
Zian terdiam, tangannya masih setia menggemgam tangan Rista. Ditatapnya kedua mata istrinya itu. Ada rasa iba melihat wanita yang telah ia tipu. Ragu Zian untuk berkata jujur sekarang, tapi sampai kapan ia harus menutupi perasaannya? Kalau sebenarnya dia tak mencintai Rista dan pernikahan ini hanya karena masalah bisnis.
Rista yang merasa Zian tak melanjutkan permintaannya. Merasa heran dengan Zian. Karena penasaran Ristapun bertanya
.
"Mas. Sebenarnya apa mas?" Tanya Rista.
Zian tersadar, menghela nafas sesaat. Berpikir lalu ia menbasahi bibir serta mengerjapkan mata berusaha tak gugup.
"Em, sebenernya aku kebelet. Boleh aku dulu ke kamar mandinya?" Pinta Zian tak jadi untuk berkata jujur.
Nyatanya Zian tak tega berkata jujur. Wajah Rista yang begitu lembut, seakan membius Zian. Membuat dia iba. Memilih untuk menutupi kebohongannya lagi. Mungkin besok Zian akan jujur. Karena kalau terus-terusan ditutupi, mungkin akan ada orang lain yang membongkar. Kalau itu terjadi, akan lebih rumit urusannya.
Rista tersenyum.
"Oh, kirain apa mas? Ya boleh mas." Rista bergeser memberi ruang agar Zian bisa masuk kamar mandi.
Zian tersenyum singkat. Ia mengelus tangan Rista.
"Ya udah, aku duluan ke kamar mandi ya! Kamu duduk di Sofa dulu! Okey?" Zian lalu menuntun Rista duduk di Sofa putih dekat jendela.
Setelah duduk, Rista tersenyum lalu mengelus punggung tangan Zian.
"Makasih mas. Padahal, kalau mas kasih tongkat aku. Aku bisa jalan sendiri mas." Tutur Rista lembut.
Zian kembali menaikkan sudut bibir, tersenyum kecil.
"Gak apa-apa. Gak masalah kok. Kamu tunggu ya! Sebentar." Zian melepas perlahan tangan Rista.
Pria itu lalu berlalu menuju kamar mandi. Disana Zian mendinginkan kepalanya dengan guyuran air shower.
°°°
Pagi menjelang. Semburat cahaya di ufuk timur terpancar dari kaca jendela yang masih tertutup gorden.
Rista sudah bangun pagi itu. Gadis itu duduk di samping Zian yang masih tertidur pulas. Dirabanya kasur putih itu. Meraba-raba perlahan lengan Zian, lalu mengelus lengan telanjang itu.
"Mas-mas. Bangun mas!" Pinta Rista lembut.
Zian menggerakkan badan perlahan. Ia merasa malas bangun pagi itu, bahkan ia hendak menarik kembali selimutnya. Namun, Rista yang merasakan pergerakan Zian. Ia mengoncangkan tangan Zian agar Zian bangun.
"Mas! Bangun mas! Udah pagi." Pinta Rista kembali.
Zian membuka mata melihat Rista yang duduk di sampingnya. Zian bangun dan duduk. Rista yang merasakan pergerakan Zian,lalu dia melepas tangan Zian.
"Mas udah bangun?" Tanya Rista.
Zian masih terdiam menatap Rista dihadapannya. Ia bergeser duduk mendekati Rista. Menatap wajah istrinya.
"Udah. Ris apa kamu bersedia tinggal di rumah aku?" Tanya Zian tiba-tiba.
Rista tersenyum bahagia.
"Mas, kok kamu nanya gitu? Kemanapun kamu pergi aku pasti ikut mas. Aku pasti bakal bersedia tinggal di rumah kamu, kalau kamu meminta." Tutur Rista tulus.
Zian membulatkan bola mata. Benarkah ini sosok wanita buta itu? Rasanya tak percaya. Benar, Rista adalah sosok wanita yang baik seperti apa yang dikatakan kakeknya. Zian semakin bingung untuk berkata jujur. Tapi lagi, Cinta memang tak bisa dipaksakan.
Zian beringsut turun dari kasur. Disentuhnya bahu Rista sekilas.
"Aku mau mandi dulu. Setelah itu kita sarapan. Kamu tunggu ya!"
