
Beberapa menit kemudian, Zian keluar dari walk in closet sudah rapi dengan stelan kaos putih dan celana panjang. Dilihatnya Rista, gadis itu nampak tengah meremas jemarinya. Tak jelas apa yang sedang dipikirkan Rista, Zian tentu tak tahu apa isi hatinya.
Ternyata Rista sendiri sedang merasa cemas. Dalam benaknya penuh tanda tanya mengenai apa yang akan dibicarakan Zian padanya. Hatinya seolah mengira-ngira hal apa yang ingin Zian bicarakan. Ada rasa cemas takut Zian bukan mau memperbaiki hubungan mereka, melainkan marah karena tingkahnya tadi. Saat Zian mengganti pakaian, Rista baru ingat ada kemungkinan suaminya itu sudah mendengar pembicaraannya dengan Satya, tapi bukankah Zian tak mencintainya? Lalu untuk apa dia marah? Tindakan Zian sebelum mengganti pakaian terasa tak mengisyaratkan amarah, bahkan pria itu terkesan bersikap lembut. Masih diremas jemari tangan yang terasa sedikit berkeringat. Kecemasan juga rasa penasarannya nyatanya tak hilang, sebelum ia tahu apa yang akan Zian katakan. Tanpa Rista duga, seseorang menarik tangannya membuat Rista seketika berdiri. Iya tahu itu pasti Zian.
"Ayo ikut aku!" Pinta Zian langsung menyeret Rista.
Melupakan tongkat putih di kamar. Sedikit membuat Rista takut, mungkin suaminya akan marah dan tak membiarkan dia kabur dengan bantuan tongkatnya.
Rista merasakan tangan yang ditarik Zian dilepas. Setelahnya terdengar suara geseran kursi. Tak lama Zian mendorong perlahan tubuh Rista agar gadis itu berdiri tepat di depan meja. Tangan Zian beralih memegang dua bahu Rista. Mendorong pelan ke bawah. Mengisyaratkan agar Rista duduk. Rista menurut dan duduk di kursi yang telah Zian geser.
Berikutnya, Rista hanya bisa diam tak tahu harus berkata apa. Biarlah! Biar Zian yang bicara duluan. Hanya menunduk yang Rista lakukan sembari mengusap-usap jemari tangannya. Terdengar suara sendok, garfu, juga piring yang beradu. Rista yakin suaminya tengah makan saat ini. Dia mencoba tenang dan diam saja menutup mulut agar tak bicara sepatah katapun.
"Tumben, kenapa kamu gak bawel? Biasanya tanya banyak hal." Ungkap Zian tiba-tiba.
Tentu Zian merasa heran juga dengan sikap sang istri yang tak biasa. Biasanya Rista akan bertanya bagaimana pekerjaan Zian atau bagaimana rasa masakannya? Meski memang Zian tak menjawab atau hanya sekedar menjawab dengan deheman. Namun, Rista tak gentar gadis itu selalu saja bertanya penuh perhatian dan kelembutan.
Rista masih diam, tapi kemudian ia mencoba menetralkan rasa dihatinya. Ia harus segera menepis pikiran negatif. Karena, nyatanya nada bicara Zian tak terdengar marah.
"Em, gak mas gak apa-apa." Jawab Rista lalu tersenyum manis. "Mas gimana rasa masakannya? Enak? Aku ngasih resep mama sama Bi Maya tadi." Lanjutnya.
Zian mengangguk-ngangguk sembari menaruh nasi di sendok.
"Enak." Singkat Zian.
Kembali hening setelah itu. Tak ada obrolan lagi. Zian fokus dengan makanannya, sementara Rista dia masih mendengar perpaduan suara antar sendok dan garpu yang bersentuhan. Suara terakhir dari sendok dan garpu menyadarkan Rista bahwasanya Zian sepertinya sudah selesai makan.
Zian mengelap mulut dengan tisu. Kemudian menatap lekat wanita di hadapannya. Menakupkan kedua tangan menahan dagu dengan tangan itu. Zian menghela nafas sejenak. Wajah polos Rista juga kecemasan yang nampak di wajahnya, membuat Zian sedikit ragu untuk bicara. Namun, Zian harus mengatakan agar Rista juga tak berharap.
