Tanpa Melihat

Tanpa Melihat
Episode 18 : Sakit Demam


__ADS_3

Dengan cepat Hendri menarik foto. Menaruhnya di belakang punggung, lalu mendudukinya. Wajah Hendri seketika panik, membuat Zian menautkan alis. Tatapannya menyeledik menatap Hendri.


"Apa lo? Biasa aja kali liatnya!" Gerutu Hendri. Cepat dia mendorong Zian agar bangkit dari duduk.


"Udah sana-sana! Lo pulang!"


Zian terpaksa bangkit dari duduk. Mendapatkan dorongan dari Hendri membuatnya berdiri. Pria itu mendorong Zian dengan kasar.


"Pulang sana! Udah nikah masih aja lo nginep di rumah gue!" Gerutu Hendri.


Tak henti Hendri mendorong Zian hingga keluar. Sepanjang jalan Zian berusaha memberontak dengan memutar kepala ke samping.


"Apaan sih lo? Siapa tu cewek? Emang cewek lo? Sampai segitunya." Zian tak kalah menggerutu.


Hendri mendorong Zian keluar dan berdiri depan pintu menahan pria itu agar tak masuk lagi. Bersedekap menyilangkan kedua tangan di bawah dada.


"Udah sana pulang! Bukan urusan Lo!" Ucap Hendri dengan nada dingin.


Zian menautkan alis lagi. Mendorong tubuh Hendri, tapi Hendri sigap menahan dengan kedua tangannya.


"Heran. Siapa sih yang bos disini!" Gerutu Zian sembari mendorong.


"Eits, mau kemana lo? Udah gue bilang pulang sana!" Pinta Hendri. Mendorong Zian kemudian. Pria itu didorong Hendri hingga depan mobilnya. Membukakan pintu dengan senyum dan membungkuk hormat. Hendri kemudian berucap.


"Silahkan Pak! Anda boleh pulang sekarang!" Pinta Hendri, seolah meledek Zian.


Zian memberengut tak terima. Namun, Zian pasrah dengan penolakan Hendri. Dengan wajah kesal Zian masuk mobil, tanpa mengatakan sepatah katapun. Ditutupnya pintu mobil, lalu memundurkannya perlahan.


Mobil Zian mulai meninggalkan halaman rumah. Melaju keluar gerbang. Hendri menghela nafas lega, kala satpam rumahnya menutup gerbang. Hendri berhasil mengusir atasannya itu, meski mungkin membuatnya marah. Tapi, Hendri merasa itu lebih baik. Tak ada gunanya membahas wanita di dalam foto itu.


Di sepanjang perjalanan pulang. Zian tak henti memikirkan wanita di foto itu. 'Tidak asing' itulah kata yang terlintas saat melihat wanita di foto itu. Zian merasa ia pernah melihat wanita itu, tapi dimana? Zian menghela nafas. Kembali memijit pangkal hidung dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengemudi.


Sesampai di depan rumahnya. Zian membunyikan klakson dan dibukalah pintu gerbang oleh Satpam rumah. Zian memasukan mobil ke garasi, menguncinya, lalu mulai melangkah menuju rumah. Zian mengambil sebotol minuman dalam kulkas. Meminumnya sejenak, sebelum akhirnya kembali melangkah menuju kamar.


Kala Zian membuka pintu dan masuk kamar. Zian menatap heran melihat keberadaan Bi Maya di kamarnya. Zian melangkah menghasilkan bunyi hentakan kaki yang menghentikan Bi Maya dari fokusnya pada Rista. Wanita paruh baya itu berdiri. Kedua tangannya ia taruh di depan, menunduk hormat. Ia sedikit gugup, takut apa yang dipikirkannya benar. Bu Maya berpikir, kalau pecahan kaca di sudut kamar itu adalah akibat dari amarah majikannya. Zian terkenal sering menghancurkan barang ketika marah. Itulah alasan kenapa Bi Maya saat ini merasa gugup juga takut, jika Zian akan marah padanya juga atau bahkan menuduh dia menyakiti Rista yang tengah terbaring lemah.


"Mmaaf tuan. Saya cuma kompresin Non Rista. Non Rista badannya panas tuan."


Zian membulatkan mata, tatapannya penuh amarah.


"Apa?" Zian mendekati Rista.


Bi Maya cepat bangkit dari duduk, kemudian berdiri. Zian segera mendekati Rista, kemudian memegang dahi gadis itu. Zian menatap tajam Bu Maya.