Mendengar itu Rista tersenyum mengangguk mengerti.
"Ya mas."
°°°
Sarapan pagi mereka lakukan di restoran yang ada di hotel itu. Kebetulan sarapan pagi itu memang satu paket dengan pernikahan kemarin. Membuat semua sudah tersaji di meja makan dan siap untuk disantap. Rista dan Zian sarapan pagi bersama, mereka nampak menikmatinya. Sesekali Zian melirik Rista yang tengah makan. Mereka tak saling bercakap saat makan itu. Hanya fokus dengan makanan masing-masing.
Seusai sarapan, Rista memilih untuk kembali ke kamar. Awalnya, Zian memang mengajaknya untuk jalan-jalan di sekitar hotel yang memiliki pemandangan indah juga udara yang sejuk. Berbeda dengan tempat tinggal mereka di kota. Lokasi hotel yang terletak diantara pegunungan hijau Mountain View Golf Course, membuat nuansa hijau nan sejuk disajikan di sekeliling hotel itu. Namun, Rista menolak dengan alasan kakinya masih terasa pegal seusai berdiri lama kemarin.
Rista memilih untuk menikmati udara sejuk di balkon kamar hotel. Zian sendiri berdiri tepat disamping Rista. Rista menghirup udara segar menikmati sejuknya udara disana.
Zian mengamati Rista. Menatap gadis yang tersenyum bahagia itu.
"Kamu suka?" Tanya Zian.
"Suka mas, udaranya seger. Beda sama di Cilacap." Jawab Rista masih dengan senyum manisnya.
Zian balas tersenyum kecil.
"Ya. Emang beda." Zian ikut menikmati sejuknya udara. Ia memandang lepas jauh ke hamparan hijau disana. "Aku mau tanya!" Ungkap Zian setelah menghirup udara segar. Ia melirik Rista sesaat, lalu kembali menatap ke depan.
"Tanya apa mas?"
"Kamu kan buta dari kecil. Itu berarti kamu belum pernah lihat apapun di dunia ini. Apa itu benar?" Tanya Zian penasaran. Pasalnya dia pernah mencari informasi tentang orang buta sejak lahir di internet. Sebuah artikel menyatakan orang buta yang buta sejak lahir tak pernah tahu visual sama sekali. Hal itu membuat Zian penasaran ingin bertanya langsung pada Rista.
Rista tersenyum sendu.
__ADS_1
"Ya, bener mas. Aku gak pernah tahu seperti apa bentuk yang aku dengar atau yang aku lihat. Hanya mendengar dan merasa yang bisa aku lakukan. Tapi, untungnya aku bisa tahu suara seseorang meski baru ketemu sekali. Itu memberi aku keuntungan untuk tahu siapa lawan bicara aku." Jelas Rista.
Zian terdiam mendengar penjelasan Rista. Ia menatap gadis itu, memperhatikan Rista yang tersenyum bahagia, menikmati udara yang sejuk. Zian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lalu menghela nafas sesaat. Memalingkan wajah dan berbalik badan.
"Sore ini, kita pulang ke rumah aku." Tegas Zian dengan nada dingin.
Pria itu berjalan masuk ke kamar.
Rista mendengar hentakan kaki Zian, terdengar semakin menjauh. Tak lama, terdengar Zian menutup pintu. Sepertinya pria itu keluar kamar.
Merasa sedikit aneh dengan sikap Zian yang seakan dingin barusan. Rista menghela nafas panjang.
"Apa mas Zian nyesel ya nikah sama aku?" Rista terdiam sesaat. Mengangkat tongkat dan mengetukkan tongkat ke lantai. Mulai berjalan dengan bantuan tongkat putihnya.
°°°
Seperti apa yang dikatakan Zian. Sore itu, Zian dan Rista sudah sampai di rumah Rista. Tadi siang Rista dan Zian menyusul keluarga mereka pulang ke Cilacap.
Setelah mobil Zian terparkir tepat di halaman rumah. Zian membuka sabuk pengamannya juga sabuk pengaman Rista. Zian membuka pintu mobil sambil berkata.
"Tunggu sebentar! Aku bukain pintu."
"Iya mas."
