut.


"Maafkan aku Ris, tapi kamu tahukan? Aku belum bisa membalas cinta kamu itu. Sebagai ganti aku akan mencoba belajar mencintai kamu. Semoga Tuhan mengabulkan keinginan kamu, supaya hati kamu gak terluka lagi. Asal kamu tahu Ris, aku paling tidak bisa melihat wanita menagis." tutur Zian begitu lembut.


Seolah menebus relung hati terdalam, Rista terhanyut dalam penuturan Zian. Tangannya meraba tangan Zian, perlahan tubuhnya mendekati Zian. Tangan Zian yang masih setia ia genggam kembali ia raba. Memeluk tubuh Zian kemudian. Rista memeluk erat tubuh Zian, membuat Zian kembali tertegun.


"Mas, aku sayang kamu mas. Jangan pergi! Aku kangen sama kamu mas hiks. Kapan kita bisa makan bareng lagi? Kapan kamu perlakuin aku lagi dengan lembut? Seperti saat pertama kamu memohon melanjutkan hubungan ini mas. Aku sayang kamu mas, entah sampai kapan tapi aku bakal menunggu kamu. Hiks, aku bakal setia buat kamu sekalipun kamu gak pernah mau liat cinta aku hiks, sekali lagi aku minta maaf mas karena kelancangan aku ini. Hiks, hiks, aku gak bisa bohongi perasaan aku sendiri aku mencintai kamu mas." Air mata terus menetes. Tetasan air mata itu dapat Zian rasakan pada dadanya yang memang tak tertutup sehelai kainpun. Dengan spontan Zian mengelus pucuk rambut Rista.


"Aku gak bisa janji Ris, aku minta maaf udah bohongin kamu. Tapi, aku akan berusaha jadi suami yang bertanggung jawab." kata Zian, ia terdiam sesaat. "Dan sampai detik ini aku masih membohongi kamu." lanjutnya dalam hati.


Kejujuran nampaknya belum sanggup Zian ungkap, karena belum ada bukti. Juga Rista tak harus tahu bagi Zian. Karena jika Rista tahu, untuk kesekian kalinya Zian akan menggores luka di hati Rista. Itu hal buruk dan Zian tak ingin itu terjadi.


Malam itupun menjadi malam tak terlupakan bagi Rista, selain suaminya yang begitu tulus meminta maaf. Zian juga memperlakukan Rista layaknya seorang istri. Kecupan juga pelukan menghiasi malam mereka.


Hingga tiba pagi hari, Zian menjadi orang pertama yang bangun. Ia sudah berpakaian santai, karena hari ini Hari Minggu Zian memutuskan untuk tinggal di rumah dan mendampingi Rista. Ada rasa tenang dan nyaman saat semalaman ia memeluk sang istri. Zian tak mengerti, tapi ia mulai belajar menerima kenyataan mungkin Rista memang adalah jodohnya. Dengan menaikan kedua sudut bibir hingga melukiskan senyum manis, Zian tatap Rista yang masih tertidur pulas. Jemarinya dengan lembut mengelus pipi halus nan mulus milik gadis itu.


"Ris, Rista bangun! Kita sarapan yuk!" ajak Zian dengan lembut.

__ADS_1


Rista yang merasakan sentuhan, membuka mata perlahan. Pipinya masih terasa hangat, karena jemari Zianpun masih disana.


"Mas, apa kamu disini mas?" tanya Rista sembari meraba ke samping.


Zian sigap mengambil tangan Rista lalu menggenggam dan mengecupnya sekilas.


"Iya, ini aku. Kamu bangun dulu, mandi terus kita sarapan. Aku udah nyuruh Bi Maya bawa makan kesini. Jadi, sekarang kamu mandi dulu, okey?" Zian tanpa persetujuan dari Rista menggendong wanita itu menuju kamar mandi.


Rista tentu merasa kaget, ia repleks memeluk Zian.


"Mas, aku malu mas semalam kita..." Rista tak sanggup melanjutkan kalimatnya, karena merasa malu tentunya.


Zian tersenyum.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu gak telanjang kok, aku udah pakein lagi baju kamu." jelas Zian kemudian mendekatkan bibir ke telinga Rista dan berbisik, "lagipula bagian mana dari tubuh kamu yang gak aku liat? Semuanya udah aku liat." ucap Zian sekilas mengecup leher Rista.


Rista semakin menenggelamkan wajah ke dada bidang Zian. Merasa begitu malu dengan yang Zian katakan. Zian benar, semalam Zian berhasil menjamah tubuh Rista. Rasanya tidak mungkin Zian tak melihat setiap inci dari tubuhnya.


Sampai kamar mandi, Zian menurunkan Rista perlahan. Tersenyum manis lalu menaruh kedua tangannya di atas kedua bahu Rista. Menatap Rista yang tertunduk malu-malu.


"Sekarang kamu mandi, atau mau aku mandiin?" tanya Zian terdengar seperti menggoda Rista.


"Hah?" sahut Rista kaget.


Zian menahan tawanya. Ditariknya perlahan dahi Rista dan mengecupnya cukup lama. Setelahnya Zian kembali bicara.


"Aku bercanda," ucap Zian sembari tersenyum. "Kamu mandi sendiri ya? Ini.." Zian menuntun tangan Rista untuk menyentuh Buthub. "Di dalam Bathtub sudah ada air hangat, kamu mandi ya! Aku tinggal sekarang." jelas Zian. Perlahan tangannya melepas tangan Rista, tapi Rista menarik kembali tangan itu. Zianpun berbalik badan menatap Rista yang hendak bicara.