"Sejak kapan dia demam? Kenapa kamu gak hubungi saya?!" Bentak Zian, membuat Bi Maya kembali menunduk.


"Mmaaf tuan, tapi ..Tuan bilang mau ke rumah Pak Hendri. Saya kira, tuan mau menginap." Jelas Bi Maya sedikit terbata-bata. Menghela nafas setelahnya, merasa lega berhasil menjawab meski sedikit terbata.


Zian kembali memandang Rista dengan serius.


"Bodoh!" Umpat Zian, kemudian mengibas-ngibaskan tangan mengisyaratkan agar Bi Maya keluar. "Sudah-sudah, kamu keluar sekarang! Biar saya rawat dia." Tegas Zian tanpa melihat Bi Maya.


Wanita itupun keluar. Menaruh satu tangan didada, kemudian mengelusnya dan menghela nafas lega. Ditutupnya pintu kamar perlahan.


"Huu.. syukur, gak kena semprot. Lagi sewot tu kayanya." Gumam Bi Maya, lalu melenggang berjalan ke kamarnya.


Di dalam kamar Zian duduk di samping ranjang. Tangannya begitu cekatan membasahi handuk kecil, kemudian memerasnya lalu melipat handuk itu meletakkan perlahan di dahi Rista. Ujung jemari tangannya tak sengaja menyentuh dahi Rista.


"Ya Tuhan! Panas sekali." Gumam Zian.

__ADS_1


Dirapikannya handuk kecil itu. Zian kemudian mencari obat di kotak P3K. Mengobrak-ngabrik isi kotak. Dilihatnya obat demam, Zian mengambil obat itu. Kemudian kembali melirik Rista yang memang terus mengigau. Dengan mata tertutup Rista mengigau.


"Mmm..ma,ma.."


Zian semakin khawatir. Mengecek kembali suhu tubuhnya, dengan menaruh telapak tangan di dahi Rista. Masih panas, begitulah kondisi Rista. Zian dengan cepat kembali membasahi handuk kecil itu, memerasnya, kemudian kembali menaruh di dahi Rista. Hal itu Zian lakukan berulang kali, hingga demam Rista turun. Wajahnya benar-benar menunjukkan rasa cemas. Zian bernafas lega, kala demam Rista mulai turun. Namun, gadis itu masih tak henti mengigau.


Perlahan mata Rista terbuka.


"Ma.." Panggil Rista, meraba kepalanya.


Rista merasakan sebuah telapak tangan menyentuh dahinya. Digenggamnya tangan itu, kemudian membawanya ke atas dadanya. Mengenggam tangan itu dengan erat. Satu tetes bulir bening jatuh tiba-tiba. Zian memperhatikan perlakuan Rista. Tangannya terasa digenggam erat. Genggaman erat yang terasa berbeda, karena Rista yang memang gemetaran.


"Ma.. Mama.. Rista mau mau pulang.. Mama.." Gumam Rista sembari menagis.


Zian terbelalak, rasanya jemarinya semakin digenggam erat. Zian tak bisa berkutik. Tangan satunya repleks mengenggam tangan Rista. Dielusnya tangan itu dengan lembut.


"Ma.. Mama.."


Rista masih bergumam. Zian mengelus punggung tangan Rista, kemudian mengambil obat yang ia taruh di atas nakas, membuka obat itu. Lalu mengelus bahu Rista perlahan.


"Kamu makan obat dulu! Okey! Buka mulut kamu! Aku suapin obatnya." Pinta Zian. Meletakan perlahan obat di bawah mulut Rista. Rista membuka mulutnya perlahan. Ia tak mendengar jelas siapa yang bicara, yang ia tahu itu adalah ibunya. Rista menerima begitu saja, meminum obat itu. Zian membantu Rista untuk duduk. Ditarik perlahan tubuh Rista, kemudian Rista duduk. Zian membantu Rista untuk minum.


"Kamu mau tidur lagi?" Tanya Zian.


Rista berusaha mendengar seksama suara orang yang bertanya padanya. Tiba-tiba air mata menetes, saat Rista sadar bukan ibunya yang memberi obat tadi. Raut wajahnya berubah sendu.


"Mama.. Rista kangen mama." Gumam Rista.


"Ris, kamu harus istirahat sekarang!" Pinta Zian. Nada bicaranya terdengar cemas.


"Mas, aku mau pulang!"


"Kenapa?" Tanya Zian kesal.


Rista diam sejenak.