Setelah membuka pintu. Zian membantu Rista turun. Gadis itu sedikit agak tak nyaman. Zian seolah memperlakukannya seperti anak kecil.
"Gak apa-apa mas. Aku bisa sendiri kok." Ujar Rista dengan senyum.
"Aku juga gak apa-apa. Ini udah seharusnyakan?" Zian merangkul tubuh Rista, menuntun gadis itu naik teras.
Di depan pintu, Zian segera mengetuk pintu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih setia merangkul Rista.
Tak beberapa lama pintu dibuka. Dilihatnya oleh Zian sepasang suami istri yang tak lain ibu dan ayah Rista. Tanika juga Faris nampak kaget mendapati kedua pengantin baru itu sudah pulang dari bulan madunya di hotel.
"Loh, kenapa udah pulang?" Tanya Tanika kaget.
"Iya. Kok pulang? Gak suka sama hotelnya?" Faris menimpali.
Zian tersenyum.
"Suka kok om. Cuma, kita emang mutusin buat pulang. Saya mau ajak Rista tinggal di rumah saya. Bolehkan om?"
"Rumah kamu?" Tanya Faris.
"Iya om. Saya mau Rista tinggal di rumah saya. Supaya kita bisa hidup mandiri sebagai pasangan suami istri om. Saya mau minta izin om. Apa boleh om?" Tanya Zian sopan.
Faris dan Tanika saling tatap sesaat. Lalu Faris menatap Zian sekilas. Mengeser badan mempersilahkan Zian dan Rista masuk.
"Ya udah. Kalian masuk dulu!" Pinta Faris.
Kedua pengantin baru itupun masuk. Diikuti Faris dan Tanika yang mengekor di belakang. Zian menuntun Rista untuk duduk. Faris dan Tanika duduk juga di hadapan mereka. Faris duduk dengan menyilangkan kaki.
"Jadi, kamu mau bawa anak saya tinggal di rumah kamu?" Tanya Faris seolah mengintimidasi.
"Iya om." Jawab Zian pasti.
Faris berdehem sesaat. Lalu kembali bertanya.
"Apa jaminannya anak saya tetap bahagia disana?" Tanya Faris lagi.
Zian menghela nafas menghilangkan rasa gugup yang entah sejak kapan rasa itu datang.
"Saya jamin, anak om bakal tetap bahagia om. Saya akan menjaganya."
Tanika memukul kecil paha Faris. Menatapnya dengan tatapan yang tak Faris mengerti.
"Faris! Kamu gitu banget. Sekarangkan Rista udah punya suami. Jadi, wajar dong suaminya mau bawa dia tinggal di rumahnya." Bela Tanika, seakan tak setuju Faris bertanya berlebihan.
"Iya sayang. Tapi wajar dong aku cemas. Zian pernah hampir berkhianat sama kita." Tegas Faris, membuat Tanika mengangguk mengerti.
"Iya juga." Tanika beralih menatap Zian. "Kamu harus jaga anak saya!" Tegas Tanika pada Zian.
Zian mengangguk mengerti.
"Iya tante."
Rista merasa suasana di tempat itu terasa begitu tenang. Zian seakan sedang di introgasi sekarang. Rista mencoba mencairkan suasana. Ia tersenyum lembut.
"Ma, kalau gitu gimana kalau kita beresin baju aku? Buat dibawa ke rumah Mas Zian." Usul Rista. Gadis itu lalu berdiri.
Tanikapun ikut berdiri.
"Ya udah. Ayo kita siapin baju kamu!" Tanika berjalan mendekati Rista. Merekapun berjalan beriringan menuju kamar Rista yang memang tak jauh dari ruang tamu.
Tinggallah Zian dan Faris di ruang tamu. Suasana hening, seakan mencekam bagi Zian. Ia merasa takut menatap Faris di hadapannya. Semua orang tahu kalau Direktur Utama PT. PRU IV Cilacap itu akan sangat menyeramkan kalau marah. Meski Zian tak terlihat melakukan kesalahan dan harusnya dia bisa tenang. Toh, tak ada yang tahu kebohongannya kecuali Diana dan Hendri mungkin. Kedua orang tua Rista sama sekali tak tahu akan kebohongannya. Namun, tetap saja Zian merasa salah tingkah, seakan takut Faris tahu dan memarahinya. Zian nampak tegang, ia berulangkali mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai.
