
"Apa?" Tanya Rista,mulai penasaran apa sesuatu yang ingin diberikan Satya padanya.
"Tadaa!!" Teriak Satya,lalu menaruh sebuah liontin ditelapak tangan Rista.
Rista meraba raba benda itu, dapat Rista rasakan ia menyentuh sebuah liontin hati.
"Ini liontin?" Tanya Rista memastikan.
"Iya,itu liontin persahabatan,supaya Kak Rista selalu inget sama aku, walaupun kaka udah nikah." Jelas Satya sedikit menurunkan nada,takut Rista tersinggung atas ucapannya.
Rista menghela nafas,
"Makasih Sat, meskipun pertunangan nya batal tapi aku seneng kamu inget buat ngasih ini.Ini hadiah pertunangan kan?" Tanya Rista, seperti menebak atau sekedar menduga duga.
"Ya, sebenarnya begitu." Jawab Satya.
"Makasih Sat,aku bakal jaga ini baik baik.Selamanya kamu adalah sahabat terbaik aku." Ungkap Rista menggenggam erat liontin itu.
Setelah bercengkrama cukup lama,bahkan hingga mentari terbenam, Satya pamit untuk pulang.
°°°
Sementara itu,Di kediaman Pak Pram,Zian terus saja mengurung diri dikamar,karena tamparan keras dari sang Kakek,saat setelah pulang nya mereka tadi pagi.Bahkan sengaja sang kakek mengunci pintu,agar Zian bisa berpikir dan menarik kembali akan penolakan nya.
Zian benar benar kesal,karena alasan wanita itu kakek nya sampai menampar bahkan tak ingin bicara padanya hingga detik ini.
Zian mendengus kesal,ia kembali ingat ucapan sang Kakek yang akan mengambil kembali semua aset bahkan perusahaan satu satunya milik mereka yang kini sudah beralih tangan padanya.Namun,pagi tadi kakek nya berniat akan mengambil kembali semua itu,jika Zian tak mau menerima perjodohan dengan Rista.
"Aarghkkk .. Sial!! Dasar cewek cacat,gara gara Lo semua hal yang gue miliki di ambil semua."
Brakk .. Zian melempar vas bunga dikamarnya itu.
Dilantai bawah,Pram tengah makan malam,ia menyuruh pembantunya untuk membukakan pintu kamar Zian.
Ditemani Pram,pembantu itu membuka kan pintu kamar Zian.
Keadaan kamar sudah begitu hancur pecahan vas,juga parfum, skincare,bahkan banyak benda berserakan dilantai.
Zian sendiri tak ada dikamar.Terdengar suara gemericik air dikamar mandi, Kakek Pram sudah tahu pastilah itu Zian.Dia duduk ditepi ranjang,sembari memegang tongkat kesayangan nya.
Ceklek,
Zian keluar kamar mandi berbalut sehelai handuk yang hanya menutupi bagian bawah nya hingga lutut.
"Kakek?" Zian mengerutkan dahi sesaat,ia lalu berjalan ke arah walk in closet dan mengambil kaos santai lalu memakai nya.
Pram yang merasa dihiraukan iapun mendekati Zian yang kini sudah rapi dengan pakaian santainya,Celana panjang juga kaos reglan lengan panjang yang melekat sempurna ditubuh sixpack nya.
"Bagaimana sudah kamu pertimbangan kan?" Tanya Pram serius menatap cucu satu satunya itu.
"Kenapa aku harus menikah dengan si buta itu? Kenapa tidak dengan adiknya?" Zian malah berbalik bertanya.
"Kamu harus tahu, pernikahan ini bagai sebuah kesepakatan.Kakek sudah banyak dibantu Pak Juan untuk mendirikan perusahaan kita sejak dulu.Sejak papa kamu meninggal dan perusahaan kita bangkrut.Pak Juan lah yang memberi kita modal.Dia hanya meminta satu hal,saat tempo hari kakek bertemu dengan nya dia menceritakan cucu nya yang buta dia khawatir gadis itu tidak akan dinikahi siapapun karena dia buta.Dia meminta untuk menjodohkan kamu dengan dia,karena dia tahu kakek punya cucu laki laki.Kakek kira itu bukan masalah kamu menikahi Rista.Kalau tidak Pak Juan tidak akan segan menjatuhkan perusahaan kita.Semua sekarang terserah kamu Zi,tapi kakek sarankan kamu menerima perjodohan ini atau perusahaan akan hancur,karena kebodohan kamu.Berhentilah bersikap keras kepala!" Tutur Pak Pram begitu tegas,lalu meninggalkan kamar itu.