"Aku pusing mas." Rista mengelus pelipisnya. Zian sigap menarik tangan itu.


"Nanti juga sembuh. Sekarang kamu tidur!" Zian menurunkan tangan Rista perlahan.


Rista yang merasakan genggaman tangan Zian, balik mengenggam tangan itu. Bahkan, begitu erat.


"Mas.. Apa aku salah cinta sama kamu?" Tanya Rista sendu.


Seketika Zian tertegun mendengar pertanyaan Rista. Apa karena memikirkan hal ini Rista sampai demam? Zian terdiam sesaat. Ia tersadar saat melihat air mata meluncur di pipi mulus Rista. Wajah Rista yang memerah, membuat Zian tak tega. Genggaman tangan Zian semakin mengerat mengenggam tangan Rista.


"Kita bahas itu nanti! Sekarang kamu tidur! Yang terpenting sekarang kamu harus sembuh." Zian menghapus lembut bulir bening di pipi Rista.


Rista semakin merasa terluka dengan perlakuan Zian. Gadis itu melepas genggaman tangan Zian. Menggeser tubuh, lalu berbaring. Tubuhnya dibaringkan menyamping, tak ingin mendapat perlakuan manis dari Zian. Itu hanya palsu!


Meraba bantal di sampingnya, kemudian mengenggam erat ujung bantal itu. Tak henti air mata terus menetes.


"Pergi mas! Pergi! Jangan terus bersandiwara disini!" Lirih Rista dalam hati. Gigitan pada ujung bibirnya semakin kencang. Ia tahan agar suara tangisnya tak terdengar. Tapi, tubuh yang berguncang akibat tangisan dapat Zian lihat. Zian duduk mendekati Rista, mengelus lembut rambut Rista, ia juga mengecek suhu tubuhnya. Tangannya ia taruh di leher Rista, mengelusnya dengan lembut.


"Ris! Kamu jangan nangis! Bakal susah sembuh kalau kamu nangis." Zian terus mengelus lembut rambut Rista.


Sudah tak peduli Rista. Silahkan saja! Tak peduli apapun yang akan Zian lakukan. Nyatanya setiap perlakuan manis Zian membuatnya terluka. Sulit mulutnya untuk mengumpat atau mengusir pria itu. Menagis saja yang bisa Rista lakukan. Perlahan rasa lelah menyergap tubuhnya. Matanya letih untuk menangis. Perlahan tertutup seiring elusan tangan Zian.


Zian menghentikan elusan. Ia kemudian merapikan handuk kecil. Memasukkannya ke dalam baskom kecil berisi air hangat yang sudah mulai mendingin. Zian melangkah keluar, menaruh baskom itu di Dapur.

__ADS_1


Dibuka kembali pintu kamarnya. Zian melangkah menuju kamar mandi. Mendinginkan tubuhnya yang terasa begitu panas juga lengket seharian ini.


Saat Zian keluar, ia tengah mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Dilihatnya Rista yang tengah tertidur pulas. Zian memalingkan wajah, berusaha tak peduli. Meskipun, sebenarnya hati Zian merasa iba melihat sang istri sakit. Diapun mengetahui, sakitnya Rista adalah karena penolakan cinta yang Zian lakukan.


Selesai mengenakan celana hitam dipadu kaos santai berwarna putih, Zian membaringkan tubuhnya di samping Rista. Dilirik Rista sesaat, kemudian menghela nafas sembari menutup mata sekilas.


"Sorry Ris. Apa aku udah jadi suami yang kejam? Mungkin. Tapi sekali lagi, aku emang gak cinta sama kamu. Terlalu sulit menerima wanita cacat untuk hidup sama aku." Gumam Zian.


Ia kembali menghela nafas, sebelum akhirnya Zian ikut memejamkan mata di samping Rista.


°°°


Cerah sekali pagi ini. Diana melangkahkan kaki keluar rumah. Mengambil sepeda, kemudian mengeluarkannya dari garasi. Mulailah Diana mengayuh sepeda, setelah keluar dari gerbang.


Hatinya begitu bahagia pagi ini, kala ingat kemana tujuannya untuk pergi. Ya, Diana akan pergi ke rumah Satya untuk menengok, setelah kemarin ia tak jadi berangkat karena membantu Rista berkemas. Pagi inillah waktu yang tepat bagi Diana menjenguk Satya. Diana mengayuh sepeda dengan semangat. Udara pagi menambah kesegaran hati Diana yang tengah berbunga.