"Aku udah dapat alamat tempat tinggal ibu Chandra, jadi secepatnya anak itu akan aku antar ke ibunya. Dan secepatnya juga ia akan meninggalkan rumah ini." Tutut Zian dengan serius.
Mendengar itu membuat Rista yang sedari tadi menunduk kini mengangkat wajah. Merasa tak percaya ternyata ini hal penting yang ingin Zian sampaikan. Terasa menyedihkan ternyata harapan Rista untuk punya teman kecil di rumah akan berakhir dengan harapan saja. Nyatanya Zian memang benar-benar mencari ibu Chandra. Bahkan ingin mengembalikan anak itu. Pertanyaan demi pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Rista. Bagaimana mungkin Zian akan membawa Chandra pada ibunya? Sedangkan ibunya sengaja membuang Chandra? Lalu apa ibu Chandra akan menerima anakya? Jika iya, lalu kenapa dia membuangnya kemari? Dan jika tidak, bagaimana nasib Chandra?
Pertanyaan-pertanyaan itu seolah minta untuk dilontarkan. Dengan berbagai kesiapan dalam diri. Rista sedikit menghela nafas hendak membantah apa yang suaminya katakan.
"Tapi mas, Bagaimana Chandra? Apa dia akan baik-baik aja? Sedangkan ibunya memang sengaja membuang Chandra kesini? Mas ingatkan! Isi suratnya? Ibunya meminta kita mengadopsinya." Lirih Rista tak terima.
Zian seolah tersambar petir mendengar pertanyaan Rista. Ia kembali ingat surat itu. Betapa dia telah berlaku kejam pada Rista yang begitu lembut dan tulus. Dengan kesadaran Zian telah membohongi Rista untuk kesekian kali. Zian mencoba tenang menjawab pertanyaan Rista. Ia mengambil gelas berisi air putih samping piring. Meminumnya sebentar setelahnya kembali bertutur.
"Aku gak tahu soal itu. Karenanya aku harus cari tahu. Pokonya secepatnya bocah itu akan keluar dari rumah ini."
"Mas! Kamu tega mas, kalau Ibunya gak nerima gimana mas? Dia nitipin dia ke kita. Bukannya itu berarti Ibunya gak menginginkan dia?" Ujar Rista tak terima.
Zian menyipitkan mata kemudian berdiri sedikit memukul meja dengan telapak tangan. Meski pelan suara pukulan itu tetap Rista dengar membuatnya sedikit terperanjat kaget mengendikkan tubuh sesaat.
"Apa yang kamu pikirkan hah?! Emang kamu bisa urus anak itu? Kamu aja gak bisa lihat? Bagaimana kamu ngurus anak itu?" Sentak Zian.
__ADS_1
Entahlah, Zian merasa begitu kesal mendengar penolakan Rista. Merasa sangat amat marah mengingat anak itu adalah anaknya, meski memang belum pasti. Namun, ketika mengingat Chandra membuatnya merasa kesal. Ada kemungkinan bisnis juga kehidupannya akan hancur jika benar anak itu adalan anaknya. Bukan itu saja, kalau sampai Rista dan keluarganya tahu Zian benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Membicarakan anak itu seakan membicarakan kesalahannya di masa lalu. Dan lagi yang paling mengesalkan adalah Rista ingin mengadopsi anak itu. Tak ingin amarahnya semakin memuncak. Zian lebih memilih beranjak dari tempat itu. Menoleh sekilas pada Rista. Tatapan penuh amarah berubah iba saat melihat Rista menunduk dan meneteskan air mata. Zian memejamkan mata sembari menarik nafas panjang. Merasa dia sangat keterlaluan, hanya karena memikirkan kebenaran darah dagingnya Zian sampai membentak Rista yang tak tahu apa-apa. Menghela nafas lagi Zian lalu kembali duduk.
"Maaf." Lirih Zian.