Prakkk,
Zian dengan geram meninju kaca lemari kaca disamping nya.Begitu kesal pria itu, merasa seperti dimanfaatkan bahkan tanpa memikirkan perasaan nya dia dipaksa untuk menjadi pendamping wanita yang jelas tidak ia cintai.
Bagai benang kusut,pikiran Zian benar benar dibuat bingung dengan pilihan sang Kakek.
Dia menghela nafas kasar,mengusap kasar wajahnya,dia juga meremas tangannya yang sedikit terluka karena pecahan kaca.
Duduk juga mengatur nafas,hanya itu yang mampu ia lakukan, berusaha tenang dan berpikir jernih.Tidak mungkin baginya untuk mengorbankan perusahaan yang ia jaga selama ini demi sebuah keegoisan.
"Okey," Zian menghela nafas panjang. "Ini hanya perjodohan,aku tidak pernah tahu bukan, mungkin akan ada keuntungan,lagi pula dia buta, kalau pun aku mencari wanita lain untuk selingkuh dia tidak akan pernah tahu." Zian tersenyum menyeringai,ia mulai berpikir untuk mengatur rencana mengelabui Rista yang ia pikir adalah wanita lemah dan mudah dibodohi.
Dengan setelan rapi kaos reglan juga jeans,Zian meraih kunci mobil diatas nakas, bergegas masuk mobil untuk pergi ke rumah Rista.
Disinilah dia sekarang, setelah perjalanan yang hanya berkisar lima belas menitan,pria itu sudah sampai didepan rumah Rista.
__ADS_1
Dia mengatur nafas dan belum keluar dari mobilnya.
"Okey,tenang Zian ini hanya sandiwara,Lo pasti bisa."
Setelah memantapkan niat,Zian turun dari mobil,ia mengetuk gerbang hitam dihadapannya.
Trek trek ..
Cukup lama Zian menunggu,hingga seorang gadis cantik membuka pintu,Zian sempat terdiam hingga ia disadarkan oleh suara gadis itu.
"Kak Zian? Ngapain Kaka kesini?" Ketus Diana,nampak sekali kekesalan diraut wajahnya.
Zian diam sesaat,
"Aku mau ketemu Rista,aku mau minta maaf sama dia."
"Heh buat apa? Gak pantes deh kayanya,Kak Rista maafin Kak Zian,apa yang kakak katakan tadi pagi itu udah ngehina juga nyakitin perasaan kakak saya.Mohon maaf Tuan Zian Alansyah,anda tidak diizinkan masuk ke rumah ini!! Sekarang lebih baik anda pergi dan jangan pernah kembali!!" Tegas Diana, membuat Zian terpaku,bukan karena ia dimarahi calon adik iparnya.Tapi,karena ia terpesona,entah kenapa saat melihat Diana marah,gadis itu bertambah cantik dimatanya.
Melihat pria dihadapannya itu malah bengong,Diana semakin kesal,dia hendak menutup lagi gerbang,tapi segera dicegah Zian,Zian tersadar kesempatan nya akan hilang setelah Diana menutup gerbang.
"Tolong!! Jangan tutup dulu!! Saya harus bicara dengan kakak kamu,saya minta maaf,tadi itu saya memang salah,saya hanya syok dan kalian semua salah paham,saya mohon beri saya kesempatan untuk bicara dengan Rista." Zian memelas sembari menahan gerbang yang akan ditutup itu.
"Apaan sih?? Salah paham,sorry ya kak,tapi kita gak b e g o,jelas jelas Kak Zian hina Kaka saya,salah paham dari mana." Kesal Diana,masih mencoba menutup gerbang,meski masih Zian tahan.
"Tolong!! Jangan tutup gerbangnya!! Saya harus bicara dengan Rista!!" Tegas Zian,tapi Diana tetap bersikeras.
"Ih lepas!! Aku mau tutup gerbangnya."
Diana yang merasa jengah,ia mendengus kesal,karena tak bisa menutup gerbang,kekuatan tangan Zian jelas lebih kuat ketimbang Diana.
