
"Secepatnya." Jawab Zian pasti.
Rista hanya diam mendengar jawaban Zian.Entahlah,apa dia harus bersyukur atau bersedih? Perasaannya sungguh tak bisa dimengerti.Kecewa juga marah pada diri sendiri sedang mendominasi perasaan.Bagai dengan mudah menepis rasa bahagia nya malam tadi.Kejadian yang tak pernah diduga.Apalagi Rista yang meminta.Benarkah? Rasanya sulit Rista percaya.Hanya melamun yang ia dapat lakukan.Gelap pandangannya seakan disempurnakan dengan perasaan sedih juga rasa hampa didirinya.
Sementara Rista sibuk dengan kesedihannya.Zian justru sebaliknya,ia begitu senang.Rencananya berjalan sempurna.Pria itu menarik senyum simpul.Lalu menghubungi asisten pribadinya.
"Hen,siapkan sekarang! Hubungi kakek juga!" Pinta Zian setelah mendapati telponnya telah terhubung dengan Hendri.
Tutttt ..
Tanpa menunggu jawaban,Zian segera menutup telpon.Zian melirik Rista yang seakan menatap kosong.Tapi, tunggu! Apa orang buta bisa menatap kosong?
Zian tak ambil pusing dengan pertanyaan nya itu.Ia segera menggenggam tangan Rista.
Sebuah tangan Rista rasakan menggenggam tangannya.Berikutnya, terdengar suara Zian seperti suara orang yang berusaha menenangkannya.
"Ris,kamu jangan khawatir! Aku akan segera menikahi kamu.Hari ini juga aku akan lamar kamu.Secepatnya,kita akan segera menikah." Jelas Zian.
"Terima kasih mas.Aku gak tahu harus ngomong apa sama mama dan papa." Ungkap Rista sedih.Gadis itu tak tersenyum sama sekali.
Ada sedikit rasa bersalah disudut hati Zian.Perasaan iba menatap wanita yang sebenarnya tak bersalah.Hanya saja,wanita itu tengah ia manfaatkan demi reputasi dan kedudukannya.Zian mengelus lembut punggung tangan Rista.
"Aku akan bicara sama ibu dan ayah kamu.Aku akan buat alasan,kenapa kamu baru pulang pagi ini.Kamu tenang aja! Ada aku disini." Ucap Zian.
Zian membuka sabuk pengaman.Lalu membuka pintu mobil,iapun membukakan sabuk pengaman Rista.Gadis itu hanya diam dengan perlakuan Zian.Kembali ia merasa tak enak melihat Rista.Digenggamnya tangan Rista dengan lembut.
"Ingat! Ada aku.Gak akan ada yang tahu kejadian semalam, kecuali kita berdua." Tegas Zian menarik Rista keluar mobil.
Rista mencoba tenang.Meski, sebenarnya tidak begitu.Hatinya khawatir sekali,sang ayah pasti akan memarahinya habis habisan jika tahu kebodohan apa yang sudah anaknya lakukan.
Larut dalam lamunan.Rista tak menyadari,kini dia sudah ditarik Zian menuju depan rumah.
Tok tok tok ...
Suara Zian mengetuk pintu menyadarkan Rista untuk bangun dari kekhawatirannya.Gadis itu masih merasakan tangannya erat digenggam Zian.
Tok tok tok ..
"Assalamualaikum." Ucap Zian setelah mengetuk pintu.
Ceklek,
Pintupun terbuka.Dengan cepat Tanika yang membuka pintu segera menarik tangan Rista.
"Ayo kamu masuk!" Pinta Tanika.
Rista merasakan tarikan tangan yang dilakukan sang ibu seolah sebuah paksakan.Bahkan,tak biasa.Tarikan tangan dari ibunya ini begitu kasar.
"Tapi,ma!" Rista mencoba menolak.Ia sadar dia tak datang sendiri.Tepat bersamanya tadi ada Zian dan Rista takut,jika Zian akan mengalami hal buruk jika ia tak mendampinginya.Toh, kesalahan yang terjadi juga bukan hanya salah Zian.Tapi,salah Rista juga.
"Kamu diem Ris! Anak ini dia sudah berani membawa kamu pergi dan baru memulangkan kamu sekarang! Pria macam apa dia ini!" Bentak Tanika menatap tajam pemuda dihadapannya.
Plakkk ...
__ADS_1
Sebuah tamparan dilayangkan Tanika,tepat di pipi kiri Zian.
Zian lumayan merasakan sakit saat mendapat tamparan Tanika.
Tiba-tiba,Faris turun dari tangga dengan cepat dan menemui ke tiga orang disana.
"Bawa masuk Rista!" Tegas Faris sembari mengenakan jasnya.
Tanika tanpa basa-basi menyeret Rista masuk ke kamarnya.Tak peduli dengan penolakan Rista yang terus menolak karena tak ingin meninggalkan Zian sendiri.
