
"Siapa yang Kak Zian maksud b r e n g s e k?" tanya wanita di hadapan Zian.
Menggerjapkan mata, Zian kemudian berusaha tenang menjawab pertanyaan dari wanita yang ternyata adalah Diana. Entah sejak kapan Diana disana, tapi sungguh Zian dibuat kaget dengan kehadiran Diana. Berpikir penuh dilema, apa mungkin Diana mendengar semua yang dia katakan? Atau jangan-jangan ia melihat saat Zian menarik tangan Akira? Sekelebat pemikiran negatif berputar di benak Zian. Namun, Zian berusaha tenang dengan sedikit mendehem sebelum menjawab.
"Siapa? Kamu salah denger mungkin? Lagian sejak kapan kamu di belakang aku? Kamu nguping?" jawab Zian malah balik bertanya.
Diana merasakan gelagat aneh dari kakak iparnya itu. Sedikit menaikan satu alis. Diana kemudian bertanya, "Maksud kakak? Nguping? Aku baru juga disini. Aku dengar kakak bilang 'brengsek'. Awas ya! Jangan-jangan kakak ngomongin Kak Rista lagi? Kakak jangan sembarang bicara ya! Kak Rista itu baik justru kakak yang ...."
"Cukup! Aku gak seburuk yang kamu kira, jadi berhenti jelek-jelekin aku. Bagaimanapun aku kakak ipar kamu sekarang!" potong Zian dengan nada kesal lalu pergi meninggalkan Diana.
Diana dibuat semakin tak mengerti. Dengan sikap Zian yang mencurigakan membuat Diana merasa harus lebih waspada dengan kakak iparnya itu. Diana memang baru saja lewat dengan sepedanya dan ia sengaja berhenti saat mendengar Zian mengumpat tak jelas entah pada siapa. Kepenasaran Diana mengantarnya untuk mendekati pria itu dan Diana merasa aneh karena gelagat Zian. Lebih memilih untuk tak memperdebatkan gelagat Zian, Diana kemudian kembali melajukan sepeda. Namun, ia lebih memilih mengikuti kakak iparnya itu. Dengan laju pelan dan sedikit bersembunyi di balik mobil yang terparkir, mata Diana menyelidik melihat gerak-gerik Zian yang ternyata mendekati kakaknya Rista. Menghela nafas lega Diana, saat tahu kakak iparnya itu ternyata bersama Rista dan Chandra.
"Huu, syukur deh kirain lagi selingkuh." gumam Diana.
Dengan sepeda yang ia naiki, Diana kembali melanjutkan perjalanan untuk segera pulang. Olahraga paginya sudah selesai dan Diana memilih untuk segera pulang.
Sekitar pukul sembilan pagi, Rista Zian juga Chandra memilih untuk pulang. Karena mentaripun menjadi semakin terik membuat mereka memilih segera pulang. Dalam perjalanan pulang, tak henti Zian memikirkan permintaan Akira. Wanita itu memintanya bertemu dengan alasan meminta sesuatu. Sesuatu yang masih jadi tanda tanya bagi Zian.
Menyibukkan diri dengan pekerjaan, Zian berusaha melupakan tentang permintaan Akira. Malam itu Rista mendekati Zian yang tengah berkutik dengan laptop di hadapannya. Suara tongkat Rista menyadarkan Zian dari fokusnya pada layar monitor. Matanya melirik Rista yang mendekat lalu meraba meja tempat ia bekerja.
"Kok belum tidur sayang?" tanya Zian berdiri.
Menutup laptop, Zian kemudian mendekati Rista. Berdiri di depannya, merangkul dan menarik perlahan pinggang Rista. Diciumnya sekilas dahi istrinya itu.
"Mas,"
"Hmm, ya apa sayang?"
Zian merapikan rambut Rista ke samping menyelipkan rambut itu ke belakang daun telinga.
"Mas kenapa? Perasaan dari tadi mas diem aja." ungkap Rista.
Perlahan Zian turunkan tangan yang sedari tadi mengelus rambut Rista. Beralih tangan itu memegang kedua bahu Rista. Mengelusnya dengan lembut.
"Sayang, aku gak apa-apa kok cuma lagi ada sedikit masalah di kantor." jawab Zian dengan lembut.