Rista yang menahan tangis terdengar sesegukan. Mencoba berbicara untuk mengungkapkan perasaan yang ia rasa. Rasanya sangat menyakitkan, Zian selalu mengungkit-ungkit kekurangannya. Hanya karena Rista tak bisa melihat bukan berarti Rista tak bisa melakukan apa-apa. Padahal selama seharian ini Rista berusaha merawat Chandra dengan baik. Mulai dari memandikan hingga mengeloni anak itu. Sulit memang bagi Rista, tapi ia tetap berusaha. Ia hanya mengingat-ingat apa yang sering Ibunya dulu katakan ketika memandikan Diana saat masih bayi dan itu ia praktekkan saat memandikan Chandra. Untung karena bantuan Bi Maya, Rista bisa melakukannya. Seolah Zian tak mengerti perasaan Rista. Rista hanya ingin menjadi istri yang baik dan melakukan berbagai cara agar bisa menaklukkan hati Zian. Namun, rasanya Zian tak mengerti. Diremasnya jemari tangan yang terasa gemeter.
"Mas, apa aku emang buruk mas? Sampai kamu nilai aku seperti itu? Jika memang alasannya karena aku gak bisa rawat Chandra. Mas tenang aja! Aku akan belajar merawatnya, mas jangan khawatir!" Lirih Rista disela linangan air mata.
Tertegun sesaat Zian mendengar penuturan Rista. Sepertinya Zian memang keterlaluan. Zian berdiri melangkah mendekati Rista. Pria itu menyapu air mata di pipi Rista dengan jemarinya.
"Bukan itu maksud aku. Aku minta maaf, tapi kita benar-benar tidak bisa mengandopsi anak itu." Tutur Zian dengan lembut.
Dirasakan oleh Rista jemari yang menghapus air mata itu perlahan lepas dari pipinya.
"Tapi kenapa mas?"
Zian menghela nafas sesaat sebelum menjawab.
"Karena aku udah tahu alamat rumah ibunya. Aku akan bicara sama Ibunya, gak seharusnya dia buang anaknya seperti itu."
Rista menunduk kecewa. Merasa sedih karena Chandra harus pergi dan setelahnya Rista pasti akan kesepian. Zian yang melihat itu merasa kasihan.
"Kamu jangan sedih! Anak itu harus bersama ibunya. Kita gak bisa egois rawat dia gitu aja." Kata Zian kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Rista sendiri di meja makan.
°°°
Seperti pagi ini, Rista tengah menyisir rambut bocah laki-laki itu. Chandra nampak anteng dengan Robot Poli pemberian Satya tempo hari.
"Chan sayang, suka robotnya?" Tanya Rista lembut seperti biasa.
"Cuka bunda, walna bilu kaya di tv." Oceh Chandra sembari asik memainkan robot ditangannya.
Rista tersenyum bahagia mendengar jawaban Chandra. Tangannya masih meraba dan menyisir lembut rambut Chandra yang memang baru sedikit itu. Tiba-tiba senyumnya pudar mengingat apa yang dikatakan Zian semalam. Hari ini, hari Sabtu dan hari ini Zian akan menemui ibu Chandra itu artinya Rista akan kehilangan Chandra, mungkin besok. Anak itu akan pergi bersama ibunya dan meninggalkan Rista. Akankah Chandra tetap mengingatnya sebagai bunda? Refleks Rista memeluk Chandra dari belakang.
"Sayang, kalau bunda gak deket Chandra. Chandra bakal inget sama bunda gak?" Lirih Rista terdengar sedih.
Terasa pedih saat Rista menanyakan itu. Air mata jatuh tanpa ia sadari.
"Bunda baik, Chandla sayang bunda." Ucap Chandra.
Setelah mengucapkan itu, Chandra berbalik badan balas memeluk Rista dengan erat.
"Chandla sayang bunda." Kata Chandra lagi berhasil membuat Rista semakin menjadi dengan tangisnya. Semakin Rista menggertakan pelukan pada Chandra.
Tak rela Rista melepas anak itu. Meski bukan siapa-siapa, tapi Rista telah jatuh cinta dengan kepolosan dan kelucuan Chandra.
__ADS_1
Sekitar beberapa meter dari Ruang Tamu. Zian memperhatikan kedekatan Chandra dan istrinya. Ada pertanyaan terselip di benak Zian. Akankah wanita itu tetap bersikap sama, jika tahu anak itu adalah anaknya dengan wanita lain?