"Mas, terima kasih banyak mas. Aku tahu kamu emang baik." ungkap Rista kemudian langsung memeluk Zian. "Aku tahu kamu pasti bisa balas cinta aku mas." tambahnya semakin mempererat peluknya pada Zian.


Zian hanya tersenyum dan membalas pelukan itu.


Sekitar beberapa menit kemudian, Rista selesai dengan ritual mandinya. Saat ia membuka pintu, tangannya meraba tembok pinggir pintu. Meraba tembok itu untuk sampai ke Walk In Closet yang memang berada tak jauh dari sana. Sementara itu, Zian yang sedang membaca buku sigap berdiri, berjalan mendekati Rista kemudian menuntun wanita itu menuju Walk In Closet.


Saat Rista mengenakan baju, Zian dengan setia menunggu Rista di depan Walk In Closet. Tiba-tiba ponsel Zian berdering dan membuatnya menautkan alis kala melihat panggilanan masuk. Panggilanan masuk dari nomor yang memang asing bagi Zian.


"Ya, hallo." sapa Zian setelah mengangkat panggilan itu. "Dengan siapa ya ini?" tanya Zian kemudian.

__ADS_1


"Saya Yuni, ibu Akira. Saya mau minta ganti rugi!" tegas orang di balik telpon.


Zian mengeryitkan dahi tak mengerti, ia berjalan sedikit menjauh. Mendekatkan mulut pada speaker ponsel.


"Maksud ibu apa?" bisik Zian. Tubuhnya sedikit berbalik untuk melihat situasi. Merasa aman Rista masih belum keluar. Zian kembali berbisik, "ganti rugi untuk apa?"


"Kamu pura-pura lupa atau emang amnesia? Kamu sudah menghamili anak saya dan anak saya harus merawat anak kamu selama dua tahun. Apa kamu pikir semua itu gak butuh ganti rugi? Berapa banyak yang anak saya korbankan? Kamu gak mikir itu hah? Sekarang saya minta kamu ganti rugi! Untuk semua yang anak saya korbankan." jelas Yuni dengan amarah menggebu.


Zian semakin mengeryitkan dahi. Merasa heran dengan permintaan Yuni. Namun, ia sadar setelah beberapa detik terdiam. Zian sadar dia memang salah karena tindakannya tiga tahun yang lalu. Zian menghela nafas sesaat. Mengusap kasar wajahnya.


"Baik bu, saya akan tanggung jawab. Saya akan memberikan ganti rugi, kalau hasil tes DNA membuktikan kalau Chandra anak saya. Saya akan ganti rugi jika sudah ada bukti." jelas Zian langsung menutup telpon.


"Siapa mas?"


Suara Rista membuat Zian terperanjat. Zian kaget melihat Rista sudah ada di belakangnya. Tak menjawab Zian hanya terperangah tak percaya. Mulutnya sedikit ternganga, ragu untuk menjawab.


"Mas, kamu masih di sanakan?" Rista meraba-raba ke depan sembari berjalan perlahan.


Zian mengerjapkan-ngerjapkan mata. Bingung harus berkata apa. Namun, terlambat Zian menghindari Rista. Gadis itu berhasil memegang tangan Zian.


"Mas!" panggil Rista kemudian langsung menarik Zian dan mendekapnya. "Mas kenapa? Bukti apa mas? Apa mas lagi ada masalah? Kok mas gak langsung jawab pertanyaan aku?" lanjutnya.


Zian menutup mata sekilas, menghela nafas kecil dan mengeluarkannya perlahan. Setelah itu tangannya mengelus lembut rambut Rista. Balas mendekap wanita yang kini mulai meluruhkan hatinya. Mencoba berbicara setenang mungkin agar Rista tak curiga.


"Gak, aku gak apa-apa. Apa yang kamu dengar tadi?"


Rista menggeleng. "Aku dengar mas, cuma dengar mas bilang 'ada bukti'. Emang bukti apa mas?" tanya Rista yang tak mengerti.


Kenyataan Rista yang tak mendengar pembicaraannya dengan Yuni, membuat Zian menghela nafas lega. Merasa tenang Rista berati tak mengetahui apapun. Dielusnya kembali pucuk rambut Rista bahkan kali ini ia menghujaninya dengan kecupan.


"Bukan apa-apa sayang, itu cuma masalah di Kantor aja." jawab Zian dengan lembut.


Rista tersenyum bahagia mendengar jawaban Zian. Rasanya ia tak percaya Zian kembali memanggilnya 'sayang'. Rista menengadahkan wajahnya.


"Sayang?" ulang Rista tak percaya.


"Iya sayang." sahut Zian mengecup dahi Rista sekilas. "Kenapa? Kamu gak suka?" Zian mengeratkan pelukannya. "Aku bakal belajar panggil kamu sama seperti dulu. Aku bakal panggil 'sayang', kamu gak keberatankan?" tanya Zian kemudian.

__ADS_1


Rista membalas pelukan Zian. Menggelengkan kepala pertanda ia tak merasa keberatan atas panggilanan yang Zian beri.


"Terima kasih mas, aku sayang kamu." ungkap Rista memperat pelukannya.


__ADS_2