Menatap wajah istrinya yang begitu polos dan tulus. Senyum manis terukir disana. Tak bisa Zian tahan lagi senyum itu membuatnya menarik dua sudut bibirnya. Semakin lekat Zian pandang wajah cantik Rista dengan senyum yang masih setia.
"Kalau gitu mas harus segera istirahat, gak baik mas terus mikirin pekerjaan kantor. Semua masalah pasti ada solusinya mas." ujar Rista.
Tangan Zian melingkar merangkul sang istri.
"Ya sayang, aku mau mandi dulu." sahut Zian kemudian menuntun Rista untuk berjalan menuju kamar mereka.
Disana Rista dibantu Zian duduk di kasur. Dipegangnya kedua bahu Rista perlahan.
"Sayang aku mandi dulu ya!"
Cup, Zian mengecup kening sang istri setelah berucap. Setelah melihat senyum Rista, Zian berlalu berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar itu.
Terdengar gemercik air pertanda Zian sudah memulai ritual mandinya. Dengan inisiatifnya Rista beranjak dari duduk hendak menuju Walk In Closet untuk mengambil pakaian tidur Zian. Sampai Walk In Closet disiapkannya pakaian tidur untuk Zian. Setelah itu Rista kembali duduk di kasur. Tongkat putihnya ia letakkan samping nakas. Tangan Rista meraba letak ponsel di atas nakas. Mengambilnya lalu Rista memasang earphone yang memang dia ambil juga bersamaan dengan ponsel.
Duduk dengan mengelontorkan kaki ke depan. Di atas tempat tidur itu Rista menikmati musik yang ia dengarkan melalui earphone. Nampak Rista begitu menikmati lagu yang memang ia sukai itu. Senyum merekah di wajah Zian yang baru keluar kamar mandi. Setelah melihat sang istri, Zian langkahkan kaki menuju Walk In Closet. Kembali Zian tarik dua sudut bibirnya, tersenyum senang melihat pakaian tidur yang sudah Rista siapkan. Dengan senang hati Zian kenakan baju tidur berwarna biru tua itu.
Keluar Walk In Closet mata Zian disuguhkan kembali dengan wajah tenang dan cantik sang istri dengan posisi sama saat tadi ia melihatnya. Dengan senyum yang masih terukir, Zian mendekati Rista. Duduk di samping Rista.
"Hey! Sayang,' panggil Zian.
__ADS_1
Zian sedikit menggeleng kepala, kemudian menyentuh paha Rista membuat wanita itu terperanjat dan dengan cepat membuka earphone yang terpasang di kedua telinganya.
"Eh, mas! Itu kamukan?" tanya Rista. Tangannya meraba samping tubuh dan mendapati tangannya di genggam lembut sang suami.
Perlahan Zian mengangkat tangan itu dan menaruh perlahan di depan bibirnya. Mengecup tangan itu cukup lama.
"Iya sayang, ini aku. Kamu lagi ngapain sih? Kayanya asik banget." ucap Zian lembut, setelah mengecup punggung tangan Rista.
Tangan Rista masih digenggam erat oleh Zian. Matanya lekat menatap wajah cantik sang istri. Senyum masih terukir kala Zian tatap wajah itu. Wajah yang menurut Zian selalu membuatnya tenang juga nyaman.
"Ini mas aku lagi dengerin lagu favorit aku." jelas Rista.
Tangan kirinya mengangkat earphone yang tadi ia lepas dan pegang. Menunjukkan kalau Rista tengah mendengarkan musik. Zian mengambil earphone tersebut.
"Lagu apa sayang?" Zian memasang earphone di salah satu telinganya. "Ah, ini sih lagu lama." lanjutnya kemudian mencabut earphone dari ponsel Rista. Digantinya ponsel itu dengan ponsel miliknya.
Perlahan Zian pasang earphone di satu telinga Rista. Tangannya mengutak-atik layar ponsel pipih miliknya.
Klik, terdengar oleh Rista musik mulai diputar.
"Loh, mas kok lagunya diganti?" tanya Rista merasa heran.
"Dengerin aja sayang! Itu lagu yang menggambarkan perasaan aku buat kamu." jawab Zian.