"Kamu kenapa?" Tanya Faris melihat tingkah Zian.
Zian seketika menghentikan tingkah gugupnya. Ia sedikit terperanjat. Ditatapnya wajah Faris.
__ADS_1
"Gak apa-apa om. Boleh saya numpang ke toilet om?" Tanya Zian ingin pergi dari ruangann itu.
"Ya udah sana! Belok kiri setelah sampai dapur." Jawab Faris melihat Zian yang berdiri.
Zian pamit untuk segera ke toilet. Tegang sekali rasanya berhadapan dengan mertuanya itu. Padahal mertuanya belum tahu apapun. Bagaimana kalau sudah tahu? Zian tak berani memikirkan itu. Melangkahlah Zian ke toilet. Sesampainya disana Zian bernafas lega, karena bisa sejenak keluar dari suasana yang begitu tegang.
Berbeda dengan Zian. Rista yang sudah selesai merapikan baju dan memasukkannya ke dalam koper. Ia tengah menangis sekarang. Menagis dalam pelukan sang ibu. Rista merasa sedih karena harus berpisah dengan ibu, ayah, juga adiknya. Rasanya terasa berat meninggalkan keluarganya itu. Tapi, sekarang Rista sudah berbeda. Dia sudah punya Zian sebagai keluarg barunya. Suami yang Rista harap mampu menjadi cahaya penuntun seperti keluarganya di rumah ini.
Diana tiba-tiba masuk kamar. Gadis itu meneriaki Ibunya sedari tadi. Tapi, saat masuk kamar itu. Mulut Diana seolah terkunci. Melihat pemandangan haru sang ibu yang tengah membelai juga memeluk kakaknya. Diana heran kenapa mereka menagis. Diana ikut sedih. Adik dari Rista itupun ikut duduk di samping sang ibu.
"Kalian kenapa? Kok nangis?" Tanya Diana dengan wajah sendu.
Tanika melepaskan pelukannya pada Rista. Ia menghapus segera air mata di pipinya.
"Kita gak apa-apa sayang. Cuma, Kakak kamu mau pindah." Jelas Tanika mengelus bahu Diana.
Diana membulat mata tak percaya. Kakak yang selama ini menemaninya, benarkah akan pergi? Lalu kalau Rista pergi siapa yang akan mengajarinya menjahit? Atau menemaninya saat takut tidur sendirian? Diana segera beringsut. Berpindah duduk di samping Rista. Digenggamnya tangan Rista dengan lembut.
"Apa benar kak? Kakak mau pindah?" Tanya Diana sedih.
Rista tersenyum. Tapi, tak bisa dipungkiri dia juga sedih detik itu. Harus meninggalkan adik bawelnya itu. Rista pasti akan sangat rindu dengan Diana. Meski mereka kerap kali bertengkar, tapi Rista begitu menyayangi Diana. Rista membalas elusan tangan Diana. Dielusnya kembali punggung tangan Diana.
"Iya Di. Kakak mau tinggal sama Mas Zian. Tapi, kamu tenang aja! Kamu masih bisa kok pergi kesana. Kaka juga pasti bakal sering-sering kesini." Ujar Rista menerangkan agar Diana tak sedih.
"Kakak!" Diana memeluk kakaknya itu.
Tanika yang melihat adegan itu tak kuasa menahan tangis. Ia kembali menghapus bulir bening yang jatuh dari matanya. Sementara Rista, gadis itu balas memeluk Diana.
"Udah, kamu jangan nangis! Kamu tetep bisa ketemu kakak kok!"
Rista mengelus lembut punggung Diana. Diana melepaskan pelukan. Wajahnya masih memerah akibat menangis. Bibirnya masih cemberut. Diana jelas tak terima Zian membawa Rista pergi, karena Diana tahu pria itu bukan pria baik. Tapi, mau bagaimana lagi? Tak mungkin Diana membongkar masa lalu Zian sekarang.
"Kakak janjikan! Kakak bakal sering kesini?!" Tanya Diana memastikan.
Rista tersenyum, menurunkan tangan. Digenggamnya kedua bahu Diana dengan lembut.