"Ya udah okey,terserah!! Tunggu aja disana!! Sampe jamuran!! Kak Rista juga gak bakal mau nemuin kamu!!" Tegas Diana dengan kesal,lalu masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
Cetrek .. Diana mengunci pintu.
"Di ..." Panggil Rista yang tengah berada di ruang tamu saat Diana mengunci pintu. "Kok kamu kunci pintu,ini jam berapa?" Tanya Rista ,lalu berdiri berjalan ke arah pintu, dengan bantuan tongkat nya.
Belum sempat Diana menjawab, seseorang berteriak diluar sana.
Membuat Rista mengerutkan kening,
"Itu mas Zian?" Tanya Rista.Rista memang punya kemampuan spesial,meski dia tak bisa melihat,tapi gadis itu bisa tahu dan mengenal suara seseorang,meski itu baru mendengar nya satu kali.
Diana mendengus kesal, memutar bola mata,tak peduli pikirnya.
"Orang gila kak,udah ah,jangan dipikirin kak, orang yang gak punya malu dasar!!" Jengah Diana,ia lalu berlalu dan naik tangga untuk menuju kamar nya.
Tinggal lah Rista dengan wajah bingung,ia hendak beranjak juga untuk berusaha tak peduli.Tapi tiba tiba ...
"Ris!! Aku mohon keluar Ris!! Kamu harus denger penjelasan aku !! Aku cinta sama kamu!!" Teriak Zian.
Dia sendiri mengerutkan kening saat mengatakan itu.
"Tuhan!! Sampai seperti ini aku bersandiwara." Gerutu Zian dalam hati.
Rista yang mendengar itu sedikit heran juga kaget mendengar penuturan Zian,entah kenapa dia merasa tertarik untuk mendengarkan penjelasan pria yang telah menyakiti hati nya pagi tadi.
Cetrek .. Rista membuka pintu itu,dengan meraba raba kunci yang masih tergantung disana.
Tuk tuk tuk tuk tuk .. suara tongkat Rista menyentuh satu satu persatu ubin putih didepan rumah.Langkah Rista terhenti didepan Gerbang.
Trek trek ..dengan piawai dan teknik merabanya Rista membuka pintu gerbang itu, menyeretnya ke samping agar bisa terbuka.
Saat mendapati Rista sudah ada dihadapannya,Zian repleks menggenggam tangan Rista,dengan wajah sumringah.Tak perlu waktu lama Rista sudah mau menemuinya,merasa dia semakin dekat dengan tujuan nya.
"Akhirnya,kamu mau nemuin aku juga,kamu mau kan dengar penjelasan aku?" Ucap Zian,masih menggenggam erat tangan Rista.
Rista agak sedikit risih dengan itu,ia menarik tangan yang digenggam Zian.
"Maaf Ris,aku repleks,karena aku terlalu senang kamu mau nemuin aku."
__ADS_1
"Ya udah masuk dulu aja!" Pinta Rista berjalan terlebih dahulu.
Zian terus memperhatikan gadis yang setia membawa tongkat nya itu,Zian kira ia akan tersandung saat naik ke atas teras,tapi ternyata Rista bisa tahu saat akan naik,Zian menghela nafas.
"Bodoh!! Dia pasti tahu,ini kan rumahnya." Hati Zian kembali menggerutu.
Setelah membuka pintu,Rista membalikkan badan,ia mempersilahkan Zian masuk.
Zian masih celingak-celinguk melihat sekitar.
"Ayo masuk mas!!"
"Eh .. iiya .." jawab Zian gugup.
Sesampainya didalam Zian duduk celingak-celinguk, Sementara Rista dia pergi ke dapur,Zian tak tau apa yang akan dilakukan gadis itu tapi biarkan saja,dia tak peduli.
Beberapa saat kemudian,Zian yang sedari tadi mengamati interior rumah itu beralih pandang melihat Rista yang membawa segelas teh hangat.Zian seperti tak berniat menolong Rista,gadis itu duduk perlahan,menaruh tongkat nya,lalu meraba raba meja kaca dihadapan nya, setelah dirasa pas Rista menaruh gelas berisi teh hangat, mendorong nya sedikit,meski memang tak tepat dihadapan Zian.
"Diminum mas,maaf cuma ada teh manis, kopinya abis soalnya."
Zian terdiam,
"Oh jadi ni cewek bikinin gue teh rupanya,bisa juga yah orang buta bikin teh." Gumam Zian dalam hati.