Tiba-tiba Rista merasakan kepala Zian berbaring di atas pahanya. Tindakan Zian membuat Rista kaget, tapi tak bisa dipungkiri tindakan Zian membuat jantung Rista berdebar. Merasa bahagia karena Zian memang selalu bermanja-manja dengannya akhir-akhir ini. Ditariknya dua sudut bibir mengukir senyum indah di wajah Rista.
"Sayang aku gak beratkan?" tanya Zian. Matanya masih menatap wajah yang setia senyum indah sedari tadi.
Rista menggeleng kepala. "Gak mas, gak berat."
"Kalau gitu aku tidur dipangkuan kamu ya!" pinta Zian.
"Sayang, gimana lagunya? Baguskan?" Zian melepas pelukan lalu mengambil tangan kanan Rista. Menaruhnya samping pipi dan mengecupnya. Kemudian tangan itu terus Zian genggam seolah tak ingin dia lepaskan.
"Iya mas bagus. Kamu pinter gombal!" seru Rista dengan kekehan.
"Kok gombal sih sayang? Itu serius aku gak akan mundur buat selalu cinta kamu." tutur Zian kembali mengecup punggung tangan Rista dan menyimpan tangan itu bertahan di depan bibirnya.
Penuturan Zian membuat Rista tersenyum malu-malu. Memang Zian benar-benar pandai mengatakan cinta. Dari dulu Zian selalu begitu. Dan lagi setiap penuturan gombal yang Zian lontarkan mampu membuat Rista seolah terbang dengan gombalan Zian. Perasaan Rista semakin terasa berbunga kala mendengar syair lagu romantis yang Zian putar dan musik itu masih bertengger manis di telinganya.
"Sayang," panggil Zian.
Jemari Zian tiba-tiba meraba perut Rista membuat Rista sedikit merasa merinding, bukan takut tapi ia merasakan desiran yang biasa terjadi saat Zian menyentuhnya dengan lembut kala bercinta.
"Eh, apa mas?"
Zian tersenyum.
"Kok kamu kaget gitu sayang? Aku cuma pegang doang loh." Rista tertunduk malu. "Sayang, aku cuma elus aja gak apa-apa kan? Kali aja ada dede bayinya." lanjut Zian masih mengelus perut Rista.
"Mas kamu ... pengen aku hamil?" tanya Rista ragu.
"Iya sayang, supaya Chandra punya temen. Kamu mau kan kita punya bayi?" Zian kembali menarik tangan Rista dan mengecup punggung tangannya.
Senyum Rista terukir di wajah cantiknya. Diraba perlahan kepala Zian setelah itu Rista elus rambut pria itu.
"Aku mau mas. Kamu tahu? Aku seneng banget mas kamu bilang gini sama aku."
__ADS_1
Mata Rista tiba-tiba berkaca-kaca. Hal itu membuat Zian merasa khawatir. Zian duduk bangun dari posisi tidurannya di paha Rista. Matanya menatap cemas dan tangan Zian terangkat. Jemarinya menyapu lembut air mata yang tiba-tiba turun menyusuri pipi mulus istrinya. Dengan nada cemas Zian bertanya, "kok kamu nangis sayang? Kamu kenapa?"
"Gak mas, aku gak apa-apa." Rista menyusut air mata. "aku cuma ingat saat dulu mas bilang benci sama aku. Aku benar-benar gak nyangka mas akhirnya kamu mau serius jalani hubungan ini. Aku sangat bersyukur mas, Allah mengabulkan keinginan aku. Apa aku egois sekarang mas? Kalau aku pengen kamu hanya jadi milik aku selamanya?" lanjut Rista bertanya dengan hati-hati.
Zian menggeleng pasti lalu memeluk Rista.
"Gak sayang. Kamu berhak atas aku seutuhnya. Kamu miliki aku seutuhnya dan aku hanya milik kamu selamanya. Semua perhatian kesetiaan juga cinta aku hanya untuk kamu, sayang. Gak akan ada orang lain yang ganti kamu di hati aku." turut Zian dengan pasti.
Penuturan Zian kali ini mendapat balasan pelukan oleh Rista. Wanita itu memeluk Zian dengan erat sembari menagis penuh rasa syukur.
"Kamu jangan nangis, okey? Karena aku gak mau liat kamu terluka sayang." tegas Zian setelah melonggarkan pelukan dan melepasnya perlahan. Mengusap air mata Rista kemudian menarik wajah Rista. Mengecup lembut dahi sang istri perlahan turun mengecup dua kelopak mata Rista bergantian.