Zian berjalan mendekati Rista. Berusaha tak peduli dengan suasana haru yang terjadi.
"Aku akan pulang lebih malam. Kamu gak usah nunggu aku pulang!" Tegas Zian lalu berjalan keluar. Sekilas ia lihat Rista yang masih memeluk Chandra.
Dapat Rista dengar dengan baik apa yang Zian katakan. Ia semakin merasa sedih. Yakin hatinya, Zian akan langsung menemui ibu Chandra sepulangnya dari bekerja.
Dari pagi sampai sore bahkan malam hari Rista tak ingin jauh dari Chandra. Gadis itu terus bermain juga memandikan dan menyuapi Chandra. Bi Maya yang sudah tahu semuanya, merasa iba pada Rista. Rista begitu lembut, baik. Dia begitu sayang pada anak suaminya. Padahal kalau Rista tahu, tentu Rista akan sangat sedih dan kecewa. Mencoba mengerti dengan alasan yang Rista berikan. Bi Maya membiarkan saja segala hal yang Rista lakukan bersama Chandra. Merasa kecewa juga marah pada Zian, tapi Bi Maya mencoba tenang dan sabar. Apalah dayanya dia hanya seorang asisten rumah tangga, tak ada hak mencampuri urusan majikan.
Saat malam hari, Rista masih belum tidur. Meski Zian sudah menegaskan bahwa untuk tidak menunggu, tapi Rista kekeh ingin menunggu suaminya. Duduk di depan Meja Pantry, Rista menunduk menelungkupkan wajah di atas meja.
"Non, apa non tidur?" Tanya Bi Maya.
Melihat Rista yang tertunduk di meja, membuat Bi Maya berpikir Rista tidur disana.
"Mmm." Sahut Rista.
Gadis itu mengangkat wajah setelah itu meraba meja mencari sesuatu disana.
"Non cari apa?"
"Minum bi, air minum aku mana ya bi?" Tanya Rista masih meraba.
Bi Maya sigap menaruh piring dan lap di tangan. Setelahnya tangannya beralih meraih gelas berisi air samping wadah sendok. Memberikan gelas itu pada Rista.
"Ini non."
Rista mengambil gelas yang sudah Bi Maya tempelkan di telapak tangan. Meminumnya kemudian. Bi Maya melirik sekilas Rista, melanjutkan pekerjaan setelah dirasa Rista baik-baik saja. Baru sekitar beberapa detik ia berbalik badan, tiba-tiba...
Crakk...
Suara gelas pecah membuat Bi Maya kaget seketika membalikkan badan. Dilihatnya pecahan gelas berserakan di atas lantai. Matanya terbelalak melihat tangan Rista yang melayang di atas serakan beling. Dengan cepat Bi Maya mendekati Rista. Cemas juga takut ia rasakan.
"Astaghfirullah! Non gak apa-apa?" Tanya Bi Maya cemas, ia menarik tangan Rista yang melayang. Meneliti setiap bagian telapak tangan Rista. Menghela nafas lega kemudian mengetahui tangan itu baik-baik saja.
Bi Maya menatap wajah Rista yang syok. Mungkin mendengar gelas yang jatuh tadi.
"Non gak apa-apakan? Kenapa bisa seperti ini non?"
"Aaku juga gak tahu bi, mungkin terlalu pinggir nyimpen gelasnya jadi jatuh." Guman Rista sedikit terbata-bata kemudian memegang dadanya. "Bi, kok aku ngerasa gak enak ya bi? Apa ini cuma firasat aku aja? Aku takut terjadi sesuatu sama Mas Zian. Dia belum pulang, padahal ini udah malem banget bi." Lanjut Rista.
Bi Maya sigap memeluk Rista. Menenggelamkan wajah Rista dalam dekapannya.
"Non jangan mikir negatif! Itu cuma firasat non aja. Tuan pasti baik-baik aja. Sebentar lagi juga pasti pulang." Ujar Bi Maya.
__ADS_1
Sedikit menenangkan hati apa yang dikatakan Bi Maya. Rista tak menjawab hanya balas memeluk wanita yang dengan lembut mendekapnya itu.