Sekitar dua puluh menit Diana mengayuh sepeda. Diparkirannya sepeda berwarna biru itu depan halaman rumah Satya. Kebetulan gerbang rumah Satya terbuka, mungkin Om Banu memang baru keluar rumah untuk bekerja.


Langkah Diana ia lanjutankan hingga depan pintu. Mengetuk pintu itu sembari mengucap salam. Tak lama, seorang wanita paruh baya cantik membuka pintu menjawab salam dari Diana. Wanita yang tak lain adalah Tante Sisil, ibu Satya. Wanita itu tersenyum manis menyambut kedatangan Diana.


"Waalaikumsalam, eh Diana. Ayo masuk nak!" Pinta Sisil, memberi ruang agar Diana masuk.


Diana tersenyum malu-malu, kemudian masuk mengekor mengikuti Sisil. Sisil langsung menebak kedatangan Diana.


"Pasti mau ketemu Satya ya?" Tebak Sisil mengangkat telunjuknya.


Diana tersenyum malu-malu.


"Iya tante. Kak Satyanya ada tante?"


"Ada. Dari seminggu lalu gurung diri terus di kamar, katanya sih sakit. Bentar ya! Tante panggilan dulu. Kamu duduk dulu aja ya?"


Diana mengangguk kemudian duduk. Dilihatnya langkah Sisil menaiki tangga menuju kamar Satya. Sekitar beberapa menit, Sisil turun. Mendekati Diana kemudian berkata.


"Kamu di suruh masuk, katanya dia lagi ngerjain hal penting." Ujar Sisil.


Diana terbelalak, bola matanya membulat sempurna.


"Hah? Masuk ke kamar tante? Tante yakin?"


"Iya. Gak apa-apa, masuk aja. Ada Bi Opi juga disana lagi setrika baju. Naik aja!" Pinta Sisil dengan senyum.


Diana agak ragu, tapi kemudian ia setuju. Lagipula ada Bi Opikan? Jadi tidak apa-apa. Diana hanya akan mengantar bubur ketan saja. Diana mengangguk mengerti.


"Em, baik kalau begitu tante. Saya akan naik."


Sisil tersenyum kemudian berjalan menuju dapur. Diana merasa sedikit tak enak. Jantungnya berdebar, ada rasa khawatir. Bukannya pria dan wanita tidak boleh berada dalam satu ruangan? Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Eh tunggu! Diana lupa sesuatu. Ia tak berdua ada Bi Opi di dalam. Jadi, tidak apa-apa. Diana mulai melangkah menaiki satu persatu anak tangga. Langkahnya terhenti di depan pintu berwarna coklat. Tangannya perlahan mendekati gagang pintu. Dipegangnya gagang pintu itu.


Diana terperanjat seketika, saat tiba-tiba Bi Opi membuka pintu kamar dari dalam. Diana memegang dadanya kaget. Jantungnya serasa copot, tidak tahukah Bi Opi? Diana sedang tegang saat ini dan Bi Opi keluar tiba-tiba. Pembantu rumah itu juga kaget, ia segera minta maaf.


"Eh, non. Ya ampun maaf non. Saya gak tahu non ada di depan pintu." Ucapnya sambil menunduk.


Diana masih memegang dadanya, mencoba tenang.


"Gak apa-apa Bi. Lagian ini salah aku juga gak ketuk pintu dulu." Jawab Diana, kemudian menurunkan tangan. "Oh ya, Kak Satyanya ada Bi?" Tanya Diana kemudian.


"Ada Non. Lagi di kasur kayanya. Soalnya dari tadi saya gak liat Den Satya keluar." Jelas Bi Opi lalu kembali menunduk. "Saya permisi non."


Bi Opi pamit begitu saja, tak menunggu jawaban Diana. Diana melihat wanita itu menuruni tangga. Matanya kaget seketika, ia bingung sekarang. Berarti sekarang, kalau Diana masuk hanya akan ada Diana dan Satya saja. Diana ingin turun, tapi sudah terlanjur, pintu kamarpun sudah terbuka lebar akibat ulah Bi Opi tadi. Diana memberanikan diri masuk. Tak apalah. Toh, Diana hanya akan menjenguk Satya.

__ADS_1


Langkah demi langkah Diana membawanya masuk kamar. Tanpa Diana duga, betapa terkejutnya Diana. Bahkan, mulutnya sampai hampir terbuka melihat pemandangan di hadapannya. Pemandangan itu adalah.....


__ADS_2