Mendapat perlakuan manis dari sang suami membuat Rista kembali mengukir senyum. Tangan Zian dirasa Rista perlahan melepaskan kedua bahunya.
"Mas,"
"Hmm,"
"Kamu mau kemana mas?"
"Aku mau ambil buku, biar aku bisa tiduran lagi di pangkuan kamu. Ga apa-apakan sayang?" tutur Zian.
"Boleh mas."
Zianpun beranjak dari duduknya hendak mengambil buku di perpustakaan kecil yang berada di kamar itu. Setelah kepergian Zian, Rista kembali mendengarkan earphone dari ponsel Zian. Namun, tiba-tiba lagu berhenti dan sebuah nada panggilan masuk terdengar. Rista bergerak hendak turun dari ranjang dan meraba ponsel Zian. Dalam pikir Rista ia harus memberikan ponsel itu pada Zian. Memberitahunya jika ada panggilanan masuk, tapi jemari Rista tak sengaja malah menyentuh ikon hijau yang membuat panggilanpun terhubung.
"Hallo, Pak Zian saya ingin bicara ..." Suara seorang wanita membuat Rista penasaran dan langsung memotong perkataan wanita itu.
"Ya, hallo ini siapa ya?"
Hening sesaat. Orang di balik telpon itu tak kembali berucap. Rista dibuat penasaran hingga ia kembali mengulang pertanyaan.
"Saya ... sekertaris Pak Zian, bisa saya bicara dengan Pak Zian?" tanya wanita di balik telpon.
"Sebentar mbak, saya panggilkan." Rista beranjak dari duduk. Baru saja Rista mengambil tongkat aksinya terhenti karena suara Zian.
"Sayang, mau kemana?"
"Ini mas!" Rista mengangkat ponsel Zian. "Ada telpon dari sekertaris kamu sepertinya penting." lanjutnya.
Tangan Zian yang memegang sebuah buku sigap menaruh buku itu di atas nakas. Tangan itu beralih mengambil ponsel di tangan Rista. Melihat nama yang tertera di layar ponsel. Nampak panggilanan sedang berlangsung. Rista segera melepas earphone. Diam dan dengan terkejut Zian mematung. Matanya bolak-balik menatap Rista lalu beralih menatap layar ponsel. Wajah cemas nampak di wajah Zian. Ditariknya earphone dari yang terpasang di ponsel. Berdehem sejenak menormalkan suara yang akan ia keluarkan. Berharap suara itu tak akan terdengar gugup oleh Rista.
"Sayang, aku angkat dulu ya! Sepertinya emang penting."
"Ya mas."
Berhasil, nampaknya Rista tak curiga. Zian menghela nafas kecil merasa lega. Dengan langkah cepat Zian menjauhi Rista dan keluar dari kamar. Rista yang ditinggalkan Zian merasa sedikit aneh. Bukan dengan apa yang Zian ucapkan barusan, tapi dengan suara wanita yang Rista dengar di balik telpon tadi. Suara itu terdengar tak asing. Pernah Rista dengar tapi dimana? Rista merasa sedikit lupa dengan suara itu. Namun, Rista yakin dia pernah mendengar suara itu. Suara wanita yang pernah menolongnya, tapi lagi-lagi Rista lupa nama wanita itu. Berusaha Rista mengingat, tapi tiba-tiba lamunannya buyar kala mendengar suara pintu terbuka.
"Mas!" seru Rista.
Zian tersenyum mendekati Rista berjongkok dan memegang kedua tangan Rista yang ditaruh di atas paha.
"Sayang, aku mau keluar bolehkan?" tanya Zian.
Mata Zian menatap wajah Rista. Menanti jawaban dari sang istri dan berharap istrinya itu mengizinkan. Namun, Rista masih diam selang beberapa detik Rista membuka mulutnya.
"Siapa wanita itu mas?"
__ADS_1
Bukan jawaban, Rista malah bertanya dan membuat Zian mengerjapkan mata. Mengalihkan pandang seolah menghindari pertanyaan Rista. Mulutnya hendak menjawab tapi terhalang rasa gugup dan bimbang.