"Mas .." panggil Rista, membuat Zian tersadar.
"Eh iya aku minum,makasih." Zian mengambil teh itu lalu menyeruput nya sekilas.
"Gila!! Cuman teh tapi enak banget,manis nya pas seusai selera gue lagi." Gumam dia dalam hati. Diam diam Zian mengagumi teh buatan Rista.
"Jadi mas mau bicara apa?" Tanya Rista menyadarkan Zian kembali dari pikiran nya yang sedang menikmati teh itu.
"Eh iya."
Trek,Zian menaruh kembali gelas diatas meja.
"Aku mau minta maaf,tolong maafin aku,aku tahu aku kurang ajar bicara seperti itu tentang kamu tadi,aku gak bermaksud nyakitin perasaan kamu,aku cuma syok.Tapi aku sadar,aku gak harus nilai kamu seperti itu, sedang kan aku belum kenal kamu,dari awal ketemu kamu,aku udah jatuh sama kamu.Aku mohon kita lanjutin pertunangan ini,kamu mau kan?" Jelas Zian,dengan memutar bola mata,merasa kebohongan ini sungguh luar biasa.
Rista yang tak melihat ekspresi wajah Zian.Hanya terdiam,ia sedang mencerna kata kata Zian.Tak percaya rasanya,apa benar semua yang dikatakan pria dihadapannya itu.Padahal dengan jelas tadi pagi pria itu berteriak lantang menolak disertai hinaan yang memang menyakiti hati Rista.
Rista menunduk,
"Maaf mas,aku gak bisa.Mas tahu pintu keluar kan? Aku udah maafin mas kok,ini emang udah takdir ,gadis buta mana bisa mendapatkan pendamping,apa lagi mas orang terpandang dan pasti memilih yang sempurna,gak cacat kaya aku."
Rista mengambil tongkat,hendak berdisetelah mengatakan itu.
Zian menghela nafas kesal,dia harus kembali berpura pura sekarang.
"Ya iya lah,masa gue mau sama gadis buta,kalau bukan karena perusahaan mana gue mau ngemis sama Lo." Gerutu Zian dalam hati.Tapi seketika dia sadar,saat melihat Rista sedang berdiri,berusaha untuk berjalan menuju kamar nya.
"Gue harus ngapain sekarang?" tanya Zian dalam hati,Dia mulai dengan cepat berpikir, akhirnya tanpa pikir panjang,Zian berdiri menghampiri Rista lalu berlutut dan memegang kedua kaki Zian,layaknya seorang budak yang meminta ampun pada tuannya.
"Aku mohon,aku cinta kamu Ris!! Aku bakal jadi pendamping kamu,aku bakal jadi cahaya dihidup kamu,aku janji Ris.Aku mohon!!"
Rista terkejut tak percaya,ia sedikit membuka mulut.Lalu bergegas meraba bahu Zian.
"Mas bangun mas,jangan seperti ini." Rista berusaha membuat pria itu berdiri.Tapi,Zian malah semakin mengeratkan tangannya memegang kaki Rista.
"Gak aku,gak bakal bangun,kalau kamu masih bersikeras menolak aku." Tegas Zian masih bersimpuh di kaki Rista.
Rista menghela nafas,ia adalah wanita yang tak tegaan,dengan berat hati Rista memilih untuk memberi pria itu kesempatan.
"Baik kalau gitu mas,aku bakal pikirkan tawaran mas.Tapi aku butuh waktu mas." Ucap Rista akhirnya.
Zian begitu bahagia mendengar keputusan Rista,ia akhirnya berhasil meski harus menurunkan harga diri didepan wanita.Zian bangun dan repleks memeluk Rista yang terdiam setelah menuturkan keputusan itu.
"Terima kasih Ris,aku senang banget." Zian memeluk erat gadis itu,Rista hanya terpaku mendapat pelukan tiba tiba dari Zian.
Pria itu tersenyum menyeringai,
__ADS_1
"Akhirnya,gue bisa naklukin Lo Ris,gue jamin gue gak bakal kehilangan perusahaan gue setelah ini." Gumam Zian dalam hati,ia benar benar tak sadar,ia tengah memeluk gadis yang ia kelabui sedari tadi, bahkan dengan pelukan yang erat.
"Mas ..." Panggil Rista.