"Iya Di, kakak janji bakal nengokin adik kakak yang bawel ini." Jawab Rista yang membuat Diana kembali memeluk kakaknya itu.
"Janji?"
"Iya Di." Jawab Rista membalas pelukan Diana.
Setelah momen pamitan yang mengharukan. Kini Zian memasukkan koper Rista ke dalam bagasi. Masih terlihat Diana memeluk Rista begitu erat. Gadis itu seolah tak ingin kakaknya pergi. Seusai berpelukan dengan Diana, Rista memeluk Tanika lalu Faris. Kedua orang tuanya itu tak henti menghujani Rista dengan kecupan. Begitu berat juga Faris dan Tanika melepas kepergian anak sulungnya. Bagaimana tidak? Rista adalah anak pertama yang dahulu begitu mereka nanti. Banyak perjuangan untuk merawat juga membesarkan Rista. Rasa cemas juga terkadang menghampiri mereka, kala ingat Rista adalah penyandang tunanetra. Takut gadis itu tak bisa menyesuaikan diri atau mendapat ejekan dari orang lain. Sedari kecil Rista selalu diperlukan istimewa. Maka tak heran mereka berat melepas Rista. Luar sana pasti sangat berbeda bagi Rista.
Faris melepas perlahan tangan Rista.
Ia mengambil tangan Zian dan menaruhnya di atas punggung tangan Rista. Menyatukan kedua tangan itu.
"Kamu jaga anak saya! Jangan sakiti hatinya! Karena kalau kamu sakiti dia itu berarti kamu nyari masalah sama saya!" Tegas Faris. Perlahan Faris melepas kedua tangan itu.
"Baik om. Saya akan jaga Rista. Om jangan khawatir." Jawab Zian lalu merangkul bahu Rista. "Kalau begitu, kami pamit om."
"Kita pamit Diana, ma, pa." Pamit Rista yang langsung dituntun menuju mobil oleh Zian. Setelah keduanya mengucap salam tentunya.
°°°
Perjalanan dari rumah Rista menuju rumah Zian tak begitu lama, karena jarak rumah merekapun tak begitu jauh. Sekitar sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah berwarna gold putih itu. Dituntunnya Rista oleh Zian masuk rumah. Di dalam Zian memperkenalkan pembantu rumah tangganya Bi Maya, satpam rumah itu, juga tak lupa memperkenalkan Hendri sang asisten pribadinya. Hendri sudah berada di rumah itu sejak resepsi pernikahan Zian. Ia ditugaskan untuk menjaga rumah juga mengontrol kondisi perusahaan.
Zian lalu membawa Rista ke kamar mereka. Kamar Zian dan Rista sendiri berada di lantai bawah. Karena merasa khawatir dengan Rista, Zian lebih memilih lantai bawah sebagai kamar mereka. Takut Rista memang tak bisa naik-turun tangga.
Koper yang dibawa tadipun dimasukan ke kamar oleh Hendri. Setelah membantu memasukkan koper Hendri berpamitan pulang, merasa tugasnya sudah selesai.
Untuk Bi Maya sendiri, pembantu Zian itu diminta Zian untuk membuat teh hangat.
Di kamar itu kini hanya tinggal ada Zian dan Rista. Zian berdiri di samping Rista dengan perasaan bimbang, memikirkan perihal niatnya untuk jujur pada Rista.
"Ris!" Panggil Zian.
"Iya mas."
"Aku mau ngomong sesuatu. Ini tentang .." Zian kembali diam. Kembali bingung dengan susunan kata yang sudah ia rangkai.
"Tentang apa mas?" Rista masih tenang mendengar penuturan Zian.
"Ini tentang pernikahan kita."
"Emangnya pernikahan kita kenapa mas? Apa ada yang salah?" Tanya Rista mendengar Zian seolah terdengar sedih mengatakan itu.
Zian serius sekarang.
"Iya ada .."
Tok ... Tok ... Penjelasan Zian terhenti karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Seseorang dari balik pintu itu mengetuk sambil berkata.
"Tuan maaf menganggu. Ada tamu yang ingin bertemu tuan." Jelas Bi Maya dibalik pintu.
Zian mengeryitkan dahi.
"Tamu?" Gumam Zian. Ia heran siapa malam-malam begini datang ke bertamu dan mencarinya.
__ADS_1