"Ma,tolong ma! Jangan sakitin Mas Zian.Mas Zian gak salah ma.Aku yang salah.Aku mohon ma!" Pinta Rista dengan linangan air mata.
Tanika tak menjawab ia terus menyeret tubuh Rista untuk segera masuk kamar.Rista rupanya tak bisa lagi menolak.Saat dengan paksa,sang ibu mengambil tongkat putihnya dan menyeretnya lagi ke kamar.
Dikasur putih itu,Rista didudukkan oleh sang ibu.Tanika yang melihat putri nya itu menagis tersedu-sedu segera membawa Rista kedalam pelukannya.Mendekap gadis itu dengan lembut.
"Kamu yang tenang sayang! Papa kamu gak mungkin nyakitin Zian.Kamu tenang ya?!" Ucap Tanika mengecup pucuk rambut Rista.
Rista balas memeluk sang ibu dengan erat.
"Hiks ... Hiks .. Ma,Mas Zian gak salah.Ini salah Aku.Aku yang setuju dia datang .. Hiks ..Hiks .. Jangan sakitin Mas Zian ma?!!" Pinta Rista disela pelukannya.
°°°
Bugh .. Bugh ..
Faris tak segan memukul Zian.Pria yang sudah lancang membawa anaknya pergi hingga baru pagi ini mereka pulang.Sebagai orang tua,tentu Faris bisa berpikir mereka berdua melakukan hal dibatas wajar.Maka dari itu,Faris tak segan memberi pelajaran pada Zian.
Zian tak bisa berkutik atau membalas.Bodoh jika dia harus membalas.Bagaimana mungkin dia harus memukul calon ayah mertuanya sendiri? Zian hanya mampu mengerutu dalam hati sembari meringis menahan sakit.
Zian yang memang jatuh tersungkur segera ditarik oleh Faris.Faris menarik kerah baju pria itu.Menatap tajam penuh amarah.
"Ingat apa yang saya katakan!? Bukan cuma wajah yang akan saya pukul.Jika saat ini tubuh kamu yang jatuh.Maka,Minggu depan perusahaanmulah yang akan jatuh.Ingat itu!" Tegas Faris.
Brukkk ..
Faris menghempaskan cengraman dikerah baju Zian.Menghempaskan, mendorong hingga Zian kembali tersungkur.
Zian jelas merasa tersentak akan penuturan Faris barusan.Dengan sekuat tenaga,meski wajahnya babak belur.Ia mencoba berdiri.Bahkan,tanpa malu pria itu memohon memengang erat kedua kaki Faris.
"Om,tolong om! Jangan seperti ini! Om salah paham.Saya gak ngelakuin apa apa sama Rista."
"Lepaskan kaki saya!" Tegas Faris.
"Om tolong om! Jangan hancurkan perusahaan saya.Saya mohon om!" Zian masih memohon enggan melepas kaki Faris.
"Siapa yang duluan menghancurkan? Kamu dengan berani menghancurkan masa depan anak saya.Sudah menghinanya dan sekarang kamu berani membawanya kerumah kamu.Apa yang yang kamu lakukan disana? Hah?" Faris masih penuh amarah.Bahkan,ia hendak menendang kepala Zian.Namun, aksinya itu tak terjadi karena dengan tiba-tiba seorang pria bersetelan rapi menghampiri mereka.
Dengan sopan pria itu menjelaskan.
"Mohon maaf Pak Faris.Tapi,apa yang dikatakan atasan saya itu benar.Pak Zian tidak melakukan apa-apa dengan Mba Rista.Kemarin malam mereka hanya mempersiapkan pernikahan mereka dan Mba Rista ketiduran.Itulah kenapa Mba Rista tidak pulang.Mba Rista hanya menginap dikediaman Pak Zian,mereka tidak melakukan apa-apa.Lagipula,disana ada pembantu juga satpam.Mohon Pak Faris jangan salah paham,semalam saya ingin menjelaskan.Tapi,Pak Faris segera menutup telpon saya." Hendri menjelaskan begitu rinci.
Membuat Zian bernafas lega.Asistennya itu memang sangat pandai.Bahkan,sampai urusan berbohong dia begitu mahir membuat skenario itu.
__ADS_1
Faris terdiam,ia berpikir tentang kebenaran penjelasan Hendri.Faris tentu tidak langsung percaya begitu saja.Ia memilih untuk memastikan dengan bertanya.
"Apa buktinya?"
"Sebentar Pak." Hendri menekan earphone ditelinga kanannya. "Tolong bawa mobilnya masuk!" Pinta Hendri kepada orang dibalik telpon.
Tak butuh waktu lama.Dua mobil jenis Toyota Hiace masuk ke halaman rumah Faris.Beberapa detik kemudian, beberapa orang keluar membawa berbagai jenis seserahan.Lalu dari mobil satunya lagi turun dua orang wanita.Nampak dua wanita itu adalah pihak dari WO yang sudah disiapkan Hendri.Terlihat dari baju seragam yang mereka kenakan.
Zian sendiri merasa takjub.Ternyata, Hendri berhasil melakukan apa yang Zian suruh.
Dengan bukti yang ada Faris sedikit percaya.Tapi,masih ada ragu.Pasalnya,jika Zian mau melakukan lamaran,lalu dimana Pak Pram? Bukannya dia seharusnya ada disini?Atau ini hanya akal akalan Zian saja untuk menutupi kesalahannya.
"Dimana kakek kamu?" Tanya Faris menatap penuh selidik.
Zian mencoba bangkit,dia berlutut dihadapan Faris.
"Kakek .." Zian bingung harus jawab apa.Hendri sepertinya melupakan hal penting tentang kakaknya Pram.
Terdengar suara deru mesin mobil.Ketiga orang itu segera melihat ke arah gerbang.Terlihat sebuah mobil sedan silver terparkir disana.Turunlah seorang kakek memakai tongkat dibantu sang supir.Ternyata itu adalah Pak Pram.
Sungguh hati Zian benar benar tenang sekarang.Ini semua berhasil.Satu langkah lagi dan dia akan tetap bisa mempertahankan perusahaan juga aset miliknya.
Setelah Pak Pram menghampiri Faris juga menjelaskan semuanya.Untunglah, penjelasan Pram dan Hendri sama dan masuk logika.Membuat Faris percaya dan akhirnya menyuruh mereka masuk untuk mengutarakan maksudnya.
Sebelum mereka mengobrol,Faris terlebih dahulu memberi tahu Tanika juga putrinya.Menjelaskan seperti apa yang telah dijelaskan Pram kepadanya.
Kini,kedua pihak keluarga sudah saling bertatapan.Rista hanya bisa merasakan takut juga khawatir.Gadis itu telah berbohong dan menyembunyikan sesuatu.Menurutnya itu sangatlah buruk.Suatu saat,mungkin akan terbongkar.Dan yang terburuk dia akan dicap wanita buta murahan.Jika orang orang tahu dia telah meminta bermalam dengan seorang pria.Sungguh pilu perasaan Rista,tapi untuk menangispun ia tak mungkin.Gadis itu hanya bisa pasrah dengan keadaan.Rista berpikir Zian begitu baik menolong dan menutupi aibnya.Padahal, justru Zianlah penyebab segala kesedihan batin Rista detik itu.
"Jadi saya mohon maaf sekali lagi,karena bukan saya yang menghubungi nak Faris kemarin malam.Perihal Rista,gadis itu hanya ketiduran dan sayalah yang menyarankan Rista untuk menginap." Tutur Pram.
"Saya akan percaya Pak,karena Pak Pram yang bicara.Sebelumnya saya juga minta maaf telah memukul cucu bapak.Wajar bagi saya marah,karena Rista tak pernah pulang larut apalagi sampai pulang pagi." Ungkap Faris dengan tegas.
"Baik kalau begitu nak Faris, karena anak anak sudah setuju tentang perjodohan ini.Bagaimana kalau kita bicarakan tentang pernikahan mereka?" Usul Pram seakan tak ingin membahas kesalahpahaman tadi.
"Tunggu! Apa benar kamu sudah setuju Ris tentang perjodohan ini?" Tanya Faris yang kini menatap Rista.
Deg,
Rista merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan sang ayah.Tapi,ia mencoba tenang.Pemikirannya yang sedari tadi kacau memikirkan nasibnya sendiri,ia coba untuk menenangkan nya dan menjawab dengan ekspresi wajar seperti biasa.
"Iya pa.Aku udah setuju dan aku bersedia menikah dengan Mas Zian." Jawab Rista diakhiri dengan helaan nafas lega,karena berhasil mengucapkan itu dengan lancar.
Faris mengerti,diapun menghela nafas dan mengangguk.
"Okey kalau gitu,apa yang Rista setujui.Maka saya akan setuju.Saya mungkin masih ragu dengan kamu.Tapi,Rista sepertinya sudah yakin sama kamu." Tegas Faris beralih menatap Zian.
Zian menatap calon mertuanya itu.
"Saya mengerti om,om masih ragu sama saya.Tapi,saya janji akan buktikan.Kalau saya bisa jadi pendamping sekaligus penuntun untuk Rista." Jelas Zian meyakinkan Faris.
Cukup lama mereka membahas tentang pernikahan.Mulai dari ijab qobul hingga pesta resepsi yang akan dilakukan.Untuk pertunangan sendiri, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan nya pagi itu juga.Namun,ada sedikit kendala.Membuat Zian segera keluar untuk mengambil cincin pertunangan yang tertinggal dimobilnya.
Saat Zian hendak keluar pintu rumah.Tak Zian duga ia menabrak seseorang.Mata Zian menatap kedua mata orang dihadapannya itu.Cukup lama mereka saling tatap.Bahkan, tatapan yang saling mengunci satu sama lain.
__ADS_1
"Ana?" Kaget Zian tersadar mengakhiri tatapannya.